Be My Sweet Darling
APH ©Hidekaz Himaruya
Sweden x fem!Finland
Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).
Note: Alison (nyo-amerika) and Madeline (nyo-canada)
.
.
.
"Alison! Madeline!" seru Tiina riang. "Mau bermain hoki es bersama-sama! Aku tahu tempat bagus dimana kita bisa bermain hoki es dengan harga murah!"
Madeline dan Alison tertawa kecil melihat tingkah Tiina yang seperti ini. Beberapa waktu belakangan ini terlalu banyak kejadian yang mengguncang hati Tiina dan membuat Tiina nelangsa. Mungkin gadis itu juga capek untuk sedih berlarut-larut dan mungkin ia berusaha untuk hidup baru.
Walaupun mungkin, Tiina tidak bisa sepenuhnya melupakan Berwald. Butuh waktu untuk bisa menyembuhkan luka hatinya serta derita yang Tiina tanggung akibat perbuatan Berwald. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tentu saja.
"AYO!" Alison membalas seruan Tiina. "Ajak kakakku Alfred dan kita bertanding siapa yang paling kuat! "
Madeline tersenyum. "Jangan lupa mengenai pertandingan Vancouver Olympics, tentu saja. Tentu aku akan mengalahkan kalian!"
"ENAK SAJA!" balas Alison. "Ayo seret Alfred dan suruh ia bertanding dengan kami!"
Alison, Alfred dan Madeline memang akrab, pikir Tiina sedih. Sejak ia kecil, ia tidak pernah merasakan bagaimana memiliki orang tua yang lengkap. Bahkan ia tidak ingat bagaimana wajah orang tuanya dan yang ia ingat ayahnya hanya Berwald. Tetapi itu hanya ayah tiri semata tanpa adanya pertalian darah yang mengikat. Ia mencintai Berwald dan rela menyerahkan segalanya untuk pria itu, tetapi Berwald tidak mungkin membalas cintanya karena ia hanyalah anak kecil yang bau kencur dan alat pemuas nafsunya.
Mengapa ia memikirkan pria itu lagi, sih. Lupakan Berwald dan jangan pernah pikirkan dia. Buang pikiran itu jauh-jauh. Jangan sampai anak itu tahu bahwa ayahnya adalah pria tidak bertanggung jawab yang suka memperkosa anak kecil sepertinya.
"Tiina? Ada apa lagi?"
Pertanyaan Alison membuyarkan lamunan Tiina untuk ke sekian kalinya. "Aku tidak memikirkan apa-apa. Sungguh, aku benar-benar tidak apa-apa."
Madeline tersenyum dan menenangkan Tiina. "Sudahlah! Masa trisemester memang berat baginya. Aku yakin Tiina bisa menghadapinya hingga anak itu lahir."
"Makan hamburger banyak-banyak supaya bayimu sehat!" usul Alison riang seperti anak kecil dan memeluk Tiina erat seolah-olah Tiina adalah boneka beruang yang bisa seenaknya ia peluk-peluk. "Supaya anakmu jadi hero ternama sepertiku! Ya kan! Aku benar kan! Aku tidak mungkin salah!"
"Kalau anakku diberi makanan seperti itu, nanti malah jadi obesitas dong," jawab Tiina polos dan mencubit pipi Alison pelan. "Sebagai perempuan seharusnya Alison juga jangan makan seperti itu terlalu sering, moi! Cantik-cantik kok suka makan makanan seperti itu."
Alison cemberut begitu Tiina berkata seperti itu. "Enak saja! Sebaiknya kau diam sebelum aku menyanyikan lagu HERO!"
"Lagu tidak jelas," sela seseorang di belakangnya. "Aku yakin Miss Vainamoinen langsung sakit perut, git!"
Alison menoleh ke belakang dan Arthur berdiri di belakangnya. Seperti biasa, Arthur memang selalu sinis terhadapnya. Baik terhadap Alfred dan Alison. "Hei, punk! Kok tidak bilang-bilang kalau kamu ke sini?"
"Perlukah aku mengatakan padamu," jawab Arthur dengan wajah memerah. "Terima kasih atas saranmu, git! Aku hanya ingin mencari kakakmu, Alfred hamburger git itu karena aku ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
—00—
"Jadi, perlukah aku bicara pada Mr. Oxenstierna mengenai keberadaan Miss Vainamoinen di sini?" tanya Arthur dengan wajah serius. "Syukurlah ia tidak apa-apa, jika dilihat keadaannya."
