'Apa-apaa ini...?' Batin seorang remaja laki-laki bersurai silver dengan manik kelabu.
Di depannya berdiri seorang pria yang lebih tua darinya, bersurai hijau lumut dan mengenakan kacamata berframe hitam yang membentengi manik emeraldnya. Mereka saling bertatapan acuh tak acuh.
"Ada apa kemari, Mayuzumi-senpai?" Tanya bocah bersurai merah yang berdiri di antara dua pria itu.
"Aku kemari untuk melihat keadaanmu. Aku dengar kau pulang ke Tokyo." Jelas pemuda bersurai silver itu yang dipanggil Mayuzumi, Mayuzumi Chihiro.
"Oh, begitu. Tidak apa jika Mayuzumi-senpai yang berkunjung. Soalnya daritadi tidak ada orang, aku kesepian." Ucap si bocah scarlet dengan nada sedih yang terlalu dibuat-buat.
'Cih.. bocah ini...!' Si hijau lumut pun membatin geram. Padahal dirinya lah yang paling dulu sampai di sini, ternyata kehadirannya tak dianggap sedaritadi.
"Kalau begitu, kita ke ruang memanah saja. Takao-san akan mengambilkan minum untukmu." Bocah scarlet itu sedikit menengok ke arah pria bersurai hitam dengan pakaian ala butler, "Takao-san, tolong ya." Ia tersenyum tipis di akhir kalimat.
Sebelum meninggalkan tuan mudanya pria yang dipanggil Takao itu membungkuk sopan lalu berjalan pergi menuju dapur.
Mereka mulai berjalan menuju ruangan yang dimaksud oleh bocah scarlet tadi.
"Hei, Sensei, sedang apa kau di sini?" Tanya Mayuzumi kepada pria bersurai hijau lumut yang berjalan di sampingnya.
"Aku rasa itu bukan urusanmu. Tenang saja, aku di sini karena tugas." Jawab pria bersurai hijau lumut itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
Sampai di ruangan yang dimaksud, mereka langsung disuguhi pemandangan halaman yang luas. Ruangan itu langsung tersambung dengan sebuah halaman luas. Sekitar tujuh meter dari ruangan itu, terdapat sebuah sasaran yang biasanya dipakai untuk olahraga panahan.
"Akashi, kau ingin mengajak kami bermain panahan?" Tanya Mayuzumi kepada bocah scarlet bernama Akashi Seijuro.
"Tidak, aku ingin mengajak kalian bermain bola basket." Ucap bocah scarlet itu dengan serius.
Pria bersurai lumut dan pemuda bersurai silver itu sweatdrop. Jelas-jelas itu tempat untuk panahan dan tidak ada ring basket. Mayuzumi makin yakin Akashi sudah fruatasi.
"Tidak. Aku serius. Kita akan bermain bola basket. Lapangannya ada di sebelah sana." Ucap Akashi untuk lebih meyakinkan lagi.
Ternyata, oh ternyata, lapangan basket yang dimaksud, bersebelahan dengan lapangan panahan. Sontak kedua pria itu langsung bergumam 'Ohh..' dalam hati.
Langsung saja mereka bertiga menuju lapangan yang dimaksud. Mereka bersiap untuk bermain basket. Tak lama kemudian, Takao datang dengan dua gelas minuman yang terlihat segar.
"Takao-san harus ikut main juga. Kita main two on two." Pinta Akashi dan langsung dibalas anggukan oleh Takao.
Pria bersurai lumut itu semakin sweatdrop. Bagaimana pun juga, sudah hampir lima tahun ia tidak memegang bola basket. Salahkan dirinya yang memilih jalur ke dunia kedokteran.
"Ayo, Shin-chan! Tunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya." Ucap Takao berniat menyemangati pria bersurai lumut itu.
"Takao, aku pasti akan kalah."
"Kau tak perlu bilang, aku juga sudah tahu hasilnya, Midorima-sensei." Ucap Akashi terdengar meremehkan.
Tentu pria berlumut bernama Midorima itu, tidak rela direndahkan oleh bocah ingusan macam dia. Ingatlah Midorima, Akashi sudah tidak ingusan.
Akhirnya, pertandingan dimulai. Akashi satu tim dengan Mayuzumi dan Takao dengan Midorima. Pertandingan berjalan dari suasana dingin lalu menjadi panas dan semakin panas. Tak disangka, ternyata gerakan dokter kita ini masih gesit seperti waktu muda.
