Chap 3 updated!
Akhirnya :-D
Bales repiu:
.
Fujiray Ichinoyomi:
Ahahahaha, pertamax, senpai :-D
.oh gitu yah, aku baru tau Ino artinya pig. *Payahh!*
.
.Ya kan awal konfliknya ini, Shika pergi... Hiks.
.
Ul-Chan:
Hahahha, biar ada dramanya, makanya lebay.
.Emang Hinata kali yg dikirim ke Suna, adeuuuh =,='
.
Vaneela:
Makasih :-)
.Iya, Shikamaru jahat bangeeeeeet.
.Nanti bakal lebih jahat dari ini loh! hahaha
.Chap 3 cekidot ^^
.Semoga Memuaskan
.
.
.
Naruto is Masashi K's
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
Enjoy it
.
"Ino! Apa kau bisa mendengarku? Sadarlah!" Seorang lelaki mencoba membangunkan Ino dari pingsannya.
"Shika... maru?"
Ino yang masih setengah sadar langsung bangkit dan memeluk sosok pria berambut nanas yang sedari tadi mencoba membangunkannya.
"Aku tahu kau tidak mungkin pergi meninggalkanku, melanggar perjanjian yang kita buat, Shika..." Ino mempererat pelukannya di leher pria berambut nanas itu.
"Ino..." Suara pria itu menyiratkan kekhawatiran.
"Maafkan aku Shika, maafkan aku yang terlalu kekanak-kanakan. Tapi aku sungguh tidak percaya kau membentakku hanya karena Sakura. Aku ingin Shikamaru-ku yang dulu, maafkan aku Shika..." Ino mengeluarkan bulir bening dari matanya.
"Tapi Ino, aku bukan Shikamaru. Dia sudah pergi." Suara yang kini terdengar dengan jelas oleh Ino itu mengentikan tangisnya, membuatnya sadar siapa orang yang tengah dipeluknya kini.
Ino melepaskan pelukannya, pipinya yang memerah sudah cukup menjelaskan betapa malunya dia saat ini.
"M-maafkan aku, paman." Ino menunduk lesu.
"Tak apa, aku mengerti. Kau istirahat lagi saja ya, tampaknya kau belum pulih. Biar nanti aku yang menghubungi ayahmu." Pria yang sangat mirip dengan Shikamaru itu tersenyum tipis.
"Arigatou paman, maaf merepotkanmu. " Ino menundukan kepalanya, lagi-lagi pria itu tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan senyum Shikamaru.
Kini pria itu pergi meninggalkan kamar yang Ino tempati, kamar Shikamaru.
Ino menoleh ke arah meja belajar yang ada di ruangan itu sebelum ia hendak membaringkan tubuhnya lagi, terpajang potret dirinya bersama Shikamaru dan Chouji saat masih di akademi dulu. Ino tak habis pikir Shikamaru benar-benar melanggar perjanjian yang telah mereka berdua sepakati, dia lebih tidak habis pikir bisa-bisanya dia dengan bodoh mengurung diri di kamar dan tidak mau menemui Shikamaru yang jelas-jelas sudah punya niat baik untuk minta maaf, membuat dirinya tidak bisa bertemu dengan Shikamaru sebelum pria itu pergi menjalankan misi yang disebut-sebut akan memakan waktu yang sangat lama.
Ino membaringkan badannya ke tempat tidur, dia dapat mencium bau tubuh Shikamaru disana, ditutupnya mata yang sedari tadi memandangi foto yang ada di meja belajar itu. Ino mencoba menenangkan diri, bersikap lebih calm untuk masalah yang satu ini.
.
Tak lama kemudian kelopak matanya kembali terbuka, menampakan mata aquamarine'nya yang cantik. Ino memikirkan suatu hal yang kini membuatnya sedikit bersemangat.
Ino turun dari tempat tidur dan meninggalkan ruang tidur Shikamaru dengan terburu-buru.
