Really?

Main pairing : HaeHyuk / EunHae

Warning: Genderswitch, OOC

Genre: Hurt / Romance, Friendship

..o..

-At Canada!

.

Author pov:

Seorang gadis belia tengah termangu didepan jendela besar kamarnya. Hembusan angin yang menerpa lembut wajahnya membuat rambut halusnya menari dengan indahnya. Wajah Asianya yang putih dan mulus membuat parasnya begitu enak dipandang mata. Namun, ada yang merusak keelokan wajah Asia gadis itu. Matanya. Matanya memantulkan pancaran yang seolah menyatakan betapa tidak bahagianya hidupgadis itu saat ini. Hingga berdampak pada wajahnya yang menyiratkan ekspresi datar.

Ia saat ini sedang duduk diatas kursi besinya. Sambil memandang indahnya karya agung Sang Pencipta. Tapi sebenarnya bukan itu yang ia perhatikan. Siapapun yang mendekati gadis korea itu, mereka akan tahu. tatapannya kosong. Gadis itu termangu. Melamunkan sesuatu yang ia sendiripun tidak tahu apa itu.

.

"Hyuk!" panggil wanita paruh baya itu berhasil mengembalikan kesadaran gadis belia itu dari lamunannya. "Makan dulu! Chagi!" lanjut sang wanita sambil mendudukkan dirinya dikasur empuk anak gadisnya, Hyukjae.

"Ne, Umma." kedua telapak tangan gadis manis berambut pirang sebahu itu menyentuh bagian atas dua roda besar yang terdapat dikedua sisi kursi tempat duduknya saat ini. Sedikit didorongnya kedepan kedua roda itu agar dapat berputar. Ia terus mendorong kedua roda besar itu sehingga berhasil membuat tubuhnya yang tengah duduk dikursi itu 'seakan' berjalan menuju Ummanya.

Satu suapan masuk.

Dua suapan.

Tiga suapan dan seterusnya.

Sang Umma tersenyum simpul menyaksikan acara makan siang anak tunggalnya itu. Lahap! Itulah yang membuat sang Umma senang. Hyukjae, -nama gadis manis itu- pun ikut tersenyum. Pipinya yang menggembung karena diisi oleh makanan dan matanya yang sedikit menyipit serta ukiran senyum yang dibuat oleh kedua bibir merah muda miliknya sukses membuat aura manis alaminya keluar.

"Kau lahap, chagi! Dengan begini kau akan cepat sembuh," ucap sang Umma penuh harap. Namun berbeda dengan keadaan putrinya. Hyukjae tersenyum hambar sebentar lalu melanjutkan acara makannya. Sebenarnya nafsunya sudah hilang saat sang Umma menyatakan bahwa dirinya akan cepat sembuh. Namun karena ia merasa sang Umma sudah repot memasak untuknya, dengan terpaksa ia terus melanjutkan santap siangnya.

"Apalagi jika kau mau mengikuti terapi itu sayang!" oke, sekarang nafsu makan Hyukjae benar-benar hilang. Tangannya berhenti menyuapkan makanan itu kemulutnya.

"Aku kanyang!" ucapnya datar sambil menyerahkan piring makannya pada sang Umma. Ia memutar kembali kursi rodanya sehingga membelakangi Ummanya. Hyukjae menggigit pelan bibir soft pink miliknya.

"Hyukjae, berhenti bersikap seperti ini!" pinta sang Umma dengan suara lembutnya.

"Bersikap yang bagaimana Umma?" tanya Hyukjae balik. Meski sebenarnya ia tau apa maksud dari Ummanya. Ia kembali menggigit bibirnya. Berusaha menekan perasaan bersalah dalam hatinya.

"Berhenti bersikap kekanakan seperti sekarang ini!" kali ini sang Umma sedikit member penekanan. Hyukjae terdiam. Ia menatap datar kedepan.

"Hhh-" satu dengusan nafas berat dari Umma Hyukjae. "Sampai kapan kau betah menghabiskan waktumu diatas kursi roda itu Hyukjae?"

"Entahlah, lagi pula tidak mungkin juga aku sembuh!" kini Umma Hyukjae menatap punggung anaknya tak percaya. Ia kemudian menoleh kearah lain untuk menghela nafas yang terengar berat.

"Enam tahun Hyukie! Enam tahun kita di Kanada! Enam tahun Umma dan Appa mengusahakan untuk kesembuhanmu! Kau sadar itu?"

