Shin usahain buat update kilat, tapi shin pikir halauan gak akan ngasih kesempatan lewat dua kali. Jadi begitulah. Nah, chapter ke empat udah shin update. shin cepet-cepet scanning lho. oke, langsung aja~
Terus dukung shin, ya! Enjoy reading...
.
Disclaimer: I don't own KnB (Fujimaki Tadatoshi)
Genre: Fantasy, Supernatural, School life
Rated: K+/T
Pair: Akashi, OC
.
.
Adorable Story from Gakuen
.
.
Story 4: first time sit in—
"Reo, mana Yuuki?" tanya pemuda surai merah dengan tampang kronik. Reo menggeleng kepala, bibirnya mengkerut dan berharap gadis yang bernama Yuuki tidak terlambat. Atau... sesuatu yang buruk akan terjadi.
Suara langkah kaki yang berlari. Suaranya semakin jelas, sudah pasti itu Yuuki. Ia tampak terengah-engah.
"Maaf, Yuuki terlambat ..." ujarnya.
"Bukannya kemarin sudah kubilang untuk bangun pagi?" tukas Akashi.
"... Yuuki kan hanya terlambat lima menit!" balas Yuuki.
"Hargailah waktu, manfaatkan waktu dengan baik."
"Yuuki tahu kok." Yuuki memalingkan wajah sambil mengggembungkan pipi nya yang manis.
"Yu-chan ... kawaii~..." gumam Reo.
"Hukuman." Kata Akashi. Reo tergidik, firasat buruk mulai menjad-jadi.
"Eeegh? Yuuki dihukum?" tanya Yuuki.
"summon supernatural mu. 30 KALI!" seru Akashi.
"Jahat, Yuuki gak mungkin bisa—"
"Bisa. Kalau begitu dipercepat. Dalam satu menit, usahakan summon dua supernatural secara berurutan."
"Se-Sei - .. chan ... kau terlalu jahat..." gumam Reo dengan nada lirih.
Seorang Summoner bisa memanggil bidak yang mereka kuasai. Tantangan menjadi seorang summoner adalah waktu. Jeda untuk memanggil tentu membutuhkan fokus dan waktu yang relatif lama. Oleh karena harus dilatih mulai dini. Kebanyakan summoner yang sudah pro bisa memanggil dengan fokus yang tinggi dan waktu relatif cepat.
Reo tengah berlatih. Akashi sendiri sibuk memberi komando pada Yuuki.
Mereka berlatih. Terkadang beberapa murid juga berlatih disana, dan mendapati pemandangan baru. Seorang ketua dan wakil OSIS tengah berlatih dan melatih. Beberapa yang kenal Yuuki Amano juga asyik bergosip. Sena sibuk menyembunyikan diri di balik semak-semak lengkap dengan teropong di tangannya. 'Yuu-chan, aku sudah siap dengan peralatan pertolongan pertama!' gumamnya dengan suara lirih.
Tiga jam berlatih. Lalu istirahat dua puluh menit. Akashi cukup baik setelah berdebat dengan Yuuki membahas waktu istirahat.
"Hee, Yu-chan bisa memanggil pelindung tipikal astral dan tanaman tertentu ya..." kata Reo.
"Iya, Yuuki masih menguasai kedua bidak itu dengan baik. Yuuki juga bisa melindungi Reo-san dari jarak jauh ... eum, maksimal lima puluh meter sih.. " kata Yuuki. Reo tersenyum. Akashi hanya diam membaca buku. Timbul sifat jahil Reo.
"Hee, aku senang bisa dilindungi Yu-chan. Festinal nanti, mohon bantuannya ya?" kata Reo. Yuuki mengangguk. "Kalau bisa lindungi aku saja. Jadi, aku bisa menghadang lawan agar tidak mencapai Yu-chan."
"Iya." Jawab Yuuki dengan senyum polosnya. "Yuuki bakal—" ucapan Yuuki terhenti karena disela Akashi. sedangkan Reo tersenyum polos, setidaknya rencana berhasil.