Alfred dan Francis terdiam. Bukan saatnya mereka bercanda-canda seperti biasa jika menyangkut masalah serius seperti ini. Terutama Alfred, di sisi lain ia merasa seperti hero yang gagal untuk menolong orang lain, lebih tepatnya mengkhianati kepercayaan keduanya. Ia berjanji pada Tiina untuk melindungi Tiina dari Berwald yang mengejarnya tetapi di sisi lain ia merasa kasihan pada Berwald yang telah mencari-cari Tiina hampir satu bulan. Bahkan Berwald sudah menyewa interpol untuk mencari tahu keberadaan Tiina dan tentu saja sebelum itu Alfred mencuci otak sang interpol itu agar memberikan informasi yang salah pada Berwald.
Tetapi sekarang Alfred menyesali perbuatannya setelah melihat perjuangan Berwald dalam mencari Tiina. Berwald begitu mencintai Tiina hingga rela menghabiskan uangnya hanya demi Tiina. Segala tindakan yang berlebihan tersebut tidak pernah ia lihat dari dalam diri Berwald. Semua terasa baru dan asing bagi Berwald.
Memberitahu Berwald? Itu akan mengkhianati kepercayaan Tiina terhadapnya. Tetapi ia merasa janggal mengenai hal ini. Mungkinkah ini semua yang terjadi di antara Berwald dan Tiina adalah kesalahpahaman semata yang tidak bisa dijelaskan olehnya.
Memang penyebab kaburnya Tiina dari rumah Berwald karena perkosaan yang dilakukan pria itu, Tiina sudah mengatakannya melalui Alison. Tetapi Berwald mencarinya dan tidak mengabaikan Tiina mengenai hal ini. Bukankah Berwald bertanggung jawab terhadapnya? Logikanya adalah jika pria telah memperkosa seorang wanita, pasti sang pria kabur begitu saja. Tetapi ini berbeda, pria itu mencarinya dan berniat bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
"Biarkan aku berpikir dulu," jawab Alfred serius. "Jujur, aku ingin segera terbebas dari masalah ini. Lebih baik kita putuskan mana yang terbaik untuk mereka berdua."
—00—
Sejak Tiina tahu bahwa ada nyawa kedua di dalam tubuhnya, ia tahu bahwa ia tidak boleh lama-lama bersedih karena itu sama sekali tidak bermanfaat untuknya. Jika ia terus bersedih, anaknya akan sedih karena bayi di kandungan bisa merasakan bagaimana sang ibu sedih. Mengenai aborsi, Tiina tidak pernah memikirkan hal itu dan ia akan tetap merawat sang anak tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan karena mereka tidak berhak untuk mengatakan hal yang aneh-aneh mengenai Tiina.
Jika anaknya lahir, Tiina tidak berharap banyak apakah wajah anaknya mirip dengan ayahnya atau ibunya. Harapan Tiina adalah agar ia adalah anak perempuan dan jangan sampai anak itu mirip dengan Berwald. Tiina ingin melupakan pria itu seumur hidupnya dan tidak ingin Berwald tahu mengenai bayinya. Hanya mengingat hal itu saja, hati Tiina begitu pedih dan terluka.
Ia terpaksa putus sekolah karena bayi yang dikandungnya karena sekolah tidak menerima gadis yang sedang berbadan dua.
"Ehehe," Tiina tersenyum pelan pada bayi di kandungannya. "Mama ingin melihatmu tumbuh besar dan mama sayang padamu. Jadi, tetap berada di sisi mama untuk selamanya."
Selesai mengatakan hal itu, air mata Tiina mengalir deras. Sedih bahwa mengingat fakta anaknya akan lahir tanpa ayah dan tidak ada pengakuan. Ia tidak sanggup membayangkan jika suatu saat anaknya bertanya siapa ayahnya dan mengapa ia tidak mempunyai ayah. Apa yang harus ia jawab jika itu terjadi padanya? Benar-benar menyedihkan.
Seandainya hal ini tidak terjadi, tentu ia tidak membuat anaknya menderita seperti ini.
Ia tidak ingin membuat anaknya terluka dan sadar bahwa sang ayah tidak menginginkannya hidup.
"M—moi, hiks. Maafkan mama," ucapnya tertahan dan memeluk tubuhnya sendiri. "Maafkan mama—mama tidak bisa, hiks."
