Be My Sweet Darling
APH ©Hidekaz Himaruya
Sweden x fem!Finland
Warning: rape, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).
.
.
.
Sudah seminggu lebih, Tiina tidak kembali ke rumahnya. Biasanya semarah apapun Tiina, ia pasti kembali ke sisi Berwald. Kembali sebagai seorang anak yang bermanja-manja kepada ayahnya.
Tetapi sayang sekali bagi Berwald karena Tiina sudah benar-benar meninggalkannya tanpa jejak. Sangat terasa karena dulu ketika Tiina ada, selalu ada canda dan tawa dari gadis itu. Tawa yang selalu membuat hati Berwald berdesir kencang dan membuatnya terpana. Tetapi sayang hal itu sudah tidak ada lagi.
Akibat dari ulahnya sendiri yang keterlaluan. Melukai apa yang jadi milik berharga Tiina. Ia sama sekali tidak menikmati malam itu dalam keadaan sadar.
Jijik terhadap dirinya sendiri. Sama sekali tidak menyukai lepas kontrolnya. Menyesal dan malu semua bercampur jadi satu. Semua ini gara-gara alkohol yang diminumnya. Persetan dengan alkohol. Membuatnya muak. Resikonya adalah ia harus kehilangan Tiina untuk selamanya dan kemungkinan terburuk yang mungkin ia akan alami adalah, ia tidak akan pernah bisa bertemu Tiina untuk selamanya dan Tiina akan terus menaruh sakit hati terhadapnya.
Mungkin ia tidak apa-apa tetapi Tiina-lah yang terasa dampaknya. Gadis itu terluka dari berbagai aspek. Ia mengkhianati kepercayaan Tiina dan almarhum orang tua Tiina. Apa yang akan orang tuanya dan orang tua Tiina katakan jika mereka tahu Berwald telah memperkosa gadis muda polos seperti Tiina. Bagaimana mungkin ia tega merusak gadis seperti Tiina, untuk melukainya saja Berwald berpikir dua atau tiga kali.
"Om! Mana Tiina?" tanya Eduard dengan nada yang kurang sopan, begitu menurut Berwald karena mendengar nada bicara Eduard sekarang rasanya Berwald ingin melempar Eduard ke kali terdekat. "Kok sudah lama dia tidak kelihatan sama sekali batang hidungnya?"
Nah, ini dia biang masalah dari semua masalah yang ada di rumahnya. Lebih baik aku membunuhnya sekarang sebelum kemarahanku semakin memuncak. Sial, mengapa pria ini harus datang dan mengacaukan segalanya yang ada. Tidak bisakah ia jangan datang terlebih dahulu sebelum aku selesai berpikir.
"Aku tidak tahu," jawab Berwald dingin tanpa ekspresi. "Dia pergi dari rumah."
Alis Eduard berkedut sekaligus menunjukkan suatu keterkejutan yang amat dalam,bagaimana mungkin seorang ayah (angkat) bisa dengan cueknya mendapati fakta bahwa anak angkatnya pergi ke suatu tempat tanpa kabar. "Pergi? Kemana dia?" tanyanya dengan nada curiga. "Jangan-jangan Om melakukan sesuatu padanya?"
Berwald mendengus pelan, sepertinya tiada hari bagi Eduard untuk tidak mencurigai orang lain. Sebenarnya kecurigaan Eduard sangatlah beralasan, karena ia mengkhawatirkan Tiina tentu saja. Tetapi Berwald tidak bisa mengurangi rasa cemburunya akan hal itu. Wajar jika Eduard kuatir pada Tiina secara Tiina adalah temannya dan ia hanya terlalu cemburu kepada Eduard akan perhatian yang dicurahkan gadis itu terhadapnya. Dengan perasaan kesal, Berwald memberikan tatapan maut semaut mungkin pada Eduard.
"Jangan pernah datang ke tempat ini," ancamnya dingin. Eduard langsung ketakutan dan lari terbirit-birit meninggalkan rumah Berwald seperti cacing kepanasan.
Jangan-jangan kau yang menyembunyikan Tiina. Lihat saja nanti, Eduard—nyawamu tidak akan selamat. Akan kupastikan mengenai hal itu, tentu saja.
