Be My Sweet Darling

APH ©Hidekaz Himaruya

Sweden x fem!Finland

Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read. Editan dari fic di akun lama (tebak saja sendiri siapa saya).

Note: Alison (nyo-amerika) and Madeline (nyo-canada)

.

.

.

Berwald pulang ke Los Angeles dengan perasaan tidak menentu. Baru empat hari saja, ia sudah merasa rindu dengan Tiina dan ingin segera memeluk tubuh mungilnya. Empat hari di San Antonio baginya merupakan hari yang terberat karena ia tidak bisa bertemu dengan Tiina. Sebenarnya, ia ingin mengajak Tiina ikut bersamanya ke San Antonio. Mengingat keadaan Tiina masih belum terlalu baik, ia terpaksa menahan keinginannya dan membiarkan Tiina dititipkan oleh Jones bersaudara maupun suami istri Densen walau ia sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada Tiina.

Orang melihat Berwald sebagai sosok yang dingin dan tidak peduli, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tetapi tidak ada yang tahu isi hati Berwald untuk saat ini.

Ya, bisa dibilang ia sangat bahagia. Ia akan bertemu dengan Tiina lagi dalam hitungan jam lagi dan memeluknya erat. Memandang wajah polosnya serta kelembutannya yang tiada tara. Selama ia berada di pesawat, ia membayangkan bagaimana ketika ia bercinta dengan Tiina. Mengecap bibir manisnya serta percintaan yang mereka lakukan pada malam itu.

Ia sudah tidak mempunyai anak lagi, anak itu sudah hilang dari kehidupannya dan anak itu adalah calon istrinya. Wanita yang paling ia cintai seumur hidupnya sampai kapanpun juga.

Ia membawa banyak barang untuk dihadiahkan kepada Tiina. Masing-masing satu boneka Moomins berwarna hitam dan putih ukuran besar, dengan bendera Swedia serta kacamata untuk Moomins hitam dan bendera Finlandia untuk Moomins putih. Bendera tersebut berbentuk kalung di lehernya. Tidak hanya itu saja, bahkan Berwald membelikan satu boneka Moomins berwarna abu-abu tetapi ukurannya sangat kecil dan di lehernya diikat pita bermotif bendera Swedia dan Finlandia. Pita di sisi kiri adalah bendera Swedia dan di sebelah kanan adalah bendera Finlandia.

Hadiah untuk Tiina-nya. Perlambang bahwa ia menginginkan anak darinya.

Benda itu ditemukan di toko mainan terkenal di San Antonio, toko yang menjual barang-barang impor dengan kualitas terbaik. Ketika melihat boneka Moomins di etalase dan disusun membentuk keluarga, ia teringat akan sesuatu yang selama ini ia dambakan. Tanpa pikir panjang, ia langsung membelinya tanpa peduli betapa mahal harga boneka tersebut.

Tidak hanya itu saja, ia juga membelikan Tiina satu set kamisol transparan. Bayangannya adalah Tiina akan cantik bila mengenakan benda tersebut. Mungkin membelikan Tiina benda semacam ini hanya akan mempermalukannya karena Tiina merasa rendah diri akan bekas lukanya, akibat kecelakaan satu bulan lalu.

Tetapi, hanya Berwald yang tahu mengapa ia membelikan benda semacam itu. Ia tidak bermaksud mempermalukan Tiina. Hanya ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa ia mencintai Tiina apa adanya, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Ia tidak peduli akan hal itu asalkan Tiina bisa hidup lebih lama bersamanya. Baginya kenangan bersama Tiina selama sepuluh tahun lebih baik dibandingkan seratus tahun bersama orang lain. Ia tidak akan pernah bisa memandang wanita lain manapun sejak kehadiran Tiina di sisinya.

Tiina adalah bunga yang selalu mekar di dalam hatinya. Tidak akan pernah bisa ia menghilangkan perasaan cintanya terhadap gadis itu.

