Mi Bello Profesor
Mi Bello Profesor © I C h o y u
Hetalia © Hidekazu Himaruya
Spain x Romano
i've warned you about the OOC, alur yang terlalu cepat atau bahkan terlalu lambat, yaoi/BL, typo or misstypo
don't like don't read
"AAAAAAAAAAAAAAAAARRRGGGHHH!"
Antonio masih tersenyum manis melihat Lovino yang sudah bereaksi begitu imut—sampai-sampai ia ingin memeluknya. Wajah gurunya itu memerah menahan malu dan berusaha menutupi piyama yang ia kenakan, yang tentu saja sia-sia. Piyama motif beruang dengan warna dasar pastel tua yang lucu. Milik Feliciano. Ya, ia memang tidur sekamar dengan adiknya. Dan kemarin ia tidur sendiri serta mengunci kamar mereka—Feliciano terpaksa tidur di sofa. Bukan, bukan itu. Masalahnya ia mengambil piyama ganti dalam keadaan setengah sadar kemarin. Jadilah piyama unyu milik Feliciano itu terambil dengan tidak sengaja.
Sekarang piyama itu jadi bahan tontonan menarik bagi seorang Antonio Fernandez Carriedo. Ingin rasanya bertepuk tangan ke arah Lovino dan memasukkan tomat kesukaannya sebagai pengganti uang, ke dalam piyama Lovino—seakan tontonan Lovino mengenakan piyama beruang itu bagaikan sebuah pertunjukan striptease. Bedanya disini Lovino tidak melucuti pakaiannya satu per satu, dan sepertinya tidak akan pernah di depannya, Antonio rasa.
Lovino langsung mengambil langkah seribu, masuk kembali ke dalam apartemennya dikejar oleh backsound suara-suara protes tetangga satu apartemen mereka, saking nyaringnya teriakan milik pemuda berambut auburn itu mengganggu pagi yang damai. Antonio ditinggal disana, ia diam tercengang di sebelah mobilnya. Padahal ia sudah dengan susah payah memohon pada kakaknya untuk membujuk kedua orang tuanya agar hari ini ia dapat menyetir sendiri. Hal ini dilakukan spesial untuk menjemput Lovino cintanya, kasihnya, manisnya, sayangnya, unyunya itu. Antonio langsung ingat bagaimana imutnya wajah Lovino tadi.
Gurunya itu memang imut. Antonio terkekeh sebentar sebelum membuka pintu mobilnya dan duduk dengan tenang di balik kemudi. Antonio meraih gelas sterofoam yang ia sisipkan di tempat botol yang ada tepat di samping kemudi. Aroma jus tomat yang segar menggelitik hidungnya.
Antonio meminum jus tomat yang ia beli via drive thru perlahan-lahan. Mengingat reaksi penolakan gurunya yang sangat defensif, Antonio harus berpikir dua kali untuk mengajak Mr. Vargas-nya tercinta berangkat bersama-sama ke sekolah. Tentu saja, ia masih punya otak dan naluri untuk menyelamatkan diri. Kalau ia masih nekad, bisa-bisa keesokan hari, fotonya tanpa kepala masuk ke koran dengan headline yang dicetak besar-besar bertuliskan 'MURID HPS DITEMUKAN TEWAS TANPA KEPALA'. Dan kepalanya—
—mungkin saja sudah dipakai untuk main sepak bola oleh anak-anak yang tinggal satu gedung apartemen dengan Lovino.
Antonio menggeleng ngeri, ia masih ingin kuliah, bekerja, kemudian menikah dengan Lovino. Jus tomat yang ia minum tiba-tiba terasa pahit di mulut ketika membayangkan hal-hal berbau psikopat tentang gurunya. Terlebih hal-hal yang ia bayangkan tersebut tidak akan pernah mungkin terjadi. Well, Lovino memang pernah menonjoknya di hidung—tonjokan sayang penuh cinta bagi seorang Antonio. Dan hidungnya mimisan. Itu karena ia tidak waspada mengantisipasi serangan mendadak yang mungkin diberikan oleh mahluk imut seperti itu. Bukan berarti ia tidak bisa body combat sedikit pun.
