REALLY?
Main pairing : HaeHyuk / EunHae
Warning: Genderswitch, OOC
Genre: Hurt / Romance, Friendship
.
.
"Donghae!" suara berat dari seorang lelaki paruh baya membuat Donghae tersentak. Ia langsung berdiri menatap sang pria yang baru saja menyebutkan namanya. Mata Donghae seolah menyiratkan bahwa ia meminta konfirmasi atas keadaan Hyukjae saat ini.
"Ahjussi.. Ini.. Ini.."
"Ini kenyataan, Donghae!" ucap Hangeng –Appa Hyukjae memotong perkataan Donghae. Meski nada suara Hangeng terdengar baik-baik saja, naluri Heechul –Umma Hyukjae, menangkap perasaan sedih seorang ayah melihat kenyataan anaknya. Heechul lalu berjalan kearah Hyukjae kemudian mengelus kepala anak gadisnya itu, menenangkan bahu anaknya yang bergetar hebat.
Donghae kini tampak syok. Dalam pikirannya, mana mungkin Appa Hyukjae berdusta akan keadaan anaknya. tapi hatinya masih menolak kenyataan itu. Hatinya masih tidak percaya. Donghae tertawa hambar. "Kejutan yang menarik." Racaunya. Airmatanya mengalir menuruni pipinya. Perlahan kekehan hambarnya berubah menjadi isakan tangis yang menyayat hati.
"Donghae-ya! Sebaiknya kamu pulang. Tenangkan dirimu!" Hangeng menepuk beberapa kali punggung Donghae untuk menenang namja muda yang kini tampak hampir setengah hancur itu.
"Kau memang lebih baik pulang! Aku sangat tidak berselera melihatmu!" Hyukjae langsung mendorong roda besar dikedua sisi kursinya. Ia melewati Donghae tanpa menatapnya. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, ia terus mendorong rodanya agar berputar, terus Hyukjae lakukan, sampai ia tiba didepan pintu kamarnya.
Hyukjae berhenti memutar roda kursinya. Matanya terpaku pada sebuah papan kecil bertuliskan 'Rumah Hyuk dan Hae'. Ia pandangi tulisan itu. Sedikit rasa rindu menyeruak masuk kedalam dirinya, namun ditepisnya. Kembali ia menyentuh bagian atas dua roda besar yang berada dikedua sisi kursi besinya. Ia hendak memutar roda itu, namun suara yang hampir pecah dan sedikit parau menghentikan niatnya.
"Kau yang membuat tulisan itu'kan? Kau tidak mungkin lupa!" Donghae membalikkan badannya menatap sendu punggung Hyukjae. Tangannya naik menyentuh pipinya untuk mengusap jejak airmatanya.
"Hyuk, aku.. menyesal, sungguh!" Donghae melangkah menuju Hyukjae. Dengan langkah gotai, ia berusaha mencapai tempat Hyukjae. Padangan begitu menunjukan kerinduan yang teramat sangat. Saat tangannya henak menggapai pundak Hyukjae. Ia kembali terpaku ketika tangan Hyukjae mengambil papan nama itu kasar dan kemudian mematahkannya dengan amarah penuh.
Donghae menatap tak percaya dengan apa yang Hyukjae lakukan. Hangeng dan Heechul tidak kalah terkejutnya . Mereka terdiam sesaat. Heechul yang pertama merespon, namun kata-katanya tenggelam begitu saja saat Hyukjae masuk kekamarnya dan menutup pintu kamarnya disertai bantinggan kasar pada pintu kamar yang tak berdosa itu.
"Dia membenciku!" ungkap Donghae lirih. Senyum miris terukir diwajahnya. Hangeng mendekatinya kemudian menepuk pundak namja itu pelan.
"Pulanglah! Sudah terlalu malam kau disini" perintah Hangeng dengan nada kebapaannya. Donghae seperti tidak mau menuruti perintah Hangeng. Ia berkeras ingin bertemu Hyukjae.
"Ahjussi.. kenapa? Apa yang terjadi pada Hyuk?" Hangeng menghela napas berat. Raut wajah sedih sang ayah terukir diwajah tampannya. Sebenarnya dulu ia juga sempat menyalahkan namja tampan didepannya itu atas apa yang menimpa putri tunggalnya. Namun Heechul berhasil menyadarkannya bahwa Donghae tidak sepenuhnya salah.
