Sekali ini saja!
Disclaimer : Masashi Kishimoto, kalau aku yang punya Hinata aku jadikan Hokagenya XD Ups.
Pair : Sasuhina Slight Sasukarin
Genre : Family & Hurt/Comfort
Rated : T+ SEMI M (karena ada adegan yang mungkin ga layak dilihat anak kecil , MINIMAL UMUR 16 TAHUN DI ATAS)
Warning : Abal-abal, Semi Canon, OOC, Typo (s), kata-kata ada yang vulgar xD, mungkin banyak kekurangan yang lain.
Summary : sekali ini saja cuma kata yang ku harapkan saat ini. Semoga aku mendapatkan harapan itu darimu. Hanya dirimu. Ku cintai dan mencintaiku, suamiku.
DON'T LIKE! DON'T READ!
DON'T LIKE! DON'T READ!
DON'T LIKE! DON'T READ!
SUDAH SAYA PERINGATKAN LHO!
####
Happy reading…
,
,
,
Sasuke berjalan melompat dari atap ke atap sambil mencoba mengenyahkan fikirannya tentang apa yang ia fikirkan siapa `Hime` itu. Itu hanya membuat ia pusing dan kepalanya pecah.
Tak terasa terlihat gedung Hokage di depannya, Sasuke melompat turun. Ia memang berniat ingin datang kesini.
Dan ia memasuki gedung, di dalam ia bertemu ninja-ninja lain yang berkumpul. Walau ada yang sempat menyapa Sasuke, tapi ia sama sekali mengacuhkan sapaan semua orang dan berjalan semakin cepat. Benar-benar orang yang anti-sosial, itu mungkin yang diucapakan semua yang ada disitu.
'Apa-apaan Uchiha itu chh, sombong sekali. Hinata, kau tak akan bahagia bersamanya.' Pria bertato segtiga di pipi menatap punggung Sasuke dengan pandangan sulit diartikan.
"Yoo! Kiba apa yang kau lakukan disini!" Suara cempreng dari seseorang mengagetkan Kiba.
Refleks Kiba langsung menoleh ke arah datangnya sumber suara itu.
'Pria duren, dia sama saja seperti dia.' Dengus Kiba dalam hati.
Dialah Naruto Namikaze, pria berambut kuning yang berkelakuan layaknya pembuat onar tingkah konyolnya. Walau sekarang Kiba dan ninja mengakui kalau kekuatan Naruto sudah bertambah kuat lagi. Itu sungguh membuatnya diam-diam iri. Sungguh tidak adil, kenapa bukan dia yang bertambah kuat.
"Apa?" Ujar Kiba ketus.
"Ehh ada apa gaya bicaramu itu?" Naruto menunjukkan ekspresi bingungnya.
"Entah." Kiba yang berada disitu langsung ingin beranjak menyusul Sasuke. Ia ingin membicarakan sesuatu padanya.
"Hoy kiba!" Naruto kesal karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dia pun ingin mengejar Kiba. Tapi sebelum ia sempat melangkah Kiba berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ini bukan saatnya kau ikut campur." Kata Kiba dingin kepada Naruto.
'Kenapa Kiba seperti itu?' Batin Naruto khawatir.
Melihat ekspresi Naruto, Kiba hanya mampu tertawa miris.
'Tidak peka.' Ejek Kiba dalam hati.
"Ini ada hubungannya dengan Hinata, jadi kau tak usah ikut campur."
DEGDEGDEG
'Hinata.' Naruto membeku untuk beberapa saat. Dan Kiba setelah mengucapkan itu langsung melenggang pergi.
Naruto memandang sendu ke bawah, ia memang bukan siapa-siapa Hinata, tapi ada suatu rasa yang mengganjal perasaan Naruto. Naruto tau kalau selama ini Hinata menyukainya, walau dahulu ia berfikir Hinata hanya kagum padanya.
Itu membuat Naruto tersanjung untuk beberapa saat, namun tak dapat dipungkiri kalau Naruto sudah memiliki seseorang yang ia sangat cintai yaitu Sakura. Dan perasaan Naruto ke Hinata cuma rasa sayang kakak kepada adiknya.
'Mungkin saja.'
.
.
.
