OASIS 2
Cast: Jang Hyuseung, Yong Junhyung, Yoon Doojoon and other
Genre: Romance Comedy
Rate: AU
Summary: Jang Hyunseung seorang pria sebatang kara yang harus membayar hutang-hutang mendiang ayahnya yang pemabuk ditambah dengan hutang-hutangnya sendiri kepada seorang musisi terkenal Yong Junhyung. Apa yang akan dilakukannya untuk melunasi hutang-hutang tersebut?
Disclaimer: Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Full House tapi tidak sepenuhnya juga karena saya sendiri tidak hapal dengan jalan ceritanya. Semua tokoh di sini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka, jadi maaf kalau nanti berkesan OOC karena semua tokoh saya jalankan sesuai keperluan cerita.
WARNING! Ini adalah JunSeung fic = YAOI fic so yang tidak suka YAOI harap tidak membacanya, termasuk untuk kalian yang tidak menyukai JunSeung, FF ini diciptakan untuk para JunSeung shipper so DON'T LIKE DON'T READ!
(^o^)~JunSeung~(^o^)
Siang ini udara begitu panas, siapapun pasti memilih untuk bermalas-malasan dirumah apalagi jika ditambah dengan satu cup besar es krim, tapi semua itu harus dikubur dalam-dalam karena siang hari adalah saat yang tepat untuk berjualan. "Susu penambah tinggi badan, ayo dibeli! Ayo selagi ada diskon!" teriak seorang pria berwajah imut dengan hidung yang pesek.
"Susu penambah berat badan juga ada, jika mengkonsumsi susu ini dengan teratur tubuhmu bisa sekeren Bi!" teriak pria lainnya yang tak kalah pendeknya, yang membedakan hanya pria ini lebih kurus.
"Jika kalian membeli keduanya diskonnya semakin besar!" seru keduanya bersemangat dengan senyum lebar. Sayangnya orang-orang yang berjalan di pinggiran jalan itu hanya melemparkan tatapan mengejek seraya menahan tawa dengan tangan mereka.
"Yaa coba lihat ada 2 pria bodoh penjual susu di sini!" teriak seorang bocah SMA kepada teman-temannya.
"Yaa jangan berbicara sembarangan Dongho-ah mereka itu lebih tua dari kita tahu!" lerai temannya yang berambut jamur.
"Benar mereka lebih tua dan lebih pendek dari kita hahaha…" kali ini pria dengan rambut ikal kecoklatan yang berkata kemudian yang lainnya pun ikut tertawa. Yoseob dan Kikwang –dua pria yang tengah dibicarakan- menatap bocah-bocah SMA itu dengan tatapan kesal campur heran. Kesal karena merasa dibicarakan dengan 'buruk' dan heran kenapa anak-anak sok tahu itu seenaknya saja membicarakan orang asing.
"Yaa jangan berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua tidak baik!" kali ini muncul lagi seorang pria tapi jika melihat pakaian yang dikenakannya sepertinya dia bukan anak SMA apakah mungkin dia datang sebagai malaikat penolong? Belum-belum Kikwang sudah berkhayal yang tidak-tidak, "Kalian harus hormat pada orang yang lebih tua dari kalian kalau tidak mau kualat!" katanya lagi, kali ini pria berwajah western-arabian itu tersenyum menyindir sambil melirik deretan susu kotak yang dijual oleh KiSeob.
"Yaa kau mau membela kami atau menghina kami sih?" kata Yoseob tersinggung, "Dan kalian bocah-bocah jangan kurang ajar padaku ya, biarpun tubuhku kecil aku ini punya impian yang sangat besar!" kata Yoseob bangga.
"Ups hati-hati jika tubuhmu tidak mampu menampung impianmu yang besar dia bisa semakin mengecil karena tidak kuat!" bola mata Yoseob membesar, "Son Dongwoon imnida, umur 19 tahun, lulus SMA tahun lalu, tinggiku 181 cm dan berat badanku 64 kg kurasa aku tidak butuh susu ini!" kata Dongwoon sambil menunjuk-nujuk barang-barang yang tertata rapih di meja saji di depannya.
"Yaa kau-" Yoseob bersiap memukulnya kalau saja si bocah Mickey Mouse tidak menariknya, "Aish lepaskan!" protesnya.
