Genki Minna? Shin kembali lagi dengan membawa chapter kedua nya nih~
Shin mengucapkan terima kasih kepada reader:NandaRuki, Sakamaki Ama-chan, ScarletBlood04, Lucyheart.
Shin juga bersyukur dengan rate view mencapai:+dari perkiraan Shin! Arigatou Gozaimasu!
Enjoy reading~
Disclaimer: I don't own KnB(its Fujimaki Tadatoshi)
Genre:Fantasy, Supernatural, School Life
Rated: K+/T
Pair: Akashi , OC
.
.
Adorable Story from Gakuen
.
.
Story 2: Answer me, please
Asrama tampak riuh dengan siswa-siswi yang mondar mandir. Kalau diluar saja riuh, apalagi di kamar Yuuki. Nampak keributan cukup besar didalamnya.
"Yuu-chan, cepat!" seru Sena yang tengah memakai sepatu. Sedangkan Yuuki sendiri sibuk dengan memakai seragamnya.
"Ah, ee ... Yuuki menyusul saja. Sena bisa pergi dulu ke aula!" balas Yuuki.
"Oke, jangan sampai terlambat!" ujar Sena sembari pergi begitu saja.
Yuuki cepat-cepat memakai sepatu. Lalu, ia bergegas berlari keluar asrama menuju aula utama. Bisa dilihat, asrama sudah kosong. Oh, jangan bilang Yuuki yang terakhir disana. Bisa-bisa Yuuki dihukum, masih percaya juga dengan kalimat Sena tadi malam. Padahal, terlambat pun mungkin hanya dinasehati.
Tanpa basa-basi, Yuuki menyusuri jalan setapak. Dari asrama menuju aula memang cukup jauh. Di jalan, Yuuki berusaha menahan keinginannya untuk berlabuh dengan kerindangan pohon sakura dan suasana pagi yang cerah.
Pita dasi Yuuki nyaris terlepas dari rangkulan leher Yuuki. Untunglah, pakaian Yuuki rapi hanya sedikit berantakan. Pita dasi yang tidak benar, jas seragam berwarna biru yang tidak terkancing, rambut cukup berantakan (padahal kemarin malam sudah Sena rapikan), itu semua sedikit berantakan ya? Yuuki tidak merasa miris dengan kalimat sedikit. Dia bersyukur, tali sepatunya tertali dengan benar. Sehingga, berlari sekencang apapun. Yuuki tidak akan jat—
BRAK. Cukup heboh untuk Yuuki yang mendadak tersungkur di tanah. Badannya mencium tanah air. Untunglah, mulutnya tidak. Akhir kata, Yuuki yang malang. Tidak ada kata mustahil di kamus seorang Amano, ingat ini.
"Sakit~" rintih Yuuki. "Aneh, kenapa Yuuki jatuh begitu saja ..." gumamnya. Belum sadar bahwa Yuuki masih terpuruk di jalan setapak itu.
Sebuah telapak tangan berada di depan mata Yuuki. Namun, Yuuki masih bingung. Tangan siapa itu? Yuuki mengadahkan kepalanya. Ia kenal dengan siswa itu, Akashi Seijurou. manik heterokromnya menatap Yuuki seorang.
"Akashi-san.. " gumam Yuuki lirih dengan nada polos alias nge-dumb.
"Mau sampai kapan kau tersungkur disitu?" tanya Akashi. Yuuki menerima bantuan tangannya. Dengan bantuan Akashi, Yuuki berhasil berdiri kembali. Setidaknya, seragam yang di pakai Yuuki tidak kotor.
"Arigatou, Akashi-san." Kata Yuuki dengan senyuman polos. Akashi mengangguk lalu membalikkan punggungnya untuk masuk ke aula. Yuuki segera menghentikan Akashi dengan menarik lengan jasnya. Otomatis, Akashi menoleh pada gadis polos itu.
"Apa?" tanya Akashi.
"Anu ... Akashi-san ... Nanti .. bisa bicara sebentar?" tanya Yuuki dengan nada malu-malu seperti anak kecil yang ingin meminta permen.