"Ino? Apa kau sudah benar-benar merasa baik? Ayahmu akan segera datang." Shikaku yang sedang bersantai kembali teraneh-aneh melihat tingkah gadis Yamanaka itu.
"Sudah paman, terimakasih. Aku ada keperluan lain sekarang. Permisi!" Ino membungkukan badannya lalu berlari dengan kencang meninggalkan kediaman Shikamaru.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Ino berlari menyusuri jalanan desa Konoha yang tampak kosong, membuatnya menaikan kecepatan berlarinya.
Seulas senyum penuh harapan tampak dari bibir tipis kemerahannya.
"Tunggu aku Shika..." Ino bergumam dalam hati.
BrukK!
Ino menabrak seseorang hingga mereka sama-sama tersungkur.
"Kau itu! Bisakah kau berjalan di jalur yang berbeda denganku? Kau membuat tanganku sakit tau! Kau juga membuat waktukku terbuang sia-sia! Aku sedang buru-buru!" Ino nyeroscos tanpa henti setelah ia bangkit, namun lelaki yang masih tersungkur itu tidak merespon.
"Hei! Kau tuli ya?" Ino semakin kesal.
"Argh..." Lelaki yang tersungkur itu kini membalikan posisi badannya, membuat Ino bisa melihat tubuh bagian depannya.
Mata Ino terbelalak ketika melihat wajah orang yang ia tabrak dan ia maki itu. wajah pria itu masih memperlihatkan bahwa ia kesakitan, ia terus memegangi kakinya.
"Tu-tuan K-kazekage? Apa anda tidak apa-apa?" Ino yang melihat kaki lelaki yang ia sebut Kazekage itu berlumuran darah semakin panik.
Ino menghampiri Gaara, mencoba memeriksa luka di kaki Gaara. Ino mencoba menyembuhkan kaki gaara dengan jutsu medis miliknya sebagai pertolongan pertama.
Beberapa menit kemudian, Gaara mulai merasa rasa sakit yang ia rasakan berkurang.
"Apa sudah terasa lebih enak? Sebaiknya kita ke rumah sakit agar luka anda ini ditangani oleh yang lebih ahli, sepertinya lukanya cukup parah karena saat terjatuh kaki anda mengenai batu yang runcing itu."
"Sudahlah, aku sudah merasa lebih baik. Arigatou." Gaara mencoba menenangkan Ino yang masih sedikit panik karena darah yang keluar dari kaki Gaara belum berhenti juga.
"Anda tidak perlu berterimakasih." Ino masih konsentrasi untuk mengentikan darah yang keluar dari luka di kaki Gaara.
Ino menggunakan seluruh cakra yang tersisa untuk menghentikan darah yang keluar dari kaki Gaara, hingga saat cakranya sudah hampir habis, akhirnya darah berhenti keluar dari kaki Gaara.
"Akhirnya..." Ino menghela nafas.
"Keras kepala." Gaara yang melihat Ino memaksakan diri untuk menyembuhkan lukanya merasa bersalah.
Ino masih terkulai lemas dan mencoba mengatur nafasnya sedangkan Gaara yang sudah tidak merasakan sakit di kakinya lagi mencoba untuk beranjak dari duduknya. Tapi, saat dia mencoba menapakan kakinya dia merasakan sakit di daerah luka yang tadi. Gaara terjatuh lagi.
"Tuan Kazekage! Aku hanya memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan darah yang keluar agar anda tidak kehilangan banyak darah dan meredakan rasa nyerinya, kakinya belum sembuh total karena ini parah. Maafkan saya!" Ino membungkukan badannya lalu berjongkok di depan Gaara.
"Mau apa kau?" Gaara terheran-heran dengan tingkah Ino.
"Naiklah, aku akan membawa anda ke tempat yang anda tuju bila anda mau. Atau jika anda tidak ada urusan, kita pergi ke rumah sakit untuk menyembuhkan luka anda itu." Ino memberikan senyum manisnya ke arah Gaara.
