Sekali ini saja!

Disclaimer : Masashi Kishimoto, kalau aku yang punya Hinata aku jadikan Hokagenya XD Ups.

Pair : Sasuhina Slight Sasukarin

Genre : Family & Hurt/Comfort

Rated : T+ SEMI M (karena ada adegan yang mungkin ga layak dilihat anak kecil , MINIMAL UMUR 16 TAHUN DI ATAS)

Warning : Abal-abal, Semi Canon, OOC, Typo (s), kata-kata ada yang vulgar xD, mungkin banyak kekurangan yang lain.

Summary : sekali ini saja cuma kata yang ku harapkan saat ini. Semoga aku mendapatkan harapan itu darimu. Hanya dirimu. Ku cintai dan mencintaiku, suamiku. Ini chap terakhir!

DON'T LIKE! DON'T READ!

DON'T LIKE! DON'T READ!

DON'T LIKE! DON'T READ!

SUDAH SAYA PERINGATKAN LHO!

Chapter lalu,

Hinata sampai di mansion Uchiha dengan cepat. Perasaan rindu sudah menggerogoti hatinya. Setelah terakhir ia khawatir keadaan Sasuke saat malam itu memeluknya erat dengan raut yang tak bisa di artikan itu.

Ia benar-benar tak menyangka bahwa Sasuke malah ingin menjalankan misi yang lama dan juga meninggalkannya.

'Bagaimana ekspresi Sasuke saat melihatnya ya?'

####

Happy reading…

.

.

.

Hinata membuka pintu itu pelan. Sambil pandangannya menulusuri seisi ruangan.

"T-tadaima…" Hinata mengucapkannya pelan.

"..."

Tak ada sahutan sama sekali, Hinata melihat bahwa di dalam tidak ada siapapun.

'Bukankah ia sudah pulang.' Batin Hinata dalam hati sambil tersenyum miris.

'Mungkin ia sedang melakukan hal penting dan tidak cepat-cepat pulang.'

Ia menyemangati dirinya sendiri dan mencoba mengenyahkan fikiran yang tidak-tidak di otaknya.

'Yossh, ganbatte Hinata.'

Hinata tersenyum tulus.

—Terasa tangan Hinata dipegang oleh seseorang.

Mungkinkah- "Sasuke."

Yah ternyata benar, yang memegang tangannya saat ini adalah Sasuke.

Sontak Hinata refleks memeluk Sasuke erat.

GREBB

Hinata membenamkan kepalanya di dada bidang Sasuke yang tertutupi oleh kain, entah seperti apa mukanya saat ini. Hinata merasa aliran darahnya mengalir sampai kepalanya dan dadanya berdegup kencang. Tapi ia tak ingin pingsan pada saat-saat seperti ini.

"Sasuke-kun aku merindukanmu."

Sasuke yang merasa kehangatan mengalir dari tubuh Hinata yang sekarang sudah berada dipelukannya.

Bukan pelukan manja atau posesif yang ia rasakan, seperti biasanya yang sering Karin lakukan padanya.

Pelukan ini, pelukan sayang yang nyaman dan tentram.

Sasuke mulai menggerakan tangannya untuk membalas pelukan dari Hinata.

'DEG'

Tiba-tiba tangan Sasuke berhenti untuk membalas pelukan Hinata.

'Kenapa aku malah seperti ini jika bersama Hinata?'

Hati Sasuke terenyuh karena kerinduan Hinata padanya. Tapi apa hanya karena itu Sasuke terbuai.

SET—

Tarikan kencang di tangan Hinata membuat ia merintih kesakitan.

Bukan tangan kuat dari Sasuke yang memperlakukannya seperti ini, melainkan seorang wanita yang sekarang menatapnya dengan tatapan kejamnya. Seperti sekarang ia akan dapat membunuh Hinata saja.

"Karin—Ahh.."

Karin mendorong tubuh Hinata hingga ia terjatuh, itu sih yang diinginkan Karin. Namun bukannya jatuh malah Hinata sekarang menumpukan badannya pada Sasuke yang sekarang berada di belakang Hinata.

Hinata tersenyum tipis, Sasuke masih mau menolongnya. Itu berarti secara tidak langsung Sasuke masih mempunyai sedikit perasaan pada Hinata kan. Ia sadar sesuatu , pernikahan ini memang bukan kemauan dirinya dan Sasuke. Jadi wajar kalau memang Sasuke sudah memiliki kekasih sebelum ia menjadi suaminya.

'Yah mungkin Karin kekasih Sasuke.' Dada Hinata sesak seketika.

"Sasuke-kun!"

Sekarang Karin merangkul tangan Sasuke dan membawa Sasuke sedikit menjauh dari Hinata.