"Hm, masuklah." Suara wanita dari dalam ruangan yang bertuliskan 'RUANGAN HOKAGE', sudah sangat jelas dia itu Tsunade.
Sasuke yang mendengar ia diizinkan masuk, langsung membuka pintu dan berjalan ke arah Tsunade.
"Ooh Sasuke.. Kau sudah datang rupanya." Tsunade memandang Sasuke.
'Seperti biasa dia langsung menemuiku tanpa berkumpul dengan ninja lain.' Tsunade menghela nafas dalam hati. —Sungguh kapan kau akan bisa terbuka dengan yang lain Sasuke.
"Aku tidak ingin basa-basi. Misi apa yang akan aku dapatkan?" Kata Sasuke dingin.
"Haah misi ya?—Tsunade memangku tangannya di meja kerjanya— Kau baru saja menikah dan pasti tadi malam kau sudah ehm—Tsunade melihat ke arah Sasuke, dan wajahnya masih tetap sama. Datar. Hmm dasar apa semua Uchiha itu terbuat dari robot—"
Sasuke masih diam dan menunggu kelanjutan ucapan Tsunade.
'Benar-benar anak yang sulit diajak bicara. Sabar-sabar.' Tsunade mengelus kepalanya.
"Kau akan dapat cuti dari pengambilan misi, kau kan tau kau barusaja menikah. Kalau masalah uang kau tak perlu khawatir. Penyimpanan uang dari sisa Clan Uchiha masih banyak. Kau bisa menggunakannya." Tsunade kembali menjadi tegas.
"Hn. Aku pergi—" Saat Sasuke berbalik dan berhenti karena ucapan dari Tsunade.
"Tunggu aku belum selesai bicara. Tapi sebelum kau cuti. Aku memerintahkanmu untuk melepaskan tahanan di ruang bawah tanah yang terdapat mantra segel untuk bisa membukanya. Dan aku ingin kau membukanya. Kau tau dia adalah rekanmu dulu, Karin."
Sasuke membelalakkan matanya.
'Karin, Himeku.'
"Hm dengan senang hati."
Tsunade yang mendengar suara Sasuke tercengang. Kalau dilihat Sasuke biasa-biasa saja. Tapi terlihat dari nada suaranya terlihat jelas kalau Sasuke senang sekali dengan apa yang dikatakan Tsunade.
Dan tanpa Tsunade tau Sasuke mulai menampakan senyum tulusnya. Ada kerinduan dengan Himenya itu yang dirasakan Sasuke. Walau sedikit rasa aneh di dalam hatinya. Tapi dia enyahkan fikiran itu.
.
.
Kiba melihat itu semua dari awal sampai akhir pembicaraan Tsunade dan Sasuke. Bahkan saat Sasuke terlihat tersenyum ia melihatnya.
'Sebenarnya apa yang membuatnya senang? Apa cuma karena Karin? Dia kan rekan Sasuke dulu? Ada hubungan apa Sasuke dengannya?' Muncul banyak pertanyaan di benak Kiba.
Awalnya ia ingin bicara bagaimana keadaan Hinata dan apakah Hinata bahagia menikah dengan Sasuke, ia urungkan.
Kiba mempunyai hal menarik yang ingin dia ketahui siapa itu Karin yang dapat membuat Sasuke yang dingin menjadi tersenyum.
Saat rasanya Sasuke akan keluar, Kiba cepat-cepat pergi bersembunyi dan akan mengikuti kemanapun Sasuke pergi.
.
.
Hari mulai larut malam. Hinata yang masih memakai apron menyajikan makan malam di meja makan. Ia menyiapkan kare hangat dan pancake empuk yang menggoda setiap orang untuk memakannya.
Ia menata sedemikian rupa meja makan itu dengan baik. Senyum mengembang di wajah Hinata.
'Sempurna.'
Hinata tidak sabar menunggu Sasuke datang dan memakan semua makanannya. Tentunya ia menunggu bahwa Sasuke sedikit saja mengomentari bagaimana masakannya. Setelah ia puas menyiapkan itu semua, ia melihat dirinya sendiri— Lumayan kotor.
'Sepertinya aku harus membersihkan diri, dan aku akan menyiapkan air panas untuk Sasuke mandi.'
Hinata berjalan sambil bersenandung.