Akashi tersenyum .. Typo, menyeringai yang benar."Boleh." jawab Akashi. begitu Yuuki segera mendahului Akashi masuk ke dalam aula. Akashi bergumam dengan nada lirih, "Huh, semua perempuan sama saja. Mereka lebih mementingkan perasaan sendiri. Anak itu, pasti juga sama.". Akashi menghela napas dengan berat, "mau menyatakan perasaan ya ..." lanjutnya lagi sebelum dia memasuki aula.
Hall's Gakuen
Aula yang bisa menampung beribu-ribu murid. Langitnya menjulang tinggi. Berhias patung yang heroik. Lampu Chardelion menggantung indah diatas. Lukisan sejarah asrama terpapar historik di tiap dinding putihnya. Lampu menyala, menandakan pengumuman penting dari OSIS akan segera dimulai. Semua siswa-siswi yang tiba disana segera duduk di bangku masing-masing.
Untunglah, Yuuki mendapat bangku cukup terbelakang dan nyaris di sudut aula. Akhir kata, Yuuki yang malang.
Seorang pemuda bersurai merah maju ke atas panggung aula untuk mengumumkan sesuatu. Pertama, di rapikannya dua-tiga kertas yang di pegangnya. Akashi berdehem sejenak. Dengan kalem, Akashi melonggarkan waktu sejenak. Semua siswa memerhatikan dirinya. Siapa yang tidak mau melewatkan momen Akashi berpidato di depan siswa-siswi?
Yuuki tidak mau kalah. Dia duduk dengan kalem di bangkunya sambil mengelap keringatnya. Yuuki bisa mendengar perbincangan dari siswa sebelah.
"Kya, Akashi-senpai~ Dia keren, ya?" puji siswa B (Yuuki tidak tahu namanya. Jadi kita beri tanda saja.)
"iya, keren begitu.. kenapa masih belum punya kekasih?" tanya siswa A.
"Katanya, dia punya aura gelap! Rumor bilang, kalau berbicara dengan dia kau harus banyak berdoa kalau belum mau mati." Kata siswa B direspon sorak dari siswa A.
Ingatkah kalian, seorang Amano. Ciri khasnya mudah terpengaruh suasana. Mantap. Keringat panas-dingin mulai bercucuran di wajah Yuuki. Akhir kata, Yuuki yang malang.
Pidato dimulai. Monotone Akashi begitu terngiang sepanjang aula yang sepi. Mereka mendengar seksama pidato Akashi. Yuuki menatap Akashi yang sibuk dengan pidato. Sama sekali tidak mendengar pengumuman atau hal penting lain. Seorang Amano, dia lebih menjurus pada hal yang menganggunya. Apa yang dipikirkan Yuuki sekaranglah yang dipentingkan.
Batin Yuuki,"Benarkah? Apakah jika kita berbicara dengan Akashi, kita bisa mati? kenapa Akashi punya heterokrom? Sebenarnya siapa itu Akashi?" .. sebegitukah rasa ingin tahu seorang Amano? Hell no. Yuuki punya alasan sendiri sebagai Amano. Dia kan polos. Tebak saja, apa sih yang nggak buat anak kecil?
"Sekian." Tutur Akashi mengakhiri pengumuman. Di soraki dengan tepuk tangan dari para siswa dan komentar dari komite sekolah. Selesai. Pengumuman berakhir, para murid segera kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran mereka.
Yuuki berdiri dari bangkunya untuk kembali ke kelas. Matanya tengah mencari seseorang yang selalu dikenalnya. Bingo, Sena.
"Ah, Yuu-chan." Sapa Sena yang didatangi Yuuki.
"Sena. Sena .. yuk kembali ke kelas." Ajak Yuuki dengan nada manja. Beberapa teman disebelah Sena secara bersamaan berbatin hati, Kawaii~.
"Oke, Yuu-chan." Angguk Sena. Tak lupa Sena melambaikan kedua tangannya pada kawan-kawan. "Bye, guys."
Sambil berjalan kembali ke kelas. Yuuki ingin tahu lagi, "Sena, siapa mereka? Yuuki tidak ingat punya teman sekelas seperti mereka."tanya Yuuki dengan nada polos.
