Chapter 7, up-to-date~! Huwwaa, ini berkat dukungan reader ~ shin berterima kasih sekali ^_^

As always, maaf kalo ada typos dan sejenisnya. View:900+! Arigatou~

Enjoy Reading, Reader's~!

.

.

Disclaimer: I dont own KnB (Fujimaki Tadatoshi)

Genre: Fantasy, Supernatural, School-life

Rated: K+/T

Pair: Akashi/OC

.

.

Adorable Story from Gakuen

.

Daily Last Festival

Fajar menyingsing. Burung-burung kecil berkeciau indah. Aroma pagi ini begitu lembut. Embun-embun pagi terjebak diantara pepohonan. Genangan air memantulkan langit diatasnya. Tirai jendela disisingkan agar nampak pemandangan pagi. Sinar matahari yang lembut mulai masuk.

"...Pagi ini begitu indah. Yuuki bisa mencium aroma pagi yang menyatu dengan bau jasmine tea tidak lupa ditemani bread toast dan Alpina cookies... Kami-sama, Yuuki menikmatinya~" kata Yuuki sambil mengambil hidangan sarapan di depannya. Tepat disebelahnya, Sena tengah mengunyam (ganas?) roti sarapannnya.

"Rekor.. (Nyam,nyam).. kamu sudah melakukan itu tiga hari berturut-turut, gak bosan ya?" gumam Sena. Yuuki menggeleng kepala sambil tersenyum, lalu melahap kembali sarapannya. "Festival hari ini terakhir. Enaknya ngapain?"

Mulut Yuuki penuh, namun dia tetap menjawab."Nyyuki Ngha' au (Yuuki gak tau)"

"Heum... jalan-jalan saja deh. Ntar juga ketemu sesuatu yang menarik.." Sena segera merapikan mejanya lalu lekas berdiri dan pergi. Yuuki tetap duduk sambil melahap makanannya.

.

Fajar menyingsing. Burung-burung kecil berkeciau indah. Aroma pagi ini begitu lembut. Embun-embun pagi terjebak diantara pepohonan. Genangan air memantulkan langit diatasnya. Tirai jendela disisingkan agar nampak pemandangan pagi. Sinar matahari yang lembut mulai masuk.

"... Pagi ini begitu buruk. " kata Akashi dengan nada rata namun cukup bergetar(?).

Reo asyik memakan kripik kentangnya."Masa'?kenapa?mananya yang buruk?" tanya Reo.

"... Tidak, tidak apa." jawab Akashi sambil memalingkan muka.

Reo menatap datar si ketua OSIS surai merah itu."Wah, ini sih memang buruk..." gumamnya dengan nada pelan.

.

Koridor sekolah

"..Tidak lama kemudian, Yuuki mencoba sedikit mendalami waktu drama kemarin. Ter—" Yuuki berhenti melanjutkan ceritanya karena orang yang diajak bercakap berhenti mendadak juga. "Euh? Kenapa Sena?" Yuuki menatap lawan bicaranya. Lalu menatap sesuatu yang ditatap lawan bicaranya. Perlahan, mulutnya terbuka.

-Bagi seorang Amano, bertemu sesuatu yang baru merupakan hal yang tak terlupakan. Tapi bertemu sesuatu yang dikenal namun melakukan hal baru, Itu Konyol—

"HUAHAHAHA!" tawa Sena menggema sepanjang koridor. Yuuki tetap melongo. Apa yang dilihatnya itu cukup ... konyol.

"HAHAHA" Sena masih tertawa. Yuuki tetap melongo.

"Haha..."

"... Etto..."

"Ha?" Sena menunggu reaksi Yuuki.

"...Akashi-kun, sedang apa?" tanya Yuuki.

Sesuatu yang dilihat Yuuki dan Sena adalah...

...

"Oh, jadi begitu. Tak kusangka..." gumam Sena dilanjutkan dengan menyeruput secangkir teh.

"Kata-katamu sinis sekali. Siapapun pasti pernah mengalaminya, kalau gak ya.. aneh." Tukas Reo yang sibuk menata meja.

"Sebenarnya, Yuuk jugai tidak mengira..." Yuuki menatap Akashi perlahan-lahan."Akashi-kun bisa sakit.." lanjutnya. Cukup membuat retak ego si Ketua OSIS yang tengah duduk disana sambil memakai syal dan jaket tebal. Dahinya sedikit merengut, mulutnya tetap tertutup rapat. Nampak jelas rona merah di wajahnya.

