Yosh, shin ngupdate chapter ini~! Shin berjuang banget lho.. berjalan diatas tanah berduri(?), berkali-kali terjerembab akibat sinar X(buku pelajaran), dikekang dalam sarang semi-abadi dan jauh dari dunia luar(laptop), dewa-dewi yunani kuno membacakan kalimat dewatanya(pelajaran). Maaf, memakai majas hiperbola. Anyway, Enjoy Reading~...

.

Disclaimer: I dont own KnB (Fujimaki Tadatoshi)

Genre: Fantasy, Supernatural, School-life

Rated: K+/T

Pair: Akashi/OC

.

.

Adorable Story from Gakuen

.

Story 06: How Look I am

"Sungguh, Yuuki tidak tahu apa-apa~..." isak Yuuki dengan mode paniknya. Jari-jarinya mengepal. Wajahnya setengah berkeringat setengah bingung dan perasaan campur aduk lainnya. Seakan ingin meminta sesuatu dengan paksa. Kedua pemuda dan satu gadis di depannya. Tengah memandang Yuuki dengan tatapan aneka jenis. Mulai dari panik, iba, dan marah.

"Tapi, Yu-chan... sudah terlambat, namamu sudah dimasukkan... "keluh Reo. Momoi menepuk pundak Yuuki sebagai tanda untuk berdiri. Yuuki menggeleng kepalanya.

"Yuuki-chan... " kata Momoi. Ia membelai dahi Yuuki dengan lembut. Yuuki menatap kedua rekannya, lalu berlanjut menatap pemuda satunya lagi.

Pemuda yang ditatap Yuuki hanya mengalihkan pandangan. Rautnya tidak terbaca, tapi bisa dipahami dia sedang bad-mood.

"Akashi-san... "keluh Yuuki.

Akashi cepat-cepat merapikan dokumennya lalu melangkah pergi. Melangkah meninggalkan bidaknya. Reo berlari mengejarnya, Momoi hanya berdecak karena kelakuan Akashi yang jahat. Yuuki menatap marmer-marmer lantai itu. tahu hanya satu jawabannya, memainkan peran dengan baik.

"Yuuki-chan, aku akan memanggil Ki-chan oke? Nanti aku kabari.." Momoi akhirnya meninggalkan ruangan itu. Yuuki berdiri dengan beban dipunggungnya.

Kali ini, Yuuki mendapati dirinya sedang duduk manis dengan tatapan kosong di bangku taman. Tangannya memegang sebuah naskah tentang perannya. Memainkan yang terbaik? Omong kosong. Yuuki bahkan belum latihan sama sekali. Pikirannya kacau, dia tidak bisa kembali ke asrama dengan santai lalu membagi beban ini dengan Sena. Akhir kata, Yuuki yang malang..

DREK. Seseorang duduk di samping Yuuki. Ia berdehem sejenak, berusaha mendapat perhatian Yuuki. Namun, tetap saja. Yuuki masih berlabuh buruk pada naskah itu.

"Lihat, wajahmu kusut seperti benang yang disampul tidak karuan." Sindir orang itu. Yuuki mengerutkan dahinya. Tetap tidak direspon. Orang itu berkata lagi,"walaupun kamu melihat naskah itu berkali-kali, nihil hasilnya. Cobalah untuk berlatih.."

Yuuki menoleh dengan wajah sebal, namun mendadak hilang setelah melihat wajah siswa disampingnya. Terasa secercah kelegaan.

"Akashi-san!" seru Yuuki. "Yuuki pikir kamu pergi begitu saja..."

"... mulailah berlatih... aku sudah meminta Satsuki untuk membantumu saat drama di panggung nanti." Kata Akashi. Ralat, bukan meminta... kau tahulah...

Yuuki tersenyum tipis."Oh, apakah wajah Yuuki masih kusut?"

Akashi menggeleng kepalanya.

"Bagaimana wajah Yuuki sekarang?"

Tidak ada respon. Bahkan gerakan wajahpun tidak.

Yuuki mengalih pertanyaannya. "jujur saja, Yuuki tidak bisa menghadapinya tanpa Akashi-san..."

Akashi tersedak. Dia memukul dadanya dengan pelan. "Be-begitu... baguslah."

"Yuuki minta, Akashi-san menemani Yuuki bermain drama ya?"