"Oh, mereka teman dari kelas sebelah. Biasanya aku mencari gosip dari mereka. Anggap saja, pusat gosip asrama." Jawab Sena.
"Sena, suka gosip?" tanya Yuuki.
"Lumayan. Ah, Yuu-chan jangan salah anggap. Aku hanya mencari berita saja. Biar wawasan luas." Ketusnya. Yuuki tertawa kecil.
"Ahaha, Yuuki tidak berpikir kalau Sena suka gosip. Tapi, kalau ada yang menarik. Beritahu Yuuki, ya?" kata Yuuki dijawab dengan anggukan Sena.
Sesampainya di kelas.
Kelas tampak ramai dengan sorakan para murid. Yuuki dan Sena segera kembali ke bangku mereka masing-masing. Begitu Yuuki kembali mengadahkan kepalanya menghadap keluar jendela. Kali ini, Yuuki berlabuh kembali. Melepas peluh tekanan selama ini. Bukan tekanan, tapi rasa ingin tahu yang dipendam selama ini.
Satu-hingga seharian pelajaran pun tidak dipedulikan. Yang peduli adalah Sena. Dia ragu-ragu, gadis itu kalau sudah dewasa bagaimana, ya?
Mendadak Yuuki sedikit kaget. Sesuatu atau seseorang menepuk pundaknya. Yuuki terbuyar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah tepukan. Holy shut! Hyuuga-senpai!
"Amano-san, pulang sekolah nanti jangan pulang dulu. Bawa map dunia ke lab sejarah. Paham?" ketus Hyuuga-senpai sembari pergi ke depan mengulang pelajaran sejarahnya. Yuuki terbengong sendiri, beberapa siswa tertawa kecil melihat tingkah Yuuki. So childish, batin mereka.
.
"Haaah ~" keluh Yuuki.
"Makanya, jangan melamun terus. Cepatlah bawakan map dunia ke lab sejarah. Aku akan menunggu di asrama." Tukas Sena sembari pergi lagi. padahal, belum sempat Yuuki mengeluh apa-apa. beberapa teman sekelas Yuuki menyemangatinya, 'berjuang!'.
Tapi, seorang Amano. Harus berpikir positif. Dengan langkah confident, Yuuki membawa gulungan map dunia ke lab sejarah. Sadarnya, dia lupa. Dari kelas ke lab sejarah seperti ujung dunia ke ujung dunia. Akhir kata, Yuuki yang malang.
"Kau sedang apa?" tanya seorang siswa. Suara ini, nada ini ... monotone yang dikenal ini. Yuuki menatap sumber suara. Akashi!
"Akashi-san ... ah! Aku harus mengantar gulungan peta ini ke lab sejarah." Jawab Yuuki sambil menunjukan gulungan peta.
"Begitu. Lebih baik kubantu." Gumam Akashi. dengan cekatan, Akashi mengambil gulungan peta dunia yang cukup besar dari kedua tangan Yuuki.
"Arigatou, Akashi-san."balas Yuuki sambil tersenyum polos.
Mereka berdua menyusuri lorong gedung yang nyaris sepi. Terasa canggung di antara mereka berdua. Yuuki masih belum sepenuhnya tahu. Akashi sendiri tipikal orang yang pendiam.
Berada di jalan yang sulit. Yuuki memilih untuk menoleh ke luar. Tapi apalah daya. Akashi sendiri berada di sisi arah jendela itu. Namun, ini tidak membuat Yuuki mengalihkan pandangnnya. Dia bisa melihat bagaimana kelopak sakura bertebaran layaknya menghujami Akashi dengan sakura. Mata Yuuki pun berbinar-binar. Parahnya lagi, Yuuki seperti menatap Akashi .. ck, padahal yang ditatap adalah kelopak sakura diluar. Efek suasana bagi Amano benar-benar menakutkan.
Mengetahui lirikan Yuuki, Akashi bertanya."Ada apa?" tanya nya.