Meremas gelas sterofoam yang telah kosong, Antonio meletakkannya di kursi penumpang. Ia memutar mobilnya dengan sedikit gusar—mengetahui bahwa rencana jemput-calon-uke-coret-calon-suami-nya telah gagal total.
Ingin rasanya Lovino menangis kesal sepanjang perjalanan menuju Hetalia Private School—tempatnya bekerja. Pasalnya, doa yang ia koar-koarkan sejak kemarin ternyata tidak terkabul. Dan fakta yang lebih pahit lagi, kejadian yang terjadi pada hari ini justru lebih parah dari pada kejadian yang terjadi kemarin. Kalau saja ada lubang besar menuju dasar bumi di hadapannya, mungkin Lovino sudah melompat masuk sejak tadi.
Belum lagi ditambah adiknya yang tidak rela kalau Lovino berhenti bekerja dari pekerjaannya yang sekarang—guru Hetalia Private School. Feliciano yang berhati mulia tersebut memanggil Wang Yao—tetangga sekaligus guru senior di Hetalia Private School. Meski mengajar di mata pelajaran yang berbeda, Yao mungkin sudah berpengalaman dan bisa menasehati guru baru yang sedang dilanda masalah, poin tambahan pada tempat kerja mereka yang sama. Begitulah pikir Feliciano. Berharap masalah cepat selesai, jalan keluar yang diberikan sang adik justru makin menghancurkan mood seorang Lovino. Petuah panjang lebar yang diberikan oleh Yao—guru yang berumur cukup lanjut namun berwajah bagai orang dua puluh lima tahunan—tersebut hanya masuk kanan keluar kiri di telinga Lovino.
Memang. Tak ada yang bisa diharapkan dari seorang senior di tempat kerja yang mengenakan piyama yang lebih kekanakan dari piyama milik Feliciano yang tidak sengaja ia kenakan. Lovino baru mengetahui bahwa piyama Yao memiliki motif panda besar di depannya dengan warna dasar soft pink yang sangat girly. Apa lagi jika ternyata senior tersebut membawa sebuah boneka aneh yang dinamai Shinatty. Anti klimaks.
Satu jam lebih tiga menit Yao menghabiskan waktu, berusaha menenangkan Lovino yang emosi jiwa—yang ternyata sia-sia karena Lovino masih saja emosi jiwa sampai detik ini. Kepala yang terasa berasap dan berkabut tersebut membuat Lovino tidak menyadari bahwa kereta bawah tanah yang ia naiki sudah hampir sampai di stasiun dimana semestinya ia turun. Berterima kasih untuk speaker yang menunjukkan lokasi dimana kereta berhenti—Lovino terhenyak dan menatap kosong ke arah pintu kereta yang mulai terbuka. Dan mulai melangkah keluar ketika badan mungilnya diseruduk oleh kumpulan orang-orang yang tidak sabar ingin keluar dari kereta. Dari stasiun ini, ia tinggal berjalan kaki beberapa menit untuk mencapai tempat kerjanya. Menit-menit menuju neraka jahanam penuh siksa.
Lovino melangkah santai, mencoba menikmati sisa menit-menit dimana ia bisa bebas dari murid gila tersebut. Namun gagal ketika ia mendengar decitan ban mobil yang beradu dengan aspal, tepat di sampingnya. Lovino menoleh dan mendapati sosok menyebalkan yang ia kenal ketika kaca mobil diturunkan. Antonio.
"Mr. Vargas, ayo berangkat ke sekolah bersama-sama, sí?" suara ajakan Antonio yang bernada menyenangkan tersebut terdengar bagai kutukan ketika masuk ke telinga Lovino. Ia tidak menggubrisnya dan melengos pergi.
Antonio memajukan mobilnya perlahan, mengikuti langkah Lovino yang masih memasang raut wajah kesal. "Ayolah Mr. Vargas, aku tidak mau kulitmu yang indah itu terbakar sinar matahari." goda pemuda yang justru memiliki kulit yang berwarna lebih tan dari pada Lovino. Dan juga, sinar matahari pagi justru menyehatkan, Antonio. Otakmu tampaknya perlu direparasi sedikit sebelum memikirkan alasan yang cukup logis untuk mendekati seorang Lovino Vargas.
"Mr. Vargas~" panggil Antonio, berusaha menggunakan nada semenyenangkan yang ia bisa.
