Be My Sweet Darling

APH ©Hidekaz Himaruya

Sweden x fem!Finland

Warning: smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent. Don't like don't read.

.

.

.

Ketika Tiina terbangun dari tempat tidurnya, ia mendapati dirinya mengenakan kamisol transparan berwarna merah dan celana dalam berenda. Ia merasa malu dengan tubuhnya sendiri dan dengan penampilan seperti ini ia merasa seperti sedang ditelanjangi dengan seseorang. Kamisol tersebut mengekspos payudaranya yang masih berkembang dan kakinya yang jenjang. Tiina berpikir siapa yang semalam memakaikan baju semacam ini, ia sama sekali tidak menyadarinya karena semalam ia sudah tertidur dengan lelap.

Dan pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa di kamarnya terdapat bunga mawar merah di sekeliling tempat tidurnya. Ditambah wewangian erotis di kamarnya. Ia merasa seolah-olah sedang berada di hotel cinta, bukan hotel bintang lima.

"Kamu sudah bangun, Tiina?" bisik Berwald di telinganya dan memeluk gadis itu erat hingga gadis itu sesak. "Suka?"

Tiina kaget dan menutupi tubuhnya dengan selimut, wajahnya merah padam mendengar perkataan Berwald. "A—apa yang kau lakukan padaku?"

Berwald tidak menjawab pertanyaan Tiina dan memberikan Tiina senyuman yang sama sekali tidak pernah ditunjukkannya. "Kau manis."

"BER!" sergah Tiina malu. "Jangan bilang semalam kau yang memakaikanku pakaian seperti ini!"

"Ya!" balasnya dengan nada datar, matanya memandang ke arah lain seolah-olah ia sedang merencanakan sesuatu untuk Tiina. "Memang kenapa?

Tiina mencubit pipi Berwald dengan gemas. Pria itu memang dingin dan terkadang menyebalkan, tetapi ia tidak menyangka pria itu mampu bersikap erotis seperti ini. "Aku bisa memakai pakaianku sendiri. Kau tidak perlu memakaikanku pakaian seperti ini!"

Perkataan Tiina tentu saja tidak akan ia realisasikan, Tiina adalah kekasihnya dan Tiina miliknya. Dalam keadaan seperti ini, sangat mendukung untuk bercinta di pagi hari sebelum ia menjalankan rencana selanjutnya. Melamar gadis itu, tentu saja.

"Seharian pakai terus baju itu!" perintah Berwald, menunjuk kamisol yang dikenakan Tiina. "Sampai aku memberimu aba-aba."

Wajah Tiina merah padam, hari ini Berwald begitu usil kepadanya. Mulai membuat tempat tidurnya seolah-olah ia sedang berada di hotel cinta, berpenampilan seksi seperti ini dan yang lebih parah adalah menyuruhnya berpenampilan seperti ini sepanjang hari. Mungkin saja pria itu akan mengeksekusinya sepanjang hari hingga ia kelelahan setengah mati.

"Aku masih anak-anak, Ber!" seru Tiina malu, mencari-cari alasan agar ia terbebas dari pakaian semacam ini. Ia ngeri membayangkan jika ada tamu berkunjung dan mendapatinya sedang berpakaian seperti ini. Habislah sudah ia akan ditertawakan dan cerita akan menyebar bahwa ia telah menjadi korban pedo.

Perkataan Tiina membuat gairah Berwald bangkit, sudah kesekian kalinya gairahnya berkobar setiap Tiina mengatakan hal itu padahal dulu ia masih bisa mengendalikan hasratnya sedemikian rupa tetapi sejak kejadian menyakitkan itu—

—ia mulai lepas kontrol terhadap Tiina. Ingin memiliki Tiina seutuhnya, tanpa terkecuali.

"Siapa bilang?" tanyanya dan membaringkan Tiina di tempat tidur. Memencet ujung payudaranya yang terhalangi dengan kamisol tipis dengan lembut. "Kau sudah dewasa."

"Berr! Kau mulai lagi!" Tiina mengeluh. "Jangan bilang kau mau melanjutkan yang semalam!"

Sial, wewangian erotis yang ada di ruangan ini membuat Berwald tidak mampu berpikir jernih. Ia sendiri yang menyemprotkannya di ruangan ini tetapi ia sendiri malah tergoda. Melihat sekelilingnya yang dipenuhi bunga mawar buatan membuat Berwald berpikir bagaimana rasanya ia bercinta dengan Tiina di semak-semak mawar. Pasti sangat indah dan memabukkan dan suatu saat ia akan benar-benar melakukannya di sana.

