Beberapa makanan sudah di hidangkan di atas meja berbentuk bundar ini. Aku hanya menatapnya horor, banyak sekali...! Memang sih aku sudah menyiapkan uang untuk mentraktir mereka semua, tapi.. apa ini tidak terlalu banyak? Apa mereka ini? Zombie?!

"Mayuchan~ ayo dimakan dong. Masa kau yang bayar tidak makan?" Yang bayar dengkulmu?!

Suara seorang Mibuchi Reo memang selalu membuatku kesal, entah kenapa. Padahal ia sama sekali tidak berbuat salah.

"Tenang saja. Aku tidak apa kok. Biar kalian saja dulu yang makan." Aku tersenyum tidak ikhlas ke arah mereka semua.

Jadilah, empat orang lainnya yang mengelilingi meja ini menyantap makanan. Aku melihat mereka makan, rasanya sudah kenyang.

"Mayuzumu-senpai tidak mau makan?" Suara lucu itu menyapa telingaku!

"Tidak apa, Akashi. Jangan hiraukan aku, makan saja sepuasmu." Aku pura-pura baik sih, sebenarnya aku tidak rela mereka memakan semuanya!

Beberapa menit kemudian...

"Ah! Aku kenyang! Rasanya perutku ingin meledak!" Si berisik mulai berkoar, bocah berkepala kuning di sana tengah mengusap-usap perutnya yang membengkak.

"Bagiku, makanannya belum cukup." Lelaki berortot dan berkulit gelpa itu bersendawa, dasar jorok!

"Nebuya, sudahlah. Kau sudah makan cukup banyak. Kalau ingin tambah lagi, bayar saja sendiri." Lalu aku kembali menyesap ocha dingin.

"Aku hampir lupa. Selamat ulang tahun, Mayuzumi-senpai." Suara lucu itu lagi... aku menengok patah-patah kepada orang yang ada di sampingku. Terlihat ia tengah menyodorkan sebuah kotak kecil, tapi tidak terlalu kecil.

"Ini.. untuk ku?" Ucapku sambil menunjuk kotaknya lalu menunjuk diriku sendiri.

Aku hanya mendapat anggukan dari si kepala merah itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kotak yang ada di tangannya.

"Boleh aku membukanya?" Tanyaku lagi, takut-takut tidak boleh dibuka tanpa sadar kepalaku berlubang, itu kan tidak lucu.

"Tentu saja." Jawaban singkat memang tapi kenapa bermakna sekali di hatiku?

Aku langsung membuka kotak itu. Dan tebak apa yang aku dapatkan? Aku mendapatkan sebuah jam tangan. Aku berpikir dalam hati, dengan uang siapa Akashi membelinya? Kau tahu sendiri kan dia itu.. ya.. begitulah.

"Terima kasih, Akashi. Aku suka sekali hadiahnya." Ucapku sambil tersenyum senang.

Akashi membalas senyumanku. Astaga aku tidak tahan lagi. Cepat-cepat aku membuang muka dan memutus kontak mata dengannya.

.

"Kapten! Terima kasih atas makanannya ya! Yang tadi itu enak sekali!" Ah, si bawel ini mulai lagi.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat memakan makananan itu kok, Hayama." Ucapku 'lagi-lagi' agak tidak rela.

"Kalau begitu, sampai bertemu hari senin Mayuchan~" akhirnya tiga manusia Uncrowned King itu undur diri dari hadapanku.

Aku melihat ke samping kiriku, di sana ada anak kecil bersurai merah terlihat bingung seperti tersesat. Kalau Akashi tau, pasti gunting berjatuhan dari langit.

"Akashi, mau aku antar pulang?" Tawarku dengan baik hatinya.

"Jika tidak merepotkan, aku tidak keberatan." Jawaban yang ku terjemahkan sebagai setengah sungkan, setengah kode.

Mulailah aku dan Akashi berjalan meninggalkan restoran tempat kami makan tadi. Kenapa ya, jika aku hanya berdua dengannya, rasanya canggung? Apa karena aku terlalu doki-doki? Engga mungkin. Untuk apa aku doki-doki? Ga jelas banget.

