Nih author lama mulu ya updatenya.. hehehe.. #watados smile,

Mian, thor udah mulai nih sekolah.. jadi waktu saya sudah semakin sempit untuk membuat FF ato nemenin maen, apalagi ini semsester dua.. jadi… yah!

Okkey.. enjoy pliss.. dan pliss, buat yang baca coment dong,, seenggaknya kalian ngasih saya semangat lah buat nulis ubntuk next-nya ^^ gomawo..!

"Perfect!" kagum seorang namja sambil menatap pantulan dirinya dicermin. Ia memutar badannya kemudian merapikan bagian baju menurutnya kurang rapih.

'Srrh.. Srrhh!'

Beberapa kali ia menyemprotkan wewangian dengan aroma maskulian keseputar tubuhnya.

Meatanya menggerling senang. Tampaknya namja itu merasa puas dengan penampilannya hari ini. Tidak norak. Simple, namun terkesan maskulin. "Donghae, Kau tampan hari ini!" ucap namja itu memuji dirinya sendiri. Hey? Beginikah seorang namja yang tengah kasmaran? Oh ayolah, namja ini terlalu narsis untuk hari ini.

Tapi biarlah., biarkan hidupnya berjalan sesuai senangnya, setidaknya untuk hari ini..

Hari ini, kembali Donghae datang kerumah Hyukjae. Seperti biasanya, plastik putih berisi beberapa macam makanan dan minuman rasa susu strawberry tergantung ditangannya. Wajah cerianya begitu kentara ia tunjukan. Siulan siulan kecil dari mulut ikannya, membuatnya terkesan berbeda hari ini.

.

Donghae sampai dirumah Hyukjae. Dan seperti biasa pula, bukan pintu utama rumah itu yang ditujunya. Namun halaman samping, dimana disana ia akan menemukan sebuah ruangan untuk seorang putri manis yang sedang ia cari, Kamar Lee Hyukjae.

namun..

'Deg..'

Senyum indahnya hilang. Pemandangan didepannya sungguh membuat Donghae terpaku diam seribu bahasa. Plastic yang ia bawapun jatuh berserakkan.

Kakinya lemas, bahkan saat itu juga ingin rasanya ia jatuh tersungkur ketanah, entak kekuatan dari mana ia masih bisa berusaha untuk menopang tubuhnya.

Donghae mencoba meyakinkan hatinya. Menyakinkan bahwa ini hanya kebohongan visual semata. Ia hanya berhalusinasi..

Tidak bisa bukan? Ini nyata! Dan Donghae sakit! Dadanya bagai tertusuk ribuan jarum yang berkarat sekarang. Donghae tidak perduli lagi pada apapun. Ia berbalik dan segera berlari dari tempat itu. Meninggalkan tempat yang sudah membuat hatinya bagai pecah dan hancur.

.

.

Donghae POV:

Hari ini aku kembali menemui Hyukjae. Sudah hampir dua minggu kegiatan ini menjadi rutinitasku. Dan seperti biasanya juga… aku membawa berbagai jenis makanan kesukaan Hyukjae. Aku betah? Tentu saja!

Yah.. meski dia selalu menolakku, setidaknya usahaku tidak sia-sia.. satu minggu pertama, wajahnya selalu dingin padaku. Menatapku tanpa minat. Tapi di minggu kedua ini, aku dikejutkan dengan ekspresinya. Dia seakan menungguku dengan mata yang berbinar-binar. Apa hanya aku ya yang kepedean. Masalahnya tetap saja, saat aku berdiri dihadapannya, wajahnya berubah. Dari yang awalnya manis menjadi cemberut, jujur, dia sama seperti yang dulu, tetap je-lek saat cemberut.

Dan sekarang aku sampai didepan rumahnya. Aku memacu langkahku cepat hingga dalam hitungan satu menit aku sampai didepan kamarnya. Rekor baru bagiku.

Jendelanya tertutup, seperti biasa. Tapi ini bukan halangan bagiku. Aku menyiapkan diriku untuk melompat dan..

Langkahku terhenti. Aku menatap sosok lain mendekati Hyukjae dan mencoba membangunkannya. Aku terus memperhatikan namja itu menggoyang-goyangkan tubuh Hyukjae. Siapa namja itu? Apa yang dia lakukan?

Hyukjae menggeliat pelan dan kemudian bangkit terduduk dengan bantuan namja aneh itu. Namja itu memegang pipi putih Hyukjae. Oh ayolah, apa yang akan ia lakukan dengan Hyukjaeku?

Hyukjae kini terbangun sempurna. Matanya yang bulat dan rambut acak-acakannya menambah imut wajahnya. Tapi tunggu, namja asing itu malah mengelus kepala Hyukjae dan..

Damn!