Sedari tadi Sasuke hanya diam, menatap Hinata dengan pandangan yang memang sulit untuk diartikan.

Karin memandang Sasuke dan Hinata berulang-ulang, terbersit rasa iri karena hanya begitu Hinata mampu membuat Sasuke tak bergeming dan melihat ke arahnya terus.

"B-beraninya kau memeluk SASUKE KU, dasar jalang!" Karin menekankan kata 'Sasuke ku' dengan nada yang sedikit bergetar.

Hinata melihat ke arah Karin dengan pandangan iba. Ia bisa melihat sebegitu besar rasa cintanya pada Sasuke. Tapi ia tak menutup kemungkinan bahwa ia juga mencintai Sasuke. Ia bukanlah sosok yang sangat-sangatlah tegar, ia juga manusia. Yah Hinata juga manusia yang butuh yang namanya cinta.

Hinata tersenyum tulus sambil memejamkan mata.

'Bolehkah untuk saat ini aku egois, karena aku ingin Sasuke selalu ada disampingku selamanya.'

Hinata menarik Sasuke mendekat ke padanya.

"Karin-san sebaiknya Anda pulang. Tidak baik Anda datang mengganggu hubungan pernikahan antara Aku dan Sasuke –kun." Hinata tersenyum tipis, Sasuke tercengang mendengar ucapan Hinata. Dan Karin hanya mampu terbelalak sambil tubuhnya sedikit bergetar.

"K-kau yang mengganggu hubunganku, BAKA!"

Karin hendak ingin menampar Hinata.

Hinata yang merasa tak ada tangan pun yang menampar pipinya. Jadi ia membuka matanya, ternyata tangan Sasukelah yang mencegah Karin melakukan itu padanya.

"Sasuke?" Karin menatap Sasuke dengan mata berkilat-kilat.

'Kenapa Sasuke?'

Sasuke memandang Karin dengan pandangan kosong.

Karin melepaskan tangan Sasuke sambil menitikan air mata dan pergi menjauh.

Tanpa mereka tahu ada dua orang mengawasi mereka saat ini. Satunya melihat dengan bosan dan yang lain hanya mampu mengepalkan tangannya kesal.

.

.

Sasuke masih terdiam setelah sepeninggal dari Karin. Ia masih belum mengerti hatinya sekarang yang terombang-ambing.

Sedangkan Hinata hanya mampu menundukkan kepala. Ia serasa seperti orang jahat melihat kejadian tadi.

"Hinata…" Suara berat Sasuke terdengar mengalun di telinga Hinata.

'Deg!' Tubuh Hinata bergetar. Hinata mengepalkan tangannya berusaha menghilangkan rasa bergetar dari tubuhnya.

Hinata memejamkan mata merasakan matanya sudah mulai panas.

Hinata berfikir apa Sasuke akan memarahinya, akan membentaknya. Atau mungkin tidak akan memaafkan Hinata atas apa yang ia lakukan tadi. Hinata takut, ia tidak bisa terlihat sok tegar seperti tadi. Ia merasa benar-benar takut.

Hinata melihat dengan ekor matanya. Ia melihat tatapan Sasuke yang kosong.

'Sasuke-kun.'

Susah sekali rasanya Hinata menggerakan mulutnya untuk bicara. Seakan-akan jika ia berkata sedikit saja. Air mata yang terbendung mungkin akan segera merembes keluar.

Sasuke yang melihat Hinata menunduk, bukan berarti ia tak tau Hinata sekarang menahan rasa gelisah di hatinya.

Ingin sekali Sasuke bergerak untuk memeluk dan merengkuh Hinata untuk memberikannya sedikit kehangatan darinya. Tapi tubuhnya tak berkutik. Ia masih saja memikirkan Karin sebagai Himenya. Hatinya ragu untuk melakukan itu.

"G-gomen S-sasuke-kun." Hinata akhirnya bersuara, walau terlihat jelas suaranya sangat serak karena air matanya tumpah dengan deras.

Hinata berlari menuju kamar tempat mereka berdua untuk tidur itu sambil menutup mulutnya yang sudah sesenggukan dengan satu tangannya.

Hinata menutup pintu itu pelan, ia memejamkan matanya yang terasa perih.

'Sasuke-kun sama sekali tak beranjak mendekatiku. Dan chakranya makin menjauh.'

Tubuh Hinata bergetar benar-benar hebat. Tubuh yang tadinya terlihat tegap mengatakan dalam hati bahwa Sasuke akan selalu ada di sisinya, sekarang sudah lunglai. Ia tak bisa lagi menumpu tubuhnya yang sekarang merosot di lantai yang dingin.