"Tiina, ijinkan aku untuk melakukannya," gumamnya datar dan mengangkat kedua kaki Tiina, meletakkan kedua kakinya di bahu Berwald. Ia membuka celana dalam Tiina perlahan-lahan sambil memainkan kewanitaannya. Beberapa kali ia memasukinya, tetap terasa lembut dan dingin. Membuatnya mabuk di dalam cinta ini. Menggodanya untuk berbuat lebih jauh lagi. Tidak pernah bisa ia bayangkan, setiap bercinta dengan Tiina rasanya selalu menggairahkan dan tak terlupakan. Ia betah berlama-lama di kewanitaan Tiina. Mengingat ia adalah pria pertama yang menerobos dinding pertahanan Tiina— ia merasa bisa memonopoli Tiina lebih lanjut lagi dan berlaku sesukanya selama Tiina juga menikmatinya.

"Aish—Ber! Aku malu!" Tiina memekik dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia geli ketika mendapati tangan Berwald di kewanitaannya. Gemetaran sekaligus malu. Sentuhan Berwald membuat sekujur tubuhnya kegelian dan organ intimnya basah.

Ketika ia sudah puas, ia menurunkan kedua kaki Tiina dan melepaskan celana dalam Tiina. Melempar benda penganggu tersebut ke arah pintu. Ia ingin menikmati Tiina sebelum gairah yang ia miliki padam. "Kita akan mulai sekarang, Tiina!"

Pelan tapi pasti, Berwald membuka kamisol Tiina hingga tubuh Tiina nampak sepenuhnya di hadapan Berwald. Pria itu belum melepaskan kemejanya sendiri hingga saat ini. Jari jemari Tiina perlahan-lahan menyentuh kemeja Berwald dan melepaskan kancingnya satu per satu.

"Tubuhmu bagus, Ber," puji Tiina dan memegang bulu-bulu halus di dada Berwald. "Kau pria dewasa sedangkan aku masih anak-anak. Serasa aku ditiduri oleh om-om."

Pria itu hanya membalas perkataan Tiina dengan tatapan tajam. Lucu mendengar pengakuan Tiina yang seperti itu, dulu mungkin itu akan menjadi masalah baginya beberapa tahun yang lalu. Perbedaan umur mereka yang terlalu jauh. Sejak Tiina benar-benar masuk ke dalam hatinya beberapa waktu lalu, ia merasa kembali muda dan lupa akan umurnya yang sebenarnya. Merasa seperti jarak usia mereka berdua hanya berkisar sekitar tujuh tahun saja.

Ia tidak memandang Tiina sebagai anak kecil sekarang—Tiina adalah gadis dewasa dan cantik. Mempesona dan manis. Menatap mata Tiina dalam-dalam dan bibirnya terkatup rapat tetapi wajahnya bersinar cerah. Menyiratkan betapa Berwald mencintai kekasih kecilnya ini. Jari-jarinya membelai rambut pendek Tiina dengan lembut. Dalam keadaan apapun, Tiina terlihat sangat cantik dan ia tidak bisa berhenti memandanginya. Pemandangan seperti ini membuatnya tidak pernah puas untuk meraupnya.

Belaian lembut dan tatapan Berwald membuat Tiina tersipu malu. Ia sudah bercinta dengan Berwald kesekian kalinya, tetap saja ia berdebar-debar seolah ini adalah pertama kalinya. Persetan dengan alat pengontrol kehamilan, kondom atau apapun juga. Terlalu nikmat memikirkan hal semacam itu.

"Kau malu?" tantang Berwald saat melihat semburat di wajah Tiina.

"Tidak! Lakukan saja yang Ber suka," jawabnya gugup dan memeluk Berwald erat. "Aku akan siap!"

Tantangan Tiina segera diladeni oleh Berwald. Dengan sigap, Berwald melepaskan celana panjangnya dan bibirnya meluncur ke bagian-bagian tubuh Tiina—mulai dari bibir, leher, payudara, pinggang dan tentu yang paling nikmat adalah daerah kewanitaannya. Tiina hanya bisa mengeliat-geliat geli karena kecupan Berwald di seluruh tubuhnya. Ia melihat tubuhnya sendiri yang diciumi Berwald barusan, terdapat bekas kemerahan di sana dan mungkin akan membekas selama beberapa hari setelahnya. Berwald memang memiliki stamina yang luar biasa di usianya sekarang dan orang akan terkejut mendengarnya.