Tidak ada jawaban. Gurunya itu justru melenggang menjauhi Antonio serta mobilnya.
"Mr. Vargas~" Antonio memajukan mobilnya lagi, berusaha mengejar sang guru tercinta, dan masih memanggil dengan nada lembut seakan memanggil pacar sendiri.
Masih tidak menyahut. Menjebikkan mulutnya kesal serta lebih mempercepat langkahnya, Lovino sedikit lagi akan mencapai gerbang Hetalia Private School. Lebih cepat, lebih baik.
"Mr. Vargas~" memanggil dengan volume suara sedikit lebih keras. Moncong mobil Antonio nyaris menabrak seorang pejalan kaki yang menyeberang jalan, saking fokusnya ia mengejar Mr. Vargas kasihnya.
Masih tidak ada balasan sama sekali. Kini Lovino sudah setengah berlari demi menghindari love call Antonio yang berikutnya.
"Lovinito~"
Lovino nyaris pingsan demi mendengar namanya dirubah menjadi sebuah nama panggilan sok imut macam itu. Menatap pongo ke arah Antonio, Lovino terpaku sejenak di sana, sebelum seluruh urat-urat kemarahannya meledak. Ternyata, panggilan sayang Antonio telah berhasil menyulut sumbu kemarahan seorang Lovino Vargas yang memang pendek. Antonio yang salah kaprah—mengira bahwa sang guru tercinta berbalik untuk menerima ajakannya—sudah tersenyum dengan sangat bahagia diikuti background bunga-bunga dengan mata penuh binar.
Lovino berhenti tepat di sebelah kaca mobil yang diturunkan, yang untung saja tempat penumpang yang berlawanan dengan tempat dimana Antonio duduk sekarang.
"Jangan panggil aku dengan nama seperti itu, chigi!" bentak Lovino bagai anak anjing kecil yang menyalak. Berusaha menakuti tapi malah berefek terbalik.
"Tapi 'kan nama panggilan yang kuberikan itu manis, Lovinito kecilku~" memanyunkan bibir seksinya sedikit, dengan pipi yang digembungkan dan mata yang berpura-pura menyorot kesal, Antonio tampak mirip Feliciano di mata Lovino kini. Sama-sama bocah. Bedanya Feliciano jauh lebih manis dan lebih sopan dari pada Antonio. Lovino memutar kedua iris hazel-nya dan mendengus bosan.
"Aku ini gurumu." penekanan pada tiap kata yang diucapkannya, Lovino menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. "Dan kau muridku." giliran menunjuk Antonio yang tampak menyimak dengan baik menggunakan telunjuk tadi.
Menelengkan kepala sedikit dengan ekspresi polos, innocent, pemuda berkulit kecokelatan menggoda tersebut seakan meminta penjelasan lebih dari Lovino.
"Aku tidak ingin pekerjaanku tambah runyam akibat semua ulahmu." kata-kata menyakitkan keluar dari bibir mungil Lovino tanpa proses filtrasi terlebih dahulu. "Dan oh, aku tidak sepertimu. Aku tidak tertarik dengan hubungan yang tidak menghasilkan apa pun, aku tidak homo." penjelasan yang berlanjut yang lebih menyakitkan dan dilontarkan dengan nada kasual. Nyata dan menusuk. Kalau saja Antonio bukan orang yang tangguh (dan lamban), sepertinya ia sudah menangis menggerung-gerung dalam mobilnya ketika Lovino tercinta mengucap kata-kata semengerikan itu.
Antonio meletakkan kepala di atas roda kemudi dan menatap Lovino kalem. Kedua iris hijau indah bak emerald tersebut memandang penuh sayang ke arahnya.
"Aku tidak perduli jika Lovinito tidak homo, atau pun jika hubungan homoseksual tidak menghasilkan apa pun—" mengerling ke arah Lovino, sukses membuat kedua pipi sang guru merona merah. "—selama itu Lovinito, semuanya akan kulakukan agar bisa menjadi milikku." lanjutnya posesif, binar di kedua iris emerald tersebut berubah menjadi sorot mata posesif selama beberapa detik. Lalu kembali menjadi sorot mata polos yang bodoh bagi Lovino.