Hinata memegang dadanya kuat-kuat.

'Kenapa mencintai seseorang itu harus sesakit ini rasanya.'

Kedua kakinya ia rapatkan dan ia memeluk kakinya seolah merasa kedinginan.

Hinata menumpahkan semua air mata yang selama ini ia tahan sepuas hatinya.

.

.

.

'Aku akan memastikan hatiku.' Sasuke pergi melenggang menjauh dari Hinata.

Tanpa Sasuke sadari air matanya menetes dengan sendirinya.

'Kenapa aku merasa sesakit ini.' Sasuke memengang dadanya.

.

.

.

"Kenapa kau tak mengejarnya Sui…" Kata Juugo menatap iba temannya Sui yang sedari tadi mengintai masalah yang dihadapi wanita yang ia amat cintai, Karin.

"Dia butuh waktu untuk sendiri." Sedikit memberi jeda dengan ucapannya. "Aku akan menyadarkannya bahwa mengharapkan cinta Sasuke itu sangatlah sia-sia. Apalagi menggunakan cara seperti itu." Suigetsu menghela nafas berat.

"Hmm..." Juugo sedikit menganggukkan kepalanya dengan keputusan yang akan Suigetsu ambil.

.

.

.

Tap—

Suigetsu yang sedari tadi meloncati pohon, berhenti karena sekarang ada yang sedang menghalangi dirinya untuk terus ke depan. Dia Sasuke yang sekarang sedang menatap Suigetsu dengan serius.

"Yoo~ Sasuke!" Suigetsu menampakkan giginya sambil mencoba tertawa walau terdengar hambar.

"Hn. Aku ingin bicara." Sasuke melihat ada yang aneh dari Suigetsu, karena itu benar-benar sangat terlihat dari gaya dia tertawa. Tidak natural.

Suigetsu balik menatap Sasuke, tidak ada lagi cengiran ataupun senyuman palsunya. Ia sekarang memasang wajah seriusnya juga sambil mendengus.

"Masalah Karin?"

SKAKMAT

Itu benar, Suigetsu hebat sekali kau bisa tau.

Sasuke memejamkan matanya, ia sudah menduga kalau memang Suigetsu akan mengetahui itu.

"Hn." Jawab Sasuke ambigu.

"Apa yang kau ingin tanyakan?"

"Ada yang ia sembunyikan dariku, mungkin." Sasuke berkata dengan datar.

Suigetsu tersenyum miring.

'Ini demi kebaikanmu, Karin.'

"Aku akan menceritakan sesuatu padamu Sasuke. Tapi berjanjilah kau tak akan mengambil tindakan gegabah saat aku sudah mengatakan ini."

Sasuke benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya Suigetsu akan ucapkan padanya tapi itu benar-benar tertutupi dengan wajah tanpa ekspresinya. Dan ia hanya bergumam tak jelas menanggapi Suigetsu.

"Ini awal saat pertama kita akan pindah markas ke desa lain, dan kita dihadang oleh bandit—…"

.

.

Skip time

.

.

Sasuke terkejut dengan semua yang diceritakan oleh Suigetsu padanya. Itu terlihat bahwa tubuh kokohnya menegang.

'Begitukah? Pantas aku ragu saat Karin berkata bahwa ia adalah Hime-nya. Ternyata ia berbohong.'

Sasuke memegang kepalanya gusar.

"Kenapa kau sama sekali tak pernah menceritakan itu padaku." Sasuke berkata dengan dinginnya pada Suigetsu. Aura hitam sudah melingkupi pada sekitar tubuh Sasuke.

"Aku mencintai Karin, dan ia memintaku merahasiakan itu kepadamu. Dengan seperti itu dia mungkin bisa bahagia." Tapi sayangnya tidak- Suigetsu berkata lirih sambil menoleh ke arah samping.

Sasuke terpaku mendengar pengakuan Suigetsu. Ia lupa satu hal selama ini bahwa Suigetsu memanglah terlihat seperti mencintai Karin sejak awal. Itu terbukti karena ia seing sekali menjahilinya. Mungkin itu supaya dia dilihat oleh Karin, tapi nyatanya ia dilupakan. Benar kan?

'Lalu siapa Hime itu?'

"Ku rasa kau sudah tau sejak kau bersamanya." Suigetsu tersenyum sinis.

Sasuke diam mencerna apa yang di ucapkan Suigetsu. Dan walla~ sudah jelas bahwa mungkin Hinata adalah Himenya. Ini tidak dapat dipercaya.

"Kau sudah taukan, si Hyuuga—"

"Dia Uchiha."

Suigetsu melempar pandangan datarnya pada Sasuke.

