Apa yang aku lihat sekarang ini, sangat jarang terjadi saat aku berjaga di sebuah rumah sakit.
Baru aku membuka pintu, aku sudah disuguhi pemandangan seorang pasien yang sedang berpelukan dengan teman? Sahabat? Atau jangan-jangan kekasih? Pikiran ku mulai kacau sepertinya.
"Akashi, tolong kembali ke tempat tidurmu. Aku akan memeriksamu kembali." Aku berjalan menghampiri kedua orang yang sedang berpelukan tadi yang masih belum bergeming di lantai.
Bocah bersurai merah yang berada di dalam dekapan bocah silver itu, melempar tatapan tajam padaku, menggunakan manik rubynya. Sedetik aku dibuat tegang, tapi itu semua sudah biasa. Satu minggu merawatnya bukanlah waktu lama untuk mengetahui perangai bocah ini.
"Ayo, Akashi, kembali ke ranjangmu." Bocah silver itu mencoba membujuk si scarlet kembali ke ranjangnya. Untungnya bujukan itu mempan. Dan si scarlet sudah duduk tenang di atas ranjangnya.
"Kau? Temannya? Yang waktu itu datang ke ruang kesehatan menjemputnya?" Aku menatap bocah silver itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ya. Lalu kenapa?" Aku tidak tahu apa masalah bocah ini, kenapa perkataannya terdengar jengkel?
Aku pun melupakan masalah kelewat kecil itu dan segera memulai pemeriksaan bocah scarlet, Akashi. Aku lihat air mukanya terlihat sangat sebal.
Setelah selesai, "apa kau punya keluhan, Akashi? Seperti pusing? Atau yang lain?"
Ia menatapku dengan sebal, entah apa yang salah denganku. "Banyak sekali keluhanku, Midorima-sensei."
Aku menaikkan sebelah alisku, heran. "Banyak? Maksudmu kau tidak terlalu baik?"
"Ya, aku tidak pernah baik-baik saja setelah kau mencampakkan aku di depan wanita jelek itu!" Ia meninggikan nadanya.
Jujur, aku ingin sekali meninju muka anak kurang ajar ini. Sayangnya, naluri dokterku berkata 'tidak boleh melukainya'. "Kau masih tidak mengerti juga, Akashi. Dia itu tunanganku, dan aku tidak bermaksud mencampakkanmu."
(Flashback, Tuesday)
Sudah jam setengah lima, menandakan aku harus pulang. Mengingat tanggung jawabku hari ini tidak latihan basket, tapi ia malah menghampiriku dan mengajakku pulang bersamanya. Aku pun tak punya pilihan lain selain menurutinya. Daripada nanti dia ngamuk.
Dalam perjalanan, bocah scarlet ini tak henti-hentinya berbicara. Ya, aku mengerti perasaannya. Aku dengar ia jarang mengobrol dengan teman sekelasnya. Bahkan ia tidak punya teman karena ia 'sakit jiwa'. Ia membicarakan apa saja, mungkin topik yang lewat dikepalanya secara otomatis di sampaikan lewat bibir mungilnya.
Selama mendengarkan kicauan bocah ini dalam diam, aku berpikir bahwa aku ada janji sore ini. Dan sebenarnya, aku dalam perjalanan menuju suatu tempat. Belum selesai aku dengan pikiranku, tiba-tiba,
"Shintarou! Kebetulan kita ketemu di sini." Seorang wanita bersurai cokelat panjang menghampiriku sambil berlari kecil.
Bocah scarlet yang ada di sampingku ini, langsung bungkam, diam seribua bahasa. Ia tampak melihati wanita itu dengan tatapan tidak percaya.
"Shintarou.. aku rasa kita jalan ke restoran bersama saja." Wanita itu sudah ada di depanku dan tersenyum, lalu ia mencium pipiku singkat. Ia adalah tunanganku, meskipun baru dua minggu.
Setelah kejadian tadi, pandangan tunanganku teralihkan kepada bocah scarlet yang ada di sampingku. Aku ikut menengoknya, aku mendapati air mukanya terlihat sangat murka.
