Be My Sweet Darling
APH ©Hidekaz Himaruya
Sweden x fem!Finland
Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).
Note: Alison (nyo-amerika) and Madeline (nyo-canada)
.
.
.
"Miss Vainamoinen sudah sadar dan sejak tadi ia terus memanggil nama anda," dokter berkata pada Berwald. "Silahkan masuk ke dalam!"
Tiina sudah sadar. Dada Berwald membuncah begitu besar hingga sesak rasanya. Gadis yang ia cintai tidak mati, melainkan dalam keadaan hidup. Ya Tuhan, ini sungguh-sungguh keajaiban yang bisa ia rasakan. Terburu-buru ia memasuki ruangan tersebut dan melihat Tiina di sana dengan wajah penuh kebahagiaan. Semua bercampur menjadi satu dan tidak bisa dilukiskan hanya dengan kata-kata semata.
"Tiina!" seru Berwald dengan nafas terengah-engah dan menggengam tangan gadis itu lembut. Ia tidak pedul jika kali ini ia bersikap berlebihan, karena sekarang ia merasa penuh. Ia merasa bahagia dan tidak ada sesuatu yang kurang. Tiina selamat walaupun bayinya meninggal, toh Berwald bisa membuatnya lagi bersama Tiina jika keadaan Tiina sudah pulih dan gadis itu cukup umur.
Sedangkan Tiina, ia baru mengalami mimpi panjangnya bersama Svea dan ia merasa bahagia setelah terbangun ada Berwald di sisinya yang selalu menjaganya setiap saat. Kalau saja ia tidak pernah pernah bertemu Svea, mungkin setelah sadar Tiina akan selalu membenci pria yang telah menjaganya selama berhari-hari. Mungkin Tiina akan membunuh Berwald dan hidup dengan kesendirian. Air mata Tiina tidak mau berhenti mengalir, ada perasaan aneh yang menyelimuti dadanya. Cinta yang baru dan memaafkan segala perbuatan Berwald yang pernah dilakukannya dulu.
"A—a—aku me—mencintai Ber," ucap Tiina terbata-bata. "S—Sve—a su—sudah ada di surga. Aku bertemu dengan Svea. Dia cantik dan mirip denganmu."
Rupanya ia tidak salah sangka dan perasaannya sama sekali tidak sia-sia. Tiina mencintainya dan itu benar-benar terasa nyata. Gadis yang ia lukai sejak dulu masih menyimpan rasa cinta mendalam terhadapnya. Ditambah lagi ia dan Tiina berpikiran sama mengenai nama anaknya, Svea, nama yang akan ia berikan pada calon anak mereka seandainya ia tidak gugur. Betapa ia menyesali kebodohannya sendiri sekarang.
Tetapi, Berwald bisa tenang karena Svea sudah berada di surga. Ia tidak perlu kuatir akan Svea di sana.
Dulu Berwald mungkin berusaha untuk menyangkali perasaannya sendiri hanya karena status ayah tiri dari Tiina Vainamoinen. Ia sadar pilihannya dulu merupakan pilihan yang berbahaya karena ia mencintai anak tirinya sendiri. Jika awalnya Berwald menganggap Tiina hanyalah pelipur lara karena ia tidak akan bisa mencintai wanita lain, ia salah besar. Karena berawal dari ia mengasuh Tiina, ia jatuh cinta kepada Tiina dan tergila-gila pada Tiina. Tiina membuatnya gila dan kehilangan kewarasannya. Baginya Tiina adalah gadis yang istimewa. Ia sudah tidak ingin menjadi ayah bagi Tiina dan semua itu sudah tidak berguna baginya karena ia ingin menjadi kekasih bagi gadis itu.
"Tiina," Berwald berkata dan mengecup dahinya lembut, tangannya yang lain menyentuh perut Tiina yang datar. "Jangan terlalu banyak bergerak!"
Tiina mengangguk dan tersenyum lembut pada Berwald. Ia merengkuh Berwald dengan salah satu tangannya sebisa mungkin dan mendekatkan wajah Berwald ke wajahnya hingga mereka berdua saling bertatapan. "Aku ingin Ber menemaniku," jawabnya gugup. "Bolehkah?"
"Kapanpun yang kau mau, Tiina."
Mengingat mimpi buruk yang ia alami beberapa hari, mungkin malam ini tidak akan pernah terulang lagi. Tiina akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya di masa depan, itu pasti dan pemikiran Berwald tidak mungkin salah. Dari dulu, Tiina suka dengan anak-anak dan setiap ada anak tetangga yang berkunjung ke rumahnya Tiina selalu menemani mereka terlepas apakah mereka menyebalkan atau tidak.