Lovino sudah membayangkan wajahnya kini. Pasti merah. Semerah kepiting rebus saus tomat. Memandang grogi ke arah murid yang sudah berkali-kali menyatakan cinta kepadanya tersebut, Lovino mengencangkan rahangnya. Oh, pipinya masih semerah tomat, tentu saja.
"CHIGIIIIIIIIIIIIIIII!"
Berteriak dan melesat kabur untuk yang kedua kalinya di pagi hari ini, Antonio menatap dreamy dengan tawa renyah ke arah gurunya yang menghilang dibalik gerbang sewarna tembaga Hetalia Private School.
"Bah! Murid itu sangat menjengkelkan!"
Lovino memasukkan beberapa lembar kertas kerja ke dalam mesin fotokopi yang ada di ruang guru secara kasar sebagai cara melampiaskan kekesalan memuncak yang salah. Yao yang tadi asyik meminum sebotol teh hijau dingin di sebelah Lovino, kini menatap pemuda berdarah Italia itu penuh tanda tanya. Mereka berdua diserahi tugas untuk mengkopi data-data tugas milik Elizaveta—guru seni—yang kebetulan harus menghadiri seminar fotografi dan tak bisa mengajar di kelas pada jam pelajarannya.
Dan kebetulan mereka berdua sedang tidak ada tugas mengajar.
Kebetulan yang cukup mengerikan untuk Lovino, kalau boleh jujur. Sudah cukup semua petuah suci dari seorang Yao tadi pagi. Ia tak perlu petuah lagi siang ini. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Petuah suci digantikan oleh curahan hati seorang Lovino sekarang.
"Ada apa memangnya, aru?" tanya Yao. Dan untungnya di ruang guru sedang tidak ada orang selain mereka berdua, sesi curhat colongan Lovino jadi bisa dilanjutkan dengan tenang.
"Antonio Fernandez Carriedo! Dia sangat menyebalkan!" gerutu Lovino seraya mengangkat kertas-kertas hasil kopian dan memindahkannya ke meja yang ada di samping mesin fotokopi.
"Antonio, aru?" Yao kembali meneguk teh hijaunya. "Bukankah murid yang satu itu sangat lucu? Dia itu ketua tim basket sekolah kita 'kan, aru." lanjutnya senang.
Entah kenapa kalimat yang diucapkan Yao tadi entah mengapa terkesan memuji-muji Antonio, membuat Lovino makin sebal saja. Yao sepertinya tidak peka pada emosi Lovino yang meletup-letup seperti brondong jagung.
"Tapi dia homo!" Lovino berusaha protes. Yao menyembur teh hijau yang sudah separuh tertelan demi mendengar protes teman sejawatnya yang kini kembali membuka tutup mesin fotokopi dan memasukkan lembar kertas lain.
"Pueh! Homo, aru?" Yao memandang Lovino dengan ekspresi setengah tak yakin dengan apa yang diucapkan Lovino barusan.
"Ya. Dan dia menyukaiku." dumel Lovino sambil menutup mesin fotokopi dan memencet-mencet tombol yang ada di panel setting mesin tersebut, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Yao. Kebiasaan buruk Lovino nomer dua, selalu tidak memandang ke arah lawan bicara ketika sedang berkomunikasi. Tapi tampaknya Yao sudah terbiasa, terlihat dari sikapnya yang tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Tak ada salahnya, bukan—" jeda sejenak. Yao menoleh bersemangat ke arah Lovino. "—Antonio 'kan murid yang sangat tampan, aru! Kau beruntung kalau dia menyukaimu."
Lagi-lagi Lovino terkena efek berbalik yang salah. Membuatnya ingin headbang sekarang juga pada pojok meja yang tajam.
"Tapi aku tidak homo!" memberi statement dengan setengah berteriak, nada suara hopeless, dan mata yang berkaca-kaca plus ekspresi kesal menahan amarah yang kekanakan membuat Lovino mirip dengan anak anjing basah yang menggigil menahan takut. Yao yang memiliki fetish pada benda-benda imut—yang hidup mau pun tidak hidup—refleks memeluk Lovino kencang dan ber-fanboying ria. Sampai akhirnya Yao terpaksa melepas Lovino saat temannya tersebut mulai megap-megap kekurangan udara dan memberontak kasar dalam peluknya.
