Chapter 2 nih,
bales review terakhir dari Fujirai Ichinoyomi dulu ya:
Haha, liat aja deh sendiri, senpai..
jangan dulu pergi sebelum selesai,.. *apa sih? haha*
Karena review yang lain udah dibales langsung tuh kemaren, jadi langsung cekidot aja yaaa..
semoga tidak mengecewakan ^^
.
.
.
Naruto is Masashi K's
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
Enjoy it
.
"Aku perlu seseorang yang bisa mengawalku, Gaara. Orang yang punya kemampuan analisis yang hebat sehingga bisa memudahkanku dalam menjalankan misi rahasia ini." Gadis pirang kepang empat itu kini tengah berdiri di ruangan kazekage.
"Aku yang akan ikut bersamamu untuk menjalankan misi rahasia ini." Pria berambut merah bata itu meletakan tangannya ke meja.
"Kau itu bodoh apa bagaimana? Suna sedang repot sekarang dan kau ini kazekage! Mana mungkin ada kage yang meninggalkan desanya dalam keadaan seperti ini! Misi ini akan menjadi sebuah perjalan panjang. Bisa kah kau memberikanku orang kepercayaanmu?"
Gaara berpikir sejenak.
Memang benar, kini Suna sedang kacau, semua orang repot untuk membangun kembali Suna pasca perang dan dia tak mungkin desanya begitu saja mengingat dia mempunyai tanggung jawab sebagai kazekage.
"Aku akan meminta Tsunade untuk mengirimkan Nara Shikaku untuk menemanimu, dia adalah salah satu shinobi paling cerdas di Konoha." Kini tangan Gaara menumpu dagunya.
"Apa kau gila? Ini adalah misi rahasia Suna! Tidak mungkin kita memasukan orang dari desa lain untuk terlibat di dalam misi ini."
"Kini Suna tidak punya banyak shinobi yang bisa diandalkan. Lagi pula, aku sangat percaya pada Konoha. Percayalah, dia akan membantumu." Gaara menatap kakaknya dengan penuh keyakinan.
Temari juga tidak punya banyak pilihan, jika ia tak segera menjalankan misi ini akan sangat merugikan Suna. Tidak banyak pula shinobi Suna yang bisa diandalkan ssat ini. Mau tak mau dia akan melibatkan shinobi dari Konoha.
"Baiklah, terserah kau saja." Temari kemudian meninggalkan ruangan Gaara.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Cuaca di Konoha hari ini sangat cerah walaupun matahari tertutup oleh awan.
Gadis berambut blonde itu tampak serius dengan beberapa tangkai bunga yang hendak ia rangkai, sesekali bibirnya tersenyum kala memperhatikan kecantikan bunga-bunga tersebut.
Suara pintu berdecit, menandakan seseorang masuk ke dalam toko bunga itu, "Senyumu itu membuat wajahmu terlihat cantik, bahkan seribu kali lebih cantik dari bunga-bunga yang kau pegang."
"Hm? Sejak kapan kau bisa merayu seperti itu, Tuan Mendokusai?" Ino tersipu, namun pandangannya masih mengarah ke bunga-bunga yang sedang ia rangkai.
"Entahlah, mungkin sejak aku menyadari kalau Nona Yamanaka ini begitu cantik." Shikamaru berjalan menghampiri Ino sambil menggaruk kepala nanasnya yang tak gatal.
"Kau kerasukan setan gombal ya?" Ino masih tetap menunduk, mengarahkan pandangannya pada rangkaian bunganya yang belum selesai.
"Aku akan komplen pada pemilik toko bunga ini, karena pegawainya tidak sopan. Berbicara dengan pelanggan tanpa melihat wajahnya, pelayanan macam apa itu. Cih, " Shikamaru yang kini duduk bersebrangan dengan Ino mulai menggoda gadis cantik yang tengah serius merangkai bunga.
"Kau ini, terus saja menggodaku!" Akhirnya Ino mengalihkan pandangannya kepada pria berambut nanas yang sedari tadi menggodanya, Shikamaru hanya tersenyum.
"Baiklah Tuan, bunga apa yang ingin anda beli?" Ino berlaga bak seorang pelayan yang benar-benar sedang melayani pelanggan.
"Tidak ada." Shikamaru menjawab dengan santai.
"Ishhh.." Ino pura-pura marah dan tawa pun terpecah di ruangan itu.
Kedatangan Shikamaru membuat keadaan Yamanaka Florist yang biasanya sunyi menjadi ramai penuh dengan tawa.
