Be My Sweet Darling

APH ©Hidekaz Himaruya

Sweden x fem!Finland

Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).

Note: Alison (nyo-amerika) and Madeline (nyo-canada)

.

.

.

Rasanya nyaman dan hangat, aku tidak ingin melepaskannya.

Ketika ia membuka matanya di pagi-pagi buta, ia mendapati dirinya berada di dalam dekapan lengan kokoh Berwald yang menjaganya semalaman. Mendapati bahwa dirinya sudah mengenakan piyama dan celana dalam, mengingat semalam ia dan Berwald memadu kasih.

AC di kamar hotel tersebut sangat dingin tetapi ia merasakan panas yang amat sangat. Dan mungkin itu disebabkan karena kegiatan semalam mereka.

Hatinya terasa lebih lega setelah Berwald mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Pria itu tidak mempermasalahkan bekas luka yang berada di tubuhnya tetapi pria itu semakin protektif untuk menjaga Tiina.

Ia justru mempermasalahkan mengapa Tiina harus merasa bersalah dengan apa yang bukan menjadi salahnya. Merasa bersalah tentang apa yang terjadi pada tubuh Tiina sehingga ia menyentuh Tiina dengan hati-hati. Berkali-kali terucap kata-kata di bibir dinginnya bahwa ia tidak perlu merasa seperti ini, bahwa Berwald mencintainya apa adanya. Tidak peduli apakah Tiina cantik ataupun jelek.

Malam itu adalah untuk kedua kalinya mereka melakukan hal terlarang tersebut tetapi ada perbedaan yang signifikan. Pertama kali, ia tidak dapat menikmatinya karena ia merasa takut pada Berwald. Untuk kedua kalinya, ia tidak merasa takut pada Berwald.

Ia sulit menjelaskan mengapa ia tidak takut terhadap Berwald. Permainan Berwald sama sekali tidak kasar, malah lembut sehingga Tiina mendesah kegelian dan tidak menimbulkan rasa sakit padahal ia baru saja keguguran kurang lebih sebulan yang lalu. Berwald memperlakukan Tiina seolah-olah ia adalah barang yang mudah pecah. Bukan itu saja, pria itu melindunginya dengan menggunakan kondom padahal pria itu sempat mengaku padanya bahwa ia sangat membenci kondom. Takut terjadi apa-apa dengan Tiina.

Melihat wajah Berwald yang sedang tertidur, mau tak mau ia merasa geli. Berwald sudah berusia empat puluh tahun pada tahun ini dan wajahnya tidak terlihat seperti pria tua, lebih mirip pria berusia tiga puluh tahun awal. Tetap tampan seperti pria yang jauh lebih muda darinya. Orang bisa mengira bahwa Berwald berusia dua puluh akhir. Matthias pernah berkata padanya bahwa hampir setiap hari banyak wanita cantik yang mengejar-ngejarnya tetapi dengan kasar Berwald menolaknya.

Dulu ia merasa cemburu pada wanita-wanita itu setengah mati tetapi sekarang Tiina hanya bisa tertawa setiap mengingat hal itu karena demi Tiina, Berwald sampai mengaku bahwa dirinya adalah gay agar wanita-wanita tersebut tidak mengejar-ngejarnya lagi.

Ia tidak perlu melakukannya lagi karena ia adalah wanitanya. Ia bukan anak kecil lagi, sebentar lagi ia berusia tujuh belas tahun dan setahun lagi ia benar-benar menjadi gadis dewasa. Ia milik Berwald seutuhnya.

Ingin segera dewasa agar ia pantas mendampingi Berwald. Tidak akan menganggap ia hanyalah anak kecil semata. Ia sudah bisa mengimbangi Berwald dengan wanita dewasa lainnya.

"Ber," panggil Tiina lembut dan memegang rambut pendek pirang Berwald. Mencium bibir pria itu dengan lembut. "Selamat pagi."

Berwald belum terbangun dari tempat tidurnya, barangkali ia lelah karena menjaga Tiina selama ini . Untuk beberapa minggu sebelumnya memang Berwald bekerja terlalu keras hanya untuk dirinya dan mungkin untuk Svea-nya tercinta.

Svea, ia selalu memikirkannya nyaris setiap hari. Ia tidak pernah bisa berhenti mengingatnya dan untuk melupakannya saja ia sama sekali tidak akan sanggup. Berwald dan Svea, dua orang yang sangat Tiina cintai selama hidupnya. Mereka berdua adalah jiwanya dan cintanya yang paling dalam. Svea adalah nyawanya dan Berwald adalah pelindungnya. Svea berkata padanya bahwa suatu saat ia akan kembali sebagai anaknya beberapa tahun mendatang.