"Kau melakukannya dengan baik, Ber," gerutu Tiina jengkel. "Kau membuatku gemetaran, kau pria naf—"

Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, bibirnya keburu diserang Berwald tanpa ampun sambil menghunjamkan miliknya dengan kuat ke dalam milik Tiina. Nafasnya memburu dan tersengal, tidak kuat akan kenikmatan yang Berwald berikan untuknya. Kedua tangannya mencengkeram punggung Berwald, menahan setiap dorongan kenikmatan yang membutakannya.

"A—akh, Ber!"

Berwald lepas kendali dan ia bisa merasakan bahwa dirinya mendekati klimaks. Tiina mengamatinya dan membuatnya merasakan sesuatu yang lebih mengagumkan dari apapun juga. Dadanya dan lengannya yang kuat menegang ketika ia merasakan ledakan kenikmatan yang begitu menguat. Pandangannya kabur seketika ketika mencapai klimaksnya. Ia merasakan bahwa tubuh Tiina juga ikut bergetar bersamanya. Selama beberapa detik, dua jiwa mereka menyatu dalam suatu tubuh.

Mereka saling berpandangan dan hanya satu yang mereka dapatkan dari tatapan tersebut, tatapan cinta mendalam. Gairah asmara yang berkobar kencang dan tidak akan pernah padam untuk selamanya. Penyatuan cinta mereka yang paling dalam, tidak bisa dijelaskan melalui kata-kata. Hanya membutuhkan tindakan.

Percintaan terbaik yang pernah ia rasakan selama ini. Lebih dari apapun juga.

.

.

.

Tiina tertidur selama beberapa jam lamanya dan terbangun dengan perasaan yang begitu membuncah di dadanya. Teringat Berwald menandai tubuhnya dengan bibirnya tadi pagi dan ia masih merasa pegal. Ingin rasanya ia berbaring di tempat tidur saja dan kembali menikmati malam penuh gairah bersama Berwald.

Kali ini tidak ada lagi wewangian erotis maupun bunga mawar palsu di sekeliling tempat tidurnya dan yang ada hanyalah satu kotak hadiah berwarna pink serta tiga boneka Moomins ukuran besar. Tanpa basa-basi, Tiina langsung menyambar ketiga boneka Moomins tersebut. Moomins adalah film kartun favoritnya sepanjang masa. Teringat masa kecilnya dimana ia mengoleksi segala macam pernah-pernik yang berhubungan dengan Moomins, mulai dari alat makan dan alat tulis. Bahkan ketika sedang ada promo makanan berbentuk Moomins, Tiina menjadi pelanggan pertama yang membelinya.

"Moomins!" serunya riang dan memeluk tiga boneka tersebut. "Moominmamma dan Moominpappa, serta Moomins. Lucu! Aku suka."

Tidak hanya itu saja, terdapat satu amplop berwarna pink dan satu buket bunga lily putih—bunga favorit Tiina. Ia heran, siapa yang menaruh benda-benda semacam ini di tempat tidurnya. Apa mungkin Berwald yang meletakkannya secara diam-diam? Kalau boneka Moomins, ia yakin Berwald memberikan benda tersebut kepadanya.

"Siapa yang menaruh benda-benda semacam ini?" tanya Tiina dengan nada bingung dan mengambil kotak pink tersebut. Mengamati kotak tersebut dan membalik-balikan benda tersebut untuk melihat detailnya. Sepertinya isi dari kotak tersebut bukan barang pecah belah karena bunyinya sama sekali tidak kasar, melainkan halus. Tetapi isi kotak tersebut juga tidak berat dan hal itu membuat Tiina penasaran apa isinya.

"Kau akan menyukainya, tentu saja," balas Berwald pelan. Tiina menoleh ke arah kiri dan melihat Berwald yang berpakaian resmi dan tersenyum dingin kepadanya. Pria itu terlihat tampan dengan setelan resminya dan mempesona Tiina, bukan penampilan yang biasa digunakan untuk menghadiri konvensi. Tetapi penampilan kali ini berbeda dengan Berwald yang biasanya. "Buka isi kotak tersebut."

Tiina semakin bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Hari ini sikap Berwald benar-benar penuh kejutan yang ia sama sekali tidak menduganya. Mulai dari bercinta di pagi hari dan Berwald merayunya dengan caranya sendiri yang membuat Tiina gemetaran, pria itu tampak sedang berusaha bersikap romantis terhadapnya walaupun bagi Tiina itu sangat menggelikan karena itu tidak sesuai dengan karakter Berwald.

"Buka!"