Shikamaru menemani Ino seharian penuh. Mulai dari merangkai bunga, melayani pelanggan, hingga mengantarkan pesanan ke rumah pelanggan. Ini membuat rasa bosan yang biasanya dirasakan Ino ketika menjalani aktivitas sehari-harinya ini tidak lagi terasa.
Memang sudah menjadi kebiasaan Shikamaru untuk menemani Ino di toko bunganya jika ia sedang tidak ada misi, karena menurut Shikamaru ia wajib membayar waktu yang ia pakai untuk menjalankan misi itu.
.
Pintu kembali berdecit, kali ini tampak sesosok gadis berambut pink bak gulali yang memasuki toko bunga Yamanaka.
Seketika tawa yang sedang keluar dari mulut Ino terhenti.
"Selamat sore, Ino." Sakura mencoba menyapa Ino terlebih dahulu saat ia menyadari tatapan ketidak sukaan Ino saat melihatnya masuk ke toko bunga itu.
Ino hanya terdiam, dia tak habis fikir Sakura mempunyai muka yang tebal sampai-sampai dia masih nekat untuk menemui Ino yang jelas-jelas sudah memakinya kemarin.
"Ino! Ada pelanggan bukannya dilayani kau malah mengacuhkannya, tidak sopan!" Shikamaru mencoba untuk mencairkan suasana.
"Kau mau beli bunga, Sakura?" Kini Shikamaru mencoba membantu Sakura.
"Ia Shika, Tsunade-sama memintaku untuk dibelikan beberapa tangkai bunga lili putih." Sakura memberikan senyum yang sangat dipaksakan.
"Ino!" Shikamaru mengisyaratkan Ino untuk segera memenuhi permintaan pelanggannya itu.
Akhirnya Ino bergerak dan mengambil beberapa tangkai bunga lili putih sesuai dengan apa yang diminta Sakura, namun ia tetap enggan untuk menatap apa lagi berbicara dengan Sakura.
Setelah selesai mengambil beberapa tangkai bunga lili dan merapikannya, Ino memberikan bunga itu kepada Shikamaru.
"Kenapa kau berikan padaku?" Shikamaru heran.
"Aku sedang malas Shika, berikan bunga ini padanya dan mintalah uangnya lalu simpan di laci."
Sakura yang melihat dan mendengar secara langsung apa yang dikatakan dan dilakukan Ino rasa-rasanya ingin segera pergi dari toko bunga itu dan menangis sejadi-jadinya.
Shikamaru mengalah, akhirnya dia yang memberikan bunga itu pada Sakura dan Sakura memberikan uangnya pada Shikamaru.
"Maafkan Ino ya..." Shikamaru memegang pundak Sakura.
"Ti-tidak apa-apa Shikamaru..." Mata Sakura berkaca-kaca.
"Untuk apa kau meminta maaf padanya atas namaku, Shikamaru! Jelas-jelas dia yang salah." Ino menyingkirkan tangan Shikamaru dari pundak Sakura.
Melihat kejadian itu, Sakura merasa tak bisa lebih lama lagi berada di tempat itu, air matanya sudah tak terbendung lagi.
Tanpa berpamitan, Sakura berlari keluar dari toko bunga Ino.
"Sakura, tunggu!" Shikamaru memanggil Sakura yang kini sudah keluar dari pintu toko bunga Ino.
"Kau keterlaluan Ino! Kau ini sungguh kekanakan! Dia itu sahabatmu sejak kecil!" Shikamaru membentak Ino lalu bergegas mengejar Sakura.
Ino tercengang. Ini kali pertamanya Shikamaru membentak dirinya sekeras dan seserius itu. Biasanya setelah Shikamaru membentak Ino karena khilaf, dia akan langsung meminta maaf, itupun sangat jarang terjadi karena Shikamaru selalu bersikap lembut pada Ino.
Tapi kali ini, setelah Shikamaru membentaknya dengan sangat keras, dia meninggalkan Ino begitu saja.
Tanpa sadar Ino mengeluarkan bulir bening dari matanya, sangat deras. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati ino saat ini. Shikamaru lebih membela Sakura dari pada dirinya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Shikamaru!" Ino berguman dalam hati.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Di lain tempat, Shikamaru berhasil menenangkan Sakura sebagaimana biasanya ia menenangkan Ino *tapi ga so sweet kaya waktu ama Ino ya, hanya sebatas nenangin biasa*.
Mereka berbincang-bincang, membicarakan beberapa hal, dari mulai menanyakan kabar, pekerjaan hingga membicarakan soal Konoha dan desa lain pasca perang berakhir.
"Oya, Shikamaru. Kau sudah tahu ayahmu akan pergi ke Suna?" Pandangan Sakura masih mengarah ke langit jingga saat itu.
Shikamaru menoleh ke arah Sakura, "Apa? Ayahku tidak memberi tahu apapun."
