Be My Sweet Darling

APH ©Hidekaz Himaruya

Sweden x fem!Finland

Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent, supernatural (hanya chapter ini saja). Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).

Note: Svea=Aland (pulau kecil di tengah-tengah Swedia dan Finlandia), maaf aku pakai OC.

.

.

.

Tidak pernah ada kejadian seburuk ini di dalam hidupnya.

Ya, tentu saja ini merupakan hal terburuk yang bisa ia rasakan, untuk pertama kali di dalam hidupnya.

Kau pikir apa yang kau lakukan, Berwald! Kau memperkosa gadis yang kau cintai dan membuatnya merana. Lalu kau membunuh bayi yang dikandungnya. Pria macam apa kau? Tidak bertanggung jawab sekaligus menyedihkan. Memalukan sekali!

Suara itu terus muncul di dalam benak Berwald, menyiksa seluruh batinnya. Terluka sekaligus hancur, semua terasa gelap. Tidak ada harapan lagi di masa depan. Ia akan menghabiskan masa tuanya dengan kesendirian dan rasa bersalah yang menghantuinya seumur hidup. Semua karena kebodohannya sendiri dan ia tidak bisa mengatasi masalahnya. Seandainya ia lebih mendengarkan dan percaya pada Tiina, pasti Tiina tidak akan jadi seperti ini. Sekarang ia merasa seperti orang bodoh karena kecemburuannya sendiri. Seharusnya ia lebih mempercayai Tiina dibandingkan mengikuti emosinya sendiri.

Bagaimana keadaan Tiina sekarang? Apa dia masih ada kesempatan hidup yang lebih panjang lagi? Ia melihat keadaan Tiina di ruang inap. Sudah hari ke lima, Tiina berada di ruangan tersebut dan belum sadarkan diri sama sekali. Dokter mengatakan bahwa Tiina tidak akan mati, hanya saja ia kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan suplai darah agar ia bisa bertahan hidup dan mengalami patah tulang di kaki kirinya tetapi bisa sembuh dalam jangka waktu tertentu.

Berwald tidak bisa tersenyum senang karena ia membuat Tiina terluka parah, ditambah gadis itu baru saja keguguran akibat ulahnya.

Berwald membatin, apakah Tiina tahu bahwa anaknya gugur akibat tabrakan itu? Apa reaksinya jika Tiina tahu ia membuatnya seperti ini? Bisakah ia mengatakannya pada Tiina untuk semuanya, demi kebaikan Tiina sendiri. Bagaimana rupa anaknya jika anak itu tidak gugur? Ia baru menyadari sekarang, anaknya tercipta dalam diri Tiina. Untuk pertama kalinya, ia akan memiliki anak biologis dari gadis yang ia cintai selama ini tetapi kebodohannya sendiri telah menghancurkan semua yang akan dimiliki olehnya. Apakah calon anaknya sekarang sudah bersama-sama dengan Tuhan dan tahu siapa ayahnya?

"Sve—Svea," Berwald bergumam pelan, nyaris seperti orang gila. "Sve—Svea—ini papa, papa di sini—dengar aku."

Svea, nama yang akan ia namakan untuk anak perempuan Berwald. Nama itu muncul begitu tahu Tiina mempunyai anak darinya. Di bayangan Berwald, calon anak mereka adalah anak perempuan. Anak perempuan, tentu saja, yang merupakan perpaduan dari dirinya dan Tiina. Berwald membayangkan jika anaknya lahir, pasti ia secantik ibunya, Tiina. Tiina memang bukan gadis yang tercantik bagi kebanyakan orang tetapi keceriaan dan kepolosannya membuat Tiina terlihat cantik dan dewasa. Ia tidak mengerti mengapa anak itu harus mati ditangannya sendiri. Ini semua tidak pernah direncanakannya dan Berwald tidak pernah menginginkan hal tersebut.

.

.

.

