OASIS 4

Cast: Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yoon Doojoon and other

Genre: Romance Comedy

Rate: AU

Summary: Jang Hyunseung seorang pria sebatang kara yang harus membayar hutang-hutang mendiang ayahnya yang pemabuk ditambah dengan hutang-hutangnya sendiri kepada seorang musisi terkenal Yong Junhyung. Apa yang akan dilakukannya untuk melunasi hutang-hutang tersebut?

Disclaimer: Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Full House tapi tidak sepenuhnya juga karena saya sendiri tidak hapal dengan jalan ceritanya. Semua tokoh di sini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka, jadi maaf kalau nanti berkesan OOC karena semua tokoh saya jalankan sesuai keperluan cerita.

WARNING! Ini adalah JunSeung fic = YAOI fic so yang tidak suka YAOI harap tidak membacanya, termasuk untuk kalian yang tidak menyukai JunSeung, FF ini diciptakan untuk para JunSeung shipper so DON'T LIKE DON'T READ!

(^o^)~JunSeung~(^o^)

Bomi selesai dengan kegiatan berdandannya, bukan dengan make up tebal. Hanya membalut tubuh dengan pakaian gaun pendek berwarna soft pink dan make up tipis yang emancarkan kecantikan naturalnya. Bagi Bomi ini sudah lebih dari cukup untuk gadis tomboy sepertinya. Orang tuanya toh tidak terlalu menuntut bagaimana ia harus berpenampilan, bahkan sejak kecil sang ibu mendidiknya seperti anak laki-laki.

Bomi memang seperti itu, ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan keras, tapi bukan berarti ia seorang pembangkang. Bomi sadar betul kalau dirinya masih terlalu takut –terutama kepada ayahnya- untuk menentang perintah orang tuanya. Maka beginilah ia hari ini, bersiap untuk ikut ke acara 'kencan buta' yang direncanakan kedua orangtuanya.

Gadis itu sekli mengajukan protes dengan mengatakan bahwa kakaknya lah yang lebih siap dijodohkan tapi Doojoon dengan terang-terangan mengatakan kalau ia akan mencari calon pendampingnya sendiri.

"Yoon Bomi ini hanya sebuah 'kencan buta' jika pria itu tidak sesuai denganmu, kau bisa menolaknya kan?" katanya pada pantulan dirinya di cermin. Memastikan tidak ada yang salah dari penampilannya gadis itu pun bergegas pergi dengan supirnya.

.

.

.

"Kau bawa mobilku ke rumahku, ku rasa Dongwoon masih di sana!" kata Junhyung sembari mematikan laptopnya. Hari ini seperti janjinya pada sang Ibu tiri ia ia datang ke kediaman Yong, entah untuk melakukan apa.

"Baiklah!" patuh Jonghun memarkirkan mobil tepat di depan kediaman Yong.

"Gomawo!" Junhyung menepuk pundak Jonghun kemudian keluar dari mobilnya. Junhyung berjalan kikuk melihat dekorasi rumahnya yang berubah lagi. Inilah salah satu alas an mengapa ia pindah. Ayahnya memang aneh, sebentar-sebentar merubah dekorasi rumah membuat orang yang menghuni rumah pusing dengan tata letak rumah sendiri.

"Adeul…" Junhyung terlonjak saat Nyonya Son memeluknya secara tiba-tiba dengan teriakan cempreng khas ibu-ibu rumah tangga, "omoniga manh-i geuliwoss!" katanya dengan senyum mengembang.

"Ne… aku juga merindukanmu tapi bisakah kau melepas pelukanmu yang menyekan ini umma?" pintanya tegas.

"Ah maaf!" kata Nyonya Son kikuk. "Karena kau sudah pulang ada yang ingin umma bicarakan denganmu!"

"Mwo?"