"Perubahan posisi!" seru Akashi. Yuuki dan Reo menatap pemuda surai merah itu. "Aku dan Reo akan berada di garis depan. Yuuki dibelakangku, Tetap." Lanjutnya.
"Yey, Yuuki di posisi kedua. Setidaknya, Yuuki bisa tampil agak-kedepan." Kata Yuuki.
"Syu-syukurlah ..." gumam Reo. Tidak menyangka Akashi mengubah posisi, kenapa?
"Tapi, kenapa tiba-tiba Akashi-san?" tanya Yuuki. mantap, ini yang dipikirkan Reo.
"Sederhana saja, setelah latihan tadi kulihat kau bisa mempercepat jeda waktu memanggilmu." Jawab Akashi. alih-alih Akashi mempunyai banyak alasan yang masuk akal.
"Benarkah? Kalau begitu .. Yuuki lebih kuat?" tanya Yuuki dengan nada polos.
"mm ... " sebelum Reo menjawab, Akashi lebih dahulu.
"Tidak." Jawab Akashi. Reo tersenyum kaku.
"Lho, kok?"
"dalam satu menit dua kali pemanggilan. Usahakan dalam setengah menit lima kali pemanggilan. Itu baru kuat." Jawab Akashi.
"Kalau begitu, Yuuki akan lebih berusaha!" seru Yuuki. Akashi menatap mata zamrudnya. Ia tersenyum kecil. Reo sendiri asyik mendukung Yuuki.
.
Sesuai janji Sena. Yuuki mendapat bonus jatah makan malam. Sayangnya, Yuuki terbaring di ranjangnya. Latihan tadi membuatnya kehabisan energi.
"Ugh ... andai aku cepat menolongmu ..." gumam Sena dengan nada lirih sambil menyuapi Yuuki makan.
"Tidak apa. ini pilihan yang Yuuki pilih. Yuuki ingin menjadi anak yang kuat. Yuuki ingin seperti Sena." Tukas Yuuki.
"Yuu-chan..." Sena memandang Yuuki lekat-lekat."Jadilah diri sendiri, itu yang terpenting."
"Iya, Yuuki mengerti kok." Jawab Yuuki.
"Kalau begitu, cemilanku boleh kau makan!" seru Sena sembari mengambil dua kardus cemilan yang cukup untuk sebulan.
"Huwee, banyak sekali. Ada choco chip, potato lord, packy, ... banyak sekali. Kok tiba-tiba?" tanya Yuuki.
"Iya. Aku selalu dukung apapun pilihan Yuuki kok." Jawab Sena sambil mengacungkan jempolnya pada Yuuki.
.
.
in the classroom
"Sena mana?" tanya Yuuki pada salah satu teman sekelasnya.
"Eum.. katanya ada urusan sih. Tapi, gak tahu lagi. Tunggu saja, nanti dia kembali kok. Apalagi tasnya masih disini."
Yuuki mengangguk. Diambilnya tas Sena agar lebih dekat dengan jangkauan Sena. Biar tidak kemana-mana, itulah jawaban Yuuki saat ditanya teman sekelasnya 'mau diapakan tas Sena?'. Memang bisa tas seseorang kemana-mana? Oh bisa, tidak ada yang mustahil di Silver Gakuen ini. Semuanya unik. Baik itu murid-muridnya apalagi furniture disana, mengingat kepala sekolahnya adalah seorang Amano.
Waktu berjalan begitu lama. Beberapa siswa berlalu lalang ada yang keluar kelas, ada yang masih mengobrol, ada yang sibuk membahas suatu rencana, ada yang menjadikan satu bangku sebagai tempat menggosip, ada menghapus papan tulis, ada yang repot membereskan mejanya, ada juga yang berlabuh.
Yuuki sedang berlabuh kembali. Mata zamrudnya menatap dan menangkap gambaran indah diluar jendela. Kelopak-kelopak sakura yang hanyut dimainkan angin, desiran suara pohon sakura karena angin, sorak-sorak kecil para siswa yang berada diluar sana.