"Papa! Papa! Mengapa papa tidak mencintaiku? Apa aku ini tidak ada artinya bagi papa? Jangan bunuh aku, papa! Lihat aku, papa!"

Ia berada di ruangan gelap dan tidak ada satu orang pun di sana. Hanya ada Berwald sendiri dan suara seseorang. Suara itu bukan suara orang yang dicintainya tetapi suara orang lain. Suara yang menghantuinya sejak beberapa hari lalu. Ada kemiripan suara itu dengan suaranya tetapi jauh lebih halus. Anehnya Berwald tidak mengerti siapa orang itu.

Pernah mengenal suara itu, tetapi ia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Samar-samar, ia pernah bertemu dengan pemilik suara ini. Tetapi suara ini memanggilnya dengan sebutan papa. Ia belum pernah memiliki anak kecuali anak tiri. Anak tirinya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan papa, melainkan dengan sebutan nama saja.

"Tunjukkan dirimu!" raung Berwald, kehabisan kesabaran dan terengah-engah—merasa dipermainkan oleh suara itu. "Aku tidak pernah punya anak!"

Suara itu tercekat, mulai terdengar isak tangis menyakitkan. "Papa tidak ingin aku ada. Papa pembunuh keji. Aku ingin segera bertemu Tuhan dan hidup bersamaNya, Dia akan menyambutku kembali. Dan aku akan bahagia di sana, melupakan apa yang terjadi denganku. Tuhan sayang padaku dan dia tidak ingin melihatku menderita. Aku yakin itu."

Berwald terdiam, otaknya bekerja lebih cepat. Jantungnya berpacu seribu kali lebih cepat. Tiba-tiba muncul layar besar yang menunjukkan sesuatu yang dilakukan Berwald selama ini. Mulai dari tragedi perkosaan, semua penderitaan yang dialami Tiina selama ini. Salah satu layar menunjukkan dimana Tiina sedang berada di rumah keluarga Jones, dalam keadaan panik karena mendapati dirinya berbadan dua.

Hatinya teriris, kemana ia selama ini. Seharusnya ia menjaga Tiina dan tidak membiarkan gadis itu menanggung semuanya sendirian. Selama ini, Tiina menderita karena ulahnya sendiri. Kemana ia saat Tiina harus banyak beristirahat karena trisemester pertama dan masa itu sangat rawan untuknya. Sampai pada akhirnya layar tersebut menampilkan dimana ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menyadari bahwa ada sosok Tiina di sana, lalu menabraknya hingga gadis itu terpental.

Tampilan itu menghantuinya dan menakutinya. Darah bersimbah di tubuh Tiina dan hancur. Semua orang mengerumuni tubuh Tiina.

"Ber—wald, A—anak ki—ta—," ucapnya terbata-bata dan air mata mengalir di wajah Tiina yang lebam dan pelan-pelan gadis itu menutup matanya dengan penuh kesedihan mendalam.

Layar itu menghilang. Begitu juga dengan suara itu, isakannya semakin tidak terdengar hingga akhirnya menghilang secara penuh. Meninggalkan Berwald dalam keadaan gundah gulana.

"TUNG—TUNGGU! TIDAK!" ia berteriak dan berusaha menggapai-gapai langit kosong. Siapa tahu ia bisa meraih seseorang yang sedang berbicara kepadanya. "SIAPA KAU? SEBUTKAN DIRIMU!"

Tidak ada jawaban sedikitpun. Hawa menusuk dirasakan Berwald. Mendadak ia tersadar siapa dibalik suara itu. Ia bisa merasakan sekarang, dari kemiripan suara itu.

"SVE—SVEA!" seru Berwald histeris. "PAPA DI SINI!"

Berwald terus berteriak-teriak seperti orang gila tetapi tidak ada jawaban, seperti tadi. Hati Berwald hancur, semua sudah terlambat dan anaknya mengangap Berwald tidak menginginkannya.

