Kyaaaaa! Baru sempet update lagi...

Padahal udah ngetik setengahnya dari beberapa hari yang lau, tapi kepotong UAS :-(

*Bales review dulu yah!"

#Vaneela: Itu kan salah liat doang, wkwkwk.
Aku tau banget kooo Gaara itu kuat. Hehehe. Nah, Gaara ampe kayak begitu itu ada alesannya loh... Bukan emang karena aku bikin dia disini lemah *tapi ia juga sih, aku bikin dia agak lemah disini, tapi beralasan ko*. Di chap ini dibahas dikit, chap selanjutnya lebih lengkap maybe. Hehe.

Soal Ino, disini aku ga akan bikin Ino jdi kunoichi medis yang payah ko. buktinya bisa diliat di chap-chap selanjutnya setelah chap 4 ini maybe.
Tapi soal nyembuhin luka Gaara itu, masih inget kan Ino abis lari-lari dri rumah-danau-rumah Shika? Trus dia pingsan, intinya keadaan tubuh dia lagi ga bagus banget, beberapa hari ngurung diri di kamar pas marahan ama Shika juga kan ceritanya mogok makan dikit.
Disitu aku blg kan kalo Ino itu mencoba menyembuhkan luka Gaara dengan sisa cakra yg dia punya, trus dibilangin juga waktu Ino gendong Gaara tuh dia jalan pelan karena kondisi badannya lgi gak baik. Selain alasan kondisi badannya yg lgi buruk, ada masalah lain dalam tubuh Gaara yang bikin Ino susah nyembuhinnya.

#K-Chan: Thank's buat pujiannya *idungku mulai terbang* #K-Chan* syapa yg muji coba eh! GR!

#Evil Smirk of the Black Swan: Arigatou! Pasti lanjut kog ^^

#Lunay-Chan: wah, romance'nya beneran ilang ya? Nanti aku cari dulu ya, tau maen dimana tu anak... Hehe.
Di fict ini akan ada banyak hati yang tersakiti sihh sebenernya, Ino juga termasuk. Cuma nantinya Ino bahagia dengan cintanya :-D pantau aja ya *maksa*

#Fujirai Ichinoyomi: Xixixi, ya abis gak mungkin kalo Shikamaru yg dateng,senpai. Wkwkwk.
2 org deh yg blg romance'nya ilang, hiks.
Aku ga niat mau nyelipin humor loh tadinya, hahaha.
thank you senpai, blg fict abal ini keren. heuheu.

Thanks to all Readers and Reviewers :-*

Sekarang langsung baca aja yaaa,
Semoga tidak mengecewakan ^^


.

.

.

Naruto is Masashi K's

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

Enjoy it

.

Ino duduk dan bersandar di salah satu pohon dengan pandangan kosong yang terarah ke danau yang ada di hadapannya.

Tiga minggu sudah ia ditinggalkan Shikamaru, tiga minggu ini juga dia selalu menyempatkan diri untuk datang ke danau tempat ia berada sekarang setelah melakukan aktivitas sehari-harinya.

Air matanya perlahan menetes dari aquamarine'nya yang masih memperlihatkan tatapan kosong dan hampa.

Dia merindukan pria itu, pria yang biasanya selalu ada disampingnya saat ia mengunjungi danau ini.
Yah, mungkin Ino berlebihan. Baru tiga minggu Shikamaru meninggalkannya dia sudah seperti ditinggalkan bertahun-tahun oleh Shikamaru, padahal Ino pernah ditinggalkan shikamaru selama tiga bulan untuk sebuah misi.

Ino juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dia merasa sangat-sangat kehilangan Shikamaru. Mungkin, ini karena Ino tahu kali ini Shikamaru akan meninggalkannya dalam waktu lama, mungkin juga karena Ino masih merasa bersalah karena dirinya tidak sempat menemui Shikamaru sebelum Shikamaru pergi, atau mungkin karena alam bawah sadar Ino merasakan sesuatu hal yang bahkan tidak disadari oleh sang pemiliknya? Entahlah.

Suara isakan itu terdengar dari gadis yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangan berjari panjang miliknya. Isakan itu terdengar semakin keras, menyampaikan kepedihan yang gadis blonde itu rasakan.

"Shika... Aku merindukanmu." Sela Ino ditengah Isakannya.

Beberapa menit berlalu, Ino mengentikan isakannya sejenak. Disingkirkannya tangan yang sedari tadi menutup wajah cantik yang dimilikinya, kini ia meremas rumput yang berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya.