Hangeng tidak banyak bicara. Ia melangkah pergi meninggalkan Heechul dan Donghae. Donghae kian terpuruk karena hal itu. Ia menundukkan kepalanya menangis meratapi dan menyesali perbuatannya dimasa lampau.
Siapa yang tidak sakit, saat orang yang begitu kau cintai membencimu? Itulah yang dirasakan Donghae. Hatinya bagai dihantam ribuan jarum panas mengetahui Hyukjae membencinya.
Heechul mengerti yang Donghae rasakan. Ia prihatin dengan keadaan Donghae saat ini. "Pulanglah, aku mengerti perasaanmu kacau saat ini Hae! Tenangkan dulu dirimu, arraseo?" Suara keibuan Heechul sedikit menenangkan kekecauan dibenak Donghae. Ia memeluk wanita paruh baya itu, membuat Heechul semakin mengerti bagaimana frustasinya Donghae saat ini.
"Ahjumma.. Hyukkie.. hikss.."
"Jangan khawatir! Kau harus kuat! Kuat untuknnya, ne!" Heechul menepuk tiga kali punggung Donghae. Senyum indah terukir diwajah cantiknya. Entah apa yang meyakinkannya, namun dalam benaknya, namja berwajah ikan itu dapat mengembalikan Hyukjae putrinya.
Perlahan Donghae melepas dekapannya dari Heechul. Ia sudah tampak tenang saat ini. Isakannya pun sudah tidak terdengar lagi. Tangannya menyentuh pipinya, menghapus jejak air mata yang terukir diwajahnya.
Donghae berjalan menuju pintu kamar Hyukkie. Badannya membungkuk sedikit ketika ia mengambil dua patahan dari papan nama yang tadi dipatahkan Hyukjae. Ia semakin dekat dengan pintu kamar Hyukjae. Donghae menyentuh ganggang pintu itu untuk membukanya, namun terkunci. Donghae mendengus kecewa.
Ia segera mengetuk pintu kamar Hyukjae dan memanggil nama gadis muda yang kini lumpuh itu. "Hyukkie-ah!" tidak ada jawaban memang. Tapi Donghae yakin bahwa gadis yang berada dibalik pintu kamar itu mendengarnya.
"Aku pulang!" sambung Donghae kemudian berbalik dan melangkah menjauhi kamar Hyukjae. Setelah berpamitan pada Heechul, Donghae benar-benar melangkah meninggalkan rumah Hyukjae. Sebenarnya, Donghae tidak mau pergi. Ingin rasanya ia berbalik, berlari menuju kamar Hyukjae, mendobrak kamar itu, kemudian berlutut meminta maaf kepada yeoja yang ia cintai itu.
Namun sia-sia saja. Tenaganya hampir habis karena tidak kuat menerima pernyataan Hyukjae bahwa Hyukjae membencinya. Tangan Donghae terkepal erat saat mengingat hal itu. Karena ia tengah mengenggam dua patahan papan nama tadi, tangannya mendapat luka kecil. Tak ia acuhkan luka itu meski kini tengah terlihat butiran air kental berwarna merah pekat menetes dari telapak tangannya.
Donghae berjalan menuju sebuah benda berbentuk tabung yang besar dan memiliki tinggi sepinggang Donghae. Ia menghentikan langkahnya tepat didepan tempat sampah itu. Kepala mendongak keatas, seakan menahan airmatanya yang akan mengukir jejak air dipipinya. Cukup lama ia bertahan dalam posisi seperti itu. Hingga akhirnya Donghae menghela nafas sekali dan kembali memandangi tong sampah itu dengan tersenyum hambar.
'Tzrang!'
Donghae menjatuhkan dua patahan kayu yang sedari tadi digenggamnya. Senyumnya semakin terlihat menyakitkan. Mata Donghae kemudian teralih ke telapak tangannya yang terluka.
"Aku terluka dua kali hari ini, disini.." ucap Donghae sambil mengangkat tangannya dan menghadapkan telapak tangannya kewajahnya. Matanya tampak kuat saat menatap luka kecil itu.
Tangan kirinya naik menuju dada kirinya diremasnya bajunya seakan tengah meremas jantungnya "Dan disini.." berbeda dari yang tadi, mata Donghae memancarkan kesakitan ia rasakan. Matanya kembali berkaca-kaca. Dalam hitungan detik Donghae berlari, berlari sekuat tenaga menjauhi tempat ia tadi membuang patahan itu. Membuang patahan yang ia definisikan sebagai hatinya.