—00—
Kepergian Tiina yang secara tiba-tiba juga mempengaruhi kondisi Berwald. Berwald yang biasanya hanya memberikan tatapan mengerikan yang sukses menakuti orang banyak, kini sudah merujuk ke suatu keagresifan yakni melempar benda yang ada di sekitarnya setiap ada orang yang ingin mengoreknya atau membebaninya dengan suruhan-suruhan tidak jelas.
Bahkan orang yang biasanya menganggu Berwald, Matthias Densen, tidak berani menganggunya lagi apalagi sampai bertutur kata dengan Berwald. Baginya, lebih baik ia bersembunyi untuk sementara waktu sebelum nyawanya melayang.
"Hej, Beary!" sapa Matthias dengan senyuman jahil. "Kukira kau sedang tidak ada hiburan berarti, ja? Mau kukenalkan dengan gadis-gadis cantik di Jerman?"
PLAK! Tamparan melayang ke sang kambing Denmark itu ditambah dengan tatapan tajam ala Berwald. "Jangan coba-coba bicara tentang hal itu," ancamnya dengan mata berkilat-kilat. "Sekali lagi, akan kupastikan nyawamu tidak tertolong."
Matthias memandang Berwald dengan tatapan aneh. Mengapa tiba-tiba Berwald menjadi banyak bicara seperti ini? Lucu sekali, mengingat Berwald adalah pria pelit bicara. Pasti ada sesuatu dan Matthias akan berusaha mengorek apa rahasia Berwald sesungguhnya. Kalau perlu, ia akan menyusup ke rumahnya dan menginap di sana. Pasti gara-gara Tiina lagi, batin Matthias kesal. Dasar pria poker face. Setiap ia bermasalah dengan Tiina pasti Berwald berubah yang aneh-aneh, tidak pernah tidak sama sekali. Apa sih bagusnya anak kecil ingusan itu hingga Berwald sering lepas kendali terhadapnya. Benar-benar lucu, jangan-jangan Berwald adalah seorang pedobear.
"Pergi!" usir Berwald kesal dan menonjok bahu Matthias. "Menjauh dariku, kambing!"
"Siapa juga yang mau berdekat-dekatan denganmu?" balas Matthias jengkel. "Lebih baik aku gelap-gelapan bersama Hallie dibandingkan denganmu!"
Pria Swedia itu menjauh dari Matthias sambil bergumam sinis. "As your wish."
Cih, benar-benar menyebalkan. Tidak si kambing itu, tidak si manusia komputer itu! Mereka berdua sama saja, senang membuatku seperti orang gila dengan mendatangiku untuk tujuan yang sama sekali tidak jelas. Terkutuklah kalian semua. Terutama kau, Eduard von Bock. Lihat saja kau nanti—akan kujadikan kau makanan ikan hiu jika ketahuan kau yang menyembunyikan Tiina. Aku tidak sedang main-main.
.
.
.
Hampir setiap hari, Berwald sering bermimpi buruk. Sudah satu bulan berlalu dan tidak ada tanda-tanda Tiina akan kembali ke sisinya. Bayangan mengenai sesuatu yang buruk terhadap gadis itu begitu nyata hingga hatinya terasa sesak. Untuk gadis seusianya, Tiina begitu polos. Bisa saja, ketika Tiina kabur ia diculik oleh mafia, dijual ataupun diperkosa oleh pria yang tidak bertanggung jawab, seperti dirinya.
"Hentikan muram durjamu, Beary!" seru Matthias habis kesabaran melihat kelakuan Berwald. "Ikutlah bersama kami bermain judi!"
"Diam!" balas Berwald dengan nada sedingin biasanya, tetapi yang membedakannya adalah sorot mata penuh kesedihan di matanya. Orang yang tidak terlalu mengenalnya mungkin tidak akan bisa membedakannya.
Tetapi Matthias bisa mengenalinya lebih jelas untuk saat ini. Raut wajah Berwald terlihat menyimpan rasa sedih dibandingkan kemarahan yang selalu ditunjukkan terhadapnya. Ia dulu pernah mengalami hal seperti ini, hal yang sama seperti Berwald rasakan.
"Memikirkan sesuatu, ja?" tanya Matthias jahil dan menjitak kepala Berwald dengan keras sehingga pria itu memekik pelan. "Apa mungkin masalah istri kecilmu itu?"