"SVE—SVEA!" jeritnya dan untuk pertama kalinya dalam hidup Berwald, ia menangis tersedu. Kehilangan bagian penting yang hampir ia miliki. Dan juga Tiina yang menjadi pelengkap kebahagiannya.

Berwald terbangun dan tanpa sadar ia menangis. Sudah beberapa kali ia bermimpi mengenai hal semacam ini, tetapi inilah yang paling menyakitkan. Terlalu menyakitkan hingga gunung es yang selalu ia bangun di dalam hatinya runtuh begitu saja tanpa sisa. Ia berharap bahwa ia sedang bermimpi semata dan tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Mungkin saja Berwald sedang berada di alam mimpi dan ketika terbangun, Tiina dalam keadaan sehat bugar tanpa kurang suatu apapun. Apapun bisa terjadi selama kejadian yang menimpa Tiina hanyalah mimpi.

Ia sering tidur di bangku rumah sakit, dekat dengan ruangan dimana Tiina dirawat. Sudah hari ke lima ia melakukannya dan ia berharap Tiina cepat sadar. Semua waktu tercurah untuk gadis yang ia cintai seumur hidupnya. Ia berjalan ke arah ruangan dimana Tiina dirawat dan hanya mengintipnya dari luar. Tiina masih belum sadar dan banyak selang infus berada di dalam tubuhnya. Ingin masuk ke dalam tetapi dokter tidak mengijinkannya untuk masuk ke dalam untuk beberapa waktu ini. Ingin mengecupnya, menjaganya dan merasakannya. Mengatakan bahwa ia mencintainya dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Tiina.

Tuhan, jangan sampai Tiina meninggal. Jaga dia, kumohon. Aku mencintainya.

.

.

.

Keesokan harinya, Matthias datang ke Los Angeles atas suruhan Halldora untuk menengok Tiina. Halldora bahkan menyuruh Matthias untuk mengamati perilaku Berwald saat ini karena ia mendengar kondisi psikologis Berwald. Halldora mengetahuinya dari Alfred bersaudara.

Mulanya Matthias menolak permintaan Halldora karena tahu apa yang dialami Berwald, yaitu masalah yang sama seperti dulu. Tiina lagi dan Tiina lagi. Seolah-olah tidak ada pikiran lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Matthias sudah bosan mengurusi Berwald, mulai dari pria itu mabuk sehingga Matthias harus membawanya pulang. Masih untung ia belum melempar Berwald ke tengah jalan, dengus Matthias dalam hati. Lebih baik ia jalan-jalan ke Los Angeles mencari artis cantik dibandingkan mengurusi hal tidak penting.

Akhirnya ia datang ke rumah sakit dimana Tiina dirawat dan ia melihat Berwald sedang duduk di bangku rumah sakit dengan wajah muram. Mata Berwald terlihat bengkak, tampaknya ia menangis selama berhari-hari. Seumur hidup Matthias, ia belum pernah melihat Berwald seperti sekarang ini. Di keadaan apapun, Berwald selalu berpenampilan rapi tanpa cacat cela sedikitpun dan itu sempat membuat Matthias merasa muak karena sekalipun Berwald tidak menginginkannya, ia selalu dikejar-kejar wanita. Sekarang? Matthias hanya bisa merasa kasihan pada Berwald yang seperti ini. Fakta bahwa memang kesuksesan pria tidak bisa terlepas dari wanita.

"Beary! Kau tidak apa-apa!" Matthias berseru dan mencengkeram baju Berwald. Mata Matthias menatap mata biru kehijau-hijauan Berwald dengan tajam. Berwald tidak menjawab pertanyaan Matthias yang duduk di sebelahnya. Seluruh pandangannya kosong dan tertuju pada Tiina. Untuk berpikir logis saja, ia sudah tidak sanggup lagi. Bahkan ia tidak sadar bahwa Matthias berada di sebelahnya, yang tampaknya kuatir dengan keadaan Berwald yang semakin hari semakin tidak teratur.