Yuuki menggeleng kepala."Tidak ada. Hanya saja ... Kireii~" gumam Yuuki yang setengah berlabuh. Akashi hanya diam saja. Pertanyaan pertama, secantik apakah Akashi? dia kan pria. Kedua, apa yang salah dari anak ini? Sambil melirik Yuuki yang masih berlabuh. Akashi sedikit tidak nyaman, merasa di pandangi terus.
Sesampainya di lab sejarah dan menaruh peta itu di meja.
"Yosh, selesai." Gumam Yuuki. Sebelum Yuuki berterima kasih pada Akashi.
Akashi menyela, "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Akashi. sebenarnya, Akashi tahu apa yang akan ditanya oleh gadis ini. Apalagi kalau bukan pernyataan cinta. Akhir kata, Akashi kau terlalu percaya diri.
" eum ..." Yuuki masih berpikir-pikir. Jangan lupa.. Seorang Amano (seperti Yuuki) mudah lupa.
Terlihat gerak-gerik Yuuki yang melonggar-longgarkan waktu.
"Tentang itu ... Apa ... " Yuuki memulai dan Akashi sudah menebaknya." Jika seseorang ingin berbicara denganmu, mereka harus banyak berdoa jika belum mau mati?"
Hening. Akhir kata, prediksimu salah Akashi.
Akashi kaget dengan pertanyaan itu. prediksinya meleset. Yang benar saja. Meleset karena gadis ini? Akashi berdecak kesal dalam hati. Akashi menghela napas sejenak. Tangan di sakunya nyaris meraba gunting kesayangannya.
Akashi pun menjawab walau hatinya bergemuruh hebat. "Tergantung." Jawab Akashi.
"Eh? Yuuki masih tidak mengerti." Tukas Yuuki.
Walaupun begitu. Akashi tertawa kecil dalam hatinya. "Kalau orang yang berbicara padaku seenaknya sendiri. Aku tidak-menanggung untuk melempar guntingku padanya."
Yuuki mengerti sekarang."Lalu, yang kedua. Dari mana Akashi-san punya heterokrom?"
Akashi mengalihkan pandangannya."itu .. cerita yang panjang." Katanya dengan nada berat dan penuh tekanan. Akashi melepaskan gunting itu untuk berdiam di dalam sakunya.
Mengetahui dan sadar akan suasana adalah ciri khas seorang Amano juga. Yuuki berbelit-belit mencari alasan lain. Yuuki menatap keluar jendela, zero-yang terlihat adalah gedung siswa disebelah. Yuuki menatap ruangan lab sejarah. Zero-yang ada hanya buku-buku yang bisa memberi efek sakit mata dan globe dunia yang selama Yuuki anggap bola abstrak.
"Anu .. itu .. ee, Akashi-san .. maaf." Gumam Yuuki. Akashi menatap lekat-lekat Yuuki. "Yuuki tidak sopan. Menanyakan sesuatu yang bersifat privasi. Gomen, Akashi-san." Keluh Yuuki dengan mata nyaris berkaca-kaca. Akashi menyukai pandangan itu, mata zamrud yang terhambat serpihan air mata. Layaknya permukaan dasar air yang jernih.
"Tidak apa." jawab Akashi. Yuuki tersenyum lega. Kepolosan itulah yang membuat ketertarikan Akashi pada gadis itu. "tapi, tidak adil jika hanya aku yang ditanya.". Nah, mulai nih. Trump card Akashi.
"Eum, iya juga sih. Yuuki pikir ini tidak adil juga. Kalau begitu, Akashi-san bisa memberi Yuuki dua pertanyaan juga." Kata Yuuki. Mantap. Yuuki tidak bisa membaca skenario yang dibuat Akashi.
Ini dia. Ini yang telah direncakan Akashi, kesepakatan untuk bertanya. Akashi menyeringai dalam hati. Dia ingin membalas gadis yang satu ini. Anggap saja karena prediksinya meleset, agar impas. Akhir kata, Yuuki yang malang.
"Pertanyaan pertama, apa yang kau pikirkan tentang diriku?" tanya Akashi.