"Papa."
Merasakan ada sesuatu yang memeluk tubuhnya dengan erat, ia menoleh ke belakang tetapi bukan Tiina. Tidak ada seseorang di belakang Berwald. Ada orang lain yang melakukannya. Siapa?
"Berwald? Ada apa?" tanya Tiina bingung melihat ekspresi Berwald yang tampak aneh seperti melihat setan. "Ada sesuatu yang mengganggu?"
Berwald menggeleng pelan, ia tidak boleh mengatakan sesuatu yang aneh karena itu bisa membuat Tiina kuatir dan takut. Gadis itu belum sadar sepenuhnya dan ia masih perlu beristirahat, biarkan Tiina beristirahat sejenak lebih lama agar kesehatannya cepat pulih. Tetapi pelukan itu—
—hangat dan tidak menimbulkan rasa takut.
"Apa itu Svea?" tanya Tiina tiba-tiba dan melihat sosok Svea samar-samar di belakang Berwald. Svea sempat mengintip ke arah Tiina tetapi begitu Berwald membalikkan arahnya, Svea langsung bersembunyi.
Pria itu bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Tiina, tetapi ia segera sadar ketika menengok ke belakang ia melihat sosok anak perempuan berusia sepuluh tahun yang tentu saja lebih pendek darinya. Gadis yang mirip dengan Tiina tetapi lebih tinggi dari gadis seumurannya, bahkan lebih tinggi dari Tiina pada waktu itu. Svea pernah berteriak dalam mimpi buruk Berwald selama berhari-hari dan ia tidak mau memunculkan dirinya. Semua mimpi buruk yang Svea berikan kepadanya, hanya sebagai pengujian cintanya terhadap Tiina.
Svea sekarang muncul di hadapannya dengan sosok aslinya. Apakah mungkin Svea tahu bahwa ia sudah dimaafkan oleh Tiina dan karena Berwald mau menjaga Tiina dengan curahan kasih sayangnya yang begitu melimpah. Sosok Svea mengingatkannya terhadap Tiina, ada perpaduan antara dirinya dan Tiina. Seandainya calon anak mereka tidak mengalami keguguran, barangkali sosoknya akan seperti ini. Melihat sosok Svea berada di depannya, membuat Berwald tidak merasa kalut lagi seperti dulu dan mimpi buruknya tidak akan pernah terulang lagi karena Svea tersenyum lembut terhadapnya.
"Jangan bersembunyi!" gumam Berwald dingin pada Svea. "Papa ingin melihatmu, Svea!"
Benar saja, Svea langsung keluar dari punggung Berwald dan tersenyum pada Tiina. Melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum ceria. Menghampiri Tiina dan memberikan kecupan lembut di pipi. "Cepat sembuh, mama."
"Terima kasih, Svea. Kau anak baik," Tiina berusaha untuk menyentuh wajah Svea tetapi ia tidak bisa melakukannya dengan benar karena Svea berupa roh, bukan manusia. Mereka berdua sudah berada di dunia yang berbeda satu sama lainnya. Tiina merasa sedikit kecewa karena tidak bisa memeluk anak kesayangannya untuk terakhir kali. Benar-benar untuk terakhir kalinya.
Berwald juga merasakan hal yang sama seperti Tiina, tetapi ia jauh lebih kecewa karena ini pertama kalinya ia melihat anaknya secara langsung sedangkan Tiina mungkin sudah berkali-kali bertemu dengan Svea. Tiina pasti mengetahui sesuatu tentang Svea lebih banyak lagi.
Tugasku sudah selesai, mama Tiina. Aku senang melihat mama Tiina dan papa Berwald bersama lagi. Aku sayang mama Tiina dan papa Berwald. Jaga diri kalian baik-baik.
"Ya, Svea," jawab Tiina lembut. "Mama pasti akan melakukan itu untukmu."
Svea benar-benar menghilang sekarang dan pergi untuk selama-lamanya. Sekarang benar-benar pergi tanpa akan pernah bisa kembali lagi. Tiina menangis terisak dan perasaan hancur karena kehilangan anaknya bangkit lagi. Sesuatu yang berbeda yang bisa ia rasakan.