"Boleh." Akashi berdiri lalu mengambil naskah dari tangan Yuuki. Diikuti oleh Yuuki. Saat itu juga mereka memainkan latihan drama.

Suasana saat itu sepi. Langit berwarna oranye dan menampakan detik-detik terakhir matahari untuk bersinar pada jam itu. begitu sepi hingga rasanya hanya terdengar suara drama mereka. Menyongsong gedung-gedung yang kosong. Sekilas angin menerpa taman saat itu. menerbangkan beberapa kelopak sakura yang terlepas lalu terdampar di sela rambut Yuuki.

"Ah... sakura.."

Tangan Akashi meraba rambut Yuuki lalu mengambil sakura itu. membuat jarak mereka tidak lebih dari tiga puluh centi. Yuuki menatapnya dengan tatapan lebar. Akashi menoleh padanya.

"Ada apa?" tanya Akashi.

Hening sejenak.

"Ba-Bau daging panggang!" seru Yuuki. Sweatdrop deh..

"hm?"

"Akashi-san baru beli daging panggang yang dijual di stand nomor dua puluh itu ya?" tanya balik Yuuki. Akashi mengangguk. "Enaknya... waktu Yuuki mau beli, antriannya panjang sekali. Yuuki gak tega membuat Sena harus menunggu Yuuki.."

"Kamu lapar?" tanya Akashi sebelum cerita panjang Yuuki dimulai.

"Eum.. iya, Yuuki lapar. Kembali ke asrama saja."

"Tidak usah, akan kucarikan suatu makanan. Kamu tetaplah disini, latihan yang benar."

"He? Nggak usah, Akashi-san. Aku bi—" Yuuki berdiri dari bangkunya.

"ini perintah...?"

"Mutlak..." Yuuki pun kembali duduk. Memandang Akashi pergi menghilang dari pandangannya.

Suasana lebih sepi. Karena, dari tadi Yuuki hanya memandang naskah dengan tatapan kosong. Sekali-sekali dia bergumam. Lalu bergerak sesuai teks pada naskah itu. sejenak, dia menoleh ke sekitarnya. Namun, apa atau siapa yang dicarinya tetap tidak menunjukan batang hidungnya. Akhirnya, Yuuki duduk dengan kesal.

"Yuukicchi~!"

Yuuki menoleh ke sumber suara. Dia mendapati seorang pemuda berambut kuning yang tengah melambaikan tangan padanya.

"Ah... Kise-san.." kata Yuuki.

"sedang apa-ssu?"

"Latihan dengan naskah.."

"Timing yang bagus, latihan sama aku ya-ssu." Kata Kise. Yuuki mengangguk pelan.

Sore itu terisi dengan nada drama mereka. Menyongsong lingkungan sekitar yang sepi tadinya. Terdengar dramatis, disela dengan tawa kecil, obrolan kecil. Ironis sekali, pemuda heterokrom hanya menatap dari kejauhan sambil membawa dua nampan plastik dengan daging panggang lezat dan masih hangat.

.

"Oke, latihannya cukup. Yuukicchi hebat, bisa menguasai semuanya dalam sehari." Puji Kise. Yuuki tersenyum saja. Ia segera kembali ke bangkunya, tempat dia dan Akashi berlatih. Dirinya mendapati sebuah nampan plastik dengan daging panggang yang lezat diatasnya.

Yuuki terdiam sejenak. "Huee, lapar~ pas sekali, ada daging panggang. Dua lagi. aku ambil satu-ssu!" Kise segera menyambar satu nampan lalu memakannya dengan lahap.

Yuuki menoleh ke sekitarnya. "Akashi-san..." gumamnya.

"setelah makan, kuantar ke asrama ya?" kata Kise menawarkan. Yuuki mengangguk pelan. Dilahapnya daging itu dengan pelan. Rasanya enak, terasa rasa mentega yang mencair saat masuk kemulut. Manis dan asin. Saat kau mencoba dagingnya, begitu empuk saat dikunyah. Rasa manis pada kecap juga tidak kalah enak. Manis.

.

Sena menimpuk dirinya dengan bantal. Tidak percaya dengan kejadian tadi. Baru saja Yuuki ditinggal, sudah menjadi kejadian dashyat seperti ini. Sena menepuk pundak Yuuki, menanyakan apa Yuuki sudah berlatih dengan benar. Yuuki mengangguk. Lalu, dia meminta Sena sebagai teman latihan lagi. Sena menerima permintaan itu, semalaman mereka berdua latihan. Dengan waktu yang tersisa, enam jam.

