OASIS 5

Cast: Jang Hyunseung, Yong Junhyung, Yoon Doojoon and other

Genre: Romance Comedy

Rate: AU

Summary: Jang Hyunseung seorang pria sebatang kara yang harus membayar hutang-hutang mendiang ayahnya yang pemabuk ditambah dengan hutang-hutangnya sendiri kepada seorang musisi terkenal Yong Junhyung. Apa yang akan dilakukannya untuk melunasi hutang-hutang tersebut?

Disclaimer: Cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari Full House tapi tidak sepenuhnya juga karena saya sendiri tidak hapal dengan jalan ceritanya. Semua tokoh di sini bukan milik saya, saya hanya meminjam nama mereka, jadi maaf kalau nanti berkesan OOC karena semua tokoh saya jalankan sesuai keperluan cerita.

WARNING! Ini adalah JunSeung fic = YAOI fic so yang tidak suka YAOI harap tidak membacanya, termasuk untuk kalian yang tidak menyukai JunSeung, FF ini diciptakan untuk para JunSeung shipper so DON'T LIKE DON'T READ!

(^o^)~JunSeung~(^o^)

Junhyung dan Jonghun duduk memperhatikan Hyunseung, sementara yang diperhatikan tengah sibuk mempersiapkan sarapan di dapur. Dongwoon, Kikwang dan Yoseob belum bangun dan Juhyung melarang Hyunseung membangunkan mereka, padahal ketiganya tidur di lantai di ruang keluarga tanpa selimut ataupun bantal. Junhyung bilang jika ia ingin berbicara serius dengannya dan jika Dongwoon dibangunkan maka ia akan sangat berisik dan mengganggu.

"Selesai," Hyunseung meletakan piring terakhir di atas meja, pagi ini ia membuat nasi goreng dan telur goreng, masakan yang sederhana mengingat ini masih terlalu pagi untuk mengkonsumsi makanan yang berat.

"Duduklah!" suruh Jonghun, Hyunseung mengangguk patuh dan duduk di hadapan Junhyung, sementara Jonghun duduk di kursi utama yang berada di ujung meja berkursi enam itu.

"Kau sudah lihat kan?" tanya Junhyung seraya menyeringai ke arah Jonghun.

"Ya kau benar, tapi…" Jonghun memperhatikan Hyunseung lekat, "Apa dia mau membantumu?"

"Kita coba saja!" tantang Junhyung dengan senyum jokernya.

Hyunseung menatap Junhyung dan Jonghun bingung, entah apa yang sedang dibicarakan dua musisi di hadapannya ini. Yang ia tahu hanyalah mungkin saja ia terlibat, karena sejak tadi keduanya selalu menatapnya seperti menatap mangsa.

"Hyunseung, berapa hutang-hutangmu dengan bar yang biasa didatangi ayahmu itu?" tanya Junhyung mengejutkan Hyunseung, mata bulat Hyunseung dengan cepat membulat seperti mata kelinci yang menggemaskan. Hyunseung menggaruk kepalanya, bingung tapi kemudian Junhyung mengangkat dagu dan alisnya seolah memberinya kode untuk menjawab.

"Mungkin saat ini sudah 10 juta won, bunganya terlalu besar!" jawab Hyunseung ragu.

"10 juta won? Seberapa sering ayahmu itu mabuk?" kaget Jonghun, sementara Junhyung hanya menyeringai puas.

"Itu karena hutangnya sudah ditumpuk sejak beberapa tahun lalu, aku sudah berusaha melunasinya tapi bunganya terus berjalan!" jelas Hyunseung dengan wajah bingung, bingung kenapa mereka menanyakan hal yang tidak-tidak dengannya, "Mwo?" Hyunseung terkejut, sesaat setelah ia sadar bahwa tak seharusnya ia menceritakan masalah pribadi pada orang asing. Yang meskipun Junhyung adalah majikannya sekalipun tapi tetap saja ia orang asing.

"Wae?" kali ini Jonghun yang bingung melihat Hyunseung terkejut akan sesuatu hal yang tak diketahuinya.

"Kenapa kalian menanyakan masalah pribadiku?" tanya Hyunseung sambil menatap Junyung dan Jonghun, galak.

"Karena aku bisa menolongmu!" kata Junhyung seraya tersenyum bangga.

.

.

.

Hyunseung membanting rumah Junhyung dan pergi keluar, Dongwoon dan yang lainnya langsung terbangun mendengar teriakannya yang melengking seperti yeoja tadi. Junhyung ikut berlari mengejar Junhyung meninggalkan kebingungan di antara Dongwoon dan yang lainnya.