Kenapa bisa? Kenapa Hyukjae malah tersenyum manis bersama namja itu bahkan.. bahkan tertawa! Ini gila.

Dan apa lagi sekarang? Kenapa namja itu malah menutup matanya dan menyodorkan pipinya pada Hyukie?

'Deg..'

Seakan langit runtuh menimpaku! Aku melihat ini! Aku melihatnya. Memang pemandangan didepanku ini wajar, seorang wanita mencium pipi seorang pria. Ya! Biasa saja! Tapi tidak bagiku!

Kenapa? Hyuk.. kau..

Ini begitu menyakitkan dan menyesakkan. Ingin rasanya aku melempar plastik ini kewajah namja yang sudah berhasil mendapatkan setuhan lembut bibir Hyukjae dipipinya. Hah~ternyata..

Jadi begini.. pantas saja Hyukjae sudah tidak perduli lagi padaku. Jadi ini yang terjadi rupanya.

Aku sudah tidak tahan. Aku benar-benar sakit sekarang. Aku bahkan tidak ada tenaga lagi rasanya. Kantong plastic yang ku genggam jatuh begitu saja.

Oke! Cukup, jika aku terus disini aku akan semakin sakit. Aku harus pergi. Aku tak tahan melihat wajah merona namja itu dan sipu malu Hyukjae. Cukup! Cukup! Aku sudah tidak tahan!

Author POV:

Donghae berlari tanpa arah hingga ia sampai disebuah taman. Ia menuju bangku yang ada dibawah pohon besar ditaman itu.

Sesaat ia teringat kenangan indah antara dirinya dan Hyukjae sewaktu kanak-kanak dulu. Kenangan yang indah, dimana mereka tertawa bersama, menangis bersama dan melakukan kegiatan bersama. Apapun itu.

Tapi kenangan itu ia rusak sendiri.

Donghae tertawa hambar yang perlahan menjadi tawa miris yang memilukan hati. Donghae tertawa. Ya! Dia tertawa, menertawai kebodohan dirinya yang dulu begitu mudahnya berburuk sangka pada sahabat tersanyangnya.

Dan baru sekarang ia menyesal, sangat menyesali kebohannya itu. Memang dari dulu ia sudah menyesalinya, tapi sekarang puncaknya, saat dimana gadis yang ia cintai selama enam tahun ini sudah memiliki seseorang yang dapat membuatnya tersenyum bahkan tertawa seceria tadi.

Donghae berjalan menuju bangku taman itu. Ia terduduk disana sambil menerawang kosong kedepan. Ia tidak menangis tepatnya belum menangis. Tapi.. siapapun yang lewat dan memandang matanya dapat tahu, bagaimana perasaan Donghae saat ini. Tersakiti!

Sebenarnya, dari tadi ia sudah membayangkan Ummanya. Ia memerlukan sosok wanita itu sekarang. Berada disampingnya guna meminjamkan pundaknya untuk dirinya. Donghae ingin sekali menumpahkan semua sakitnya pada sang Umma.. wanita yang telah melahirkannya

Tapi.. ayolah, ia namja kan? Ia pasti tidak mau bergantung pada Ummanya terus. Ia bukan anak Mami yang akan selalu bergantung pada sang ibu jika ia tengah dirundu masalah, masalah cinta misalnya.

Dan jadilah ia mencoba menenangkan dirinya sendiri ditempat yang memiliki kenagan akan HaeHyuk!

\Really?/

Pulanglah Donghae kerumahnya. Ia berjalan lemas. Namun berubah saat Ummanya mendekatinya. Ummanya datang dengan tergesa-gesa menuju Donghae.

"Umma.. ada apa?" tanya Donghae saat Ummanya sampai didepannya dan kemudian mengatur nafasnya.

"Hh.. hhh..kemana saja kau? Dari tadi Umma menunggumu! Ayo cepat.. cepat.. mandi dan kenakan baju yang bagus!" titah sang Umma sambil mendorong Donghae menuju kamarnya.

"Tapi.. kita mau kemana Umma?"

"Sudah! Jangan banyak tanya! Lakukan saja yang Umma suruh secepatnya! Arraso?"

'Blam!'

Tanpa menunggu jawaban 'Iya' dari Donghae, dengan kasarnya Leeteuk menutup pintu kamar Donghae kemudian berbalik dan kembali berlari menuju kamarnya.

"Aisshh.. harus mengurus satu namja lagi aku!" bisik Leeteuk sambil terus berlari menuju kamarnya tanpa perduli pada cucuran keringat didahinya.

Donghae Pov:

Entah kemana Umma dan Appa akan membawaku. Sedari kutanya, mereka hanya diam dan terkekeh saja sambil berkata 'Lihat saja nanti!'