Wajah Berwald terlihat bahagia dan Tiina tidak tahu karena apa. Ia berharap untuk seterusnya tidak ada masalah seperti ini lagi dimana ia dan Berwald salah paham.

Berwald terbangun beberapa lama kemudian dan mendapati Tiina terus memandangi wajahnya dengan tatapan bahagia. Tidak ada kesedihan di wajahnya seperti beberapa waktu yang lalu. "Kau sudah bangun?" tanya Berwald lembut, mengelus rambut Tiina dan membiarkan Tiina bersandar di dadanya. "Bagaimana tidurmu?"

Tiina tidak menjawab dan memegang tangan Berwald dengan penuh kelembutan. Ia tidak ingin mengatakan betapa ia merasa bahagia merasakan adanya Berwald di sampingnya untuk menjaganya. Tubuh pria itu sangat hangat sekali dan merasa terlindungi. Ia tidak bisa mengelak bahwa ia sangat senang ketika terbangun, mendapati bahwa ia dilindungi oleh lengan kokoh Berwald yang menjaganya. Ia bisa merasakan detak jantung Berwald yang berdetak sangat kencang.

"Kau tidak ingin makan?" Berwald menawarkan. "Sudah pukul lima pagi."

Tiina menggeleng pelan dan tersenyum, memeluk Berwald dengan mesra . "Aku ingin lebih lama bersamamu, moi. Aku..."

Belum selesai Tiina menyelesaikan perkataannya, bibirnya sudah dibungkam oleh Berwald. Lembut dan manis seperti pada awal-awal ciuman pertama mereka. Ketika Tiina masih kecil dan teringat dimana Berwald pernah mencium bibirnya ketika ia masih kecil. Lama kelamaan, ciuman mereka semakin memanas dan lidah Berwald membuka paksa mulut Tiina untuk bertemu dengan lidah Tiina. Tiina melenguh pelan ketika Berwald mulai memainkan lidahnya. Gairah yang semalam padam karena Tiina merasa lelah kini bangkit kembali. Berwald sangat senang mengklaim bibir Tiina sebagai miliknya. Pria itu tidak perlu takut jika ia membuat Tiina takut karena ia tahu bagaimana perasaan Tiina sekarang dan ia tidak mungkin memaksa jika Tiina tidak ingin melakukannya.

"Kau bilang apa?" pancing Berwald dan ia masih terus mencium Tiina dengan segenap gairah yang ia miliki. "Katakan jika ya!"

"Aku merasa panas, jika sedang bersamamu," Tiina mendesah, masih berusaha mengikuti permainan lidah Berwald. "Ini semua serba pertama kali walau ini adalah ketiga kalinya."

Berwald melepaskan lidahnya dari lidah Tiina, saliva mereka tertumpah di tempat tidurnya. Sejak Tiina berada di tempat tidur bersamanya, ia selalu merasa kepanasan setiap saat sekalipun AC di kamar hotel ini sangat dingin. Tiina membuatnya panas dan mengobarkan gairahnya. Hanya Tiina satu-satunya wanita yang membuatnya tertarik.

Ia teringat di kopernya ada satu gaun putih terbaik yang ia beli ketika Tiina sedang berada di rumah sakit. Gaun itu harganya sangat mahal dan di luar dugaan. Model gaun itu sederhana tetapi ia merasa bahwa jika Tiina yang mengenakan gaun itu akan terlihat sangat cantik. Apa yang dilakukannya pagi ini membuat Berwald memiliki niatan yang lain.

Memberikan gaun itu kepada Tiina lalu menonton Tiina sedang mengganti bajunya dengan gaun itu atau ia yang memakaikannya. Membayangkan hal itu saja sudah cukup membuat gairahnya berkobar lebih dalam lagi. Tiina sangat cantik ketika memakai baju apa saja sekalipun tanpa busana.

"Bilang lagi atau aku akan menyerangmu saat tidur," geram Berwald, menahan rasa malu. "Aku akan melayanimu."

"Kau mulai lagi, Ber," Tiina mengeluh kelelahan akibat ciuman kasar Berwald. "Kau terlalu sayang padaku, Ber."