"Arara~ siapa ini? Pasiennya Shintarou, kah? Manis sekali~" tunanganku dengan seenaknya mengelus surai merah bocah itu. Perasaanku berkata yang 'tidak-tidak'.
Aku melihat bocah scarlet itu menggertakkan giginya kesal. "Jangan sentuh dia!" Bentaknya tiba-tiba, lalu menyerang tunanganku dengan sebuah gunting yang entah kapan munculnya.
Sontak tunanganku langsung menghindar dan berlari ke belakang tubuhku. Tentu hal itu, menghentikan aksi berikutnya si bocah scarlet.
"Kemari kau... jangan bersembunyi di sana!" Katanya masih membentak. Tunanganku sudah meremas tanganku dengan erat sampai sedikit membuat nyeri.
"Shi-Shintarou... ada apa dengannya?" Bisik tunanganku takut-takut.
Aku menghela nafas, mencoba untuk tetap tenang. "Akashi, simpan gunting itu. Wanita ini sama sekali tidak mengancammu." Pintaku dengan nada setenang mungkin.
"Aku tidak akan menyimpan gunting ini sampai aku berhasil melukainya!" Balasnya lagi sambil melotot galak.
"Kau tidak akan berhasil melukainya, percayalah."
Bukannya mendengarkanku, ia mempercepat langkahnya untuk menyerang kembali tunanganku. Sontak aku langsung mecegahnya, meraih kedua tangannya, lalu mengunci seluruh pergerakannya.
"Akashi, sudah ku bilang tidak akan berhasil."
"Midorima-sensei... kenapa...? Kenapa kau membelanya...?" Ia meronta-ronta di bawah tindihanku.
"Karena dia tunanganku."
Rontaan itu langsung terhenti. Entah apa yang membuatnya jadi tenang begini? Apa seseorang menyuntikkan obat bius kepadanya? Tidak mungkin.
Merasa semua pergerakannya berhenti total, aku melepaskannya. Ia mendudukkan tubuhnya dari posisi telungkup. Ia tidak menatapku yang sedang berlutut di depannya.
"Jadi, begitu... sensei?" Tanyanya dengan nada penuh kecewa. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya kecewa.
"Apanya yang begitu, Akashi? Sebaiknya kau pulang dan istirahat." Ucapku mengingatkannya.
Tiba-tiba, ia langsung berdiri, lalu berlari sekencangnya menjauh dariku. Aku hanya menatap punggung mungil itu yang semakin menjauh.
"Ada apa dengannya, Shintarou?" Tanya tunanganku begitu khawatir kepada bocah itu.
"Aku juga ingin tahu, dia kenapa?"
(End of falshback)
.
.
.
Hari senin kembali lagi. Aku menjalani hariku seperti biasa. Jika hari biasa, aku bertugas sebagai dokter di sekolah menengah atas Rakuzan. Setiap sabtu minggu, aku bisa bertugas di Kyoto ataupun di Tokyo. Tergantung aku dibutuhkan di mana.
Kebetulan, minggu ini sudah memasuki libur musim semi, sehingga pekerjaan ku jadi semakin lengang. Sekarang aku bertugas di rumah sakit antara Tokyo dan Kyoto. Dan hari ini aku berada di Kyoto.
Setelah diingat-ingat, hari minggu kemarin aku mendapat pasien 'istimewa'. Ia adalah bocah scarlet yang selama ini aku awasi. Entah apa yang dilakukannya, aku dengar lehernya tergores benda tajam dan hampir menghabiskan seluruh darahnya. Akhirnya, ia mendapat beberapa jahitan di lehernya dan harus dirawat sampai tiga hari. Dan aku ditugaskan untuk selalu mengeceknya.
Sebenarnya, aku sangat berat hati mendapat tugas untuk memonitor bocah scarlet itu. Padahal pengambilan spesialisku sebagai psikiater belum terlaksana. Statusku masih dokter umum saat ini. Tadinya aku ingin melanjutkannya lagi. Tapi aku pikir, mengambil spesialis dengan uangku sendiri akan lebih memuaskan.