Nyonya Son menarik Junhyung untuk duduk di sofa. Nyoya Son memang sangat menyayangi Junhyung, sejak umur Junhyung 7 tahun ia sudah mengenalnya. Nyonya Son adalah janda beranak satu, ia menikah dengan ayang Junhyung saat umur Junhyung 8 tahun dan sepakat untuk tidak memilki anak lagi selai Junhyung dan Dongwoon. Mereka hidup bahagia meski tanpa ikatan darah.

Junhyung pergi dari rumah juga bukan karena merasa tak nyaman dengan ibu tiri atau adik tirinya melainkan karena sikap aneh ayahnya. Junhyung kehilangan ibunya di umur 3 tahun dan hanya Nyonya Son lah yang membuatnya merasakan kasih sayang dari seorang ibu.

"Ini kau minumlah dulu, kau pasti sagat lelah!" Nyonya Son menyuguhkan sendiri teh hijau untuk Junhyung. Junhyung bukan penyuka teh hijau, ia lebih memilih cola dibandingkan minuman apapun tapi ibunya itu selalu mengomel dengan mengatakan kalau cola tak baik untuk kesehatanya.

"Tidak aku tidak selelah itu, di Jepang aku hanya tanda tangan kontrak dengan label yang ingin membeli laguku dan Jonghun lalu kami jalan-jalan sejenak dan selebihnya kami hanya tidur di hotel. Kau tenang saja!" elak Junhyung melihat kekhwatiran di wajah ibunya.

Wajah Nyonya Son berubah drastic, ia langsung tersenyum berserk-seri, "Baguslah kalau begitu kau bisa pergi ke kencan buta yang sudah ibu dan ayahmu atur!" katanya bersemangat.

"…" Junhyung nampaknya masih mencerna perkataan ibunya.

"Ayahmu sudah memesan restoran untuk makan malam kalian, ibu juga sudah menyiapkan pakaian yang bagus untukmu!"

"Kencan buta itu maksudnya apa?" tanya Junhyung tanpa memperdulikan penjelasan sang ibu tentang restoran dan pakaian tadi.

"Bodoh!" Nyonya Son memukul kepala Junhyung gemas, "Sudah sebesar ini masih tidak tau apa itu kencan buta?"

Junhyung menggeleng tak mengerti, Nyonya Son menggeleng heran, "Intinya kau sedang kami jodohkan Junhyung-ah!"

"MWOYA?" demi seluruh Pikachu di dunia ini, apa ia tak salah dengar? Bukankah ini nampak seperti perbincangannya dengan Jonghun di Jepang kemarin?

.

.

.

Jonghun memarkirkan mobil Junhyung dengan segera ia masuk ke rumah Junhyung setelah bertemu dengan Dongwoon. Jonghun memperhatikan dua pria dan seorang wanita di depannya. Ketiganya adalah orang asing yang tak pernah dilihat olehnya.

"Hyung kau mau menginap?" tanya Dongwoon seraya memberikan minuman padanya.

"Gomawo!" Jonghun menerima minuman kaleng itu lalu menenggaknya, "Kurasa aku akan menginap satu malam di sini, Hongki akan mengadakan pesta di apartement kami dan aku tidak mau ikut kalau tidak ada Junhyung. Kau tahu kan bagaimana orang-orang AB itu?" katanya membuat Dongwoon terkekeh. Ia pernah sekali ikut dengan Junhyung dan sepanjang pesta itu ia menjadi objek 'bully'an para AB Club.

"Oh iya Hyung ini yang ku bilang akan ku bawa ke Cube Ent," Dongwoon menunjuk dua pria pendek di hadapan Jonghun, "Yang kurus namanya Kikwang dan yang satunya lagi Yoseob!" katanya membuat Kikwang cemberut, Kikwang tidak suka dibilang kurus tapi ia tidak mau merusak imejnya di depan Jonghun jadi ia diam saja.

"Annyeong Yang Yoseob imnida, bangseumnida!" Yoseob membungkuk hormat membuat Jonghun tersenyum dengan sikap sopannya.