Hyukjae terhenyak. Perlahan diputarnya kembali kursi roda itu dan kini ia tengah menghadap Ummanya. Mata Hyukjae langsung bertemu dengan mata Ummanya yang berkaca-kaca saat ini. "Umma.."

"Kau tahu? Bagaimana kau bisa sembuh Hyuk, sedangkan keinginan untuk sembuh pun kau tidak punya!" dua tetes airmata turun dari mata Heechul –Umma Hyukjae. Ia miris mengingat bagaimana anaknya selalu menolak saat akan menghadapi perawatan kesembuhannya. Hatinya begitu sakit saat itu.

"Umma tersiksa Hyuk! Umma sakit jika melihat anak Umma hidup diatas kursi roda! Umma sakit mengetahui kau lumpuh Hyuk!" sang Umma kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menyembunyikan wajah kusutnya. Hyukjae juga ikut megukir jejak air diwajahnya. Namun ia tidak terisak. Ia hanya menangis dalam diam.

Perlahan isak tangis Heechul sedikit mereda. Cepat-cepat Hyukjae menghapus jejak airmata diwajahnya. "Kau tahu Hyuk, saat dokter mengatakan kau bisa sembuh dengan terapi, Umma senang. Terlampau senang hingga Umma tidak tidur malamnya untuk mempersiapkanmu besoknya." Heechul tersenyum hambar saat kenangan itu berputar dikepalanya.

"Tapi apa yang kau perbuat? Kau malah menolaknya! Kau membuat Umma hilang harapan! Kau.. Aishh~ kenapa Umma malah menyalahkanmu?" dengan telapak tangan yang berlapis kulit putih susu milik Heechul, ia menghapus air yang membasahi wajah cantiknya. Ia kemudian berdiri dan melangkah menuju anaknya yang tertunduk untuk menyembunyikan airmatanya.

Heechul merangkul anak gadisnya yang duduk dengan manisnya diatas kursi roda miliknya. Sedikit rasa sakit hinggap dihati Heechul, yang harus menerima kenyataan anaknya lumpuh.

Tidak! Bukan itu yang membuat hatinya serasa teriris. Tapi karena tekad kuat anaknya yang entah kenapa tak mau mengikuti terapi sejak enam tahun lalu. Dan hasilnya, saat ini ia harus hidup bersama benda mati berbentuk kursi yang memiliki dua roda besar dikedua sisinya.

"Maafkan Umma chagi! Maafkan Umma."

Hyukjae Pov:

Inilah aku sekarang gadis cacat! Heh.. sebenarnya aku bisa saja sembuh sejak lama melalui proses terapi oleh dokter yang merawatku. Tapi aku tidak mau! Aku melakukan itu bukan tanpa alasan.

Aku ingin melihat rasa bersalah dari wajah seseorang. Aku ingin melihat seseorang itu menyesal! Aku ingin melihat orang itu menyalahkan dirinya atas apa yang menimpaku enam tahun yang lalu!

Enam tahun yang lalu! Aku adalah gadis yang bodoh. Andai malam itu aku tidak menemuinya! Andai malam itu aku tidak memiliki pemikiran untuk menemuinya! Aku tidak akan cacat seperti ini!

Sekarang, lihat betapa menderitanya Ummaku. Betapa sakitnya hati Ummaku! Dan betapa sakitnya hatiku melihat Ummaku menangis. Menangis karena aku! Aku memang bodoh tidak mau mengikuti terapi itu. Tapi aku tidak mau sembuh sampai aku melihat orang itu menderita karena menyebabkan aku menjadi begini! Aku membencinya! AKU BENCI KAU LEE DONGHAE!

Katakan aku egois. Menyalahkannya atas semua yang kualami. Ya! Aku memang egois, sama egoisnya dengan namja itu yang tidak memaafkanku padahala aku sahabatnya.

Umma memelukku hangat. Rasa bersalah langsung masuk menyelimuti hatiku. Ingin aku melakukan terapi itu. Ingin rasanya aku melihat wajah bahagia Umma ketika aku bisa kembali berjalan. Tapi kembali, egois mengusai diriku.

-Skip time-

Canada, 5.00 a.m.

.

"Hey! Bangun!"

"…."

"Hyuk! Bangun, sudah pagi!"

"eng.. aku ngantuk.."

"Annio! Ayo! Seorang gadis yang bukan remaja lagi jangan bangun siang! Tidak baik!"

"Aishh! Jangan ganggu.."

"Annio.. ini tugasku kan! Kau yang memintaku membangunkanmu sebelum aku pergi sekolah! Ayo Hyukie, bangun!"