Dengan sigap, Yuuki menjawab."Akashi-san ketua OSIS sekolah kita. Dia baik. Dan .. misterius.". dalam benak Akashi, ingin rasanya dia memeras gadis ini karena polos.
"Baiklah. Pertanyaan kedua. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku baik?" tanya Akashi dengan nada tinggi dan menakutkan.
Balik ke Yuuki. Dia gak peduli! Watados. Yuuki tidak bisa membedakan suatu hal yang tidak berwujud. Misal, nada seseorang.
"Eum ... apa, ya? Oh, waktu Yuuki nyaris telat sebelum pengumuman berlangsung. Akashi-san membantuku berdiri. Lalu ... eum .. udah itu saja." Jawab Yuuki. Sebenarnya, dalam hati Akashi. dia kaget dengan semua jawaban itu. Akashi mengumpat dalam hati. Akashi berpikir, gadis ini begitu baik walau gadis ini tidak sadar apa yang Akashi pikirkan sebelumnya..
"Ah, tapi. Menurutku, terkadang, Akashi-san selalu muncul tiba-tiba membuat Yuuki kaget. Akashi-san tipikal astral gitu ya" kata Yuuki. Crek. Bunyi pecahan dalam batin Akashi. ini menyimpang sekali. Akashi menarik kembali persepsinya tentang gadis ini. Gadis ini ... dia anak kecil.
"Yuuki." Panggil Akashi. Yuuki menatap mantap Akashi sambil tersenyum polos.
"Apa?" tanya Yuuki. Masih Mantap.
"pertanyaan ketiga." Ujar Akashi. Ingat, seorang Amano tidak peduli. Hening sesaat. Suasana canggung. "Apa ... kau .. tahu, pengumuman apa yang kuumumkan?" lanjut Akashi.
Dengan polos dan mantap, Yuuki menggeleng hebat. Akashi sendiri mengumpat dalam hati, dia mendapat beberapa sifat Yuuki. Satu pertanyaan melekat pada otak Akashi, sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini?
Akashi menghela napas."festival. aku tahu, kau sudah diberitahu oleh kepala sekolah tentang festival untuk lusa depan." Tutur Akashi. "rencananya, OSIS akan menyelenggarakan sebuah festival unjuk diri para siswa. Mereka diminta membuat satu pasangan yang terdiri dari tiga orang. Selanjutnya, di festival itu .. mereka akan berhadapan dengan pasangan lain. Disinilah, kerja sama tim untuk kompak. Festival ini masuk dalam penilain peringkat. Paham?" tuturnya.
Yuuki mengangguk."Yuuki Paham kok." balas Yuuki dengan mantap.
"pertanyaan ke lima." Ujar Akashi.
"Lho, yang ke empat apa?"
"aku bertanya padamu 'paham' tadi." Jawab Akashi. dibalas dengan OH oleh Yuuki. Akashi melanjutkan, "kau mau menjadi satu tim denganku?" tanya Akashi.
"Yuuki nggak mau." Jawab Yuuki, singkat-padat-jelas. Akashi berdecih hati. Gadis ini, sulit diprediksi.
"Kenapa?" tanya Akashi.
"Karena, Yuuki ingin satu tim dengan Sena. Itu saja. Yuuki gak egois, jadi Yuuki tahu batas-batasnya." Jawab Yuuki dengan full confident. Ini membuat Akashi ingin memaksanya lebih lanjut.
Belum sempat Akashi bergumam. Yuuki berpikir kembali.
"Tunggu, Yuuki pikir-pikir dulu deh. Kalau Akashi-san mau, Yuuki ingin setim dengan Akashi-san." Ujar Yuuki. Holy shit. Akashi nyaris menodong gunting pada Yuuki.
Anak ini, dia benar-benar polos. Apa pun yang dipikirannya selalu diucapkan. Akashi mengumpat dalam hati. Dia sudah mencapai titik emosinya. Untuk mengakhirnya, Akashi menghela napas.
"Kalau begitu. Besok, temui aku di gedung perpustakaan." Gumam Akashi sembari pergi begitu saja. Yuuki segera keluar mengikuti Akashi.