"Dongho, Jeongmin, Taemin, Niel tolong mereka ya?" kata Dongwoon kepada keempat anak SMA yang sibuk memperhatikan kotak-kotak susu itu, "Yongjae dan Jay juga ya tolong tarik dua pria itu ke tempat lain!"
"Ne Hyung!" keenam anak itu kompak.
"Yaa kami mau dibawa kemana?" teriak Kikwang yang langsung dibekap Yongjae.
.
.
.
"Maaf." Junhyung mencoret kata maaf yang baru saja ditulisnya, "Maaf." tapi ia menuliskannya lagi, "Maaf."
"Yaa diamlah!" Junhyung berdiri, meremas kertas dengan tangan kirinya dan melempar pena dengan tangan kanannya. Hyunseung memegangi dadanya kaget, "Kau bisa diam tidak? Aku sedang sibuk apa kau tidak lihat?"
"Habisnya kau mengabaikanku." kata Hyunseung kalem.
"Kau kan sudah mengatakan itu sejak tadi pagi memangnya kau tidak capek apa? Aku saja sudah muak mendengarnya!"
"Kau tidak menjawabku jadi kukatakan terus, kalau ditanya capek atau tidak tentu saja aku capek!" jawabnya polos. Junhyung menghela napas kasar.
"Sudah-sudah aku sudah memaafkanmu!" katanya seraya meninggalkan kamar rawat Hyunseung.
"Kau mau ke mana? Katanya sudah memaafkanku?"
Junhyung menoleh dengan tatapan galak, "Aku mau mencari makan memangnya kau pikir aku tidak lapar?"
BLAM
Sekali lagi Hyunseung terkejut karena suara pintu yang ditutup dengan keras.
"Tadi kutawari makan tidak mau, salahnya sendiri kan?"
"KAU PIKIR AKU INI ORANG SAKIT?"
BLAM
"Hah dia bisa tahu apa yang kukatakan dari balik pintu?"
.
.
.
"Lihat anak-anak ini, umur mereka masih sangat muda tapi tubuh mereka sangat tinggi bukan?" Dongwoon tersenyum ramah kepada para konsumen yang mulai berdatangan, "Tentu saja ini semua karena susu-susu ini!" lanjutnya seolah menjawab rasa penasaran para konsumen.
"Wuah iya kenapa mereka tinggi sekali ya?"
"Tubuh yang tinggi membuat mereka terlihat semakin keren dan tampan!"
"Aku juga mau setinggi itu, apa susu ini bisa untuk wanita?"
"Ah tentu saja susu ini cocok untuk pria dan wanita!" kata Taemin semangat.
"Wah pasti kau juga meminum susu ini ya? Kau tinggi sekali pasti bisa masuk Nine Muses!"
"Apa?" Taemin melotot kaget ke arah gadis-gadis di hadapannya.
"Hahaha…" seketika Dongho dan teman-temannya menertawai Taemin.
"Maaf noona, dongsaengku ini laki-laki, wajahnya saja yang cantik!" kata Dongwoon menahan tawa.
"Oh maaf…" Taemin hanya mengangguk maklumlah dia sudah terlanjur kesal dikira wanita dan ditertawai di hadapan banyak orang.
Dari kejauhan Yoseob dan Kikwang menatap tidak percaya sudah sejak pagi mereka berjualan tapi tak satu pun yang mau membeli, tapi orang-orang asing itu baru setengah jam saja sudah behasil mengumpulkan begitu banyak konsumen.
"WOW!"
Dongwoon tersenyum bangga setelah menanggalkan kemeja dan kaos oblongnya di hadapan para konsumen.
"Jangan heran hyungku ini sudah mengkonsumsi susu-susu ini secara rutin, jadi tubuhnya tinggi dan coklat absnya juga begitu keren seperti Bi, kalian juga bisa seperti ini jika kalian meminum susu ini!" Niel mengangkat kotak susu dan bergaya seperti model iklan susu di televisi. Sementara Dongwoon bergaya seperti model pria di majalah pria dewasa, yang tentu saja sangat panas dan menggoda.
"Jika kalian wanita, maka kalian akan mendapatkan abs yang sama indahnya dengan abs milik Lee Hyori!" Jeongmin memerkan poster penyanyi seksi Lee Hyori yang tengah memamerkan perut seksinya.