..o..
…Really?...
..o..
Hyukjae POV:
Apa yang kulakukan ini sudah benar? Apakah memang ini yang harus kulakukan?
Kenapa tadi aku begitu sakit saat namja itu menangis? Kenapa tadi aku merasa menyesal setelah mematahkan papan nama itu? Ada apa denganku?
Bukankah seharusnya aku sedikit lega, setidaknya aku berhasil membuatnya frustasi dan merasa bersalah? Bukankah seharusnya sekarang aku tertawa senang melihat namja itu menangis menyesal seperti tadi? Bahkan sepersepuluh dari penderitaanku selama sepuluh tahun pun tidak setara dengan apa yang tadi kulakukan.
Ada apa denganmu Hyukjae?
Lihat dirimu, sekarang kau menangis! Apa yang aku tangiskan? Namja itu? Lee Donghae? Apa aku sudah gila? Selama enam tahun aku memupuk rasa benciku pada namja itu!
Seharusnya aku tidak seperti ini. Ini salah! Aku seharusnya bertahan disana. Memaki namja itu sepuas-puasnya. Menghujamnya dengan sumpah serapah bahkan mungkin memukulnya hingga lemas tak berdaya. Seharusnya itu yang aku lakukan untuk melampiaskan rasa marahku padanya.
Tapi yang kulakukan? Aku pergi, menghindar darinya. Ada apa denganku?
Ini salah! Hyukjae! Hanya satu yang kau ketahui. Namja itu yang membuatmu menderita selama enam tahun ini. Dan kau kembali untuk membuatnya menyesal.
Jangan sampai aku menarik janjiku ini.
'Tok.. Tok.. Tok..'
Telingaku mendengar ketukan pintu. Entah apa yang membuatku yakin, itu pasti Umma. Dan benar saja, saat seseorang dibalik pintu itu memanggilku, aku mendengar suara Umma. Aku kembali meringkuk dalam selimutku, menenggelamkan seluruh badanku. Aku yakin, Umma akan membicarakan masalah tadi. Aku malas!
"Hyukjae, Umma tau, kau belum tidur! Cepat buka pintunya!" aku hanya diam tidak menjawab panggilan Umma. Kuharap Umma mengerti keadaanku, aku benar-benar tidak mau mendengar celotehan Umma saat ini.
"Hyukjae!" nada Umma berubah. Ia mengeraskan suaranya. Kalau begini, aku hanya bisa menurutinya. Umma terlalu menyeramkan saat marah. Aku mendudukan badanku kemudian menyeret badanku menuju tepi ranjangku dan berpindah pada kursi roda milikku. Segera kudorong roa besar dikedua sisi kursi ini.
'Cklek!'
Pintu kamarku terbuka dan terlihatlah seorang yeoja cantik paruh baya tengah berdiri sambil melipat tangannya didepan dada. "Lama sekali!" ucap Umma sebelum masuk kekamarku. Dan duduk diranjangku. Aku kemabli mendorong roda besar disisi kanan-kiri kursiku menuju Umma.
"Kau menangis?" tanya Umma. Spontan tanganku langsung bergerak naik. Kuusap pipiku untuk menghilangkan jejak aitmata itu.
"Ini.. ini keringat Umma, aku tadi.."
"Umma mengerti." Potong Umma berhasil membuat aku menatapnya bingung. Mengerti untuk apa?
Umma tersenyum kemudian mengusap sayang kepalaku. Umma berhasil membuatku kembali tenang. Seakan tidak ada beban padaku saat ini.
"Jangan benci Donghae!" apa? Aku pasti salah dengar. Apa maksud Umma?
"Donghae bukan penyebab dari kecelakaanmu!" Umma kembali tersenyum. Berbeda denganku. Aku tidak suka ini. Umma tidak mengerti. Umma tidak tahu bagaimana keadaanku saat ini.
"Umma, kau lihat kan, aku lumpuh. Dan ini karena siapa? Donghae. Andai saja dia tidak egois saat itu, aku tidak akan lumpuh Umma." Aku mematap Umma dengan tatapan kesal bercampur kecewa. Tidak pantas memang. Tapi inilah yang kurasakan. Umma seakan membela orang itu ketimbang aku.