'Apa yang sedang dilakukan Sasuke-kun yahh.' Hinata menatap langit-langit kamar mandi sambil menerawang jauh.
.
.
.
Segel yang ada di penjara itu terbuka dengan mantra yang diucapkan Sasuke. Wanita bersurai merah keluar dari dalam dengan menampakkan senyuman lebarnya dan Sasuke tersenyum tipis menanggapi itu semua.
Kiba yang melihat itu semua hanya mampu menahan kesal, apa-apaan sikap Sasuke sialan itu.
Kiba menatap aneh seorang wanita itu sekarang bergelayut manja memegang tangan Sasuke.
Wajah Kiba sekarang memerah kesal.
Bukankah Sasuke sekarang sudah memiliki Hinata, untuk apa ia bermesra-mesraan dengan wanita lain.
'Kalau tidak salah wanita itu bernama Karin. Dia yang pernah melukai Hinata padahal Hinata telah menolong Sasuke dan dengan seenaknya mengambil jubah yang Hinata kenakan. Aku harus memberitahukan ini ke Hinata. Hinata harus tau bagaimana sikap Sasuke di belakangnya. Aku tidak akan membiarkan Hinata terluka kembali.'
Kiba beranjak pergi dan meloncati atap-atap dengan mulut berkomat-kamit mengucapkan sumpah serapahnya kepada Sasuke.
.
.
.
"Sasuke-kun.." Ucap manja Karin pada Sasuke.
"Hn."
'Sepertinya aku merasa ada orang yang mengikutiku. Tapi siapa?' Sasuke menatap sekeliling, tapi ia tak melihat apapun yang mencurigakan.
"Kau menyebalkan Sasuke-kun." Karin melepaskan genggamannya dari tangan Sasuke kesal.
Sasuke tersadar bahwa sedari tadi ia menghiraukan keberadaan Himenya.
Sasuke melihat Karin sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mendengus dan perlahan memajukan dirinya ke arah Karin— Memberikannya sedikit hiburan dengan mengecup pelan bibirnya.
Karin yang mendapatkan ciuman itu hanya mampu bersorak dalam hati dan memeluk Sasuke erat. Ia juga membalas Sasuke dengan menggigit pelan bibir bawah Sasuke.
Lumatan demi lumatan mereka lakukan.
Hingga suatu waktu mereka membutuhkan oksigen untuk beberapa saat karena terlalu lama menahan nafas di sela ciuman penuh gairah itu.
Sasuke menjauhkan bibirnya dan menimbulkan saliva tipis menetes.
Sasuke menatap wajah Karin dalam.
'Hinata.'
Bayangan wajah Hinata menatapnya sendu melintas di fikirannya.
Sasuke hampir lupa bahwa ia juga pernah mencium Hinata dan yang lebih penting apa yang telah ia lakukan pada Karin membuktikan bahwa ia bukanlah seorang suami yang baik.
Hinata yang tidak tahu menahu soal Karin dan bagaimana hubungannya, yah walaupun tak pernah Sasuke mengucapkan pada Karin kalau akan dijadikan kekasih, tapi tetap saja perilaku yang terlihat mereka seperti seoran pasangan. Itu salah Sasuke yang tidak memberi tahu ataukah Hinata yang tidak bertanya.
Karin sadar tak ada lagi ciuman yang diberikan Sasuke padanya. Ia membuka matanya, melihat Sasuke terlihat memikirkan sesuatu.
Dan sesuatu apakah yang membuatnya sekali lagi mencuekannya.
'Apa ada yang salah? Aku sudah menjadi Himenya? Apa ada Hime yang lain?'
"Sasuke-kun." Ucapan Karin yang ketus kembali menyadarkan lamunan Sasuke.
"Gomen." Sasuke menatap Karin dengan kosong.
'Ada apa dengan perasaanku. Kenapa aku malah memikirkannya? Hinata—'
Sasuke melepaskan rangkulannya dari Karin.
"Aku akan pergi." Sasuke melompat menjauh dari Karin.
'Ch, apa-apaan dia.' Karin berkacak pinggang sambil membetulkan letak kacamatanya yang sepertinya merosot.