Berwald terdiam sejenak dan membuka mulutnya untuk bicara."Itu bukan urusanmu, dan kurasa aku akan merindukannya, yeah," ucapnya tanpa sadar. Sudah terlalu banyak kesalahan di masa lalu sehingga ia kehilangan orang yang dicintainya. Menyesal ia dulu cemburu pada Tiina dan tidak mendengarkan gadis itu. Sedih rasanya hingga sampai ke dalam ulu hatinya. Rasa sakit yang ada sangat mencekamnya. Ingin menjerit kencang akan semuanya dan melepaskan rasa sakit yang ada dalam dirinya. Ingin bertemu Tiina lagi dalam keadaan utuh, anak itu terlalu menyusahkannya dalam artian lain.
Matthias berpikir sejenak, ternyata orang seperti Berwald mampu berpikiran seperti itu. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya, mungkinkah Berwald sedih karena Tiina kabur dari rumah? Ia tidak perlu bertanya lagi apa yang terjadi semuanya. Semua orang membicarakan mengenai hal itu dan banyak gosip yang beredar. Mulai dari perginya Tiina karena Berwald mengusirnya, kasus perkosaan dan sebagainya. Tetapi itu semua rasanya tidak mungkin karena Berwald sangat protektif terhadap gadis kecilnya itu. Setiap pesta antar negara saja, Berwald selalu menyebut Tiina dengan sebutan 'min fru' yang berarti seorang istri ketimbang mengakui Tiina sebagai seorang anak.
Tetapi Matthias memutuskan untuk mencari tahu langsung dari Berwald ketimbang mendengarkan gosip-gosip dari tetangga yang dibumbui dengan info aneh-aneh. Itu jauh lebih baik dan mungkin ia bisa membantu Berwald menyelesaikan masalahnya. Selama ini ia sering bertengkar dengan Berwald dalam masalah lapak jualan, bisnis dan sebagainya tetapi ketika Berwald seperti ini, Matthias juga terkena imbasnya. Tidak ada pemacu semangat dan lawan bertengkar, tentu saja.
Tapi, mungkin hal semacam itu tidak akan berhasil karena Berwald bukan tipe orang yang terbuka terhadap orang lain, bahkan terhadap saudaranya sendiri ia begitu dingin dan kaku. Tidak ada yang bisa diketahui mengenai Berwald lebih banyak lagi kecuali pada orang yang paling dicintainya. Menurutnya sungguh sayang bagi Berwald melepaskan gadis yang ia cintai begitu saja karena keadaan. Baginya Tiina adalah gadis yang luar biasa hebat dibandingkan gadis cantik manapun karena mereka pasti tidak bisa menghadapi sikap Berwald yang tidak sensitif. Sudah sepuluh tahun lamanya Tiina menemani Berwald di segala suka dan duka. Matthias memperhatikan jika sejak kehadiran Tiina di dalam kehidupannya, pelan-pelan pria itu berubah sedikit demi sedikit dan terlihat lebih hidup dibandingkan sebelum bertemu dengan Tiina. Jika Matthias memperhatikan dengan lebih seksama, gadis itu telah mengajarkan Berwald berbagai macam hal yang membuat Berwald jauh lebih hidup dan ia mengakuinya sejak dulu.
"Jika kau menyayanginya, katakan maaf padanya atas semua kesalahan yang pernah kau perbuat padanya. Itu akan jauh lebih baik dari apapun," gumam Matthias pelan. "Carilah dia jika tidak ingin kehilangannya dan pastikan dia berada di sisimu dengan penuh kebahagiaan."
Sayangnya Matthias benar, seharusnya itulah yang ia lakukan. Ia sama sekali tidak peka terhadap perasaan Tiina, tahu wanita mudah terluka dan ia terlalu protektif terhadapnya hingga ia melukainya dalam hal yang lainnya. Ingin memilikinya tetapi sulit mengerti apa yang diinginkan gadis itu. Gadis itu masih polos dan belum tersentuh oleh siapapun tetapi ia merusaknya dan ia tidak bertanggung jawab sedikitpun. Mungkin ini hukuman baginya. Jika sampai Tiina membencinya, hidup Berwald akan semakin kacau dan rusak. Kerugian baginya karena Tiina adalah gadis yang luar biasa dibandingkan gadis manapun. Gadis yang optimis dan selalu ceria di segala suasana, membuat Berwald ingin mengenalnya dan mencintainya lebih dalam lagi. Begitu banyak yang harus ia syukuri kepada Tuhan untuk hadirnya Tiina di dalam kehidupannya.