"Ahh, maaf aru, habis kau imut sekali kalau begitu." Yao menggaruk belakang kepala serta memandang penuh maaf ke arah Lovino yang kini mendelik bagai anak kucing gahar. Yao sudah kembali membentang kedua tangannya yang berbuah dorongan keras di dada oleh Lovino.
"Hentikan, ini sama sekali tidak lucu!" kedua pipi kembali merona, mengalihkan pandang kesana-kemari, berusaha menghilangkan segala jejak kegugupan. Lovino kembali berberes kertas-kertas kopian yang keluar dari mesin berbentuk bujur sangkar tersebut.
Melirik jam tangan—yang entah kenapa berukir gambar Shinatty di tengahnya, berwarna ungu berpadu pink pula—iris kecokelatan Yao membeliak seakan keluar dari kedua bingkai matanya. Ekspresi konyol itu bukan tidak beralasan. Yao hampir terlambat datang ke rapat dewan guru, dan itu pasti akan membuatnya disembur omongan oleh Vash akibat keterlambatannya. Keasyikan ngobrol itu ternyata bukan hal yang baik. Baru saja Yao hendak memberitahu temannya yang kini melakukan entah apa itu pada mesin fotokopi malang, suara yang familiar sudah menyapanya di speaker besar berwarna putih pucat di sudut ruangan guru.
"Attention please, kepada Yao-Yao, da~" suara yang terdengar ramah penuh nada tersebut membuat seluruh tubuh Yao seakan memutih seketika. "Jika semenit lagi aku tidak menemukanmu di ruang rapat, bersiaplah bersatu denganku, kolkolkol. Sekian." tawa kekanakan yang terdengar aneh itu menambah frekuensi ketakutan di otak Yao. Sampai Lovino keheranan menatap seniornya yang sudah seputih kertas itu sekarang.
Lovino menunduk sedikit sambil menatap tajam lewat ujung matanya. "Sebaiknya... kau segera pergi sekarang, bukan begitu?"
"Se-sebaiknya begitu... aru..." jawab Yao terbata. "Aku duluan, aru..." lanjutnya seraya meninggalkan Lovino sendiri.
Lovino kembali ke mesin fotokopinya. Ternyata, kertas yang mesti ia kerjakan masih banyak. Karena dia guru baru, tugasnya masih belum banyak. Dan lagi, ia masih belum boleh mengikuti rapat dewan guru, yang memang hanya boleh diikuti oleh guru senior yang sudah bekerja lebih dari enam bulan. Sebetulnya, yang merupakan guru junior bukan hanya dia saja. Banyak guru junior yang belum genap bekerja selama enam bulan di sekolah ini, dan tugas para guru junior adalah menggantikan para guru senior jika mereka sibuk atau ada urusan penting. Seperti sekarang. Rapat dewan guru.
Sangat kebetulan pula, ia sedang tidak ada jam mengajar. Lovino menghela nafas kesal. Tidak ada jam mengajar bukan berarti ia bisa bersantai-santai di kafetaria sekolah sambil menyeruput segelas white coffee yang enak, sambil menunggu jam mengajarnya datang.
Jujur, rasanya tidak enak berada sendiri di ruangan sebesar ini. Lovino memutar kepalanya sambil memperhatikan seisi ruang guru. Luas. Penuh bilik kerja yang terorganisir dan tampak rapi. Ia jarang berada di ruangan besar macam ini. Bukan, ia tidak memiliki fobia akan ruangan yang luas. Kembali melanjutkan pekerjaannya, Lovino memencet-mencet tombol untuk format datanya di panel mesin fotokopi yang tampak baru itu.
'Phats!'
Tiba-tiba seluruh ruangan menggelap. Lovino panik, mesin fotokopi juga berhenti bekerja akibat tak ada listrik mengalir pada mesin tersebut.
Geez. Tadi dia tidak bilang kalau dia memiliki fobia kegelapan bukan, jadi berteriak itu tidak akan ada salahnya sekarang, bukan begitu?
Antonio berjalan santai dengan sedikit siulan. Bolos itu adalah kegiatan yang menyenangkan, apalagi ketika guru yang mengajar bukanlah guru yang kau sukai, catat, kalimat yang diketik secara italik memiliki makna yang sebenarnya. Dan kalian sudah tahu bukan, kemana Antonio tercinta kita menuju sekarang? Belum? Baiklah, mari kita perjelas ia menuju kemana. Antonio berjalan lurus di sebuah koridor panjang. Tentu saja ia akan pergi mengunjungi pujaan hatinya.