"Dan jika kalian membeli 3 paket sekaligus maka kami akan memberikan kalian 1 paket gratis sebagai bonusnya, bagaimana tertarik?" Dongho menyeringai dalam waktu sepersekian detik kemudian tumpukan susu kotak itu pun habis digantikan oleh tumpukan won.
.
.
.
Kikwang dan Yoseob sama-sama terpana melihat tumpukan uang di hadapan mereka sementara Dongwoon dan Dongho cs sedang asik bersantai meregangkan otot-otot tegang mereka. Yoseob langsung menghitung uang-uangnya, mngkin saja beberapa di korupsi oleh orang-orang asing itu sebagai upah, "Mwo? Kalian menjualnya dengan harga berapa?" heran Yoseob setelah mengetahui keuntungan yang didapatnya ternyata lebih dari yang seharusnya didapatnya.
"Kami hanya menambahkan 500 won kok!" jawab Dongho sambil mengangkat kelima jari kanannya, cuek.
"Mwo?" Kikwang melotot kaget, "Harganya kan hanya 500 won kenapa kalian jual jadi 1000 won?" lanjutnya sambil menunjuk-nujuk wajah Dongho.
"Kalian pikir kalian akan kaya hanya dengan menjual susu?" kali ini Dongwoon yang bertanya sambil menunjuk Kikwang dan Yoseob, "Sudah mulai hari ini berhentilah menjual susu!" katanya.
"Heh bocah sok tahu, jangan sembarangan bicara, kau pikir kami akan hidup dengan cara apa kalau tidak menjual susu?" cecar Yoseob seraya mengepalkan tangannya.
"Menjadi penari!" jawab Taemin sambil tersenyum riang.
"PENARI?" koor Kikwang dan Yoseob yang dijawab anggukan dari oleh pria lainnya.
"Aku Shin Dongho murid kelas 3 SMA Neul Paran," Dongho maju memperkenalkan diri tanpa diminta, "Pria yang cantik itu namanya Lee Taemin-"
"Yaa!" Taemin menginterupsi dengan tampang menyeramkannya.
"Yang rambutnya keriting itu namanya Lee Jeongmin," lanjut Dongho tanpa memperdulikan kemarahan Taemin, "Yang duduk di sampingnya itu Niel,bocah Mickey Mouse itu namanya Jeon Jihwan tapi kami lebih sering memanggilnya Jay dan yang terakhir itu namanya Yoo Yongjae. Kami semua adalah penari!" Dongho menutup perkenalannya dengan senyum mengembang di wajah mungilnya.
"Lalu?" tanya Kikwang dengan wajah polosnya.
"Aku Son Dongwoon kakak kelas mereka dan penari juga!" jawab Dongwoon sama polosnya.
"…"
Sepertinya Dongho cs malas menanggapi kepolosan merangkap bodoh dari 'sunbae' mereka. "Tidak tanya!" kata Yoseob akhirnya memecah keheningan.
"Benar, maksudku kalian yang jadi penari apa hubungannya dengan kami?" tanya Kikwang kali ini dengan rasa penasaran.
"Curang!" Jay menunjuk wajah Kikwang tiba-tiba, "Kalian belum meperkenalkan diri!" katanya dengan teriakan khas bocah.
.
.
.
Hyunseung sibuk menonton TV di kamar rawatnya, meskipun hanya sebuah kamar rawat tapi karena kamar ini merupakan kamar kelas 1 tetap saja kamar ini terlihat mewah jika dibandingkan dengan kamar di rumah sewaannya, yang sempit meskipun tak menyimpan banyak benda. Kamar Hyunseung hanya cukup untuk sebuah kantung tidur dan sebuah lemari pakaian yang sama kecilnya. Hyunseung tersenyum kecut mengingat lemarinya, dulu saat ia mendapat uang dari hasil kerja serabutannya, ia selalu menyimpan –atau lebih tepat jika disebut menyembunyikan- uangnya di dalam tumpukan baju dalam lemari tersebut, tentu saja agar tidak diambil sang ayah yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan.