"...*sigh*..."

"Ah.. tapi, Yuuki ingin tahu, sakit apa?" tanya Yuuki. Sena bersiap untuk tertawa kembali, Reo dengan wajah garing sengaja tidak menjawab karena tidak mau mati konyol. Sejenak Akashi melirik mereka semua lalu kembali menatap Yuuki.

Akashi menjawab,"panas biasa."

"PHUH—" BUAK. Nyaris saja Sena tertawa, dia sudah dijemput pukulan telak dari Reo. Yuuki tetap menanggapinya dengan baik.

"Benarkah? Syukurlah tidak terlalu parah. Yuuki pikir demam. Hehe, maaf sudah berpikir yang tidak-tidak." Kata Yuuki. Akashi menghargai perngertian Yuuki, begitu juga dengan yang lain. Suasana begitu nyaman setelah Yuuki berkata begitu. Bak semerbak bunga..., begitu pepatahnya.

"Oiya, Yuuki pikir-pikir lagi.. Akashi-kun sakit panas, itu hal Konyol yang Yuuki anggap setelah melihat kepribadian Akashi-kun dengan nalar Yuuki, hehee.." tambah Yuuki.

KRAK. Oke, pecah sudah hubungan diplomatik. Pepatahnya juga masih ada sambungannya. Bak semerbak bunga, Yang diinjak-injak. Tuhan, ada berapa nyawa seorang Amano? Maaf salah pertanyaan... dear god, seorang Amano itu cari mati ya?

Sena hanya memasang senyum garing diikuti Reo. Akashi memandang Yuuki yang sedari tadi tersenyum saja. Ingin rasanya dia memecahkan kepalanya lalu membaca isi pikirannya.

Akashi menundukkan kepalanya."Aku mau istirahat, kosongkan jadwalku hari ini Reo." Katanya sembari berdiri lalu pergi begitu saja. Reo mengangguk lalu segera mengambil kumpulan dokumen, Sena tetap menikmati pemandangan disekitarnya.

Yuuki segera berdiri lalu berkata,"Akashi-kun, cepat sembuh ya? Soalnya, Yuuki berharap kita semua bisa bersama kembali." Diikuti senyuman tulus. Sena tersenyum lembut pada Yuuki begitu juga Reo namun dia tetap menghadap tumpukan dokumen membelakangi TKP. Akashi yang berdiri di ambang pintu hanya mengangguk lalu melambaikan tangan.

...dia tersenyum.

.

.

Kali ini, Yuuki dan Sena menghabiskan waktu menikmati festival terakhir berlangsung. Reo segera kembali bertugas. Menghabiskan waktu, menghabiskan waktu... hingga sore.

"Yuu-chan, aku kembali dulu." Kata Sena sembari pergi menuju asrama. Yuuki mengangguk pelan sambil tersenyum melihat punggung Sena yang menghilang diantara kedua pintu asrama yang menutup.

Yuuki pergi menuju sebuah bangku untuk duduk alias melepas lelah. Ditangan kanannya masih memegang sebungkus roti. "Um, sebentar lagi makan malam.. apa sebaiknya kusimpan saja.." gumam Yuuki. Kedua tangannya masih memegang roti tersebut.

"Sayang dong.." kata seseorang yang mendadak menanggapi Yuuki.

"eh?" Yuuki melihat ke samping alias arah suara tersebut. "Akashi-kun?" lanjutnya. Akashi segera duduk di samping Yuuki lalu mengambil roti tersebut dari tangan Yuuki. Dibukanya bungkusan tersebut lalu dilahap perlahan.

terdengar hanyalah suara Akashi mengunyah. Yuuki tetap melongo.

"Mau sampai kapan kamu melongo begitu?" tanya Akashi sehabis mengunyah rotinya.

"Eh, eum... Akashi-kun seharusnya tengah beristirahat sekarang.. kenapa ada disini?" tanya Yuuki.

"...Aku bosan, itu saja."

"Gak, gak boleh begitu Akashi-kun." Tukas Yuuki membuat Akashi memerhatikannya."Kalau gak istirahat.. Reo, Sena, Yuuki, dan kawan-kawan lainnya akan sedih."

Akashi terdiam sejenak, mulutnya sedikit terbuka. Sebagian hatinya kesal, terkejut dan senang. Kesal karena dirinya dinasehati seorang gadis biasa. Terkejut karena kali pertamanya ada yang berkata begitu dengan berani. Senang karena lawan bicaranya begitu perhatian.