Beberapa hari yang lalu, sejak hari rabu kalau aku tidak salah ingat, aku dengar dari guru-guru, bahwa dia bolos mengikuti pelajaran lagi. Bahkan sudah beberapa ujian mata pelajaran tidak diikutinya. Aku sempat berpikir kenapa tidak dikeluarkan saja? Toh tidak akan merugikan mereka.
Ternyata setelah diulas kembali, ayah bocah ini termasuk donatur sekolah. Di tambah lagi, anak yang pintarnya luar biasa dan mampu menaikkan reputasi sekolah, membuat pihak sekolah tidak rela mengeluarkannya. Sehingga akulah yang kena batunya, diberi tanggung jawab oleh ayahnya untuk memonitor bocah nakal ini.
Setelah bermain dengan pikiranku, aku langsung beranjak dari kursi kerjaku, lalu melangkah menuju kamar rawat tempat bocah 'Akashi' berada. "Selamat siang, Akashi. Kau sudah menghabiskan makan siangmu?" Tanyaku kepada bocah scarlet yang terduduk di atas ranjang.
Ia tidak menjawab, malah menatapku penuh emosi. Demi Tuhan, aku tidak tahu apa salahku.
"Aku tidak lapar." Akhirnya ia bersuara sangat singkat.
"Tapi kau harus makan, agar kau bisa minum obatnya." Aku berusaha masih sabar.
"Aku tidak butuh obat. Lagipula lukanya akan hilang dengan sendirinya. Boleh aku pulang?"
"Sayangnya, kau harus menunggu sampai besok." Aku membetulkan letak kacamataku yang merosot.
"Che. Membosankan." Ia membuang tatapannya dariku. Baru kali ini aku menanggung pasien yang amat sangat kurang ajar.
Aku berjalan mendekatinya, dan ia masih dalam keadaan semula. Aku menatapnya dekat-dekat, jadilah ia sangat terkejut mendapati wajahku berada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan sensei?" Tanyanya dengan dingin.
"Apa kau punya masalah dengan ku? Tolong beritahu. Aku tidak ingin hubungan pasien dan dokter berlangsung seperti ini. Lihat, aku bukan budakmu." Ucapku serius.
Air mukanya berubah menjadi marah. Kenapa dia marah? Apa semua yang aku lakukan merupakan kesalahan fatal?
"Kau masih tidak menyadari apa salah mu, sensei?"
"Aku sangat buruk dalam hal perasaan, maka dari itu perasaan ku berkata, aku tidak pernah salah."
Tiba-tiba, ia menarik kerah kemejaku dengan kuat, membawa wajahku kembali mendekat kepadanya. "Kau pikir, bagaimana perasaanku setelah dicampakkan olehmu, hah?"
Aku mengangkat sebelah alisku, heran. "Aku sudah bilang, aku tidak mencampakkanmu. Dan dia adalah tunanganku. Apa itu salah?"
"SALAH BESAR!" Ia meneriaki ku. Sumpah aku jengkel setengah mati.
Aku langsung meraih lehernya yang terlilit perban, dan sedikit mencekiknya. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli jika jahitannya lepas, atau ia meringis kesakitan. Dia sudah terlalu kelewatan.
"Dengar ya, kelakuanmu itu sangat tidak sopan. Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh ibumu atau ayahmu mungkin? Pantas saja ayahmu memanggilku untuk merawatmu. Sepertinya tawaran ini akan aku buang." Aku berucap serius.
Terdengar ia meringis kesakitan. "Se-sensei..." suaranya pun tersengal. Bisa apa kau, hah?
"Sepertinya, kau lah yang harus membeberkan masalahmu di sini, bukan aku yang harus mengakui dosa. Sekarang beritahu aku apa masalahmu."
"Aku... menyukaimu... sensei." Ucapnya dengan suara sangat pelan, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku langsung melonggarkan peganganku pada lehernya, perlahan-lahan lepas.
"Apa semua itu, salahku, sensei? Aku pikir kau lah yang paling berbeda di antara orang-orang brengsek yang selalu ku temui..."