"Hn."

"Arigatou Sui."

Suasana yang sedari tegang dan serius tiba-tiba berubah karena terlihat Suigetsu memegang perutnya karena kesakitan menahan tawanya.

"Hahaha... Serius, Uchiha yang satu ini bisa berterimakasih. Mungkin aku yang pertama kau ucapi terimakasih ya." Suigetsu menampakan senyum seperti biasa sambil memeletkan lidahnya.

Sasuke mendengus pelan namun akhirnya tetap ia tersenyum tipis. Ia mengerti mengobrol tegang hanya karena masalah wanita itu bukan gaya Suigetsu. Tapi ia tahu bahwa Suigetsu berucap jujur tentang Karin yang bukanlah Himenya, dan satu lagi kejujuran bahwa Suigetsu mencintai Karin.

Sasuke menutup mata, walau terlihat ia angkuh dan dingin seperti ia tak memiliki hati. Sungguh kalau ia menyayangi satu orang wanita mungkin ia akan terus mempertahankan wanita itu. Ia akui ia memang sudah ingin membalas Karin. Hmm~ Entahlah kalau dikatakan kesal Sasuke benar-benar kesal… Mungkin ia bisa saja membunuh Karin dengan mudah kalau ia tak punya akal. Tapi disini Sasuke punya akal jadi dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi ia sepertinya masih dipandang sebelah mata oeh penduduk desa.

Sasuke berjalan mendekati Suigetsu dan menepuk pundaknya. Suigetsu yang sedari tertawa pun berhenti dan balik menatap Sasuke.

"Walau aku sedikit kesal. Jaga dia."

Suigetsu terpana dengan Sasuke yang memang benar-benar mempesona dengan sikapnya yang begitu.

"Yo! Selesaikan dulu urusanmu dengan dia!" Suigetsu memberi semangat pada Sasuke.

.

.

.

Hanya terdengar suara isakan dari dalam ruangan tersebut. Yaah hanya suara itu.

Mata yang sembab, hidung memerah dan sudah banyak jejak-jejak air mata yang masih basah dipipi Hinata.

Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkannya. Sebenarnya ia sudah lelah sedari tadi tapi tetap saja ia ingin terus menangis-menangis dan menangis.

TOKTOKTOK

Suara ketukan pintu terdengar.

TOKTOKTOKTOK

Suara ketukan terdengar lagi, mungkin karena tak ada sahutan dari dalam itu yang membuat orang yang datang itu melakukan hal itu sekali lagi.

Hinata merasakan aura chakra yang sangat ia kenal.

'Kiba? Untuk apa ia kesini?'

Hinata segara mengusap pelan wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Hinata sudah berhenti menangis tapi ia tidak jamin kalau kondisinya saat ini terlihat baik.

Dengan wajah seperti ini mungkin Kiba yang notabene terlalu berlebihan mungkin akan benar-benar mengkhawatirkan Hinata melihat kondisinya yang memprihatinkan.

Hah…

Hinata menghela nafas panjang.

'Mau bagaimana lagi.'

Hinata berdiri dengan sedikit sempoyongan karena kepalanya agak pusing. Hidungnya juga agak mampet. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan ke pintu utama untuk membukakan pintu itu untuk Kiba.

Kriieett

Pintu terbuka menampakan Kiba yang tadinya menampakan senyumnya langsung pudar seketika melihat kondisi Hinata yang benar-benar memang benar berantakan.

"Hinata… Ada apa denganmu?" Kiba memandang Hinata dengan pandangan cemasnya.

Hinata mencoba sedikit tersenyum walau itu mungkin akan terlihat aneh.

"T-tidak apa-apa kok Kiba." Suara Hinata yang serak membuat Kiba berfikiran bahwa Hinata mungkin tadi sedang menangis. Dan faktanya memang benar.

Itu juga terbukti dengan hidungnya yang merah dan mata sembabnya masih ada sisa genangan air, yang pasti itu adalah air mata.

Kiba tersenyum miris.

Kiba mengelus pelan kepala Hinata, sontak Hinata yang mendapat perlakuan itu memerah malu. Jarang sekali Kiba memperlakukannya seperti itu.

"Hmm… Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke?" Kiba menghentikan elusan di kepala Hinata dan menatap Hinata yang sekarang menundukan kepalanya.

Hinata tak balik memandang Kiba. Itu hanya membuatnya semakin tak bisa mengeluarkan kata apapun. Kiba yang selalu berlebihan dengan masalah yang dihadapi Hinata itu kadang membuat Hinata senang karena ia merasa diperhatikan tapi terkadang juga membuat tidak nyaman karena ia seperti salah melangkah sedikit saja pasti akan diceramahi Kiba.