Ino meremasnya dengan keras.

"Yamanaka Ino... Kau mengatakan pada Sakura bahwa ia orang terbodoh yang pernah kau temui." Ino memberikan jeda selagi menelan ludah, matanya tak henti mengeluarkan air mata.

"Cih." Seringai meremehkan tampak di bibir Ino.

"Ternyata kau itu lebih bodoh darinya!" Ino berdiri lalu melemparkan batu yang entah sejak kapan digenggamnya ke danau.

"Bodoh!" Ino berteriak hingga urat di lehernya tampak jelas.

"Hahh... Hahh..." Ino kini terengah-engah dan kembali duduk.

Hening sejenak, sebelum akhirnya terdengar suara rumput yang terinjak, menandakan seseorang datang.

Mencium bau tubuhnya, Ino tahu siapa yang kini tengah berjalan lambat kearahnya, "Untuk apa kau datang kesini?" Tanpa menoleh, Ino membentaknya dengan keras.

Langkah kakinya terhenti seketika, ia sudah tahu Ino akan marah meskipun tahu kalau tujuannya datang itu baik.

"Apa kau akan menertawakanku sekarang?" Ino kini bangkit dari duduknya, menghampiri sosok beriris emerald yang kini tengah terpatung.

"I-ino..." Sakura tampak ketakutan melihat Ino menghampirinya dengan terhuyung-huyung (?) dan wajah yang datar, kaki kanannya melangkah kebelakang, meberikan ancang-ancang.

Ino terus mendekatkan dirinya pada Sakura, hingga kini ia berhenti dihadapan sosok berambut soft pink yang dulu sempat menjadi sahabat terbaiknya itu.

"Kau..." Ino menengakan wajahnya kearah wajah Sakura, kini ia menatap lekat emerald Sakura.

"A-apa, Ino?" Peluh menetes di pelipis Sakura.

Ino mengangkat tangan kanannya, lalu mengarahkannya ke Sakura.

"Maafkan aku, Sakura!" Kini tangan itu berada di punggung Sakura, memeluknya erat.

"I-ino... Sudah... Tidak apa-apa..." Tangan Sakura kini merangkul punggung Ino.

Sakura tahu, keadaan hati Ino saat ini pasti sedang amat tidak baik, dan sekarang waktunya untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sahabat yang bisa mengerti Ino, bisa selalu ada disaat Ino bersedih.

.

.

Kini kedua gadis cantik itu duduk di tepi danau, Sakura yang berhasil menenangkan hati Ino masih merangkul sahabatnya itu.

"Arigatou." Ino berkata dengan lirih.

"Kau tidak perlu berterimakasih, Ino." Sakura memberikan senyum manissnya ke arah gadis yang kini sedang menoleh kearahnya.

"Shikamaru. Entah kenapa aku merasa sangat kehilangan, padahal baru beberapa minggu." Ino kembali menundukan wajahnya.

"Hmm. Mungkin karena kamu terlalu menyalahkan dirimu atas kejadian kemarin." Ino merespon perkataan sakura dengan anggukan pelan.

"Mungkin juga karena aku merasa aku terlalu sendirian. Biasanya saat Shikamaru menjalankan misi, kau selalu menemaniku. Sedangkan kemarin-kemarin kan... Aku sedang bermasalah denganmu, Shika satu-satunya sandaran untukku. Tiba-tiba dia pergi."

"Baiklah kalau begitu, jangan merasa sendiri lagi sekarang... Aku akan selalu ada untukmu selama Shikamaru pergi!" Lagi, sakura memberikan senyum manisnya, kali ini dia menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Ino, Ino pun mengikatkan kelingkingnya ke kelingking Sakura.

.

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

.

Siang itu terasa sangat panas di Suna, tapi sosok pria berambut merah bata itu tampak menggigil selagi berbaring di tempat tidurnya. Sudah beberapa hari ini Gaara deman dan muntah-muntah, luka di kakinya pun tak lekas sembuh.

"Kenapa kau ini, Gaara? Kau tak seperti biasanya!" Kankuro yang bingung dengan keadaan sang adik yang akhir-akhir ini sakit-sakitan.

Gaara menyembunyikan sesuatu. Dia sangat tahu bahwa ada yang aneh dengan keadaan tubuhnya sekarang. Tapi, dia tak mau semua orang mengetahui penderitaannya sekarang, dia adalah Kazekage yang seharusnya menjadi orang terkuat saat desanya dalam keadaan seperti sekarang ini.