"Oh." Tukas Akashi. hanya itu jawabannya. Yuuki sedikit sweatdrop."Thanks, Yuuki." Lanjutnya. Membuat Yuuki merasa relieved.

"Kalau gitu, Yuuki permisi dulu." Kata Yuuki yang akan beranjak pergi.

Sudah berada diambang pintu, terdengar bunyi jatuh. BRAK. Yuuki segera menghadap kebelakang lalu berlari kecil menuju Akashi berada.

"Akashi-kun, tidak apa? mana yang terluka? Sakit? Pusing?" tanya Yuuki berulang-ulang. Akashi membalasnya sambil merengut.

"Kalau kamu pergi, penyakit ini akan membunuhku."

.

Disinilah Yuuki duduk sekarang. Disamping Akashi-kun yang tengah berbaring.

Latar: Kamar Akashi, pukul 07.34 pm. Suasana: hening, sedikit miris emotion juga.

"Akashi-kun, tadi Reo membuat bubur. Makan ya?" Yuuki menyodorkan semangkuk bubur. Akashi mengalihkan pandangannya. Yuuki hanya tersenyum garing."Akashi-kun, kali ini saja.. dengarkan Yuuki." Lanjut Yuuki diiringi senyuman tulus. Akashi menatapnya lalu membuka mulutnya perlahan, membiarkan Yuuki menyuapinya.

Sehabis makan, Akashi meminum obat sesuai resep. Yuuki pergi ke dapur untuk mencuci piring. Akashi segera kembali tidur. Begitu Yuuki keluar dari dapur, Reo sudah disana sambil mengisyaratkan untuk tetap diam begitu juga berterima kasih pada Yuuki. Sejalan dengan adanya Reo, Yuuki permisi dulu untuk kembali ke asrama. Setelah Reo mengijinkan, Yuuki segera menutup pintu kamar Akashi lalu berjalan keluar.

.

Kamar Yuuki and Sena, 22.10 pm.

Pelan-pelan Yuuki memakai baju tidurnya. Takut membangunkan Sena yang telah tidur terlelap. Sehabis memakai baju tidur, entah kenapa perut Yuuki bersuara.

"Euhm, Yuuki ingat belum makan..." gumamnya bersamaan melihat sesuatu diatas meja. sepiring berisi burger, saat disentuh masih hangat ternyata. Disebelahnya terdapat secangkir susu hangat. Yuuki tersenyum.

Setelah menghabiskan makan malamnya yang telat itu, Yuuki memutuskan membaca buku terlebih dahulu namun karena susu perangsang kantuk, akhirnya Yuuki segera tertidur tidak lama menyentuh kasur.

"Akashi-kun, ini untuk apa?" tanya Yuuki.

"Ini Trans-voice orb, digunakan untuk komunikasi jarak jauh. Sebenarnya juga bisa digunakan mengirim bantuan, namun sekali dikirim orb ini langsung pecah a.k.a musnah." Jawab Akashi.

"Hee, Yuuki mengerti. Praktis sekali~"

"..."

"Ah, tapi kenapa diberikan kepada Yuuki?"

"...alasannya sesuai kegunaannya, agar bisa berkomunikasi bahkan jarak jauh sekalipun."

"oh gitu... Loh, itu bukan alasan yang Yuuki inginkan~~!"

"Memangnya kamu ingin alasan seperti apa?"

"Euhm... misalnya, Akashi-kun ingin kita tetap bersama. Makanya Akashi-kun memberikan orb tersebut pada kita."

"Heum... lumayan."

"Hehe, bolehkan Yuuki berharap dan beranggap begitu."

"Yah, boleh. Tunggu, kita itu siapa?"

"Loh, kok... Reo, Sena, Momoi, Kise dan Yuuki."

"Heum...begitu."

"Oiya, sudah minum obat?"

"Belum"

"Egh, kenapa? Nanti sakitnya tambah parah..."

"Gak usah diminum juga gak apa."

"...Apa boleh buat, besok sehabis jam sekolah Yuuki mau melihat keadaan Akashi-kun."

"Oh, baguslah"

"kalau begitu, Yuuki permisi dulu. Istirahat yang cukup ya?"

.

.