"Mayuzumi-senpai," sial! Aku ketahuan! "seperti sedang sibuk dengan pikiranmu sendiri. Sedang memikirkan apa?" Ucapnya begitu... biasa saja sih, tapi kenapa selalu aneh di telingaku.

"Tidak apa kok, Akashi. Mungkin ini, efek karena terlalu sering belajar. Jadi suka kepikiran." Ucapku agak ngasal sih, tapi memang benar kok.

"Oh, ya benar juga. Sebentar lagi Mayuzumi-senpai akan lulus dari SMA. Senpai ingin melanjutjan kemana?" Tanyanya begitu antusias.

"Entahlah, Akashi. Orang tua ku bilang, mereka ingin aku menjadi salah satu mahasiswa di universitas ternama di Tokyo. Tapi... aku tidak ingin meninggalkan mereka juga."

"Kalau begitu, lebih baik kau bicarakan baik-baik dengan kedua orang tua mu."

Astaga, dari mana Akashi tahu kata 'baik-baik'? Padahal sendirinya juga belum 'baik-baik'. "Ya, sepertinya aku harus membicarakannya lagi. Terima kasih, Akashi." Aku tersenyum ke arahnya.

Ia pun ikut tersenyum. Ada apa sih dengan bocah ini? Kenapa terlihat berbeda di mataku? Mungkin karena warna surainya yang mencolok dan suka bikin sakit mata kali ya?

.

.

.

Monday, 3 - 2 class, Rakuzan High, 09.10.

Aku baru ingat, hari ini adalah hari hari pertama ujian smester akhir. Yang artinya sebentar lagi aku akan angkat kaki dari Rakuzan tercinta ini. Dan berpisah dengannya... ugh, kenapa aku mikirin itu sih?

Karena kepikiran 'itu', dari tadi aku hanya bulak-balik membaca soal biologi dan mencoba memahaminya, agar aku bisa menemukan jawaban yang tepat. Sayangnya, aku sangat kesulitan! Tenangkan dirimu, Chihiro...

20 menit kemudian.

Siaal! Ujian ku kacau semua! Kenapa aku jadi berantakan gini sih.. aku mengacak-acak surai silver ku frustasi. Hanya memikirkan 'dia' saja, pikiran ku sudah terdominasi olehnya. Memang buruk dampak dari Akashi! eh.. keceplosan. Diam-diam pipiku merona.

Pelajaran berikutnya sejarah. Astaga, bisa-bisa aku menulis sejarah saat pertama kali bertemu dengan'nya'. Jangan! Aku kembali mengacak-acak surai silverku, mencoba fokus kepada pelajaran berikutnya.

.

Break time, 12.04.

Aku memesan menu makanan favoritku di kantin. Hah.. untungnya ulangan sejarahku baik-baik saja, justru karena baik-baik saja menguras tenaga ku dan membuatku lapar.

Setelah mendapat makanannya, aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan, di sebuah meja di tempati oleh Reo dan kawan-kawannya yang you-know-who. Aku segera menghampirinya dan menduduki salah satu kursi yang kosong.

"Tumben kalian hanya bertiga, di mana Akashi?" Aku langsung bertanya sambil menempelkan bokongku ke kursi.

"Eh, Seichan sedang ke ruang kesehatan. Sepertinya dia lagi lovey dovey tuh." Pertanyaanku pun langsung dijawab oleh Reo.

'Ruang kesehatan? Lovey dovey? Apa maksudnya?! Kok ambigu!'

"Sepertinya Akashi sedang suka dengan seseorang di ruang kesehatan." Hayama ikut menimpali dan meredakan pendapat negatifku tersendiri.

"Seseorang di ruang kesehatan? Siapa? Memangnya ruang kesehatan dijaga orang." Aku bertanya kembali, memastikan.

"Arara~ Mayuchan tidak tahu? Kita sudah punya dokter di sekolah ini lho."

"Akashi suka kepada yang lebih tua?!"

Satu meja hening.

