A Super Junior Fanfiction

~My All Is In You~

Pair : Haehyuk/Kyumin/and other official pair.

Warning : Genderswitch, Typo, Bahasa dan tulisan yang tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

.

.

.

~Chapter 12~

Dua jam perjalanan dari bandara Incheon, akhirnya pesawat yang membawa Haehyuk itu mendarat dibandara International Jepang. Ya Donghae memutuskan untuk membawa Eunhyuk ke Jepang, meninggalkan keluarga dan yang lainnya lalu memulai hidup barunya disana bersama keluarga kecilnya.

"Hae? Kita akan tinggal di Jepang?" Tanya Eunhyuk setengah kaget. Bagaimana tidak, menurut perkiraannya Donghae hanya akan membawanya kedaerah lain yang jauh dari Seoul.

Donghae menoleh dan menganggukan kepalanya. "wae?"

Eunhyuk menggelengkan kepalanya dan mempererat pelukannya pada lengan kanan Donghae yang sedari tadi dipeluknya sedari turun dari pesawat saat merasakan udara dingin langsung menyergapnya(?).

"kau kedinginan?"

Eunhyuk kembali menggelengkan kepalanya. Donghae menghentikan langkahnya dan membuat Eunhyuk juga berhenti. Dahi Eunhyuk berkerut tipis saat melihat Donghae membuka jaket tebal miliknya.

"Hae, kau bisa kedinginan nanti jika hanya memakai kaus itu." Eunhyuk menepis jaket yang akan dipakaikan Donghae untuknya karena dia hanya memakai baju panjang tipisnya.

Donghae tetap menaruh jaket tersebut kebahu Eunhyuk. "aku tidak apa-apa kedinginan, asalkan kau dan baby tidak merasa kedinginan chagi."

Eunhyuk sedikit terenyuh juga mendengar ucapan Donghae barusan. Dia mengembangkan senyum dibibir kissablenya. "Gomawo, appa!" Ucap Eunhyuk lalu setelahnya terkikik geli dengan ucapannya sendiri.

Donghae tersenyum dan kembali menyuruh Eunhyuk berjalan keluar dari dalam bandara tersebut.

o0o—

"dimana Eunhyuk sekarang Min?"

Sungmin hanya bisa menundukan wajahnya dan meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Bibirnya kelu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kangin.

"PAPA TANYA DIMANA KAKAKMU SEKARANG?" Amarah yang sedari tadi ditahan Kangin akhirnya keluar juga, Teukie yang berdiri disebelahnya juga tersentak kaget mendengarkan bentakan Kangin tersebut.

"hiks…"

Teukie langsung duduk disebelah Sungmin dan merengkuh tubuh mungil yang bergetar tersebut kedalam pelukannya. Dia tau pasti Sungmin sangat terkejut dan takut mendengarkan bentakan Kangin. Ini pertama kalinya Sungmin melihat Kangin semarah itu padanya.

"Minnie, jawab Mama. Apa kamu tau kemana kakakmu pergi sayang?" Tanya Teukie dengan suara lembutnya sambil mengelus surai kecoklatan milik Sungmin.

Sungmin kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"kalau sampai aku menemukan Eunhyuk bersama namja itu, aku akan bersumpah akan membunuhnya." Ucapnya sambil berlalu.

Sekarang tinggalah Sungmin yang masih menangis didalam pelukan Teukie. "sudah sayang berhenti menangis!" Teukie melepaskan pelukannya pada Sungmin, dia menyeka airmata yang masih mengalir dipipi chubby anaknya tersebut.

"apa kamu tau dimana kakakmu berada sekarang sayang?"

"aku benar-benar gak tau Ma, setelah Hyuk onnie pergi dari taman itu aku tidak tau kemana mereka pergi," Jelasnya.

Teukie mengerutkan dahinya mendengar ucapan Sungmin. "maksudmu 'mereka' pergi apa Min? apa kakakmu pergi bersama dengan Donghae?" Tanya Teukie.

Sungmin mengigit bibir bawahnya saat dia tidak sengaja berujar demikian. "aku gak tau Ma, onnie keluar dibantu oleh seorang Dokter. Sedangkan aku hanya mengalihkan perhatian para bodyguard yang menjaga onnie."