"Annyeong Lee Kikwang imnida!" sambung Kikwang mengikuti.

"Kalau gadis itu siapa?" tanya Jonghun seraya menunjuk seorang yang tengah membaca majalah di sofa.

Dongwoon, Kikwang dan Yoseob saling pandang dengan senyuman kikuk.

BUK

Hyunseung –orang yang disebut gadis itu- membanting majalh di atas meja membuat Dongwoon, Kikwang dan Yoseob bergidik ngeri membayangkan nasib Jonghun nanti.

"Namaku Jang Hyunseung dan aku ini seorang NAMJA!" kata Hyunseung dengar suara rendah dan tatapan dinginnya.

Jonghun terbelalak, ini kedua kalinya ia diperlakukan seperti itu setelah kejadian pertemuannya dengan Kim Heechul –ketua AB Club- beberapa tahun yang lalu. Mungkin wajar jika sekarang ia berpendapat kalau 'pria cantik' itu galak dan mengerikan.

"Ah jadi kau yang dibilang Junhyung ya, maaf Junhyung memang bilang pelayan pribadinya adalah pria cantik tapi aku tidak sangka kalau kau benar-benar mirip seorang yeoja!" katanya hati-hati.

"Aku ini TAMPAN bukan cantik!" ralat Hyunseung menekankan. Jonghun hanya menggaruk kepalnya bingung, apa benar dia pelayan pribadi Junhyung, kenapa sikapnya aneh seperti ini. Sementara Dongwoon, Kikwang dan Yoseob menahan tawa melihat Hyunseung yang sudah berpose sendiri di atas meja ruang tamu Junhyung. 2 hari ini mereka sudah tinggal bersama dengan Hyunseung jadi sedikitnya mereka sudah tahu kalau Hyunseung itu memang sedikit aneh atau kerennya itu 4D sayangnya Hyunseung sendiri tidak sadar dengan kepribadian 4D-nya.

.

.

.

Junhyung menghentikan Ferrari Enzo miliknya tepat di depan pintu masuk retoran, ia lalu memberikan kuncinya kepada seorang Valet Parking. Junhyung sebenarnya tidak benar-benar setuju dengan 'kencan buta' yang intinya 'perjodohan' ini. Tapi ibunya bilang "Junhyung-ah cobalah dulu masa penjajakan ini, jika kalian benar-benar tidak cocok kau boleh menentukan sendiri calon pendamping hidupmu!" ya apa boleh buat Junhyung juga tidak punya kekasih untuk dibawanya ke hadapan ayah-ibunya. Menuruti permintaan mereka untuk makan malam adalah pilihan yang harus diterimanya.

"Tuan Yong?" Junhyung menangguk saat seorang pelayan menyapanya dengan senyum ramah, "Silahkan, Nona Yoon sudah menunggu Anda!" katanya sopan. Junhyung yang dipersilahkan masuk segera saja melangkah menuju ruangan khusus. Ayahnya serius sekali dengan rencana perjodohan ini, dia benar-benar menyewa restoran mewah yang setiap mejanya dipisahkan oleh ruangan. Hanya orang-orang bonafit lah yang bisa masuk dan memesan makanan di tempat seperti ini.

"Annyeonghaseyo Nona Yoon," gadis itu bangkit dari duduknya dan membalas sapaan Junhyung.

"Annyeonghaseyo Tuan Yong!"

"Duduklah," kata Junhyung mempersilahkan, "Apakah kau sudah lama menunggu?" tanya Junhyung seraya membuka buku menu yang baru saja diterimanya.

"Ah tidak, aku baru saja sampai!" Junhyung menangguk. Suasana benar-benar canggung, baik Junhyung maupun Bomi sama-sama tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Junhyung tidak pernah benar-benar mempunya teman wanita, selama ini ia selalu bermain dengan pria. Teman wanitanya hanya Hyuna dan Jiyoon temannya semasa sekolah yang sangat tomboy, sementara pacarnya hanya Hara yang putus dengannya 3 tahun yang lalu karena Hara memutuskan pindah ke Jepang.