"Akan kucoba," jawabnya dingin dan berlalu dari Matthias. "Tack sa mycket, Matthias."
Matthias menahan bahu Berwald untuk beberapa saat. "Kuberikan bocoran padamu, Beary. Gadis itu sudah semakin cantik dan menawan."
Alis Berwald berkedut. "Apa urusanmu?"
"Akan ada banyak pria-pria tampan yang siap mengejar-ngejarnya tanpa ampun beberapa tahun mendatang dan jelas kau akan kalah saing. Sebelum terlambat, ada baiknya setelah kau bertemu dengan Tiina jangan pernah melepaskannya lagi dan buat ia mencintaimu setengah mati."
Dalam hati, Berwald tersenyum dan setuju dengan Matthias. Ya, memang. Tiina sudah semakin cantik dan lima tahun mendatang pasti kecantikannya akan mekar. Dan ia akan semakin tergila-gila dengan Tiina.
-00-
Atas saran Matthias, ia mulai mencari Tiina di seluruh Swedia dan gadis itu tidak kunjung ditemukan. Menempel selebaran bergambar wajah Tiina di penjuru kota pun tidak ada hasil apapun yang pasti, hanya membuang-buang biaya kertas saja dan untung bagi Berwald, ia belum melakukannya sama sekal. Ia menduga-duga jika Tiina disembunyikan di suatu tempat atau bahkan diselundupkan.
Paling pertama, ia menggeledah rumah Eduard bersaudara yang terletak tidak jauh dari tempatnya sendiri.
Ia pergi ke rumah Eduard dengan sepeda andalannya dan sempat menabrak beberapa vas bunga milik tetangga karena terlalu panik. Begitu sampai di rumah Eduard, Berwald langsung menabrak pintu rumah pemuda itu hingga pintu rusak total. Eduard terkejut melihat tamunya datang dengan penuh kemarahan. Lebih tepatnya, ia terkejut karena Berwald menabrakkan sepedanya ke pintu. Tanpa tedeng aling-aling, Berwald langsung menghampiri Eduard.
"Dimana kau taruh Tiina?" Berwald menggertak Eduard sambil mencari-cari ke segala sudut ruangan rumah. "Katakan padaku. Atau aku akan membunuhmu sekarang juga!"
Eduard gelagapan, seumur hidupnya ia belum pernah digertak seseorang seperti macam Berwald. Berwald benar-benar pria berbahaya jika kehilangan Tiina. Jangan-jangan gosip mengenai kasus "itu" ada benarnya. Buru-buru ia menepis pemikiran itu, sejahat-jahatnya Berwald, seseram-seramnya Berwald, ia tidak mungkin "merusak" anaknya sendiri.
"A—aku sama tidak tahu, Om," Eduard bergumam. "Maafkan aku—tanyakan pada yang lain."
Pria itu menghempaskan Eduard ke tembok dan memberikan pemuda Estonia tersebut sebuah tatapan ancaman yang seumur hidup akan selalu diingatnya. "Kubunuh kau jika ketahuan menyelundupkan Tiina!"
Berwald meninggalkan tempat itu dengan penuh kemarahan dan tanpa hasil, kecewa tidak menemukan Tiina di tempat biasa dan akhirnya ia menendang pintu rumahnya hingga pintu tersebut nyaris jebol di bagian engselnya.
Eduard terdiam sejenak, membeku di tempat. Hari ini nasibnya benar-benar amat buruk hingga tidak bisa mengatakan apapun. "Kurasa aku menimbulkan masalah baru, kak Toris," ucapnya tanpa sadar. "Mungkin tidak?"
"Ha! Jadi kau sama sekali tidak tahu apa-apa," Feliks tiba-tiba nyeletuk. "Tiina kabur dari rumah gara-gara diperkosa oleh pemuda seram itu. Oh salah, om-om pedo."
"Diamlah, Feliks," Toris menyela temannya yang doyan sekali bergosip itu, entah darimana ia muncul. "Tidak baik bergosip seperti itu."