"Andwe.."

"Hyuk kalau kau tidak bangun akan aku lakukan itu dalam hitungan ketiga! Satu.. dua.. ti.."

"ANDWE! JANGAN CIUM AKU JUNSU!"

Ya Tuhan, untung aku langsung bangun! Aku tidak mau namja bersuara lumba-lumba disampingku ini mengambil ciuman pertamaku, aku tidak rela!

"Hah~ kalau begitu saja baru kau bisa bangun!" namja itu mendengus dan memasang raut wajah kesal yang dibuat-buat.

"Ya! Mianhe!" ujarku semiris mungkin.

"Ya! Jangan pasang wajah itu." Dengusnya kesal. Aku hanya terrkekeh kecil. Melihat wajah kesalnya itu benar-benar menghiburku.

"Kau sudah mau kesekolah?" tanyaku sambil memasang senyum termanisku.

"Ne, tapi sebelumnya.." jari telunjuknya mengarah ke pipi kirinya. Aku memicingkan mataku pura-pura tidak mengerti dengan maksudnya.

"Jangan pura-pura tidak mengerti!" perintahnya yang membuatku kembali terkekeh geli. Jika seperti ini, ia terlihat seperti adik keclku saja.

"Arraseo!" aku kemudian menumpu badanku dikedua tanganku untuk membantuku duduk. Dan setelah berhasil duduk, aku menutup mataku mendekatkan wajahku kewajah Junsu dan kemudian..

'CUP'

Aku mendaratkan sekilas bibirku dipipi kiri Junsu. Ia tersenyum manis kemudian.

"Ya! Aku akan semangat hari ini!" ucapnya lalu melangkah keluar kamarku. Sebelum ia benar-benar keluar dari kamarku, ia melambaikan tangannya padaku dan kubalas pastinya.

Junsu, teman namja yang sangat baik padaku. Ia sebenarnya menyukaiku. Ia bahkan sudah menyatakan cintanya padaku. Tapi tentu saja kutolak. Ia bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku bahkan normal, tidak sepertiku.

Aku beruntung bisa mengenal Junsu meski cara yang mempertemukan kami awalnya buruk.

Jangan salah paham dengan apa yang kulakukan tadi. Itu sudah biasa. Aku mencium pipinya bukan untuk menggodanya. Aku tidak serendah itu. Itu bukti dariku bahwa aku menyayanginya yang sudah ku anggap sebagai saudara kandungku sendiri.

Ia berhasil mengembalikan aku. Jujur, dulu aku hampir seperti mayat hidup yang kesepian, hanya Umma dan Appa yang mau menemaniku. Aku juga pernah dicela saat aku masuk sekolah untuk pertama kalinya disini karena keadaan ab-normalku. Hingga diputuskan aku mengikuti program home schooling.

Junsu satu-satunya namja yang dengan semangat menemaniku hingga sekarang.

.

Aku menyeret badanku menuju pinggir ranjangku. Lalu kemudian kupindahkan tubuhku agar posisiku terduduk diatas kursi roda. Tidak susah bagiku yang sudah enam tahun melakukannya.

Hah~ enam tahun ya! Lama sekali sudah aku hidup diatas kursi ini. Aku sebenarnya sudah bosan hidup seperti ini.

Tapi ini pilihanku. Pilihan yang harus aku pertahankan dan selesaikan. Aku tidak mungkin mundur sekarang. itu bukan sifatku!

Aku segera memutar roda kursiku untuk berjalan keluar dari kamarku. Ini juga tidak sulit bagiku. Ditambah lagi rumah ini tidak ada tangga. Jadi Umma dan Appa tidak perlu khawatir padaku.

.

Aku sampai didapur. Kulihat Umma tengah memasak. Dan..

"APPA!" panggilku senang. Appa menghentikan aktivitasnya membaca Koran dan langsung berjalan mendekatiku. Aku sangat merindukan Appaku. Appa itu seorang pengusaha yang sibuk, jadi aku jarang bertemu Appa. Appa lebih sering berada di China-Korea-Japa daripada di Kanada. Berkumpul bersama kami.

"Anak Appa sudah bangun!" ucap Appa kemudian mengecup sayang keningku.

"Ne, Junsu yang membangunkanku." Laporku dengan tersenyum lebar. Appa juga tersenyum, membuat wajahnya yang kecina-cinaan manjadi tampan. Appa lalu berdiri dan berjalan kebelakangku kemudian mendorong kursi rodaku menuju meja makan.

