Epilogue
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Note: Sven dan Svea itu OC saya, anggap saja mereka itu Aland Island. Morgan=Ladonia. Don't like don't read, kisah ini bersetting setelah dua tahun dari cerita di chapter sebelumnya. Agak-agak nyerempet ke rate M dan mentions of Nekotalia, btw Kukkamuna itu Hanatama dalam bahasa Finland-nya. Supaya berasa lebih Finnish mending dikasih nama begitu aja :D
.
.
.
Musim panas di Stockholm cukup terik sehingga orang-orang lebih betah berlama-lama di rumah dengan pendingin ruangan yang bersuhu paling rendah. Di rumah yang bergaya cobblestone tersebut dulunya adalah vila Berwald dan anak tirinya yang kini sudah menjadi istrinya. Tidak ada yang berubah dari rumah tersebut, hanya saja suasananya menjadi jauh lebih hidup dan ceria setelah Morgan dan Peter masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka sehingga lebih berwarna. Ditambah satu anak anjing dan dua kucing.
"Jangan pukul adikmu sendiri, desu yo!" Peter menggendong Svea yang menangis kencang karena kakak kembarnya, Sven, memukul-mukul kepala Svea. "Svea sayang, jangan menangis lagi. Sven memang usil, nanti kakak laporkan pada mama Tiina."
Svea terus menangis kencang dan memeluk Peter dengan erat. Sebenarnya ia jengkel karena Sven sudah lebih dulu bisa berjalan beberapa hari yang lalu dan sejak saat itu, Sven semakin suka memukulnya tanpa alasan dan itu sudah terjadi sejak mereka lahir. Seandainya ia bisa bicara, ia ingin bilang pada Tiina mamma dan Berwald pappa kalau lebih baik Sven ditinggal di tempat penjualan beras karena kakak kembarnya selalu menindasnya.
Sedangkan Sven tidak peduli dan malah menertawakan Svea yang menangis kencang. Baginya melihat Svea yang sedang menangis adalah sesuatu yang teramat lucu. Sven dan Svea lahir hanya selisih berapa jam saja. Usia mereka kini sudah satu tahun lebih satu bulan. Mereka tidak kembar identik dan ada suatu pembeda fisik di dalam diri mereka. Sven memiliki mata violet dan rambut abu-abu seperti Tiina tetapi bentuk wajahnya seperti Berwald, sedangkan Svea memiliki mata hijau kebiruan dan rambut pirang serta bentuk wajah seperti Tiina. Bisa dibilang si kembar memiliki perpaduan wajah orangtuanya dan membuat orangtuanya selalu menganggap mereka berdua imut.
Sven jauh lebih dekat dengan ibunya yaitu Tiina sedangkan Svea jauh lebih dekat dengan ayahnya, Berwald. Itulah sebabnya, jika mereka berdua merasa diusili satu sama lain pasti mereka mencari perhatian pada yang bersangkutan.
Tidak hanya perbedaan fisik saja tetapi juga perbedaan sifat yang mencolok. Sven memiliki sifat yang pendiam dan jarang menangis seperti bayi pada umumnya. Sedangkan Svea adalah anak manja dan cengeng, hal kecil apapun bisa membuat Svea menangis kencang tiada henti sehingga Berwald dan Peter protektif terhadapnya. Malah Berwald sempat berkata pada Tiina bahwa Svea suka teriak diturunkan dari ibunya yang selalu menjerit kencang ketika melakukan permainan malam mereka berdua.
"Mamma!" Svea terisak pelan dan memeluk Peter dengan kedua tangan kecilnya. "Ma—"
Peter menghela nafas dan memberi senyuman lembut pada adik tirinya. "Tiina mamma sedang belanja bulanan dan Berwald pappa sedang bekerja. Besok Berwald pappa libur jadi kalian bisa bermain bersama."
Beberapa saat kemudian, Svea tertawa dan memainkan topi Peter, mendengar kata pappa disebut Svea girang apalagi ditambah Peter yang berada di sisinya. Gadis kecil itu memang menyukai Peter karena anak itu baik dan penyayang, berbeda jauh dengan kakak kembarnya yang suka memukul kepalanya dan keponakan Berwald yang bernama Morgan. Tidakkah Sven mengerti bagian kepala itu sakit untuk dipukul.
"Hei, jangan mainin topiku, desu yo!"
.
.
.
"Peter, Sven dan Svea mana?" Tiina bertanya sambil menenteng belanjaan yang banyak. Gadis itu baru berusia sembilan belas tahun dan terlihat segar. Orang tidak akan mengira jika Tiina sudah memiliki dua anak ditambah dua anak angkat (nyasar) entah darimana. "Morgan, bantu aku bawa belanjaannya!"