Teukie menghela nafas dan mengelus surai kehitaman Sungmin dengan lembut. "semoga Donghae bisa menjaga onnie -mu dengan baik, Min." Harapnya.

.

.

Eunhyuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru flat yang akan mereka tinggali untuk beberapa saat kedepan. Sebuah flat sederhana yang berada dipinggiran pusat keramaian kota Tokyo.

Flat tersebut hanya terdiri dari beberapa ruangan. Seperti ruang tamu yang hanya ada sebuah meja kecil ditengahnya. Lalu ruangan berikutnya adalah ruang tidur dengan sebuah bed dan sebuah lemari. Dan ruangan terakhir adalah dapur kecil yang berhubungan dengan kamar mandi. Begitu sederhana bukan?

Donghae masuk setelah menyelesaikan masalah administrasi dengan pemilik flat tersebut. Dia memperhatikan Eunhyuk yang sedang melihat rumah sewaan mereka itu.

Setelah meletakan koper serta tas ransel yang cukup besar tersebut dilantai, Donghae berjalan menghampiri Eunhyuk dan memeluknya dari belakang.

"Hae! Kau mengagetkanku!"

Donghae tersenyum mendengar ucapan Eunhyuk yang sedikit berteriak itu. Dia mengeratkan pelukannya pada perut Eunhyuk tanpa berniat menyakiti buah cinta mereka. "maaf, hanya ini yang bisa kita sewa. Aku berjanji akan menyewa flat yang lebih besar jika aku sudah mendapat pekerjaan."

Eunhyuk mengelus lengan Donghae yang masih melingkar dipinggangnya. "tidak apa, asalkan itu denganmu, aku akan baik-baik saja." Ucapnya.

Donghae tersenyum lalu mencium pipi kanan Eunhyuk. "ini sudah sangat larut, kamu perlu istirahat. Baby juga butuh istirahat, ne?" Tangannya mengelus perut Eunhyuk yang sudah agak membuncit itu.

"tapi aku harus membereskan pakaian dulu Hae,"

Donghae menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukannya terhadap Eunhyuk. "besok saja, ini sudah sangat larut. Kau pasti lelah. Ayo." Ucapnya sambil menuntun Eunhyuk berjalan kearah ruang tidur mereka.

Donghae menepuk-nepuk ranjang tersebut dengan pelan, guna membersihkan debu yang mungkin menempel disana. Lalu dia mempersiapkan sebuah bantal yang barusaja diambilnya dari dalam lemari.

"nah sudah rapih. Kajja!" Ucapnya sambil mengisyaratkan Eunhyuk untuk mendekat.

Eunhyuk mengangguk dan mendekat kearah Donghae lalu ikut mendudukan dirinya diatas kasur tepat disamping Donghae.

"ayo tidur." Donghae merebahkan tubuh Eunhyuk lalu menarik selimut yang cukup tebal untuk menyelimuti Eunhyuk.

"kamu mau kemana?" Eunhyuk menahan lengan Donghae yang akan beranjak bangun.

"aku hanya ingin mengecek pintu depan sudah terkunci apa belum."

"jangan lama-lama."

Donghae tersenyum dan mengelus rambut Eunhyuk perlahan. "iya, kau tunggu disini. Aku tidak akan lama." Setelah berujar demikian, Donghae benar-benar beranjak bangun dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Eunhyuk menatap langit-langit flat sederhananya itu. Baru beberapa jam saja dia meninggalkan Korea tetapi dia sudah merasa sangat merindukan keluarganya. Matanya berkaca-kaca memikirkan hal tersebut, apakah dia bisa kembali melihat keluarganya lagi setelah ini?

Derap langkah terdengar mendekat kearahnya, Eunhyuk menyeka airmata yang berhasil lolos dari kedua bola matanya. Dia tidak ingin Donghae merasa menyesal karena telah membawanya pergi.

"hei, kamu benar-benar belum tidur?"

Eunhyuk tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Dia sedikit menggeser tubuhnya agar menyisakan ruang untuk Donghae berbaring disampingnya.

Donghae merebahkan tubuhnya disamping Eunhyuk. Mereka berdua saling menatap dalam diam dan tersenyum satu sama lain.