Kedua tangan Yuuki menggenggam erat tas Sena. Yuuki merebahkan kepalanya diatas tas Sena. Sedikit nyaman. Ia menghadap pemandangan diluar jendela. Jika dilihat baik-baik, Yuuki merasa damai. Semua beban pikiran langsung hilang.
(Hei)
Yuuki masih berlabuh. Ia tampak tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Hanya satu yang ditangkap. Pohon sakura.
(Hei...)
Yuuki merasa malas untuk bangun. Apalagi pemandangan diluar yang menggoda. Matanya berkedip pelan. Ia merasa kantuknya mulai menjalar. Pandangannya mulai buram. Sekuat apapun usahanya untuk menahan kantuk. Anak kecil tetaplah anak ke—
"HEI!" seru seseorang di belakang Yuuki.
Yuuki sendiri tersentak kaget. Ia terbangun dari nyaris-tidurnya. Sejenak ia menoleh kekanan-kirinya. Ia mendapat tiga siswa sedang berdiri di hadapannya. Dua orang yang ia kenal sekali, dan satu gadis yang entah asal usulnya (bagi Yuuki).
"A-apa?" tanya Yuuki. Maklum baru bangun nyaris-tidur.
Salah satu siswa itu berdecih."dasar..."
"Ehe, Yu-chan kaget ya? Maaf, aku sendiri tidak berdaya saat Yu-chan dibangunkan paksa~" kata Reo dengan nada polos. Akashi melirik Reo dengan tatapan intimidasi. Reo sendiri cukup puas melihat reaksi Akashi.
Yuuki menggeleng kepala. Ia melirik satu per satu tiga orang dihadapannya. Akashi, yang menyentak dia sehingga Yuuki terbangun. Reo, pemuda tanpa daya melihat reaksi Yuuki terbangun. Dan ...
"Dia Satsuki, Momoi Satsuki." Kata Akashi.
Yuuki mengangguk pelan lalu membalas, "Aku Yuuki Amano, salam kenal."
"sou, Yuuki-chan. Salam kenal juga." Kata Momoi.
Jika menatap baik-baik Momoi. Rasanya ada kesamaan. Yup, warna rambutnya seperti warna kelopak sakura. Melihat rambut panjangnya tergerai bebas.
"Kireii ..." gumam Yuuki dengan nada cukup lirih dan cukup didengar mereka bertiga.
"Ha?" Reo dan Momoi hanya menatap heran Yuuki.
"Rambut Momoi-san ... cantik sekali. Seperti kelopak sakura itu." kata Yuuki sembari menunjuk pohon sakura di luar jendela.
"Ehe, Yuuki-chan pintar memuji. Aku jadi salah tingkah.." balas Momoi.
"Lalu, ada apa?" tanya Yuuki. Reo melirik Akashi yang sedari tadi melihat pohon sakura itu.
"Psst, Sei-chan.." panggil Reo. Akashi segera terhenti dari lamunannya. Ia kembali menatap ketiga rekannya.
"Aku hanya ingin memperkenalkan kamu dengan Satsuki. Mungkin, kau bisa belajar banyak darinya. Dia juga ahli dalam segi melindungi. Ini cocok sebagai referensi latihanmu." Kata Akashi.
"Mou, selalu begitu .. Benar sih... Ah, Yuuki-chan kalau mau, aku bisa mengajarimu. Daaaann~ aku MC di festival nanti~" kata Momoi sambil mengancungkan simbol peace.
"Benarkah? Yuuki mau diajari kok" kata Yuuki. Asyik bergumam dengan Momoi. Yuuki memiliki banyak rekan lagi. berkenalan dengan satu orang membuka jendela untuk kenal dengan berpuluh ribu bahkan jutaan orang.
Akashi mulai duduk di bangku Yuuki, ia menatap dan seperti ikut berlabuh dengan pohon sakura itu. Reo sendiri asyik mengobrol dengan Yuuki dan Momoi. Parahnya, mereka bergosip. Lebih parah lagi, Akashi gak peduli!Watados. parahnya dan parah-parahnya lagi(?), waktu menunjukan pukul tiga sore.
