Chapter 3! Shin berterima kasih sekali kepada yang sudah memberi kritik, saran, dan review~
Tanpa Minna, Shin gak akan bisa sampai sini. view:+200! Can't believe it, though. Arigatou!
Enjoy reading~
.
Diclaimer: I don't own KnB (Fujimaki Tadatoshi)
Genre: Fantasy, Supernatural, School life
Rated: K+/T
Pair: Akashi, OC
.
.
Adorable Story from Gakuen
.
.
Story 3: Teach me, please.
"Aaah, aku lupa!" keluh Yuuki. Dengan cekatan, dia segera meninggalkan kelas. Sena menggeleng kepalanya dengan keluhan Yuuki.
"Yuu-chan, kamu ini mudah lupa ya?" gumam Sena.
Yuuki telat. Telat kemana? Oh, tentu saja dia lupa ada janji dengan Akashi untuk menemuinya di perpustkaan. WTH, seorang Amano mudah lupa. Yuukilah salah satunya.
Pintu dibuka dengan hebat. Seorang gadis yang membuka pintu itu terengah-engah. Dasinya lepas kembali. Untunglah belum lepas dari rangkulan lehernya.
"Ma—maaf, telat!" seru Yuuki. Saat itu juga dirinya ditatap orang-orang sekitar, petugas perpustkaan memperingatinya.
"sst, ini perpustkaan. Kecilkan suaramu!" serunya.
"Ah! Maaf, Yuuki lupa." Jawab Yuuki sambil membungkuk pada petugasnya. Setelah petugas itu berlalu, Yuuki mencari-cari orang yang tujunya.
Pemuda bersurai merah, manik heterokromnya tengah membaca sebuah buku. Beberapa siswi yang berada di sekitar pemuda itu mencuri kesempatan untuk meliriknya. Yuuki segera mendatanginya.
"Akashi-san, Yuuki minta maaf. Yuki terlambat karena lupa." Kata Yuuki sembari membungkuk pada Akashi.
Akashi menoleh dan menatap lekat-lekat gadis itu.
"Jangan diulangi lagi. kau tahu, aku menunggu cukup lama disini. Ck." Balasnya diakhiri dengan decihan.
"Yuuki kan sudah minta maaf." Tukas Yuuki.
"sudah terlambat, kau juga menganggu ketenangan perpustakaan." Kata Akashi sembari melanjutkan halaman buku yang dibacanya."Hentikan kebiasaanmu. Sifatmu yang seperti inilah, membuat susah orang lain." Tuturnya dengan menekan kata yang tebal. "Kau tahu? Ka—" Akashi berhenti melanjutkan kalimatnya begitu melihat wajah Yuuki.
Semburat merah. Rona merah terlihat jelas di wajahnya. Bibir manisnya bergetar menahan guncangan perasaan. Tetesan air mengalir dari mata zamrudnya. Bagaikan linangan berlian. Matanya yang berkaca-kaca. Mata zamrud itu .. seperti pecah.
Hening. Entah apa yang membuat Akashi begitu tertarik saat melihat Yuuki menangis.
"Yu- ... Yuuki tidak ... tidak bermaksud untuk menyusahkan orang lain. Yuuki ... Yuuki ..." gumam Yuuki dengan nada yang terhambat tangisannya."Yuuki menyesal.." lanjut Yuuki sembari berlari keluar perpustakaan. Akashi berdiri, ingin rasanya dia menyejar. Tapi, sesuatu menghentikannya.
Back yard
Yuuki membersihkan wajahnya dari air mata yang membasahi wajahnya.
"Yuuki jangan nangis, bukannya, Yuuki sudah berjanji pada otou-san? ... Yuuki pikir, ini juga bukan seluruhnya kesalahan Akashi-san. Tapi, seharusnya.. Akashi-san tidak berkata sejahat itu. eum .. Yuuki butuh sapu tangan." Gumam Yuuki. Tangannya meraba dalam saku."lho? sapu tangan ... Yuuki lupa lagi. bukannya Yuuki tinggalkan di kelas!?" serunya.
"Ini." Seseorang menawarkan sapu tangan biru tua pada Yuuki. "Pakai saja punyaku." Lanjutnya lagi, Yuuki mengadahkan kepalanya ke arah sumber suara itu.
"eum ... makasih ... etto.. siapa?" tanya Yuuki setelah meraih sapu tangan itu. pemuda itu tersenyum kecil.