"Yang benar saja, kau ini perempuan. Kau tak akan kuat menggendongku. Lebih baik kau minta bantuan pada yang lain!" Gaara memalingkan wajahnya dari Ino.
"Memangnya anda pikir saya perempuan yang lemah? Cepatlah naik, aku juga ada urusan lain, tuan!" Ino mulai ketus.
Gaara tidak punya pilihan lain, akhirnya dia pergi ke kantor Hokage yang memang menjadi tempat tujuannya dari awal dengan digendong Ino.
.
Ino berjalan sangat pelan, beban yang ia bawa itu tidaklah ringan, apalagi kondisi tubuhnya memang sedang buruk sekarang.
"Kau tidak apa-apa? Sepertinya kau sedang sakit." Gaara mulai bicara setelah cukup lama berdiam diri.
"Tidak, aku hanya kelelahan, tuan." Ino menampakan senyumnya lagi.
"Kalau kau marah padaku, marah saja. Aku lebih suka kau memakiku seperti saat pertama kita tabrakan tadi. Kau tidak perlu bertingkah baik hanya karena aku Kazekage. Dan satu lagi, panggil aku Gaara! Umur kita tidak beda jauh kan."
"Ya ya ya, aku marah padamu tadi, tapi sekarang sudah tidak lagi, tuan." Ino mulai meperlihatkan sikap bawelnya.
"Panggil aku Gaara!" Gaara sedikit membentak Ino.
"Iya iya!"
"Mendokusai." Ino mendengus ala Shikamaru.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Ino dan Gaara sampai di kantor Hokage sesuai permintaan Gaara saat masih di perjalanan. Tsunade, Shizune dan Sakura terlihat bingung melihat Gaara yang digendong oleh Ino. Meski luka Gaara sudah diobati oleh Ino sehingga darahnya sudah berhenti mengalir, celana Gaara yang berlumuran darah membuat mereka terheran-heran. Ino pun menjelaskan kronologi kejadiannya.
"... Aku sudah memberikannya pertolongan pertama, tapi sepertinya perlu d jahit, aku khawatir lukanya akan terbuka lagi dan mengakibatkan infeksi."
Setelah mendengar cerita Ino, Sakura dan Shizune membawa Gaara ke ruang kesehatan untuk mngobati Gaara lebih lanjut. Hanya tersisa Ino dan Tsunade dalam ruangan itu.
Sebelum Ino bertabrakan dengan Gaara, Ino memang sedang menuju suatu tempat dan kebetulan tempat itu adalah kantor Hokage ini. Dia ingin bertemu dengan Tsunade untuk menanyakan sesuatu yang sangat penting baginya.
.
.
Setelah berbasa-basi selama beberapa menit bersama Tsunade, Ino menceritakan hal yang sedari tadi sudah ingin ia bicarakan. Ia meminta Tsunade untuk mengirimnya ke Suna untuk menjadi relawan di sana. Sebisa mungkin Ino meyakinkan Tsunade bahwa dirinya tidak akan menyusahkan Tsunade saat nanti dia di Suna.
Ya, Ino berpikir dia bisa nekat untuk meminta Tsunade untuk mengirimnya ke Suna. Setidaknya dia bisa bertemu dengan Shikamaru untuk meminta maaf sebelum Shikamaru pergi dari Suna untuk menjalankan misinya.
Tsunade memegangi dagunya dan berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa mengirim Ino ke Suna. Tapi bukan Ino namanya jika dia menyerah begitu saja, dia terus membujuk Tsunade meski dia juga beberapa kali mendapatkan penolakan.
"Maafkan aku Ino, aku sudah mengirim Hinata untuk menggantikanmu untuk pergi ke Suna bersama ninja medis lain yang ku tunjuk untuk menjadi relawan." Tsunade meletakan tangannya ke atas meja.