"Jangan salahkan dia, Hyuk. Kau lihat sendiri tadi, dia bahkan tidak percaya kau.." kata-kata Umma menggantung. Ia mengalihkan pandangannya menatap kedua kakiku. Aku langsung mengerti maksud Umma. Setelah melihat kearah kakiku, ekspresi Umma berubah. Sedih! Ya, Umma yang paling terpukul dengan keadaanku sekarang.
"Umma.." aku mendorong maju roda kursiku mendekat pada Umma. Aku tidak akan melanjutkan pembicaraan ini. Hanya akan membuat Umma sedih. Aku tidak mau melihat Umma sedih.
Saat roda kursiku tengah berputar, aku sudah meyakini satu hal, Lee Donghae, aku.. aku.. aku tidak akan menangis didepanmu. Aku akan membuat kau yang menangis didepanku. Meski tadi sudah, itu belum cukup. Itu hanya awal. Setelah ini bersiaplah. Kau akan menyesalinya.
.
.
.
.
.
Hyukjae POV end:
.
Author Pov:
Donghae yang pulang kerumahnya disambut oleh sang Umma dengan kerutan didahi yeoja paruh baya itu. Donghae bahkan tidak memberi salam pada kedua orang tuanya. Dia terus berjalan gotai kearah kamarnya.
Sang Umma yang kebingungan akan sikap anaknya menoleh kesamping –suaminya-. Sang suami hanya mengangkat bahunya dan menautkan kedua alisnya pertanda sama tidak mengertinya. Leeteuk –sang istri- menghela nafas berat. Ia hendak beranjak untuk menemui anaknya, namun Kangin –sang suami- menarik tangannya, seakan menyuruhnya untuk membiarkan dulu putra semata wayang mereka itu sendirian.
"Aku mau menemui Donghae, yeobo!" ucap Leeteuk sambil berusaha melepas tangannya dari cengkraman sang suami.
"Anni! Kau disini saja. Biarkan dia sendiri dulu." Kangin menatap istrinya lembut, berusaha meyakinkan sang istri agar mau menuruti perkataannya. Leeteuk akhirnya mengalah. Ia melemaskan tangannya dan Kangin pun melepaskannya. Setelah itu Leeteuk duduk disamping Kangin dan merebahkan kepalanya dipundak belahan jiwanya itu.
"Anak kita.." ucap Leeteuk kemudian memejamkan matanya. Kangin menatap istrinya. Senyum manis terukir diwajah tegasnya.
"Aku tahu kau mengkhawatirkan Donghae kita. Tapi biarkan dia sendiri dulu, karena aku ayahnya dan kami sama laki-laki, aku tahu apa yang dibutuhkan sekarang." Kangin mengelus sayang kepala Leeteuk. Karena menikmati sentuhan suaminya, Leeteuk merubah posisinya menjadi memeluk Kangin dan kepalanya ia daratkan di dada bidang Kangin. Kangin tersenyum kecil mendapati tingkah manja istrinya.
*stop! Kenapa malah KangTeuk moment?*
"Kau, tahu.. keluarga Lee sudah datang.." ucap Kangin yang berhasil membuat Leeteuk bingung.
"Keluarga Lee?" ulang Leeteuk. Kangin menganggukkan kepalanya.
"Ya! Keluarga Lee."
"Keluarga Lee? Ke- keluarga Lee? Keluarga LEE?" Leeteuk langsung melepaskan pelukannya dan berhasil mengagetkan Kangin. Tidak menunggu lama, Leeteuk langsung menuju kamar putranya, meninggalkan Kangin yang kebingungan dengan aksi tiba-tiba Leeteuk..
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, leeteuk langsung menyambar ganggang pintu itu. Dan~
Inilah yang dikhawatirkan Leeteuk. Keadaan putranya. Sekarang Donghae tengah meringkuk diujung kamarnya. Matanya menatap kosong kedepan. Langsung saja Leeteuk menghampiri putranya itu.
Leeteuk kembali dikagetkan oleh keadaan putranya. Mata Donghae sembab bahkan membengkak. Tangannya terdapat luka meskipun tidak terlalu parah, namun tetap saja, jejak darah yang jelas terukir itu membuat Leeteuk menatap horror pada telapak tangan Donghae.
