Be My Sweet Darling

APH ©Hidekaz Himaruya

Sweden x fem!Finland

Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).

Note: Alison (nyo-amerika) and Madeline (nyo-canada)

.

.

.

"Tiina! Sang HERO sudah selesai mempersiapkan makan malam!" seru Alfred ceria dari ruang tamunya. "Ayo cepat keluar!"

Tiina terbangun dengan setengah hati dan malas-malasan. Sebenarnya ia ingin tidur lebih lama lagi tetapi tetap saja, ia harus bangun lebih awal agar keluarga yang ditumpanginya tidak menaruh curiga terhadapnya walaupun ia jarang keluar belakangan ini.

Ia memandangi wajahnya sendiri di cermin dan wajahnya terlihat lusuh dan lemah seperti kekurangan nutrisi. Matanya bengkak seperti digigit semut. Terlihat bukan seperti Tiina yang dulu. Tiina yang dulu adalah Tiina yang ceria dan tanpa beban serta Tiina yang optimis tetapi kini itu hanya kenangan belaka saja tanpa hasil. Kenangan yang sudah tergores oleh pisau tajam yang mampu merusak segala sesuatunya dengan sempurna.

Setiap hari dan setiap saat, ia terbangun di pagi-pagi buta. Bermimpi buruk mengenai Berwald tiada henti. Mimpi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Terlalu mengerikan untuk diucapkan. Begitu ia terbangun, ia selalu menangis seperti anak kecil. Hampir setiap hari, air mata mengalir deras di wajahnya.

"Tidak—kumohon jangan lakukan itu, Ber!" Tiina memekik tanpa sadar. "Aku tidak mau melihatnya!"

Berwald adalah mimpi indah sekaligus mimpi buruk bagi Tiina. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan hal semacam ini. Rasa trauma yang begitu dalam dan tidak bisa dibayangkan oleh gadis seumurannya. Memikirkan hal itu saja cukup mengerikan.

"Tiina! Kau baik-baik saja?" Alfred memanggil Tiina sekali lagi. "Atau perlu Alison yang pergi ke kamarmu?"

Buru-buru Tiina membersihkan wajahnya sendiri dan segera keluar dari kamarnya walau matanya masih bengkak. Ia tahu, ia tidak akan bisa lama-lama tinggal di kediaman Alfred dan Alison. Ia juga tahu, suatu saat ia harus memberitahu apa alasannya mengapa ia meninggalkan rumah Berwald. Ya,ia tahu ini keputusan yang amat sangat keliru. Tak seharusnya ia kabur dari rumah seperti ini, ia bisa menyelesaikan hal ini baik-baik.

Alfred dan Alison sangat baik menurut Tiina, mau menampung Tiina dalam jangka waktu yang lama. Walaupun mereka berdua adalah maniak hamburger yang cukup mengesalkan tetapi Tiina merasakan ada sesuatu yang hangat di dalam hatinya.

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih merindukan Berwald seperti dulu. Tinggal bersamanya tanpa ada masalah semacam ini. Pria itu memang terlalu banyak kekurangan yang menyakiti Tiina, sayangnya Tiina tidak bisa melupakannya apalagi berhenti mencintainya.

Setiap memikirkan ayah tirinya, jantung Tiina berpacu cepat hingga ingin lepas begitu saja. Semua terasa berbeda, membuatnya mabuk di dalamnya hingga tidak bisa dikendalikan lebih dalam lagi.

Pria itu adalah racun dari dalam kehidupannya. Racun sekaligus madu yang merasuki dalam tubuh Tiina. Madu karena ia memberikan Tiina suatu gairah cinta yang dirasakan Tiina, racun karena membunuh Tiina secara perlahan-lahan hingga membutakan seluruh saraf tubuhnya. Bukan penyiksaan secara fisik saja, melainkan secara mental.

Tapi, ia tidak yakin bahwa ia bisa menyelesaikan hal ini dengan baik. Sama sekali tidak yakin ia bisa melakukannya. Tiina sudah terlanjur terluka akan perlakuan Berwald beberapa minggu yang lalu. Andai kata pria itu menyesal, itu semua sudah tidak mengubah apapun karena Tiina harus menanggung malu seumur hidupnya.

"Aku membencimu, Ber," ucapnya dingin. "Aku membencimu teramat sangat."

Ia tahu bahwa sampai kapanpun, Berwald tidak akan membalas cintanya. Pria itu tidak pernah menunjukkan ketertarikan kepadanya sedikitpun. Tiina hanyalah bunga kecil yang rapuh tanpa ada orang yang peduli padanya dan ia hanyalah benda yang pantas untuk diinjak-injak sesuka hati.

Dengan langkah pelan ia keluar dari kamar tidurnya. Ia tidak peduli jika keluarga Jones terkejut melihat penampilan Tiina yang seperti ini. Tubuhnya terlalu lemah untuk berpikir bahwa Berwald mungkin mencarinya sekarang. Bagi Tiina, Berwald merupakan pria brengsek dan pria pedo. Berwald merusak segala yang ada di dalam diri Tiina. Mulai dari hatinya, miliknya yang berharga, kehidupannya, cintanya serta kebahagiannya yang mendalam semua itu direnggut begitu saja tanpa ada persiapan sedikitpun.