Kali ini Ino mengalah, dia tahu dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ino melangkahkan kaki keluar ruangan setelah ia berpamitan pada Tsunade, Gaara yang sedari tadi menguping pembicaraan Ino dan Tsunade bergegas menjauh dari pintu ruangan Hokage menyadari Ino yang akan mengetahui keberadaanya jika ia tak segera beranjak.
"Kenapa kau sangat ingin ke Suna? Apa karena aku?" Batin Gaara saat dia bersembunyi di balik tembok sembari memandangi punggung Ino yang jalan menjauh. *Si Gaara GR abiss*
"Tuan, anda sudah ditunggu oleh Tsunade-sama di ruangannya." Shizune yang tiba-tiba muncul di belakang Gaara sontak membuat Gaara kaget.
"Hn," Gaara tetap mempertahankan ke'cool'annya.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Mentari pagi menampakan cahayanya perlahan, embun menetes dari daun-daun yang siap menyambut hari baru, burung-burung silih berterbangan bersiap untuk memulai aktifitasnya pagi ini, tak seperti gadis Yamanaka yang sampai saat ini belum terbangun dari tidurnya.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu, mencoba membangunkan penghuni kamar yang masih tertidur pulas.
"Ino! Bangunlah, mau sampai jam berapa kau tidur?"
"..." Tidak ada jawaban.
"Ino! Ino! Bunga-bungamu akan layu jika tak segera kau siram!" Inoichi menggedor-gedor pintu kamar Ino.
"..." Tetap tidak ada jawaban dari Ino yang sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya namun enggan untuk membuka mata.
Ino ingin melewatkan hari ini dengan tidur seharian, berharap dia akan berhenti mengingat Shikamaru dengan cara itu.
"Baiklah kalau kau tidak mau bangun, terpaksa aku harus membocorkannya. Shikamaru menunggumu di bawah."
Lelaki itu memberi sedikit jeda.
"Kau pasti tak percaya, tadi malam Shikamaru pulang ke Konoha untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal, dan sejak tadi dia menunggumu bangun. Dia bilang aku tidak boleh memberitahu kepadamu tentang kedatangannya untuk memberikan kejutan, tapi jika kau seperti ini aku terpaksa memberi tahu. Aku tak mau kau menyesal lagi." Inoichi berbicara dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya.
Tap tap tap.
Derap kaki itu terdengar jelas oleh Ino, menandakan ayahnya sudah menjauh dari kamarnya.
"Shi-kamaru? Apa kau benar-benar datang?" Ino membuka matanya perlahan.
Tanpa menunggu lama, Ino bangkit dari tempat tidurnya. Ia segera merapikan rambutnya dengan menjepitkan jepit rambut favoritnya dan mengganti baju. Ia membuka pintu kamarnya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
CrekK.
Pintu kamar kini terbuka.
Ino tercengang melihat sosok pria berbadan tinggi dengan rambutnya yang diikat satu yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Aaaawww! Sakit!" Ino mengerang kesakitan saat pria itu menjewer kuping kanannya dengan keras.
"Sakit ayah! Aku harus segera mandi dan menemui Shikamaru!" Ino mencoba melepaskan jeweran ayahnya.
"Kau pikir Shikamaru yang pemalas benar-benar mau repot-repot kembali ke Konoha hanya untuk mengambil barang yang tertinggal?" Inoichi tersenyum licik sambil mengeraskan jewerannya.
"Cepat mandi dan sarapan. Lalu urus bunga-bungamu!" Inoichi melepaskan tangannya dari telinga Ino yang kini terlihat sangat merah.
"Jadi ayah berbohong, hah? Sejak kapan ayah mencontohkanku untuk bebohong?" Ino memalingan wajahnya.