Hingga empat puluh menit berjalan, pertandingan pun dimenangkan oleh Akashi dan Mayuzumi! Omedetou! Nah, sekarang kalian tidak lupa kan bagaimana absolutnya Akashi kita ini.
Seusai pertandingan, mereka beristirahat di ruang panahan sambil menikmati minuman segar yang diambilkan oleh Takao.
"Takao, gerakanmu terlihat masih lancar tanpa ada cacat sedikitpun. Kau masih bermain basket?" Tanya Midorima di sela-sela santai-santai nya.
Takao mengangguk, "ya, setiap akhir pekan, tidak jarang Sei-chan pulang ke Tokyo, lalu mengajakku one on one dengannya. Dia bocah tangguh ya." Ucap Takao yang semakin lama semakin berbisik.
"Akashi, bagaimana dengan luka di lehermu? Apa sudah sembuh?" Tanya Mayuzumi.
"Um, sepertinya sudah sembuh. Karena Midorima-sensei datang untuk membuka perbanku." Jawab Akashi dengan percaya diri.
Perempatan imajiner muncul di kening Midorima. "Aku datang untuk menjagamu, bukan untuk melepas perbanmu."
Takao hanya tersenyum tipis melihat hubunga 'dokter-pasien' yang sedang rukun di depannya ini. Ia melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang, waktunya makan siang, pikirnya.
"Ah, ini waktunya makan siang. Aku akan memberitahu chef untuk membuat makan siang dan menyiapkan ruang makan. Tunggu sebentar ya." Takao segera beranjak dan berjalan meninggalkan ruangan, diikuti Midorima di belakangnya.
"Shin-chan, kenapa kau mengikutiku? Itu hobi baru mu?" Tanya Takao sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak, aku hanya ingin mendinginkan kepalaku saja." Midorima menjawab dengan ekspresi menahan emosi.
Takao sweatdrop, tapi tak melarangnya untuk mengikutinya ke ruang makan.
.
"Akashi... aku yakin kau punya bantal atau semacamnya.." ucap Mayuzumi sambil menutupi rona di pipinya.
Tentu saja, bagaimana Mayuzumi tidak merona seperti itu, Akashi dengan seenak jidat menggunakan paha Mayuzumi sebaga bantalnya.
"Tapi, bantalnya tidak ada di sini. Aku malas mengambilnya."
Kalau dilihat-lihat dari wajah bocah scarlet ini, sepertinya ada sesuatu yang ditahannya. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Terbiasa dengan sifat Akashi yang seperti itu, Mayuzumi hanya menghela nafas.
"Baiklah, kali ini apa masalahmu?" Tanya Mayuzumi sambil mengelus surai merah itu dengan lembut.
"Kenapa Midorima-sensei ada di sini? Kalau begini aku jadi tidak bisa melupakannya dan hanya menyakitiku saja." Akashi tampak menikmati perlakuan Mayuzumi.
"Kenapa kau tidak tanya saja?"
"Tidak mau, pasti jawabannya hanya karena ini suruhan ayahmu atau apalah. Lain kali, jawablah seperti 'aku ingin berada di sampingmu' begitu." Akashi mengubah posisi rebahannya.
Mayuzumi sweatdrop setengah mati. 'Anak ini benar-benar serius ya?', "sudahlah, Akashi. Aku sudah bilang kan, kau tidak boleh egois. Dia sudah punya tunangan."
"Memangnya kenapa kalau sudah punya tunangan. Ditinggalkan saja juga tidak apa-apa, kan?"
'Kau gila, Akashi.', "yah, tapi tidak semudah itu, Akashi. Sudahlah, sekali ini saja sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanmu." Ia mencoba menasihati bocah ini.
"Hidup ini sudah berjalan tidak sesuai dengan keinginanku. Apa artinya aku tidak boleh memiliki keinginan yang terkabul?" Akashi bangkit dari posisinya dan menatap Mayuzumi dengan mata yang berair, tetap saja tatapannya tajam.
Mayuzumi kembali menghela nafas dan mencoba untuk tenang. "Lalu, apa yang kau inginkan?" Tanya Mayuzumi sambil kembali mengusap surai merah itu dengan sayang.
"Aku ingin... kehangatan seperti ibuku..."
.
Takao tampak sedang mempersiapkan berbagai peralatan makan, mulai dari sumpit, sendok, dan garpu. Tak lupa menyiapkan mangkuk untuk nasi dan gelas. Sedangkan, Midorima sedang duduk tak jelas memikirkan sesuatu.