Sebut Junhyung musisi hebat hebat yang menakulukan banyak orang lewat syari dan nada indah tapi pada kenyataannya ia benar-benar payah bila berurusan dengan seorang wanita. Tak jauh berbeda dengan Junhyung, Bomi juga seperti itu sebagai gadis tomboy, teman prianya memang banyak tapi ya hanya sebatas teman. Dalam hidupnya gadis cantik ini bahkan sama sekali belum pernah berpacaran.

"Ehm," Junhyung berdehem berusaha mencari kata-kata untuk memecahkan keheningan yang terlanjur singgah di antara keduanya, "Yoon Bomi."

"Ya?" sahut Bomi.

"Aku memanggilmu Bomi saja boleh?"

Bomi menangguk, "Ne, begitu lebih baik Junhyung-ssi!"

Junhyung ikut mengangguk, "Sepertinya kau masih terlalu muda," terka Junhyung setelah mengamati penampilan Bomi. Bomi tertawa dalam hati, pria yang akan dijodohkan dengannya saja sadar kalau ia masih terlalu muda untuk dijodohkan lalu kenapa orang tuanya malah menyuruhnya datang ke acara konyol seperti ini?

"Ne, kau benar sekali Junhyung-ssi umurku baru 18 tahun aku masih menjadi mahasiswa saat ini!" kata Bomi dengan nada yang ramah membuat Junhyung menadi tak canggung lagi.

"Kalau begitu kau seumuran adikku!" kata Junhyung mulai menemukan pokok pembicaraan.

"Jinjayo? Apa adikmu wanita?" tanya Bomi penasaran.

Junhyung tersenyum mendapat pertayaan Bomi, "Sayangnya bukan, nama Dongwoon tapi wajahnya lebih tua dariku!"

Bomi menatap tak percaya, "Bohong, pasti wajahnya lebih tampan darimu kan?" Junhyung mengangkat bahunya malas menjawab. Memang benar Dongwoon lebih tampan darinya tapi mana mau orang narsis sepertinya mau mengakui keunggulan pria lain di hadapan gadis yang dijodohkan dengannya.

.

.

.

Hyunseung menatap jam dinding, baru jam 9 dan ketiga tamu Junhyung sudah tertidur setelah puas bermain game. Sementara di sudut ruangan Jonghun terus memetik gitarnya sembari mencorat-coret kertas, menurut tebakannya Jonghun saat ini tengah menciptakan lagu. Hyunseung tau siapa itu Jonghun, Choi Jonghun seorang leader dari sebuah band FT Island di mana dalam band tersebut dia menjadi gitaris dan pianis. Ya Hyunseung cukup mengenalnya dari media meski bukan fansnya.

"Cepat buka pintunya!" suruh Jonghun masih fokus dengan kegiatannya membuat Hyunseung langsung tersadar dari diamnya.

"Ne?" tanyanya tak mengerti.

"Dari pada melihatku dengan tatapan seperti itu lebih baik sekarang kau bukakan pintu karena sejak tadi belnya berbunyi."

Wajah Hyunseung memanas karena rasa malu, mana ada pelayan yang menatap tamu majikannya sampai tak sadar akan tugas sesungguhnya?

"Arra!" katanya seraya bergegas membukakan pintu.

"YAA!" Hyunseung memegang dadanya kaget, begitu membuka pintu ia sudah dikejutkan dengan teriakan dan tatapan menyeramkan Junhyung. Buru-buru pria itu menunduk dengan wajah bersalah, "Kau tahu berapa kali aku memencet bel rumahku sendiri?"

Hyunseung menggeleng, "Kalau tidak berpikir sekarang aku punya pelayan mungkin aku akan membuka pintunya sendiri!"

"Lalu kenapa tak kau buka saja sendiri?"