"Tiina," hanya itu yang bisa Berwald katakan. "Maafkan aku—aku—pria tidak berguna."

Pria Denmark itu membeku, seluruh bibirnya terkunci. Tidak pernah terpikirkan bahwa kehilangan gadis yang dicintai dapat berakibat fatal bagi Berwald. Sejak awal, Berwald sudah mencintai Tiina dan ingin memiliki gadis itu, tetapi ia selalu menahannya dengan dalih bahwa Tiina adalah anak angkat dari Berwald. Menurut Matthias, itu semua hanya topeng Berwald agar ia bisa memiliki Tiina di masa depan. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Hal itu membuat Matthias berpikir, apa mungkin ia akan bersikap sama seperti Berwald jika ia yang kehilangan orang terkasih di dalam hidupnya. Apa ia mampu berdiri tegar? Atau hancur tidak bersisa.

"Beary!" Matthias memanggilnya sekali lagi untuk menyadarkan Berwald dari lamunannya. "Hallie memberitahuku bahwa Tiina kecelakaan dan aku disuruh menengoknya. Hallie sedang mengandung anak pertama kami, jadi—."

Tidak ada respon yang diberikan oleh Berwald, ia terus berada di dalam pikirannya sendiri. Menanti-nanti kapan Tiina kembali sadar dan sehat. Semua terasa gelap dan tidak tampak. Dokter tidak mengatakan apapun mengenai kondisi Tiina, ia hanya berkata bahwa kondisi Tiina sama saja seperti kemarin-kemarin. Tiina tidak tentu kapan akan sadar dan masih dalam keadaan kritis.

"Dia akan sembuh," ucap Matthias pada akhirnya dan menepuk bahu Berwald dengan keras. "Aku membencimu tetapi aku lebih membencimu jika kau terus-terusan seperti ini. Ia akan sedih melihatnya."

Ia tidak yakin apakah Tiina akan tetap menyayanginya sebagai ayah begitu gadis itu sadar. Terlalu banyak ia melukai hati Tiina hingga tidak bisa disembuhkan.

—00—

"Tiina, bukalah matamu!"

Tiina membuka matanya dan sekelilingnya begitu terang. Seingatnya tadi ia mengalami kecelakaan di tengah jalan dan seharusnya ia berada di rumah sakit. Apa ia sekarang berada di surga? Jika itu benar, maka ia tidak perlu merasakan sakit dan bisa segera melupakan Berwald walaupun setengah hatinya ia tidak akan rela melakukannya. Ia belum mengatakan pada Berwald bahwa ia mencintainya dan mengucapkan terima kasih pada pria itu.

Walaupun itu semua menyakiti hatinya teramat dalam. Mungkin ia akan lebih tenang jika ia tidak pernah mengenal kehadiran Berwald di dalam hidupnya. Jika itu terjadi, ia tidak akan merasakan sakitnya tertolak.

"A—aku dimana? Mengapa aku berada di sini?" tanya Tiina bingung dan memandang sekelilingnya. "Apa aku sudah meninggal?"

Sosok itu mendekati Tiina dan tersenyum padanya. Seorang gadis cantik berambut panjang, warna mata ungu seperti Tiina tetapi lebih kecil darinya. Kira-kira berusia sekitar sepuluh tahun. Anak itu memeluk Tiina dengan erat dan menumpahkan air matanya ke Tiina.

"Tiina akan selamat," gumam anak itu sedih . "Tiina tidak boleh mati karena ada yang menunggu Tiina di sana."

Jadi, ia belum mati? Pantas saja ia bisa merasakan tubuhnya dan anak itu. Tetapi mengapa anak itu tahu namanya? Apakah gadis yang memeluknya ini adalah seorang malaikat? Dan ia tidak mengerti apa yang dibicarakan gadis itu.