.
.
.
Berwald kembali ke Stockholm setelah dari dinas antar negara. Rapat yang ia lakukan tadi benar-benar membosankan sekali. Lebih tepatnya adalah sesuatu yang tidak berguna alias kurang kerjaan. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Tiina sedikitpun ditambah ia mencurigai Alfred dan Arthur yang sepertinya mengetahui dimana Tiina berada.
Kembali ke Stockholm, ia minum-minum di bar dan sudah menjadi kesehariannya sejak kepergian Tiina dari sisinya. Dengan cara itulah, ia bisa selalu mengingat Tiina di dalam hatinya sekarang. Menganggap Tiina selalu ada di dalam sanubarinya yang paling dalam.
Tiina adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya, cinta yang tidak akan pernah padam. Ia mungkin adalah pedo. Mungkin ia adalah penjahat cinta karena ia menghancurkan rasa cinta yang dimiliki Tiina dengan memperkosa gadis itu. Berwald mencintai segala yang dimiliki Tiina, kekurangan dan kelebihannya. Semua terasa menarik baginya dan ia merasa nyaman setiap Tiina berada di sisinya setiap saat. Terlalu banyak ia melukai hati Tiina.
Tiina selalu hadir di dalam mimpinya, memberikan belaian yang manis untuknya. Senyuman Tiina adalah nafas baginya, api yang selalu membara di setiap waktu. Tiina membuatnya mabuk di dalam cinta ini. Gadis yang masih polos dan kepolosan Tiina membuat Berwald ingin menjaganya dari orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak hal yang harus ia benahi sebelum ia melangkah lebih lanjut.
Kepalanya begitu berat dan tanpa sadar ia sudah menenggak lima botol vodka ukuran besar. Wajah tampannya sudah terlihat lebih tua sepuluh tahun dan kumisnya mulai tumbuh lebat tidak teratur. Orang bisa mengira Berwald adalah pria mabuk yang baru saja disita harta bendanya.
"Hentikan, Beary!" sergah Matthias marah dan membawa Berwald ke dalam mobil terdekat. "Jangan berbuat hal gila seperti ini! Ini tidak akan menyelesaikan masalah apapun dan hanya kekosongan yang akan kau dapat jika berbuat semacam ini!"
Berwald bergeming mendengar perkataan Matthias. Ia sulit mencernanya karena alkohol sudah menguasai hidupnya secara total. Yang ia inginkan adalah menonjok wajah Matthias hingga pria itu babak belur. Sial, bisakah Matthias menjauhinya untuk sementara waktu. Ia tidak butuh uluran tangan orang lain karena itu membuatnya muak teramat sangat. Sial, lebih baik ia pergi jauh-jauh. Biarkan ia menanggung penderitaan itu sendiri.
Tiina sudah benar-benar merusak hidupnya. Akibat kehilangannya.
"Tiina, cintai aku," racau Berwald lemah. "Aku mencintaimu."
Matthias tidak berani berkomentar banyak mengenai hal itu. Semua kata-katanya tidak dapat ia ucapkan lagi melihat Berwald yang seperti ini. Berwald yang dulu bisa membunuh orang lain hanya dengan tatapan mautnya sekarang terkulai lemah hanya karena seorang gadis kecil ingusan yang ternyata pria itu mencintainya setengah mati.
Tiina benar-benar gadis polos yang hebat, sebab ia berhasil membuat Berwald menjadi seperti pria gila seperti ini. Jika seandainya Tiina tahu bagaimana Berwald bersikap setelah kehilangan Tiina. Kalau dipikir-pikir, Tiina kabur dari rumah dan apa mungkin Tiina mencintai Berwald tetapi ada sesuatu yang dilakukan Berwald terhadapnya hingga membuat gadis itu terluka dan patah hati.
"Aku akan menemukanmu dan menjadikanmu milikku," Berwald berkata dengan nada kasar hingga pada akhirnya Berwald pingsan karena tidak bisa menahan alkohol yang begitu tinggi.
Matthias hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Berwald yang seperti anak kecil. Dasar pria bodoh, maki Matthias dalam hati.
.
.
.
Keesokan harinya, Berwald sudah sampai di rumahnya dalam keadaan berantakan. Ia terkejut dan tidak ingat dengan apa yang sudah dilakukannya semalam. Sepertinya ia sudah melakukan hal yang aneh-aneh.