"Ayahmu saja masih belum memutuskan apapun, Shika. Suna mempunyai sebuah misi rahasia katanya, Temari yang akan menjalankan misi itu. Berhubung sekarang di Suna tidak banyak shinobi yang bisa diandalkan, Gaara yang menunjuk langsung ayahmu untuk mendampingi Temari. Ayahmu kan terkenal dengan kepintarannya! " Sakura menampakan senyumnya.
"Hahh, begitu ya.. Baguslah.." Shikamaru mengalihkan pandangannya ke lagit lagi.
"Shika, aku harus segera pulang. Sudah hampir malam.."
"Baiklah, aku juga harus pulang sekarang."
Sakura dan Shikamaru pun berpisah karena jalan ke rumah mereka tak searah.
.
Ada sesuatu yang aneh yang dirasakan Shikamaru, sesuatu yang membuat langkahnya lebih berat dari biasanya. Namun dia tak terlalu menghiraukan itu.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Shikamaru merebakan badannya di tempat tidurnya.
Dia kembali memikirkan sesuatu yang aneh yang dirasakannya sejak tadi, namun dia tak kunjung mendapatlan jawabannya.
Shikamaru memejamkan matanya, terbayang sosok gadis cantik berambut blonde dan senyumannya yang amat manis ketika dia sedang merangkai bunga tadi siang.
"Ino!" Shikamaru membuka matanya seketika ia mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Ino tadi sore.
Kini Shikamaru menemukan jawabannya, dia sudah mengetahui penyebab dari perasaan aneh yang sedari tadi ia rasakan. Shikamaru merasa sangat bersalah saat ini, dia tak habis pikir bagaimana bisa dia meninggalkan Ino begitu saja setelah dia membentak Ino. Padahal Ino juga masih terluka karena perbuatan Sakura beberapa waktu lalu.
Shikamaru bangkit dari tempat tidurnya, lalu menyambar jaket yang menggantung di dinding kamarnya. Dia tahu dia harus segera meminta maaf pada Ino, karena jika terlambat Ino akan makin sulit memaafkannya.
Tapi niatnya untuk pergi ke rumah Ino diurungkan ketika Shikamaru melihat jam dinding yang terpajang di kamarnya.
Sudah terlalu malam untuk bertamu ke rumah seorang gadis, Shikamaru kembali merebahkan badannya ke tempat tidur setelah menaruh kembali jaket yang dipakainya ke tempat semula.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Pagi harinya, Shikamaru yang biasanya bangun siang kini sudah bergegas keluar rumah.
Dia menuju Yamanaka Florist, dimana dia biasa menemukan sosok gadis yang ia ingin temui saat ini.
Langkah Shikamaru terhenti kala mendapati toko bunga yang hendak ia datangi ternyata tutup.
"Mungkin terlalu pagi." Shikamaru membentuk sebuah senyum di bibirnya, sebagai upaya menghibur diri.
Akhirnya Shikamaru memutuskan untuk pergi dan kembali lagi nanti siang.
.
.
Matahari kini sudah pada posisi maksimalnya, memancarkan sinar yang panas menyengat kulit.
Shikamaru berlari sekencang-kencangnya kearah sebuah tempat yang tadi pagi coba ia kunjungi juga. Namun ternyata hasilnya tetap sama, yang ia temukan hanyalah sebuah toko dengan pintu tertutup dan terpajang sebuah papan bertuliskan "closed" .
"Mungkin hari ini Ino sedang tidak mood untuk mengurusi bunganya..." Shikamaru kembali menyajikan senyum palsu di wajahnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Empat hari berlalu, Shikamaru frustasi karena sudah empat hari ini dia tak menemukan sosok Ino.
Padahal, ada sesuatu yang amat penting yang ia harus sampaikan kepada Ino selain untuk meminta maaf atas kejadian tempo hari tentunya.
Kini hari kelima, Shikamaru pergi ke rumah Ino lagi. Seperti kemarin-kemarin, dia hanya bertemu dengan Inoichi dan ketika ia menanyakan Ino lagi, Inoichi menjawab dengan jawaban yang sama, "Ino bilang dia tidak mau bertemu denganmu dulu, Shika. Sepertinya dia masih marah. Kau tahu kan sifat Ino yang satu itu? Dia terlalu konsisten. Jika dia sudah benar-benar marah, sulit untuk membuatnya menghilangkan amarahnya." .
Shikamaru hanya bisa menghela nafas, lalu dia memberikan selembar surat dengan amplop berwarna ungu itu kepada Inoichi, berharap Ino mau membacanya.
