Chapter 5 update! Shin bisa sampai sini karena dukungan Minna-san/-chan/-senpai/..
Misamime-san: gomene, tidak bisa update kilat~ shin gak tau kapan bisa update. Gomene, tapi enjoy reading, Misa-san~
Amelo-san: Haha, iya iya. shin ngerti kok gimana rasanya -.-"~ enjoy reading ne~
Hoshi Uzuki-san: Heum, plot buat cemburunya terlalu cepat menurut shin sih~ enjoy reading ne~
Ehe, sebenarnya shin gak terlalu tahu sifat Reo yang sebenarnya ya... intinya setelah shin baca manga KnB, Reo itu cheerfull. Gomene, kalo sedikit OOC,gak nyambung, atau feelnya gak terasa. Tapi, coz' that .. shin butuh kritik-saran-dan dukungan reader. Baik itu Review'er, Follow'er, Favor'er, PM'er, dan silent reader lainnya~
Minna, Enjoy reading~!
.
Disclaimer: I don't own KnB (Fujimaki Tadatoshi)
Genre: Fantasy, Supernatural, School-life
Rated: K+/T
Pair: Akashi, OC
.
.
Adorable Story from Gakuen
.
Story 5: Here I am
Sorak-sorak para murid terdengar hingga pelosok asrama. Hujan kertas warna-warni berbentuk persegi kecil nyaris menutupi coklatnya tanah. Suara-suara musik, baik itu sebuah lagu, irama, nada, gaung, gema, instrumen, etc. Beberapa petasan atau kembang api dinyalakan juga untuk meriahkan suasana.
Nah, cukup. Itu suasana luar Dome. Tengok saja didalam Silver Dome.
Sorak-sorak siswa terdengar hingga menyongsong penjuru Dome. Berbagai macam lampu dengan warna yang berbeda. Benar-benar ramai didalam sana. Beberapa mondar-mandir. Ikuti saja anak yang mondar-mandir turun ke lantai bawah.
Di lantai bawah, merupakan tempat peserta yang mengikuti turnamen ini. Beberapa siswa datang untuk mampir, ada juga keluar untuk mengambilkan minuman. Sibuk, sibuk, sibuk dimana-mana. Terutama..
"Reo, Yuuki. Tunggu disini. Aku ada urusan yang harus diselesaikan." Kata Akashi. kedua orang yang dimaksud hanya mengangguk. Begitu Akashi keluar, Reo menghela napas.
"pasti merepotkan." Kata Yuuki.
"Yeah, begitulah. Walaupun aku wakil ketua OSIS ... aku rasa aku tidak dibutuhkan." Kata Reo dengan nada sweatdrop. "yang sibuk dan paling inti adalah tim inti festival juga ketua OSIS. Beberapa anggota lain pasti mempunyai waktu luang dan entah dimana saja mereka."
"Kenapa Reo-san tidak membantu juga?" tanya Yuuki.
Reo tergidik, ia mengingat sesuatu sejenis dan semengerikannya kata bernama Ancaman.
"Tidak, aku disini saja menemani Yu-chan." Jawab Reo.
"Tapi, Yuuki tidak masalah sendirian." Tukas Yuuki.
Reo berpikir dua kali kembali."Jadi... Yu-chan tidak ingin bersamaku? Yu-chan tega mengusirku?" tanya Reo dengan nada Moe-alaShounen.
"Bu-bukan begitu, Reo-san. Yuuki mau kok bersama Reo-san, Yuuki gak tega mengusir Reo-san. Yuuki seeeennaaang banget bersama Reo-san." Kata Yuuki.
Reo tersenyum menang."Benarkah?senangnya~" Jawabnya. Aku harap Sei-chan cepat kembali~, batinnya.
"Reo-san ... boleh Yuuki bertanya?"tanya Yuuki.
"Nanii~?" tanya Reo.
"Apa... Reo-san juga senang bersama Yuuki? Apa Reo-san tega mengusir Yuuki? Apa Reo-san mau bersama Yuuki? Apa yang Reo-san pikirkan tentang Yuuki?"
Hening. yang ada hanyalah suara astral batin Reo.