"kau tau Hyukie, kamu adalah anugerah terindah yang tuhan berikan dikehidupanku." Ucap Donghae sambil mengelus pipi Eunhyuk dengan punggung tangannya.

Rona kemerahan menjalar dipipi Eunhyuk, dia begitu malu sekaligus berdebar mendengar ucapan Donghae barusan. "kau juga, kau adalah pangeran dihidupku." Ucap Eunhyuk.

Tangan Donghae mengelus pipi tirus Eunhyuk dengan lembut. "ini sudah malam, kau harus banyak beristirahat. Ingat, kau masih belum sembuh benar Hyukie."

Eunhyuk menganggukan kepalanya lalu memejamkan kedua mata. "jaljayo Hae,"

o0o0o—

Cahaya matahari mulai merambat masuk kedalam ruang tidur yang didiami oleh Haehyuk. Eunhyuk menyerengitkan dahinya saat sinar matahari menerpa wajahnya, tak lama kemudian matanya terbuka. Senyum tipis nan tulus terpatri indah diwajah cantiknya. Dia banyak berucap syukur kepada Tuhan karena namja yang tertidur dihadapannya ini masih ada didekatnya saat ia membuka matanya.

Eunhyuk mengangkat dengan perlahan tangan Donghae yang masih merangkul dipinggangnya. Dia tidak ingin membangunkan tidur lelap namja yang dikasihinya itu. Kemudian dia turun dari ranjang dan beranjak keluar guna mencari makanan untuk sarapan mereka.

.

.

Donghae mengeliatkan badannya sejenak, tangan kanannya terjulur hendak memeluk tubuh Eunhyuk yang ada disampingnya. Namun alisnya bertautan saat merasakan sisi yang ada disebelahnya itu kosong.

"Hyukie!" Dia langsung turun dari ranjang saat matanya terbuka dia benar-benar tidak mendapati sosok Eunhyuk disana.

Donghae berlari keruang tamu, dia semakin gelisah saja saat tidak mendapati sosok Eunhyuk disana. Dia kembali melangkahkan kakinya kearah dapur. Kelegaan langsung merambat dihatinya saat melihat Eunhyuk yang berdiri memunggunginya kini.

"chagiya," Eunhyuk membalikan badannya saat mendengar suara Donghae. "kau sudah bangun Hae-ah!" Ucapnya.

Donghae mengangguk dan berjalan medekati Eunhyuk lalu memeluknya. "kau ini kenapa Hae-ah?" Eunhyuk sendiri bingung dengan tingkah Donghae saat ini.

"aku tidak menemukanmu saat aku terbangun tadi, aku takut kau pergi meninggalkanku."

Eunhyuk tersenyum dan membalas pelukan Donghae. menyandarkan kepalanya kedada bidang Donghae. "aku tidak akan meninggalkanmu Hae, karena aku mencintaimu."

Donghae mencium pucuk kepala Eunhyuk yang masih bersandar didadanya. "I love you too Hyukie, more than you know."

.

Seoul – South Korea

Audi A5 hitam milik Yunho berjalan membelah jalanan pusat kota dengan kecepatan sedang. Dia memutar setir kemudianya berbelok kearah kiri, kearah jalan yang lebih sepi. Dia menyanggah kepalanya dengan tangan kanan yang disenderkan ke kaca mobil yang tertutup, sedangkan tangan kirinya dia pergunakan untuk menyetir kemudinya.

Wajah tampannya nampak kosong. Hanya ada satu pertanyaan yang ada difikirannya kini. Kemana Eunhyuk pergi?. Kemana wanita pujaannya itu pergi. Dia sudah menyuruh semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Eunhyuk, menyewa detektif dan informan lainnya yang tersebar diseluruh penjuru Korea. Namun sampai detik ini juga, dia belum mendapatkan informasi yang berarti dari anak buahnya.

Entah dia yang tidak terlalu focus atau memang tidak perduli dengan keadaan disekitarnya. Yunho tidak menyadari ada seorang yeoja didepannya yang akan menyebrang jalan.

Suara teriakan yeoja itu seakan membuat Yunho tersadar. Dia segera menginjak rem, dan BRUK…

Yunho segera keluar mobil dengan panic karena dia merasa menabrak yeoja itu. "Ya agasshi, neo gwaenchani?" Tanyanya sambil berjongkok dihadapan yeoja yang baru ditabraknya itu.