"Shin-chan, jangan melamun, nanti makhluk halus datang. Atau kau sedang memikirkan Sei-chan?" Ucap Takao di sela-sela kegiatannya.
"Ya, aku sedang memikirkan Akashi. Kenapa bocah itu tampak sangat benci kepadaku. Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang salah." Jelas Midorima.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Takao ikut duduk bersama Midorima, di sampingnya. "Apa, Shin-chan tertarik untuk mengetahui Sei-chan lebih dalam lagi?"
Midorima menatap Takao heran. "Apa maksudmu, Takao?"
"Seminggu yang lalu, hari minggu, Sei-chan sempat pulang kemari. Wajahnya tampak sangat bahagia menurut pengelihatanku. Sei-chan tak jarang berbagi cerita denganku. Ia bercerita bahwa ia baru saja bertemu orang yang spesial. Sepertinya, orang itu adalah kau ya, Shin-chan?"
Midorima terdiam sejenak mencerna perkataan Takao. Kemarin juga, Akashi sudah menyatakan perasaannya. Tapi ia tolak mentah-mentah. Ia merasa bersalah juga sih, tapi itu bukan kesalahan sepenuhnya, kan?
Belum sempat Midorima merespon Takao, tiba-tiba chef datang ke dalam ruang makan membawakan makan siang. Takao langsung beranjak dan menuju ruangan tempat Akashi dan tamunya berada, memanggil mereka untuk segera makan siang.
Lalu, mereka minus Takao, mulai menyantap makan siang dengan damai tanpa ada pembicaraan sedikitpun.
.
Tokyo, 17.45.
Midorima pun pamit pulang dari rumah keluarga Akashi. Seingatnya, amanat dari tuan besar Akashi, ia boleh pulang jika sudah sore. Lagipula, ia juga tidak betah lama-lama di sini. Bisa-bisa ia berkelahi sungguhan dengan Akashi. Mayuzumi pun juga ikut pamit untuk pulang.
Akashi kembali sendirian, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Lebih baik ia berada di kamar terus, daripada bertemu dengan makhluk scarlet yang lainnya-ayahnya.
.
Tokyo, 20.09.
Waktunya makan malam. Midorima melihat jam di ponselnya, sekaligus melihat pesan masuk dari tunangannya. Ia baru ingat hari ini ia ada janji makan malam dengan tunangannya. Sebenarnya, tidak jarang Midorima makan malam bersama, tapi rasanya ia selalu senang.
Segera mungkin ia bersiap-siap dan langsung pergi menuju restoran yang menjadi tempat janjian mereka.
.
Di kediaman Akashi, makan malam juga berjalan sangat sunyi. Tanpa ada obrolan sedikit pun antara ayah dan anak bersurai merah ini.
Setelah menghabiskan makanannya, Akashi langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu. "Aku ingin keluar sebentar."
"Seijuro, jangan bikin keributan di tengah kota."
Omongan itu hanya dibalas dengusan oleh Akashi. Akashi melanjutkan langkahnya kembali keluar rumah.
Kebetulan rumahnya tak begitu jauh dari pusat kota, sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki selama lima belas menit. Ini memang kebiasaan Akashi. Jika ia sedang berada di Tokyo, ia suka jalan-jalan malam demi menghindari ocehan ayahnya. Hitung-hitung sekalian cuci mata.
Di perjalanannya menyusuri trotoar yang lumayan ramai orang, ia melihat seorang wanita yang sepertinya pernah ia temui. Ia terus memfokuskan diri kepada wanita yang berjalan di trotoar seberangnya. Wanita bersurai cokelat panjang itu, Akashi benar-benar akan selalu mengingat sosok itu. Dia adalah tunangan Midorima.
Ia berjalan hendak menyebrangi jalan raya, berniat ke trotoar yang ada di seberangnya dan menghampiri wanita itu.
Tapi, ia kalah cepat. Wanita itu tiba-tiba dicegat oleh seorang laki-laki. Wanita itu langsung menyiratkan kepanikan. Laki-laki itu menarik tunangan Midorima ke sebuah gang sempit dan gelap. Akashi langsung tergerak untuk menghampiri wanita itu lebih cepat.
Setelah menemukan gang yang dimaksud, betapa terkejutnya Akashi melihat wanita itu terbaring tak berdaya di tanah. Akashi langsung mendekat dan berusaha membangunkan wanita itu. Sayang, wanita itu tak sadarkan diri.