"Ehm dan tunggu.— SUIGETSU! Apa-apa'an dirimu sembunyi di balik pohon dari tadi?" Dibalik pohon? Pasti kalian bingung? Yah sedari awal sebenarnya bukan hanya Kiba yang mengintip mereka berdua tapi Suigetsu juga.
"Hehehe iseng." Jawab Suigetsu dengan suara cemprengnya.
"..."
Hening untuk beberapa saat karena yang biasanya mengoceh ya Suigetsu. Tapi sekarang dia diam.
Dan akhirnya dia sedikit bersuara pelan, namun Karin mendengarnya dan hanya mampu menundukan kepalanya.
"Karin, sampai kapan kau menjadi 'dia'. Sasuke menyukaimu karena menganggapmu 'dia'. Apa kau tak sadar? Semua itu kebohongan."
—Disini aku selalu menyukaimu lebih dari dia, Karin.
.
.
.
.
Pembicaraan yang sedari tadi Kiba rangkai saat ia dalam perjalanan menemui Hinata seakan lenyap seketika. Kiba gugup dan tak mampu berkata sepatah katapun sedari tadi.
Ia melihat betapa antusiasnya Hinata membuka pintu, Hinata mengira bahwa ia Sasuke tercintanya. Hinata kecewa karena kejadian sepele itu, tapi kalau Hinata tahu hal yang lebih parah lagi apa Hinata akan lebih kecewa lagi.
Itulah yang difikirkan Kiba.
Hinata yang melihat kelakuan Kiba hanya memandangnya dengan pandangan penuh tanya. Apa ada masalah yang benar-benar berat sampai Kiba seperti ini. Hinata menghendikan bahunya.
"Hinata.." Kiba berucap memecahkan waktu yang sedari tadi mencekam.
"Umm ada apa?" Hinata menatap Kiba dan Kiba hanya mampu menelan ludahnya gugup.
Keringat dingin turun dari kening Kiba.
.
.
Hinata POV
.
.
"Hinata.." Akhirnya Kiba yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Aneh sekali gaya bicaranya.
"Umm ada apa?" Aku menatapnya sekali lagi. Ehm ada apa sebenarnya?
Hinata berdehem.
"Kiba ada masalah apa?" Aku menghela nafas, lelah karena sedari tadi Kiba hanya diam dan diam. Aku menutup mataku dan bersandar di sofa.
"Bagaimana keadaanmu?"
Apa? Bukankah itu tidak terdengar seperti jawaban.
"Ba-baik." Aku menjawabnya walau masih banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku.
"Kau dengan pernikahanmu?" Aku mendadak kembali membuka mataku dan menatapku.
"A-aku baik-baik saja kok, jangan bilang kau kesini kau hanya ingin menanyakan hal itu." Aku mengerucutkan bibirku di hadapannya.
Dia yang melihatku hanya mampu tersenyum walau terlihat seperti agak dipaksakan.
"Emm- aku hanya ingin tau saja. Hinata— Kiba memberi jeda sebentar dengan ucapannya, sedikit menghela nafas berat— sebenarnya Sasuke.."
"Tadaima.."
Suara berat khas seseorang yang ku nanti sedari tadi, yah Sasuke-kun. Aku melihat ke arahnya dengan tersenyum tulus. Akhirnya ia datang juga, syukurlah.
"O-okaeri Sasuke-kun."
Sasuke membalas apa yang ku katakan dengan tersenyum tipis juga.
"Kiba ada disini."
Oh iya ada Kiba. Aku melihat ke arahnya, tidak tau kenapa ada sedikit pancaran amarah dari matanya yang jelas-jelas terlihat olehku dan Sasuke.
Dan tunggu apa yang sebenarnya ia ingin ucapkan tadi, tentang Sasuke. Apa itu penting?
Kiba bangkit dari duduknya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
—Andai kau tahu Hinata, sekali saja—
Aku menatap Sasuke dan tersenyum ke arahnya.
"Mungkin dia sedang ada masalah, kau belum makan? Aku sudah menghangatkan karenya lagi."
"Hn." Dia menjawabnya dengan gumaman, dan aku tak menghiraukan itu. Aku senang karena walau sedikit respon darinya itu tak apa-apa buatku.
.
.
.