YUUKI'S POV

Kemarin malam, Akashi memberi Yuuki sebuah orb. Warnanya orange berkabut. Lucu sekali. Dengan benda ini, Yuuki bisa berbincang dengan Akashi bahkan jarak jauh sekalipun! Hebat bukan? Benda hebat ini berada di tangan Yuuki, di tangan Yuuki, di tangan Yuuk—

"Yu-chan, ayo cepetan. Nanti jam pertama bisa telat lho." Tukas Sena. Yuuki mengangguk lalu berlari mengejar Sena yang tidak jauh didepan sana.

"Oh, iya. Yuuki melamun lagi.."

Sena terus berjalan sambil membaca novel kesukaannya alias dunia yang tidak Yuuki ketahui. Sambil berjalan menuju sekolah. Yuuki menatap pemandangan biru diatas.. –ah, salah. Kelabu..

"Sena, hari ini mau hujan ya?"

Tidak ada jawaban. Aneh, biasanya Sena langsung menjawab. Saat Yuuki menatap jauh di depan Yuuki. Tidak ada siapa-siapa.

DEG

"Se-Sena...? Sena?" Yuuki mencoba memanggil Sena namun tidak ada jawaban. Begitu Yuuki lihat sekeliling Yuuki. Tidak ada siapapun! Padahal, Yuuki yakin banyak murid-murid berjalan santai menuju sekolah. Kenapa tidak ada semua? Yuuki yakin, gak mungkin Yuuki yang hanya menatap langit sejenak lamanya minta ampun begini.

Kemana?

.

Normal POV

"Oke, singkatnya... tadi saat berangkat kau bersama Yuuki. Lalu, saat ditengah jalan begitu kau menoleh.. dia sudah tidak ada." Ujar Reo.

"Iya! Kenapa kau mengulang kata-kataku!? Itu bukan singkatan !" seru Sena dengan air mata yang mengalir deras. Reo sweatdrop saja. Kabar ini cukup mengejutkan dan rasanya biasa saja tuh. Seorang Amano sih, yeah... Amano. Sena teringat sesuatu lalu memicingkan matanya pada Reo. "Mana ketua brengsek mu itu?"

"Huh? Sei-chan?"

"Iya, siapa lagi?!"

"dia masih terbaring di kamarnya. Sakit. Bukannya tempo hari kau dan Yuuki menjenguknya?"

"Huff, syukurlah. Lha? Yuuki belum ditemukan !" Sena segera menarik lengan Reo lalu berlari keluar ruangan OSIS.

"Lh-lho ..!"

...(And then ^o^)...

.

.

BRAK!

"haah..hah...haaa..." deru napas kedua orang itu nampak terburu-buru.

"oh, kalian... pasangan yang cocok." Akashi memuji mereka. Reo sweatdrop saja.

"Bukan waktunya memuji! Mana Yuuki?! Kembalikan !?" seru Sena sambil mengacak seisi ruangan tersebut.

"Apa maksudmu?" tanya Akashi.

"Jangan banyak ta—"seketika mulut Sena dibungkam oleh Reo.

"Ja-jadi begini..."

...(Story Time o)...

"Oh, aku mengerti.. singkatnya... tadi saat berangkat kau bersama Yuuki. Lalu, saat ditengah jalan begitu kau menoleh.. dia sudah tidak ada." Ujar Akashi.

"itu bukan 'singkatnya', tapi mengulang!" serentak Reo dan Sena. "Lho, aku gak berangkat bersama mereka. Sena cerita ini padaku." Tambah Reo. Gantian Sena yang sewot sendiri.

Akashi mengulum waktu sejenak. Dilihatnya jam tangannya. Lalu tatanan buku di lemarinya. Reo dan Sena antusias menunggu respon dan tindakan dari ketua OSIS ini.

"lima menit lagi ..."

Deg. Apa tindakannya?, batin Reo dan Sena secara bersamaan.

"...Bel masuk." Tambah Akashi.

Crash! KABOOOM!

Entah kenapa Reo bisa mendengar sebuah ledakan di sebelahnya, Sena.

"Apa – apaan kamu! Cemas diki kenap-Uph!" Sena segera ditarik mundur oleh Reo lalu dibawa keluar ruangan.

"Haha, iya ..ya. bel mau masuk.. Ayo masuk~!" kata Reo diiku siulan sambil menggeret Sena.

.

.

PLAK.