Terkadang Sena tidak basa-basi mengomentari Yuuki.

"Nadamu terlalu kaku!"

"jangan gagap!"

"berjalanlah seperti seorang putri.."

"saat adegan tidur, jangan banyak gerak."

Jam menunjukan angka dua belas. Tengah malam rupanya. Lampu kamar dimatikan. Sena menyuruh Yuuki untuk segera tidur. Satu-dua jam, Yuuki membuka matanya pelan. Diliriknya, Sena telah tertidur pulas. Tangan Yuuki meraba laci meja, mengambil naskah dan senter kecil. Dalam cahaya kecil, Yuuki berlatih sendiri. Tanpa suara, namun ber-sync. Sena terkekeh kecil, menjamin kekehannya tidak terdengar Yuuki. Ia tahu, Yuuki pasti melakukannya.

Yuuki menaruh naskah itu kembali ke tempatnya. Laci meja. Senter kecil itu ditempatkan tidak jauh dari naskahnya. Ditariknya selimut Yuuki. Menutupi hingga batas leher.

"...How Look I am?..."

.

"All stand by!"

"lampu panggung sudah oke.."

"Bawakan ini!"

"Aku penasaran, bagaimana ceritanya..". "Uwa, didalam sibuk sekali". "semua bangku nyaris penuh!". "hei, ayo duduk disini. Lima menit lagi dimulai". Was wes ...

Di ruangan istirahat. Terdapat beberapa pemain yang tengah bersiap untuk drama mereka. Terkadang para panitia drama keluar-masuk untuk peran dibelakang panggung mereka.

Sena sibuk mendadani Yuuki. Wajahnya dipoles natural. Nampak rona merah namun samar di pipi Yuuki. Bedak tipis, dan polesan tipis pada bibirnya. Awalnya Sena tidak perlu bantuan orang lain untuk mendadani Yuuki. Namun, akhirnya Sena dibantu Momoi dalam hal pakaian. Gaun.

Gaun itu sepanjang hingga mencapai ujung tumit. Bagian kerahnya terdapat pita. Lengannya panjang yang melebar. Terdapat garis diafragma yang menambah bentuknya. Warnanya kontras saat dipakai Yuuki. Berwarna biru langit malam hari. Terdapat gemerlapan pada bagian bawahnya. Yuuki berputar sejenak. Lalu bergerak mencoba gerakan lain. Setelah terasa nyaman untuk dipakai. Sena memberi pita kuning pada kepalanya. Momoi segera pergi dari ruangan karena panggilan mendadak. Reo datang sebentar lalu memberi sebotol minuman untuk Yuuki. Tak lupa, ia memberi perlengkapan lain pesanan Sena. Lalu, ia pergi kembali. Beberapa teman sekelas datang juga, mengucapkan kaliman dukungan, lalu pergi kembali. Sena merapikan perlengkapan itu. Sambil menunggu, Yuuki bersenandung kecil.

Pintu ruangan terbuka. Semua mata memandang pelosok ruangan.

"Pemeran utama, bersiap-siap di panggung."

Jantung Yuuki mencelos. Namun, wajahnya tetap mengontrol diri. Ia bergumam sejenak pada Sena,"doakan Yuuki."

"Oke"

.

.


Sleeping Beauty

Padang rumput yang luas. Bunga-bunga yang bermekaran tersebar diseluruh pelosoknya. Pepohonan mengelilingi padang rumput berbunga itu. merah, kuning, hijau, dan berbagai macam bunga lainnya. Hamparan hijau yang berwarna-warni.

Mulai terdengar senandung kecil seorang gadis. ia memakai kerudung merah. Gaunnya mengembang kecil. Sepatunya berhias pita kecil. Sederhana namun terlihat indah di hamparan rumput berbunga itu.

"Baiklah, sepertinya bunga-bunga ini cukup untuk kujual nanti." Gadis itu berdiri. Ia mengambil keranjang bunga tersebut dengan hati-hati. Ia mulai melangkah pelan sambil menikmati hembusan angin yang damai.

Pohon demi pohon dilalui. Melewati jalan setapak. Menyebrang jembatan pendek. Lalu memasuki sebuah desa.