Sebanyak apapun kasih sayang yang Tiina minta, Berwald bersedia memberikannya hanya untuk Tiina seorang. Karena ia tercipta hanya untuk Tiina seorang. Ia tidak merasa rugi ketika memberikan itu semua pada Tiina asalkan Tiina juga membalas cintanya dan gadis itu tidak takut kepadanya, itu semua sudah lebih dari cukup.

Pagi ini, ia akan bersenang-senang dengan Tiina sebelum makan pagi. Bercinta di pagi hari seperti ini bukankah jauh lebih menyenangkan dibanding ketika di malam hari? Sebelum ia benar-benar berangkat ke San Antonio untuk menghadiri konvensi dunia pada siang nanti.

.

.

.

"Mengapa Ber mau pergi lagi?" tanya Tiina dengan nada sedih dan memeluk Berwald dengan erat bagaikan anak anjing yang kehilangan tuannya. "Kok aku baru tahu soal itu?"

Berwald mencium Tiina lembut, berjanji bahwa ia akan segera kembali secepat yang ia bisa. Konvensi sialan, mengganggu acara orang saja. Tidak tahukah bahwa Tiina-nya membutuhkan waktu perawatan. Ia ingin Tiina ikut tetapi kasihan Tiina, kakinya masih sakit. "Beberapa hari lagi aku kembali."

Siang hari, Berwald meninggalkan Tiina sendirian di kamar hotel karena ia harus mengikuti konvensi di kota sebelah untuk beberapa hari. Sebagai gantinya, Halldora dan Alison menemaninya di kamar hotel. Alison menemaninya untuk berjalan-jalan sedangkan Halldora memaksa Tiina untuk menggunakan tongkat besinya selama Berwald tidak ada.

"Kalau tidak dipakai, kapan kau bisa jalan!" gerutu Halldora jengkel ketika Tiina bilang lebih memilih kursi roda saja. Lebih tepatnya ia bukan menyalahkan Tiina, melainkan ia menyalahkan Berwald. Pasti Berwald memanjakan Tiina setengah mati hingga gadis itu seperti ini. Matthias bercerita kepadanya bahwa Berwald sering menggendong Tiina dengan alasan takut terjadi apa-apa dengan Tiina. Dalam hati Halldora tertawa terbahak-bahak, wajah boleh seram tetapi hati bagai Mickey Mouse.

Tiina menggerutu, tidak bisakah Halldora tidak terlalu keras padanya. Bukan maunya ia tidak berjalan, tetapi Berwald yang melarangnya. "Iya, aku akan melakukannya, moi."

"Aku saja yang sedang mengandung tidak seperti itu, boro-boro diperhatikan!" gerutu Halldora kesal, teringat Matthias yang bukannya bertobat mengusili Halldora melainkan tambah jadi begitu tahu Halldora berbadan dua. "Matthias kambing sialan."

Lebih tepatnya, ia sebal melihat Tiina yang begitu diperhatikan oleh Berwald. Padahal suami istri saja belum. Sedangkan Matthias, mungkin memang ia memperhatikan Halldora tetapi alih-alih membuat Halldora terharu, ia malah ingin muntah.

Tiina terkikik geli sehingga membuat Halldora malu mengapa ia mengatakan hal semacam itu. "Anak pertama, ya? Kapan nikahnya? Kok aku nggak diundang?"

Halldora makin jengkel mendengar pertanyaan Tiina yang tampak polos seperti itu. Mana Tiina tahu tentang pernikahannya dengan Matthias, Tiina saja kabur dari rumah hanya karena patah hati dan sekarang ia malah mesra-mesraan dengan pria yang membuatnya patah hati. "Tentu saja, kaukira anak keberapa? Keseratus?"

Mendengar jawaban Halldora, mendadak Tiina menjadi murung. Halldora tampak bahagia dengan anak pertamanya dan Matthias juga senang. Sedangkan ia, kehilangan anak pertama dari Berwald. Dadanya terasa sesak sekarang. Ia merindukan pria itu berada di sisinya padahal Berwald berkata hanya untuk beberapa hari saja dan tidak lama. Pria itu pasti akan kembali ke sisinya, tidak mungkin tidak.

"Tiina, kenapa?" Halldora bertanya dengan cemas setelah melihat perubahan mendadak Tiina dan ia merasa bersalah dengan sarkasme yang ia lontarkan terhadap gadis itu. "Ada sesuatukah?"

Tiina menghela nafas panjang, menatap Halldora dengan tatapan sendu. "Aku jadi ingin punya anak, anak dari orang yang kucintai. Aku ingin anak perempuan."