"Chagi.. kamu ke-kenapa?" Tanya Leeteuk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya yang menyentuh tangan Donghae bergetar hebat.
"Umma.." ujar Donghae lemah. Tanpa di komando, Leeteuk langsung memeluk Donghae, mengarahkan kepala Donghae agar terbenam dipundaknya. Donghae langsung merasa tenang karena dekapan hangat Ummanya. Ia ingin menangis, namun serasa airmatanya telah kering. Berbeda dengan Leeteuk. Wanita paruh baya itu tidak kuat membendung airmatanya. Sebagai seorang ibu, ia bias merasakan sakit anaknya. Ia tahu anak semata wayangnya itu sekarang sedang dalam keadaan gundah.
"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya Leeteuk disela isak tangisnya. Donghae ingin sekali berbohong. Namun tidak bisa. Ia tidak setega itu untuk mendustai wanita yang melahirkannya. Ia juga ingin memilih untuk diam. Namun juga tidak bias. Selama ini ia terbuka pada Ummanya. Dan jika ia diam, ia akan membuat Ummanya Khawatir.
Donghae perlahan membuka mulutnya. Ia memutuskan untuk menyampaikan semua bebannya pada Ummanya. "Hyuk- Hyukjae Umma, dia- dia Lumpuh. Leeteuk tersentak kaget mendengar pernyataan Donghae yang mengatakan bahwa Hyukjae dalam keadaaan lumpuh. "Bagaimana bisa? Separah itukah kecelakaannya?" tanya Leeteuk dalam hati.
".. dan Hyukjae, dia.. dia.. bahkan membanciku!" sambung Donghae.
'Deg'
Kali ini Leeteuk lebih kaget dibanding sebelumnya. Ia langsung mengerti kenapa anaknya menjadi seperti sekarang. Karena Leeteuk adalah seorang ibu yang telah melahirkan Donghae, Leeteuk langsung bisa merasakan perasaan anaknya. Seperti halnya Donghae, hati Leeteuk juga sakit saat ini. Ia mengeri saat Donghae sakit karena ia dibenci oleh sesorang yang sudah dicintai putranya itu selama enam tahun ini. Ia tahu putranya sakit karena dibenci oleh seorang yeoja yang selama enam tahun ini ia rindukan. Perasaan sakit ini ditangkap oleh naluri seorang ibu dari Leeteuk dan..
Tunggu!
Bukan hanya Leeteuk ternyata. Seorang bertubuh besar dan tegap yang sedari tadi mendengarkan percakapan Leeteuk dan Donghae juga meremas bajunya, mencoba menahan sesuatu yang menghantam perasaannya sebagai seorang ayah. Ingin ia masuk dan memeluk putra tunggalnya itu. Tapi ia menyerahkan pada Leeteuk. Ia lebih percaya pada Leeteuk untuk menenangkan Donghae putranya.
.
.
Cukup lama Donghae berda dalam dekapan Leeteuk –Ummanya. Ia sudah lebih tenang. Perasaannya tidak seberat tadi. Buktinya, ia kini tertidur. Suara dengkurannya yang tenang teratur juga membuat hati Leeteuk menenang.
"Kau sudah tidur, Chagi.." Leeteuk menoleh kearah suara itu. Disampingnya Kangin sudah berjongkok dan tangannya mengelus sayang kepala putranya. Jangan lupakan senyum kebapakkan yang menyiratkan juga ekspresi sedih diwajah Kangin.
"Sini, biar dia aku pindahkan, Yeobo!" Kangin mengambil alih seluruh berat badan Donghae keatas kedua tangannya. Dengan pelan –takut membangunkan Donghae, Kangin berjalan kearah tempat tidur Donghae dan memposisinyamankan Donghae diatas kasurnya.
"Yeobo.. putra kita.." ucap Leeteuk sambil memeluk Kangin. "Ia pasti sakit mengetahui bahwa gadis yan g sangat ia cintai, membencinya saat ini.."
"Uljima.." ujar Kangin tenang. "Dia bisa mengatasinya."
Kedua pasangan suami istri itu melangkah pergi dari kamar Donghae. Mereka yakin, putranya kuat.
..o..
..Really?..
..o..
Pagi yang cerah disambut gembira oleh namja tampan penyuka ikan itu. Ia menyenandungkan lagu-lagu yang sedang ngetren saat ini.