Ia juga membeli beberapa kotak kondom untuk ia gunakan bersama Tiina. Demi Tiina, apapun akan ia lakukan untuknya sekalipun ia harus menahan rasa bencinya terhadap benda tersebut yang ia anggap menganggu kenikmatannya. Ia siap jika ia memiliki anak lagi tetapi ia juga memperhatikan keadaan Tiina.

Selama sisa waktu yang ada, ia habiskan untuk mencari tempat lokasi pernikahan mereka berdua sekaligus tempat bulan madu di laptopnya. Sesampainya di hotel, ia akan mengatakan pada Tiina apakah gadis itu mau menjadi istrinya atau tidak?

Terlebih lagi karena omongan Matthias, seusai konvensi akbar tersebut.

"Kalau kau biarkan Tiina berada di hotel bersamamu selama seharian penuh, terlihat seperti om-om hidung belang mesum," ejek Matthias. "Apalagi dia pernah mengandung anakmu. Kalau kau mencintainya mengapa tidak kau dapatkan saja dia!"

"Mendapatkan?" tanya Berwald dengan wajah bingung mendengar perkataan Matthias yang seolah-olah menekankan bahwa ia adalah pria paling mesum di Eropa Utara.

Matthias nyengir jahat dan memukul pelan perut Berwald. "Kau tahu kan? Jadikan dia istrimu. Toh ia akan menjawab ya. Karena ia mencintaimu setengah mati."

Pukul dua belas malam, ia sudah sampai ke Los Angeles dan ia langsung berangkat menuju hotel dimana mereka menginap selama seminggu belakangan ini. Dengan langkah secepat kilat, ia masuk ke kamar dan beruntung Tiina tidak mengunci kamarnya. Dengan hati-hati ia menyalakan lampunya dan mendapati Tiina tertidur tanpa pakaian dalam sedikitpun.

Tahan nafsumu, Berwald. Jangan menyerangnya dengan tiba-tiba, nanti Tiina ketakutan setengah mati.

Mata tajam pria itu berpaling ke arah lain dan berjalan ke arah ruang makan. Menaruh boneka Moomins itu dengan rapi serta menaruh surat cinta yang akan ia berikan kepada Tiina besok pagi. Serta satu kotak berwarna pink yang berisi gaun putih dan cincin bermata safir untuk Tiina. Mengenai kamisol transparan, ia akan memberikannya langsung kepada Tiina. Biarkan Tiina yang memakainya sendiri.

Tak lama kemudian, Berwald kembali ke tempatnya semula, melepaskan pakaiannya sendiri dan melemparkan pakaian tersebut ke arah lain. Tak lupa ia memakai kondom agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh Tiina. Mempunyai anak lagi dari Tiina tentu merupakan ide bagus tetapi tidak begitu bagus jika Tiina tidak menginginkannya.

Dan jika dipikir, percuma saja ia menyewa kamar hotel yang berisi dua tempat tidur karena Tiina tidak mau lepas darinya. Mau tidak mau, ia merasa kehilangan Svea lebih dari sebelumnya. Jika karena bukan Svea, mungkin Tiina tidak akan seperti ini dan Berwald akan menghabiskan kesendiriannya lebih dalam lagi.

Pelan ia mematikan lampunya dan mendekati tempat tidur Tiina. Membelai rambutnya perlahan-lahan. Menciumi Tiina dengan penuh gairah mendalam dan kerinduan yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata-katanya sendiri. Pasti ia kesepian, gumam Berwald gelisah. Mata Tiina terlihat bengkak dan mungkin ia menangis seharian. Ia berharap untuk terakhir kalinya ia melukai Tiina.

"Tiina, buka matamu!" panggil Berwald dengan nada cemas, tidak tajam seperti biasanya. Menyentuh dada Tiina pelan dan memeluknya erat. "Aku di sini!"