Berwald terus berada di sisinya, menjaga Tiina dan menenangkannya agar Tiina tidak merasa sedih serta berjanji pada Tiina bahwa mereka pasti bertemu dengan Svea setelah Tiina berusia delapan belas tahun. Karena setelah Tiina cukup umur, ia akan menyeret Tiina ke altar. Jika bisa lebih cepat, Berwald akan membawanya ke altar secepat yang ia bisa.
"Ceritakan padaku tentang Svea," Berwald berkata. "Aku ingin dengar semuanya tentang anakku."
Matthias, Jones bersaudara dan beberapa korban Berwald yang dulu terkena getahnya karena kehilangan Tiina, mereka bisa bernafas lega karena tidak akan pernah ada lagi ulah aneh-aneh yang dilakukan Berwald terhadap mereka. Kecuali Eduard yang kecewa mendengar Tiina dan Berwald berbaikan karena Eduard kalah dari pria seram itu. Tetapi untuk Matthias, ia merasa senang karena teman bersaingnya sudah kembali seperti semula dan bisa bersikap seperti biasa pada Berwald. Dengan kata lain, menghajar Berwald hingga babak belur serta bertengkar hal-hal remeh mengenai lapak jualan. Tidak ada yang tidak sebaik ini, bukan?
"Ayo kita berkelahi lagi, kaleng ikan!" seru Matthias gembira. "Senang melihatmu kembali seperti dulu lagi!"
Berwald mendengus dan menonjok pelan bahu Matthias. Ia sudah kembali seperti sedia kala dan itu berarti ia siap untuk berkelahi dengan Matthias mengenai masalah sepele. Memang seharusnya seperti ini, semua masalah sudah selesai dan kembali ke masalah semula yaitu Matthias si kambing Denmark serta ulah binalnya yang mengganggu Berwald. Asal jangan sampai ia mengganggu Tiina saja karena Berwald akan siap sedia menjadikan Matthias kaleng ikan.
Alison dan Madeline datang ke kamar Tiina dan merasa senang melihat Tiina dan Berwald bersama-sama. Mereka mendoakan agar Tiina dan Berwald bisa terus berbahagia hingga selama-lamanya.
"Pasti, Alison dan Madeline," jawab Tiina jujur dan menatap Berwald yang berada di luar dengan tatapan malu-malu. "Aku mencintainya sampai kapanpun."
Banyak hal yang berubah di antara mereka berdua, khususnya relasi antara mereka berdua yang sempat berantakan karena kebodohannya sendiri. Pelan tapi pasti, Berwald berusaha untuk bersikap lebih terbuka pada Tiina dan mengatakan semuanya pada Tiina walaupun itu cukup sulit. Demi Tiina, apapun akan Berwald lakukan untuk membahagiakannya. Karena Tiina adalah jiwanya, bunga lili yang selalu mekar di dalam hatinya. Perlambang cintanya yang paling tulus untuk Tiina. Cinta pertama dan terakhir.
Sementara itu, Tiina masih berada di rumah sakit untuk beberapa minggu ke depan karena kondisinya belum stabil sepenuhnya dan akan lebih baik bagi Berwald jika Tiina berada di rumah sakit dengan waktu yang cukup lama. Dengan alasan keamanan, tentu saja.
"Bisakah Ber mengeluarkanku dari sini?" tanya Tiina dengan wajah cemberut. "Aku sudah sehat dan hanya kakiku saja yang tidak bisa kugerakkan. Hanya membutuhkan kursi roda atau tongkat saja."
Berwald tidak peduli dengan perkataan Tiina sekarang dan terus membaca koran di tempat duduknya. Baru dua minggu di sini saja, Tiina sudah mengeluh yang bukan-bukan. Ada-ada saja ia, apa perlu Berwald membawanya ke suatu tempat dan khusus ia yang merawatnya. Sejujurnya saja, Tiina juga sudah boleh pulang dari rumah sakit dua minggu yang lalu tetapi Berwald bersikeras menahannya dengan alasan yang menurut Tiina itu sangat tidak masuk akal.
"Ayolah, Ber!" seru Tiina kesal dan melemparkan bantalnya ke wajah Berwald. "Jangan membuatku gila seperti ini!"