"Serius?" Pemuda Latvia yang sejak tadi menonton perdebatan antara Berwald dan Eduard bertanya dengan hati-hati, takut jika ia sampai salah bicara. "Sepertinya Om itu pria yang amat sangat berbahaya."
Feliks menarik nafas panjang dan menunjukkan wajah sok serius yang sukses membuat Eduard ingin muntah sejadi-jadinya. "Well, tahu sendiri kan. Kalau Berwald Oxenstierna sama Ivan Braginski, bos kalian itu, sama saja. Senang menakuti orang hingga kencing manis. Aku yakin Tiina atau siapapun namanya itu tidak tahan. Jangan-jangan punya darah psikopat si Berwald itu."
"Feliks, sudahlah!" Toris menghardik. "Tidak mungkin seperti itu. Kau terlalu melebih-lebihkan masalah."
"Mau tak mau aku setuju padamu Feliks," jawab Eduard pucat pasi. "Kurasa Om Berwald akan sangat senang melukai wanita, kenyataannya Tiina kabur seperti ini. Pasti Om Berwald sudah memperkosanya habis-habisan hingga gadis itu malu. Tiina memang polos dan incaran para pedo, ya Tuhan. Aku sama sekali tidak berani membayangkannya setiap malam Tiina disiksa oleh Om pedo itu."
"Gadis malang," tambah Toris kesal. "Kurasa mungkin ia tidak tahan begitu melihat wajah kalian yang suka bergosip. Tentu saja!"
Yekaterina Braginskaya baru saja datang ke tempat Eduard bersaudara dan terkejut mendapati tempatnya sudah ricuh. "A—ada apa ini? Apa ada perkelahian lagi?"
"Tidak ada, Miss Braginskaya," jawab Toris dengan nada hormat. "Feliks dan Eduard bergosip seperti gadis puber."
Eduard memukul kepala kakaknya dengan kesal. "Enak saja, ini menyangkut nyawa seseorang di tangan pemerkosa!"
Toris menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Adik tertuanya benar-benar kurang kerjaan dan mempermalukan keluarga orang lain. "Biar kuluruskan, Tiina kabur dari rumah dan tidak ada seorang pun yang tahu dimana ia berada sekarang!"
"Jangan-jangan Tiina dijual oleh pria itu," Feliks ikut menambah-nambahkan. "Mengerikan. Hii—."
Mereka terus saja berdiskusi mengenai hilangnya Tiina dan mencari spekulasi-spekulasi baru mengenai hal itu. Terus hingga berjam-jam lamanya tanpa sadar bahwa seseorang yang mendobrak pintu rumahnya tadi siang mendengarkan seluruh percakapan mereka.
Bagus, dengus Berwald dalam hati. Berkat mereka ia akan dicap sebagai pria pedo, pemerkosa, penjahat dan sebagainya. Berusaha mengenyahkan pikiran tersebut tetapi gagal, lalu ia mampir ke rumah temannya yang lain.
"Miss Vainamoinen?" Arthur bertanya pada Berwald. "Kenapa tanya padaku, ha? Aku sama sekali tidak dekat dengan gadis itu!"
Alfred menatap Berwald dengan tatapan yang berbeda, terlihat seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Ia menutupinya dengan sikap ceria yang biasa ditunjukkan kepada orang lain.
"Kau tahu sesuatu mengenai Miss Vainamoinen?" Arthur mendelik kepadanya.
"Tidak apa-apa," jawab Alfred sekenanya. "Aku cuma berpikir mengapa Tiina bisa sampai kabur dari rumah. Atau jangan-jangan kau melakukan sesuatu yang jahat padanya?"
Arthur mendengus tajam dan menyumpal mulut Alfred dengan scone busuk buatannya. "Bisakah kau diam sejenak terlebih dahulu?"
Semua masalah selalu saja ditimpakan kepadanya. Yah memang tidak bisa disalahkan mengenai hal ini mengingat ialah yang berbuat tetapi mendengarnya dari orang lain sangat tidak enak. Begitu rasanya menjadi pihak yang terluka.
"Tiina kabur dari rumah," ia berkata pelan. "Tidak ada kabar darinya."
Alfred dan Arthur saling beradu pandang. Apakah lebih baik mereka mengatakan apa yang sebenarnya pada Berwald bahwa Tiina berada di suatu tempat yang tidak bisa dijangkaunya? Tapi jika mereka mengatakannya kepada Berwald, sama saja mereka melukai hati Tiina karena mendengar nama Berwald saja, gadis itu sudah merasa muak karenanya hingga ia siap bunuh diri karenanya.