"Tiina," Alison memanggil. "Kamu sama sekali tidak apa-apa?"

Tiina memegangi perutnya yang datar dan berlari ke kamar mandi. Sesampainya ia di kamar mandi. Tiina segera memuntahkan makanan yang ada di dalam tubuhnya. Aneh sekali, belakangan ini ia sama sekali sulit makan dan sering kali harus dipaksa terlebih dahulu agar ia dapat makan tetapi semua makanan yang dimakannya selalu saja dimuntahkan.

"A—ah, ini sama sekali tidak mungkin—ini pasti bercanda kan," Tiina bergumam lirih dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam wastafel. "Ini baru satu bulan kan—tidak—ini mustahil sama sekali."

Sejak perbuatan Berwald terhadapnya, ia sudah merasakan ada sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya sendiri. Sesuatu yang bisa dibilang menggelikan sekaligus mengerikan. Ia baru saja berusia enam belas tahun dan ia—

Ya ampun, Tiina berharap itu semua hanyalah mimpi belaka. Mungkin ia hanya bermimpi buruk seperti biasanya.

Tidak, ini benar-benar terjadi. Jika ia hanya bermimpi buruk, mengapa ia membeli alat tes kehamilan terbaik beberapa jam yang lalu. Mengapa sejak pagi ia merasakan apa yang disebut morning sick dan ini sudah kesekian kalinya dalam satu minggu belakangan ini.

Gemetar, Tiina membuka pembungkus alat tes itu pelan-pelan dan mencobanya. Dengan penuh harapan Tiina berdoa agar ia tidak apa-apa.

"Ya Tuhan—jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diingkan," Tiina berucap sambil menutup mata.

Beberapa menit lamanya Tiina menutup mata. Jika sesuatu yang buruk terjadi, ia siap menanggung segala resiko yang ada. Mungkin menjadi ibu muda tanpa suami dengan kehidupan yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Mata Tiina terbuka dan ia memandang benda panjang tersebut. Ia hanya bisa tersenyum miris menutupi rasa sedihnya yang paling mendalam. Dua garis berwarna merah—ia sudah tahu apa hasilnya. Tidak mungkin alat semacam itu berbohong kepadanya.

Ia membayangkan bagaimana jika dia lahir ke dunia dan tidak mengenal siapa ayahnya. Membayangkan pria itu sama sekali tidak mencintainya saja membuat dunia Tiina serasa gelap. Apalagi ditambah anak yang tidak diinginkannya hadir di dalam kehidupannya.

"Ber—wald—."

Hanya kata-kata yang seperti itulah yang selalu keluar dari bibirnya di dalam kesunyiannya. Perlahan ia menutup matanya dan jatuh pingsan.

"Tiina, kau sudah sadar?"

Mata Tiina perlahan terbuka dan samar-samar ia melihat dua orang kakak beradik yang berasal dari Amerika, Alison dan Madeline. Menatap ke sekelilingnya mengapa sekarang ia sudah berada di tempat tidur. Dalam ingatannya, ia tadi jatuh pingsan di dalam kamar mandi entah karena apa. Sama sekali tidak bisa diingatnya secara jelas.

"Moi," Tiina mendesah. "Mengapa aku ada di sini sekarang?"

Gadis yang bernama Alison tersebut menatap Tiina dengan tatapan prihatin. Kedua tangannya menggengam salah satu tangan Tiina dalam keadaan cemas. "Aku tahu ini berat untukmu—tapi ada sesuatu yang aku ingin tanyakan kepadamu. Boleh?"

"Tanyakan saja apapun, moi," Tiina menjawab pelan. "Aku sama sekali tidak apa-apa. Sungguh."

Alison dan Madeline beradu pandang satu sama lainnya. Haruskah ia mengatakan yang sesungguhnya pada Tiina. Mengenai suatu kebenaran yang disembunyikan oleh mereka semua.

"Sebenarnya tadi aku menemukan benda ini," tambah Alison menunjukkan alat tes kehamilan milik Tiina. "Apa ini milikmu?"

Tiina merah padam dan marah ketika Alison memegang benda tersebut. "Buang benda itu kemana saja. Jangan pernah tunjukkan benda itu padaku lagi!"

"Tiina, tapi—"

Tiina meraung-raung seperti anak kecil. "Nggak! Hentikan, jangan lukai aku! Ber,kumohon hentikan!"

"Tiina, tenanglah!" seru Alison memegangi bahu Tiina. "Semua akan baik-baik saja. Aku mengerti, biar aku yang bicara pada Berwald itu. Pria itu harus diberi pelajaran jika tahu keadaanmu yang seperti ini."

Jantung Tiina bergemuruh mendengar nama Berwald disebut-sebut. Setiap orang menyebut nama pria itu, Tiina pasti merasa malu atas kelakuannya sendiri. Malu ia pernah memiliki perasaan cinta terhadap pria yang lebih cocok menjadi ayahnya tersebut sekaligus ia seperti orang yang tidak punya harapan lagi.