"Tiina," ucapnya lemah dan terbangun dari tempat tidurnya. "Apa kamu disini?"
Tidak ada jawaban tentu saja, hening dan hampa. Berwald hanya bisa kecewa bahwa ternyata Tiina kembali dan itu hanya mimpi manisnya saja. Ia kembali ke kenyataan dan realita menyedihkan.
Menyakitkan dan ia benar-benar tidak berguna.
Setiap pagi, nama Tiina selalu terucap dari bibirnya tiada henti seolah-olah Tiina masih ada di tempat ini. Menengok ke samping dan melihat foto pigura yang bergambar foto Tiina dari berbagai usia. Mulai dari Tiina masih bayi hingga remaja. Tidak pernah berubah seperti dulu, tetap cantik dan menawan. Manis dan menggoda yang membuat Berwald ingin memanjakannya lebih dalam lagi.
Tiina, sekarang ia ada dimana? Apakah Tiina tahu jika Berwald merindukan gadis itu berada di sisinya?
Ia merindukan Tiina teramat dalam, ingin memeluknya dengan erat dan mengatakan maaf kepada gadis itu. Mungkin sudah terlambat untuknya.
KRIING.. KRIING..
Telepon berbunyi di ruang tamu dan membuyarkan pikirannya. Berwald menggerutu dalam hati. Siapa yang menelpon di pagi-pagi buta seperti ini. Benar-benar kurang kerjaan!
Dengan malas Berwald mengangkat telepon dan berharap bukan telepon iseng seperti beberapa hari lalu. "Halo!"
"Selamat pagi, maaf mengganggu. Apa dengan Berwald Oxenstierna di sini?"
Berwald mendengus kesal. "Ya, dengan saya di sini. Ada apa?" tanyanya kesal dengan nada yang jelas, tidak seperti biasanya.
"Saya Alfred F. Jones. Saya ingin memberitahu bahwa aku sudah menemukan Tiina Vainamoinen," jawabnya hati-hati. "Maaf aku baru menelponmu sekarang."
Tiina sudah ditemukan. Jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dan hatinya menari-nari riang. "Benarkah? Ada di mana ia sekarang?"
"Datanglah ke tempatku nanti dan aku akan menunggumu di bandara Los Angeles."
KLEK.. telepon ditutup. Ya Tuhan, apa ia sedang bermimpi. Ia akan bertemu dengan Tiina-nya. Tiina yang selalu ia cintai sampai kapanpun. Buru-buru ia segera pergi ke bandara terdekat dan memesan tiket menuju Los Angeles. Ia harus bisa bertemu Tiina-nya sesampai di sana. Jika ia sudah bertemu dengan Tiina, ia akan memeluknya dan menciumnya serta membawa gadis itu berada di dalam dekapannya. Sekali lagi, Berwald berharap agar Tiina memaafkan perbuatannya di masa lalu.
.
.
.
Sesampainya di bandara Los Angeles, ia sudah disambut oleh keluarga Jones yang terdiri dari Alison, Madeline serta Alfred sendiri. Alfred tampaknya sudah mati kutu ketika ia ditatap oleh Berwald dengan tatapan mengerikan seolah-olah Berwald ingin berkata. "Mana Tiina sekarang?"
"Se—selamat datang, Mr. Oxenstierna," sapa Alfred gemetaran. "Maaf telah menganggu A—anda—dan selamat datang di Los Angeles. Kota penuh pesona."
Berwald tidak mendengarkan Alfred sedikitpun dan bersikap cuek karena ia hanya memikirkan satu orang wanita saja yaitu Tiina Vainamoinen. Calon istrinya di masa depan. Ia berpikir bagaimana rupa Tiina sekarang, apakah ia bertambah cantik dan manis?
"Yeah," jawab Berwald asal. "Dan dimana Tiina sekarang?"
"Tiina sedang berada di rumah sekarang bersamaku dan kurasa ia baik-baik saja," jawab Alison dengan nada sok seperti biasanya.
Syukurlah, Tiina tidak apa-apa sekarang. Gadis itu baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun dan itu membuat Berwald sedikit lega dan rasa bersalah yang di alami Berwald berkurang. Tetapi, jika akhirnya mereka bertemu apakah keadaan akan berubah seperti semula. Apa Tiina akan tetap bersikap ramah terhadapnya seperti dulu?