'anak ini... ap-apa ya? Tentu saja, kali pertama yang kupikirkan tentang Yu-chan adalah ITU. iya, ITU! mau apa lagi... lalu, jujurkah?' batin Reo.
"Ten-tentu saja, Yu-chan. Aku senang, tidak tega, dan mau bersama Yu-chan. Terus .. etto, ya-yang kupikirkan kali pertama tentang Yu-chan adalah ... " Yuuki menatap Reo dengan mata berbinar-binar. "polos.." jawab Reo.
"polos? benarkah? "
Reo mengangguk.
"He, polos darimana?" HEG. Suara ini. Oh, jangan bilang ketua OSIS itu sudah datang dari tadi. Reo dan Yuuki menoleh ke arah pintu ruangan. Bingo, nilai seratus untuk Reo. Hadiahnya apa? nanti saja. Sekarang bertindak dulu.
"Se-Sei-chan ... ka-kalau sudah datang bilang-bilang dulu dong... ahaha .. ahaha... ah..." kata Reo dengan tawa garingnya.
Akashi mendatangi Reo. Ia menjamin suaranya hanya terdengar dan tidak diketahui Yuuki."jangan kabur setelah festival" kata Akashi. Reo menelan ludahnya.
"Ada apa?" tanya Yuuki.
"ada gunting lewat."jawab Akashi. ha? Yuuki semakin tidak mengerti. Benarkah? Ada gunting lewat. Pertanyaan pertama, dari arah mana gunting itu lewat?. Pertanyaan kedua, maksudnya?
"Sampingkan itu, turnamen akan segera dimulai. Em.. sembilan menit dari sekarang. Bersiap-siaplah, usahakan fokus mulai sekarang. Ini sangat berlaku untukmu.." kata Akashi dengan nada dingin sambil menunjuk Yuuki.
"Baik~!" serentak Reo dan Yuuki.
.
Lorong dibawah Dome.
Suara sorakan penonton diatas terus bergema. Beberapa orang berlalu lalang. Kebanyakan para staf disini, tapi beberapa juga siswa yang sibuk dengan persiapannya. Di jalan, tim entah-nomor-berapa itu bertemu gadis yang memang-dan-ada-yang-baru-kenal berambut softpink.
"Momoi-san!" sapa Yuuki.
"Ah, Yuuki-chan. Festival ini sudah mau dimulai lho~" kata Momoi.
"Iya. Yuuki gak sabar juga." Kata Yuuki.
"Nah, berjuanglah disana. Setelah beberapa hari latihan, Yuuki-chan pasti bisa~!" kata Momoi.
"Um, Yuuki benar-benar berusaha disana!"
Momoi berlalu ke tempat audience room. Seperti biasa, semua panitia sibuk. Bahkan Akashi dan Reo yang seharusnya menunggu festival juga ditarik ikut sibuk. Baru saja kembali, kemudian sibuk kembali. Tapi, itu semua untuk memeriahkan suasana festival.
Maka, tirai turnamen ini pun naik keatas. Sorak-sorak penonton di Dome semakin menggema hebat. Pintu menuju area turnamen terbuka. Silauan sinarnya nyaris membutakan.
Disini, Yuuki berdiri dengan Akashi dan Reo. seragam yang dipakai adalah kemeja putih. Untuk Yuuki, ia memakai bawahan rok biru tua. Untuk Akashi dan Reo (kesepakatan) untuk memakai bawahan biru tua dan panjang. Mereka memakai ikat kepala berwarna merah sebagai tanda satu tim.
"Ayo." Kata Akashi sembari melangkah ke depan. Tidak peduli silauan diluar pintu itu. diikuti Reo dan Yuuki.
"Baik." Serentak mereka semua. Senyuman mengembang di wajah Yuuki. Ulasan manisnya pun semakin kelihatan. Rona merah di pipinya menambah manis Yuuki.
Mereka semua memasuki area. Momoi ber-MC memanggil perhatian semua penonton.