Setelah ia teliti lagi, dari ujung kepala hingga ujung kaki, ia mendapati luka menganga di perut sebelah kiri wanita itu. Akashi langsung panik setengah mati. Akalnya langsung bertentangan satu sama lain, antara ingin menolongnya atau meninggalkannya.
"Akashi, apa yang-" suara yang sangat Akashi kenal terdengar dari belakangnya, dan tiba-tiba terpotong begitu saja.
Akashi menengokkan wajahnya ke belakang dengan ragu, ia mendapati Midorima dengan wajah yang sangat shock. Pikiran Akashi semakin buntu.
"Midorima-sensei... kau tahu... ini bukan aku. Aku bersumpah." Ucap Akashi dengan air muka yang sangat panik.
Wajah Akashi seakan tak bisa menipu Midorima. "Kau pikir aku tidak tahu setelah melihat ini?! Dasar anak sakit jiwa! Kau gila!" Bentak Midorima yang terdengar sangat marah.
Midorima berlutut di samping tunangannya. Ia memeriksa pernafasan dan detak jantung sang wanita. Berfungsi. Wanita ini masih hidup, ia hanya pingsan.
"Midorima-sensei... kita harus segera memanggil ambulans." Akashi mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang bergetar. Ia menekan tombol nomor telepon darurat dengan susah payah.
Midorima langsung melempar ponsel Akashi dan melototi Akashi dengan begitu kejam. Seakan sudah tak termaafkan lagi. "Pergi sekarang dari sini! Beruntung kau, kalau dia masih hidup!"
"Midorima-sensei, tapi ini bukan aku! Sungguh! Aku bersumpah!" Akashi menegaskan, ia menarik-narik baju Midorima berharap mendapat pemakluman.
Midorima langsung menepis tangan Akashi, lalu menampar pipinya dengan sangat keras hingga membiru. "Jangan sentuh aku bocah gila! Pergi sana! Aku tidak akan pernah datang kepadamu lagi!" Midorima pun kembali membentak bocah yang ada di hadapannya.
Akashi tak punya pilihan lain, selain meninggalkan TKP, berlari sekencang mungkin menuju rumahnya.
.
"Tadaima... Sei-chan.. Sei-chan?! Astaga ada apa dengan wajahmu? Kenapa memar begitu?" Akashi langsung disambut oleh Takao sesampainya di rumah. Sontak Takao terkejut melihat keadaan Akashi babak belur.
Mendengar suara Takao yang lumayan keras, cukup mengundang ayahnya untuk menghampiri keberadaan mereka. "Seijuro, apa lagi yang kau perbuat? Kau berkelahi sampai babak belur begini?" Tanya ayahnya dengan nada tinggi.
Akashi terlihat tak bisa membendung emosinya lagi, melihat itu Takao langsung bertindak. "Akashi-sama, saya permisi dulu, saya akan mengantar Sei-chan ke kamarnya." Takao langsung membungkuk sopan dan mengundurkan diri dari hadapan ayah Akashi, menuntun tuan mudanya menuju kamar pribadi.
Tak disadari, Takao sudah menjadi maid dadakan bagi Akashi. Ia menyiapkan tempat tidur tuan muda, membantunya berganti pakaian, sampai membaringkannya ke tempat tidur. Akashi persis orang lumpuh saja.
Takao serasa diterjang badai. Ia keluar dari kamar tuan mudanya dengan langkah terburu-buru, lalu datang kembali dengan kotak obat di tangannya. Akashi menatapnya heran, perasaan Akashi tidak habis jatuh dari sepeda.
Takao langsung mengeluarkan segumpal kapas, lalu menyemprotkan kapas itu dengan sebuah cairan, obat khusus untuk memar. Setelah itu, ditempelkan ke pipi Akashi yang memar dengan hati-hati.
"Sei-chan.. sebenarnya apa yang terjadi? Kau habis berkelahi?" Tanya Takao di sela-sela kegiatannya.
Akashi tidak menjawab dan hanya diam menatap langit-langit kamarnya.
"Seharusnya, kalau Sei-chan ada masalah ceritakan saja padaku, tak biasanya kau seperti ini." Takao kembali berucap dengan nada khawatir.
Akashi masih enggan menjawab. Ia malah memutar posisi tubuhnya membelakangi Takao. Kegiatan Takao pun terhenti karena gerakan tuan mudanya sendiri.