"Sejak kau berani membohongiku dengan pura-pura tertidur seperti tadi! Sudahlah, hidupmu itu harus tetap berjalan! Toh Shikamaru tidak akan senang jika tahu kau begini setelah ditinggalkannya!" Inoichi mengusap-usap rambut Ino sebelum akhirnya meninggalkan Ino.
Ino berpikir sejenak. Ayahnya benar, Shikamaru pasti tidak akan senang jika mengetahui dirinya bersedih. Apa lagi yang membuatnya sedih adalah Shikamaru sendiri, dia akan merasa bersalah dan Ino tidak ingin itu terjadi.
Akhirnya Ino melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi dan memulai aktivitasnya seperti biasa.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Gaara kembali menginjakan kakinya ke Suna masih dengan luka jahitan di kakinya. Sungguh merepotkan saat dirinya harus terpincang-pincang padahal dia akan disibukan dengan segala aktivitasnya sebagai Kage di desa yang masih perlu banyak perbaikan pasca perang.
"Kakimu kenapa?" Gadis berambut kuncir empat itu menghampiri Gaara dengan Shikamaru d sampingnya.
"Aku bertabrakan dengan gadis pirang yang cerewet dan menyebalkan saat di Konoha." Jawab Gaara datar.
"Ino?" Entah kenapa Shikamaru merasa gadis yang disebut-sebut Gaara itu adalah Ino.
Gaara menoleh ke arah Shikamaru. "Ya, sepertinya dia. Aku mendengar Tsunade menyebut namanya kemarin."
"Apa dia baik-baik saja?" Shikamaru terlihat khawatir.
"Hn, kenapa?" Gaara agak bingung melihat Shikamaru yang biasanya cuek terlihat sedikit berbeda.
"Tidak."
"Baiklah, cukup basa-basinya ya. Gaara, rencana untuk misi rahasia ini telah tersusun. Kita hanya perlu persiapan, mungkin bulan depan kami akan segera berangkat setelah mempersiapkan semuanya." Temari yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
"Baiklah. Aku percayakan semua pada kalian." Gaara meletakan tangannya di dagu.
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
"Kenapa kita harus menunggu sampai bulan depan?" Shikamaru yang dari awal sudah heran dengan beberapa aturan yang menurutnya aneh dalam misi yang akan dia jalankan ini kini mulai mempertanyakannya pada Temari.
"Menjalankan misi ini tidak sembarangan, ada waku-waktu tertentunya. Di tempat yang kita tuju, konon katanya akan ada banyak kejadian aneh di beberapa waktu tertentu. Misalnya jika ada seorang pendatang yang datang di sepuluh hari sebelum dan sesudah bulan purnama tiba, mereka akan menghilang. Lalu kita juga akan melewati tempat-tempat yang mempunyai keanehan serupa untuk menuju tempat tujuan kita itu. Maka dari itu perhitungan waktu kita sangat di perlukan di sini, makanya aku butuh ninja yang pintar menganalisa sepertimu! Selama sebulan ini juga kita akan mencari informasi-informasi mengenai hal itu, jadi tidak usah bawel!" Temari yang berjalan di belakang Shikamaru menarik rambut nanas Shikamaru keras.
"Hihh, Mendokusai!"
"Dasar ninja pemalas!" Temari terus berceloteh, sedangkan Shikamaru yang berjalan di depannya sedang memikirkan hal yang membuatnya gundah, tentang dirinya yang akan melanggar perjanjiannya dengan Ino.
Entahlah, Shikamaru tidak tahu apa yang sedang ia jalankan ini benar atau tidak, yang jelas dia hanya ingin menjalankan tugasnya sebagai Shinobi Konoha dan sebagai anak dari Shikaku yang akhir-akhir ini kondisi fisiknya tidak baik. Tapi dia juga sadar, melanggar perjanjian yang telah dibuatnya dengan Ino juga bukan hal yang patut dibenarkan, dia sudah berjanji pada Ino untuk tidak meninggalkannya, dia juga berjanji pada diri sendiri untuk tidak membuat Ino bersedih dan kesepian, dia berjanji pada dirinya untuk sebisa mungkin berada disamping Ino untuk menjaganya. Tapi sekarang? Semuanya telah teringkari.