—00—
Tiina tidak tahu bahwa Alfred telah memanggil Berwald ke tempat ini dan ia masih sibuk membaca katalog ibu dan anak serta memikirkan apa yang akan dibeli untuk calon anaknya nanti. Ia belum tahu apakah anaknya tersebut laki-laki atau perempuan.
Usia kandungannya sudah ada dua bulan dan ia bisa merasakan bayinya menendang-nendang perutnya. Itu membuat Tiina tersenyum dan merasa bahagia karena anaknya membutuhkan Tiina.
"Mama sayang sama kamu," ucap Tiina lembut dan mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Bosan di rumah ya? Ayo kita jalan-jalan."
Bayi yang ada di kandungannya tidak membalas jawaban Tiina tetapi ia menendang perut Tiina dengan kencang hingga Tiina meringis kesakitan, tetapi Tiina merasa bahagia dengan kehadiran anaknya tersebut sekalipun sebenarnya adanya anak itu sama sekali tidak direncanakan olehnya.
Tiina ingin melihat bayinya tumbuh besar dan sehat. Riang gembira dan penuh kebahagiaan. Cantik dan menawan serta bertemu dengan pria yang rela mencintainya sepenuh hati. Tidak seperti dirinya..
Ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama seperti dirinya.. Jangan sampai hal semacam itu terjadi pada anaknya. Ia tidak akan pernah membiarkannya sampai kapanpun juga.
Langkah demi langkah ia berjalan menuju ke taman terdekat dan ia berniat untuk beristirahat mencari kenyamanan. Di negara tempat ia tinggal, banyak tempat-tempat dimana ia bisa menghirup udara segar. Tidak seperti di Amerika, dimana banyak polusi tersebar dan jalanan macet.
"Aah, aku rindu Helsinki," Tiina bergumam pelan dan menatap matahari. "Di sana begitu indah dan senang."
Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dengan erat. Tiina terkejut dan ia tidak berani mendongak ke belakang.
"LEPASKAN AKU!" Tiina menjerit dan meronta-ronta kencang dan menendang-nendang. "Aku akan teriak jika Anda melakukannya, moi!"
"Kau tidak akan pernah bisa melakukannya," desis pria itu kejam dan memeluk Tiina dengan erat hingga gadis itu kehabisan nafas. "Kau milikku sampai kapanpun juga!"
Pelukan itu seperti pernah dikenal Tiina. Wangi tubuhnya serta bentuk tubuhnya, Tiina pernah menciumnya. Suara pria itu, Tiina pernah mendengarnya. Lebih tepatnya, ia selalu mendengarnya dulu.
Dengan penuh rasa takut mendalam, ia membalikkan badannya dan menatap pria yang sejak tadi memeluknya. "Berwald?" Tiina bertanya lemah. "Mengapa Anda di sini?"
Dia memang Berwald yang selalu dikenal Tiina tetapi Berwald jauh lebih tua dari usianya dan ia lebih acak-acakan dibandingkan terakhir mereka bertemu. Dan Berwald terlihat seperti tidak terurus sekarang, wajah tampannya kini terlihat kusut, kumis tipis tumbuh tidak terawat.
"Tiina. Aku disini. Mencarimu," Berwakd berkata lembut dan mencium bibir Tiina setengah memaksa.
Tiina ketakutan dan tanpa sadar ia melepaskan ciuman Berwald itu dengan kasar. Ia mundur dari hadapan Berwald dan kembali teringat dengan malam menjijikan itu. Bayang-bayang mengenai kejadian itu kembali menghantuinya.
"NGGAK! MENJAUH DARIKU!" Tiina menjerit, traumanya dua bulan lalu kembali muncul begitu saja. "JANGAN MEMPERKOSAKU. HENTIKAN ITU SEMUA!"
"Tiina," Berwald memegangi kedua bahu Tiina. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu!"
"LEPASKAN AKU! PERGI DAN ENYAH DARIKU! AKU BENCI PADAMU!" Tiina meraung dan berlari meninggalkan Berwald tanpa pikir panjang.
Dada Tiina bergemuruh, bagaimana bisa Berwald sampai ke tempat ini. Siapa yang memberitahunya soal ini? Tidak ada yang menyuruhnya datang ke sini? Mimpi buruknya terjadi begitu saja tanpa adanya peringatan sedikitpun. Bertemu dengan Berwald sekali lagi dalam keadaan seperti ini merupakan pengingat bagi Tiina akan perkosaan yang dialaminya. Jeritan kesakitan Tiina ketika bersama Berwald, tangisan dan semua luka hatinya. Pria itu mengoyak-ngoyak jiwanya, tubuhnya dan ia bagaikan singa jantan yang memangsa domba betina.