Morgan mengambil belanjaan Tiina dan merengut, lalu membawanya ke dapur terdekat. Sedangkan Peter baru saja menidurkan si kembar di kamar mereka. Setelah mereka bertengkar, mungkin mereka juga kelelahan dan ingin beristirahat. Agak miris juga sejak lahir mereka selalu bertengkar satu sama lain, tetapi suatu saat mereka pasti akan akrab. Itu yang selalu diyakini Tiina.
"Si kembar sedang tidur siang, desu yo," Peter berkata dengan nada santai seolah-olah tidak terjadi sesuatu. "Mereka kecapekan karena terlalu banyak bermain."
"Apa mereka bertengkar lagi?" tanyanya cemas. "Svea bagaimana?"
Peter menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Mereka baik-baik saja, kok."
"Bohong, tuh!" Morgan menimpali perkataan Peter dan menatap Tiina. "Tadi Svea dipukul sama Sven gara-gara Svea mainin mainannya Sven."
Tiina menghela nafas panjang, anak kembarnya memang selalu bertengkar tanpa alasan yang jelas. Dosa apa ia ketika mengandung mereka? Apa makanan yang ia makan salah? Apa salah asuhan? Yang jelas Tiina sama sekali tidak mengerti. Ia memperlakukan Svea dan Sven dengan adil, bahkan dengan Peter dan Morgan yang notabene anak dari saudara jauh dari Berwald. Ia agak sedih mengapa anak kembarnya sering bertengkar, berbeda dengan Morgan dan Peter yang memang sering adu debat tetapi mereka sangat akrab dan dekat. Kecuali relasinya dengan Berwald yang tampaknya berbahaya dan buruk, mungkin sama dengan Sven dan Svea.
Peter mulai tinggal di rumahnya sebulan setelah pernikahan mereka dan lima bulan setelahnya, Morgan yang tinggal di rumahnya. Sedangkan mereka juga memelihara satu anak anjing betina yang dinamai Kukkanuma, satu kucing dewasa yang bernama Sveko dan satu anak kucing betina bernama Finko. Kukkanuma dipelihara oleh Tiina sedangkan Sveko dan Finko dipelihara oleh Peter dan juga Morgan. Lucunya kedua kucing mereka juga baru saja melahirkan anak pertama sehingga rumah menjadi ramai. Kukkamuna sedang mencari jodoh dengan anjing tetangga tapi sialnya berakhir dengan gonggongan liar yang membuat Kukkamuna kembali ke rumah dengan jeritan pilu darinya yang menandakan ia sedang patah hati.
Kriek.. Suara pintu dibuka dan mendapati Berwald baru saja kembali dari tempat kerjanya. Belakangan ini memang tidak ada acara konvensi yang melelahkan sehingga Berwald dapat kembali ke rumah lebih awal. Mungkin juga bosnya memberi keringanan terhadapnya karena selama ini Berwald sudah bekerja sangat keras dan juga karena ia sudah memiliki beberapa anak yang ditanggung walaupun agak lucu mendengar dalam dua tahun pernikahan mereka sudah memiliki empat anak.
"Pappa sudah pulang, desu yo!" seru Peter ceria dan berlari ke arah pintu, memeluk Berwald dengan erat. "Hore! Pappa pulang!"
Berwald membalas pelukan bocah kecil itu dan matanya memandang ke arah Tiina sehingga Tiina terlihat salah tingkah dan malu. "Aku pulang dan mana si kembar?"
"Mereka sedang tidur di kamar, Ber. Tampaknya mereka sangat lelah karena terlalu lama bermain," jawabnya dan berjalan ke arah kamar dimana si kembar tidur siang. "Ber mau lihat wajah mereka yang sedang tertidur pulas?"
Berwald mengangguk, melepaskan Peter dan mengikuti istrinya ke kamar si kembar. Peter dan Morgan saling beradu pandang, tersenyum lebar.
"Sebaiknya kita jangan ganggu mereka," Peter mengingatkan dengan wajah usil. "Biarkan saja mereka berduaan."
Morgan cuek saja, apa yang terjadi dengan Berwald bukan urusannya. Yang penting ia bisa menghabiskan makanan di rumah dan memanfaatkan fasilitas sepuas-puasnya.
Di kamar, Tiina memandangi boks bayi dimana mereka tertidur lelap. Wajah Sven dan Svea terlihat damai, tidak seperti biasanya yang merupakan wajah dimana ingin mengajak bertengkar satu sama lainnya. "Ber, lihatlah mereka sangat lucu!"
"Ya!"
"Svea sangat polos dan Sven mirip denganmu," Tiina menimpali dan tersenyum kepada suaminya. "Aku tidak pernah menyangka jika anak kembar kita sama-sama mirip dengan kita, moi. Ini benar-benar unik."