"Kau tidak.."
"Pergi."
Belum selesai aku bicara, ia sudah memotong perkataanku.
"Pergi sana! Memang tidak ada yang bisa mengerti aku selain ibuku... pergi!"
Aku tak punya pilihan lain selain menurutinya. Dari pada ia mengamuk. Aku langsung melangkah keluar dari kamar inapnya.
Jadi.. itu masalahnya. Ia seperti ini setelah ditinggalkan oleh ibunya. Aku pikir itu suatu hal yang wajar. Dan apa maksudnya dia menyukaiku? Padahal kami baru bertemu kurang lebih satu minggu. Apa waktu segitu cukup untuk menumbuhkan perasaan suka?
.
.
.
Keesokan harinya, jadilah si bocah Akashi keluar dari rumah sakit. Ia dijemput oleh supir pribadi ayahnya menggunakan mobil yang.. wow. Aku berpikir seberapa banyak kekayaan milik ayahnya.
Aku sempat menemaninya sebentar, sekitar lima menit sebelum ia pergi. Air mukanya tetap tak bersahabat. Kesempatan ini aku gunakan untuk menginterogasi supir ayahnya. Mungkin ia mengetahui sedikit sejarah intim dari bocah scarlet ini.
Supir itu berkata, ia sudah mengabdi kepada keluarga Akashi sejak Akashi lahir ke dunia ini. Ia bilang nona besarnya sudah meninggal saat tuan mudanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, kelakuan tuan mudanya jadi kelewat aneh. Suka marah-marah, menyerang orang dengan gunting, ditambah lagi, Akashi selalu menyiapkan gunting di saku celananya.
Setelah percakapan singkat tadi, Akashi langsung hengkang dari rumah sakit. Supirnya bilang, ia akan di bawa ke Tokyo, karena sedang libur musim semi. Ia harus diawas lebih ketat lagi. Omong-omong tentang 'mengawas' perasaanku kok tidak enak ya.
.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, waktunya aku pulang. Aku segera mengemasi barang-barangku dan mulai berjalan pulang ke apartmenku. Sebenarnya aku tinggal di Tokyo, tapi berhubung dibebani tugas, terpaksa aku tinggal di Kyoto.
Sampai di apartmen, aku langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk istirahat.
Baru saja aku menempelkan bokongku ke sofa, tiba-tiba ponselku berbunyi. Terpaksa aku bangkit lagi dan mengambil ponselku. Dan kau tahu siapa yang menelpon? Itu, dari tuan besar Akashi.
"Moshi-moshi?"
"Ah, Midorima-sensei?"
"Ya, ini aku. Ada apa, Akashi-san?"
"Maaf, mengganggu. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menjaga putraku di Tokyo. Apa kau bisa melakukannya?"
Sial... kenapa masalah seperti ini lagi yang aku dapat. Sudah jelas-jelas bocah itu benci setengah mati padaku.
"Ya.. berhubung sedang libur musim semi, Seijuro tidak sekolah, dan kau pasti tidak kerja, kan? Aku janji akan menaikkan penghasilanmu."
Si tua jelek ini sok tahu sekali ya. Bilang-bilang aku tidak kerja, dasar sombong! "Anda benar juga sih.. tapi-"
"Terima kasih, Midorima-sensei. Untuk hari pertama besok, aku akan menyambutmu di rumahku. Selamat malam."
Telepon pun diputus sepihak. Dasar kurang ajar.. aku kan belum selesai bicara! Dan lagi-lagi aku tidak punya pilihan lain selain datang ke kediaman Akashi besok.
.
.
.
Wednesday, Tokyo, 08.59.
Sepertinya aku tepat waktu, aku kembali melihat jam yang melingkar di tanganku. Aku sudah berdiri di depan sebuah rumah khas Jepang yang sangat luas. Aku kembali berpikir, sekaya apa keluarga Akashi ini.
Tanpa pikir apa-apa lagi, aku langsung menekan tombol bel rumah yang menempel pada pintu gerbang. Hanya sepersekian detik, tiba-tiba, pintu gerbang yang lebar amit-amit itu terbuka dengan sendirinya. Automatic gate, kah?