"Jangan-jangan kau—memerkosanya hingga ha—ups," kata Arthur keceplosan dan membuat Berwald menatapnya semakin tajam setajam silet. "Maaf, aku salah bicara padamu. Tak seharusnya aku bicara seperti ini."
Tanpa pamit, Berwald meninggalkan kediaman Arthur dengan penuh rasa kecewa mendalam. Tiina tidak ada di mana-mana dan membuatnya terluka. Dimanakah gerangan Tiina berada sekarang? Apa dia baik-baik saja?
Pelan ia mulai merasakan jika perkataan Arthur ada benarnya juga. Ada kemungkinan Tiina mengandung anaknya karena ia ingat bahwa ia sama sekali tidak menggunakan pengaman ketika berhubungan intim dengan Tiina.
Ah, ia kan hanya melakukan itu dengan Tiina sekali. Kemungkinannya amat sangat kecil tentu saja. Tidak mungkin hanya sekali melakukan hal semacam itu bisa kebobolan kecuali jika—ah tidak seperti itu, bisa saja hal itu terjadi jika Tuhan mengkehendakinya.
Terbayang di ingatannya samar-samar ketika menembus penghalang lembut milik Tiina dan jerit kesakitan gadis itu yang menyayat hati. Membekas di dalam diri Tiina untuk selamanya, tak ada harapan lagi untuk memiliki Tiina seutuhnya. Kalaupun ada kemungkinannya sangat kecil sekali. Itu akan menjadi ketakutan dan penderitaan terbesarnya. Menghabiskan waktu dengan kesendirian tanpa kasih sayang tulus yang Tiina berikan terhadapnya. Ia benar-benar bodoh karena selama ini Tiina mencintainya tetapi dengan kasar ia melukainya dan memperlakukannya sembarangan.
Apapun yang terjadi pada Tiina, ia akan tetap mencintainya. Bahkan jika anak itu ada, Berwald akan tetap menjaganya dengan penuh kasih sayang. Ia turut andil dalam menciptakan anak itu. Tetapi ia sama sekali tidak bisa menikmatinya ketika ia lepas kendali waktu itu.
"Pappa, bolehkah aku jadi istri pappa nanti kalau aku sudah dewasa?" Tiina yang berusia lima tahun saat itu, bertanya pada Berwald.
Pria itu tertegun mendengar perkataan Berwald dan ia tidak habis pikir mengenai ide anak ini, apa yang dipikirkannya. "Mengapa berpikir begitu?"
"Karena aku mencintai pappa Berwald!"
Mau tidak mau Berwald ingin tertawa mendengar perkataan Tiina yang polos. Namanya anak kecil pasti berpikir bahwa suka sedikit pasti dibilang cinta. Lucu memang tapi melihat wajah imut Tiina yang ditujukan kepadanya, Berwald jadi memiliki ide bagus. Pelan ia mencium bibir Tiina yang mungil. Hanya ciuman lembut dan bukan ciuman penuh nafsu seperti pasangan-pasangan pada umumnya.
Tiina tersenyum malu dan pipinya merah padam. "Hehe, kiitos pappa Berwald. Mina rakastan sinua."
Tiba-tiba ia teringat akan satu kotak cincin berlian yang selalu disimpannya selama bertahun-tahun dan dalam hati ia bersumpah bahwa cincin itu akan ia berikan pada Tiina. Jika ia bertemu dengan gadis itu lagi dan menculik Tiina ke altar bersama-sama. Ia berjanji akan hal itu.
Ia tidak akan pernah melukai Tiina lagi seumur hidupnya. Karena wanita dekat di hati untuk dicintai, bukan dilukai.
Tidak akan pernah ia lepaskan Tiina di sembarang tempat dan tidak akan pernah melukainya seumur hidupnya. Gadis itu terlalu berharga untuknya.
.
.
.
Tiina tidak bisa tidur nyenyak di rumah barunya. Hampir setiap hari ia rindu bertemu dengan Berwald tetapi ia tidak sanggup untuk menemuinya, pria itu sudah jelas-jelas marah terhadapnya bahkan ketika Berwald memperkosanya malam itu. Tampaknya Berwald menganggap dirinya memancing pria itu agar menggodanya.