Leeteuk dan Kangin selaku orangtua namja itu samapai heran dengan sikapnya pagi ini. Bertolak jauh dengan keadaannya tadi malam.
Donghae mendekati meja makan. Dimeja makan ada Leeteuk yang tengah mengoles selai dan Kangin yang membaca korannya. Tanpa permisi, disambar Donghae satu roti yang seharunya untuk Kangin. Dengan cepat roti itu mengisi rongga perut Donghae yang kosong. Sambil mengunyah, ia tersenyum polos kearah Kangin, sambil tangannya menggapai satu cangkir teh hangat yang juga milik Kangin.
"Appa.." ucap Donghae manja saat Kangin melirik kearah cangkir tehnya.
"Kau.. semangat sekali pagi ini." Kangin sedikit menyindir. Namun Donghae tidak peka. Senyum diwajahnya melebar.
"Aku mau kerumah Han Ahjussi dulu Appa!" dengan wajah tanpa dosanya, ia menceritakan keinginannya.
"Mwo.." kaget Leeteuk merespon pernyataan Donghae. " Kau..-" kata-kata Leeteuk kemba;I tertelan karena kangin memotong pembicaraannya.
"Ya! Kau mau menemui siapa? Han ahjussi atau Chullie ahjumma atau.." Kangin menggantungkan kata-katanya. Seringai menggoda dan tatapan menuduh dari Kangin terukir diwajahnya. Donghae yang mengerti langsung membulatkan matanya, pipinya memerah.
"Ah.. Appa! Sudah aku berangkat! Dah Umma." Donghae langsung melangkah pergi. Leeteuk mau mencegah kepergian putranya itu. Namun kembali Kangin memotong kata-katanya.
"Hae.. Ja Donghae langsung melangkah pergi. Leeteuk mau mencegah kepergian putranya itu. Namun kembali Kangin memotong kata-katanya.
"Hae.. Jangkaman—"
"Sampaikan salam Umma dan Appa!" Teriak kangin memotong kata-kata Leeteuk.
"Yeobo.." ujar Leeteuk meminta konfirmasi kenapa Kangin selalu mkembuatnya tidak dapat mencegah kepergian Donghae.
"Kau tega membuat wajah cerianya itu hilang hari ini?" ucap Kangin yang akhirnya membuat Leeteuk mengerti.
..o..
..Really?..
..o..
Seorang namja berwajah ikan itu kini sedang berlari kecil dijalan setapak. Senyum lebar terus terukir diwajahya. Ditangan kanannya ia menenteng tiga botol susu strawberry dan milk chocolate dengan toping strawberry juga. Untuk siapa? Tentu saja untuk seorang yeoja yang ia cintai. Tanya namanya! Maka dengan senyum merekah dan wajah yang merona Donghae akan menjawab 'Lee Hyukjae'.
Ia terus berlari sampai ia menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah tong sampah. Tidak terlalu dekat. Antara dia dan tong sampah itu memiliki jarak sekitar satu setengah meter.
Senyum manis namja itu berubah, sedikit hambar memang. Namun ada rasa optimis yang terkandung dalam senyuman itu.
Bemar saja. Donghae berpikir, ia membuang dua patahan itu tadi malam. Itu artinya dia sudah membuang kenangan buruknya dimasa lalu. Ia harus mulai dari awal. Ia harus berjuang dari awal untuk membuat Hyukaje memaafkannya, bahkan kembali menjadi sahabatnya. Dengan begitu, akan mudah bagi Donghae untuk membuat Hyukjae mencintainya kembali dan menikahinya.
"Apapun yang terjadi, Hyukie harus kembali menjadi Hyukie yang dulu. Hubunganku dengannya juga harus seperti dulu lagi, bila perlu lebih baik. Aku tidak perduli nantinya dia menolakku apa tidak. Itu bisa ku atasi!" janji Donghae.
Namja muda itu melanjutkan larinya, kali ini Donghae lebih bersemangat. Bahkan senyumnya semakin lebar.
Ada seorang Kakek yang sudah sangat berumur. Kakek itu sedari tadi memperhatikan kegiatan Donghae didepan tong sampah. Bukan hanya hari ini. Tadi malam juga.
Kakek itu tersenyum bangga dengan semangat muda Donghae yang ingin mendapatkan kembali cintanya.