Tiina bergulung di tempat tidurnya dan menggeliat pelan ketika Berwald menyentuhnya. Tangan itu lembut dan terasa hangat di tubuh Tiina. Ia merasakan bahwa sentuhan Berwald hanyalah mimpi semata dan berharap ia tidak bangun untuk sekarang ini.

"Berr—aku tidak ingin bangun sekarang," Tiina mendesah pelan dan membalikkan badannya ke arah lain. "Kalau aku bangun, aku akan kembali ke kenyataan. Dimana sebenarnya Ber masih lama kembalinya."

Ternyata benar, Tiina merasa kesepian tanpaku di sisinya. Aku jadi merasa bersalah meninggalkan Tiina dengan keadaan seperti ini.

Berwald mencari akal agar Tiina dapat terbangun dari tempat tidurnya. Ia teringat ada permen mint di sakunya tadi dan ia mengambil permen itu lalu memakannya, mengemutnya untuk beberapa lama. Memaksa Tiina untuk membuka mulutnya dengan jarinya dan memasukan permen tersebut ke mulut Tiina.

Tiina mengerang, merasakan sensasi mint di mulutnya yang begitu memabukkan dan matanya terbuka pelan-pelan, mendapati Berwald berada di samping tempat tidurnya. Matanya berubah menjadi lebih bersinar dari sebelumnya. Rasa bahagia yang Tiina rasakan sama sekali tidak terbendung. Ia merindukan pria itu setengah mati dan rasanya seperti mimpi saja.

"Ber.. kau sudah pulang?" tanya Tiina dan memeluk Berwald dengan erat. "Aku tidak percaya kau pulang secepat ini—aku.."

Kata-kata Tiina terputus, air matanya mengalir lagi. Teringat oleh perkataan Halldora ketika siang. Tidak mengerti mengapa perasaan itu lagi-lagi muncul begitu saja tanpa adanya peringatan dari yang bersangkutan. Hatinya begitu perih, selalu terpikir akan anaknya yang gugur. Seharusnya ia tidak perlu mencemaskan soal itu lagi, Svea sudah aman di sana. Tetapi tetap saja, ia tidak bisa mengindahkan perasaan seperti itu. Selalu terbayang akan Svea. Bayi pertamanya, tentu saja.

Berwald membalas pelukannya dan mencium pelupuk matanya. Sayang jika ia melihat gadis yang dicintainya menangis seperti ini. Seolah-olah ia menyia-nyiakannya begitu saja. "Ssh, aku berada di sini sekarang."

"Peluk aku lebih erat, Ber," Tiina bergumam lemah dan membenamkan kepalanya ke bahu Berwald. Bahu Berwald begitu keras dan memberikan rasa aman bagi Tiina. Ia menumpahkan air matanya di sana dengan isakan kecil. "Aku ingin terus berada di sisimu untuk selamanya."

"Tiina.."

"Aku mohon, Ber! Aku—"

"Ada apa, Tiina?" Berwald bertanya pelan dan memegang bahu Tiina. "Katakan jika ada sesuatu yang menganggumu!"

Ia tidak berani memandang Berwald, ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Berwald. Soal tadi siang. Ia tidak yakin apakah Berwald akan mendengarkannya sekarang. Kalaupun ia ucapkan hal ini, bukankah akan terdengar konyol di telinganya. Apakah tidak aneh jika ia berkata bahwa ia menginginkan seorang anak darinya? Apalagi ia adalah perempuan dan tidak ada ikatan apa-apa dengan Berwald.

Kecuali jika Berwald menginginkan hubungan yang lebih permanen dengan Tiina.

"Kau memikirkan bayi kita," ucap Berwald tanpa sadar, meraih salah satu tangan Tiina dan menciumnya lembut. Insting seorang ayah, ia sadar mengapa Tiina menangis seharian. Mungkin Tiina teringat kesendiriannya ketika gadis itu kabur dari rumah tanpa ada yang menemaninya.

