OASIS 3

Cast: Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yoon Doojoon and other

Genre: Romance Comedy

Rate: AU

Summary: Jang Hyunseung seorang pria sebatang kara yang harus membayar hutang-hutang mendiang ayahnya yang pemabuk ditambah dengan hutang-hutangnya sendiri kepada seorang musisi terkenal Yong Junhyung. Apa yang akan dilakukannya untuk melunasi hutang-hutang tersebut?

Disclaimer: Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Full House tapi tidak sepenuhnya juga karena saya sendiri tidak hapal dengan jalan ceritanya. Semua tokoh di sini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka, jadi maaf kalau nanti berkesan OOC karena semua tokoh saya jalankan sesuai keperluan cerita.

WARNING! Ini adalah JunSeung fic = YAOI fic so yang tidak suka YAOI harap tidak membacanya, termasuk untuk kalian yang tidak menyukai JunSeung, FF ini diciptakan untuk para JunSeung shipper so DON'T LIKE DON'T READ!

(^o^)~JunSeung~(^o^)

Kikwang dan Yoseob masih tercengang melihat markas Dongwoon cs sepertinya tempat yang disebut sebagai 'tempat latihan' ini lebih cocok disebut sebagai gudang mengingat ukurannya yang sempit, penuh barang-barang bekas dan kotor. Kikwang menutup hidungnya, meskipun miskin bukan berarti ia tinggal di lingkungan kumuh seperti ini, sementara Yoseob terus memperhatikan lantai sampai tiba-tiba seekor hewan pengerat berjalan menghampiri kakinya.

"KYAAAA!" Yoseob langsung melompat dan mencekik leher Kikwang hingga Kikwang tak bisa bernapas sementara Dongwoon cs hanya tertawa.

"Kita harus bersihkan tempat ini dulu Hyung!" kata Jay sambil menatap jijik sekelilingnya, Dongwoon tersenyum geli melihatnya kemudian mengangguk setuju.

"Yaa kalian berdua juga harus membantu kami!" seru Dongho seraya menunjuk wajah Kikwang dan Yoseob.

Sebenarnya Kikwang dan Yoseob sama sekali tak mau menjadi penari tetapi karena Dongwoon cs memaksa keduanya dengan dalih mereka sudah mau membantu Kikwang dan Yoseob berjualan, maka Kikwang dan Yoseob tak bisa lagi berkelit kecuali mengangguk setuju.

Udara Seoul hari ini cerah sekali secerah hati Doojoon, entahlah dokter muda itu belum pernah merasa sesenang ini sejak 3 tahun belakangan. Dengan senyum yang mengembang ia melangkah menuju kamar 73 seperti biasanya tanpa ditemani suster yang akan membantu tugasnya.

"Annyeong," sapa pria bermata kelinci dengan senyum secerah matahari –setidaknya itulah yang dilihat Doojoon.

"Hai," Doojoon menutup pintu kamar rawat kemudian menghampiri sebuah ranjang yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri tadi, "Bagaimana keadaanmu hari ini?"

"Baik!" jawab Hyunseung singkat diiringi senyum manisnya.

"Ah uisanim, annyeonghaseyo," Junhyung yang baru keluar dari kamar mandi membungkuk hormat sesaat setelah melihat kehadiran dokter Yoon.

"Annyeonghaseyo Tuan Yong," Doojoon balas membungkuk. Hyunseung menahan tawa, dalam pikirannya sekarang adalah, ternyata seorang Yong Junhyung yang terlihat 'bar-bar' itu bisa juga bersikap hormat.

"Oh Dokter Yoon sudah kenal ya dengan kakakku?" tanya Hyunseung memecah keheningan, "Padahal aku baru saja mau mengenalkan kalian loh!" katanya seraya menatap sinis Junhyung.

"Yaa kau bicara apa? Aku sudah bertemu dengannya saat kau pingsan malam-malam tahu!" cecar Junhyung, "Oh iya Dokter Yoon kapan bocah ini bisa keluar?" tanyanya pada dokter Yoon yang sudah mulai memeriksa keadaan Hyunseung.

"Err…" Doojoon menatap Hyunseung dan lalu melemparkan senyum terpaksa kepada Junhyung.