Tiina mengangguk pelan dan membuka isi kotak pink tersebut, terdapat satu gaun putih dengan hiasan bunga di bagian atas hingga pinggang. Bermotif bunga mawar berwarna merah muda, jahitan di gaun tersebut sangat detail dan terlihat artistik. Gaun yang selama ini ia idam-idamkan sejak ia pertama kali melihatnya di butik, tetapi karena harganya yang mahal ia mengurungkan niatnya untuk membeli gaun tersebut. Ia tidak menyangka bahwa Berwald akan membelikan gaun tersebut untuknya. Selama ini ia tidak pernah mengatakannya kepada Berwald dan memilih diam.

"Gaun yang indah, Ber," Tiina berkata pelan dan tersenyum riang, memeluk gaun putih tersebut. "Sangat cantik dan aku menyukainya. Terima kasih, Ber. Selama ini aku mengidam-idamkan gaun ini dan darimana Ber tahu?"

Tentu saja Berwald tahu akan hal itu, ia mendengar hal itu dari temannya bahwa Tiina mengidam-idamkan gaun tersebut dan ketika ia melihat gaun tersebut, tanpa pikir panjang Berwald membelikannya untuk Tiina. Tidak peduli betapa mahalnya gaun tersebut, asalkan Tiina terlihat cantik di hari pernikahannya ia tidak merasa rugi. Ia akan rugi jika ia tidak mengakuinya pada Tiina betapa ia mencintai Tiina dan ingin menjadikan gadis itu istrinya.

"Pakailah di hari pernikahan kita," ucapnya pelan dan menyambar tangan kanan Tiina, memasukkan cincin berlian ke dalam jari manis Tiina. "Katakan padaku jika 'ya'."

Tiina membeku di tempatnya, jadi ini ternyata alasan mengapa Berwald bersikap aneh kepadanya sejak tadi pagi. Mau tidak mau, Tiina tertawa geli. Sangat lucu, pria itu melamarnya dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Berwald memang pria penuh kejutan dan ia sama sekali tidak menduga akan masuk ke dalam permainan Berwald. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mendengar seorang gadis dilamar dalam keadaan bangun tidur apalagi dalam keadaan lelah akibat bercinta terlalu lama. Dan lebih dari apapun juga, ia merasa bahagia terlepas bagaimana cara pria itu melamarnya.

"Oh—astaga, Ber!" Tiina tertawa terbahak-bahak, bukan tawa mengejek melainkan tertawa yang benar-benar dari hati. "Kau benar-benar membuatku tertawa kali ini. Ya Tuhan, lamaranmu sangat lucu."

Berwald membiarkan Tiina tertawa sepuasnya meskipun ia heran apa yang lucu dari lamarannya tersebut dan memang tidak lucu. Ia terlihat konyol di depan calon istrinya sendiri dan mempermalukan diri sendiri. Ia bukanlah Edward Cullen yang romantis, apalagi seorang Casanova.

Setelah Tiina selesai terbahak-bahak, Berwald kembali bersikap serius dan meraih salah satu tangan Tiina dan menciuminya lembut. "Aku ingin dengar jawabanmu, sekarang," katanya terbata-bata, jelas sekali bahwa Berwald sedang harap-harap cemas. Menunggu jawaban Tiina sekarang juga, jika sampai ditolak lebih baik ia membujang seumur hidupnya. Ia tidak rela menyerahkan cintanya kepada wanita lain selain dengan Tiina seorang.

"E—eh?" Tiina kebingungan, Berwald memang benar-benar melamarnya. Ya Tuhan, ini seperti mimpi saja. Ia tidak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi di dalam hidupnya dan mencubit pipinya pelan. "Ber, kau serius mengenai itu?"

Berwald membungkuk dan meraih bibir Tiina lembut, membiarkan dirinya berlama-lama di sana. Tentu saja ia serius karena ia sudah sangat lama hidup bersama Tiina, mencintai gadis itu setahap demi setahap hingga akhirnya rasa cinta tersebut berubah menjadi gairah mendalam di antara mereka berdua. Setiap Berwald merasakan Tiina, jantungnya selalu berdetak liar. Ia sudah menyadari bahwa ini semua akan terjadi sejak ia tidak memandang Tiina sebagai anak-anak, melainkan seorang wanita.

"Katakan padaku!"

"Aku ingin kau yang mengatakannya, Ber."

"Jawabanku ya."

Tiina tersenyum puas—ini benar-benar kenyataan dan melumat bibir Berwald dengan ganas. Tubuhnya terasa ringan dan ia seolah-olah sedang melayang di angkasa hingga Berwald tidak bisa membalas ciumannya lagi. "Oh, Ber—kau selalu saja membuatku gila," Tiina melenguh pelan dan memandang cincin berlian tersebut. Sangat indah dan ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama—melambangkan penyembuhan akan masa lalu mereka yang tragis tetapi mengandung arti lain, yaitu bahwa ia ingin bersamanya seumur hidupnya dan kesetiaan. "Jawabanku sudah sangat jelas, Ber. Aku mau jadi istrimu."