"Apaan sih!? Kenapa kalian malah bercanda?!" seru Sena di depan ruang kelasnya. Semua siswa terlihat berkumpul. Menarik karena seorang wakil ketua OSIS sedang di gampar murid biasa. Doki-dokinya, seorang cowok digampar cewek di depan kelas. Gokilnya, seorang siswa berperingkat sepuluh besar digampar murid berperingkat dibawahnya. Wow.

"Tenanglah, akan kujelaskan!" tukas Reo.

"Kapan?! Kamu benar-benar gak punya hati! Aku muak!" seru Sena sambil menutup pintu kelas diikuti hantaman.

.

.

(sementara itu...—v—)

Balik ke Yuuki.

"Sena! Momoi!? Reo!? Akashi!?" seru Yuuki. "Gak ada siapa ... pun... duh, suara Yuuki nyaris habis... uhuk!"

Yuuki berjalan menuju kantin. Meninggalkan uang pas untuk membeli segelas minuman.

"Kenapa tidak ada yang berjualan..." kata Yuuki sambil meneguk segelas air putih.

.

.

"Slurrrpp..." suara orang yang sedang menyeruput makanan atau menoleh ke arah sumber suara. Tepatnya di meja belakang paling pojok sendiri.

"Ada orang !? Yuuki terselamatkan!" seru Yuuki sambil berlari menuju orang tersebut.

Bruk.

"iittaii-Huh...?" pemuda itu menggaruk kepalanya. Tentu aneh melihat seorang gadis yang terpeleset ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya. Bukan aneh sih, tapi sakit.

"ma-maaf, Yuuki gak sengaja.. sungguh.." gusar Yuuki.

"..." Pemuda itu berdiri lalu memberikan tangannya pada Yuuki.

"Oh, makasih."

Setelah kedua orang itu berdiri...

"Syukurlah, ada orang disini..." kata Yuuki sembari duduk di lantai kembali melepas lega.

"Iya, memang ada." Katanya.

Yuuki tersenyum kecil. "Ngomong-ngomong, kita dimana?"

"..." orang itu tidak menjawab sembari berjalan keluar kantin.

"O-oh, tunggu..." Yuuki lekas mengekori orang itu.

Sepanjang koridor yang senyup. Kedua orang itu berjalan santai. Orang itu tetap menyeruput segelas minuman kesukaannya. Mata Yuuki tidak berhenti melihat orang itu. terlalu banyak pertanyaan di benaknya.

"Siapa namamu?" pertanyaan pertama Yuuki.

"..nanti kujawab.." jawaban pertama orang itu.

"Kita mau kemana?" pertanyaan kedua.

"..nanti tahu sendiri.." jawaban kedua.

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor. Menaiki dua arah anak tangga. Lalu membuka sebuah pintu besi.

Terdengar suara angin yang cukup keras untuk memainkan helaian demi helaian rambut dan baju mereka.

"Lantai teratas... rooftop?" gumam Yuuki. Orang itu terlihat menikmati hembusan angin tersebut., lalu dia menghadap Yuuki. Nampak jelas rambut dan matanya berwarna biru muda.

"Namaku Kuroko Tetsuya."

Sejenak Yuuki terlihat bengong tapi didapatinya jiwanya kembali. "O-Oh, Yuuki Amano. Salam kenal, Kuroko-senpai." Balas Yuuki.

"Kita di ...rooftop." kata Kuroko lagi. Yuuki tersenyum kecil.

"Iya, tahu kok. "

"..." Kuroko terdiam lagi.

"Eum.. kita dimana sih?" tanya Yuuki.

"di rooftop." Jawab Kuroko. Yuuki tersenyum lagi.

"Uph, bukan itu maksudku... sebenarnya, Yuuki gak tahu tempat apa ini. Yuuki sama sekali gak melihat murid-murid selain Kuroko-senpai. Apa sejenis dunia lain?"

"..."Kuroko melirik gadis polos tersebut. " bukan sejenis dunia lain. Ini sebuah dunia yang selalu mengikuti dunia mu."

"...Yuuki gak mengerti.. mengikuti? Maksudnya?"

"sebuah bayangan. Shadow World, aku menamainya begitu."

Hening.

.

.

"Yu-chan! Yu-chan!" seru Sena dengan kedua tangannya sibuk mengorek isi semak-semak belukar di tepi jalan. "Kamu dimana?"

"Apa benar kalian lewat jalan ini?" tanya Reo.

"Tentu saja, kami selalu lewat sini!" seru Sena.

"Hei, sudah sore nih... mungkin, dia sudah kembali ke asrama..." kata Momoi.