"Ku harap hari ini karena aku harus pergi ke Jepang, besok!"

"Memang kenapa kalau kau mau ke Jepang?" tanya Hyunseung yang langsung di lempari death glare oleh Junhyung.

"Kau mau membawanya ke Jepang? Tapi dia baru saja pulih!" Junhyung menggeleng, "Lalu?"

"Tidak ada yang menjaga rumahku!"

"…"

.

.

.

Hyunseung masih tertawa menatap wajah Junhyung yang terlihat murka, sepertinya Hyunseung mulai memahami sikap Junhyung. Ya meskipun terlihat menyeramkan, tapi sebenarnya Junhyung itu baik hati.

"Aku mengaku sebagai kakakmu karena pihak rumah sakit selalu bertanya, "Apa kau keluarganya?" kalau sudah begitu aku harus jawab apa?" Hyunseung mengangguk masih dengan tawanya yang terdengar sengau, "Ah sudahlah dasar tidak tahu terimakasih!"

"Yaa jangan marah begitu, aku kan hanya merasa aneh tahu!"

"Aneh?" Junhyung menatap Hyunseung, heran.

"Kau kan tinggal mengatakan kalau aku pelayanmu!"

"Iya… habis itu mereka akan mengatakan kalau, musisi muda Yong menyiksa pelayannya sampai sakit, lalu menyebar ke media dan reputasiku jatuh! Kau mau bertanggung jawab jika sudah terjadi hal seperti itu?"

"Yaa kau ini kenapa begitu menyebalkan? Aku menyesal telah kagum pada sikapmu!" Junhyung berlalu tak memperdulikan, "Menyebalkan!"

Hyunseung membanting tubuhnya di ranjang empuknya, benar ini sangat empuk jika dibandingkan dengan ranjang rumah sakit. Bahkan ia sampai berpikir, apa di rumah ini tidak ada kamar khusus pelayan hingga ia mendapatkan kamar yang sebagus ini?

Hyunseung beranjak dari tempatnya, kalau dipikir-pikir ia belum mengenal detail rumah ini karena saat pertama kali datang malah pingsan. Jadi demi menjadi pelayan yang baik, Hyunseung akan berkeliling rumah yang terlalu besar untuk ditinggali Junhyung sendiri itu.

"Yaa kau mau ke mana?"

Hyunseung tersenyum, "Kau mengkhawatirkanku ya? Tenang saja aku sudah baikan kok!"

"Bukan," Junhyung menggeleng lalu memberikannya secarik kertas, "Kau tahu pasar Chuncheon kan? Di rumah tidak ada persediaan makan sama sekali jadi kau belanja lah untuk keperluan seminggu ke depan!"

"Mwo?" Hyunseung melongo sambil memandangi kertas yang di berikan Junhyung.

"Wae? Aku harus packing, aku akan berangkat pukul 6 besok dan akan pulang lusa, jadi sekarang aku tak ada waktu untuk belanja. Kan waktuku sudah habis untuk menemanimu di rumah sakit!"

"Aish dasar majikan gila!" \Hyunseung megacak rambutnya sendiri, "Yaa uangnya di mana?"

"Di atas meja, di ruang tamu, ada kunci mobil juga kau pakai saja mobilku supaya lebih cepat!" teriak Junhyung dari arah kamarnya. Hyunseung mendesah kasar, mana bisa dia menyetir mobil, naik mobil saja jarang.

.

.

.

Doojoon sedang sibuk mengecek data-data pasien saat pintu ruangannya diketuk, seingatnya ia tak memamnggil siapapun ke ruangannya dan lagi ini jam istirahatjadi tidak mungkin jika ada pasien yang datang, "Masuk!" suruhnya tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran –lebmaran kertas dalam mapnya.

"Masih muda sudah sibuk, nanti kau bisa cepat tua!"

Doojoon menghentikan aktivitasnya, "Berapa umurmu sampai berani mengatakan bahwa aku masih muda?" Doojoon menatap wanita di depannya dengan tatapan tajam.