Tiina kaget dan melepaskan tangannya yang dicium Berwald barusan. "A—ah. Aku tidak—maksudku bukan seperti itu," jawabnya gugup. "Bukan masalah itu."

Pria itu menghela nafas panjang dan mendorong Tiina ke tempat tidurnya dengan sedikit kasar. Menyalakan lampu kecil yang berada di dekat tempat tidur mereka berdua dan mengecup bibir Tiina lembut. "Katakan padaku ada apa?"

"Aku tidak apa-apa," Tiina menjawab gugup, matanya memandang ke arah yang lain. "Sungguh aku tidak apa-apa."

Ia tidak boleh membuat Berwald cemas kepadanya mengenai hal ini, ini adalah urusannya dan bukan urusan Berwald. Berwald tidak akan mengerti, karena Svea hidup lebih lama bersamanya dibandingkan dengan Berwald. Pria itu tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit ketika kehilangan anaknya untuk seumur hidupnya. Bagi kebanyakan wanita, jika ia keguguran maka itu akan dianggap gagal dan Tiina salah satu dari orang yang gagal tersebut.

"Boleh aku berkata sesuatu?" tanya Berwald dan menatap Tiina dalam-dalam, sedikitpun ia tidak berani melepaskan pandangannya kepada Tiina. Tak sanggup membiarkan Tiina yang sedang sedih merasa terabaikan. Selama ini, ia sering membuat Tiina merasa sedih karena ketidakpekaan Berwald. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak masalah yang ia perbuat pada mantan anak tirinya ini. Mulai dari hal kecil dan hal besar. Ia sudah terlalu banyak menerima cinta dari Tiina hingga ia merasa penuh bahkan tumpah.

Dan sekarang saatnya ia yang memberikan semua cinta itu kepada Tiina.

Gadis itu melenguh pelan dan terisak lemah. Ia tidak tahu apa niatan Berwald setelah ini tetapi ia tahu mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakannya dan itu merupakan sesuatu yang penting baginya maupun bagi Tiina ke depan. "Apa?"

"Aku ingin anak darimu."

Tiina terdiam dan tidak berani menjawab perkataan Berwald. Mulutnya seolah-olah terkunci dan pandangan sekitarnya menjadi kabur. Tahu-tahu Berwald sudah menempelkan bibirnya di leher Tiina dan memberikan gigitan kecil. Tiina memang sangat polos, batin Berwald dalam hati. Meskipun Tiina sudah tidak memiliki keperawanannya lagi karena ulahnya, ia merasa sudah memiliki Tiina dan memonopolinya.

"Be—Ber, ini sudah malam!" Tiina mendesah panjang, nadanya terdengar gugup. "Nanti ada orang masuk ke dalam."

Tidak akan ada yang datang ke sini, pikir Berwald logis. Tiina hanya terlalu gugup. Ia terus mencicipi tubuh Tiina perlahan-lahan hingga gadis itu nyaris menjerit karenanya. Ia tidak mau memaksa Tiina dan ia akan melakukannya selembut mungkin. Sekarang pria itu menyesal karena menggunakan kondom tersebut, diam-diam ia melepaskan benda tersebut dan melemparkannya ke arah lain.

"Tiina, izinkan aku melakukannya," bisik Berwald di telinga Tiina sambil menempelkan bibirnya hingga Tiina mendesah kegelian. "Aku ingin menanamkan benihku di rahimmu."

Sejak kapan Berwald bicara seperti ini. Berwald sekarang lebih sering bertindak sebagai suami atau kekasih dibandingkan bersikap seperti seorang ayah. Sepertinya Berwald jauh lebih sering menganggap Tiina sebagai miliknya dan mengekangnya belakangan ini, tetapi sikap Berwald sekarang ini—

—membuat Tiina kebingungan dan penasaran.

"Ber, apa ini tidak terlalu cepat?" Tiina berkata dan memegang kepala Berwald. "Seingatku kau selalu menganggapku anak kecil, Ber. Mengapa tiba-tiba?"