Ke ruang gu—
'Phats!'
—ru.
"GYAAAAAAAAAA—"
Menajamkan pendengarannya, Antonio membeliakkan mata ketika mengenali lengkingan teriak dengan nada diatas sepuluh oktaf tersebut. Gelap. Seluruh lampu yang menempel di langit-langit koridor itu mati. Belum cukup gelap karena ini masih pagi. Koridor juga memiliki jendela yang terbilang luas di salah satu sisinya. Jadi sinar matahari masih bisa menerobos masuk. Tapi pasti gelap gulita pada ruang-ruang yang terletak di sisi dalam gedung sekolah. Ruang guru adalah satu di antaranya. Dan teriakan dari Lovino-nya tercinta sudah cukup sebagai alasan ia berlari ke ruang guru sekarang.
Berlari cepat, menjeblak pintu bak hero ketika tiba di depan ruang guru—meski pun tidak terlihat karena cukup gelap, secercah cahaya matahari yang menerobos menjadikannya senyata Superman—Antonio melirik liar ke seluruh sisi ruangan. Untung saja pintunya tak terkunci. Tetap saja tidak terlihat dan gelap sekali. Mengerang frustasi, Antonio memanggil gurunya—setengah berteriak.
"Lovinito! Kau dimana?" berteriak dengan nama panggilan yang salah, tapi Antonio yakin caranya benar.
"Jangan panggil aku dengan nama begitu, goblok!" yang tentu saja dibalas dengan hujatan berani penuh maki ala Lovino Vargas. Antonio terkekeh sendiri mengetahui gurunya tak jauh dari posisinya sekarang. Ia tinggal maju beberapa langkah dan—
'Gubrak!'
—terjengkang. Oh yang benar saja! Image keren yang dengan susah payah ia ciptakan luntur sudah. Antonio mendesah dengan sebuah senyum pasrah.
"Chigi! Kau berat sekali! Uuuuuh!" gerutu orang yang ada di bawahnya. Samar mencium bau shampoo yang lembut, Antonio kembali pada kenyataan bahwa sekarang ia sedang menimpa guru tercinta—dengan tidak sengaja.
"Ahahaha~ baumu enak sekali Lovinito~" Antonio mencium helaian-helaian lembut rambut Lovino yang ada di bawahnya. Beruntung lampu sedang mati, jadi Antonio tidak bisa melihat wajah Lovino yang sudah bersemu merah di bawahnya.
"Panggil aku dengan sebutan yang benar, bocah! Apa perlu aku masukkan kau ke ruangan Mr. Zwingli?" gertak Lovino, mengingat bahwa Vash Zwingli ternyata adalah seorang guru konseling. Ia baru diberitahu sekarang, dan tidak sadar karena pada awalnya wajah yang lumayan terlihat kalem tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyimpan amarah berlebih dibaliknya.
"Tidak... tidak..." sambut Antonio dengan penuh tawa. Bukannya malah menjauh, ia malah memeluk Lovino. Dibalas dengan penuh berontak oleh badan mungil Lovino. "Aku akan menjagamu, Mr. Vargas, Lovinito, Lovino." bisiknya di telinga Lovino.
Kalau saja lampu sudah menyala sedari tadi, mungkin Antonio sudah mati kesenangan akibat mendapat tontonan menarik. Wajah Lovino yang memerah seperti tomat kesukaannya pasti akan terlihat sangat imut, kalau saja ia bisa melihatnya. Lovino sudah berhenti memberontak, dan juga diam di pelukan Antonio. Reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Antonio. Mereka diam sejenak dalam jeda keheningan.
"Bo-bodoh!" bisik Lovino parau. Antonio tertawa kecil menanggapi balasan sang guru sembari mempererat pelukannya.
Lovino ragu, ia ingin membalas pelukan Antonio, namun ia bukan homo. Jadi ia diam saja.