Shikamaru sangat sadar akan kesalahannya, bagaimanapun kesalahan yang dia buat sangat fatal, membentak gadis yang sangat mencintai dan sangat dicintainya.
Shikamaru hanya berharap, Ino mau menemuinya sekali saja, untuk terakhir kalinya.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Keesokan harinya.
Ino masih diam memandangi amplop berwarna ungu yang diberikan Shikamaru lewat ayahnya kemarin.
Ada niat untuk membuangnya, tapi entah mengapa hatinya berkata untuk tidak membuang surat itu.
Akhirnya ino memutuskan untuk membuka amplop itu, tampak selembar kertas berwarna senada dengan rambut Ino yang dilipat-lipat, Ino membuka lipatannya dan mulai membaca kata per kata yang ditulis oleh Shikamaru.
Mata Ino terbelalak membaca isi surat itu.
To: My beloved girl, Yamanaka Ino.
Maafkan aku atas kejadian itu, Ino.
Aku sama sekali tidak bisa mengontrol emosiku, padahal seharusnya aku lebih membelamu karena aku yang paling tahu keadaan hatimu.
maaf.
Untuk kali ini maafkan aku Ino, aku mohon.
Aku harus pergi ke Suna besok pagi, menggantikan ayahku mendampingi seseorang untuk menjalankan misi yang penting.
Tsunade-sama mengatakan, aku akan berdiam di Suna selama beberapa bulan untuk merundingkan rencana untuk menjalankan misi ini, setelah itu aku akan pergi untuk menjalankan misi tersebut. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang untukku, tentu akan memakan waktu yang lama.
Itu artinya, kita tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu yang lama juga, jauh lebih lama dari misi-misiku yang sebelumnya.
Aku tidak bisa menolak misi ini mengingat keadaan ayahku yang tidak memungkinkan untuk menjalankan misi ini.
Untuk itu, aku harap kau mau menemuiku sore ini di danau tempat biasa kita bertemu.
Aku akan mengatakan sesuatu yang penting,
Aku menyayangimu, aku ingin menjadikan kau milikku sebelum aku pergi nanti.
~Nara Shikamaru~
"Shikamaru... Kau..." Ino berlari keluar kamar dengan bulir-bulir bening yang keluar dari matanya.
.
Ino berlari menuju danau tempat Shikamaru menjanjikan untuk bertemu, berharap Shikamaru masih menunggunya.
Sesampainya di danau, tangis Ino membuncah kala ia menyadari tak mungkin Shikamaru menunggunya semalaman di tempat ini, dia tak menemukan sosok pria berambut nanas itu sekarang.
.
Ino berlari lagi, kini ia berlari menuju ke rumah Shikamaru masih dengan air mata yang mengalir deras dari matanya. Ino terjatuh beberapa kali, namun ia tak menghiraukan rasa sakit yang ia dapatkan.
Ino menghentikan langkahnya saat ia mendapati Shikaku yang sedang bersantai di teras rumah Shikamaru.
"Ino? Apa kabarmu? Sudah lama kita tak bertemu ya! Kenapa kau menangis seperti itu?" Shikaku heran melihat Ino yang tiba-tiba datang ke rumahnya dengan mata yang masih dipenuhi air mata.
"Apa Shikamaru sudah berangkat, paman?" Ino to the point.
"Sudah sejak tadi pagi, Ino. Dia pulang tengah malam dengan baju basah kuyup kehujanan, dia bilang dia menunggu seseorang. Tadi pun dia sempat menunda-nunda keberangkatannya, entahlah... Dia sangat aneh beberapa hari ini."
"Begitu ya, paman." Nada bicara Ino terdengar lemas.
Tak lama kemudian, sosok gadis berbaju ungu itu ambruk, membuat Shikaku panik dan bingung.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
"Ino! Apa kau bisa mendengarku? Sadarlah!" Seorang lelaki mencoba membangunkan Ino dari pingsannya.
"Shika... maru?"
Tbc
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Review ^^
Ayo looooh, Ino'nya ampe pingsan gitu :-D
Shikamaru beneran dateng? Katanya ke Suna? Apa cuma pura-pura? Atau? Atau?
Silahkan menebak-nebak saja.. hahaha.
Maaf yaa updatenya kurang ekspress, otaknya kebagi-bagi nih.
hehe.
Maaf juga kalo ceritanya ga asik, so flat.
Ini baru awal :-D
Kata-kata pamungkas deh:
Gaje?
-emang
Abal?
-emang
sampah?
-emang
Gak rapi?
-emang
Typo?
-Banyak
Review ya jgn lupa,kasih masukan biar fic'nya bisa lebih bagus ^^
Mau ng-flame?
-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..
hehe,
Arigatou!