Hinata memandang ke sekeliling.

"A-akamaru kenapa tidak kau ajak?" Hinata berkata dengan gugup, jelas sekali kalau Hinata tidak menginginkan itu dibahas untuk saat ini, namun Kiba tidak menerima hal itu. Ia cukup lelah mengalah dengan perasaannya mungkin ini waktu yang tepat.

"Jangan mengalihkan pembicaraan." Kiba berbicara dengan nada dingin.

Hinata terkejut mendengar perubahan nada bicara Kiba, secara refleks Hinata mendongak. Hinata secara langsung dapat melihat kilatan kekecewaan terpancar di mata Kiba.

Hinata diam tak berkutik. Ia benar-benar tidak mau membicarakan itu, karena dadanya terasa sangat sakit saat mengingat untuk apa ia menumpahkan semua airmatanya.

Kiba melangkah maju ke arah Hinata, aura kelam menyelimuti Kiba dan itu hal yang sangat ia tak sukai. Karena Kiba yang dikenal Hinata tak seperti ini.

Kiba membelai pipi Hinata dengan tangan kanannya dan itu sukses membuat Hinata merinding.

'Apa yang kau fikirkan Kiba?'

Kiba semakin maju dengan seringaiannya dan yang dilakukan Hinata hanya bisa mundur.

"K-kiba…" Terdengar jelas kalau Hinata ketakutan.

"Diamlah, aku lelah Hinata."

Kiba melepaskan jaket yang ia pakai dan terus maju ke arah Hinata dengan cepat.

Hinata yang merasa lampu merah sudah menyala berkali-kali dalam fikirannya, itu berarti sekarang situasi atau saat-saat yang berbahaya.

Hinata hanya mampu mundur dan siap-siap memusatkan chakra ke kedua tangannya dengan bergetar.

"Kau tak akan mampu melukaiku Hinata." Kiba dengan suara dalamnya benar-benar terlihat menyeramkan di mata Hinata.

Hinata menutup mata, memang benar ia tak akan mampu menyerang temannya sendiri. Ia tidak bisa.

"Kau tau aku selalu menyembunyikan perasaanku kepadamu."

Hinata membelalakkan matanya.

'Perasaan. Apa mungkin—'

"Aku selama ini menyukaimu Hinata." Kiba tersenyum senang karena perasaan yang ia simpan terlalu lama telah tersampaikan.

Hinata diam dengan pandangan tak percayanya dengan penuturan yang ia ucapkan.

"Kau tak tau yah…" Kiba tersenyum dan sedikit menjeda ucapannya. "Tidak tau kenapa aku ingin sekali menciummu sekarang."

Kiba maju dengan cepat dan mendorong Hinata yang sedang tidak fokus karena sibuk mencerna apa yang ia ucapkan.

Tak sampai menyentuh lantai karena di belakang Hinata sudah ada tembok dan tangan Kiba berada di belakang pinggang Hinata.

Tak ada gerakan dari Hinata sama sekali.

Kiba tanpa fikir panjang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.

Sudah beberapa senti lagi bibir Kiba menyentuh bibir Hinata.

Kiba membuka matanya dan mendapati Hinata yang mengeluarkan air mata.

'DEG'

Dada Kiba berdentuman.

Kiba menyadari sesuatu yang salah memanipulasi otaknya untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan Hinata.

Kiba menjauhkan badannya dari Hinata dan meremas rambutnya keras.

"Apa yang kulakukan! Argghh !" Kiba menitikkan air mata frustasi.

Hinata membuka matanya dan melihat semua dilema hati yang di alami Kiba.

Hinata membersihkan air matanya dan maju mendekati Kiba.

Grebb..

Pelukan hangat yang ia rasa dari belakang punggungnya berasal dari Hinata.

"Kiba… Aku menyayangimu."

Kiba tersentak dengan ucapan Hinata.

"Tapi maafkan aku, kau adalah teman terbaikku. Kau juga seperti kakak kedua bagiku setelah Neji nii-san. Kau segalanya. Tapi maafkan aku kau carilah wanita yang lebih baik dariku. Carilah wanita yang tidak memiliki suami sepertiku. Carilah yang terbaik." Hinata meghela nafas sambil tersenyum melihat Kiba yang sekarang menoleh ke belakang melihat dirinya.

"Aku bukalah orang yang baik Kiba. Aku ini orang yang telah menghancurkan hubungan sepasang kekasih. Sasuke dan Karin…—Hikss." Hinata tak sanggup melanjutkan kata-katanya, air mata yang tadinya sempat berhenti mengalir kembali. Kiba pun ikut menangis.