"Yaa~ dengarkan aku dulu Hyunseung!" panggil Junhyung yang berlari mengejar Hyunseung. Hyunseung tak mempedulikan teriakan majikannya, "Yaa! Jika kau pergi ku anggap kau melarikan diri dari hutang-hutangmy padaku dan aku bisa saja menuntutmu!" ancam Junhyung yang berhasil menghentikan langkah Hyunseung.

"Aissh pemaksa!" umpat Hyunseung yang mengepalkan kedua tangannya.

"Dan lagi hutangmu di bar itu banyak sekali kan? Kau bisa dijebloskan ke penjara jika tak juga melunasi hutangmu!" Junhyung berjalan mendekati Hyunseung yang hanya beberapa langkah di depannya, "Kau juga tak punya rumah setelah di usir dari rumah sweaanmu itu kan?" kali ini ia berbisik tepat di telinga Hyunseung membuat Hyunseung menggedikan kepalanya.

"Lepaskan!" pinta Hyunseung, Junhyung tak mendengarkannya ia semakin erat memeluk pria cantik itu, "Aku tidak mau jadi pacar bayaranmu, aku ini bukan gay! Aku masih normal!" marahnya, Hyunseung mulai berontak berusaha melepaskan lengan Junhyung yang memeluknya dari belakangnya tapi Junhyung lebih kuat darinya.

"Kumohon, aku tidak mau dijodohkan dengan gadis yang sama sekali tak kucintai!" pinta Junhyung mulai melepaskan pelukannya, "Hanya sampai perjodohan kami dibatalkan jadilah kekasihku!" mohonya seraya berlutut di hadapan Hyunseung.

Hening. Hyunseung masih terdiam kaget melihat perlakuan Junhyung padanya, memeluknya, memohon dan kni berlutut. Sungguh hebat pria yang ini, bahkan Hyunseung sudah merasa iba padanya.

"Hyunseung, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu asala kau mau menolongku, ku mohon!" pinta Junhyung lagi.

"Err… baiklah!" kata Hyunseung setelah lama berpikir, Junhyung menatapnya senang dan penuh harap, "Hutang pada pemilik rumah sewaan juga harus kau bayar ya?" pinta Hyunseung yang dijawab anggukan semangat oleh Junhyung, "Semuanya jadi 100.000 won!" katanya dengan nada memelas.

"Ne, kau tenang saja, hari ini juga aku akan melunasinya!" Junhyung berdiri dan menepuk pundak Hyunseung meyakinkan.

"Termasuk hutangku padamu?" tanya Hyunseung yang langsung memasang wajah sok polosnya.

"MWOYA?"

.

.

.

"Sungguh aku tidak tahu!"Jonghun beranjak dari ruang makan Junhyung alu merapihkan barang-barangnya tanpa mempedulikan Dongwoon dan teman-temannya.

"Kau kan bangun sebelum kami Hyung!" rengek Dongwoon masih penasaran kenapa Hyunseung berteriak dengan sangat kencang –hingga membangunkannya dari mimpi indahnya- lalu keluar sambil membanting pintu dengan sangat kasar.

"Son Dongwoon sekali ku bilang tidak tahu, begitulah jawabanku seterusnya!" kata Jonghun seraya menatap tajam Dongwoon sementara Dongwoon langsung mengkeret di tempatnya setelah ditatap seperti itu.

"Jonghun?" Jonghun dan Dongwoon segera menoleh ke sumber suara Junhyung dan Hyunseung berjalan ke arah mereka dengan Hyunseung yang digandeng oleh Junhyung. Tentu saja itu membuat Dongwoon, Kikwang dan Yoseob kaget.

"Ne?" tanya Jonghun sambil tersenyum jahil ke arah Junhyung dan Hyunseung.

"Kau mau pulang?"

"Ne, aku harus pulang karena dorm FT Island sudah selesai direnovasi!" katanya senang,

"Oh… mau kuantar tidak?"

"Tidak usah, aku naik taksi saja! Lagi pula ada tamu yang sejak kemarin menunggumu, aku pulang ya!" Jonghun mendekati Junhyung dan membisikan kata selamat yang membuat seringaian Junhyung kembali terlihat, "Semuanya aku pamit, annyeong!"

"Annyeong!" balas Dongwoon dan yang lainnya.

Kikwang menarik Yoseob ke ruang tamu yang tidak terlalu jauh dari dapur. "Annyeonghaseyo Lee Kikwang imnida!" sapa Kikwang begitu sampai di hadapan Junhyung.