"Minna~! Tim merah.. AKASHI SEIJUROU, MIBUCHI REO, dan.. YUUKI AMANO~" seru Momoi. Disoraki para penonton. Sebuah kamera diselipak dari atas agar kepala sekolah bisa melihat pertandingan berlangsung. Matanya hanya tertuju pada putrinya.
Yuuki melihat sekeliling area. Ia mendapati padang tanah dan rumput. Disisinya terdapat pembatas dari batu dan para penonton diluar batas area itu. area ini begitu luas. Yuuki dapat mendengar Momoi ber-MC lagi saat lawan mereka memasuki area turnamen juga. Yuuki bisa melihat tiga orang dengan ikat kepala biru tua di ujung saja. Parahnya lagi, Yuuki masih menyempatkan berlabuh. Tidak heran, seorang Amano—
"Yuuki, ambil posisimu." Kata Akashi. Yuuki terbuyar dari labuhannya. Ia segera berdiri di belakang Akashi. "Lakukan sesuai latihan, kamu pasti tahu apa yang harus dilakukan, bukan?". Yuuki mengangguk pelan. Akashi menoleh kepada Reo, memberi isyarat padanya. Reo pun mengangguk.
...3...
Hitungan detik sebelum festival dimulai. Yuuki menyipitkan matanya, berusaha fokus dengan lawan di depan mereka. Tubuhnya berusaha siap secepat mungkin. Yuuki bisa melihat Akashi yang tengah berfokus dengan lawan mereka, dan Reo yang siap melancarkan serangannya. Kali ini, Yuuki harus dua kali lipat lebih fokus.
...2...
Hitungan detik sebelum turnamen dimulai. Sorak-sorak penonton terngiang terus dikepala Yuuki. Beberapa teman sekelas Yuuki mendukungnya. Berteriak memanggil namanya. Yuuki memejamkan matanya. Berada di gelap nya pejaman mata ini, sebelum menghadapi di depan.
1!
Turnamen dimulai. Sorak-sorak semakin dashyat begitu melihat Yuuki memanggil summon-nya dalam waktu 0,6 detik! Seekor Berzieker fox. Rubah dengan kekuatan pelindung. Summon ini berada di bawah kendali Yuuki. Momoi tersenyum sinis, ia bisa menduga anak itu belajar dengan cepat.
Akashi dan Reo sendiri kaget. Namun, mereka tetap fokus pada tujuan. Reo segera maju didampingi Berzieker. Ah, jangan merasa menang dulu. Yuuki harus memasang pelindung pada kedua rekannya, selain itu ia memegang kendali Berzieker.
Akashi tahu perannya. Ia segera menggunakan busur dan panahnya untuk melumpuhkan pergerakan lawan. Reo tahu rekan-rekannya sedang dalam masa cooldown. Ia berusaha untuk menahan pergerakan lawan.
Dan, jangan lupa. Lawan tidak akan diam saja melihat kehebohan tim lawannya. Mereka berpencar. Satu ke sisi kiri, satu kesisi kanan, dan satunya lagi maju menghadap Reo.
"Yuuki, tahan sisi kiri. Aku akan mengambil bagian kanan!" kata Akashi. Yuuki mengendalikan Berzieker untuk menahan lawan di sisi kiri. Akashi sendiri sibuk melumpuhkan bagian kanan. Reo akui, lawan yang menghadapinya ini cukup pintar dan kuat.
"Minna! MAN TO MAN DEFENCES~!" seru Momoi diikuti sorakan penonton.
Baiklah, putar otak. Semua sibuk menghadapi lawan mereka. Sena, salah satu penonton yang tengah was-wasnya melihat Yuuki kesulitan mengendalikan dua objek secara bersamaan. Padahal selama ini, Yuuki hanya bisa mengendalikan satu objek. Ini dua, hanya dalam tiga hari .. ia menguasainya? Sena menggeleng kepala saat terpikir Yuuki terbaring lemah di ranjangnya. Setidaknya, Sena harus bertindak tidak langsung. Ia melihat Akashi yang sibuk memberi komando pada rekan-rekannya dan (menurut pandangan Sena) ia tidak peduli dengan kondisi Yuuki yang (menurut Sena lagi) nahas.
"Ini semua salahnya!" geram Sena.