Bukan itu, Berwald tiba-tiba menghampirinya dalam keadaan mabuk total dan saat itulah terjadi hal yang tidak diinginkan. Ia tidak ingat malam itu mengenakan baju apa tetapi ketika terbangun tidak ada sehelai pun benang di tubuhnya.
Ia ingin muntah sekarang jika setiap malam bermimpi tentang perkosaan itu. Ketika ia melakukannya bersama Berwald, tubuhnya serasa terkoyak-koyak begitu dalam. Penghalang di dalamnya dengan mudah ditembus Berwald hingga Tiina kesakitan dan berjalan terpincang-pincang. Seumur hidupnya, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana rasanya bercinta sampai Berwald memaksanya.
Ini sama sekali bukan bercinta melainkan pemaksaan. Sama sekali tidak dirasakan kelembutan dan rasa sayang. Nafsu yang bermain dari dalam diri Berwald seutuhnya. Ia tidak boleh salah membedakannya karena ia tidak menikmatinya dan tidak siap. Ingin meresponnya dengan baik tetapi ia sama sekali tidak bisa. Semua ini terasa asing baginya dan pertama kalinya. Semua serba pertama untuknya.
Menakutkan, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana rasanya selama ini. Jijik ia diciumi dengan penuh nafsu seperti itu, seolah-olah ia adalah benda pemuas nafsu semata. Apa mungkin pria seumuran Berwald memang seperti itu adanya, sama-sama tidak bisa mengontrol nafsunya? Jika itu benar, ia tidak akan berurusan dengan pria semacam itu. Apalagi ia sendiri masih muda dan tidak mengerti apa itu dunia pria pada umumnya. Ya Tuhan, ini jauh lebih menjijikan dari apa yang bisa dibayangkan olehnya. Kini ia tidak berani berdekatan dengan pria yang lebih tua atau lebih tepatnya yang sepantaran Berwald.
Apa semua pria seperti itu jika pada usia tiga puluhan ke empat puluhan? Tidak bisakah mereka mengontrol hasratnya sendiri. Tentu ia tidak tahu banyak karena seumur hidupnya Tiina tidak pernah memiliki banyak kesempatan untuk mengenal bermacam-macam pria dan setiap Tiina ingin dekat dengan semua lelaki manapun, pasti Berwald sudah turun tangan. Entah karena cemburu atau terlalu mencintai Tiina, Berwald melakukannya.
Ironis, Tiina tidak bisa melakukannya. Seberapa pun besarnya usaha Tiina untuk membenci Berwald atau menyingkirkan pria itu dari dalam kehidupannya, ia sama sekali tidak bisa karena ia terlalu mencintai pria itu. Berwald sudah bersamanya sejak gadis itu masih anak-anak dan menjaganya serta membiayai penghidupan Tiina. Ia benci menerima kenyataan bahwa ia jatuh cinta pada pria yang telah merusaknya sedemikian rupa, ingin mengenyahkan perasaan itu tetapi gagal dan membuat Tiina ingin mati karenanya. Mengapa takdir begitu kejam terhadapnya? Dalam keadaan normal, ia tidak akan sudi mencintai pria yang sudah melukai hatinya.
Memulai hidup baru? Sudah nyaris terasa mustahil dan tidak nyata. Ia sudah tersentuh dan tidak ada pria lain yang menginginkannya sekarang. Pria-pria akan menganggapnya sebagai wanita murahan yang mau tidur dengan siapa saja.
"Hiks—moi, aku tidak mau lagi—hentikan, kumohon! Aku—tidak ingin seperti ini."
Untuk sekali ini, Tiina menangis meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan permen. Ia sudah patah hati karena Berwald. Peduli amat jika keluarga yang ia tumpangi terbangun karena ulahnya. Ingin rasanya ia membunuh Berwald hidup-hidup.
Semua gara-gara pria itu, pria kasar dan tidak berperasaan. Bajingan lebih tepatnya.
TBC
A/N Thanks buat reviewan di chapter sebelumnya. Memang saya edit total semuanya dan sepertinya tebakan salah satu reviewan benar XD saya memang sudah lama di FFN aslinya. Dari 2010 dan silahkan cari tahu siapa aku.