Bosan! Aku bosan sekali hari ini! Kami berkeliling kota sambil membeli bermacam buah-buahan dan pernak-pernik lainnya. Hanya mereka yang turun dari mobil. Aku tidak! Hari ini semangatku lenyap. Apalagi setelah melihat Hyukie dengan.. namja itu!

Mobil berhenti dihalaman luas sebuah rumah. Sebentar! Sepertinya aku tahu tampat ini. Ini…

Sekarang kami ditempat yang saat ini sedang tidak ingin kukunjungi. Rumah Hyukjae! Entah apa yang membuat mereka datang ketempat ini. Tapi.. jika melihat berbagai belanjaan yang dibawa Umma, aku yakin ini pasti semacam undangan makan malam.

Dengan berat hati dan juga sedikit paksaan dari Umma dan Appa akhirnya aku memasuki rumah ini.

Selamat, pertama aku tidak menemukan Hyukjae. Aku bingung harus bersikap bagaimana padanya. Kuharapa sampai nanti pun aku tidak melihatnya.

.

Pupus harapanku!

Ahjumma datang sambil mendorong kursi roda dengan Hyukie duduk diatasnya. Chulie Ahjumma kemudian menempatkan Hyukie disampingku.

Aku… aku terpesona padanya hari ini. Dia.. dia begitu cantik hari ini. Wajahnya dan rambutnya dihias, baju gaunnya yang indah ditambah wangi parfumnya dan.. senyumnya. Ia tersenyum sekarang, senyum manis Hyukie ku yang dulu yang tidak pernah ia berikan lagi padaku.

Kami memulai acara makan kami. Semua makan dengan lahap kecuali aku. Aku terlalu gugup sekarang berada disebelah Hyukie.

Acara makan malam pun selesai. Kami mulai berbicara kecil seputar kenangan kami dahulu. Appa dan Umma yang paling antusias. Mereka mendominasi pembicaraan ini. Hyukie juga kadang tertawa renyah saat Appa membicarakan hal konyol padanya.

Aku? Aku hanya seperti orang bodoh disini. Aku canggung untuk masuk dalam pembicaraan ini. Apalagi ada Ahjussi Han. Aku masih segan padanya.

Aku kembali memperhatikan Hyukie. Awalnya aku tersenyum begitu manis melihat eksprei wajahnya saat ini. Tapi senyum manisku langsung hilang, saat kembali aku teringat kejadian tadi pagi.

Sebenarnya siapa namja itu? Namja chingu Hyukie kah?

Kenapa saat bersama namja itu Hyukie seakan merasa nyaman?

Kembali mengingat kejadian sore itu membuatku merasa tak nyaman sekarang. Aku memutuskan keluar dari tempat ini setidaknya untuk mencari udara segar.

Aku mulai melangkah keluar. Namun langkahku terhenti saat Han ahjussi memanggilku dan menyuruhku membawa Hyukjae bersama ku, awalnya aku hendak menolak, tapi.. Heechul ahjumma menggerakan matanya seakan menyuruhku untuk mengiyakan kata-kata Han ahjussi. Dengan berat hati aku melangkah kembali menuju Hyukjae dan memutar kursi rodanya.

"Kami permisi," ucapku mewakili.

Aku mendorong kursi roda Hyukjae tanpa bicara apapun. Begitu juga dengan dia. Dia hanya diam.

"Kau mau aku bawa kemana?" tanyaku. Ia hanya menjawab dengan menunjuk kearah kursi taman kecil dihalamannya. Dan aku membawanya kesana.

Sampai disana, aku berniat meninggalkannya. Dan tidak terlaksana karena aku tidak mungkin meninggalkan anak gadis sendirian gelap-gelap begini bukan.

Aku hanya diam sambil menemaninya. Aku memainkan jariku, menghilangkan kegugupanku saat ini. Hyukjaeku sudah berubah bukan, aku merasa berbeda saat ini. Apalagi saat ini dia.. dia sudah punya teman namja yang lain. Yah.. sepertinya, aku harus mundur. Bukan begitu?

"Hyukie.." panggilku pelan namun tetap terdengar oleh Hyukjae.

"Anni.. aku tidak pantas memanggilmu begitu lagi!" ucapku miris, jujur aku sakit saat mengatakan hal itu. Kutatap Hyukjae yang menatapku bingung.

"Kau pasti benci sekali padaku kan?" suaraku mulai bergetar. Rasanya tidak sanggup aku melanjutkan kata-kataku ini, tapi harus!

"Bagaimana kau bisa berpikir begitu?" tanyanya dingin. Aku menundukkan kepalaku, diam sejenak untuk menyiapkan hatiku.

"Aku.. aku merasa. Kau selalu marah padaku, aku tahu aku salah atas apa yang menimpamu, dan aku mau memperbaiki semuanya. Tapi.. sepertinya akan sulit, kau seakan tak mau menerima kehadiranku lagi Hyukjae-ssi." Aku memanggilnya dengan panggilan formal. Bagai tertohok beban berat memang. Hey! Aku mencintainya. Tapi aku akan melepaskannya. Jika memang harus.