Di balik pintu gerbang, aku disambut oleh supir pribadi tuan besar Akashi. Kenapa hanya dia yang ada di depan gerbang? Aku kira rumah ini dihuni banyak pelayan dan petugas keamanan.
"Selamat datang, Midorima-san. Akashi-sama sudah menunggu di ruang pertemuan. Mari saya antar." Ia tersenyum, lalu menuntunku masuk ke dalam, menuju ruang pertemuan. Jadi, sekarang namanya bukan ruang tamu lagi?
Sampailah, aku dan supir ini di depan pintu ruang pertemuan. Sampai di dalam, semuanya serba tradisional. Rasanya... seperti berada di zaman Sengoku.
"Silahkan duduk, Midorima-sensei." Tuan besar Akashi mempersilahkan ku duduk. Aku duduk bersebrangan dengannya. Tanpa halangan apapu. Aku duduk di atas bantalan tipis. Aku bilang, persis sekali seperti zaman Sengoku.
"Aku sangat berterima kasih kau sudah ingin menemani putraku selama liburannya. Aku harap kau nyaman di sini. Jika ada apa-apa, kau boleh meminta bantuan butler. Yah, aku hanya ingin menyampaikan itu. Karena aku harus bekerja. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih. Sampai jumpa."
Setelah sambutan tuan besar Akashi yang cukup panjang dan aku belum mengucapkan sepatah kata pun, tuan besar Akashi sudah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan ini, diikuti oleh supir pribadinya.
"Midorima-san, sebentar lagi butler akan menghampirimu, dia yang akan menemani anda untuk menjaga tuan muda. Saya permisi dulu." Ucap supir itu sebelum berjalan lebih jauh, lalu membungkuk sopan sebelum melanjutkan langkahnya.
Dengan sangat terpaksa, aku harus menunggu hingga sepuluh menit sampai akhirnya seorang yang disebut butler datang menghampiriku.
"Maaf, tuan. Saya terlambat, apa-" Ucapnya tiba-tiba dan tiba-tiba berhenti juga.
Aku langsung menengok ke sumber suara, aku mendapati seorang pria bersurai hitam legam dengan poni belah tengah, mengenakam baju khas ala butler. Mataku terbelalak kaget,
"Takao! Apa yang kau lakukan di sini?" Jujur aku terkejut setengah mati.
"Lantas, kau juga sedang apa di sini, Shin-chan?!" Ternyata kami berdua sama terkejutnya.
Takao Kazunari, temanku semasa SMA. Kami saling kenal dan dekat karena satu klub, klub basket.
"Takao, aku dengar kau sedang menjalankan bisnis, lalu kenapa kau di sini?" Aku bertanya kembali, penasaran.
"Kau juga sedang bertugas di rumah sakit kan, Shin-chan? Kenapa kau ada di sini?" Dan kami berdua sama penasarannya.
"Sudahlah, Takao. Jawab dulu pertanyaanku." Aku menuntut penjelasan. Padahal itu antara penting dan tidak sih.
Takao menghela nafas lelah, "baiklah, aku mengalah. Aku memang punya bisnis, tapi bukan aku yang menjalankan. Aku hanya mengawasi dan memberi modal. Aku hampir sama persis dengan pengangguran. Aku tidak suka diam saja. Aku lihat ada lowongan kerja di gedung perusahaan Akashi. Aku kira aku akan bekerja sebagai apa, tak tahunya aku berakhir seperti ini."
Jelasnya panjang lebar dan aku hanya bersweatdrop saat mendengar 'alasan' kenapa dia ada di sini. Dia mau bilang kalau itu jebakan, begitu?
"Kalau kau tinggal di sini, bagaimana kau mengawasi jalannya bisnismu?" Aku malah ingin bertanya lebih lanjut.
"Akashi-san memberi kebijakan kepadaku untuk tetap leluasa memonitor bisnisku." Dia tersenyum sangat lebar di akhir kalimat. Ia memang tidak banyak berubah.