"Ah jadi kau yang namnya Kikwang ku dengar kau pintar menari!" puji Junhyung.

"Tidak begitu jago kok Hyung aku masih harus banyak berlatih lagi!" jawab Kikwang sungkan.

"Ah begitu ya, lalu yang temanmu ini?"

"Oh," Kikwang menoleh ke arah Yoseob sementara Yoseob sedang terpesona menatap Junhyung yang berdiri dengan begitu tempan di hadapannya, "Yaa~ yaa! Yaa yaa yaa!" kesal Kikwang melihat tingkah bodoh temannya.

"Eh?" Yoseob tersenyum canggung, "Ah an-annyeong Yang Yoseob imnida, bangapseumnida!" sapanya seraya menunduk hormat.

"Oh annyeong!" balas Junhyung, "Oh iya kalian sudah kenal dengan Hyunseung kan?"

"Ne!" jawab Kikwang dan Yoseob kompak.

"Hyung kau, err…" Dongwoon menggaruk belakang kepalannya sembari menatap tangan kakaknya yang masih menggennggam erat tangan Hyunseung.

"Wae?" tanya Junhyung tak mengerti.

"Ah!" Hyunseung buru-buru menepis tangan Junhyung membuat Junhyung sadar dengan pertanyaan yang tak tersampaikan oleh Dongwoon.

"Oh iya aku hamper lupa, Dongwoon pasti sudah kenal dengan Hyunseung kan?" kali ini Junhyung merangkul Hyunseung membuat pria yang dirangkulnya merasa tak nyaman karena Dongwoon, Kikwang dan Yoseob menatapnya bingung.

"Ne, dia pelayan pribadimu kan?" tanya Dongwoon.

Junhyung menggeleng, "Dia ini calon kakak iparmu!"

"MWO?" teriak Dongwoon kaget. Junhyung hanya tersenyum seraya mengangguk mengiyakan sementara Hyunseung terpaksa tersenyum –meski kaku- agar tak membuat yang lainnya curiga.

"Tapi bukankah kemarin kau bilang kalian tidak punya hubungan apa-apa Hyung?" tanya Yoseob dengan wajah kecewa.

"Itu karena Hyunseung takut kalian menganggapanya yang macam-macam, kalian tahu sendiri ka kalau hubungan sesama jenis itu masih tabu di Negara kita?" samber Junhyung yang langsung diangguki Hyunseung.

"Oh Hyung aku tidak menyangka kalau Hyungku ini gay?" kata Dongwoon frutasi.

"Apa kalian akan menikah?" tanya Kikwang polos, tak sadar pertanyaannya semakin membuat sahabatnya, Yoseob kecewa.

"Belum! Kami masih terlalu muda umurku baru 23 tahun sementara Hyunseung baru 20 tahun dan lagi kami belum wajib militer!" jawab Junhyung sok diplomatis ketika membawa embel-embel wajib militer negaranya.

"Tu-tunggu 20 tahun?" tanya Yoseob.

"Ne, umurku 20 tahun kalau umur Koreaku 21 tahun!" jawab Hyunseung.

"Kau lebih muda 2 tahun dariku dan Kikwang!" seru Yoseob tak percaya.

"Mwo? Kupikir kalian berdua seumuran adikku makanya memanggil Hyunseung dengan embel-embel Hyung, dia saja tidak pernah memanggilku Hyung!" takjub Junhyung seraya tertawa renyah.

"Hahaha itu pasti karena mereka berdua pendek Hyung makanya mereka seenaknya menganggap Hyunseung Hyung lebih tua dari mereka!" ejek Dongwoon.

"Benarkah?" Kikwang dan Yoseob mengangguk malu, "Tapi wajahmu memang sangat imut, dibanding Dongwoon kau lebih cocok berumur 18 tahun Yoseob-gun!" puji Junyung membuat Yoseob tersipu malu.

"Ah Hyung terlalu berlebihan!" malunya.

"Aish selalu mengataiku tua!" umpat Dongwoon

.

.

.

Hyunseung mengedipkan matanya salah tingkah, Junhyung menariknya dan dengan segera melempar tubuhnya ke ranjang berukuran King Size milik Junhyung. Udara di pagi ini mendadak menjadi panas kala Junhyung memenjarakan tubuh Hyunseung dengan kedua lengannya dan menatapnya dalam jarak 5 cm di atas tubuhnya.

Glek

Hyunseung meneguk ludahnya sendiri, sumpah serapah dalam benaknya sama sekali tak sanggup terucap meski biasanya ia selalu meledak-ledak saat emosi tapi kali ini rasanya emosinya sudah teredam oleh rasa malu dan bingung yang menguasainya.