"Kau tidak seperti itu Hinata…"

Kiba membalikan posisinya dan sekarang mereka saling berhadapan. Kiba mendekap Hinata menyembunyikan wajah Hinata yang menangis di dadanya yang sekarang hanya terbalut kaos.

Kiba mengeratkan pelukannya dan Hinata bergetar.

"Ini yang terakhir kalinya aku akan melakukan ini. Jadi jangan takut Hinata."

.

.

.

.

"Kiba-kun kenapa kau malah membelikanku ini." Hinata melihat kalung berbandulkan Anjing dari kayu itu. Benar-benar indah dimata Hinata.

"Itu kenang-kenangan. Mungkin sebentar lagi aku akan apat pacar." Kiba sedikit melucu walau terasa garing sih. Tapi Hinata hanya tersenyum melihat Kiba yang kembali seperti biasa walau kejadian tadi benar-benar seram di mata Hinata.

Duk

"I—ittai…" Hinata mengelus kepalanya karena bertubrukan dengan punggung Kiba.

"Kenapa berhenti Kiba?"

Hinata melihat Kiba seperti melihat sesuatu yang membuatnya menahan amarah, terlihat ia mengepalkan tangannya dengan kuat.

Hinata melihat dari kejauhan terlihat muda-mudi yang sepertinya sedang berciuman. Hinata menggelengkan kepalanya, apa mereka tidak punya malu melakukannya di ruang terbuka seperti ini.

Tapi tunggu sebentar Hinata menajamkan penglihatannya tanpa menggunakan Byakugan ia melihat orang yang sedang melakukan itu adalah wanita berambut merah dan pria yang berambut emo—

"Bukankah itu—" Hinata menutup mulutnya.

'DEG'

Matanya yang sudah agak memutih sekarang memerah lagi.

'Mungkinkah itu Sasuke, Karin…'

.

.

.

"Kau s-sudah mengetahuinya Sasuke-kun!" Karin mengatakan itu dengan sedikit tercekat.

Sasuke diam tak menanggapi Karin.

Sebenarnya ia ingin langsung saja pergi tanpa harus menemuinya. Tapi urusannya belum selesai.

"Sasuke-kun aku mencintaimu.. Hiks— Aku melakukan itu karena aku benar-benar tak ingin kehilanganmu." Karin mulai menitikan air mata.

Sasuke mencoba menahan amarahnya, ia tak akan berperilaku yang semakin akan memperkeruh suasana.

"Yang terpenting, berarti hubunganmu sudah berakhir denganmu." Sasuke mengucapkannya dengan sangat dingin di mata Karin.

"T-tapi—Mm…" Karin terkejut karena Sasuke menciumnya. Tidak mungkin itu hanya kecupan yah, karena hanya bibir bertemu bibir saja.

Karin memejamkan mata dan akan membalas itu dengan senang hati. Tapi sepertinya waktu tak berpihak padanya sehingga dengan cepat Sasuke melepaskannya.

"Itu tanda perpisahan kita, tak dipungkiri aku memiliki rasa denganmu." Karin tersenyum senang dengan ucapannya tapi setelah itu— "Ada yang jauh lebih mencintaimu, Suigetsu." Senyum Karin pudar.

Sasuke yang melirik ke arah lain hanya melihat seseorang— hm salah mungkin itu ada dua orang yang tengah berpelukan.

Ch.

Tapi ada yang aneh sepertinya aku kenal, itulah yang ada difikiran Sasuke.

'Hinata dipeluk Kiba.'

Ingat dipeluk.

'DEG'

Sakit sekali rasanya hati Sasuke.

"Aku akan pergi."

Karin berniat akan mencegah Sasuke, tapi nyatanya ada orang yang mencegahnya terlebih dahulu untuk pergi.

"Suigetsu…"

Karin memeluk Suigetsu dan menangis sepuasnya.

"Hiks— Kenapa kau memberitahu Sasuke.."

Karin memukul-mukul badan Suigetsu tapi ia Suigetsu hanya perlahan merangkul Karin dan mengelus kepalanya.

"Kau menyebalkan Sui.." Karin berhenti memukuli Suigetsu dan sekarang memeluknya erat.

Suigetsu tersenyum. 'Sekarang hanya pelampiasan, tak apalah.'

.

.

.

Sasuke melepaskan keduanya dengan paksa. Ia terkejut mendapati Hinata yang sedang menangis sesenggukan, siapa orang yang berani melakukan itu pada Hinata.

"Apa yang terjadi pada Hinata?" Sasuke bertanya kepada Kiba yang sekarang disadari Sasuke sedang memandanginya dengan kilatan membunuh.