Sena segera berpindah menuju bangku yang tepat berada di belakang Yuuki. Dari sini, Sena bisa melihat wajah lawannya yang juga kesulitan menghadapi Yuuki(summon-nya).
Lawan itu tergidik saat melihat aura di belakang Yuuki. Hitam. Dan pastinya bukan milik Yuuki. Ia menatap baik-baik aura milik siapa itu. HEG. Dead end? Sena menatap lawan itu dengan tatapan membunuh. Aura gelapnya bergeming di belakang Yuuki. Sena mengatakan sesuatu dengan isyarat pergerakan bibir, dan menjamin musuh Yuuki mengerti. Apa?
Kubunuh kau jika kau melukainya!
Sena benar-benar tipe teman yang banyak orang inginkan. Mulutnya yang manis mengatakan sesuatu yang pedas. Alangkah baiknya jika Sena juga berada di area itu. menang mudah, deh.
Balik ke area. Lawan Yuuki tergidik dan melemahkan penjagaanya. Ini menjadi kesempatan untuk Yuuki menyerang balik hingga lawannya lumpuh sejenak.
"Yuuki tidak tahu kenapa. Tapi, Yuuki harus membantu Reo-san dan Akashi-san!" batin Yuuki. Ia mengendalikan Berzieker untuk menolong Akashi. tidak butuh waktu hingga bermenit-menit, Yuuki berhasil menolong Akashi. sayang, energinya nyaris habis.
"Yuuki mundurlah, simpan sisa tenagamu. Aku akan membantu Reo." Kata Akashi sembari pergi menolong Reo. Yuuki melongo. Energinya nyaris habis. Berzieker juga nyaris menghilang. Yuuki nyaris mencapai batasnya. Ia bisa mendengar sorakan penonton yang terpendam. Sena berteriak sesuatu padanya, namun nihil. Yuuki tidak peduli. Dia melihat Reo dan Akashi bertarung bersama di depan sana. Ia bepikir kembali, ternyata sulit mengontrol diri saat bertarung. Padahal belum lima belas menit, Yuuki sudah lelah. Apa ini yang didapatnya? Kurang dari lima belas menit, Yuuki pun lelah. Ia tidak percaya. Yuuki mengerti satu hal, sekarang ini Yuuki sangat lemah. Yuuki melihat tangannya yang tengah merinding. Energi nya hampir habis. Tapi...
"Tapi, Yuuki ingin berusaha!" seru Yuuki. Ia segera berlari maju kedepan dengan sisa energinya. Momoi teriak histeris, para penonton bersorak, kepala sekolah mengenggam tangannya dengan erat, Sena terbelalak.
Kaki Yuuki telah mencapai batasnya. Yuuki tidak lama lagi akan terjatuh. Tapi, Yuuki melirik kepada Berziekernya. Ia punya kaki lain. Berzieker sepenuhnya berlari ke depan. Yuuki terjatuh, Berzieker melompat. Tangan Yuuki merinding hebat, tangan Berzieker telah menerkam lawannya. Tangan Yuuki terjatuh lemas, Berzieker telah melumpuhkan lawannya. Yuuki tersenyum manis, Berzieker menghilang.
"WIINNN!" seru Momoi. Sorakan semakin dashyat. Namun kecemasan tak luput dari wajah mereka yang mengenal baik Yuuki.
Gadis itu, anak itu, tengah duduk di area itu. kaki dan tangannya sudah kehabisan energi. Tapi, ada juga serpihan lega di hati mereka. Gadis itu tersenyum manis. Cucuran keringatnya tidak menghalau senyuman itu mengembang. Akashi dan Reo membantunya berdiri. Mereka segera menghilang ke bawah Dome.
Sesampainya di ruang peristirahatan. Dimana Yuuki tengah berbaring di sebuah sofa.
"Yey, baru kali ini Yuuki menang~!" kata Yuuki. Reo tersenyum.
"Syukurlah, Yu-chan. Aku ambil minuman dulu." Kata Reo sembari pergi begitu saja. Diruangan itu, tersisa Yuuki dan Akashi.