"Aku tahu itu, dan aku sadar. Jadi, aku.. aku akan menjauhimu, mulai sekarang." Ucapku kemudian berdiri. Entah apa yang ada dalam pikiran Hyukjae sekarang. Sedari tadi ia hanya diam.

Aku mulai melangkah pergi. Tapi sebelum benar benar jauh, aku berhenti dan kembali berjalan kearahnya. Aku mendorong kursi rodanya, membawanya kembali masuk kedalam rumahnya. Perlahan kurasakan dingin dan basah yang turun menyusuri pipiku. Heh.. aku tidak boleh menangis..

Hyukjae tetap terdiam dikursi rodanya, hingga kami sampai didepan pintu rumahnya.

Kulepaskan peganganku pada kursi rodanya dan membukakan pintu untuknya. "Masuklah, tak baik yeoja sendirian diluar." Ucapku.. Setelah itu barulah aku pergi. Pergi sendiri tanpa menunggu Appa dan Ummaku. Biarlah. Aku ingin sendiri sekarang.

SKIP TIME

Sudah seminggu aku tidak menemui Hyukjae. Rindu memang. Tapi inilah..

Aku sudah berusaha untuk membuatnya memaafkanku dan kembali bersahabat dengan ku. Tapi yang kuterima hanya penolakan. Aku lelah! Ditambah lagi, ia sudah memiliki teman namja sekarang. Otomatis, aku tidak diperlukan lagi bukan?

Dari pada aku membuat Hyukjae menjadi lebih benci padaku karena terus-terusan menemuinya, aku lebih memilih menjauh. Aku sudah cukup sakit dengan buah bencinya yang sekarang.

….

"HAE!" ummaku ini, suka sekali berteriak-teriak.

"Antar Umma! Cepat!" teriaknya lagi. Segera saja kuambil jaket, kunci motor dan helm ku, bersiap untuk mengantar Umma.

"Ayo Umma.. kita mau kemana?"

"Rumah sakit!" ucap Ummaku sambil naik keatas jok belakang motorku.

"Rumah sakit?" kagetku sekaligus heran. Ada apa? Apa yang terjadi?

'Hyukjae!'

Nama yeoja itu terlintas begitu saja dipikiranku. Tanpa pikir panjang, kupacu motorku. Tidak terlalu cepat. Aku masih sadar dan sayang nyawaku dan Ummaku.

Author POV:

"Hiks.. JUNSU!" teriakan seorang yeoja itu berhasil ditangkap oleh telingan Donghae. Ia mengenali suara ini. Hyukjae?

Donghae mempercepat langkahnya, meninggalkan Ummanya yang kewalahan menyejajarkan langkah Donghae yang besar. Ia sekarang berda di ujung koridor UGD Rumah Sakit ini dan matanya melihat Hyukjae.

Yeoja itu tampak berantakan, mulut setia meneriaki nama namja yang menjadi sahabatnya selama ini. Tangannya terus memukuli pintu yang menghalangi pandangannya untuk mengetahui keadaan Junsu saat ini.

Disisi lain, kedua orang tua Hyukjae, tak kalah terlihat gusarnya. Namun mereka lebih baik dalam mengengalikan emosi. Heechul meletakkan kedua tangannya diatas pundak Hyukjae, mengelus pundak yang tampak bergetar itu, berupanya menenangkan Hyukjae..

Donghae membalik badannya menatap Ummanya yang tengah berjalan mendekatinya. Yeoja paruh baya itu kini berdiri , berhadapan dengan Donghae. "Ada apa?" Tanya Leeteuk heran dengan sikap Donghae yang menatapnya dengan pandangan yang er.. sulit diartikan.

Donghae memutar kepalanya, kembali menatap kearah Hyukjae yang masih tidak dapat tenang. "Ada apa dengan mereka Umma?"

"Mollayo.. tadi kurang jelas umma mendengar perkataan Heechul ahjumma.. tapi.. tadi dia menyebutkan mengenai.. kecelakaan, ya! Seorang namja, korban tabrak lari!"

.

Tobeco..

Haa.. pendek! FF ini mpe sini dulu ya chingudeul..

Makin geje? Hahaha.. jelas! Mian kalo ceritanya malah ngawur dan mengecewakan, bentar lagi juga tamat ko :DDD

Makasii yang udah mau baca.. bahkan mpe ada yang nangis? Huwaaa.. kehormatan untuk saya pribadi..

Makasii ya.. ͡ ⃝ ͡ = )ƪ

Oya.. sekedar pemberitahuan.. saya ternyata bini leeteuk *ealaahh.. author gila! Kekeke

See you in thse next chap.. ^^