"Kau yang membuat Hinata seperti ini, brengsek!" Kiba memukul Sasuke dengan keras sampai mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibir Sasuke.

"Ap— Arghh!" Sekali lagi ia memukul Sasuke dengan menggunakan seluruh tenaganya.

BUAAGHH BUAGGHH

"Hentikan!" Hinata berteriak sambil menangis deras.

"Ku mohon Kiba hentikan, hiks…" Hinata mendekati Sasuke dan segera membawa Sasuke menjauh dari Kiba.

'Apa aku salah Hinata?' Kiba memandang sendu Hinata yang membopong Sasuke.

Bukan hanya itu saja, Hinata memandang Sasuke benar-benar khawatir.

'Sebegitu besarkah cintamu Hinata.'

.

.

.

Dalam perjalanan Sasuke terus memandangi Hinata.

Hinata menyadari itu tapi ia lebih baik mengabaikannya untuk saat ini.

Setelah sampai Hinata segera membawa Sasuke ke dalam.

"Aku akan menyembuhkan lukamu, Sasuke-kun."

Sasuke melihat punggung Hinata menjauh. Sasuke merasa aneh karena sedari tadi Hinata sama sekali menghindari kontak mata darinya.

Hinata membawa mangkuk berisi air dingin dengan handuk kecil.

Hinata duduk sedikit berdekatan dengan Sasuke. Tak ada yang mencoba untuk bersuara saat ini.

Tapi Sasuke tak kuat jika terus menahan semua yang ada difikirannya tadi.

"Apa yang kau lakukan tadi dengan Kiba?"

Hinata sedikit terkejut dengan pertanyaan Sasuke namun ia kembali melanjutkan aktivitasnya.

Menggulung ujung jaketnya dan menekuknya supaya tidak basah. Sepertinya Hinata asyik dengan dunianya sendiri sampai mengabaikan Sasuke.

Sasuke yang benci diabaikan akhirnya ambil suara lagi.

"Untuk apa tadi kau menangis. Jawab pertanyaanku." Sasuke mengatakan itu dengan nada yang sedikit ditinggikan.

Hinata memeras kain yang ia celupkan kedalam mangkuk itu.

"Tidak ada." Hinata terlihat acuh tak acuh menjawab pertanyaan dari Sasuke.

"Apa Kiba yang membuatmu menangis?" Hinata tersenyum miris.

Ia bingung harus senang atau sedih karena sasuke mengkhawatirkannya atau tidak tau alasan ia menangis.

"Tidak." Hinata beralih mengusapkan kain itu di sudut bibir dan pipi Sasuke yang mulai sedikit membiru. Walau aneh seorang Uchiha bisa terluka seperti itu. Dan karena sedari tadi Hinata juga tidak menggunakan jutsu medisnya untuk mengobati luka Sasuke.

Hmm mungkin author tidak sempat memikirkan hal itu.

"Sshh." Sasuke sedikit berdecih kesakitan.

Sasuke memegang tangan Hinata. Hinata bisa merasakan tangan hangat Sasuke yang menggenggamnya erat.

'DEG'

Wajah Hinata memerah dan tidak tau kenapa dadanya tiba-tiba sakit apalagi saat mendengar ucapan Sasuke saat mengatakan.

"Bibirku sakit, jangan ditekan seperti itu."

'Bibir.' Hinata mematung, memori tentang ia melihat kejadian 'itu' terulang lagi bagai kaset rusak.

Sasuke tersentak karena tiba-tiba Hinata menghempaskan tangannya. Mata Hinata mulai berair lagi.

"Hinata."

"Jangan katakan itu Sasuke, hatiku sakit." Hinata menundukan kepalanya tak berani menatap Sasuke sedari awal.

'Mengatakan— Apa?'

'Apa ada yang salah dengan kalimat bibirku sa— Shh bibir. Apa mungkin?'

"Hinata, apa saat itu kau melihat aku…"

Hinata menangis dan menutup mulutnya.

Hinata mendongak mentatap Sasuke dengan air mata yang terus mengalir.

"K-kalau kau memang lebih bahagia dengan Karin, aku— emm.."

Sasuke membungkam mulut Hinata dengan cepat. Ia tak mau kata-kata yang tak mau didengar Sasuke terucap oleh Hinata. Ia tak mau.

Hinata yang terkejut dengan perbuatan Sasuke hanya mampu pasrah karena kekuatan yang ia miliki tak sebanding dengan Sasuke. Dan ia sekarang sangat lelah untuk melakukan pemberontakan pada Sasuke.

Sasuke melepaskan pagutannya.

"Kau salah sangka."

Sasuke mengecup bibir itu sekali lagi.