"Mibuchi Reo, yoroshiku~" jawabnya. Yuuki tersenyum kembali. Ulasan manisnya menutupi wajah sedihnya.
"Salam kenal, Reo-san. Namaku Yuuki, Yuuki Amano." Yuuki memberikan kembali sapu tangan itu.
"Oh, bawa saja. Kau lebih membutuhkannya dariku." Balas Reo.
Yuuki melipat dengan rapi sapu tangan itu. lalu dimasukan kedalam sakunya."Ngomong-ngomong, Reo-san dari kelas berapa? " tanya Yuuki. Memulai tirai komunikasi.
"I-A. Kau?" tanya balik Reo.
"I-C." Balas Yuuki. "Yuuki rasa, Yuuki punya kenalan (N/B:tidak menentu) di kelas itu..."
"Siapa?"
"Akashi-san, Akashi Seijurou." Jawab Yuuki dengan mantap. Alih-alih dia lupa insiden perpustakaan tadi. Sudahlah, Yuuki itu—
HEG. Serasa leher Reo nyaris putus. Punggungnya terasa dingin-mati. Ya tuhan, dari semua kenalan Yuuki (N/B: yang tidak tentu) kenapa harus siswa ini? Oh, bukan berarti Reo tidak dekat dengan siswa surai merah, si mata heterokrom, pengidap kepribadian ganda, psikopat, (N/B: entah betul apa tidak) suka membawa gunting, aura serba tidak enak, egois, suka memerintah—
"Reo-san?" panggil Yuuki. Reo terbuyar dari pemikirannya.
"Ah, maaf .. Aku kenal kok." Jawab Reo.
Srek.
"Bukan hanya kenal, tapi memang kenal." Kata Akashi tiba-tiba dari belakang Reo.
"Akashi-san!?" seru Yuuki. Reo membatu, mulutnya yang ingin mencibir terhenti begitu saja.
"Yuuki, kenalkan ini Reo, Mibuchi Reo. Dia wakil ketua OSIS sekaligus salah satu anggota tim kita nanti." Kata Akashi.
Reo tersenyum paksa. Yuuki terhenyak sejenak. Sesekali dia mengedipkan matanya.
"Benarkah, Reo-san?!" tanya Yuuki pada Reo.
"I—Iya .."
"Hebat~ Reo-san anggota inti OSIS? Keren, Yuuki ingin sekali mengikuti suatu lembaga sekolah! Tapi tidak tercapai, Yuuki tidak mengerti, sih." Ujar Yuuki.
"Begitu? Sayang sekali~" balas Reo.
Akashi mengumpat dalam hati. Seakan dia tidak ada disana. Seakan dia tidak terlihat. Jelas-jelas ada seorang raja disana, kenapa dibiarkan begitu saja? Apa yang membuatnya terganggu? Biasanya Akashi mereka kah? Tidak. Reo tertawa, Akashi masih bisa cuek. Yuuki? Memang Yuuki yang tertawa itu manis. Lalu, tidak salah lagi. jawabannya adalah gadis itu.
"Yuuki!" seru Akashi dengan nada cukup tinggi dan berat. Matanya menatap tajam bola zamrud gadis itu. Reo dan Yuuk terdiam. Hening yang cukup lama sampai Akashi sadar. Dia membentak Yuuki. Dia membentak seorang gadis. Bukan, ralat ... anak kecil.
"Ada apa, Akashi-san?"tanya Yuuki dengan baik-baik. Reo tertawa dalam hatinya.
" ... Tidak, tidak apa-apa ... " jawab Akashi. Yuuki menaikan salah satu alisnya.
"Eum.. kalau begitu Yuuki kembali ke asrama dulu. Akashi-san, Reo-san selamat sore." Kata Yuuki sembari melambaikan tangan dan pergi begitu saja.
Setelah Reo membalas lambaian Yuuki. Setelah menjamin suasana sekitar tinggal mereka berdua. Reo bertanya, "Sei-chan ... kau tidak apa-apa?"
Akashi menggeleng kepala.
"Benarkah? barusan kau membentak Yu-chan lho."
Akashi terdiam sejenak.
"Bagaimana kalau nanti dia berpikiran sesuatu tentang kamu, Sei-chan?"
Akashi terdiam lagi.
"Lalu—" ucapan Reo terhenti seketika setelah melihat tatapan hujaman dari pemuda surai merah. Segera dia menutup mulutnya agar tidak mencibir lebih lanjut.