Holy shit
Akashi tersadar dari lamunannya(labuhannya). Ia segera berdiri dengan mengeluarkan suara keras (tangannya mendadak memukul meja). Membuat perhatian ketiga siswa suka gosip itu menatapnya.
Dengan sifat pokerface nya,Akashi berjalan keluar kelas. "Ayo, Reo dan Satsuki. Ikut aku." Katanya. Otomatis, Reo dan Momoi melambaikan tangan pada Yuuki lalu bergegas keluar.
Kali ini, Yuuki sendiri. Ia kembali ke tempat duduknya. Saat duduk, ia merasa hangat. Padahal dari tadi ia berdiri sambil membalas ocehan Reo dan Momoi. Tidak sadarkah Yuuki? Akashi baru saja duduk disana. Ingat, seorang Amano—
"Yuu-chan~" sapa Sena. Ia melihat gadis itu menatapnya.
"Ah, Sena." Balas Yuuki."dari mana?" tanya Yuuki.
"dari gedung guru. Sensei menyuruhku mengembalikan dokumen harian, bukannya hari ini aku piket?" jawab Sena. Yuuki mengangguk pelan."Maaf Yuu-chan, kamu jadi menunggu sampai jam tiga sore..."
"Tidak apa. Yuuki menikmati sekali." Jawab Yuuki dengan nada polos. Sena tersenyum lega ...
Setelah mengambil tas dan bersama Yuuki keluar kelas. Batin Sena mengatakan sesuatu, apa yang harus dinikmati saat menunggu?
.
Sena's POV
Benar juga. Aku makin was-was. Apa hanya aku saja yang was-was? Tidak. Aku pikir IYA!
Aku benar-benar cemas dengan Yuuki. Apa hanya aku sendiri yang cemas? Yuuki sama sekali tidak merasa cemas ... aku pikir. Ah, aku lupa. Yuuki itu—
Sudah, cukup.. cukup... tenangkan diri. Hukum Amano itu menarik sekaligus menakutkan. Kenapa tidak? Contohnya sudah ada disini. Maksudku, disebelahku. Yuuki sedang tidur. Bukan, bukan... jangan mengira Hukum Amano itu menakutkan, contohnya adalah Yuuki sedang tidur. Itu sih, persepsi yang keterlaluan. Yang kumaksud, orangnya. Yuukinya. Jiwa, raga juga kejadian-kejadian di lalu waktu..
Andai aku juga masuk dalam masalah. Maka semua akan kubereskan dengan jalan ku sendiri. Yaitu, fisik. Kebanyakan orang mengira, fisik tidak akan memperbaiki suatu masalah. Yang ada hanya masalah lagi. oh, gitu. Maaf saja, NGGAK!
Bukankah sudah jelas, persepsi seperti itu sudah mainstream. Ini adalah asrama unik. Semua persepsi dunia tidak memperngaruhi asrama ini. Apapun bisa jadi.
Ceh, gara-gara ini aku memasang wajah Trolism. Bukan sifatku sih. Tapi, apalah daya. Ini peran yang diberikan untukku.
Balik ke masalah persepsi.
Bicara tentang akar masalah. Ya ITU. dia, dia murid kelas I-A, pengidap psikopat dan kepribadian ganda. Kedua matanya yang aneh. Si ketua osis berkerudung merah, maaf berambut surai merah. Uph, suara batinku tidak terlalu keras, bukan?
Denger-denger dari PGA (pusat gosip asrama) dia memiliki indera setajam matanya menatapmu dengan dingin. Apa Yuuki tidak merasakan tatapan tajamnya, pertanyaan pertama: Setajam matanya itu memang berbentuk tajam apa?. lalu pertanyaan kedua: selumpuh apakah perasaan Yuuki sehingga dia tidak sadar bahwa dirinya selalu dalam mata heterokrom ITU!?
.