Gadis itu mengunjungi kerumunan warga desa. Ia terlihat penasaran. Sesekali dirinya menoleh ke arah gadis-gadis yang tersenyum gembira.

"Sudah dengar? Nanti malam. Akan diadakan sebuah pesta."

"Iya, aku sudah tidak sabar lagi~"

"setelah ini, aku mau berdandan habis-habisan!"

Obrolan demi obrolan konyol segera dialihkan dengan secarik kertas di tangan gadis itu. ia menatap dan membaca isi kertas tersebut. Sekilas, dia tersenyum kecil. Namun, dirinya sadar. "Aku tidak punya gaun..."

Ia memandang lesu sambil berjalan. Menatap tawa gadis-gadis desa disana. Menatap gaun yang nyaris habis terjual. Menatap seorang gadis sibuk menata gaunnya. Menatap senyuman mereka bak semerbak bunga. Ia memandang keranjangnya. Penuh dengan bunga, namun hatinya tidak kunjung berbunga.

Sesampainya di rumah kecilnya. Ia menaruh keranjang bunga tersebut. Lalu duduk di dekat perapian.

"Mungkin, aku bisa membuat gaunku sendiri.." gadis itu menatap gumpalan kain di salah satu sudut ruangan. Ia meraihnya dan membeberkan diatas meja. Kain itu cukup panjang dan lebar.

Matanya nampak yakin, bahwa dirinya bisa membuat gaun dalam satu malam. Ia membuka lemarinya. Terdapat lima baju sederhana. Diambilnya sebuah baju biru. Gadis itu membuka isi laci. Diambilnya jarum, benang, gunting, dan meteran. Ia mengukur tingginya di dinding dengan bantuan meteran. Lalu, ia menulis ukurannya di kertas. Menggambar desain. Memotong kain, menambahkan di pakaian tersebut. Menjahit agar rapi. Dengan cekatan, dalam satu malam sudah selesai. Ia menaruh gaun sederhana itu di kursi. Lalu membereskan peralatannya.

"Heum.. bunga ini.. mungkin bisa menjadi aksesoris." Gadis itu membuat rangkain bunga menjadi gelang kecil dan bros. Ia menghela napas lega, semua usahanya tidak sia-sia. Kali ini, dia bisa pergi ke pesta.

Matanya mulai mengantuk. Besok pesta akan dimulai, ia berjalan lunglai menuju ranjangnya. Namun, ceroboh dapat berakibat fatal. Tidak sengaja, tangannya menyenggol lilin di atas laci. Lilin yang menyala itu tersenggol lalu jatuh menimpa gaun di kursi sebelahnya. Gaun itu terbakar kecil, membuat hangus bagian yang tertimpa. Kali ini, gaun itu tidak bisa dipakai. Gadis itu mengangkat gaunnya yang nyaris hangus. Ia menangis.

"Pada akhirnya, aku tidak bisa ikut... lagi.." keluhnya. Semalaman setelah itu, dirinya menangis di sudut ruangan. Teringat semua beban yang menjadi tekanan dirinya.

Masih kecil, namun sudah ditinggal kedua orang tuanya. Sejak kecil, bekerja keras untuk menghidupi dirinya. Ia tidak punya teman, karena sibuk. Ia tidak punya sanak saudara, karena dia tidak tahu. Dia tidak tahu suara ibu dan ayahnya. Dirinya sangat sebatang kara. Hasil kerjanya cukup untuk makan saja. Pernah dia bekerja keras untuk membeli pakaian, dan tidak makan selama satu bulan. Makanan seharinya juga sebatas bubur. Sekarang dia sudah remaja, lebih baik daripada dulu. Namun, tetap saja. Mulai banyak keinginan dalam dirinya.

.

"Apa kau ingin pergi ke pesta itu, gadis kecil?" tanya seseorang yang tidak jauh di samping gadis itu.

Gadis itu mengangguk. Ia bisa melihat seorang nenek berjubah sambil meringis padanya. "siapa kau?"

"Sungguh, pertanyaan yang bagus. Saya penyihir, gadis kecil."

Gadis itu segera melepas peluh tangisannnya. "penyihir?"

"Iya, penyihir. Saya bisa mengabulkan satu permintaanmu. Namun, permintaan itu terbatas."