Hening sejenak karena Yuuki tengah mengambil handuk di meja sebelah sofa. Apes, kedua tangannya masih lemah.
Puk puk. Akashi sendiri mengelap keringat di wajah Yuuki.
"Ah, arigatou Akashi-san." Kata Yuuki sambil tersenyum polos.
Tuk. Akashi memukul pelan kepalanya.
"Aw"
"Yuuki, kau sudah berusaha." Kata Akashi. Yuuki terdiam sejenak saat Akashi mengatakan itu sambil tersenyum lembut. Samar tapi lembut.
"Iyakan? Begini-begini, Yuuki berusaha sekali!" balas Yuuki.
"Bodoh, kau berusaha hingga penghabisan? Menggerakan tangan dan kaki saja tidak bisa." Sindir Akashi.
"hehe, dipuji deh.." kata Yuuki dengan malu-malu.
"Ini bukan pujian." Kata Akashi.
"hehe, Yuuki sangat senang sekali!"
Akashi sibuk mengelap keringat yang bercucuran di kening Yuuki.
"Tahu tidak, Akashi-san. Hal yang paling membuatku senang apa?"
Akashi memutar otak."summon-mu?"
Yuuki menggeleng."Yuuki senang saat Akashi-san tersenyum lho."
Hening. Yuuki masih tersenyum polos. Akashi sendiri berhenti membersihkan kening Yuuki dari keringat. Cukup lama, lima detik mungkin. Bodohnya, Yuuki tersenyum polos. Parahnya, balasan dari Akashi bukan kata-kata tapi satu tepisan tangan di kepala Yuuki.
"Aw"
"Oh..aku juga ada sesuatu yang menyenangkan.." kata Akashi dengan tangan tetap dalam posisi menepis Yuuki. "It—"
BRAK. Pintu dibuka paksa. Membuat kedua orang didalamnya terhenyak.
"Aku sudah berusaha menahannya~" keluh Reo.
"KA-KAU!" seru Sena begitu melihat tangan Akashi yang masih dalam posisi menepis kepala Yuuki. Parahnya, Akashi hanya menatap datar Sena. Parahnya lagi, Yuuki menatap Sena dengan puppy eyes.
"Ha?"
"Bukannya HA?! Apa yang mau kau lakukan pada Yuu-chan!" seru Sena sembari memeluk Yuuki. Akashi beranjak berdiri. Moodnya kembali buruk.
"Urusanmu?" tanya Akashi sembari pergi begitu saja. Sena sibuk menyentak nya, Yuuki menahan Sena agar tidak ada bogem mentah melayang kemana-mana. Di pintu depan, Akashi menepuk Reo. "Pelampiasan." Kata Akashi dan Reo pun berdiri kaku. Akashi menyeret Reo keluar. Sementara di dalam ribut, diluar masih misteri. Entah apa benarkah Reo akan mati konyol.
.
.
"Tidak ada pertandingan lagi?" tanya Yuuki. Sena mengangguk.
"Iya. Ini kan pertandingan untuk melihat peringkat berapa kita berada. Mungkin, besok atau lusa kamu akan tahu peringkat berapa." Jawab Sena.
Mereka berdua sedang jalan-jalan di tengah paradis festival. Sejam yang lalu, setelah Yuuki pulih dan beberapa tenaganya kembali. Ia merengek untuk jalan-jalan bersama Sena. Dengan alasan, makanan bisa mengembalikan tenaga Yuuki. Dan itu benar.
"Sena, Yuuki ingin daging itu!"
"Sena, apa itu? seperti pohon sakura tapi manis!?"
"Sena, lihat itu yuk!"
"Sena, ada Reo-san dan Akashi-san!". Sena menarik Yuuki menjauhi tempat.
"Sena, pizza itu apa?"
"Sen—"
"Yuu-chan, apa kamu tidak lihat? Makananku belum habis. Aku kesusahan jalan, kita duduk dulu yuk?" ajak Sena.
"Oke, Yuuki mau kok." Balas Yuuki.
Mereka memilih duduk di bangku taman. Meja batu di depan mereka untuk menaruh makanan atau jajanan yang mereka beli.