"Aku tak apa-apa, sebentar lagi akan sembuh." Gaara mencoba meyakinkan sang kakak.

"Baiklah, kurasa kau harus ke rumah sakit. Aku bukan ninja medis yang bisa mengobatimu, dan pengobatan seadanya yang kuberikan sepertinya memang kurang ampuh untukmu." Kankuro hendak pergi menjauh dari tempat tidur Gaara.

"T-tidak perlu," Gaara menarik tangan kakaknya demi menahannya pergi.

"Hn?" Kankuro menoleh kearah Gaara, lagi-lagi Gaara membuatnya heran.

"Aku tidak mau semua orang tahu aku sakit, lagipula rumah sakit pasti penuh sekarang."

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Gaara membisikan sesuatu di telinga sang kakak, membuatnya mengerutkan keningnya.

.

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

.

Shikamaru memejamkan matanya kala ia berbaring diatas atap, membiarkan matahari menyengat kulit wajahnya dengan bebas.

Mata yang terpejam itu tak menandakan sang pemilik sedang tertidur, Shikamaru mencoba menenangkan dirinya yang akhir-akhir ini merasakan sesuatu yang sangat tidak enak. Merindukan gadis Yamanaka yang sangat dicintainya, mungkin itulah perasaan yang terasa sangat tidak enak itu.

"Sepertinya semakin hari kau semakin terlihat tidak bersemangat, Tuan pemalas." Suara berat dari gadis berkuncir empat itu membuyarkan semua bayangan Ino yang sedang Shikamaru lihat dalam pejamnya.

"Hn."

"Apa yang kau pikirkan?" Temari mendekatkan dirinya pada pria yang ia sebut Tuan pemalas tadi.

Shikamaru membuka matanya, "kau begitu ingin mengetahuinya?".

Temari duduk di samping Shikamaru yang kini tengah terdudu juga. "Ya, aku perlu tahu masalahmu, aku tak mau semua itu mengganggu misi kita." Temari mengalihkan pandangannya kedepan, mencoba untuk tidak memandang wajah Shikamaru yang sebenarnya sangat ingin ia pandangi.

"Aku meninggalkan seorang gadis yang kucintai untuk misi ini." Shikamaru membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya lagi.

Temari tercengang. Betapa tidak, kini ia mengetahui pria yang ia cintai mencintai gadis lain.

"Entah kenapa, aku sangat merindukannya. Perasaan ini sangat merepotkan." Shikamaru membuka matanya, mengarahkan pandangannya ke wajah gadis berkuncir empat yang sedari tadi tidak memberikan respon terhadap apa yang ia katakan.

"Oh, begitu ya. Memangnya siapa gadis itu?"

"Yamanaka Ino, gadis yang tempo hari menabrak Gaara saat di Konoha." Kini Shikamaru mengarahkan pandangannya ke langit yang mulai meredup.

"Gadis itu, terakhir aku melihatnya dia memang gadis yang cantik. Tapi kau harus profesional sebagai ninja." Temari beranjak dari posisi duduknya, menandakan ia akan pergi.

"Hn,"

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Aku hanya punya waktu sebenatar untuk menghirup udara segar." Temari pergi meninggalkan sosok pria berambut nanas yang masih berbaring dan memejamkan matanya, tanpa memperdulikan gadis berkuncir empat itu.

"Sepertinya akan sulit untukku menggantikannya di hatimu, Shikamaru." Temari bergumam sembari melangkahkan kakinya menuju tempat dimana sang adik bungsunya berada.

.

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

.

Beberapa hari kemudian.

Kulit wajah yang putih dan mulus itu kini terlihat berantakan setelah ia meletuskan satu kantung terigu beberapa puluh meni yang lalu. Jemarinya kini dengan telaten memindahkan satu persatu hiasan fondant yang telah ia bentuk sedemikian ke atas kue yang telah diolesi cheese cream sebagai perekat.

"Selesai, kau pasti menyukainya, Shika."

Gadis berambut pirang itu kini mengamati kue dengan hiasan fondant berwarna dasar kuning pucat dan hiasan berbentuk rumah yang terletak dibelakang fondant berbentuk gadis berambut pirang yang sedang memeluk dan mencium pipi pria berambut layaknya nanas.

"Aku harus segera mandi, aku tak mau Shika menungguku terlalu lama." Gadis itu menampakan lengkungan manis di bibirnya dan kini bergegas ke kamar mandi setelah menyimpan kuenya ke dalam kotak.