Begitu diluar, Akashi sudah tidak nampak rupanya. Hilang dari pandangan Yuuki. Yuuki nya sendiri gak peduli. Ingat, seorang Amano tidak peduli.
.
"Ekh? Yuu-chan satu tim dengan Akashi-san!? Si Ketua OSIS pengidap psikopat itu!?" seru Sena tidak percaya. Masker wajah yang dipakainya pun berantakan.
"Iya. Yuuki mau kok. Tunggu, Yuuki tidak mengerti. Psikopat itu apa?" tanya Yuuki. Ah, Sena kelepasan bicara. Dia tahu ayah Yuuki selalu mengajarkan hal baik padanya.
"Psikopat itu ... orang yang kelihatan jahat di mata orang lain, tapi sebenarnya dia baik pada orang tertentu. Ang ... anggap saja begitu.." jawab Sena. "Lalu, ada kelanjutan?"
"Ada. Yuuki diminta agar besok menemui Akashi-san di gedung perpustakaan. Itu saja, selebihnya Yuuki gak tahu." Jawab Yuuki sambil memainkan kakinya menghentakan ranjang tidurnya.
Sena segera berlari menuju Yuuki.
"Yuu-chan, siaga selalu dengan kekuatanmu. Mengerti?" tukas Sena. Sungguh, ini membuat seorang Amano seperti Yuuki benar-benar bingung. Pertanyaan pertama, semenakutkan apakah Akashi? kedua, Benarkah Akashi itu psikopat? Artinya saja Yuuki tidak tahu. Sweatdrop deh
.
Sena POV'S
Sebenarnya aku takut sekali. Aku takut, Yuuki diperlakukan dengan kejam oleh ketua OSIS pengidap kepribadian ganda dan psikopat itu. Yuuki itu polos. Dia selalu mengatakan apa yang dipikirannya. Yuuki itu mempunyai rasa ingin tahu yang besar! Dia itu anak kecil yang terjebak dalam tubuh yang telah memasuki masa puber. Tuhan, lindungilah dia.
Selain itu, dia pelupa dan lebih mengutamakan hal yang menurut dia menganggunya. Blak-blakan. Mudah terbawa suasana. Kejujurannya terkadang menyebalkan. Suka melamun alias berlabuh. Ah.. banyak deh pokoknya.
Tapi, aku yakin .. itulah yang membuat semua orang merasa ingin mendukungnya, melindunginya, dan ... itu berlaku untukku, untuk ayahnya, bahkan teman-teman sekelas .. juga ...
Hell No!
Jangan-jangan, itu Akashi juga!? Bisa jadi apa Yuu-chan ku!?
Aku bisa membayangkan. Yuu-chan ditahan di sebuah ruangan. Kunci ruangan itu hanya milik Akashi seorang. Tangan dan kakinya dirantai. Parahnya, Yuu-chan dengan wajah yang polos .. berkata, 'Kumohon, lepaskan Yuuki.'
GYAAA!
Out of POV
Sena bermimpi rupanya. Khayalan tingkat tingginya membuat Sena terbangun. Dia bisa melihat Yuuki tengah tertidur pulas. Sweatdrop, deh. Bahkan Sena terkena efeknya. Sena, tidurlah lagi. serahkan saja jalan ceritanya pada Author.
.
Sena—T..B...C...
.
Yosh. Chapter dua udah selesai! Author lanjut ke chapter berikutnya nih~
As always, mohon dukungannya Minna-san.
Shin kira, chapter tiga lebih panjang. Maybe, itupun kalau belum shin potong hehe~
Bye, Minna-sama. Onto next chapter~
.
Spoiler:
"Hentikan kebiasaanmu. Sifatmu yang seperti inilah, membuat susah orang lain"
"Yuuki piki lagir, Akashi-san orang yang baik".
"Yuuki, kenalkan ini Reo. Mibuchi Reo. dia wakil ketua OSIS sekaligus anggota tim kita nanti."
"Yu-chan, tahu tidak .. Akashi menyuruhmu datang ke halaman belakang."
"Yuuki tidak mengerti.."
.