"Pagi chagi" ucap Umma kemudian mengecup sayang pipi kananku. Aku masih merasa bersalah pada Umma tentang kejadian kemaren. Aku belum sempat minta maaf. Ketika Umma selesai memelukku, aku memutuskan untuk tidur. aku tidur terlalu lelap sampai makan pun terlupakn olehku.

"Kau sudah memaafkan Umma?" tanya Umma.

"Tentu saja, Umma! Lagipula itu bukan salah Umma." Umma tersenyum hangat. Ia kemudian membelai hangat rambutku sebelum ia melanjutkan aktivitasnya menyiapkan sarapan kami.

"Pagi ini makanmu harus banyak, tadi malam kau belum makan kan?"

"Ne!" ya! Aku memang harus makan banyak karena aku memang lapar saat ini. Umma memang pengertian padaku.

..o..

Sekarang, aku, Appa dan Umma tengah duduk diruang tengah. Appa memang mengatakan ada yang ingin dibicarakan. Aku penasarannya tentunya.

Appa menoleh pada Umma seakan meminta konfirmasi mengenai apa yang hendak ia sampaikan. Umma hanya menatap Appa dengan senyum manis miliknya.

"Hyuk, apa punya kabar untukmu."

"Ne?"

Appa menghela nafas sekali. "Kau sudah enam tahun disini, tapi tidak ada perubahan. Jadi, Appa dan Umma memutuskan untuk membawamu pulang saja ke Korea, kedesa kita dulu."

'DEG'

Saat ini perasaanku campur aduk. Aku senang karena akan kembali kekampung halamanku. Aku bisa kembali merasakan udara asri desaku. Namun..

Ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku yakin namja itu penyebabnya Lee Donghae. Ia tinggal didesa yang sama denganku. Jelas aku akan bertemu dengannya cepat atau lambat. Aku merasa…

YA! Apa yang kupikirkan, takut bertemu dengannya? Hah, Hyukie, bukankah semakin baik jika kau cepat bertemu dengannya? Bukankah semakin cepat kau menemuinya, semakin cepat kau dapat melihat raut wajah penyesalannya? Ya! Itu benar. Hanya dengan kembali ke Mokpo, aku dapat membuat Donghae mengganti semua penderitaanku.

"Baik Appa, tapi kalau bisa secepatnya, ne?"

"Tak masalah! Tiga hari lagi kita sudah dikorea."

*Tiga hari kemudian*

Author Pov:

"Hari ini, entah mengapa hatiku terasa berdetak tidak karuan. Mungkin aku merindukan Hyukie." Racau Donghae. Namja tampan itu kemudian turun dari ranjangnya dan melangkah keluar dari kamarnnya.

"Hae mau kemana?" tanya Leeteuk –Umma Donghae saat melihat putra tunggalnya terburu-buru melangkah menuju pintu keluar rumahnya.

Donghae tersenyum lebar. "Aku kangen seseorang Umma!" lapornya pada sang Umma. Ummanya yang mengerti maksud perkataannya langsung terkekeh kecil.

"Anak Umma! Yasudah. Jangan mengacau dikamarnya, Arra?"

"Ne Umma, saranghae." Donghae segera melangkah keluar menuju sebuah rumah yang terkesan sepi.

.

Sesampainya ia ditempat tujuannya, Donghae tanpa mengetuk pintu langsung masuk saja kerumah mewah berwarna putih gaing itu. Ia sedikit terperangah melihat keadaan rumah itu benar-benar rapi saat ini. Tidak seperti biasannya yang hanya sekedar rapi saja.

"Bibi." Panggil Donghae pelan tidak mau mengagetkan wanita tua berumur setengah abad yang tengah asyik memngelap beberapa guji mahal.

"Eh, Tuan. Kangen sama Nona Hyukie?" tembak sang bibi itu tepat seratus persen. Si bibi kini tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Donghae yang memerah sambil mengulum senyumnya. Tidak susah memang untuk menebak alasan Donghae datang tanpa diundang kerumah keluarga Lee itu. Ia hampir tidak pernah absen mengunjungi rumah –tepatnya kamar Hyukjae untuk melepas rindunya.

.

"Ya, biasalah, Bi!" ucap Donghae malu-malu sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ne, Bibi paham. Sana kamarnya tidak bibi kunci. Tapi jangan diberantakin ya!"