22 September, dedaunan mulai berguguran setelah musim panas menerpa beberapa bulan kebelakang. Hari ini adalah hari ulang tahun Shikamaru, seperti biasa, Ino menyiapkan kue favorit Shikamaru yang ia buat sendiri dan mereka akan pergi ke danau untuk menikmati pemandangan musim gugur yang romantis sembari merayakan hari ulang tahun Shikamaru.

KrekK

Pintu kamar mandi bergeser, menampakan sosok gadis berambut blonde yang terurai dengan jepit ungu yang menghiasinya dengan simple tapi manis. Ino langsung bergegas keluar rumah dengan membawa kotak berisikan kue ulang tahun Shikamaru.

.

.

Setelah berjalan beberapa menit, kini Ino sampai di danau yang terlihat begitu indah dengan pohon-pohon yang mulai menggugurkan daunnya.

Ino melihat sekitar, mencoba mencari sosok pria berambut nanas yang sangat ingin ia temui, "itu dia!". Kini Ino menghampiri tempat dimana matanya melihat 'bayangan' Shikamaru.

"Maaf, Shika. Aku terlambat sedikit, ini yang membuatku terlambat." Tukas Ino sambil membuka kotak putih yang sedari tadi ia pegang.

"Ayolah Shika, masa iya kamu marah padaku hanya karena aku terlambat sedikit." Ekspresi merayu tampak di wajah cantik Ino.

Ekspresi wajah Ino berubah seketika saat pria disampingnya 'mengatakan' bahwa dirinya tidak marah, "Nah... Seperti itu lebih baik! Aku menyayangimu!".

Ino mengeluarkan kuenya dari kotak, dan kini ia menancapkan 2 buah lilin berwarna ungu yang menambah kecantikan kuenya.

"Nyalakan ya..." Ino mulai menggesekan korek hingga api membakar batang koreknya, lali mengarahkan apinya ke sumbu lilin.

Ino terdiam sejenak lalu menghela nafas.

"Happy birthday Shika." Ino mulai bernyanyi dengan nada yang lirih.

"Happy birthday Shika. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Shika." Nada nyanyian Ino semakin lirih, namun wajahnya tetap menampakan ekspresi yang ceria, ia tidak ingin pria yang disayanginya melihatnya bersedih.

"Ayo, sekarang tiup lilinnya bersama ya..."

"K-kau tidak mau meniup lilinnya? Baiklah, biar aku yang meniupnya..." Kemudian Ino meniup kedua lilin itu dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

"Sekarang kamu yang potong kuenya ya, berikan aku suapan pertama!" Ino menyodorkan pisau kue ke arah 'bayangan' Shikamaru yang ada di depannya.

"Apa? Kau tidak mau memotong dan menyuapiku? Dasar tuan pemalas... Hihihi..." Tawa Ino terdengar menyakitkan.

Ino menyingkirkan lilin dari kue dan mulai memotongnya perlahan. Kini sepotong kue telah mendarat di piring kecil yang Ino bawa. Ino menyendok kue itu dan mengarahkannya ke mulut Shikamaru untuk menyuapinya.

"Ayo makan!" Ino masih menyodorkan sendok berisi kue kearah mulut Shikamaru.

"Ayolah Shika...!" Air matanya kini kembali menetes dari aquamarine'nya, lebih deras dari sebelumnya.

"Buka mulutmu Shika!" Ino berteriak melihat pria di hadapannya tak kunjung membuka mulutnya.

"Kau jahat, Shika!" Sendok yang sedari tadi Ino sodorkan kini terlempar entah kemana.

"Padahal... Ini hari ulang tahunmu. Dan besok... Adalah hari ulang tahunku." Ino mencoba untuk menahan tangisnya, namun air matanya tak kunjung berhenti mengeluarkan bulir bening yang mewakili setiap kesedihan yang Ino rasakan.

"Kenapa di hari ulang tahunmu sendiri kau tidak ikut bernyanyi bersamaku? Kenapa kau tidak mau meniup lilin? Aku sudah cukup mengalah dengan bernyanyi dan meniup lilin itu sendiri, kau malah tidak mau memotong kue dan menyuapiku! Bahkan kau tidak mau memakan kue buatanku! Kau jahat Shika! Tidak biasanya kau bertingkah seperti ini!" Ino berteriak dengan kencang dan penuh emosi, masih dengan air matanya yang mengalir semakin deras.

"Tidak..." Ino memberhentikan tangisnya sejenak.