"Tentu saja karena aku tak membawa kunci dan lagi apa gunanya pelayan kalau begitu hah?" dicecar seperti Hyunseung semakin takut dengan Junhyung. Ia hanya bisa memasang wajah memelasnya yang biasanya menolongnya saat ia terlambat masuk sekolah dan di marahi guru.

"Aku tadi tidak tengar Junhyung-ah, maaf!" katanya masih terus menunduk. Junhyung menghela napas kasar, dia lalu menutup pintunya dan meninggalkan Hyunseung. "Kenapa dia jadi menyeramkan lagi ya?"

Junhyung menemukan Dongwoon dan dua orang asing sedang tertidur di lantai ruang tamunya sementara Jonghun tengah sibuk mengkomposing lagu di sudut ruangan.

"Pakaian dan wangi yang berbeda." kata Jonghun datar tapi cukup untuk menyindir Junhyung saat ini.

Junhyung mendekati Jonghun dan berjongkok di depan temannya, "Kau menginap?" tanyanya.

"Ne."

"Wae?"

"Pertama, dorm FT Islan masih diperbaiki setelah kebakaran, kedua Seunghyun, Minhwan dan Jaejin sudah pulang ke rumah masing-masing karena kami sedang hiatus karena aku dan Hongki malas pulang jadi kami tinggal di apartement miliknya tapi masalahnya ia sedang berpesta dengan AB Club-nya!" jelas Jonghun panjang-lebar.

"Kenapa tidak ikut?"

"Tidak ada kau!"

"Tapi ada Hongki dan ada Geunsuk!"

"Memang mereka siapa?"

"Sememu!"

"YAA!" Jonghun memukul kepala Junhyung kesal ia lalu beranjak meninggalkan Junhyung menuju dapur.

"Aish yaa jangan galak begitu nanti cantikmu hilang!" ejek Junhyung sambil tertawa tapi tawanya langsung berhenti saat memergoki tatapan sinis Hyunseung, "WAE?"

"Kau dan dia gay?" tanya Hyunseung kaget campur polos.

"Menurutmu?" pancing Junhyung membuat Hyunseung bergidik ngeri. Hyunseung buru-buru pergi ke kamarnya sementara Junhyung masih tertawa melihat kepolosannya. "Pria cantik." Gumamnya dengan senyum penuh arti.

TBC

Tanpa edit ulang jadi sorry kalau banyak typonya ^^ ini udah aku banyakan dari biasanya ya meskipun masih aja terlihat dikit disbanding FF karya author lain karena jujur saya ngga begitu jago membuat cerita perchap yang panjang ^^ btw All jangan panggil saya "AUTHOR" kaku banget hahaha *kayaknya yang sendirinya ngga kaku aja* panggil saya Yuki aja ya ^^

Ok waktunya balas reply

lee minji elf: Hai ^^ ini sudah di update sudah lebih cepat kah? Saya butuh waktu buat cari inspirasi jadi sorry kalo rada telat.

Cie Maknae AdmrHyukkie: aigoo jangan ngga tau mau ngomong apa dong ^^

Ostreichweiz: hahaha kata Dongwoon juga Hyunseung paling ngga cocok jadi 'Hyung' dibandingin 'Hyung' di Beast lainnya. Ya begitulah suami saya *digiles Honey* polos hahaha. Wah 98 berarti kamu masih muda ya, tapi ngga kenapa umur bukan masalah kamu gabung aja sama 94 Lines ya ^^

Bleeze Hunter: Nih udah dilanjut, keep review ya ^^ hahaha iya KiSeob itu duo pendek yang saling melengkapi, kan mereka dutanya orang pendek hahaha

Well buat yang baca tapi ngga review tetep thanks karena mau luangi waktu buat baca karya saya. Semoga kelak kalian mau ikut review juga ya, cuz statistic ngga mungkin boong loh ^^ akhir kata kalau mau FF ini jalan terus please REVIEW ^^