"Kau, aku punya beberapa pertanyaan untukmu!" kata Junhyung dengan tatapannya yang dalam dan terasa lembut.

"Yes, please!" dan seolah terhipnotis oleh mata itu Hyunseung dengan mudahnya mempersilahkan majikannya itu bertanya.

"Umurmu sudah cukup untuk mengenal yang namanya cinta," Junhyung menyingkirkan helaian poni yang menutupi mata Hyunseung dengan gerakan lembut yang membuat tubuh Hyunseung bergetar geli, "Jadi apa kau pernah berpacaran?"

Hyunseung menggeleng, dengan wajah polos dan mata beningnya. Junhyung mendadak gemas melihat tingkah Hyunseung yang lebih mirip bocah berumur 5 tahun.

CUP

Mata besar milik Hyunseung melebar menyempurnakan ekspresi terkejutnya. Sementara Junhyung hanya menyeringai puas.

"Wae? Ciuman pertamamu?" tanya Junhyung dengan tatapan genitnya.

"YAA! DASAR YADONG NAMJA!" pekik Hyunseung seperti seorang gadis yang baru saja direbut ciuman pertamanya. Melihat Hyunseung yang panik dengan wajahnya yang memerah malah membuat Junhyung semakin gemas dan mencubit pipi puth mulusnya, "Yaa!"

"Kau benar-benar mirip yeoja!"

"Diam kau! Aku ini namja dan aku ini tampan juga keren!"

"Oh iya? Aku yakin kau belum pernah pacaran karena tidak ada yang mau jadi pacarmu, karena yeoja itu tidak suka Pretty Boy!"

"Diam kau!" Hyunseung mendorong tubuh Junhyung membuat Junhyung terjatuh ke sampingnya, "Kenapa seenaknya mencium orang lain, kita ini sama-sama namja tahu!"

"Psst!" Junhyung yang berbaring di samping Hyunseung memiringkan tubuhnya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir plum milik Hyunseung.

"Err…" Hyunseung menolehkan wajahnya dan menatap Junhyung dalam jarak yang sangat dekat.

"Aku hanya mau mengajarimu cara berciuman, kelak kau tidak oleh kaku bermesraan denganku di depan khalayak ramai, ne!" ujar Junhyung dengan suara lembut dan nada yang terdengar manis. Lagi. Hyunseung hanya mengangguk bagai orang yang tengah di hiponotis.

.

.

.

Dongwoon dan teman-temannya hari ini akan mengikuti audisi yang di adakan CUBE Ent. Ayah tiri Dongwoon sebenarnya adalah pemilik CUBE Ent tapi ayahnya sama sekali tak mau memberinya kemudahan untuk masuk perusahaan tersebut. Dongwoon juga sama ia tak pernah berpikir untuk memanfaatkan posisi ayahnya sebagai CEO perusahaan untuk mempermulus jalannya untuk debut menjadi seorang Idola.

Maka dari itu sejak SMA ia bergabung dengan club dance di sekolahnya dan mempelajari berbagai macam tarian modern. Berbeda dengan Dongwoon dan teman-temannya, Kikwang dan Yoseob akan dimasukan dalam audisi rekomendasi di mana hanya mereka yang sudah di anggap berbakat oleh para staf yang menemukan mereka akan masuk ke audisi khusus.

Kikwang dan Yoseob termasuk beruntung karena mendapat rekomendasi langsung dari Junhyung yang merupakan musisi terkenal dari CUBE Ent. Tapi tetap saja mereka serius berlatih agar benar-benar lolos menjadi trainee dan melakukan debut.

"Dengar kelak aku akan menjadi main dancer dalam sebuah boyband papan atas!" kata Jay yang hari ini memakai kaos, sepatu, dan topi Mickey Mouse. Seperti biasanya kartun tikus favoritnya itu selalu menjadi dewa keburuntungan baginya.

"Jangan berkhayal, posisi itu tentu saja aku yang akan mendapatkannya!" ujar Taemin seraya menepuk dadanya bangga.

"Aissh belum-belum sudah berkhayal, bodoh!" umpat Dongho yang tengah sibuk mempersiapkan penampilannya.

"Sebaiknya kita berlatih dan berdoa, bukan berkhayal!" kata Jeongmin yang menyadari kekesalan Dongho.

"Belum tentu lolos, jangan bermimpi terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit!" kata Yongjae ikut menasehati.

"Itu karena kau selalu sial!" ejek Niel mentertawainya.