"Maafkan aku Ino, tunggulah aku."
"Shikamaru! Oy! Shika!" Temari yang baru merasa apa yang ia bicarakan sedari tadi didengar oleh Shikamaru akhirnya geram dan menendang bokong pria nanas itu.
"Kau ini! Kenapa kau menendangku?" Jiwa Shikamaru yang sedari tadi pergi bersama bayang-bayang Ino kini telah kembali ke dalam tubuhnya.
"Aku dari tadi bicara padamu! Kau malah tidak mendengarkan! Kau ini sungguh menyebalkan, tidak punya sopan santun, dan kau ini..."
"Berapa lama misi ini akan selesai?" Shikamaru memotong ocehan Temari.
"Eh? Itu... Emmm, lama. Satu kali perjalanan saja bisa menghabiskan waktu satu bulan, itu kalau lancar dan kita bisa menemukan tempatnya dengan mudah. Tempat itu sangat jauh dari Suna. Kita akan berada di tempat itu tergantung berapa lama kita akan menyelesaikan misi kita di sana, tapi aku yakin sepintar apapun kau, kau tidak akan bisa membuat kita menyelesaikannya secepat kilat. Apa lagi sampai sekarang belum ada yang bisa menyelesaikan misi itu." Temari menjelaskan panjang lebar.
"Oh." Shikamaru lalu meneruskan langkah kakinya.
.
"Kami-sama. Jagalah Ino baik-baik, beri tahu dia untuk tetap menungguku."
Shikamaru mulai berpikir hal-hal yang aneh,
"Bagaimana kalau Ino tidak sabar menungguku dan akhirnya menikah dengan si pria aneh (Sai) itu?"
"Bagaimana kalau Ino frustasi karena ku tinggalkan?"
"Bagaimana kalau Ino bunuh diri?"
"Bagaimana kalau Ino meminum racun serangga?"
"Bagaimana kalau Ino menggantung diri?"
"Bagaimana...?"
"Bagaimana...?"
*Etdehh, lebay banget yak? Ganti ahh gak jadi mikir begitu, Shikamaru kan harus cool :-D
Shikamaru mulai berpikir tentang hubungannya dengan Ino. Dia yang selama ini nyaman dengan hubungannya yang tanpa status kini mulai menyesali semuanya. Shikamaru menyesal karena tidak membuat hubungan mereka berstatus jelas dari dulu, sekarang dia sangat takut Ino akan berpaling.
"Jika kau menungguku hingga aku kembali nanti, aku akan membawa orang tuaku ke rumahmu untuk melamarmu, Ino. Aku janji."
Tbc
.
.
I'm here! [GaaInoShika]
.
.
Review ^^
Sumpah loh kalo ada yang nanya "Sebenernya misi rahasia itu misi apa sih ko lama amat?" aku gak tau harus jawab apa! :-D
Aku sendiri gak tau misinya apa, yang jelas Shikamaru haru pergi yang lama *GaplokedByReader*
hahahhadeuuh..
.
Kyaaaaa! Maafkan aku yang update terlalu lama... *bungkukin badan*
Aku lagi sibuk sekarang-sekarang ini, belum bentar lagi UAS.. Hiks
Ngerasa dosa banget, makanya ini maksain update, dari pada nanti uas malah mikirin update fic... Heuheu.
.
Kata-kata pamungkas deh:
Gaje?
-emang
Abal?
-emang
sampah?
-emang
Gak rapi?
-emang
Typo?
-Banyak
Review ya jgn lupa,kasih masukan biar fic'nya bisa lebih bagus ^^
Mau ng-flame?
-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..
hehe,
Arigatou!