Melihat senyuman Tiina, mau tidak mau Berwald merasa lega. Pilihannya memang sama sekali tidak salah, Svea begitu mirip dengan ada yang di mimpinya beberapa tahun silam. Sifatnya dan bentuk wajahnya begitu sama persis. Apa yang dikatakan Svea benar, ia akan lahir kembali di tengah-tengah kebahagiaan keluarganya. Terkadang, rasa bersalah menghantuinya jika anak-anaknya merasa sedih dan ia akan merasa telah membuang mereka. Tidak tahu mengapa ia merasa seperti itu—
—mungkin ia trauma jika kejadian di masa lalu terulang kembali. Dimana ia nyaris tidak bisa memperbaikinya.
Hanya Tiina-lah satu-satunya alasan untuk mencintai seorang wanita. Gadis itu terus masuk ke dalam kehidupannya hari demi hari, tidak peduli tempat dan waktu. Memang Tiina memiliki banyak kekurangan, misalkan tidak bisa memasak tetapi masih banyak kelebihan Tiina yang tidak dimiliki seorang wanita di jaman sekarang, menjadi ibu yang baik. Kelembutan dan kepolosan Tiina membuatnya gila, ia begitu mencintai istrinya yang masih terlalu muda ini.
"Svea mirip denganmu," Berwald menambahkan dengan suara yang berat. "Kau polos, begitu juga dengan dia."
Rona merah muncul di wajahnya, matanya menatap Berwald antara tatapan marah sekaligus geli. "Aku tidak sepolos itu, kok. Dulu aku kan memang masih anak-anak, itu saja."
"Sampai sekarang kau masih polos," balasnya tidak mau kalah dan mencium kening Tiina. Di sebelah boks bayi ada tempat tidur dan mumpung si kembar sedang tidur—ia akan bercinta dengan Tiina dan meluapkan hasratnya yang paling mendalam. Sejak kelahiran si kembar, waktu bersama mereka agak berkurang terutama kebutuhan biologis mereka. Jika dulu bisa setiap hari, kini hanya seminggu empat kali. Sejak Tiina menjadi miliknya, bayangan Tiina selalu menghantuinya bahkan di kala bosan ia bisa membayangkan nikmatnya bercinta dengan Tiina.
"Ber—kau ingin menggodaku!" keluhnya dan memukul dada Berwald. Tetapi sayangnya ia kalah kuat dan Berwald mendorongnya ke tempat tidur terdekat. Hidung mereka saling bersentuhan, mata bertemu mata dan kulit bertemu dengan kulit.
"Anak kedua," racaunya pelan dan menjentikkan jarinya ke hidung Tiina. "Itu ide yang bagus."
Tiina tersenyum lembut dan terkikik. Suaminya memang selalu mendapatkan ide apapun untuk merayunya. "Tunggu si kembar kalau sudah berusia dua tahun."
Jawaban Tiina cukup memuaskan, tanpa basa-basi Berwald langsung meraup tubuh Tiina tanpa peduli bahwa di sebelahnya ada si kembar yang sedang tertidur dan jika mereka terlalu berisik bisa saja mereka terbangun.
"A—akh, Ber usil. Ber mesum!" lenguhnya ketika Berwald memainkan daerah pribadinya. "Pergi dariku! Aku belum siap sama sekali!"
Berwald tidak mendengarkan dan terus memainkan bagian itu, membiarkan Tiina mendesah kencang karena baginya desahan Tiina adalah sesuatu yang manis. Tak lupa ia merekam suara desahan Tiina dan mendengarkannya setiap saat. Suara yang begitu manis, mampu membuat gairahnya bangkit dimanapun ia berada.
Belum selesai Berwald melaksanakan aksinya hingga tuntas, tiba-tiba Morgan berteriak kencang. "Aku nemu brosur yang bertuliskan 'Hotel Cinta di Venusgarden dengan Harga Spesial. Bisa BDSM'."
Berwald tersedak dan permainan cinta mereka terhenti sejenak. Ia hanya bisa mengerutkan dahi mendengar teriakan Morgan. Ia tidak pernah menaruh brosur semacam itu apalagi menerimanya. Pasti itu kerjaan Matthias yang suka menyesatkan anak orang. Dasar bapak-bapak gila mesum.
"Kamu memang mesum," ujarnya dan mencubit pipi Berwald. "Ber mesum! Mesum!"
"Lebih baik kita bersenang-senang," bisik Berwald di telinga Tiina, menggendongnya ke suatu tempat lainnya agar tidak mengganggu si kembar yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Kehidupan memang sangat menyenangkan bersama istri dan anak yang dicintainya. Bukankah kehidupan ini memang menyenangkan adanya? Menarik bukan.
Menambah anak lagi bukan ide yang buruk juga.
FIN
A/N Epilognya agak gaje gitu ya? Tapi jujur saya ingin membuat fic epilog yang sedikit lucu dan nggak terlalu banyak mengumbar rate M. Makasih banyak yang sudah dukung fic ini dari awal hingga akhir. Ini rekor saya sampai sepuluh chapter =w= maafkan saya yang lambat apdet. Dan untuk bulan ini saya mau hiatus dulu, dua minggu lagi UAS dan tugas mulai bermunculan.