"Keluar, Takao-san.. aku tidak ingin diganggu." Ucap Akashi dengan suara pelan. Takao nyaris tak mendengar.
"Apa yang kau katakan, Sei-chan?" Tiba-tiba suara Takao meninggi, dan meninggikan tensi darah Akashi juga.
Akashi langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menarik Takao keluar dari kamarnya dengan paksa "Aku bilang, aku sedang tidak ingin diganggu!" Teriak Akashi, lalu membanting pintu kamarnya.
.
.
.
2 months later.
Tahun ajaran baru sudah hampir satu bulan berlangsung. Di kelas 2 - 3, SMA Rakuzan, ada satu anak yang tak hadir hampir sebulan ini. Tak jarang guru-guru mengkhawatirkan keberadaannya. Setiap dihubungi keluarganya, mereka hanya bilang kalau anak yang bersangkutan sedang sakit penyakitnya kumat lagi, sehingga berhalangan hadir.
Penyakit kumat boleh saja, tapi tidak sampai satu bulan, kan?
.
Kediaman Akashi.
"Sei-chan... kau belum menyentuh makan siangmu. Nanti kalau kau sakit bagaimana?" Seorang pria bersurai hitam berbelah tengah dengan pakaian ala butler, tengah mengetuk sebuah pintu dan memanggil seseorang yang ada di dalam.
Jawabannya pun, tak ada. Pria itu sudah mengetuk pintu sejak sepuluh menit lalu. Namun hasilnya, tetap tak ada respon.
"Aku masuk ya, Sei-chan?" Izin pria itu sebelum menggeser pintu bercorak itu.
Kebetulan yang menguntungkan, pintu itu tak pernah dikunci, seakan tidak membatasi orang lain untuk masuk ke dalam ruangannya.
Setelah pintu terbuka, pria itu mendapati seorang anak laki-laki dengan surai merah yang tengah melamun di depan jendela. Menerawang apa yang ada di kejauhan tanpa henti. Dan inilah yang selalu ia dapatkan setiap masuk ke ruangan ini.
"Sei-chan, ayo kita makan dulu. Pasti Sei-chan lapar, kan?" Bujuk kembali pria itu.
Ia meletakkan baki berisi makanan di atas kotatsu pribadi milik bocah merah tersebut. Lagi-lagi bocah itu hanya diam, seakan memang di dunia ini hanya dirinya lah yang tersisa, tak ada yang lain.
"Sei-chan-"
"Keluar, Takao-san... tolong jangan ganggu aku." Bocah merah itu akhirnya bersuara.
Pinta yang begitu absolut, sangat sulit untuk di bantah. Pria yang dipanggil Takao itupun segera berjalan keluar ruangan dengan rasa kecewa. Bagaimana tuan mudanya bisa betah di kamar hampir satu bulan?
.
Keesokan harinya, kediaman Akashi kedatangan seorang tamu. Tamu tersebut memiliki surai silver dengan manik kelabu, memiliki perawakan tinggi.
Setelah menekan tombol bel rumah ia dipersilahkan masuk. Seorang butler yang kita ketahui bernama Takao menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Mayuzumi-san." Ucapnya sambil membungkuk.
"Takao-san, bagaimana keadaannya?" Tanya pemuda bernama Mayuzumi itu kepada si butler.
Takao hanya memberi gelengan atas pertanyaan Mayuzumi. Mayuzumi semakin memperlihatkan wajah sedihnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Tanya kembali si kelabu.
Takao menggeleng sejenak. "Maaf, jujur saja saya juga tidak tahu. Sei-chan masih belum mau berbicara."
"Bawa aku kepadanya."
Takao segera mengantarkan Mayuzumi ke kamar tuan mudanya. Sampai di depan pintu, ketukan pintu Takao tak digubris sama sekali. 'Lagi-lagi ini yang terjadi', batinnya.
"Sei-chan kau kedatangan tamu." Ucap Takao memberitahu kepada empunya.
Lagi-lagi tak ada respon. Ah, ini sudah terlalu biasa.
"Akashi, keluarlah. Apa yang kau lakukan sih?" Ucap Mayuzumi dengan suara yang menahan amarah.
Baginya, apa yang dilakukan oleh bocah scarlet ini adalah suatu hal yang bodoh. Padahal orang yang bersangkutan pintarnya luar binasa, kenapa bisa melakukan hal konyol seperti ini?