"Anak muda! Semangat yang bagus!" ujar kakek itu sambil memasang senyum bangga miliknya.
"Tapi, kau harus bisa menahan dirimu sekuat-kuatnya karena rintanganmu tidak semudah yang kau bayangkan!" sambung kakek itu kemudian berlalu dengan perlahan.
.
.
Donghae sampai didepan pintu pagar rumah keluarga Lee. Tapi dia masih belum memutuskan untuk membuka pintu pagar itu dan memasuki halaman rumah mewah keluarga Lee itu. Donghae dalam keadaan ragu, masuk apa tidak?
Donghae menghela nafas berat sekali. Dah akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya.
.
Donghae berjalan masuk kehalaman rumah Hyukjae. Namun ia tidak lurus berjalan kearah pintu masuk. Ia membelokkan langkahnya menuju samping kiri rumah bercat putih gading itu. Ia berjalan menuju beranda samping rumah itu, anni.. tepatnya beranda kamar seorang yeoja manis yang kini tengah termangu sambil duduk diatas kursi rodanya.
Donghae menghentikan langkahnya. Ia memilih untuk mengamati yeoja belia itu terlebih dahulu.
Donghae merasa bersalah saat melihat kursi yang diduduki Hyukjae. Raut wajah cerianya berganti menjadi raut wajah sedih penuh penyesalan.
"Andai dulu aku mendengarkanmu dulu, kau tidak akan menderita seperti sekarang." Ucap Donghae.
Donghae kembali konsentrasi mengamati yeoja cantik itu. Sesekali ia tersenyum saat melihat Hyukjae merapikan tataan rambutnya yang sedikit berantakan karena tiupan angin. Rasanya, kerinduannya selama enam tahun ini terbayar separuhnya.
.
Cukup sudah bagi Donghae untuk menganggumi keindahan objek didepannya. Sekarang saatnya ia melakukan hal yang lebih berguna. Seperti memberikan 'hadiah' kecil untuk Hyukjae-nya senyaring seperti yang sering ia lakukan dahulu jika Hyukjae-nya sedang mengambek ria.
.
"Hai!" ucap Donghae sepelan mungkin yang tentu saja tidak didengar oleh Hyukjae. Ia masih gugup saat ini.
"Hai!.." kali ini lebih nyaring, dan tentu saja Hyukaje mendengarnya. Hyukjae menoleh kearah sumber suara. Dan seperti yang sudah Donghae perkirakan, Hyukjae akan menatapnya kaget.
"Kau! Mau apa kesini!" Hyukjae menucapkannya tidak dengan membentak-bentak. Tapi dengan nada datar dan dingin.
"Aku hanya ingin memberikan ini!" Donghae menjulurkan tangannya yang memegang plastik berisi susu dan coklat susu rasa strawberry. Hyukjae menatap plastik itu tanpa minat.
"Pulang kau! Kau merusak pagiku!" tanpa perduli dengan perasaan Donghae, Hyukjae memutar kursi rodanya dan kemudian medorong roda besar disisi kusinya memasuki kamarnya. Hyukjae langsung mengunci pintu dan menutup pintu yang terbuat dari kaca transparan itu dengan horden.
"Aku kabur lagi!" ucap Hyukjae miris sebelum ia kembali mendorong kursi rodanya menuju tempat tidurnya.
.
Donghae hanya bisa tersenyum hambar melihat penolakan Hyukjae. Tapi itu tidak mematahkan tekadnya. Donghae seorang namja bukan? Ia tidak akan semudah itu menyerah! Donghae kemudian membalik badannya dan berjalan melangkah pergi menjauhi beranda kamar Hyukjae.
Dan untuk kesekian kalinya langkah Donghae terhenti. Heechul –Umma hyukjae yang kali ini menghentikan langkahnya. Ia tersenyum manis pada Donghae.
"Kau, berjuanglah! Ahjumma dipihakmu!" ucap Heechul. Donghae tersenyum senang. Ia sudah mendapat dukungan dari Heechul. Ini semakin mempermudah dirinya bukan?
"Gamsahamnida Ahjumma!" Donghae langsung pamit pada Heechul. Dan kembali lagi, senyum diwajahnya semakin lebar.
"Hyuk! Saranghae!"
.
END for chap 3!
.
.
.
Reader..
Gomawo udah baca.. ^^
R n R please… ^^