"Aku baru saja lulus dari SMA tahun lalu, umurku 18 tahun tapi setahukukau juga masih muda Dokter Yoon," gadis itu mengalunkan tangannya pada leher Doojoon dari belakang, keduanya terlihat sangat dekat, hingga orang pasti akan mengira kalau keduanya adalah sepasang kekasih, "Kau lupa kalau umurmu masih 25 tahun?"

Doojoon tertawa renyah, "Yaa Yoon Bomi jangan seperti ini bodoh, aku bisa dicurigai orang nanti!" katanya setelah menepis tangan adiknya, membuat gadis bernama Bomi itu menekuk wajah kesal.

"Kau ini sudah tak menjemputku di bandara, sekarang malah bersikap seperti itu!"

"Kan sudah ku bilang kalau aku begitu sibuk!" Doojoon mencubit pipi adiknya gemas.

"Apo!" Bomi mengusap pipinya yang memerah.

"Jadi kau benar-benar akan kuliah di Korea ya?"

"Tentu saja, dengan otakku yang cerdas ini aku bisa dengan sangat mudah masuk Seoul University!" sombongnya.

"Hahaha awas ya kalau kau gagal tes, aku akan melemparmu ke sungai Han!"

"Tidak takut!" Doojoon tertawa melihat wajah menggemaskan Bomi, begitu lah adiknya kalau sudah punya kemauan tak ada seorangpun yang boleh melarangnya apalagi menggagalkannya. Tapi bagaimanapun juga Bomi adalah adik satu-satunya dan ia sangat menyayanginya.

"Oppa apa pasienmu cantik-cantik?" goda Bomi.

"Tidak ada yang secantik dia!"

"Benarkah?"

"Hm," Doojoon mengangguk pelan.

"Atau kau saja yang terlalu menutup diri, ku dengar kau tidak suka ditemani suster-suster cantik!"

"Meskipun suster-suter itu tidak cantik juga aku tetap tidak mau," Doojoon menyentil dahi Bomi, "Aku tidak merasa nyaman, bukan mentup diri!"

"Kkotjimal!"

.

.

.

Saat kau pulang dari Jepang temui kami secepatnya,

jangan sampai tidak!

Junhyung mematikan ponselnya dan lalu memasukannya ke dalam tasnya, membaca pesan dari ibunya membuatnya malas mengaktifkan ponselnya, ibunya itu sangat bawel, kalau pesannya tdak dibalas maka ia akan menelponnya sampai Junhyung mau menjawab. Kadang Junhyung berpikir kalau ibunya itu adalah tukang terror yang suka menganggunya.

"Kau jangan coba-coba kabur saat aku pergi, jangan terima orang asing-"

"Jangan bawa orang asing, jangan lupa tutup semua pintu dan jendela saat malam, jangan biarkan rumah dalam keadaan kotor dan jangan lupa mengurus kebunmu, iya kan? Kau sudah mengatakannya padaku sebanyak 6 kali Tuan Yong!" kata Hyunseung jengkel.

"Mungkin saja kau lupa!"

"Kalau kau mengatakannya sekali lagi mungkin aku akan memberimu pukulan cantik di wajah!" Junhyung menelan ludahnya, Hyunseung tersenyum sambil mendorongnya keluar, "Pesawatmu berangkat 15 menit lagi Tuan Yong!"

BLAM

Junhyung menatap horror pintu rumahnya yang baru saja dibanting Hyunseungm, sebenarnya Hyunseung itu pelayannya atau ibunya? Sementara itu Hyunseung hanya terkikik geli membayangkan ekspresi Junhyung tadi, sepertinya menjadi pelayan tidak begitu buruk.

Hyunseung mulai membersihkan rumah Junhyung, sekaligus menghapal bagian-bagian rumah ini. Dalam hati ia terus memuji Junhyung yang walaupun tinggal sendiri tapi rumahnya benar-benar bersih dan rapih. Tidak sepertinya yang meskipun tinggal di rumah yang kecil dan sempit tapi rumahnya selalu saja kotor dan berantakan.

Hyunseung masuk ke kamar Junhyung setelah selesai membersihkan seluruh rumah termasuk merawat kebun, kamar Junhyung terlihat berbeda dengan kamarnya di rumah sewaan dulu. Jelas saja, dari ukuran saja kamar ini 3 kali lebih besar, belum lagi kamar mani di dalam kamarnya, cat temboknya juga masih sangat bagus dan terlihat segar, ranjang berkururan King Size di tambah furniture lainya membuat kamar ini terlihat sangan mewah.