"Ku—kupikir aku sudah mati," jawab Tiina lemah dan nada bicaranya terdengar lambat. "Kalau boleh aku tahu, siapa sebenarnya Anda?"

Gadis itu memandang Tiina dengan tatapan sedih sekaligus terluka. "Terima kasih sudah menjagaku selama ini, mama," ucapnya lirih. "Tetapi Tuhan berkehendak lain. Dia ingin aku berada di sisiNya."

Mama? Tuhan berkehendak lain? Apa arti dari semua ini? Apa jangan-jangan anak yang sedang bicara kepadanya ini adalah anaknya sendiri? Dan ini artinya, ia mengalami keguguran akibat kecelakaan beberapa hari lalu.

"Apa kamu tahu siapa ayahmu, sayang?" tanya Tiina lembut dan memegang wajah gadis itu. Ini benar-benar anaknya dan ia bisa merasakan ada kemiripan di antara mereka berdua. Mulai dari warna rambut, mata dan ekspresi senyumannya. Mengingatkan Tiina akan dirinya pada masa kecil, dimana ia masih polos dan tidak mengerti apa-apa.

Gadis itu mengangguk. "Dia memanggilku dengan sebutan Svea. Aku tidak mengerti apa artinya tetapi aku tahu ia mencintaiku dan mama. Walaupun ia membunuhku tanpa sengaja di jalan raya Los Angeles beberapa hari lalu."

"Me—mengapa?" Tiina tercekat. Apa ia sedang tidak salah dengar bahwa Berwald menabraknya dan meninggalkan ia dalam keadaan luka berat di tengah jalan. "Mengapa Ber sekejam itu padaku?"

Svea mengelus kepala Tiina. "Jangan benci papa, papa tidak menginginkan kecelakaan ini terjadi. Kecelakaan itu terjadi karena papa terlalu memikirkan mama. Takut kalau mama membencinya," ia berujar. " Papa memang terlihat kejam, tetapi apakah mama tahu bahwa papa mencintai mama?"

Mencintainya, ini pasti mimpi. Tidak mungkin Berwald mencintainya, ini hanyalah sebuah lelucon belaka. Kebohongan sampah yang bisa ia dengar dari siapapun juga. Jika Berwald mencintainya, pria itu tidak akan memperkosanya hingga membuatnya seperti ini. Berwald akan menjaganya jika pria itu mencintanya. Lagi pula, Berwald selalu dingin terhadapnya dan tidak pernah menunjukan tanda-tanda apapun.

"I—itu tidak mungkin. Ber—Berwald selalu menganggapku anak kecil," Tiina mengelak. "Dan ia tidak pernah mencari kita berdua dan ia selalu memaksaku."

"Mau aku perlihatkan sesuatu, mama?" tanya Svea. "Mungkin ini akan merubah pandangan mama terhadapnya."

Layar besar muncul dan menampilkan memori-memori dimana setelah Berwald kehilangan Tiina, bagaimana penderitaan Berwald selama ini. Di sana muncul Berwald sedang mengancam Eduard, temannya, dan mengatakan semua kebenciannya terhadap pemuda itu akibat kepergiannya. Memeriksa rumah orang-orang terdekatnya hanya untu mencarinya seorang. Lalu, muncul lagi memori yang lainnya dimana Berwald memanggil interpol untuk mencari Tiina.

Beberapa detik kemudian, layar itu memunculkan adegan lain dimana Berwald dalam keadaan mabuk di suatu bar yang terletak di pusat kota. Nama Tiina selalu terucap di bibirnya. Berulang-ulang kali, tidak pernah terlewatkan.

"Tiina—maafkan aku," ucap Berwald lemah. "Aku minta maaf, Tiina."