Kamar rawat terasa sepi tanpa suara TV yang baru saja dimatikannya, Hyunseung menyimpan kembali remot TV di dufet kecil di samping ranjangnya. Hyunseung beranjak dari tidurnya lalu mengangkat botol infusnya tinggi-tinggi. Hyunseung bosan, duduk santai di kamar mewah bukan kebiasannya, Hyunseung yang hidup susah sejak kecil sudah terbiasa bekerja tapi saat ini apa yang bisa dikerjakannya, keluar dari rumah sakit saja harus menunggu izin dari dokter. Hyunseung jadi ingat pembicaraannya dengan Junhyung pagi tadi.
"Dokter bilang kau dehidrasi, maagmu juga kambuh," Hyunseung diam saja saat Junhyung menjelaskan kenapa ia bisa berada di ruangan asing itu, "Semalam juga kau demam dan menyusahkanku, aku mengompresmu seperti perawat!" Hyunseung mengerutkan keningnya, mulai bereaksi. Junhyung mendesah kesal lalu berkata: "Yang pelayan itu siapa? Kenapa jadi aku yang kau repotkan?"
Hyunseung tertawa mengingatnya, bukan karena ia berhasil 'memperbudak' Junhyung tetapi karena wajah Junhyung yang terlihat lucu saat marah padahal ia bersumpah saat bertemu pertama kalinya, Junhyung terlihat sangat menyeramkan.
"Jamsi man-yo!" Hyunseung menghentikan tawanya seseorang berjas putih melambaikan tangannya di depan wajahnya, "Gwaenchanhayo?" tanya pria itu.
Hyunseung mematung selama beberapa detik, sampai pria itu menepuk pundaknya, "Ah ye? Ah joesonghabnida!" katanya seraya menunduk.
Pria itu tersenyum hangat, "Ah gwaenchanha, kau mau ke mana?" tanya pria itu, Hyunseung tak menjawab malah menatap bingung pria itu, "Yoon Doojoon imnida, aku dokter yang merawatmu."
Hyunseung tersenyum canggung, "Jeosonghabnida uisanim, aku tidak tahu kalau dokterku." katanya menyesal.
"Tidak apa-apa," Doojoon menggeleng maklum, "Kau sendirian?" tanya sambil melihat sekitar, "Ke mana kakakmu?"
"Apa?" Hyunseung malah balik bertanya membuat Doojoon sedikit bingung, "Ah maksudmu Yong Junhyung ya?" Doojoon mengangguk mengiyakan, Hyunseung tersenyum geli, kakak. Sejak kapan mereka punya hubungan darah?
"Aku mau mengontrol keadaanmu, tapi sepertinya kau tidak betah di sini?"
"Aku memang bosan, tapi waktu aku mau keluar aku ingat Junhyung hehehe…"
"Makanya kau tertawa sendiri tadi?"
Hyunseung mengangguk, "Dia itu bukan kakakku!"
"Benarkah?"
"Katanya mau memeriksaku?" Hyunseung berjalan ke arah ranjangnya, meletakkan kembali botol infusnya dan duduk di ranjangnya dengan manisnya, "Uisanim!" panggil Hyunseung karena Doojoon hanya diam memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
"Ah maaf." Doojoon menghampiri Hyunseung dan mulai memeriksanya, hari ini untuk pertama kalinya ia merasa menyesal karena tak pernah mengajak suster saat mengontrol keadaan pasiennya,
.
.
.
Faktanya Kikwang pernah bilang kalau meskipun dia dan Yoseob pendek tapi mereka ngga malu dan malah dengan bangganya memproklamirkan diri sebagai 'Duta Orang Pendek' kkk ada yang mau gabung? Yoseob juga pernah bilang kalo meskipun tubuhnya kecil tapi impiannya lebih besar dari siapapun *plok-plok-plok*
Yang ngebias ke Kiki maaf ya Kikinya ku hina hahaha kan emang waktu debut dia masih kurus kerempeng belum punya abs sebagus sekarang saya aja pangling ngeliat dia yang sekarang ^^ dan apa ini kenapa ada begitu banya 94 Line? *pengecualian Taemin* well well itu karena saya juga termasuk 94 Line *narsis* bukan apa-apa sih lebih cocok aja buat di jadiin anak SMA
Tetep review ya, karena review kalian seperti OASIS di padang pasir yang gersang *edisi gombal*
So keep it or delete it?