"Uwaa, seperti gunung.." gumam Sena saat melihat tumpukan makanan di depan mereka. "Oi, Yuu-chan. Kamu yakin bisa menghabiskan ini semua? Padahal di kamar masih ada satu kardus cemilan lho."
"Bisa kok. Yuuki lagi mood buat makan."
"Hee... hebat dong~"
"Apalagi sekarang festival masih berlangsung. Berapa hari festival ini berlangsung?"
"sekarang sih masih pembukaan saja. Besok pasti lebih ramai. Terus, besoknya lagi penutupan."
"Tiga hari dong.."
Sena mengangguk.
Suasana di taman saat itu lumayan sepi. Karena ini masih festival pembukaan, pasti banyak murid-murid yang bersiap-siap untuk festival utama besok. Beberapa murid berlalu lalang di depan Yuuki dan Sena.
"O, iya.. bukannya setiap kelas wajib menyumbangkan kegiatan festival? Kelas kita membuat dan merencanakan apa?" tanya Yuuki.
"Maunya sih sebuah cafe. Tapi, wali kelas tidak mau. Jadi, kelas kita setuju membuat sebuah drama." Jawab Sena.
"eekh!? Kenapa tidak mau cafe?"
"alasan yang kudengar, demi keamanan siswa. Tahukan, wali kelas kita ini tipe over protektif. Apalagi, kita tidak tahu berhasil atau tidak kita membuat makanan."
"Hee... sayang sekali. Yuuki dukung lho.."
"Iya, kamu sih maunya makanan saja.."
"Terus, drama apa?"
"Eum.. aku gak tahu ya. Yang tahu adalah beberapa siswa yang dipilih."
"Eh? Beberapa? Sedikit sekali?"
"Iya sih.. dengar-dengar, kelas kita bekerja sama dengan kelas lain. Tapi, aku gak tahu kelas mana.."
"ke kelas yuk?"
"Boleh. Tapi, buat apa?"
"Yuuki mau mampir aja."
"Ya.. sudahlah."
Sena berdiri lalu membuang sisa makanannya. Sedangkan Yuuki mengapit makanannya dengan kedua tangannya. Masih banyak. Mungkin sekitar 4-5 makanan. Diikuti Yuuki di belakangnya, mereka berjalan santai menuju kelas.
"Drama, ya... Yuuki ingin memainkan sebuah drama juga..."
"Benarkah? Aku malah memikirkan sebaliknya.."
"Iya. Yuuki ingin menjadi tokoh utama sebuah drama... um.. parodi, kayak parodi gitu."
"Parodi, yah... tokoh seperti apa?"
"Entahlah, Yuuki ingin jadi tokoh utama pokoknya."
"Heum... menurutku tokoh yang cocok untuk Yuuki ... mungkin..."
"detektif~"
"Jangan, kamu ceroboh."
"Chef~"
"Menyalakan kompor saja tidak bisa."
"Ksatria~"
"Memegang pisau saja tidak mau."
"Putri?"
"memakai sepatu kaca saja tidak bisa."
"Guru~!"
"Lihat nilai mu selama ini.."
"murid."
"Itu lebih baik."
Yuuki menggembungkan pipinya. Sena tertawa kecil. Mereka berjalan menyusuri koridor gedung siswa. Memang, gedung siswa lebih ramai. Beberapa siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan area koridor juga digunakan untuk kegiatan mereka dimana membuat Yuuki dan Sena harus memutar , mereka memotong melewati beberapa kelas.
Class I-C
"sungguh perjalanan yang panjang..." keluh Sena sambil mengelap keringatnya.
"Iya. Tapi, di kelas kosong." Tukas Yuuki sambil menunjuk keadaan kelas yang sepi.
Hening.
Sena tengah di dalam auranya sendiri.
"Kalau gitu.. mereka dimana, ya?" tanya Yuuki.
"Tidak...tahu..."
"apa mereka sedang bermain?"
"Mungkin..."
"Cari ke kelas lain yuk?"
"Tidak, capek."
"Ayolah, Yuuki ingin tahu.."
"Kamu sendiri saja. Aku lelah."