"Sekarang giliranmu, Shin-chan. Kenapa kau bisa ada di sini? Setahuku di sini tidak ada yang sedang sakit." Gantian, ia yang menuntut penjelasan.
Aku membetulkan posisi kacamataku yang agak merosot. "Aku ditugaskan oleh Akashi-san untuk merawat putranya yang sedang 'sakit'."
"Putra? Maksudmu, Sei-chan? Ohh.. jadi begitu, aku mengerti sekarang. Mari, aku antar untuk melihat keadaannya."
Aku dan Takao langsung pergi meninggalkan ruangan ini menuju entah kemana. Aku melihat kesana kemari, rumah ini tidak terlalu penuh dengan furnitur. Mungkin karena ukuran rumah yang terlalu luas, memberi kesan sepi pada rumah ini.
"Takao, apa kau sendiri yang membereskan rumah seluas ini?" Aku bertanya kembali di tengah perjalanan.
"Tentu saja tidak. Akashi-san menyewa banyak jasa, seperti petugas kebersihan dan tukang kebun. Yang tinggal di sini, hanya Akashi-san, Sei-chan, aku, chef, dan supir pribadi Akashi-san. Yang lainnya hanya bekerja pada pagi hari saja, lalu pulang saat pekerjaannya selesai."
"Aku pikir di rumah ini dihuni banyak pelayan layaknya rumah bangsawan."
"Dulunya memang iya. Tapi, Sei-chan tidak suka jika banyak orang yang tak dikenalnya berkeliaran di rumah. Jika petugas kebersihan dan tukang kebun datang untuk kerja, mereka akan bekerja saat Sei-chan masih terlelap, dan pulang sebelum Sei-chan bangun."
Akhirnya kami berhenti di depan sebuah pintu. Tanpa babibu lagi, Takao langsung menggeser pintu itu. Menampilkan sosok bocah bersurai merah dengan manik ruby yang menghiasi. Ia tampak sedang menikmati segelas teh hangat, sambil menghadap halaman yang ada di belakangnya.
"Sei-chan, doktermu sudah datang." Ucap Takao dan langsung mengalihkan perhatian si bocah scarlet.
"Aku tidak panggil dokter, bukan? Bawa pulang saja lagi sana." Ucapnya ketus lalu berbalik membelakangi kami lagi.
Perempatan muncul di dahiku. Anak ini memang kelewat kurang ajar. Tanpa menghiraukan perkataannya aku langsung duduk di seberangnya dengan sebuah meja yang menjadi penghalang.
"Bagaimana kabarmu, Akashi? Kau sudah tidak apa-apa?" Aku melihat perban masih melilit di lehernya.
"Takao-san? Kau mengjakku bicara? Aku mendengar suara aneh." Bukannya menjawab ia malah mengalihkan pembicaraan dan pura-pura tidak melihatku.
Takao sweatdrop di sana, "sebenarnya yang mengajak Sei-chan bicara adalah Midorima-sensei..."
"Oh, begitu ya? Maaf aku tidak melihatmu karena kau terlalu besar."
Perempatan kedua muncul di bagian dahi ku yang lain. Anak ini...
"Akashi, aku bertanya bagaimana keadaanmu. Aku lihat perban itu masih melilit di sana."
"Lalu kenapa? Kau ingin membukakannya? Oh, baiknya..." ucapnya dengan nada riang yang terlalu dibuat-buat.
Lalu, Takao menghampiriku yang sudah terbakar emosi dan berbisik, "Shin-chan, sepertinya Sei-chan sedang tidak ingin diganggu. Lebih baik kita tinggalkan saja dia."
"Ya, aku sedang bosan." Akashi berucap tiba-tiba, tentu kami langsung menatapnya heran.
"Kalian di sini untuk menjagaku, kan? Kalau begitu berguna lah untukku. Aku ingin main, kalian harus temani aku main."
Permintaan yang kekanak-kanakan. Tanpa melihat reaksi aku dan Takao yang masih bingung, Akashi langsung beranjak dari posisi semula dan berjalan keluar ruangan.