Yuuki's POV (sebelum tidur)
Yey, Yuuki punya banyak kawan. Yuuki bisa ketemu Akashi-san, Reo-san, dan Momoi-san. Tentu saja, Yuuki gak perlu lari-lari mencari kawan atau mencari perhatian (dia tidak sadar, sifatnya yang memancing mereka =.='). Akhir-akhir ini, Yuuki pikir ... Yuuki gak pernah membeli makanan paket A. Apa Yuuki terlalu sibuk? Tidak mungkin, pe'er Yuuki selalu selesai tepat waktu (Iya, tepat sekali. Saat mau mengumpulkan baru selesai). Yuuki juga gak punya request dari teman teman Yuuki. Akashi-san juga gak pernah meminta (atau menyuruh lebih tepatnya) yang susah. Saat Yuuki meminta Momoi-san untuk mengajari Yuuki juga. Momoi-san itu baik, dia selalu memberi keringan pada Yuuki.
Yuuki capek. Soal atau masalah itu bisa Yuuki lanjutkan besok, bukan?
.
Akashi's POV
Akhir-akhir ini, aku sering berdecak atau berdecih kesal tanpa ada alasan tertentu. Pertanyaan pertama, apakah sudah menjadi kebiasaanku?. Pertanyaan kedua, seaneh apakah diriku?
Aku memainkan bidak-bidak catur dengan elitnya. Satu per satu bergerak sesuatu komandoku. Ya, dibawah komando langsung. Dengan strategi too complicated ini. Motifnya sangat sederhana tapi mampu menjebak lawan.
Tadi, saat aku duduk di kursi Yuuki. Tanpa sadar, aku sedikit melamun karena pemandangan diluar sana. Kelopak-kelopak sakura itu bertebaran dengan begitu indahnya. Apa setiap hari, Yuuki memandang pohon sakura ini? Aku yakin IYA. Harum manis tercium saat aku duduk di kursi Yuuki. Ini tidak horor, aku yakin anak itu menghabiskan waktunya untuk berlabuh.
Setelah kuperhatikan cukup lama. Aku sadar, ada hilang di bidak-bidak itu. kemanakah Ratu Putihku?
Aku mulai mencari nya di loker meja ku. Lemari buku-buku. Diatas meja dengan serakan buku-buku lagi. tapi, hasilnya nihil. Bidak itu tidak kutemukan. Kalau kuingat-ingat, aku lupa.
.
Reo's POV
Uwaawawa. Tadi itu benar-benar ... menakutkan! Tapi, setidaknya aku berhasil membuat Sei-chan marah. Hehe, butuh pengorbanan dan sedikit resiko tinggi. Untunglah, ada Momoi yang bisa mencairkan suasana. Ufufu, besok ... ada kejadian apa lagi?
Entahlah. Aku pikir, Sei-chan bisa menebaknya. Dia akan berkata hari ini, lakukan sesuai latihan kemarin. Begitu~ pasti lucu jika benar. Tapi, tidak lucu jika aku mati konyol sebelum festival dimulai.
Bicara tentang mati konyol, sudah berapa kali aku merasakannya?
.
.
.
"Hari ini, lakukan sesuatu latihan kemarin." Kata Akashi sambil mengapit kedua tangannya.
"Iya!" balas Yuuki dengan sigap. Reo sendiri menahan tawanya. Untunglah, ia bisa menghindari sebilah gunting. Walaupun tidak mati konyol, Reo masih dalam posisi konyol.
Tirai Festival ini terbuka. Begitu sambutan dari kepala sekolah dan pidato Ketua OSIS selesai. Terdengar suara kembang api, sorak-sorak, juga berbagai macam musik yang tampilkan secara bersamaan. Berkat tim inti festival, mereka memeriahkan suasana dengan tebaran kertas warna-warni yang tidak akan habis sampai festival berakhir. Dengan begini, Ajang pun dimulai.
.
.
TBC
.
yey, arigatou ne~
view:+200! dukung shin terus ya. thanks to::
-Adorable Review'er: ScarletBlood04, Sakamaki Ama-chan, lucyheart, (Unsignly)Amelo, , Hoshi Uzuki~
-Adorable Favor'er: , ScarletBlood04, NandaRuki, lucyheart, psychoarea~
-Adorable Follow'er: , NandaRuki, Sakamaki Ama-chan, ScarletBlood04, lucyheart, psychoarea~
Onto next Chapter ~!