Tiina memang seperti anak kecil yang ingin diberi permen, gumam Berwald geli. Baiklah, ia akan menuruti permintaan Tiina dan ia akan menyewa hotel mewah untuk mereka berdua. Dan mereka akan bersenang-senang di sana. Merawat Tiina maksudnya, bukan bermaksud lainnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Tiina keluar dari rumah sakit dengan catatan bahwa ia harus memakai tongkat penyangga karena salah satu kakinya patah dan belum bisa digerakkan secara sempurna. Membutuhkan waktu untuk sembuh, sekitar dua bulan lamanya. Dan dokter sempat berkata sesuatu pada Berwald bahwa ia tidak boleh menakut-nakuti Tiina demi keselamatan Tiina sendiri dan membuat Tiina senyaman mungkin. Dalam hati, Berwald merutuki dokter tersebut. Darimana ia bisa dikatakan menakut-nakuti Tiina. Enak saja ia berkata seperti itu.
Walaupun begitu, selera makan yang dimiliki Tiina belum pulih sepenuhnya. Beberapa hari belakangan ini, ia sudah mau makan tetapi harus dipaksa oleh orang-orang terdekatnya terlebih dahulu. Bagi Tiina, makanan saat ini membuat perutnya mual dan muak.
Berwald sudah menyewa hotel mewah di Los Angeles untuk waktu yang tidak bisa ia tentukan dengan satu ruangan yang terdapat dua ranjang besar. Mulanya Tiina sempat takut jika Berwald berniat untuk mengapa-apakannya lagi tetapi pemikirannya langsung berubah begitu melihat kamar yang disewa Berwald. Tidak terlalu buruk, pikirnya. Mungkin dengan ini Tiina bisa beristirahat dengan tenang tanpa adanya gangguan yang berarti.
"Harus kukatakan, tongkat penyangga ini sama sekali tidak efektif," gerutu Tiina kesal. "Karena Ber selalu menggendongku terus-terusan tanpa memberikan kesempatan untukku berjalan."
Yang seperti ini membuat Tiina tidak suka, Berwald memperlakukan Tiina seolah-olah Tiina adalah barang pribadinya yang bisa seenaknya ia sentuh. Tetapi Tiina harus mengakui bahwa ia menyukai Berwald yang bersikap protektif terhadapnya dan ia merasa senang karena Berwald mau repot-repot memperhatikannya. Dari dulu Berwald memang tidak pernah berubah.
"Diam," jawab Berwald datar, singkat dan tidak jelas dan menatap Tiina yang masih mengenakan piyama. "Kau sudah tiga minggu tidak berganti pakaian."
Wajah Tiina merah padam ketika Berwald berkata mengenai hal yang sensitif mengenai tubuhnya dan menendang pelan tulang kering Berwald. Teringat akan sesuatu yang mengerikan. Mengenai tubuhnya yang dipenuhi bekas luka. "Aku bisa menggantinya sendiri."
"Lalu? Mau aku bukakan?" balas Berwald tajam dan membuka pelan-pelan piyama Tiina dan memperlihatkan tubuh Tiina tanpa pakaian dalam. Di bagian perutnya terdapat bekas luka akibat perbuatannya dulu. Membuat hati Berwald teriris dan sedih, teringat dengan perlakuannya terhadap Tiina. Ada tiga sayat bekas luka di bagian perutnya. Khawatir, Berwald memaksa Tiina untuk membalikkan badannya dan melihat bagaimana keadaan punggung Tiina. Dua bekas sayatan yang cukup besar di dekat leher dan tengah punggung.
Tiina memucat dan menutupi wajahnya dengan mukanya. Ketakutan karena tubuh Tiina yang penuh bekas luka akibat tabrakan tersebut. Menyisakan bekas yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. "Nggak, Ber! Jangan sentuh bagian itu! Tubuhku jelek!" pekiknya histeris. Tiina tidak takut untuk melakukan hal itu bersama Berwald sekali lagi, tetapi Tiina takut jika Berwald melihat tubuhnya, pria itu akan meninggalkan Tiina dan berubah pikiran. Tiina tidak mau hal itu terjadi padanya, hal itu saja sudah cukup menyakitkan baginya. Ia tidak mau seperti itu.
"Tidak, Tiina," ucap Berwald lembut dan menyentuh bibir Tiina dengan jarinya. "Kau cantik."
Berwald tidak mengerti mengapa Tiina harus ketakutan dengan tubuhnya sendiri. Bukankah itu wajar jika ada bekas luka akibat tabrakan di bagian tertentu. Ia memang tidak ingat bagaimana tubuh Tiina ketika malam mengerikan itu, tetapi yang paling menyakitkan bagi Berwald dimana Tiina mengatakan dirinya jelek padahal Tiina begitu cantik dan menawan di matanya. Mengapa Tiina tidak sadar bahwa sebenarnya ia tidak jelek, hanya bekas luka tersebut yang mengganggu Tiina.