Malam ini aku membaringkan tubuhku di sampingnya yang terlihat sudah terlelap. Wajahnya yang tampan dan mukanya yang putih bersih sangat indah terlihat saat dia tidur. Benar-benar tentram, seolah ia bukanlah orang yang selalu terlihat dingin.
Aku membelai wajahnya pelan dan sedikit membenarkan helaian rambutnya yang menutupi wajahnya.
Kau tau Sasuke, pernikahan kita bukan murni keinginanku atau dirimu tapi aku tetap merasa benih-benih cinta muncul di dalam hatiku.
Apa kau juga merasakannya?
"H-hime." Wajah Sasuke menunjukan raut tegang dengan sedikit kerutan di dahinya.
Apa dia mengigau?
"Jangan tinggalkan aku." Sasuke memeluk erat tubuhku, entah aku tak bisa membayangkan semerah apa wajahku sekarang.
Bayangkan Sasuke memeluknya dan kepala Sasuke tepat berada di dadanya.
Aku berharap semoga Sasuke tak bangun mendengar jantungnya berdetak kencang. Aku menggerakan tubuhku gelisah, ini sungguh posisi yang tidak membuatnya nyaman. Walau tak bisa menyangkal aku merasa terbuai dengan wangi Sasuke yang menyeruak masuk di indera penciumannya.
—Ini sungguh memabukkan.
"H-hime.." Suara Sasuke terdengar semakin serak dan aku semakin merasa penasaran Hime? Siapa yang ia maksud itu?
Seingatku Sasuke tidak pernah memanggilnya dengan Sasuke— Kecuali Neji-nii..
Hmm sebaiknya aku tak memikirkan itu. Arrghh ini memusingkan. Mungkin malam ini adalah malam kedua aku tak akan bisa tertidur.
Walau permasalahannya beda, tapi tetap orang yang membuatnya tak nyenyak tetap sama. Sasuke-kun.
.
.
Normal POV
.
.
.
Kiba melamun membayangkan apa yang akan dia katakan jika ia bertemu dengan Hinata nantinya. Dia dengan seenak udelnya pergi tanpa ada satu kata pun terucap.
Ini bukan sepenuhnya salah Kiba kan? Sudah berapa minggu ia tak mengabari Hinata ataupun bertemu dengannya?
Kiba menghembuskan nafas berat, ia memandang akamaru yang sedari tadi ia hiraukan.
"Akamaru.. Kenapa ini begitu rumit ya? Kenapa aku harus mencintai seseorang yang sangat sulit untuk ku raih?" Ujarnya dengan Akamaru yang meng-guk-ria sambil menunjukan raut sedihnya seolah mengerti apa yang sedang Kiba rasakan saat ini.
"Yoo! Kiba.." Suara cempreng khas seseorang berambut duren itu terdengar menyakitkan di telinga Kiba.
"Ch, Naruto ada apa kesini?" Kiba menatap Naruto sinis.
"He-hey tidak baik begitu, jahat sekali!" Naruto menunjukan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Naruto yang melihat Kiba tetap diam akhirnya mengalah untuk bersuara.
"Aku kesini hanya ingin tau bagaimana keadaan Hinata saja." Naruto mengucapkannya dengam nada serius.
"Aku sudah berkata padamu kalau itu bukan urusanmu."
"Emm tunggu aku akan bertanya kepadamu." Kiba melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kau membuat semuanya terlihat memusingkan!" Naruto berteriak.
"Aku tau kau tak suka padaku karena aku tak pernah membalas perasaan Hinata, dan aku berpura-pura tak peka dengan isi hatinya. Dia terlalu baik bagiku, aku sangat menyayanginya— sangat menyayangi Hinata sebagai adikku sendiri. Aku ingin sekali mengatakan itu kepada Hinata dan mengucapkan maaf padanya. Aku tak berniat menggantungkannya."
Tes
Tes
Tes
Air mata mengalir di pipi Naruto.
Kiba yang melihat hal itu terenyuh dan memandang iba Naruto. Sebegitukah iai hati Naruto, tak sepatutnya selama ini Kiba berfikir negatif tentangnya.
"Na-naruto-kun be-begitukah?"
Kiba dan Naruto terkejut akan kehadiran Hinata yang entah sejak kapan sekarang berada tak jauh darinya.