Berwald mengejar Tiina secepat yang ia bisa. Untuk terakhir kalinya, ia tidak ingin kehilangan Tiina lagi. Ia ingin memiliki Tiina, merasakan Tiina dalam dekapannya, merasakan kulit lembutnya dan cintanya. Berharap agar Tiina masih mencintainya seperti dulu.
"TIINA!" Berwald berseru sekuat tenaga dan menyalakan mobilnya. "JANGAN PERGI!"
Tiina tidak mau peduli apapun lagi. Yang terpenting adalah ia bisa menghindari Berwald dan jangan sampai Berwald menangkap dirinya untuk kedua kalinya. Persetan ia melewati jalan raya yang begitu padat. Ia menerobos lampu merah dan—
BRUK..
Mobil melaju keras dan pengemudi tersebut tidak melihat apakah ada orang di sana. Terus melaju dengan kecepatan tinggi sampai pada akhirnya ia menyadari bahwa ada seseorang. Pengemudi itu terlalu fokus memikirkan bagaimana cara orang yang terkasih dapat terkejar. Ia baru saja menabrak orang dan meninggalkan orang itu di jalan tanpa menolongnya ke rumah sakit. Tetapi ia sudah tidak ada waktu sekarang. Ada masalah yang lebih pelik lagi dan harus diselesaikan sekarang.
Darah segar menetes di tubuh Tiina, mengalir dari seluruh tubuhnya dan kewanitaannya. Kesakitan menggerogoti tubuhnya sekarang dan sekujur tubuhnya bersimbah darah. Matanya nanar dan ia merasakan ada sesuatu yang hilang begitu saja. Samar-samar ia merasakan ada sesuatu yang hilang dan kehilangan sesuatu yang berharga baginya.
Tuhan, tolong selamatkan anakku. Aku tidak sanggup kehilangan anakku, dia sudah menjadi bagian di dalam hidupku.
"Ber—wald," ucapnya terbata-bata dan kesadarannya semakin melemah sehingga tak lama ia ia jatuh pingsan. Ia sudah tidak kuat menanggung semua derita yang ia alami seumur hidupnya. Tuhan, cabut nyawaku sekarang.
—00—
Sesuatu menghantui Berwald, ia kehilangan Tiina dan ia melakukan kesalahan yang teramat fatal. Ia tadi menabrak orang lain di jalan raya Los Angeles dan ia kabur begitu saja. Mengapa hari ini bisa seburuk ini? Ia sudah pergi ke rumah keluarga Jones tetapi Tiina tidak ada di sana.
Di mana Tiina sekarang? Tadi ia sudah bertemu dengan Tiina tetapi sekarang gadis itu pergi lagi meninggalkannya. Meninggalkan luka hati mendalam untuk Tiina. Tidak bisakah Tiina memaafkannya, memberikannya kesempatan.
RING.. RING..
Ponsel Berwald berbunyi keras menandakan adanya pesan singkat masuk. Berwald membukanya dan tertulis pesan.
To: Berwald Oxenstierna
Tiina Vainamoinen mengalami kecelakaan di jalan raya dekat gedung Jones. Diduga ia mengalami tabrak lari. Sekarang ia berada di Los Angeles Hospital untuk perawatan intensif. Harap Anda segera datang ke sana karena ini benar-benar gawat.
Alison F. Jones
Berwald mematikan ponselnya dan ia gemetar. Jalan Los Angeles, tabrak lari, kecelakaan, Tiina Vainamoinen dan sebagainya. Tadi ia menabrak seseorang.
Mungkinkah orang yang ia tabrak tadi adalah Tiina Vainamoinen.
Tidak—ini pasti hanya lelucon di siang bolong. Tadi ia melihat Tiina sudah berhasil menerobos lampu merah.
Mengapa ini semua terjadi pada dirinya? Ini benar-benar tidak adil. Tiina!
.
.
.
Akhirnya Tiina dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang melihat kejadian tersebut hingga membuat jalanan menjadi macet untuk beberapa lama. Sebagian orang memandang Tiina dengan tatapan prihatin tetapi sebagian lagi merutuki Tiina dengan sumpah serapah karena membuat arus kendaraan menjadi tidak teratur.