Akhir kata untuk Reo, dasar Chatterbox Reo.
.
.
Di kamar Yuuki dan Sena.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Sena.
"Akashi-san membentakku dengan memanggil namaku.." jawab Yuuki.
"eekh!? Apa-apaan itu!?" seru Sena. Lulur wajah diwajahnya menjadi berantakan. Sedangkan Yuuki tengah berbaring di kamar.
"Yuuki gak tahu, Akashi-san sedang memikirkan apa.. tapi, berkat itu.. Yuuki kenal seorang siswa bernama Mibuchi Reo. Dia wakil ketua OSIS, lho."
"... sedikit lega sih.. tapi, kalau tidak salah aku pernah dengan tentang Mibuchi Reo. Dia peringkat ke delapan!" seru Sena.
"Oh ... " balas Yuuki. Sena tahu Yuuki bimbang. Sena tahu pikirannya sebatas tangannya yang bisa mencapai dan meraih sesuatu.
TRIIT TIT. Nada dering telepon diatas meja yang tak jauh dari Sena berada. Maka, Sena pun yang mengambilnya. Bukan hanya karena posisinya yang dekat. Tapi juga suasana warga kedua kamarnya yang entah-apa-pikirannya.
"Ya? ... eum ... Ba—baiklah .." ujar Sena dengan nada sedikit gemetar. "Anu, Yuu-chan .. ada telepon untukmu." Kata Sena sembari memberikan telepon itu pada Yuuki.
Yuuki dengan almost -happy hati menerima telepon itu.
"Ya? Ini Yuuki."
"Yuuki, ini Akashi."
"Eum ... Ada apa Akashi-san?"
"hanya ingin bertanya.."
"Apa?"
"Apa yang sekarang kau pikirkan tentang diriku?"
"Akashi-san orang yang aneh akhir-akhir ini."
... crek. Suara sesuatu di ujung saja.
"Tapi ... Yuuki pikir lagi, Akashi-san orang yang baik."
... Hening diujung saja.
"Bagian mana?"
"Saat Akashi mengenalkan Reo-san padaku. Yuuki senang punya banyak teman dan relatif banyak."
"... Kalau begitu, selamat malam. Aku hanya menanyakan mu ini."
"Iya. Selamat malam, Akashi-san."
Bunyi telepon yang putus.
Sena sempat deg-degan di sebelah Yuuki.
"Dia bilang apa?! dia mau menahanmu!?" seru Sena.
"Sena, jangan keras-keras. Akashi-san tidak menahanku kok. Tunggu, Yuuki tidak mengerti? Apa maksudmu, Sena?"
"Egh ... dugaan kemarin malam sih. Sudahlah, jangan dibahas. Aku mau tidur nyenyak hari ini. Yuuk, Tidur!" seru Sena. Yuuki segera merebahkan tubuhnya. Berharap besok adalah hari yang baik.
.
Akashi POV
Aku tidak mengerti kenapa ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku. 'YUUKI!'
Sudah berapa kali aku menyakiti gadis itu ... ralat, anak kecil itu? tapi, aku tidak salah. Dia sendiri yang membawa dan memancing kejadian. Ini karena kebiasaan buruknya.
Aku mendapat informasi dari salah satu bawahanku.
Yuuki Amano. Gadis di kelas I-C. Pembawaanya kekanakan. Peringkat terendah. Kebiasaan yang khas dari dirinya adalah hukum Amano.
Namun, masih belum jelas menurutku. Akhirnya, aku memeras semua pusat gosip di asrama. Alhasil,
Dia suka berlabuh saat pelajaraan. Walaupun begitu, nilainya bisa dibilang lumayan. Katakan saja standar. Setiap jam istirahat selalu mengincar paket makanan A. Sahabat karibnya adalah Sena. Sekelas dan sekamar juga. Bicara tentang hukum Amano, aku mendapat beberapa. Mungkin sisanya bisa kudapatkan dari Kepala sekolah alias ayahnya.
Aku terhenti disitu. Bidak catur yang kumainkan berhenti. Tarian pedang mereka terhenti. Strategi yang too complicated terhenti juga. Apakah ini yang dinamakan benih aneh tumbuh di medan perang? Aku membiarkan catur itu tergeletak. Aku beralih membaca buku-buku.
Alih-alih saat kubaca. Kata pengantarnya, based on true feeling.