"Kau tau, yang ku cari selama ini adalah kau Hime." Sasuke memeluk Hinata erat.

"Tapi Karin-san…"

"Jangan bicarakan dirinya." Sasuke membenamkan wajahnya di tengkuk leher Hinata.

Hinata merinding dengan apa yang diperbuat Sasuke.

"Tapi? Sasuke-kun apa maksudmu Hime?"

"Kau pernah menyelamatkanku dulu, dan Karin mengaku menjadi kau." Dengan nada malas Sasuke bercerita membuat Hinata tersenyum tipis.

*Hinata mengingat kembali dimana dia dulu pernah menyelamatkan Missing-in dan saat pergi malah diserang oleh Karin. Dan Missing-in itu Sasuke kan? Ia menanyakan siapa namaku. Karena aku ketakukan tanpa sadar menyebut Hime saja.*

Hinata yang sedari tadi melamun tersadar karena ada gigitan kecil yang ia dapati di lehernya.

Hinata melenguh pelan, dengan merona tipis ia memukul kepala Sasuke pelan. Dan itu mampu membuat Sasuke sedikit menjauh darinya.

Tapi tunggu dulu sejak kapan ia sekarang berada di tengah ranjang dan dia berada di bawah Sasuke.

"Dasar Hentai." Hinata manyun.

"Ku harap itu pujian."

"Hinata."

"Hm ."

"Sekali ini saja beri aku kesempatan untuk berubah. Dan semakin mencintaimu"

Hinata terenyuh dengan penuturan Sasuke. Berubah, tentu saja.

"Iya Sasuke bukan sekali ini saja. Tapi selamanya aku akan mengijinkanmu. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu."

Hinata mengatakan itu dengan pipi yang memerah bak kepiting rebus. Manisnya itu yang ada difikiran Sasuke lho.

Sasuke menoleh ke arah lain dengan semburat tipis di pipinya dan melihat ada sebuah jaket pria yang terletak tak jauh dari sana. Bisa dilihat dari motifnya kalau itu milik Inuzuka Kiba si pencinta anjing itu. Awalnya kesal, tapi—

Sasuke memiliki akal busuk di fikirannya. Dengan menyeringai iblis ia melihat Hinata yang terlihat sebal itu terlihat menggoda.

"Hime, itu jaket siapa. Hm?"

Hinata terkejut Sasuke memanggilnya Hime dan eehhh jaket?

Hinata bengong, berarti Kiba sedari tadi tak memakai jaket. Sulit dipercaya.

"Kiba." Hinata menjawabnya dengan seolah-olah tenang.

"Kalian akan begitu kan?"

Hinata terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu—" Ups, Hinata merutuki mulutnya yang seenak udelnya berkata seperti itu.

Sasuke menyipitkan matanya ada sedikit kecemburuan disana.

'Apa-apaan itu?'

"Kau dihukum istriku." Sasuke mengatakan itu dengan erotis

"KYAAAA! "

"Malam yang indah Hime."

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Author : Akhirnya kelar juga nih fic.. Ckckck

Hinata : Yossh selamat Dewi-chan.. *bersorak*

Sasuke : Sepertinya itu belum END. *berkata dengan dingin*

Hinata : Sudah kok. :p

Sasuke : Kita belum begituan.

Hinata : Dasar hentai!"

Sasuke : Tapi kau suka kan.

Hinata : Tidak!

Sasuke : Mau ku cium?

Hinata : Tidak!

Sasuke : Peluk ?

Hinata : Tidaaakk! *udah mulai sebel*

Sasuke : Mau fic ini END?

Hinata : Tidaaak! E-e ehhhhh— *Hinata memerah*

Sasuke : Ehm. Jangan malu mengakuinya. *mencium pipi Hinata dan menyeretnya ke kamar*

Author : Ane single... *jones*

Kiba : Apa'an gue tetep ga ada pasangan. Semua ada.

Author : Udahlah, ane juga gak ada.

Kiba : Eh masak? *berbinar-binar seneng ada temennya*

Author : Oh ane ada sama Gaara-say... XD

Kiba :ssjdsdgcydsgcydsg *mavok*

.

.

.

.

Hohoho abaikan deh yang diatas ntuh yah..

Makasih buat yang baca, review, favorite, follow, bahkan silent reader sekalipun udah mau baca fic GJ saya. Ini cuma pelampiasan semata kawan... Dan fic ini langsung ku end-in supaya ga numpuk gitu utang ane.. Hoho ohya maap jika ada Typoo, maklum dilihat ulang cuma 3 kali..

Ditrima kritik, saran ataupun flame... XD

Akhir kata salam cinta, 3

Dewi Hyuuchi-Chan