Berwald terkejut dan melepaskan Tiina pelan. Ia sama sekali sudah lupa bahwa Tiina masih di bawah umur dan mengabaikan fakta itu. Terlena dengan cintanya terhadap Tiina dan membutakan rasionya. Tidak peduli dengan apa resikonya asalkan Tiina terus menjadi miliknya. Lagi pula, jika ia menginginkan anak dari Tiina mengapa ia harus mengenakan kondom yang notabene benda sialan itu.

Baginya Tiina sudah bukan anak kecil lagi. Ia adalah gadis dewasa sekarang.

Tubuh mungil Tiina begitu rapuh dan ia tidak berani melepaskannya begitu saja. Ia berbaring dan membiarkan dada telanjangnya menjadi sandaran Tiina.

"Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa," jawab Berwald dingin dan memeluk Tiina dengan erat. "Maafkan aku!"

Tiina tersenyum simpul dan membalas pelukannya. Ketika ia tidur, ia memimpikan Berwald ada di sisinya dan begitu ia terbangun mendapati Berwald berada di sisinya. Ketika tersadar, Berwald menyergapnya dengan Tiina sebagai sasaran empuk utama pria itu. Lelah sekaligus menyenangkan dan nikmat. Nyaris seminggu lamanya mereka berpisah, hanya satu tujuan yang dituju pria itu yaitu ranjang besar dengan Tiina yang ada di sana.

Dan yang terpenting adalah Berwald memahami perasaannya betapa Tiina menginginkan anak. Kembali Tiina memandang mata Berwald dan pandangan mereka beradu. Berwald menyentuh dagu Tiina dan mengecupnya, terkoyak akan kepedihan yang merambati wajah Tiina. Setiap melihat Tiina sekarang ini, Berwald selalu dihantui perasaan bersalah yang amat sangat. Terutama ketika perkosaan itu terjadi.

Tiina tampak seperti rusa tercengang, selalu setiap mereka berdua bercinta. Ini adalah yang keempat kalinya ia melakukannya. Anehnya ia selalu gemetaran setiap melakukannya bersama Berwald. Ia mulai merasa lelah dan mengantuk padahal Berwald belum sempat menyerangnya.

"Ber, aku ngantuk," Tiina berkata pelan. "Biarkan aku tidur, hari ini terlalu melelahkan."

"Mengapa?"

Tiina menjentikkan hidungnya. "Aku rindu padamu dan Halldora tidak berhenti memarahiku karena kau selalu menggendongku. Aku sudah bisa jalan," ucapnya dan ia tertidur. "Aku mencintaimu."

Aku juga, Tiina. Berwald teringat dengan benda-benda yang akan ia gunakan untuk melamar Tiina keesokan harinya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil satu kantong belanja yang berisi kamisol transparan merah dan celana dalam transparan berwarna merah. Dengan perlahan Berwald memakaikan benda tersebut ke tubuh Tiina dan tidak henti-hentinya mata memandang ke tubuh Tiina yang terdapat bekas luka. Bekas luka itu akan hilang suatu saat, sudah tidak separah minggu lalu. Sekalipun membekas, itu tidak akan mempengaruhi Berwald sama sekali.

"Sebaiknya aku memikirkan sesuatu," gumam Berwald samar-samar dan membaringkan Tiina yang sudah mulai terlelap dengan pakaian dalam pemberian Berwald. "Mungkin bulan madu."

You're will be my moominmamma and I'm your moominpappa.

TBC


A/N Satu chapter lagi pasti bakalan tamat. Gw udah ada gambaran untuk chapter lanjutannya. Maaf kalau saya undur tamatnya kapan. Kalau cepat-cepat gw nggak sreg sama sekali. Sama satu chapter tambahan untuk fic ini.

Dan fic saya yang di akun lama sudah benar-benar saya hapus total. Maaf~

Review please but no flame :)