"Gwaenchana," Jawabnya tanpa menoleh. Dia berusaha bangun tetapi kakinya terasa sangat sakit. Yeoja itu meringis kecil.

Yunho bisa melihat lutut dan siku kiri yeoja itu tergores dan sedikit mengeluarkan darah. Sepertinya ia terkena aspal. Yunho memegang kedua sisi bahu yeoja itu. "agasshi, aku akan membawamu kerumah sakit."

Yeoja itu mendongak. Matanya membulat saat melihat siapa yang ada dihadapannya kini. Begitu juga Yunho, dia juga sama terkejutnya dengan yeoja yang ditabraknya itu. "kau, Kim Jaejoong?" Gumam Yunho.

"kau mengenalku?"

"nanti akan aku jelaskan, sebaiknya kita cepat kerumah sakit." Yunho membantu Jaejoong berdiri. Jaejoong meringis karena kaki kanannya sangat nyeri jika digerakan.

Yunho memapah Jaejoong yang berjalan pincang-pincang(?) kekursi penumpang. Kemudian dia mengarahkan mobilnya menuju salah satu rumah sakit terdekat.

Setelah beberapa menit, Yunho menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sakit terdekat. Dia keluar dengan tergesa-gesa dan berlari kekursi samping kemudi. Dia memapah Jaejoong dengan perlahan masuk kedalam.

Tiba-tiba seorang perawat menghampiri mereka. "Dokter Kim, anda baik-baik saja? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya perawat tersebut karena melihat Jaejoong dirangkul oleh namja asing. Tak hanya itu siku dan lututnya juga tergores.

"ah aku tidak apa-apa Su-ie, hanya terserempet mobil tadi." Jawabnya.

"kau harus menemui Dokter Shim, ayo lewat sini." Ucap Perawat bername-tagan Kim Junsu itu membimbing Yunho untuk mengikuti langkahnya.

Brak…

Jika orang yang ada didalam adalah manula, mungkin orang tersebut sudah meninggal karena serangan jantung dikarenakan Junsu mendobrak pintu putih itu dengan sangat kuat. Akan tetapi keadaannya tidak seperti itu, disana ada seorang namja berkacamata yang masih cukup muda. Dia sedikit terkejut dengan dobrakan pintu yang dilakukan oleh Junsu.

"ada apa?"

"Dokter Kim tertabrak mobil!"

"mwo?" Namja itu bangkit dari duduknya dan berniat berlari keluar kalau saja Yunho yang sedang memapah Jaejoong masuk kedalam ruangan itu.

"Joongie~ kau tak apa?" Dokter muda itu berjalan menghampiri Jaejoong dan mengambil alih tubuh Jaejoong dari Yunho, setelah itu dia memapah Jaejoong untuk duduk di kasur pasien yang ada didekatnya.

"kenapa bisa seperti ini? kata Junsu kau tertabrak?"

Jaejoong hanya bisa memutar matanya malas. "aku hanya terserempet Shim Changmin, bukan tertabrak." Koreksinya.

"tapi kata lumba-lumba itu—

"Ya! Berhenti mengataiku lumba-lumba kulkas!"

Dokter bernama Shim Changmin itu melotot kearah Junsu dan tanpa sengaja menyenggol kaki Jaejoong yang terkilir hingga membuat yeoja cantik itu menjerit tertahan.

"AW!"

"Ya! Kau kenapa?" Tanya Changmin heran.

Jaejoong menjitak kepala namja kelewat tinggi itu dengan gemas. "kau menyentuh kakiku yang terkilir baboya!"

"ah Mianhae, aku akan mengobatimu. Bisakah kalian berdua keluar?" Pintanya pada Junsu dan Yunho yang sedari tadi berdiam diri.

"siapa dia?" Tanya Yunho pada Junsu saat dirinya benar-benar sudah berada diluar ruangan Changmin.

"siapa dia? Ah maksudmu Shim Changmin?" Yunho menganggukan kepalanya. "dia tunangan Dokter Kim."

Yunho terpaku ditempat. Tunangan. Gumamnya dalam hati.