"Aigoo!" Dongwoon berhenti dari kegiatan mendengarkan musiknya seraya memasang wajah kesalnya, "Berlatih dan bekerja keras, apa yang ada di masa depan tidak usah ditebak-tebak! Kalau gagal ya coba lagi, manusia itu tidak boleh mudah menyerah, mengerti tidak?"

"…" Hening, sepertinya Dongho dan yang lainnya sedang takjub melihat kakak kelas mereka yang sudah seperti 'hyung' sendiri itu mendadaka bijak.

"Wae?" tanya Dongwoon bingung.

"Keajaiban!" koor Dongho dan yang lainnya membuat Dongwoon bertambah kesal, tapi sepertinya mereka tidak ambil pusing dengan kebiasaan marah-marah Dongwoon karena adegan bijak tadi benar-benar sulit ditemukan.

"Sudah!" Dongwoon bangun dari duduknya dan melangkah pergi, "Aku mau cari inspirasi saja!"

"Apa katanya tadi? Memangnya dia pencipta lagu apa mencari inspirasi?" ejek Jay.

"Mungkin dia ingin menjadi seperti Junhyung-ssi hahaha tapi itu kan jauh sekali, memangnya dia berbakat!" jawab Jeongmin ikut mengejek.

"Mungkin setelah menjadi bijak dia akan menjadi seorang yang romantis!" tebak Taemin sok tahu.

"Mungkin karena semakin tua!" kata Dongho datar tapi disambut ledakan tawa geli dari teman-temannya, "Apa-apan mereka kita kan hanya beda di tahun, nanti juga akan tua seperti Dongwoon Hyung!" katanya pada diri sendiri.

.

.

.

Clap Clap Clap

Suara tepuk tangan yang terdengar nyaring diruangan tersebut otomatis menghentikan tarian Bomi, gadis bertubuh mungil itu dengan segara menolehkan kepalanya, mencari sumber suara. Tubuh Bomi terpaku di tempatnya saat kedua matanya mendapati seorang pria tampan tengah tersenyum dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Remember me?"

Bomi menggelengkan kepalanya tak percaya, Son Dongwoon sahabatnya semasa SMP berjalan mendekatinya seraya merentangkan kedua tangannya.

"Tidak rindu padaku?"

"Dongwoon!" pekik Bomi yang lalu melompat memeluk Dongwoon, "Tentu saja aku merindukanmu bodoh!"

"Benarkah, lalu kenapa diam saja melihatku?" tanya Dongwoon, memasang wajah curiga.

"Karena kau sekarang menjadi sangat tampan!" puji Bomi dengan wajah terpesonanya.

"Oh jadi maksudmu dulu aku ini tidak tampan?" tanya Dongwoon berpura marah.

"Tentu tidak, hanya saja kau sekarang lebih tinggi, terlihat sangat muscular dan err penampilanmu benar-benar keren!" Dongwoon tersenyum senang, bukan karena pujian Bomi tapi mengetahui betapa Bomi bisa mendeskripsikan perbadaannya yang dulu dengan yang sekarang.

Dongwoon tak hanya tersenyum di luar, dalam hati ia juga tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga. Yoon Bomi gadis yang menjadi cinta pertamanya sejak SMP tetapi karena waktu itu Dongwoon tak punya keberanian untuk menyatakannya maka ia hanya diam dan membiarkan persahabatan yang terjalin di antaara mereka tak tersentuh rasa lain.

Tetapi kini gadis itu kembali lagi, gadis itu seperti membuatnya kembali berharap tentang cinta pertamanya yang tak tercapai, gadis itu. Gadis yang selalu mengisi mimpinya selama bertahun-tahun ini.

TBC

Ini chap terpanjang disbanding chap sebelumnya, othe? Yuki bikinnya sambil dengerin lagu OASIS, Bubble Pop, Trouble Maker dan Crush (B1A4's Sandeul) dan berhasil bikin mood Yuki blik buat ngetik meskipun pegel xD

Spesial buat Kaguya yang tanya soal Pairing B2ST ok aku kasih sedikit ya berhubung pegel ^/\^

JunSeung = Junhyung(SEME)-Hyunseung(UKE)

DooSeob = Doojoon(SEME)-Yoseob(UKE)

KiWoon = Kikwang(SEME)-Dongwoon(UKE) tapi sekarang udah banyak yang nuker jadi Dongwoon(SEME)-Kikwang(UKE) karena Dongwoon levih tinggi n ngga kalah muscular.

Sisanya seperti DooSeung, JunSeob dll adalah Crack Pair ok maaf Yuki ngga bisa jelasin panjang-panjang, akhir kata REVIEW ^^