Satu kantin hening.

Aku langsung duduk kembali dengan santai, seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal, tadi aku teriak heboh banget. Saking terkejutnya.

"Oy, oy, kapten. Nanti kalau Akashi dengar, kepalamu jadi pitak lho." Nebuya mengingatkan.

"Ah, iya. Terima kasih, Nebuya." Aku berusaha kembali tenang, sambil tarik nafas, buang lagi.

"Jadi.. Mayuchan suka sama Seichan?" Tanya Reo tidak tahu malu, ralat maksudnya tidak tahu bagaimana rasa malu ku.

"Berisik kau, Reo. Itu tidak penting." Aku menjawabnya dengan tenang sambil menyantap ramen tempura ku.

"Artinya, itu adalah suatu hal yang penting untukmu. Sejak kapan kau suka Seichan?" Ini orang minta di shoot ke ring kali ya? Aku hampir saja menyemburkan kuah ramen yang aku makan ke wajahnya.

"Reo, jika kau ingin buka sesi curhat jangan sekarang. Aku sedang makan." Bukannya menjawab aku malah komplain.

"Jadi, selama ini... kapten!" Hayama ikut-ikutan bicara sambil berwajah terkejut yang dibuat-buat.

"Sudahlah, Hayama. Tidak usah 'sok' ngerti." Aku kembali memakan ramenku sambil menahan rasa malu tak terhingga.

Aib ku sudah ketahuan.

.

Aku menyusuri lorong yang lumayan sepi ini, kenapa sepi ya? Tentu saja. Tinggal sepuluh menit lagi bel ke jam berikutnya setelah istirahat. Aku hendak mencari ruangan berjudul 'ruang kesehatan'. Dan tak perlu waktu lama dengan cepat aku menemukannya.

Sudah berada di depan pintu, perasaan horor menggentayangiku. Rasanya aku takut sekali membuka pintu itu, takut melihat yang 'tidak-tidak'. Aku memutuskan membuang perasaan itu dan langsung membuka pintu itu dengan sopan.

Jadilah, aku mendapati dua sosok laki-laki. Yang satu bersurai merah dan bertubuh kecil, yang satunya lagi bersurai hijau lumut dan bertubuh besar serta kacamata yang menghiasi wajahnya. Mereka sedang duduk berhadapan, dengan sebuah meja yang menjadi pemberi jarak mereka.

Mereka terhanyut dalam dunia mereka sendiri dan tidak merasakan kehadiran ku. Aku berdeham sekali, "permisi."

Keduanya pun langsung menengok ke arahku. Aku jadi agak bingung harus bereaksi bagaimana.

"Mayuzumi-senpai, ada apa? Kau merasa sakit? Sebentar lagi bel pelajaran berikutnya." Si merah itu berkicau lebih dulu dengan nada agak khawatir... atau kaget?

"Justru aku datang kemari untuk menjemputmu, Akashi. Aku tidak ingin dengar kau bolos mata pelajaran dan menghambat latihan karena kau dipanggil ke ruang konseling." Ucapku dengan suara lumayan lantang, sekaligus mengejek.

"Akashi, apa yang dikatakannya benar. Sebaiknya kau cepat kembali ke kelas." Si hijau itu ikut bersuara. Oh, ini kah yang disukai Akashi?

Aku melihat Akashi memutar bola matanya malas. "Baiklah, Midorima-sensei. Aku kembali dulu."

Lagi-lagi, aku jalan berdua dengan si merah ini menuju kelas masing. Padahal kelas kami letak sangat bertolak belakang.

"Mayuzumi-senpai, aku ingin izin latihan hari ini."

"Hah?! Jangan ngarang! Siapa yang mengizinkanmu tidak latihan?" Aku langsung berkoar mendengar suara yang begitu polos itu.

"Ini," aku melihat sangat jelas gunting yang bersinar di depan wajahku. "Kalau kau ingin ini mendarat di kulitmu."

"Akashi, berhentilah mengancam orang dengan benda itu." Aku berusaha tenang, hah aku sudah terlalu tenang. Trik dia yang satu ini sudah sangat mainstream.