"Beres, Bi!" Donghae langsung melesat pergi menuju kamar yang dipintunya bertuliskan 'Rumah Hyuk dan Hae'. Donghae tersenyum miris membaca tulisan kayu itu. Sekali lagi rasa penyesalan menyelinap masuk kehatinya.

"Hey! My Monkey! Maafkan aku! Jebal.." ucap Donghae. Ia kemudian membuka pintu kamar itu. Donghae langsung memejamkan matanya, mencoba merasakan kehadiran sahabat kecilnya. Setetes airmata sukses turun dari mata bening miliknya.

"Hyuk, maafkan aku!" Donghae membuka matanya kemudian berjalan menuju ranjang yang ada didepannya. Sebelum ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur nyaman itu, ia mengambi sebuah foto seorang anak kecil yang tengah tersenyum lebar.

"Hyuk, apa kabarmu? Kau baik saja kan? Aku tidak Hyuk!" kini dua tetes air mata terukir diwajahnya. Ia memandangi foto gadis kecil itu dengan penuh rasa bersalah, rasa menyesal dan rasa marah yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Aku tidak baik Hyuk! Enam tahun ini keadaanku tidak baik tanpamu, Hyuk!" kali ini tangis Donghae benar-benar pecah. Ia terisak sambil memeluk foto gadis kecil itu. Gadis yang merupakan sahabatnya dan juga gadis yang menjadi cintanya.

Tidak terasa isak tangis Donghae berubah menjadi dengkuran teratur. Ya! Donghae tertidur. Ia tertidur dengan wajah yang basah dan kedua lengnnya memeluk erat poto gadis kecil nan manis itu.

..o…

"Eng.." erang Donghae saat acara tidur siangnya terganggu oleh suara berisik dari luar kamar. Ia segera bangkit dan mengucek matanya untuk membiasakan matanya yang terasa masih berat.

"Ah, sudah malam." Sadar Donghae ketika melihat keadaan gelap diluar dari jendela kamar. Ia segera beranjak dari atas tempat tidur itu. Ia memutusakan untuk pulang.

"Hyuk, aku pulang dulu." Sambil mengecup sayang pada foto yang ikut tidur bersamanya tadi. Donghae lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kamar. Sebelum ia membuka pintu kamar itu, ia kembali menutup matanya dan menghela nafas berulang kali. "Hyuk, saranghae." Ucapnya kemudian dengan sekali hentakan, ia membuka pintu kamar itu kemudian berjalan meninggalkan kamar itu. Namun..

'DEG'

-Other place-

"Bibi! Aku pulang!"

"Nona, A-apa yang terjadi?" tanya sang bibi sambil menatap tidak percaya seorang gadis muda belia nan cantik tengah duduk manis diatas kursi roda.

"Hee- hee- yah, karena kecelakaan itu aku lumpuh."

"APA?" teriak sang Bibi tidak percaya.

"Nona, berarti selama enam tahun, nona duduk diatas kursi itu." Mata sang bibi langsung berkaca-kaca. Raut wajahnya menyiratkan betapa bersedihnya ia mengetahui keadaan HyuHYH RWSSSFmajikannya itu yang dulu ceria dan lincah, kini harus hidup diatas kursi besi beroda itu.

"Jangan terlalu sedih bi, dia sebenarnya bisa saja sembuh jika mau menjalani perawatan." Ucap Umma Hyukjae dengan nada sedikit menyindir.

"Heenim.." tegur Hangeng –Appa Hyukjae pada istri cantiknya itu. "Jangan permasalahkan hal itu sekarang kita baru sampai lebih baik istirahat." Hangeng langsung menarik Heechul menuju kamarnya. Heechul hanya bisa menuruti kata-kata suaminya.

"Nona, kenapa?" tanya sang Bibi menuntut jawaban atas ketidak mauan Hyukjae untuk sembuh.

"Hah~ aku lelah bi, aku kekamar dulu!" Hyukjae langsung mendorong roda besar dikedua sisi kursi besinya menuju kamarnya yang dulu ia. Ia terus memutar kedua roda besar itu hingga berhenti tepat didepan kamarnya. Dia melihat sosok namja tegap yang tengah berdiri membelakanginya sambil menutup pintu kamarnya.

Hyukjae menyipitkan matanya mencoba untuk mengetahui namja yang ada didepannya itu. Hyukjae hendak meneriaki namja itu. Namun ia segera bungkam. Namja itu lebih dahulu berbalik sebelum Hyukjae berteriak.