"Kau bahkan tidak ada disini di hari ulang tahunku dan hari ulang tahunmu sendiri, padahal biasanya kau selalu menyempatkan waktu untuk itu!"

"Kenapa Shika..." Ino menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, menutupi matanya yang terus mengeluarkan air mata.

Sayup-sayup terdengar nama Shikamaru disela-sela tangisannya yang semakin kencang.

Sudah satu bulan lebih Shikamaru meninggalkan Ino, dia bahkan melewatkan perayaan "Double Birthday" yang biasa mereka rayakan bersama. Biasanya, Shikamaru selalu menghindari misi pada tanggan 22 September untuk hal ini. Biasanya juga, mereka akan menyanyikan lagu dan meniup lilin bersamaan, lalu saling menyuapi dan bertukar kado. Tapi kini semuanya hanya tinggal kenangan.

.

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

.

Kelopak matanya kini terbuka, memperlihatkan iris aquamarine'nya yang kini memandangi sesosok pria berambut kuning dengan sayu.

"Kau tidak apa-apa? Kau pingsan di danau, Kiba dan sakura yang membawamu kesini." Inoichi mengelus dahi sang anak semata wayangnya.

"Tidak, ayah. Aku baik-baik saja. Dimana mereka sekarang?" Ino bangkit dari posisi tidurnya.

"Di bawah. Cuci mukamu dan temui mereka sekarang, mereka menghawatirkanmu." Inoichi menyunggingkan senyumnya, ia tak mau membahas hal yang membuat anaknya menangis dan pingsan, ia tak mau mengingatkan Ino akan kepedihan yang ia rasakan.

Mereka bersama-sama keluar kamar.

.

.

.

Ino menghampiri sosok berambut soft pink dan sosok pria berambut coklat di sampingnya.

"Terimakasih..." Ino menyunggingkan senyum manisnya, menyembunyikan semua kesedihannya di depan kedua sahabatnya itu.

Mereka duduk bersama, membicarakan beberapa hal sambil meminum teh, setidaknya hal ini membuat Ino sedikit terlupa dengan hal baru saja ia alami.

"Oya, aku baru ingat!" Sakura teringat akan sesuatu yang sejak tadi ingin ia bicarakan, Ino dan Kiba hanya menoleh kearahnya dengan wajah yang seolah berkata "Ada apa?".

"Ino... Kau pasti senang mendengarnya!"

"Apa?" Ino menaikan sebelah alisnya.

"Tadi pagi, Tsunade-sama mengatakan bahwa Suna meminta Konoha mengirim satu Kunoichi medis lagi untuk merawat Kazekage yang sedang sakit, dan Kazekage meminta Tsunade-sama untuk mengusahakan memilihmu untuk berangkat kesana." Wajah Sakura terlihat ceria, sementara Ino masih mematung bingung.

"Aku juga tak tahu Kazekage itu sakit apa, padahal kan dia itu orang yang kuat! Tapi yang jelas dia butuh ninja medis yang khusus merawatnya dan dia memintamu untuk merawatnya."

"Antarkan aku ke kantor Hokage sekarang!" Ino langsung menarik tangan Sakura dan berlari keluar rumah disusul kiba yang masih terheran-heran.


Tbc

.

.

I'm here! [GaaInoShika]

.

.

Review ^^


Huaaaaaaaaaaa ,

Gomen semua kalo chapter ini lebih gaje dan sampah dari yang sebelumnya.
Sebenernya chapter ini sedikit memaksakan, padahal lagi Uas nih *Readers: alasan!*

Maaf maaf maaaaaf :-(

Maaf juga ya kalo gaara jadi keliat lemah, Ino jadi cengeng.
Kalo Gaara lemah, ada alesannya. Kalo Ino cengeng, biar kliatan drama aja (baca:Lebay)

Oya, someone asked me "Kenapa sih bales riviewnya diatas? kan jadi ngehalangin cerita tau!"
review ditaro di awal soalnya kalo diakhir suka ga dibaca *pemaksaan baca balesan review*

hahaha,
Sekian dulu ya.

Kata-kata pamungkas deh:

Gaje?

-emang

Abal?

-emang

sampah?

-emang

Gak rapi?

-emang

Typo?

-Banyak

Review ya jgn lupa,kasih masukan biar fic'nya bisa lebih bagus ^^

Mau ng-flame?

-Silahkan,karena mungkin Flame bagi sebagian orang adalah sebuah seni tersendiri untuk memberikan suport kepada author..

hehe,

Arigatou!