Berwald tidak menjawab lagi dan tidak kalah ganas mencium bibir Tiina. Tiina mendesah kencang atas ciuman panas yang dilancarkan oleh Berwald. Gairah yang sempat padam karena kelelahan, kini bangkit kembali. Tiina akan menjadi miliknya dan ia tidak perlu canggung mengungkapkan perasaan cintanya terhadap Tiina. Tiina sudah bukan anaknya lagi, melainkan istrinya. Ia akan benar-benar memiliki anak biologis dari orang yang ia cintai beberapa bulan setelah pernikahan mereka dan itu sesuatu yang sangat indah bukan?

Ia ingin memiliki beberapa anak perempuan yang mirip dengan Tiina karena mengingatkannya dengan orang yang paling dicintainya. Dan ia sudah memikirkan untuk membeli satu rumah yang besar di pedesaan asri untuk mereka berdua serta anak-anak mereka.

Sedangkan Tiina, ia tidak bisa berkata apapun lagi. Larut dalam permainan cintanya. Menikmati sentuhan pria itu di tubuhnya dan mengundang kenikmatan mendalam baginya. Berapa kali pun ia menghindar dari Berwald, ia selalu kembali di sisi pria itu. Ia tidak sabar menunggu hari pernikahannya dengan Berwald.

—o00o—

Dua minggu kemudian, mereka berdua kembali ke Stockholm dan melangsungkan pernikahan di salah satu desa kecil dekat pusat kota beberapa hari kemudian. Tiina mengenakan gaun mawar merah muda dengan terusan berwarna putih polos dan menggengam bunga lily putih sedangkan Berwald mengenakan jas putih.

Mereka berdua hanya mengundang beberapa orang saja untuk menjadi saksi pernikahan mereka, salah satunya adalah Matthias dan istrinya, Halldora berserta kakak laki-lakinya, Lukas yang membawa gadis Islandia yang tampaknya sama pendiamnya dengan Lukas sendiri. Selain itu juga, mereka mengundang Jones bersaudara yang telah merawat keadaan Tiina setelah berbulan-bulan menghilang. Pendeta menyatakan bahwa pernikahan mereka berdua telah sah dan di tempat duduk paling belakang terdapat pegawai catatan sipil yang siap mencatat pernikahan mereka secara legal.

"Selamat, kaleng ikan!" Matthias menyeringai, menyikut pinggang Berwald dengan sedikit kasar. "Apa kubilang, dia juga mencintaimu."

"Selamat untuk kalian berdua. Selamat berbahagia."

"Bikin anak yang banyak, ya!" seru Alison genit. "Datang lagi ke Los Angeles dan nanti kita berbelanja di butik keren lagi!"

Tiina tersenyum pada teman-teman terdekatnya yang mendukung pernikahan mereka. Bagi Tiina sendiri, kebahagiaan terbesarnya adalah jika orang terdekatnya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan dan oleh karena itulah ia tidak terlalu mengundang banyak orang. Lagi pula Berwald pasti tidak suka jika Tiina mengundang banyak tamu.

Banyak hal yang terjadi di antara mereka berdua selama mereka berdua di Los Angeles. Rasa benci, cinta, kecemburuan dan kegelisahan—semua bercampur menjadi satu. Dan kabar baiknya sekarang adalah ia merasa bahagia.

Dan kabar baiknya adalah ia sedang mengandung anaknya selama tiga minggu. Hadiah pernikahannya yang datang lebih awal di dalam hidupnya.

Ia tidak sedih seperti pertama kalinya karena ia sudah memiliki suami yang bertanggung jawab terhadap keadaannya bahkan mencintainya teramat sangat. Hidup memang sangat indah. Tiina adalah gadis paling beruntung di dunia.

Itulah yang dirasakan Tiina, mulai sekarang dan selamanya.

FIN


A/N Terima kasih yang telah mendukung fic ini dari tahun lalu hingga sekarang. Akhirnya aku bisa benar-benar menamatkannya setelah sempat WB karena dirundung masalah. Apalagi saya juga sampai nggak menyangka setelah saya edit benar-benar malah chapternya jadi panjang padahal satu chapter saja isinya sudah panjang banget. Kalau dilihat-lihat fic dulu dengan sekarang beda jauhnya terasa banget. Makasih yang dulu sudah baca fic ini dari awal hingga akhir. Btw fic ini masih ada epilog di next chapter : ) Tunggu saja ya di bulan April nanti XD Ciao