"Untuk apa kalian diam di sana, ayo cepat ikuti aku!"
Mendengar nada yang memerintah dari tuan mudanya, Takao langsung refleks berdiri dan mengikutinya. Aku pun menyusul di belakang.
Aku dan Takao di bawa ke halaman belakang oleh Akashi. Dan aku baru menyadari, rumah ini terlalu luas. Di halaman belakangnya terdapat taman dan ada sebuah labirin buatan. Ia terus melangkah sampai berhenti di depan labirin tersebut.
"Kita main paintball. Peraturannya mudah. Di tengah labirin ini ada pohon rindang di sana, kita berlomba siapa yang paling cepat sampai sana sambil tembak-menembak. Siapa yang paling banyak kena tembakan dan lelet sampai ke tengah, dia kalah. Kalian berdua, aku sendiri." Jelasnya panjang lebar.
Sebelum memulai permainan, kami mengenakan sebuah baju khusus layaknya baju anti peluru. Setelah itu, kami langsung bersiap di depan labirin itu.
"Aku ke kiri dan kalian ke kanan. 1... 2... 3...!"
Setelah hitungan ketiga, kami langsung masuk ke dalam labirin itu. Sesuai 'keinginannya' kami masuk lewat sisi kanan.
"Shin-chan, jujur saja. Aku sudah pernah main ini sebelumnya, tapi aku masih tidak hapal jalan labirin ini." Takao tiba-tiba bersuara dengan nada penuh ketidakpastian.
"Tenang saja, ini hanya labirin. Tidak terlalu luas pula."
CTAK!
Aku mendengar suara tembakan dan, "Shin-chan, aku kena satu..."
"Bocah sialan..." aku langsung berbalik dan menembaki si bocah scarlet itu, sayangnya tidak kena semua.
Hal itu terus terjadi hingga beberapa menit kemudian dan terus seperti itu. Akashi berhasil melayangkan tembakannya kepada aku dan Takao, tapi salah satu dari kami tidak ada yang berhasil mengenainya.
Hingga sudah tiga puluh menit berjalan, kami menemukan juga pohon yang di maksud bocah itu. Anehnya tidak siapa-siapa selain aku dan Takao.
"Apa artinya kita menang?" Ucapku pelan sambil melihat sekitar.
"Aku rasa tidak, karena Sei-chan itu-"
Belum selesai Takao bicara, salah satu kaki ku dan Takao terikat lalu tertarik ke atas. Alhasil kami bergelantungan di pohon dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.
"Lama sekali kalian. Aku sudah di sini sejak sepuluh menit yang lalu!" Terdengar suara menyebalkan itu. Akashi muncul dari balik pohon.
Aku hanya melihatinya dengan sabar yang terlalu dipaksakan. Aku melihat ke bajunya, tak ada bekas tembakan. Kalau begini artinya kita kalah telak!
"Kalian bukan lawan yang menyenangkan, membosankan."
"Lalu apa maksudmu membuat jebakan ini?" Habis sudah kesabaranku.
"Untuk membuktikan, bahwa aku sampai lebih dulu daripada kalian!"
Tiba-tiba, seorang pria dengan baju ala chef datang menghampiri kami bertiga. Apa artinya sudah masuk makan siang?
"Maaf, Tuan muda, anda kedatangan tamu. Karena, Takao-san ada di sini, jadi terpaksa saya yang harus menerima tamu." Ucap pria itu.
"Siapa tamunya?" Tanya Akashi.
"Saya tidak tahu, tapi rambutnya aneh, berwarna silver."
'Silver..? Ah, jangan bilang...!'
.
.
.
To be continued.
haaaiii! saya apdet lagi kaan?! maaf ya pending kelewatan
saya ingin meluruskan satu hal. ada kesalahan di chapter dua itu sebenernya musim semi ya bukan musim panas. maaf atas kesalahan author yang telat mikir.
terima kasih untuk kalian yang sudah baca dan menunggu kelanjutan ceritanya, semoga kalian puas ya!
sampai bertemu di chapter berikutnya!
Ja~