Tiina melihat wajah Berwald di sana dan tatapan mata Berwald masih tajam seperti dulu, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari Berwald—tatapan itu mengandung tatapan kesedihan mendalam. Terlihat jelas bahwa itu bukan Berwald yang dulu dan berbeda dibandingkan terakhir ia bertemu. Sejak Tiina pergi dari rumah itu.

"Papa selalu mabuk-mabukkan sejak mama tidak ada," Svea menambahkan. "Mungkin mama tidak tahu, tetapi Tuhan memperlihatkan padaku ketika aku di dalam kandungan. Dan aku bisa merasakan perasaan mama yang begitu hancur karenanya. Jika aku lahir selamat, aku tidak akan ingat apa yang terjadi di antara mama dan papa. Tuhan aku ingin berada di sisiNya karena Ia ingin mama dan papa bersatu, hidup bahagia. Aku tidak tahu apa rencanaNya, tetapi aku tahu Dia memberikan hal yang terbaik untuk mama dan juga papa."

Anaknya bisa merasakan perasaannya, isak Tiina dalam hati. Svea benar-benar memahami perasaannya yang terdalam. Hatinya serasa hangat dan mendadak ia tidak terlalu sedih ketika ia mengalami keguguran. Ia tahu anaknya sekarang berada di tempat terbaik yang telah disediakan oleh Tuhan.

Layar itu muncul lagi, memperlihatkan sosoknya yang terbaring lemah di rumah sakit tidak sadarkan diri dan juga Berwald yang menunggunya. Menunggu dengan cemas apakah Tiina akan sadar atau tidak. Pemandangan itu membuat air mata Tiina tumpah, dadanya terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya. Merasakan betapa banyak cinta pria itu tercurah untuknya. Baik ketika ia kecil hingga saat ini.

"Papa menunggu mama selama berhari-hari," ucap Svea sedih dan berlalu dari Tiina. "Walaupun aku ingin mama terus bersamaku tetapi aku tidak bisa. Mama harus kembali dan katakan perasaan mama terhadap papa."

Mengatakan. Selama ini ia tidak pernah mengatakan perasaannya terhadap Berwald. Bagaimana ia bisa sebodoh ini? Jika ia mencintainya, tidak masalah bukan? Mengapa ia setakut ini? Takut karena apa?

"Sv—Svea mau kemana?" tanya Tiina dan meraih tangan Svea. "Svea tidak meninggalkan mama, bukan? Tidak bisakah Svea tetap di sisi mama dan hidup bersama-sama?"

"Maaf," hanya itu yang Svea ucapkan pada Tiina dan melepaskan genggaman Tiina perlahan. Ia tidak bisa berlama-lama di sisi Tiina walaupun hatinya sakit. "Berbahagialah, mama. Sampai bertemu lagi di masa yang akan datang."

Svea menghilang dan meninggalkan kenangan manis untuk Tiina. Ia paham sekarang, selama ini ia tidak salah memilih seseorang yang ia cintai. Orang itu berada di dekatnya, menjadi bagian di dalam hidupnya selama ini.

Ia ingin hidup sekali lagi dan mengatakan semuanya pada Berwald. Semua perasaan cintanya yang paling dalam.

Ya, ia akan mengatakannya pada Berwald.

TBC


Wew, di luar dugaan sudah bakal sampai chapter 6, terus sudah lebih dari 15k lagi. Padahal di fic lama, tamatnya di chapter 5. Ini malah belum tamat-tamat, wkwk~ Dan untuk OC, I regret nothing. Nggak apa-apa kan kalau saya pakai OC =w= dan jangan flame saya gara-gara OC, pairing. Kalau ada kesalahan tolong diberitahu supaya saya mengerti dimana. Anyway kalau ada bagian yang menyinggung, saya minta maaf dan no offense deh.

Kayaknya masih agak panjang fic ini, mungkin bisa tamat di antara chapter 8 atau chapter 9 (berarti gw cetek banget dong dulu #syokMeGusta#plak).

Makasih bagi yang udah baca fic ini. Danke bitte