.

.

Sungmin menyandarkan punggungnya ke bangku taman yang ada dibelakang kampus, matanya yang biasa berbinar cerah itu sedikit meredup. Dia hanya memandang kosong kedepan, dia tidak menyadari Kyuhyun yang berjalan dibelakangnya.

GREP…

Tubuh Sungmin sempat tersentak, namun dia kembali rileks saat menghirup aroma khas namja pencinta game itu.

"ada apa?"

"Hyukie onnie," Kyuhyun menganggukan kepalanya mendengar jawaban Sungmin. Dia sudah mendengar semua kejadian kemarin dari Siwon. Dia melepaskan pelukannya terhadap Sungmin dan memutar lalu duduk tepat disamping yeojanya itu.

Sungmin menyandarkan kepalanya dibahu Kyuhyun saat namja itu duduk disebelahnya. Sedangkan Kyuhyun hanya bisa memeluk yeojachingunya itu.

"Kyu?"

"hm."

"apa aku salah melakukan ini?"

Kyuhyun terdiam sebentar mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Sungmin. "kau merasa bersalah?"

"aku melakukan itu untuk membahagiakan Hyukie onnie, aku tidak sanggup melihatnya tersiksa seperti kemarin karena papa, karena sampai kapanpun papa gak akan pernah mengizinkan Hyukie onnie dan Donghae oppa bersama."

"kenapa Papamu sangat membenci Donghae hyung?" Kyuhyun merasakan kepala Sungmin menggeleng perlahan. "entahlah, itu yang belum pernah kutau alasannya." Jawab Sungmin.

"sudahlah, mungkin suatu saat nanti kau akan tau alasannya. Sekarang, apakah mereka sudah menghubungimu?"

"belum,"

"belum?" Sungmin menganggukan kepalanya.

"aku khawatir Kyu,"

Kyuhyun mengeratkan pelukannya terhadap bahu Sungmin. "apa yang kau khawatirkan?"

Sungmin menghembuskan nafas perlahan. "aku takut Papa menemukan onnie dan oppa! Aku takut Papa melakukan hal nekat pada mereka Kyu,"

"Papamu tak akan sekejam itu pada mereka sayang." Ucap Kyuhyun mencoba menenangkan Sungmin. Dia tau kekasihnya itu sangat menyayangi Eunhyuk melebihi dirinya sendiri.

"aku harap Papa tidak pernah menemukan mereka."

Hening…

Untuk beberapa saat Kyuhyun maupun Sungmin tidak ada yang berniat membuka mulut masing-masing.

"Min, kau melupakan sesuatu?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin menyerengitkan dahinya lalu mengangkat kepalanya dari bahu Kyuhyun. "apa itu?" Tanyanya.

Kyuhyun tersenyum dan mengacak rambut Sungmin perlahan. "cincin pertunangan kita," Jawabnya.

Sungmin menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh rasa bersalah yang membuat Kyuhyun gemas dibuatnya. "santai saja, aku tau kau pasti banyak fikiran belakangan ini." Jelas Kyuhyun memberi pengertian.

Senyum mengembang diwajah cantik Sungmin. "gomawo~"

.

.

"kau yakin akan mencari kerja Hae?"

Donghae menghentikan suapan ke bibirnya saat pertanyaan dilontarkan Eunhyuk padanya. "tentu saja, kita tidak selamanya bergantung pada uang yang kita punya sekarang. Itu tidak akan cukup chagi, terlebih di Tokyo ini."

Eunhyuk menundukan wajahnya. "apa sebaiknya kita kembali ke Seoul lalu—

"cukup! Kita sudah membahas ini bukan? Cukup percaya padaku dan kita bisa melewati ini semua Hyukie,"

Eunhyuk sedikit terkejut saat mendengar nada bicara Donghae yang sedikit membentaknya. Tak terasa airmata sudah menumpuk dikedua matanya dan siap jatuh kapan saja. "i… iya maafkan aku," Ucapnya parau.

Menyadari sikap Eunhyuk yang terkejut dan ingin memangis, Donghae mendekatkan dirinya pada Eunhyuk dan langsung memeluknya, membenamkan wajah Eunhyuk dipundaknya. "Mianhae, aku tidak bermaksud membentakmu." Sesalnya.