"Gak, kalau kembali pun seharusnya dia bilang-bilang dulu!" bantah Sena.

"Sena-chan... hari sudah semakin gelap. Besok pagi, kita cari bersama lagi." tambah Momoi sampai menepuk pundak Sena. Reo menghela napas sejenak.

"O-oh, aku baru ingat... mana Sei-chan?"

Hening.

Super hening.

.

"Lha? Kok mereka gak ada?" gumam Akashi sambil melepas peluh dari notes kecilnya. "padahal aku hanya mengecek jadwal buat besok.. apa mereka kembali ke asrama lebih dulu?".

Akashi berjalan menyusuri taman. Sepi.

Akashi berjalan menyusuri sepantang jalan menuju gerbang asrama. Sepi.

Akashi berjalan masuk ke dalam asrama. Sepi dan hening.

Akashi berjalan menyusuri koridor asrama. Sepi juga.

"..." Akashi membuka pintu kamarnya. Sebelum benar-benar membuka pintu, Akashi mendengar suara di dalam kamarnya.

"Ini kedua kalinya Yuuki ke kamar Akashi lho~"

"Hm.. ini kali pertamanya bagiku."

"memang, Kuroko-senpai tidur dimana?"

"UKS sekolah"

"Wah, berani sekali. Penjaga UKS itu terkenal garang lho.."

"ini kan bukan dunia mu."

"Ah, iya ya.. ehehe. Enak ya? Disini gak ada orang yang ngeributi terus~"

"..."

Akashi mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.

"...? Yuuki?" gumamnya dengan suara pelan.

KLEK. Pintu dibuka dengan sengaja. Semua mata melihat pemuda yang membuka pintu tersebut.

"Akashi-kun!" seru Yuuki. Kuroko hanya diam menikmati minumannya.

"...Yuuki, sedang apa kamu?" tanya Akashi.

"Ha? Yuuki lagi duduk di salah satu kursi di kamar Akashi." jawab Yuuki.

"Bukan itu maksudku.. Temar mu mencarimu.."

"Temar?"

"Teman sekamarmu.. siapalah namanya."

"Oh... Sena... "

Jeda lima detik diikuti suara Kuroko menyeruput minuman favoritnya..

"Ha! Sena!? Gimana nih, dia pasti khawatir sekali!" seru Yuuki sembari berdiri dengan tiba-tiba. Akashi mendatangi salah satu lemarinya. Di lepasnya jas sekolah dan dasi. Yang dipakainya adalah kemeja sekolah dan bawahannya. Lalu, Akashi duduk berseberangan dengan Kuroko. Mendapati ada orang yang duduk berseberangan dengannya, Kuroko menunduk sejenak.

"Salam kenal, aku Kuroko Tetsuya." Sapanya.

"Oh, Akashi Seijurou." Balas Akashi sambil memerhatikan notes kecilnya lagi.

"Me-memangnya, Akashi-kun tahu tempat ini juga?" tanya Yuuki pada Akashi.

"ha? Ini kan kamarku?"

"bu-bukan begitu, dunia ini maksudnya. Yuuki yakin, di luar sana Akashi-kun tidak bertemu siapapun."

"tadi siang ketemu Reo, Satsuki, dan temar mu.. siapalah namanya."

"...itu kan tadi... Ah, Kuroko-senpai.. bagaimana cara kami kembali?" tanya Yuuki pada Kuroko kali ini.

"lewat cermin." Jawab Kuroko.

"Ha?"

"terserah cermin mana pun. Kalian bisa kembali hanya dengan menyentuh cermin tersebut.." Kuroko menunjuk sebuah cermin yang cukup besar tak jauh dari mereka.

"Yuuki sedikit mengerti. Intinya menyentuh kan?"

"kata-kata mu ambigu, Amano-san." Sindir Kuroko.

"yang satu ini Yuuki gak mengerti Kuroko-senpai bicara apa. Akashi-kun, ayo kembali." Kata Yuuki sembari berjalan menuju cermin tersebut. Diikuti Akashi.

Saat kedua orang itu berada di depan cermin. Yuuki membalikkan badannya menghadap Kuroko.

"Apa?" tanya Kuroko.

"Kapan-kapan, Yuuki ingin kesini lagi... tapi, Yuuki gak tahu carannya." Kata Yuuki. Kuroko dan Akashi terdiam sejenak. Lalu Kuroko menghela napas.