"Ya sudah, Yuuki duluan ya?" kata Yuuki sembari keluar kelas meninggalkan Sena yang bisa dikatakan sedang Bad Mood.
.
Yuuki POV
Dimana ya... kelas I-D membuat cafe. Beberapa klub juga meminjam kelas yang kosong untuk kegiatan mereka. Yuuki tidak yakin mereka ada di gedung siswa. Apalagi, Yuuki disini hanya menganggu kegiatan orang lain. Apa Yuuki sebaiknya pergi saja?
Baru saja Yuuki berbalik arah. Tepat di hadapan Yuuki adalah dua siswa yang kukenal.
"Ah, Yu-chan~" sapa Reo.
Yuuki membalas dengan senyuman, "Reo-san." Yuuki menatap pemuda di sebelahnya. Akashi Seijurou, seperti biasa dia menatap Yuuki dengan tajam. Apa Yuuki punya salah? Apa memang matanya seperti itu?
"Apa?" tanya Akashi. Yuuki menggeleng kepala. Jujur, Yuuki juga kesusahan menghadapi siswa yang satu ini.
"Yu-chan, mau kemana?"
"Eum.. sebenarnya Yuuki berpikir untuk keluar gedung saja. Disini, Yuuki hanya menganggu kegiatan siswa lain."
"tapi, buat apa ke gedung siswa?" tanya Reo.
"Kelas Yuuki akan mengadakan sebuah drama yang bekerja sama dengan kelas lain. Yuuki ingin tahu itu saja."
"Oh... Ehh? Jadi kelas mu yang mengadakan drama kolaborasi itu?" tanya Reo. Jujur, menurut Yuuki, Reo-san juga tipe yang aneh. Yuuki tidak mengerti maksudnya.
"Ha?"
"Begini, ada dua kelas yang setuju mengadakan drama kolaborasi. Diantaranya I-A, I-C, dan I-E. Bicara tentang mereka, semua ada di kelas kami. Mau ikut? Kebetulan kami kesana juga." Kata Reo. Yuuki mengangguk. Yuuki sedikit gemerasan, Akashi-san dari tadi menatap Yuuki terus. Apa yang sedang dipikirkannya?
.
Out Of POV
"dimana kostum utamanya!?"
"berikan laporan itu padaku, cepat!"
"dekorasi ini tidak natural, coba yang lain!"
"ini begini, ini begitu... ah, salah."
"gawat, robek!"
"Yang benar saja, dekorasinya kurang?"
"mana tim bagian lampu?"
Dan bla bla lainnya. Intinya, disana mereka sibuk. Yuuki hanya terdiam kaku. Reo tersenyum garing. Akashi hanya diam menikmati pemandangan ramai disana.
"Ramai sekali..."gumam Yuuki.
"Iya, Yu-chan~ kalau mau lihat-lihat boleh. Tapi, jangan menganggu ya?" kata Reo. Yuuki mengangguk pelan.
Setelah kedua siswa itu pergi. Yuuki memutuskan untuk melihat saja. Ingat, melihat saja. Tapi, melihat bagi seorang Amano adalah hal yang bisa melengseng. Kemana saja boleh, contohnya yang satu ini. Padahal Yuuki hanya melihat, tapi kenapa sekarang dia mendapati dirinya tengah membawa kostum?
Tok Tok. Yuuki mengetuk pintu dengan pelan. Seseorang di dalamnya mempersilahkan Yuuki masuk. Begitu masuk, Yuuki mendapati seorang siswa berambut blonde disana. Ia tengah tersenyum dengan make-up di wajahnya.
"Oh, sudah datang ya?" kata pemuda itu.
"Ah, ee ini kostumnya... um..." Yuuki melirik siswa blonde itu.
"Ah, namaku Kise Ryota. Kelas kenal-ssu~!" kata kise sambil tersenyum polos.
Yuuki menaruh kostum itu di atas meja."namaku Yuuki Amano, kelas I-C. Salam kenal juga, Kise-san." Balas Yuuki. "Etto,... Kise-san punya peran apa di drama ini?"
"Aku? Pangeran-ssu~!" jawabnya.