.

Basketball club gym, Rakuzan High, 16.17.

Aku akui, Akashi kalau sudah bicara tidak main-main. Ia benar-benar tidak datang latihan hari ini. Bocah itu.. wajahnya selalu polos di depanku, tapi tetap saja bikin tensi darah naik terus.

"Mayuchan~ Akashi kemana? Tumben sekali tidak latihan?" Suara Reo menyapaku dari arah Timur.

Aku menghela nafas lelah, "tadi, Akashi bilang izin tidak latihan."

Reo tampak terkejut. "Hah? Memang ada apa? Penyakitnya kumat lagi?" Reo ekspresif banget, dia terlihat khawatir. Kok aku protes? Ya, pengen protes aja.

Mengingat Akashi adalah 'anak' paling kecil di tim reguler dan sedikit 'kelainan', cukup membuat khawatir anggota lain, bila ia tidak datang latihan.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Akashi absen latihan. Kalau dihitung, ini sudah yang kelima kalinya ia absen latihan. Biasanya ia tidak latihan karena kena masalah dengan guru konseling, atau memang sedang badmood kelewat badmood, sehingga basket tak bisa lagi mengalihkan perhatiannya. Padahal dia cinta sekali dengan olahraga ini.

Tapi, kalau dilihat keadaannya yang sekarang dengan dokter itu... kayaknya.. ah sudahlah aku tidak ingin memikirkannya.

"Mayuchan~ kenapa kau diam saja? Omong-omong, kau tidak pulang?"

Aku langsung tersadar. "Eh? Ah, iya aku akan segera pulang. Aku hanya ingin melihat latihan saja kok. Sampai bertemu besok, ja.." aku langsung mengundurkan diri dari gym.

Aku langsung berjalan pulang. Ah, rasanya aku rindu si merah itu. Eh? Apa yang aku pikirkan?!

Baru saja aku memikirkannya sejenak, panjang umur. Aku melihat Akashi sedang jalan berdua dengan dokter lumut itu! Jujur, aku kesal melihatnya. Bisakah kau jauh-jauh dari lumut itu, Akashi? Nanti kau terpeleset.

Akashi terlihat begitu nyaman di samping dokter itu. Mungkin, dokter tahu bagaimana cara menangani anak macam Akashi. Ia terlihat sangat enjoy berbincang dengan dokter itu dan berjalan tenang di sampingnya. Rasanya berbeda saat Akashi jalan berdua denganku.

Rasanya... hatiku tersayat batu koral.. lebay amat sih!

.

.

.

Sunday, 09.50, Kyoto.

Akhirnya ujian akhir semester selesai. Itu artinya sebentar lagi aku akan mengalami libur yang cukup panjang. Ah, sayang di masa libur ini aku tidak bisa santai-santai. Aku harus belajar untuk masuk universitas. Agak melelahkan sih, tapi apa daya?

Omong-omong sejak hari selasa kemarin, aku tidak melihat Akashi. Tepatnya aku tidak menengoknya, karena terlalu sibuk belajar. Habis, nanti pikiran ku di dominasi olehnya. Kalau sedang pelajaran matematika, bisa mati aku.

Selagi tidak ada kerjaan, kenapa tidak ku email saja dia. Mungkin, dia sedang tidak ada kerjaan juga.

From: Mayuzumi
To: Akashi
Subject: Hai(?)

Akashi, apa kau sedang di rumah? Kau sedang apa? Tidak sedang menghancurkan tempat orang, kan?

Send

Aku sedikit mengutuk diri sendiri. Basa-basiku sangat tidak berkelas. Aku harap Akashi tidak lupa membalasnya, ah, jangan lupa membacanya juga.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi sangat panjang, menandakan ada telepon masuk. Eh? Telepon? Setelah aku lihat baik-baik layar ponselku, aku melihat nama 'Akashi' tertera di sana. Astaga, kenapa ia malah menelponku?

Aku tak punya pilihan lain selain menerimanya.

"Moshi-moshi?"