Alfred yang mendengar hal itu langsung panik dan wajahnya memucat. Tak henti-hentinya ia mengamuk pada semua orang yang ada.
"SIAPA YANG BERANI MENABRAK TIINA, HERO AKAN MENGHUKUM—AAA!" seru Alfred tetapi sebelum Alfred dapat menyelesaikan perkataannya, sudah keburu dicegah oleh Madeline yang tampaknya sudah muak melihat tingkah aneh Alfred di saat yang segenting ini.
"Hentikan! Ini di rumah sakit! Malu tahu!" serunya tajam. "Alison, kau sudah menghubungi Berwald?"
Alison yang sibuk SMS-an dengan seseorang hanya menjawab sekenanya. "Sudah, aku baru saja menghubunginya untuk segera ke sini."
Waktu yang tepat karena baru saja Alison bicara, Berwald sudah datang dengan wajah panik dan tergesa-gesa. Dengan penuh kecemasan, pria itu mendatangi meja resepsionis dan menggebrak meja tersebut sehingga sang resepsionis—alih-alih menjawab pertanyaan Berwald—merasa takut padanya.
"Dimana istriku, Tiina Vainamoinen?" tanya Berwald geram. Wajahnya tampak memucat dan sikapnya sekarang tidak terkontrol. Pikirannya masih dipenuhi oleh Tiina. "Kenapa dengan dia?"
Resepsionis yang berada di sana merasa ngeri terhadap Berwald dan berpikir bahwa Berwald adalah pria yang sangat berbahaya. "Di ruang 587."
"Dia kenapa?" desak Berwald setengah mengamuk. "Apa dia tidak apa-apa? Siapa yang menabraknya? SIAPA?"
"Nanti bisa tanyakan pada dokter yang bersangkutan," kata resepsionis tersebut pada Berwald dengan nada merinding. "Mari saya antar."
Berwald tidak membalas perkataan resepsionis tersebut dan berlari ke arah tempat dimana Tiina di rawat. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilangannya. Ampuni aku, Tiina.
—00—
"Miss Vainamoinen keguguran," dokter itu berkata. "Gadis itu tadi ditabrak di jalan raya Los Angeles pada pukul satu siang tadi. Orang itu meninggalkannya setelah menabrak gadis itu."
Keguguran? Bagaimana bisa?
"Berapa usia kandungannya?" Berwald bertanya pelan. Hatinya diliputi rasa cemas mendalam dan dugaannya selama ini benar. Tiina membawa anaknya di dalam rahimnya. Selama ini tanpa memberitahunya sedikitpun.
"Sudah dua bulan," dokter itu menjawab. "Dua bulan lebih sedikit."
Wajah Berwald memucat. Panik dan cemas bercampur jadi satu. Tetapi yang lebih dominan di dalam dirinya adalah penyesalan yang begitu dalam.
Tiina yang selama ini dirindukannya ternyata ada sedekat ini. Selama ini, Tiina berada di negara ini dan ia sering sekali dinas di tempat ini. Mengapa ia tidak berpikir sebelumnya bahwa Tiina suatu saat bisa berada di tempat ini.
Gadis yang ditabraknya ini dan ia tinggalkan di tengah jalan adalah orang yang dicintainya. Dokter mengatakan bahwa gadis ini keguguran. Apa ia tidak salah dengar sekarang?
Ya Tuhan—keguguran? Dokter itu tidak sedang bercanda, kan? Ia membunuh darah dagingnya sendiri, kalau begitu.
"Tiina—jag ar ledsen—Ja—"
Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Berwald setelah itu. Ia adalah pemerkosa keji dan pembunuh berdarah dingin. Tiina tidak akan pernah mencintainya lagi sampai kapanpun. Ia gagal sebagai pria.
TBC
A/N Yo~a makasih ya, yang sudah review fic saya yang ini. Maaf saya lanjutin lama. Masih ada satu fic lagi di bulan ini yang akan saya lanjutkan, saya lagi mencoba melanjutkan fic yang berjudul Innocent Vainamoinen and Heartless Oxenstierna~Senin besok udah UTS dan doakan saya supaya dapat A XD biar dapat beasiswa di semester 5 XDD
Bulan depan saya coba deh untuk lanjutin fic saya yang mentok di chapter 1 (mind: sumpah ga lucu banget gw =)) masa chapter satu mentok)
Bye2~Review, concrit is allowed but no flame.