"Benarkah? Yuuki pikir cocok untu Kise-san. Yuuki ingin melihat drama ini berlangsung!" balas Yuuki.
Kise tertawa kecil."Yuukicchi lucu sekali~!" serunya. Kise langsung memeluk erat Yuuki."Kalau Yuukicchi punya peran apa?"
"Eum, Yuuki tidak ikut dalam drama ini. Sekedar membantu saja." Jawab Yuuki.
Kise sedikit mengeluh dalam hatinya. "Sayang sekali.. "
Hening sejenak karena Kise tengah berpikir sesuatu.
"Ka-kalau begitu.. Yuuki per—" tangan Yuuki langsung digenggam Kise lalu berlari keluar ruangan. Yuuki sendiri hanya mengikuti Kise, tangannya digenggam dengan erat sih. Dan apalah daya mereka menuju sebuah ruangan.
BRAK
Pintu didobrak cukup keras oleh Kise. Semua yang didalam ruangan itu menatap kedua murid tersebut.
"Aku menawarkan Yuuki Amano dari kelas I-C untuk mengambil peran utamanya!" seru Kise. Yuuki menatap tiap siswa disana. Crap! Ada Reo dan Akashi!
Reo memukul wajahnya sendiri. Beberapa siswa mengangguk saja. Ketua kelas Yuuki hanya melongo tidak percaya. Kise tersenyum dengan percaya diri. Yuuki panik sendiri. Akashi? setelah mendengar proklamsi Kise, ia menatap Yuuki dengan pandangan intimidasi.
"K-kok ... begini sih !?"
.
.
Akashi POV
Hari ini aku lelah. Mengurus anak kecil seperti dia benar-benar melelahkan. Butuh kesabaran yang banyak. Yeah, walaupun pelampiasan kepada Reo cukup memuaskan. Begitu sadar, Reo sudah tergeletak dengan mulut berbusa. Aku menamparnya, lalu mengajaknya untuk jalan-jalan di festival.
Selama di festival, sekilas aku melihat Yuuki dan ... siapa? Oh, Sena. Tapi, aura di samping Yuuki sepertinya sedang buruk saat melihatku. Maka, aku dan Reo memutuskan untuk pergi ke arah yang berlawanan.
Parahnya, aku ingat dengan rencana drama untuk besok. Lekas, aku menarik Reo lalu pergi ke gedung siswa. Lebih parah lagi, aku bertemu dengan Yuuki lagi. pertanyaan di benakku ini mengatakan, sebenarnya ada berapa Yuuki? Kutatap dia dengan tajam. Begitu sadar dia menatapku dengan pandangan aneh, aku berdecih lagi. anak itu pasti menganggap diriku aneh.
Bodohnya, Reo mengajak Yuuki ke aula. Lekas kami tinggalkan dia disana. Belum sepuluh menit rapat berlangsung. Mendadak pintu di ruangan di dobrak dengan keras. Seorang siswa berambut Blonde yang telah lama kukenal masuk sambil membawa seorang gadis berambut pendek yang kukenal juga. Tiba-tiba lagi, si Blonde itu menyentak untuk memberi peran pada gadis berambut pendek itu. rapat ini pun menjadi berantakan. Aku mengerutkan dahi saat peran yang diberikan untuk gadis itu adalah, Sleeping Beauty.
.
.
Akashi-TBC!
.
Minna-san, gomene ... shin sudah berusaha buat update kilat.. tapi, shin tahu Minna-san mengeri yang namanya halangan. ini chapter maunya shin potong. tapi, ga jadi buat bonus reader aja~ thanks to::
Adorable's Review'er: ScarletBlood04, Sakamaki Ama-chan, lucyheart, Amelo, (A-chan), Hoshi Uzuki, Misamime~
Adorable's favor'er: (A-chan), NandaRuki, ScarletBlood04, lucyheart, psychoarea, Hoshi Uzuki, Misamime~
Adorable's follow'er: (A-chan), NandaRuki, Sakamaki Ama-chan, ScarletBlood04, lucyheart, psychoarea, Misamime~
Adorable's reader: PM'er, dan Silent reader lainnya~
Onto next chapter~!