... Baiklah, aku mengerti. Aku membuang buku itu ke lantai. Membiarkan halaman per halamannya dipermainkan oleh angin. Aku mengerti, oleh karena itu kubuang?
Malam ini aku dipenuhi rasa cemas. Ini semua salah gadis itu. kebiasaan buruknya membuak efek samping padaku. Aku tidak mau terkena penyakit insomnia hanya gara-gara dia. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk mencegahnya? Aku menelponnya.
Teleponku dijawab. Namun, suara ini berbeda dengan suara Yuuki. Oh, teman sekamarnya. Sena. Dia mempersilahkan dan memang/harus membiarkan aku berbicara dengan Yuuki.
"Iya? Ini Yuuki."
Kubalas, "Yuuki, ini Akashi."
"Eum ... ada apa Akashi-san?"
Singkat-pada-jelas aku menjawab."hanya ingin bertanya". Mantap. Ini point dipikiranku.
"Apa?"
Aku menjawab sambil meraih bidak ratu putih."Apa yang sekarang kau pikirkan tentang diriku?"
"Akashi-san orang yang aneh akhir-akhir ini."
... CREK. Bunyi tanganku meremas bidak catur putih itu hingga kepalanya hancur.
"Tapi ... Yuuki pikir lagi, Akashi-san orang yang baik."
... Aku terdiam sejenak. Dia gadis yang polos. Selalu mengatakan isi hati dan otaknya. "Bagian mana?" tanyaku.
"Saat Akashi mengenalkan Reo-san padaku. Yuuki senang punya banyak teman dan relatif banyak" balasnya. Sungguh, aku ingin mengumpat diri.
".. Kalau begitu, selamat malam. Aku hanya menanyakan mu ini." Kataku. Dia membalasnya dengan balasan biasa. Sambungan telepon pun terputus.
Hening. dalam batinku, aku merasa lega. Walaupun setelah itu ... aku mengambil selotip dan gunting di rak meja. Kupasang kembali bidak catur ratu putih itu. seperti sediakala. Aku menaruh nya tepat disamping bidak caturku, raja hitam.
.
Normal Mode
Sepulang sekolah. Kebanyakan siswa Silver Gakuen kembali ke asrama atau mampir ke kantin. Beberapa juga mengunjungi gedung perpustakaan. Dari semua siswa itu, ada tiga siswa pengecualian yang berada di halaman belakang. Sepi. Untunglah, salah satunya memulai perbincangan.
"Nah, Yu-chan. Disini kita akan membahas sedikit tentang festival nanti~" ujar Reo.
"Yuuki gak sabar, Yuuki ingin ikut membahas juga!" kata Yuuki.
Kedua pasangan-tidak-jadi itu menoleh pemuda bersurai merah. Akashi mengambil secarik kertas kosong dan sebuah pen. Ia memulai menulis sesuatu.
"sederhana saja, festival nanti membutuhkan tiga pion. Masing-masing pion memiliki tugas sendiri." Ujar Akashi selagi tangannya menggambar tiga lingkaran. "posisi pertama akan kuberikan untuk Reo. Posisi dibelakangnya sisi kanan akan kuberikan pada diriku. Sedangkan dibelakangku persis adalah Yuuki."
"Kenapa Yuuki dibelakang?" tanya Yuuki. Reo tersenyum kaku. Anak ini polos, pikirnya.
"tipikal supernatural mu adalah jarak jauh." Jawab Akashi. "cocok untuk daerah terjauh dari gapaian lawan."
"Yuuki summoner. Yuuki bisa menyerang jauh dan dekat." Tukas Yuuki.
"resiko menyerang jarak dekat itu lebih tinggi. Mengingat batas maksimalmu."balas Akashi.
"Yuuki gak peduli dengan batas maksimal Yuuki."
"Oh ya, kau harus. Jika seorang supernatural telah mencapai batasnya, ia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya lagi. anggap saja habis. Disini, di festival ini tidak mengenal kata penghabisan. Hindari segala kemungkinan yang berbahaya. Ini festival, Yuuki." Tukas Akashi.
Sebelum perdebatan dimulai. Reo segera menyela. "su-sudah, sudah. ini hanya posisi saja kok. Posisi Yu-chan juga tidak terlalu dibelakang." Tukas Reo. Yuuki tediam sejenak.
"Kalau begitu, Yuuki mau saja di belakang." Jawabnya. Reo menghela napas lega.