"Nih.." Kuroko melempar sebuah liontin perak dengan kristal bewarna abu-abu berbentuk matahari hitam. Liontin itu ditangkap oleh Akashi.

"Apa itu?" tanya Yuuki.

"Khusus untukmu, kamu bisa masuk-keluar dunia ini, tapi, dengan satu syarat. Tidak boleh membawa orang lebih dari dua, termasuk dirimu." Kata Kuroko.

Yuuki mengangguk."baik, Yuuki janji kok." Sembari melambaikan tangan pada Kuroko, pemuda warga dunia tersebut. Akashi memasukkan liontin perak itu ke dalam sakunya.

Begitu tangan Yuuki menyentuh cermin tersebut. Mereka berdua langsung ditarik oleh sesuatu di dalam cermin.

.

(And then ^o^)

.

"...Kita kembali..." gumam Yuuki. Akashi segera berjalan menuju sofa nya lalu duduk. "...Gak ada ... Kuroko-senpai..?" Yuuki melirik ke tiap sisi dan sudut kamar Akashi.

"Tentu saja, dia dan kita berasal dari dua dunia yang berbeda." Balas Akashi sambil membuka notes kecilnya lagi.

"...Apa dia baik-baik saja..?" tanya Yuuki.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Habisnya. Sendirian di dunia itu... apa Kuroko-senpai tidak kesepian?"

"Aku rasa tidak. Dia sudah lama berada disana."

"Bagaimana bisa Akashi-kun tahu?"

"Kamu meragukan jawabanku?"

"Ti-tidak."

BRAK. Pintu kamar terbuka. Terdapat seorang gadis yang terengah-engah. Kedua tangannya di tahan Reo dan Momoi.

"Se-Sena~!"serentak Reo dan Momoi.

"Kalian SEDANG APA!?" seru Sena sambil menunjuk Akashi dan Yuuki.

"Sena..!? Oh, kami tidak sedang apa-apa..." jawab Yuuki.

"Lalu... kenapa kamu di kamar si brengsek ini?!" seru Sena dengan dua perempatan dan satu pertigaan di kepalanya.

"Ha? Maksudmu Akashi-kun? Yuuki juga gak tahu.. kenapa malah terdampar disini ya?"

CLIK. Sena segera menarget pemuda yang tengah duduk di sofa dengan tenang.

"Kau! Apa yang kamu lakukan pada Yuuki?!" seru Sena.

"aku? Aku gak sengaja ketemu dengannya. Ujung-ujungnya, kita disini." Jawabnya dengan enteng.

CLIK CLIK CLIK CLIK. Entah berapa tanda perempatan dan pertigaan di kepala Sena. Entah berapa tenaga yang harus di keluarkan Momoi dan Reo untuk menahan Sena. Entah berapa lama yang Akashi pikirkan untuk mendengar ocehan Sena. Entah berapa pertanyaan di benak Yuuki. Yang pasti, akan dibahas besoknya ...(^u^)

-GROWWLL!MEONG!GUKGUKGUK!GROAARR!- (menghindari aksi kekerasan...)

(harap tunggu sebentar... )

.

"...Masuk.."

"..maaf, menganggu... Chihiro-kun." Kata Kuroko sembari memasuki sebuah ruangan.

"Ada apa...?"

"Ano.. soal tadi. Kau sengaja ya?"

"..."

"kenapa, Chihiro-kun?"

"..Aku... bosan... itu saja." Wajahnya emotionless sama seperti Kuroko.

"Oh."

"kau sudah memberikan liontin itu padanya?"

Kuroko mengangguk. "Sudah Chihiro-kun."

"oh..."

.

.

Kuroko: Bersambung, Readers-kun/san/sama...

.

.

akhirnya~~ Shin bisa upload chapter yg baru... yokatta, susahnya minta ampun deh. jaringan ff di laptop Shin malah error.. akhirnya, shin upload dengan mobile phone. entah bisa apa enggak, ealah ujung-ujungnya ga bisa. numpang di laptop temen satu fanfiction'er di sekolah juga gak bisa... cara trakhir adalag merusak jaringan luar negeri, menyisipkan skripsi lewat jaringan luar... fiuh, berhasil deh... #reader yg baik mohon jangan mencontoh hal ini#iniNyata#resikonyaTINGGI#SanksinyaMAHAL lho...kalo ketahuan...

yosh, Tunggu next chapternya oke? mata ashita ne~~