"Benarkah?" penyihir itu mengangguk. "Aku.. ingin sekali pergi ke pesta itu.. namun, aku tidak punya gaun. Apalagi, jarak dari sini ke istana sangat jauh. Uangku tidak cukup untuk naik kereta kuda... apalagi biaya pulang-pergi nya... "

"Ooh.. gadis yang malang. Tapi, tenang saja. Saya bisa membantu nona. Melihat nona, sudah pasti beban akan tekanan nona yang , hanya dengan satu syarat.."

"Apa itu?"

"nona, harus segera kembali ke sini pada jam tengah malam. Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi..."

"jadi.. sebelum tengah malam. Aku harus segera pulang?" penyihir itu mengangguk pelan.

Diayunkannya tangan kurus penyihir itu. seperti ranting pohon. Dalam sekejap, gaun gadis itu kembali seperti semula. Bahkan lebih baik lagi, tidak kotor. Diluar tampak bercahaya, begitu dibuka pintu rumah tersebut. Gadis itu hanya melongo saja, tidak percaya telah siap sebuah kereta kuda beserta alih-alih lainnya.

Ia menoleh ke belakang. Gadis itu ingin mengucapkan terimakasih pada penyihir itu. tapi. Penyihir itu sudah tidak ada. Hilang diantara jarak ruangan yang sempit.

Gadis itu meringis. Ia segera naik kereta kuda itu lalu berangkat menuju lokasi. Menuju tempat yang gemerlapan dan luas. Menuju tempat yang ramai. Menuju tempat yang dipenuhi kesenangan saja.

.

"Oh...Pangeran. saya yakin diantara gadis-gadis ini, pasti ada yang anda sukai.." keluh seorang penasihat berjanggut pita. Pangeran yang disebutkan itu hanya menghela napas saja. Rambut kuning keemasannya lebih mencolok daripada mahkota yang dikenakan. Ia hanya memandang gadis-gadis di pesta saat itu.

"Tidak ada... mereka semua disini hanya jual diri semata saat ini mereka berkilauan di dunia mereka sendiri. Menjijikan." Katanya. Penasihat itu akhirnya tidak mampu bicara lagi, ia hanya berdiri disana mematung sambil melihat gerombolan gadis-gadis di pesta tersebut.

Pangeran itu segera keluar dari aula pesta. Ia seorang diri sedang berjalan di redupnya koridor tersebut.

"Apakah gerangan yang membuat anda begitu lesu, Pangeran?"

Pangeran itu menoleh ke sumber suara. Didapatnya seorang penyihir yang tengah bersandar sambil meneguk segelas anggur segar.

"Sesuatu.. " jawab pangeran itu.

"Benarkah? Ceritakan pada saya, pangeran. Saya penyihir, saya bisa membantu. Tapi, untuk ke depan dan usaha tergantung Pangeran."

"Baiklah, aku hanya cerita. Namun, aku tidak butuh bantuan penyihir. Pesta ini ditujukan untuk menemukan pasanganku. Diriku yang telah mencapai umur sekian ini, sudah sepantasnya mendapat seorang calon ratu dan menggantikan posisi ayahanda.. namun, sepertinya akan gagal.."

"Oh, Pangeran... saya turut berduka... namun, adakah gerangan tipe gadis yang anda inginkan?"

"Dia..." Sang pangeran bersandar di dinding disamping jendela. Matanya melihat kerumunan orang-orang disana. Mata mereka berbinar-binar seakan melihat sesuatu yang indah. Dirinya menatap sumber tersebut. Seorang gadis. ya, gadis...

"Jadi, tipe sepertinya gerangannyakah?"

Pangeran itu mengangguk. Sang penyihir menatap gadis tersebut. Dirinya termenung, berpikir dan mengingat-ingat. Gadis itu adalah gadis yang ia tolong..

"Pangeran, apakah Pangeran mencintainya untuk selamanya?"

Sang Pangeran mengangguk mantap. "Iya."

"Pangeran, cintamu itu—"

"Tidak ada alasan lain, aku menyukai dirinya ... apa adanya."

Penyihir itu tersenyum. Lalu menghilang dibalik kegelapan.

.

"Hei lihat disana..."

"Cantiknya..."

"Manis..."

Dan berbagai macam lontaran orang-orang pada gadis itu.