"Apa pintunya dikunci?" Tanya Mayuzumi.
"Tidak." Takao menjawab.
Tanpa ragu dan tanpa seizin empunya, Mayuzumi langsung membuka pintu itu. Ia mendapati bocah scarlet itu berada di tempat tidurnya. Tanpa ragu pula, ia berjalan mendekat.
"Akashi, aku tahu kau tidak tidur. Berhentilah bersikap bodoh seperti ini." Mayuzumi memilih duduk di tepi ranjang sang bocah.
"Siapa yang sebenarnya bodoh? Aku atau 'dia'?" Si scarlet itu akhirnya merespon.
" 'dia'?" Mayuzumi menaikkan sebelah alisnya, heran. "Siapa yang kau maksud, Akashi?"
"Sampai kapapun aku katakan, kau tidak akan pernah mengerti."
"Bagaimana aku ingin mengerti jika kau tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Sudah cukup, Akashi. Perlakuan sudah kelewat batas."
Akashi langsung bangkit dari posisi berbaringnya, menghadap Mayuzumi dan melempar tatapan tajam bagai belati. "Keluar, Mayuzumi-senpai. Aku sedang tidak ingin diganggu. Takao-san, aku sudah bilang, aku tidak ingin diganggu, kan?" Perintahnya.
"Kau tidak berhak memerintahku dalam keadaan seperti ini, Akashi. Aku tidak akan keluar sampai kau ingin mengatakan apa yang terjadi padamu!" Tanpa rasa takut dan merinding sekalipun, ia balik memerintah Akashi yang notabene sangat absolut.
"Memangnya siapa yang berwenang di sini? Kau atau aku?!"
Akhirnya terjadi adu mulut yang sangat sengit. Tak ada satupun yang mengalah. Pada akhirnya, Takao terpaksa harus turun tangan menghentikan pertandingan seru mereka.
"Sudah, sudah, Mayuzumi-san. Ini memang salahku tidak memperingatimu agar tidak masuk ke sini." Takao mencoba melerai.
"Kenapa jadi salahmu? Jelas-jelas bocah bodoh ini lah yang salah. Sudah tahu ada masalah malah diam saja, kau punya mulut tidak?!" Tensi Mayuzumi pun meledak.
"Mayuzumi-senpai, kalau kau memang ingin mati muda, kau bilang saja. Biar aku bantu kematianmu sampa pemakamannya."
"Tidak usah sok mengalihkan pembicaraan, Akashi. Leluconmu itu tidak pernah lucu."
Sebuah tamparan memdarat di pipi Mayuzumi. Takao yang melihat kejadian itu, tentu terkejut sampai lupa mengatupkan mulutnya. Mayuzumi pun langsung berhenti melontarkan kalimat.
"Kalau aku bilang keluar, ya keluar..." suara pelaku tamparan itu terdengar serak.
Mayuzumi melihat dengan jelas, Akashi seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang sangat sulit dijelaskan, sampai-sampai matanya berair.
Mayzumi mengalah. Ia segera meninggalkan Akashi sendiri di kamarnya, diikuti oleh Takao.
"Maafkan aku, Mayuzumi-san. Kau jadi..."
"Ini bukan salahmu, Takao-san. Aku mengerti. Sepertinya ia sedang memendam sesuatu."
Hari sudah semakin gelap. Mayuzumi memutuskan untuk segera pulang ke apartmennya.
Mendengar masalah mengenai Akashi yang tidak kunjung kembali ke Kyoto, membuatnya banting stir masuk ke universitas di Tokyo. Ia ingin sekali mencari tahu apa yang terjadi dengan Akashi.
Akhirnya sebuah ide brilian muncul di otaknya. 'Sepertinya aku harus bertanya kepada dokter lumut itu..', pikirnya.
.
.
.
To be continued.
Hai hai haaaii~ saya apdet kan? Ada yang nungguin banget banget ga? Ga ya? Ya udah gapapa wkwk
Sekali lagi author hanya ingin berterima kasih kepada readers-tachi ya sudah (mau) membaca fic ini. Sungguh author sangat bersyukur masih ada yang mau baca fic ini. Author berencana untuk menamatkan fic ini di chapter kelima. Tadinya kan maunya cuma tiga, ternyata ga cukup. Yowis maunya sampe empat, ternyata ga cukup juga. Maaf yah?
Kalau begitu, sampai bertemu di chapter berikutnya!
Ja~