Mereka terus begitu selama beberapa saat, sampai akhirnya seluruh lampu kembali menyala terang. Dan kedua orang itu tersadar akan posisi mereka sekarang. Lovino cepat-cepat mendorong tubuh Antonio yang terlena karena guru tercintanya sudah sedikit melunakkan sifat padanya.
Wajah memerah seketika diikuti jengitan yang menunjukkan penolakan, Lovino berdiri dan sedikit limbung. Beruntungnya ia bisa bertumpu pada mesin fotokopi yang ada di belakangnya.
"I-i-itu bukan berarti aku menyukaimu, chigi!" menunjuk penuh kecemasan kalau-kalau Antonio mungkin akan melakukan serangan dadakan kedua.
Murid yang ada di depannya hanya tersenyum. "Jadi, Mr. Vargas membenciku?" kemudian senyuman itu berubah menjadi tatapan anak anjing kebasahan. Lovino melirik dengan ekspresi takut semisal pertahanannya tiba-tiba runtuh jika ditatap macam itu.
"Bu-bukan begitu bodoh!" Lovino memalingkan mukanya. "Aku bukannya membencimu, tapi aku juga bukannya menyukaimu, mengerti?" lanjutnya dengan nada bergetar—bingung akan cara pengucapan yang benar.
"Baiklah, jadi, aku boleh panggil Lovinito, sí?" memandang dengan nada polos ke arah guru tercinta yang masih memalingkan wajah, menyembunyikan pipi merona. Namun tetap saja gagal.
"Boleh. EH! TIDAK! Tidak boleh! Tidak boleh!"
"Baik Lovinito cinta—" Antonio berdiri dan maju dengan cepat, mencuri cium dari Lovino yang akhirnya ternganga setelah pemuda dengan iris sewarna emerald itu melepas cumbuan bibirnya, meninggalkan seutas benang saliva tipis yang berkilau terkena cahaya lampu.
Kemudian berlari dengan penuh tawa, diikuti oleh Lovino yang mengejar dengan lengkingan teriak dan koleksi makian yang ia miliki di belakang. Antonio tak tahu lagi apa hal terbagus di dunia selain keberhasilannya mencium (secara sepihak) Lovino. Rupanya, sang dewi keberuntungan berada di pihaknya.
Dan keesokan harinya, Lovino terpaksa mendengarkan celoteh marah seorang guru berwajah keibuan yang lembut yang kerap dipanggil sebagai Ms. Elizaveta akibat tugas yang diserahkan padanya belum selesai.
Begitu pula Antonio yang terpaksa menulikan telinganya ketika Mr. Zwingli membentak-bentaknya penuh emosi akibat ketahuan membolos pada jam pelajaran.
to be continued...
A/N kyaaaaaaaaaaa! #teriakgalau #hiraukan
*mata berbinar-binar melihat review
terima kasih buat special guest saya, Silan Haye yang menyambut come back-nya manusia lancang ini dengan senang hati ; u ;
iya silan, nggak chou hapus lagi deh fic-nya, janji update secepatnya biar nggak ditodongin pisau ouo #emotnyasalah #dor
love you silan, makasih buat saran-sarannya sama review-nya, sumpah, chou ngakak baca review silan #tabok-ed
dan satu lagi, iya silan, chou tanya ke Mr. Google-honey soal judul fic ini, makanya ada salahnya, makasih sudah dibenerin :*
buat shitsuka yang sudah sudi me-review, makasih ya, dan salam kenal! ini sudah saya update, terima kasih ouo
buat megumi yoora yang juga sudah memberi review, makasih banyak! :D
iya, saya memang mencoba menyesuaikan sifat chara yang ada di fic ini dengan sifat chara aslinya, hanya saja mungkin Yao dan Vash awalnya agak OOC karena pada chapter 1 giliran tampil mereka belum banyak dan masih cuma berupa hint saja, dan silahkan review-nya, diterima dengan sangat senang hati ouo
dan mikisunkhun, terima kasih atas review-nya, dan wah! mau di fave X'D
terima kasih banyak ya, dan ini sudah di-update ouo
sekian bacotan saya pada kolom author note ini, terima kasih buat yang sudah baca dan review, juga buat silent reader yang mungkin memang belum sempat memberi komentar, terima kasih :)
please review for faster update, mohon sarannya karena fic offering ini memang masih banyak kekurangannya
sampai jumpa di chapter depan!