Eunhyuk hanya menganggukan kepalanya dalam pelukan Donghae.

Donghae mengelus rambut blonde milik Eunhyuk dengan sayang. Tak sengaja matanya melirik kearah jam yang tertempel di dinding. Jam 7 pagi.

"Hyukie,"

"hm?"

"sepertinya aku harus berangkat sekarang."

Eunhyuk menjauhkan badannya dari Donghae dan melirik kearah jam dinding. Dia menganggukan kepalanya. "berangkatlah,"

"kau tidak apa aku tinggal sendirian kan chagi?"

Eunhyuk tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia bangkit dari duduk lesehannya dan mengambil tas kerja untuk Donghae. Sementara Eunhyuk pergi kekamar, Donghae juga memperbaiki kemejanya.

"Hae-ah."

Donghae mengalihkan pandangannya kearah Eunhyuk. "waeyo?"

Eunhyuk menyerahkan tas selempang itu kepada Donghae. "aku memasukan makanan untuk siangmu nanti. Jangan lupa dimakan."

Senyum merekah dibibir tipis Donghae. "iya. Aku berangkat." Ucapnya sambil mengecup kilat bibir Eunhyuk. "baby, appa berangkat dulu ne?" Tambahnya sambil merunduk dan mencium perut Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum melihat tingkah Donghae lalu mengelus surai lembut itu. "hati-hati dijalan." Ucap Eunhyuk sambil melambaikan tangannya ketika Donghae hendak melangkah keluar.

"kau juga."

Eunhyuk tersenyum sembari mengawasi Donghae yang berjalan menjauh dari flat mereka tinggal. Setelah bayangan Donghae menghilang diujung jalan, Eunhyuk melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam flat sewaannya.

Eunhyuk sedang membuka-buka koper dan tas besar yang mereka bawa guna membereskan dan menyusunnya kedalam lemari, tetapi gerakan tangannya terhenti saat matanya melihat sebuah ponsel yang terselip diantara pakaiannya.

Tangannya menimbang-nimbang ponsel yang ada didalam genggamannya. Setelah itu dia memutuskan menyalakannya sebentar. Guna memberikan kabar pada Siwon. jemarinya dengan lihai mengetik kata perkata yang nanti akan dikirimnya untuk Siwon melalui email. Setelah memastikan emailnya terkirim, dia kembali mematikan ponselnya dan kembali melakukan pekerjaan yang tertunda tadi.

.

.

(untuk percakapan Donghae selagi waktu mencari kerja, anggap aja dia udah lancar bahasa jepang ya.)

"maaf kami tidak ada lowongan pekerjaan." Donghae tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia langsung berjalan keluar dari perusahaan Elektronik tersebut dan kembali menyusuri area perkantoran yang berada dipusat kota Tokyo.

Tak terasa beberapa kali dia masuk-keluar perusahaan dan hasilnya selalu sama. Tidak ada lowongan untuknya.

Matahari semakin terik dan kini berada tepat ditengah bumi. Donghae sedang mendudukan dirinya disebuah bangku yang terdapat ditaman yang ada didekatnya. Dia membuka tasnya dan menemukan sebuah bento dan sebotol air mineral.

Dia tersenyum saat membuka tutup bento itu karena menemukan kata-kata penyemangan didalamnya. Dengan semangat dia melahap nasi goreng kimchi itu hingga habis. "enak sekali." Gumamnya.

.

.

Eunhyuk sudah selesai dengan acara memasaknya. Dia sedang duduk menunggu Donghae pulang didepan flatnya. Dia segera berdiri saat melihat siluet tubuh Donghae dari kejauhan. "Donghae-ah!"

Donghae yang tadi menundukan kepalanya langsung mendongak. Dia tersenyum kearah Eunhyuk dan berjalan semakin dekat kearahnya. "kenapa menunggu diluar?" Tanya Donghae ketika dia benar-benar sudah dihadapan Eunhyuk.

"aku bosan didalam, lagipula sekalian aku menunggumu." Jawab Eunhyuk. "bagaimana?" Tambahnya.

Donghae tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya. "maaf, aku belum mendapatkan pekerjaan." Dari ucapannya mengandung nada penyesalan.