"Mayuzumi-senpai, aku harap kau tidak lupa kalau aku malas menulis email. Dan email darimu itu 'sedikit' menaikkan tensi darahku." Aku mendengar nada sakarstik di sana.

"Ehehe.. maaf. Aku hanya ingin tahu kau sedang apa. Jadi kau ingin jawab atau tidak?"

Ia tidak menjawabnya hingga 45 detik lewat. Entah bagaimana, aku merasa ada yang tidak beres dengan anak di seberang sana.

"Akashi? Kau tidak apa? Apa kau sedang mengerjakan sesuatu?"

"Ya, aku sedang sibuk. Aku.. sedang tidak ingin diganggu."

Tut.. tut..

Telepon pun diputus oleh Akashi. Fix, ada yang aneh dengan Akashi.

Rasanya kaki ku gatal ingin menghampiri apartmennya. Yak, benar sekali. Rasa khawatirku menggerakkan kaki ku berjalan menuju apartmennya.

.

Dan aku benar-benar kemari. Aku sudah berdiri di depan pintu apartmen yang bertuliskan 'Akashi Seijuro'. Aku mulai mengetuk pintu perlahan sebanyak dua kali.

Satu menit berikutnya, tidak ada jawaban.

Aku mencoba mengetuk kembali.

Sama saja.

Aku coba mengetuk pintu lagi, sambil memanggil empunya. "Akashi? Kau di dalam?"

Tak ada respon.

Oke. Kekhawatiranku semakin menjadi. Aku mencoba memutar kenop pintu. Bagus sekali, pintunya terkunci. Apa ia sedang keluar? Aku memilih menelponnya lagi.

Samar-samar aku mendengar suara deringan ponsel. Aku menguping ke pintu dan sumber suara berasal dari dalam. Apa artinya ia lupa membawa ponsel?

Aku mencoba untuk positif thinking, mungkin ia sedang keluar ke kombini mungkin, dan tidak membawa ponselnya. Oke, oke, dia tidak akan apa-apa.

Aku memilih untuk kembali ke rumahku. Tapi tetap saja, rasa khawatir masih menghantui. Rasanya ada yang aneh dengan Akashi. Ah, kenapa aku tidak tanya Reo saja. Ia kan termasuk orang paling perhatian sama Akashi.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku menghubungi Reo segera.

"Moshi-moshi?" Untung sekali responnya cepat.

"Reo? Kau sedang di rumah?"

"Eh? Mayuchan tumben nanya-nyanya, perhatian banget. Aku sedang di rumah. Ada apa?"

"Aku tidak mengganggu, kan?"

"Tidak. Memangnya kenapa sih?"

"Begini, aku ingin menanyakan keadaan Akashi. Apa dia baik-baik saja sejak hari selasa kemarin?"

"Ah, Mayuchan, dari kemarin aku ingin memberitahukan ini kepadamu, tapi kau sedang ujian, aku tidak ingin mengganggumu dengan hal ini. Sejak hari rabu kemarin, sepertinya Seichan sedang badmood sekali. Sejak hari itu, ia terus-terusan bolos mata pelajaran. Ditambah lagi ia kabur dari panggilan guru konseling. Tapi, Seichan tidak ingin cerita apa-apa."

Penjelasan Reo yang panjang lebar, langsung membawaku kembali ke apartmen Akashi.

"Terima kasih atas pemberitahuannya, Reo. Aku akan menghampiri Akashi sekarang."

Aku langsung memutus sambungan dan berlari kembali ke apartmen Akashi.

.

Sampai di depan pintu bernomor 407 ini, aku langsung memutar kenop pintu dengan gusar. Sial, masih terkunci.

"Akashi, aku tahu kau di dalam. Tolong buka pintunya."

Tak ada respon.

Aku terus memutar-mutar kenop pintu, berharap akan rusak dan membiarkan aku masuk ke dalam. Sayangnya, kenop pintu ini tidak bisa rusak begitu saja. Ah, aku harus bagaimana?!