"Hi-hin—" Naruto tercekat, ia tak mampu berkata apapun. Ia memejamkan matanya yang perih karena menangis.
GREEBB
Pelukan hangat, itu yang dirasakan Naruto.
Yah— Hinata memeluk tubuhnya.
Tubuh Hinata bergetar hebat. Dan hati Naruto mulai gelisah.
"Maafkan aku Hinata." Naruto berucap lirih.
"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku malah senang. Akhirnya aku juga sadar selama ini aku hanya menaruh rasa kagum yang berlebihan padamu."
Hinata menatap Naruto dengan tersenyum tulus.
"HUWAAAA!" Teriak Kiba dengan air mata yang entah kalau dimasukan ember, akan menghabiskan sepuluh ember mungkin.
"KALIAN MEMBUATKU TERHARU..."
Kiba berhambur memeluk Naruto dan Hinata dan mereka akhirnya tertawa bersama-sama. Entah suasana yang tadinya mencekam sekarang mulai menghangat lagi.
—Dari kejauhan ada seseorang yang melihat kejadian itu tanpa tau apa yang dibicarakan Naruto, Kiba maupun Hinata.
Terlihat kilasan kecemburuan disana.
Namun entah kenapa ia tak mendekat ke arah mereka yang sedang tertawa itu, dan malah pergi menjauh.
.
.
.
"Hinata sebenarnya apa yang membuatmu datang kesini?" Kiba bertanya diiringi suara 'guk' dari Akamaru.
"Umm" Naruto mengangguk setuju dengan ucapan Kiba.
"Aku hanya ingin bertanya beberapa minggu ini Sasuke melakukan misi dan tak pernah pulang, dan aku kesini untuk meminta bantuan Kiba untuk menemaniku bertanya pada Nyonya Tsunade."
"Teme, pulangnya hari ini. Kau pulang saja mungkin sekarang dia sudah ada di mansionnya."
"Eh begitukah. Arigatou Naruto-kun."
Hinata pergi menjauh.
Sekarang hanya tinggal Kiba dan Naruto.
Dan sekarang mereka dalam inti pembicaran yang sempat tertunda.
"Kiba, apa yang ingin kau tanyakan tadi?"
"Tidak aku hanya ingin tau, apa kau tau hubungan dari Sasuke dan Karin? Saat misi bertiga kita. Kau, Aku dan Hinata. Kau saat akan menemui Sasuke terakhir karena melihat keadaan Hinata, kenapa kau kembali dengan raut aneh? Kau pasti bertemu Karin kan? Orang yang menyakiti Hinata?" Pertanyaan beruntut dari Kiba dilayangkan kepada Naruto.
"Iya aku melihat semuanya, dan aku tau Karin berpura-pura."
"Berpura-pura?" Kiba mendelik dengan ucapan Naruto.
"Ya, menjadi Hinata yang menolong Sasuke."
"Jadi itu yang membuat Sasuke benar-benar terlihat akrab dengan Karin."
"Kapan kau melihat itu?" Naruto menunjukan raut bingungnya.
"Waktu beberapa hari setelah mereka menikah."
"Emm sudahlah kita tak usah ikut campur. Itu rumah tangga mereka."
"Hn." Jawab Kiba ambigu.
'Tapi kalau sampai Sasuke macam-macam sampai menyakiti Hinata, awas saja.
.
.
.
Hinata sampai di mansion Uchiha dengan cepat. Perasaan rindu sudah menggerogoti hatinya. Setelah terakhir ia khawatir keadaan Sasuke saat malam itu memeluknya erat dengan raut yang tak bisa di artikan itu.
Ia benar-benar tak menyangka bahwa Sasuke malah ingin menjalankan misi yang lama dan juga meninggalkannya.
'Bagaimana ekspresi Sasuke melihatnya ya?'
.
.
.
.
To Be Continue~
Ada waktu senggang bentar buat ngelanjutin, makasih buat yang udah review. Itu membuatku tambah semangat publish ini, gomen masih banyak kesalahan karena langsung ketik. Dan sedikit pemeriksaan ulang.
Ini ceritanya agak ku ulas masalahnya, buat chap selanjutnya momennya full buat rumah tangga Hinata ma Sasuke.
Masih minat untuk RnR?