"Be—Ber," isak Tiina dan menangis. "Aku tidak menarik, lihat bekas luka ini."
"Aku tidak peduli, Tiina," jawab Berwald dingin dan memeluk tubuh mungil Tiina dengan erat. Ia tidak menginginkan kesempurnaan, asalkan itu Tiina—semua terasa cukup bagi Berwald. Ia sudah menyebabkan Tiina seperti ini dan bertanggung jawab karenanya. "Aku ingin memilikimu secepatnya dan merasakanmu."
Berwald mencium leher Tiina dengan lembut, sebagai pembuktian cintanya yang paling dalam terhadap Tiina dan penghargaan yang bisa ia berikan terhadap Tiina. Luapan cinta mendalam terhadap gadis belia seperti Tiina. Tiina layak untuk dilindunginya karena Tiina begitu rapuh tetapi kuat di dalam. Berwald tidak pernah bisa lepas pandangan dari Tiina, segala pikiran selalu tertuju pada Tiina.
"Ber, mengapa?" Tiina bertanya. Tatapan Tiina ke Berwald seperti tatapan yang sendu dan memeluk Berwald erat. "Apa Ber tidak kecewa padaku?"
Berwald tidak menjawab dan membiarkan Tiina merasakan percikan cinta darinya. Agar Tiina tahu betapa Berwald mencintai Tiina apa adanya, tidak peduli dalam keadaan sakit maupun sehat. Di mata Berwald, ia tidak bisa menyebut wanita cantik manapun yang pernah ia kenal. Mengabaikan fakta bahwa Tiina membutuhkan waktu lebih untuk beristirahat lebih banyak dibandingkan melakukan hal semacam ini, ditambah gadis itu baru saja keguguran. Ia akan menggunakan kondom untuk melakukannya agar tidak membahayakan Tiina. Ia membenci benda itu sampai kapanpun, tetapi demi Tiina, ia akan melakukannya.
Pria itu mencium bekas luka yang dimiliki Tiina tanpa adanya rasa jijik. Sebagai tanda bahwa ia mencintai Tiina setulus hati, bukan karena nafsu semata. Bukti bahwa Tiina tetap menarik di matanya. Ia tidak mencintai Tiina hanya karena fisik melainkan karena hati. Hati Tiina yang tulus dan lembut, yang selalu menerima Berwald apa adanya sekalipun Berwald banyak kekurangan yang mungkin tidak bisa ditolerirnya.
Tiina mendesah akan ciuman Berwald di bagian bekas lukanya. Ia tidak bisa menolaknya sama sekali. Semua kata-katanya bagaikan terkunci di hadapan Berwald. Tidak bisa ia katakan mengapa ia menjadi seperti ini. Tidak jijik, melainkan nyaman. Merasa diterima, bukan tertolak. Membiarkan Berwald merebahkan dirinya di dada Tiina dan mengelus rambut pirang Berwald.
"Bolehkah aku memilikimu?" Berwald balik bertanya, meminta persetujuan Tiina untuk melakukan hubungan yang lebih lanjut lagi. "Untuk selamanya?"
Tiina mengerti dengan apa yang dimaksud Berwald, mengangguk dan terus memeluk Berwald dengan erat. Membiarkan Berwald bertindak sesukanya terhadap miliknya. Tiina percaya bahwa pria itu tidak akan menyakitinya.
Mina rakastan sinua, Berwald.
.
.
.
Tiina terlelap dengan keadaan telanjang dan wajahnya terlihat jauh lebih damai dibandingkan dulu, dimana ketika ia terbangun terdengar isak tangis dari Tiina. Dan ketika besok ia terbangun, mungkin ia akan melihat wajah Tiina yang menyambutnya dengan ceria. Memberinya ucapan selamat pagi padanya dan keadaan akan berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Menuju ke jalan yang lebih baik lagi.
Selamat mimpi indah, sayangku. Terima kasih atas malam yang indah dan untukmu juga. Jag alskar dig, Tiina.
TBC
A/N Satu chapter lagi sudah akan tamat. Maaf kalau hasilnya kayak gini. Saya sengaja buang adegan "rumah sakit" itu soalnya kalau saya pikir terlalu jahat. Mending saya cut dan ganti yang lain. Editannya terlalu jauh kayaknya. Anyway, terima kasih bagi yang sudah mendukung fic ini.