Gaunnya berkibar indah, dirinya nampak so-shining-everywhere disana. Rambutnya bergelombang bawah, terurai, dan terdapat petal white-rose pada sisi kanannya. Gadis itu melangkah, memasuki gerbang aula dengan anggun. Semua yang ada disana menatapnya dengan pandangan –wow-

Gadis itu celingukan sejenak. Ia bersandar di salah satu dinding. Memisahkan diri dari keramaian. Seorang pelayan datang untuk menawarkan segelas anggur, namun ditolak dengan halus. Beberapa menit kemudian, seorang pemuda di pesta itu mendatanginya untuk berdansa, namun ditolak dengan halus. Kali ini, seorang gadis mengajaknya pergi keluar untuk menikmati indahnya malam, namun ditolak dengan halus juga.

"Tidak ada yang kukenal disini... begitu asing... sungguh kesepian... " gumam gadis itu. ia mendekapkan dirinya lagi. "beginilah rasanya... aku senang bisa ikut pesta... namun, ada keganjalan di sini... "

"Nona.." panggil seorang pemuda yang tak jauh di dekatnya.

Gadis itu tidak menoleh namun menolak. "maaf, saya benar-benar tidak bisa.. "

Pemuda itu tersenyum kecil. "Nona, sungguh tidak sopan menyanggah seseorang yang belum selesai bicara."

Gadis itu menatapnya. "Maafkan saya... "

"Nona ingin berdansa?"

"bukankah saya katakan, saya tidak bisa.."

"anggaplah sebagai imbasan tadi."

"Hu-uh... baiklah, tapi satu lagu saja.". Pemuda itu mengangguk mantap, digenggamnya tangan kecil sang gadis itu. mereka mulai berdansa.

Dancing in this Night

Touch the astral floor, sweep there and this

The glass wall were everywhere

The light from the moon only

Shine through our movement

Dancing in this Endless-Night

DHEG

Jantung gadis itu berdetak cukup kencang. Badannya tergidik sejenak. Pandangannya terlihat rabun. Namun, gadis itu menyempat untuk melihat waktu. 00.00.

"Oh, tuhan..." gadis itu melepaskan dansanya dengan sang pangeran. Ia berlari keluar istana.

"Tunggu, Nona.. Anda mau kemana?" tanya sang pangeran namun tidak direspon. Akhirnya, sang pangeran ikut mengejar gadis itu.

Dentuman jantung gadis itu makin kuat. Rasanya begitu perih. Gadis itu mencoba menahannya sambil berlari. Namun, takdir berkata lain. Gadis itu mulai terjatuh lemas. Kesadarannya mulai hilang. Dilihatnya langit malam. Penuh bintang, namun bulan tertutupi.

"Nasib... berkata ... lain..." gumamnya.

Begitu sang Pangeran datang. Ia sudah mendapati gadis itu dalam pakaian lusuhnya tergeletak lemas.

.

.

What will you do, after the storm?

After you knew the truth?

Will you threw away your past and future?

Or act another?

Gadis itu membuka matanya dengan pelan. Yang dilihat pertama kalinya adalah wajah buram seorang pemuda. Begitu matanya terbuka cukup lebar. Ia mengerti siapa yang berada di sampingnya. Tidak lain adalah sang Pangeran sendiri. Wajah gadis itu nyaris ketakutan. hal pertama yang muncul adalah, aku telah membohongi... baik diriku maupun dirinya....

Gadis itu mulai membuka suara, namun sang Pangeran memberi isyarat untuk diam sejenak.

"Jangan dulu, beristirahatlah dulu." Kata sang Pangeran sambil merapikan sisi-sisi selimut.

Hening sejenak. Nampak wajah gadis yang menyesal. Akhirnya, sang Pangeran membuka percakapan.

"Tidak apa. aku sudah tahu kok."

Gadis itu menundukkan kepalanya.

"... Memang kau membohongi dirimu... dan diriku... bahkan, kau menyakiti perasaanku.."

Gadis itu menggenggam erat selimutnya.

"..Mungkin kau tengah menyesal atau ... perasaan lain yang berkecamuk..."

Tetesan air mata gadis itu mulai mengalir.

"Karena yang kau sakiti perasaanku adalah saat kau meninggalkan diriku begitu saja.. di pesta itu."

Gadis itu terdiam sejenak. Perlahan ia mengangkat wajahnya. Semburat merah terlihat pada kedua pipinya.