"Aku mencoba untuk tenang, moi," Tiina terisak-isak pelan. "Benda itu bukan milikku—itu milik orang lain."

Alison tahu Tiina berbohong mengenai keadaannya. Tidak mungkin jika benda semacam itu milik orang lain kecuali Tiina sendiri karena Tiina yang memegangnya. Mereka tidak pernah membeli benda-benda semacam itu.

"Jika bukan milikmu, mengapa tadi kamu semarah itu?"

Tiina mencoba untuk mengeluarkan bantahan yang ada tetapi tidak bisa. Mulutnya seolah-olah terkunci begitu dalam di dalam rongganya. Antara rasa malu dan jijik mendalam. Ketakutan mendalam menjadi alasan terbesar penghalangnya.

"Jangan sebut nama pria itu di depanku lagi," Tiina mengancam dan memberikan Alison tatapan berbahaya. "Dia bukan siapa-siapaku dan pria itu hanyalah benalu dari dalam hidupku."

Mulanya Alison sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Tiina dan sibuk dalam pikirannya sendiri. Tetapi karena Tiina sudah berkat seperti itu, mau tidak mau Tiina menjadi penasaran dan menebak-nebak apa yang terjadi pada Tiina maupun Berwald. Tidak mungkin pria semacam Berwald tega berbuat jahat kepada anak tirinya apalagi Tiina adalah gadis yang paling disayanginya seumur hidup Berwald. Rasanya lucu membayangkan Berwald berlaku kasar terhadap Tiina. Bisa dibilang aneh.

"Ayah bayimu itu Berwald?"

Tiina tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan dengan lemah. Tak perlu ia berucap kata-kata, biarlah Alison sendiri yang menebak.

.

.

.

Berwald sudah lelah secara fisik dan batin, ia sama sekali tidak bisa menemukan di mana Tiina sekarang. Ia sudah memanggil interpol di beberapa negara tetapi itu tidak menghasilkan apapun yang berarti karena Tiina sama sekali tidak berhasil ditemukan.

"Tidak ditemukan lagi?" tanya Berwald dingin sambil menghisap rokoknya. "Tidak ada cara lain lagi?"

Interpol tersebut bergidik."Maaf, saya sama sekali tidak bisa menemukan gadis itu. Sudah dicari dimanapun, ia sama sekali tidak ada. Informasi yang didapat mengenai gadis itu sama sekali kabur."

Berwald mendelik kepadanya dan mengambil satu batang rokok lagi. "Kabur? Maksudmu?"

"Maaf, kami sedang berusaha mencari bukti baru lagi. Bisakah Anda menunggu sedikit lebih lama lagi karena mencari seseorang yang kita tidak ketahui memerlukan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya."

"Aku tidak peduli tentang hal itu sedikitpun," Berwald menggeram dan menarik baju sang interpol tersebut. "Diamlah atau kau kubunuh di tempat!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, yang bersangkutan tersebut langsung melepaskan diri dari Berwald dan segera kabur dari tempat itu sebelum kemarahan Berwald ditujukan padanya. Dalam hati ia merasa ngeri harus bekerja sama dengan Berwald karena diam-diam ia tahu mengenai keberadaan Tiina. Ia diperintahkan oleh seseorang untuk menyembunyikan keberadaan Tiina.

Suatu saat ia akan memberitahu Berwald dimana Tiina sekarang. Karena saat-saat seperti ini sangat berbahaya untuknya.

TBC


CHAPTER 4 (sneak peek XD)

Tiina—benarkah itu Tiina? Tiina yang selama ini dirindukannya ternyata ada sedekat ini. Selama ini, Tiina berada di negara ini dan ia sering sekali dinas di tempat ini. Mengapa ia tidak berpikir sebelumnya bahwa Tiina suatu saat bisa berada di tempat ini.

Gadis yang ditabraknya ini dan ia tinggalkan di tengah jalan adalah orang yang dicintainya. Dokter mengatakan bahwa gadis ini keguguran. Apa ia tidak salah dengar sekarang?

Ya Tuhan—keguguran? Dokter itu tidak sedang bercanda, kan? Ia membunuh darah dagingnya sendiri, kalau begitu.

"Tiina—jag ar ledsenJa—"

(cukup sampai di sini saja XD ntar jadi spoiler)

Maaf banget sudah lama saya jarang apdet ini fic. Bukan karena malas tapi idenya mampet bener dan lebih pendek dari biasanya, tapi saya usahakan untuk lebih panjang dari fic saya yang lama itu. Doakan saja supaya saya nggak kena WB aneh-aneh. Takutnya gimana gitu 0_0; settingan ceritanya saya ubah total jadi maaf jika ada salah. Please concrit and review but no flames.

Adakah yang keberatan jika Berwald saya jadikan perokok? Soalnya sering lihat fan-art dimana kalau Berwald suka merokok (di pixiv banyak banget kalau nggak salah _)