Sama halnya dengan Hyukjae, Donghae pun langsung berdiri mematung dan bungkam saat mengetahui siapa yeoja manis yang tengah menatap kaget kearahnya.

"Dong- Donghae!" ucap Hyukjae pelan dengan nada tak percaya.

"Hyukjae, kau- kau kah itu?" mata Donghae langsung meneteskan airmata. Ia bahagia melihat Hyukjaenya ada dihadapannya, ia begitu merindukan sosok yeoja berparas manis yang dulu mengisi hatinya. Kakinya langsung melangkah menuju Hyukjae, tangannya terbuka siap untuk mendekap erat Hyukjae.

"Jangan mendekat dan menyentuhku."ucap Hyukjae datar hampir tanpa ekspresi. Ini berhasil membuat Donghae kembali mematung.

Matanya kini terpaku pada kursi tempan Hyukjae mendudukan dirinya. Pandangannya berubah horror. Sontak tanpa disuruh ia menunjuk kaku pada kursi besi itu.

"Kenapa? Ada apa denganmu Hyuk?" tanya Donghae tak percaya medapati Hyukjae tengah duduk manis diatas kursi besi dengan dua roda dikedua sisi kursinya.

"Aku lumpuh!" lapor Hyukjae masih terdengar datar. "Kau punya mata sendirikan, aku lumpuh!"

"Ini tidak mungkin! Kau mengerjaiku bukan?" Donghae mencengkram pundak Hyukjae. Ia kemudian mengguncang pundak Hyukjae kasar. Airmatanya kian menetes dengan cepatnya. Rasa penyesalan semakin bertambah dihatinya.

"Sakit!" ringis Hyukjae. "Berhenti menyakitiku Donghae!" Hyukjae mencoba menepis tangan Donghae yang masih mencengkram pundaknya. Bukannya melepaskan cengkramannya, Donghae malah semakin mengeratkan cengkramannya.

"Katakan ini bohong! Jangan mengerjaiku Hyukjae!"

"Aku tidak bercanda!" teriak Hyukjae marah. Sontak saja Donghae melepaskan cengkramannya pada pundak Hyukjae. "Kau pikir karena siapa aku begini hah? Ini karena Kau! Kau yang membuatku cacat! Kau yang membuatku menderita." Hyukjae berteriak sejadi-jadinya. Mata Hyukjae yang menatap Donghae dengan pandangan menghakimi kini basah sempurna.

Sang objek yang ditatap masih berusaha menyangkal keadaan nyata didepannya. Ia menatap mata Hyukjae berusaha mencari ekspresi kebohongan.

Namun nihil! Manik kehitaman itu tidak menyiratkan kedustaan. Keadaan didepannya memang benar adanya. Tangan Donghae meremas frustasi rambut lurusnya. "Ini tidak mungkin! Ini.. ini tidak mungkin kan Hyuk!"

Tobeco dulu ya,

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author area:

Sumpah geje…

FF ini gajee…

#timpuk author bake bang Dong T^T

Untuk yang udah ripiu..

Yoonhaehyuk, Widiw-Uchiha, AngelFishy, No Name, Lee Sungcha, haehyuk, yoonainy, Lara Kyunie, ChoiHaeJin, teukteukie jewelfishy, YeHyuk EunHae, Lee Soo Hyun, Yukihime-sama, hyukiewife, Max Hyera, eunhae, Lee Eunhae, Hyera Hyukkie

hehehe #kekeh watados, kemaren author lupa nulis TBC, ini sebenarnya cerita multi chapter.. Mian ya, author kelupaan XDD #author gak becus '¬з¬

masalah kecelakaan Hyuk, kenapa Hyuk bisa kenal Junsu akan author ceritakan di special part, ne?

Author seneng banget baca ripiu reader, semuanya udah bikin author semangat laanjutin ini FF meski lama, cosnya berbagai kendala T3T terutama ini FF emang baru diketik…

Hnn.. chap ini harusnya lebih panjang, tapi mian, otak author Cuma bisa nyampe batas disini, jadi tungguin aja nyop~ nextnya author janji deh bakal lebih panjang ^^.

Woy! Leday, ledy day! Ledy Dayana! Ini gw sebut nama lo say! Percaya gak udah ini FF gw? XDD

Yang baca review ya, jangan ngeloyor pergi gitu aja abis baca. Kalo baca ripiu kalian itu, author makin semangat ngelanjutin ini FF,^^

RnR please!

.

.

Ada yang mau beli in author A-CHA? Hahaha..

Oppadeul keren di album itu.. kyaa…..