Aku mencari-cari sesuatu agar bisa digantikan dengan kunci. Akhirnya, aku menemukan sebuah kawat sampah di lantai. Aku langsung mengambilnya dan melilitnya sedemikian rupa. Setelah itu, aku masukkan ke dalam lubang kunci dan berhasil. Ya, aku berhasil membobol pintu apartmen orang.

Sesampainya di dalam, sangat gelap. Tak ada yang aneh pula, apartmennya masih rapi. Aku berjalan menyusuri seluruh apartmen. Dari ruang tengah sampai dapur dan kamar mandi. Tinggal satu yang belum ku lihat, kamar pribadinya.

Aku memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Aku membukanya perlahan. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Akhirnya aku mendapati si bocah merah itu terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk.

Aku berjalan menghampirinya, lalu berlutut di hadapannya. Apa ia tidak menyadari keberadaanku?

"Akashi?" Panggilku, tapi ia masih diam di sana.

Aku tak punya pilihan lain, selain mengangkat kepalanya dengan tanganku sendiri.

Kau tahu apa yang aku dapatkan? Aku mendapati luka goresan di lehernya dengan darah yang sudah mengering. Darah itu mengalir hingga mengotori bajunya. Artinya, luka itu mengeluarkan banyak darah, kan? Astaga, ada apa ini?!

"Akashi, Akashi! Sadarlah!" Aku menampar pelan pipinya. Ayolah, buka matamu!

Setelah 90 detik, akhirnya ia membuka matanya. Syukurlah, ia masih hidup.

"Mayuzumi-senpai..." suaranya begitu parau.

"Ya, ini aku. Tetap sadar, jangan pejamkan matamu! Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."

Aku langsung menopang tubuh itu dengan punggungku. Aku langsung berlari secepat kilat menuju rumah sakit terdekat. Bertahanlah!

"Akashi, jangan pejamkan matamu!"

.

Entah jam berapa sekarang, tapi matahari masih terlihat di atas sana. Aku hanya bisa melihati bocah scarlet yang tengah terbaring lemah di atas ranjang. Ia masih belum sadar.

Sesampainya di sini, ia langsung ditangani oleh dokter yang bertugas secepat kilat. Ia mendapati beberapa jahitan di lehernya. Untungnya, tidak mengenai urat nadinya. Aku menghela nafas lega mendengarnya. Aku harap ia cepat sadar.

Satu jam berikutnya, akhirnya ia sadar juga. Aku bisa melihat dua manik ruby muncul dari balik kelopak matanya. Aku setengah terkejut melihat ini semua.

"Akashi? Kau tidak apa?" Ia berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya.

Aku langsung mencegahnya. "Jangan banyak bergerak dulu. Kau mau apa?"

"Kenapa aku ada di sini?" Tanyanya polos sekali.

Ingatkan aku bahwa aku sama sekali tidak melukai kepalanya selama perjalanan membawanya kemari. Seseorang tidak mungkin amnesia karena lehernya tergores, bukan?

"Kau pasti ingat apa yang kau lakukan kepada lehermu sendiri. Aku rasa, aku tak perlu menjawab kenapa." Jawabku setenang mungkin.

Akashi meraba sendiri lehernya yang sudah dililiti perban. "Ini sangat mengganggu." Sepertinya ia berusaha menanggalkan perban itu.

"Kau sendiri yang membuat lukanya, tidak usah protes."

Keheningan pun menyerbu ke dalam ruangan ini sampai beberapa menit. Rasanya aku malas beradu mulut dengannya, tapi masih ada suatu hal yang harus aku tanya kepadanya, kan? Terutama, mengapa ia melukai dirinya sendiri.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku dengar kau mulai bolos lagi."

"Kau tidak perlu tahu." Oh, jawabannya sangat memancing emosi.

Aku menghela nafas mencoba untuk sabar. "Jawablah. Tidak usah sok melamun begitu. Kau terlihat seperti orang bodoh." Ah, biarlah.

Akashi langsung melempar tatapan tajam kepadaku. Matanya menyiratkan kemarahan. Tiba-tiba ia menarik bajuku, wajah kami berhadapan. "Siapa yang bodoh? DIA lah yang bodoh!"