"Baiklah, kalau begitu .. besok kita latihan. Segera sampai di area latihan jam tujuh. Yang terlambat, jangan harap bisa selamat." Titahnya.
"Besok liburan, Yuuki selalu bangun jam delapan kalau liburan..." keluh Yuuki. Reo membatu. Tuhan, tolonglah anak ini .. pikir Reo.
"Usahakan. Jangan membantah dan mengeluh lebih lanjut. Perintahku mutlak." Kata Akashi. "Dan, ketahui tempat mu Yuuki."
Yuuki tercengang dan sedikit tersinggung. "Yuuki tahu kok. Yuuki masih di halaman belakang sekolah kan? Memangnya ada yang salah?" tanya Yuuki dengan nada polos. Reo benar-benar ingin lari dari tempat itu.
Akashi nyaris mengambil guntingnya. Tapi ditahan. Oleh kalimat Yuuki, "Kalau begitu, Yuuki permisi dulu. Yuuki bakal mengusahakan bangun lebih pagi. Bye~!" Yuuki segera pergi dari situ. Akashi masih diam saja. Reo membereskan kertas dan sebuah pen yang baru dipakai Akashi.
"Sei-chan, kenapa?"
Akashi menggeleng kepala.
"beneran?"
Akashi mengangguk.
"Serius?"
Akashi mengangguk.
"Yu-chan itu anak yang patuh ya. Yeah, kepatuhan yang menakutkan. Dia terlalu polos."
Akashi terdiam sejenak.
"dia jujur sekali. Selalu mengatakan isi hatinya. Bagaimana menurutmu?" Reo mulai memancing Akashi.
"Tidak ada." Jawabnya sembari peri begitu saja. Reo terdiam, dasar tidak jujur ... pikir Reo.
.
"Dia memintamu untuk bangun jam tujuh dan memulai latihan?" tanya Sena.
"Iya." Jawab Yuuki.
"Hee ... " Sena berpikir sejenak, "latihan? Itu berarti ... cambuk neraka!". "Yuu-chan, hati-hatilah disana! Kawanmu ini tidak bisa membantu apa-apa. tapi, kumohon hidup panjang ya?"
"Iya, Yuuki mengerti. Tunggu, Yuuki tidak mengerti? Apa maksudmu?"
"egh ... I—ini hanya suara batin saja kok. Ehehe, latihan yang semangat ya? Trus setelah itu makan malam bersama. Kamu bisa makan setengah porsi makananku kalau kamu kembali dengan utuh."
"Iya, Yuuki mengerti. Yey, Yuuki dapat setengah jatah makanan Sena. Tunggu, Yuuki tidak mengerti dengan kembali utuh?"
"Sudah,sudah ... ayo tidur!" seru Sena.
.
Reo POV
Aku cemas dengan Yu-chan. Aku juga khawatir pada Sei-chan. Kedua orang itu memiliki persamaan. Mereka seenaknya sendiri. Bedanya, Yu-chan tahu batasnya. Nah, yang satu ini yang parah.
Bicara tentang Yu-chan, aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Walaupun dia jujur dan memang jujur dari lubuk hati, tapi masih tanda tanya menurutku. Entah kejujurannya sendiri yang menutupi jalan pikirannya? Atau dia sendiri yang kekanakan.
Waktu sepulang sekolah tadi, aku mendatangi kelas Yu-chan. Untunglah, dia masih disana. Kupanggil dan kubilang, "Yu-chan tahu tidak, ...Akashi (sengaja) menyuruhmu datang ke halaman belakang". Dia balas dengan anggukan saja. Lalu bertanya lagi, untuk apa?
Otomatis kubalas, "membahas festival"
Dia bingung. "Tapi, Yuuki bukan anggota OSIS atau pun panitia lain. Yuuki tidak mengerti..."
Astaga, dia ini tidak tahu atau memang polos? Aku tertawa kecil. "Yu-chan tidak perlu berpikiran jauh. Hanya membahas soal turnamen di festival nanti." Ia mengangguk sambil tersenyum.
Momen yang bagus. Aku mendapat beberapa hal tentang hukum Amano. Walau tidak tertera di buku manapun. Hukum ini jelas sekali di permukaannya.
.
.
Reo -TBC!
.
Minna, chapter 3 update! chapter 4 udah selesai juga~
ini karena bantuan kalian. !arigatou!
makashi juga buat dukungan dari review'er, shin memohon dukungan/kritik/saran/dan lainnya juga~
Onto next Chapter!