"Ommona kamar yang mirip sekali dengan kamar di dalam drama ckckck berapa haraga rumah ini ya, pasti lebih mahal dsri guci yang kurusak!"

TEET

"Mwo, nuguya?" gumamnya saat mendengar suara bel. Hyunseung segera bergegas turun dan melihat siapa yang datang, mungkin itu orang asing karena Juhyung baru saja pergi 3 jam yang lalu dan sepertinya ia tidak mungkin kembali dalam waktu yang cepat. "Nuguya?" Hyunseung membuka pintu dan menemukan 3 orang pria seumurannya.

Seorang pria berwajah asing terlihat kaget mendapati Hyunseung di hadapannya, sementara dua pria lainnya menatap Hyunseung penuh tanya, "Kau siapa?" tanya pria yang lebih tinggi dari Hyunseung itu.

"Kenapa malah bertanya padaku, tadi kan aku yang bertanya padamu!" kata Hyunseung sembari menggaruk kepalanya bingung.

"Junhyung Hyung odiga?" tanya pria itu lagi.

"Kau ini siapanya Junhyung?" tanya Hyunseung yang lalu menutup pintu rumah, "Junhyung sedang tidak ada di rumah, jadi aku yang menjaga rumahnya!"

"Woah kau pacarnya Hyung ya? Kenalkan aku Son Dongwoon adik beda ayah dengan Junhyung Hyung!" kata Dongwoon sambil nyengir bangga, "Ini teman-temanku Lee Kikwang dan Yang Yoseob, aku sudah janji mau membawa mereka ke Junhyung Hyung tapi orangnya malah tidak ada!"

"Maaf, aku-"

"Ah Hyungsoonim kami lelah sekali, izinkan kami masuk ya!" Dongwoon membuka pintu rumah kakaknya diikuti KiSeob yang mengekor di belakangnya.

"Yaa jangan masuk!" cegah Hyunseung.

"Kenapa? Tidak boleh membiarkan orang asing masuk ya? Tenang saja Hyungsoonim aku ini kan adiknya Junhyung Hyung! Oh iya ngomong-ngomong kami haus tolong buatkan minum ya!"

Hyunseung mengepalkan tangannya geram, "Yaa kau ini kenapa cerewet sekali? Siapa yang kau panggil 'hyungsoonim' itu? Aku itu bukan pacarnya Junhyung!"

PLAK

"Makanya jangan suka sembarangan bicar bodoh!" kata Kikwang setelah memukul kepala Dongwoon.

"Maaf Noona Dongwoon itu memang selalu sembarangan, maklum lah anak muda!" sambung Yoseob sambil mebungkuk hormat.

"JANGAN PANGGIL AKU NOONA, AKU INI PRIA BODOH!"

"…"

.

.

.

"Yang pertama jangan panggil aku 'hyungsoonim' karena aku bukan pacarnya Junhyung!"

"Ne…"

"Yang kedua jangan panggil aku 'noona' karena aku bukan seorang perempuan!"

"Ne…"

"Yang ketiga aku ini memang pelayan tapi pelayan pribadinya Junhyung jadi kalian tidak boleh menyuruh-nyuruhku seenaknya!"

"Ne…"

"Eh apa? Kau pelayan pribadi kakakku?" Dongwoon bangun dari posisi 'jongkok-kodok'nya.

"Iya, kenapa memangnya?" tanya Hyunseung msih dengan mode galaknya.

"Aneh kakakku itu tidak bisa hidup dengan orang asing!"

"Jangan-jangan kau memang pacarnya!" Kikwang ikut bangun dari posisi 'jongkok-kodok'nya.

"Andwe! Kami itu sama-sama pria tahu!"

"Atau mungkin saja dia suka padamu!" kali Yoseob yang bertanya, mengikuti kedua temannya.

"Mwo? Aku masih normal tahu!" marah Hyunseung, "Tunggu jangan-jangan kalian lah yang tidak normal?" Hyunseung menatap ketiga pria di depannya.