"tidak apa-apa, masih ada besok dan besok lagi." Ucap Eunhyuk sambil tersenyum.

Melihat senyum Eunhyuk yang begitu tulus membuat ia tersenyum juga. "aku akan berusaha lebih giat lagi besok." Janjinya.

Eunhyuk mengangguk dan mengambil alih tas Donghae. "kau mau makan dulu atau mandi? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita?" Tanyanya.

"kita seperti suami istri bukan? Ah, aku ingin cepat-cepat mendapatkan pekerjaan dan menikahimu princess." Ucapan Donghae membuat pipi Eunhyuk merona. Donghae kembali tersenyum ketika melihat rona merah diwajah kekasihnya itu. "kau malu yeobo?" Godanya.

"Hae-ah! Jangan menggodaku!"

Donghae berlari kedalam dan tertawa pelan. Memang Eunhyuk adalah tempat pulang yang nyaman. Didekat yeoja itu membuat semua beban yang dipikulnya lepas begitu saja.

-o0o—

Huft… Donghae menghela nafas pelan saat dirinya berada di jalanan kota Tokyo yang padat, sebenarnya dia sangat lelah karena sudah seharian ini dia berkeliling mencari pekerjaan, akan tetapi satupun tidak didapatnya. Ah, mengingat tanggung jawabnya terhadap Eunhyuk dan calon baby mereka nanti membuatnya kembali bersemangat.

Matanya melirik kearah kerumunan orang-orang yang sama sepertinya(sama-sama mencari pekerjaan) tengah mengantri didepan sebuah perusahaan real estate sepertinya. Dia menepuk bahu seseorang lalu bertanya. "apakah disini menerima lowongan pekerjaan?"

Orang tersebut mengangguk. "ya, kau juga? Semoga kita sama-sama beruntung. salah satu perusahaan multinasional yang sedang sukses belakangan ini."

"kau orang Korea?" Tanya Donghae.

"ya, Lee Sungjin imnida, kau?" Tanya pemuda bernama Lee Sungjin itu sambil mengadahkan lengannya.

Donghae tersenyum dan membalas uluran tangan Sungjin. "Lee Donghae."

"selamat datang sajangnim." Ucapan dari para pegawai kantor tersebut membuat duo Lee itu mengarahkan pandangannya kearah objek yang merupakan sosok penting dalam perusahaan itu.

Seorang yeoja yang masih terlihat cantik diusianya yang tidak muda lagi itu melangkah dengan pasti dan sesekali membalas sapaan kepada pegawainya. Akan tetapi matanya terpaku saat melihat Donghae. "Donghae-ah." Panggilnya pelan.

Semua orang yang ada disana mengerutkan dahinya saat mengetahui bahwa yeoja yang mereka kenal sebagai istri dari pemilik Kim corps. Itu mengenal salah satu diantara para pelamar kerja itu.

Donghae terdiam beberapa saat. Lalu kemudian rahangnya mengeras dan tak lupa tangannya mencengkram tali tasnya dengan erat. Matanya memandang sosok itu dengan datar. "kau." Ucapnya dengan nada yang sungguh dingin dan tidak bersahabat.

.

.

.

To be Continue

Hei hei I'm back again ^^. Hehe. Ini udah berapa lama ya gak update, hmmm kira-kira hampir 7 bulan ya? #plak. Mianhae bukannya mengulur waktu atau apa, mood buat nerusin ff ini tuh naik-turun jadi gak mau ngambil resiko malah gaje jadinya. Readers : ini emang udah GAJE kalii! *pundung dipojokan*.

Oh iya, gimana sama Chapter ini? makin gaje kah? Makin ngeboseninkah? Kritik dan sarannya ditunggu ya. Dah gitu aja deh, see you in next Chapter chinguyaa~

Thanks To : skyMonkey3012 | Anchovy | nurul. | kyukyuhaehae | ressijewelll | choco95 | heeli | anchofishy | Fitri jewel hyukkie | Tania3424 | eunhae25 | Kimberly lavenders | farchanie01 | FISHY LOVE HAE | LQ | Aura Afira | lov3 | HaeSan | zoldyk | |

.

.

.

For last, Review?

-Tania Lee-