Ia meneriaki ku. Ia langsung mendorongku hingga aku terduduk di lantai. Akashi mulai beranjak dari ranjangnya menghampiriku. Aku pikir, aku akan menjadi pasien berikutnya di rumah sakit ini. Tapi aku salah.

Akashi malah menyenderkan kepalanya di dadaku. Astaga, kau salah tempat, Akashi! Detakan jantungku pasti akan terdengar sangat aneh. Aku kembali menghela nafas untuk yang ke sekian kali, mencoba untuk tenang.

"Nah, jadi apa yang sebenarnya terjadi? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Aku mengelus surai merah itu perlahan.

Aku tak mendapatkan jawaban lisan, ia hanya menggelengkan kepalanya yang masih tersandar di dadaku.

"Aku benci Midorima-sensei.", tiba-tiba ia berucap.

Hah?! Apa dia bilang? Apa aku tidak salah dengar? Ingatkan aku untuk membersihkan telingaku secara rutin. Ternyata bocah ini serius menyukai dokter sekolah itu? Sampai melukai dirinya seperti ini.

"Memangnya, Midorima-sensei melakukan apa kepadamu?" Aku tidak salah tanya, kan?

Bukannya menjawab, ia malah meremas bajuku erat-erat. Yah, aku pasrah saja deh dia mau apa. Pasti dia tidak akan melakukan hal yang aneh, kan?

"Midorima-sensei, jahat! Dia lebih memilih tunangannya dari pada aku! Dan hubungan kami hanya sebatas dokter dan pasien. Aku tidak mau seperti itu!"

Astaga, Akashi! Sadarlah! Rasanya aku ingin terjun dari lantai tiga rumah sakit ini saat mendengar pernyataannya. Tentu saja, ia akan memilih tunangannya yang lebih dulu ditemukan dibandingkan dirimu!

"Akashi.. itu suatu hal yang wajar. Kau tidak boleh egois begitu." Aku berusaha menjadi orang yang bijak sekarang.

"Tapi... aku menyukainya. Aku senang ia ada di sampingku. Dia seperti ibuku.. aku rindu ibuku."

Aku mendengar isakan dari bibirnya. Sekarang aku harus bagaimana? Menghadapi orang yang sedang menangis bukanlah keahlianku.

Jadi, semua yang dirasakannya selama ini adalah rasa rindu yang tak tersampaikan kepada ibunya yang sudah tiada. Dan berada di samping dokter itu, membuatnya merasa lebih baik.

Aku memeluknya, berharap ia kembali tenang. "Sudah.. tidak usah menangis. Toh, semua teman-temanmu memperhatikanmu, kan? Seperti Reo dan yang lainnya. Mereka semua khawatir padamu, termasuk aku."

"Tetap saja, Midorima-sensei berbeda.." ia kembali berucap di tengah isakannya.

Aku kembali mengelus surai merahnya lembut. "Iya, iya, aku mengerti."

"Pasien di ruang 311.." aku mendengar suara orang lain dari balik pintu. Suara seorang laki-laki.

Di menit berikutnya, pintu terbuka, menampakkan sosok seorang dokter berpakaian lengkap dengan jas putihnya. Dokter bersurai hijau lumut dengan manik emerald yang tersembunyi di balik kacamata. Midorima-sensei...

"Akashi? Kau pasiennya ternyata."

Akashi langsung mengangkat kepalanya dan menatap lekat-lekat dokter berlumut itu. Sepertinya Akashi benci setengah mati.

Aku berjanji aku akan mematahkan kacamatanya, sekaligus memecahkan kepalanya!

.

.

.

To be continued.


horeeee saya apdet! pada seneng ga tuh?!

lagi-lagi saya malah memilih melanjutkan fic ini dari pada melanjutkan fic yang masih on goin dan ga tau gimana kabarnya.

well saya berterimakasih kepada readers-tachi yang sudah ingin membaca fic ini, semoga selalu nempel di hati.

sampai bertemu di chapter berikutnya!

Ja~