"Ah tidak-tidak, aku baru saja lulus dari SMA tahun lalu tapi sebenarnya aku sudah punya pacar dan pacarku ada di luar negeri!" pamer Dongwoon, "Tapi coba kau tanya dua pria pendek ini!"

"ANI!" koor KiSeob.

"Ah sudah lah! Jangan dilanjutkan, menjijikan!"

"Padahal dia yang mulai!" umpat Dongwoon.

.

.

.

"Kau hanya boleh menikahiku!"

Junhyung meletakan botol coke yang tengah diminumnya, sejak tadi sepasang kekasih di sebrang tempat duduknya terus saja bertengkar.

"Tapi aku tidak mau!"

Junhyung menggeleng, "Apa kita masih hidup di dinasti Joseon?" katanya kepada Jonghun temannya.

"Ku rasa dinasti manapun akan tetap ada yang namanya perjodohan!" seloroh Jonghun.

Junhyung tersenyum sinis, "Kalau aku tidak akan mau dijodohkan, lebih baik aku menikah dengan seorang pria cantik sekalian ketimbang menikahi gadis cerewet pilihan orang tuaku!"

Jonghun tertawa geli, "Menikah dengan pria cantik? Kalau begitu kau masih pilih-pilih ya?" Junhyung menggeleng sambil terus menatap sepasang kekasih yang sebenarnya adalah orang Jepang itu.

"Tapi kau juga cantik," Junhyung menoleh tiba-tiba, ditatapnya Jonghun dengan tatapan yang mencurigakan.

"Eh a-apa maksudmu? Dari pada denganmu lebih baik aku dengan Senghyun saja!" Jonghun menepis wajah Junhyung dengan tangannya, membuat Junhyung tertawa , melihat ekspresi ketakutan dari sang 'Wangja Pyeong'.

Tapi bicara soal pria cantik, ku rasa ada yang jauh lebih cantik darimu!" Junhyung memainkan alis matanya ke atas dan ke bawah membuat Jonghun begidik ngeri.

"Aku ini tampan!" aku Jonghun bangga, "Memang siapa sih pria itu?"

"Pelayan pribadiku!" jawab Junhyung seraya memamerkan senyum Joker miliknya.

TBC

Pemainnya makin banyak? Ngga juga kok main castnya tetep 2JunSeung yang lainnya cuma selingan buat bantu story linenya tapi kesian Jonghunku jadi figuran xD

Btw sorry chap sebelumnya kelupaan bales review jadinya bales langsung di sini ya ^^

Ostreichweiz: wah thanks ya udah di fav. Iya itu Jeongmin nya Boyfriend kan 94 Line temenku semua *ngaku-ngaku* iya banyakan KiSeob ya? Ngga kenapa next chap akan focus ke 2JunSeung, chap 1-3 itu masih perkenalan karakter para tokohnya aja ^^

Cie Maknae AdmrHyukkie: thanks tetep baca n review padahal bukan JunSeob kkk Yoseob emang pesek /plak tapi tetep imut kok ^^ iya nih FF B2ST dikit banget ayo kita perbanyak FF B2ST \0/

Yjhs: iya rata-rata FF B2ST yang aku baca itu di AFF kalo nyari JunSeung di AFF mah gampang banget orang itu salah satu pairing yang paling populer tapi giliran yang bahas Indo susahnya bukan maen /sigh

Bleeze Hunter: JunSeung ship *tos* wah buat KiSeob dan DooWoon nya aku pikirin lagi ya ^^

Riee Kyu Yuya mls login: diterusin kok asal pada review terus ^^

lee minji elf: OASIS di sini diambil dari salah satu judul lagu B2ST, soal maksud judulnya bisa di mengerti setelah baca ceritanya nanti ^^

NinjaS: Iya bener susah banget, aku bakal lanjut kok tapi please kasih feedback ya ^^

Jeongmal Gomawo semua buat reviewnya tolong review terus ya, karena itu yang bikin aku semangat ngelanjutin FF ini. By the way aku nulis FF lain "Destiny" buat yang suka DooSeung and JunSeob baca ya ^^ akhir kata…

Keep it or delete it?