Kini giliran Halldora yang terdiam, sorot mata Tiina mengandung kesedihan mendalam. Gadis itu biasanya selalu ceria dan mengundang tawa tetapi sekarang ia terlihat sedih. Ia mendengar bahwa Tiina mengandung anak Berwald dan tak berapa lama anak itu keguguran akibat tabrakan sebulan yang lalu. Tiina menginginkan anak sejak dulu dan anak itu harus gugur dengan cara yang tragis. Dalam hati Halldora membatin, pria macam apa yang tega merusak gadis semuda Tiina.

Ia tidak mau berkata apa-apa pada Tiina, tidak ingin membuat gadis itu salah paham lagi. Membuat Halldora berpikir bahwa Berwald mencintai Tiina setengah mati, bahkan terobsesi terhadapnya. Ia membayangkan bahwa Tiina menghabiskan setiap malamnya untuk Berwald dan menyerahkan segalanya.

Begitu juga dengan Tiina, ia berada di dalam dunianya sendiri. Ia masih merasakan dekapan Berwald di tubuhnya. Ciuman manis di pagi hari semua terekam di otaknya. Ia sudah bukan anak perawan lagi, tetapi ia merasa bahwa ia tidak ubahnya seperti gadis yang tidak mengenal gairah pria. Ia selalu kalah setiap berhadapan dengan Berwald. Menikmati permainan pria itu.

Agar Tiina tidak merasa kesepian, Alison mengajak Tiina jalan-jalan ke kota Los Angeles dengan berjalan kaki agar Tiina tidak bosan berada di dalam kamar hotel terus menerus. Selain itu juga, untuk membantu Tiina berjalan secara perlahan-lahan. Sengaja ia tidak menggunakan mobilnya untuk menemani Tiina.

"Bagus, Tiina! Tidak usah terlalu tegang!" Alison menyemangati Tiina. "Santai saja, rileks. Pasti lama kelamaan akan sembuh dengan sendirinya."

Tiina berjalan dengan menggunakan tongkat penyangga secara perlahan-lahan. Hati-hati agar ia tidak terlalu kesakitan. "Terima kasih, Alison. Anda sangat baik."

Alison mengajak Tiina ke butik ternama di sekitar jalan Los Angeles. Menurut Alison, sangat tidak seru jika ke Los Angeles tanpa mengunjungi butik-butik ternama di sana. Ia melihat di salah satu butik ada gaun putih yang amat sangat cantik. Membayangkan jika ia memakai gaun itu di hari pernikahannya.

Putih dan elegan dengan bunga mawar merah muda yang begitu cantik.

"Gaun itu sangat cantik!" puji Alison dengan wajah berbinar-binar. "Aku ingin memakainya di hari pernikahan nanti bersama Artie."

Tiina malu, tidak tahu harus berkata apa. Alison tentu jauh lebih dewasa darinya dan pantas bahwa ia berpikir seperti itu, sedangkan ia cukup umur saja belum sama sekali.

Apa yang kau pikirkan, Tiina?

.

.

.

Malam hari, Tiina sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Kasur yang ia tempati terasa luas tanpa Berwald di sampingnya. Udara di kamar itu terasa dingin sekarang hingga menusuk ke tulangnya.

Kesepian, ia sekarang melepas bajunya hingga tidak ada sedikitpun benang yang tersisa di tubuhnya. Berharap Berwald akan segera datang dan memeluknya erat seperti sebelumnya. Memadu cinta yang begitu menggairahkan dan nikmat.

Tak berapa lama, Tiina sudah tertidur pulas dan memimpikan Berwald berada di sampingnya. Mimpi yang sudah menjadi kenyataan untuknya. Tidak akan pernah bisa hilang begitu saja.

Dan pagi-pagi buta, Tiina tidak sadar bahwa ada seseorang berada di sampingnya yang memeluk tubuhnya dengan erat. Menciuminya dengan penuh gairah mendalam. Gairah yang selalu dirasakan gadis itu untuk selamanya.

TBC


A/N Maaf saya nggak nepatin janji buat namatin di chapter ini. Pasti terlalu panjang jadinya jika saya tamatin sekarang. Saya nggak bisa janji mau namatin chapter depan. Sepertinya omongan saya benar bahwa fic ini bakal lama tamatnya TTTT padahal pas sebelum di edit aja ga sepanjang dan melebar keana-mana kayak gini. Ya sudahlah, sampai ketemu di chapter 8 (gila udah chapter 8). Concrit please and no flame~