"Pangeran..." gumam gadis itu menatap lekat-lekat pemuda disampingnya.

"Jangan melakukan itu lagi, kau... membuatku jatuh...—" belum sempat sang pangeran melanjutkan kalimatnya.

"Aku juga."kata gadis itu sambil tersenyum.

Wajah mereka saling berdekatan. Jaraknya semakin menipis. Perlahan, dan perlahan—

.

.


BACK TO REAL STORY

BEP BEP BEP. Lampu panggung mendadak mati. semua penonton kecewa. Drama ini masih belum selesai. Para pemeran dan staf lain juga panik.

"Bagaimana ini, mendadak gelap!"

"Hei, dimana staf pengatur tata letak lampu panggung?!"

"Dramanya kacau!"

"Cepat segera perbaiki!"

Sementara itu, dipanggung. Beberapa staf mendatangi mereka.

"Hue.. padahal tinggal dikit lagi-ssu!" keluh Kise.

"Jadi begitulah, kalian diminta segera kembali ke ruang istirahat. Drama dibatalkan..." kata Reo. "Oh iya, Yu-chan.. itu... eum... segera ke penata rias untuk melepas kostumnya. Pasti lelah ya memakai gaun super begitu."

"Iya, Yuuki jadi kesusahan jalan. Kalau gitu, Yuuki ke penata rias dulu." Kata Yuuki.

Melihat kedua orang itu pergi. Reo menghela napas. "Ma-maafkan aku kawan-kawan, ini perintah dari dia sih..." keluhnya. Reo beranjak pergi juga.

.

"Yuu-chan~ "sapa Sena dari luar sambil melambaikan tangannya pad Yuuki.

"Oh, Sena. Maaf membuatmu menunggu. Yuuki dan penata rias kesusahan merapikan rambut Yuuki ehe.." balas Yuuki.

"Syukurlah dramanya berjalan sesuai rencana(?)..." puji Sena.

"eh? Tapi—"

"Ah, maksudku... heum, sayang... Yuu-chan sudah berlatih dengan keras namun dramanya gagal... tapi gak apa.. yang penting punya pengalaman menarik."

"Iya, Yuuki gak sedih. Malah senang punya pengalaman di atas panggung." Kata Yuuki sambil tersenyum.

Mereka berdua tersenyum. Lalu berjalan menuju asrama.

.

.

Akashi POV

Saat ini, aku tengah menyeduh segelas teh yang disuguhkan Reo padaku. Setelah menyeruput sejenak. Kutaruh gelas itu pada tempatnya. Angin semilir berhembus membawa lamunan.

Tadi, apa yang telah kulakukan? Aku melakukan hal yang benar.

"kedua peran saling berpelukan, lalu berciuman... happy end..." gumamku. Aku melirik ke arah panggung. Para pemeran memainkan peran mereka dengan baik. Pikirku, sebaiknya aku juga memainkan peranku.

Aku melihat sekelilingku. Pandangan pertama yang menangkapku dan memang kutangkap adalah Restricted area: Room Lightning. Menarik.

"semua berjalan lancar..." kataku sambil menyeduh kembali teh tersebut.

.

.

Sena: TBC~!

.

Minna, Shin nyempatin update nih~ so sorry, tapi enjoy reading oke? Shin sengaja membuat cerita Sleeping Beauty dengan gaya Beda. Sekali-sekali yang beda itu bagus juga~... (maaf, plot nya bergerak cepat ya?)

View: +600! Arigatou! Tetep baca ya Minna~

Thanks to:

Adorable Favorer's: A-chan~, Hoshi Uzuki, Juvia Hanaka, Kanae Miyuchi, Misamime, NandaRuki, Onica278, RaniRii, ScarletBlood04, Lucyheart, psychoarea~

Adorable Follower's: A-chan~, Hoshi Uzuki, Juvia Hanaka, Kanae Miyuchi, Kumada Chiyu, Misamime, NandaRuki, Onica278, RaniRii, Sakamaki Ama-chan, ScarletBlood04, Psychoarea~

Adorable Review'ers: Onica278, Amelo, ScarletBlood04, Kumada Chiyu, ,, samanthadevy00, Hoshi Uzuki, Misamime, lucyheart, Sakamaki Ama-chan~!

Tunggu, Next Chapternya Oke~?