A Super Junior Fanfiction

~My All Is In You~

Cast : Haehyuk and other

Warning : Genderswitch. Typos. Gajeness. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

.

.

Preview Chapter

Eunhyuk mengerem sepedanya. Hanya tinggal beberapa kotak susu dan Koran yang harus diantarnya. Dia mengambil dua kotak susu dan selembar Koran lalu meletakannya didepan sebuah pagar. Saat berbalik, alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang berdiri dihadapannya itu.

-PART 14-

"Hae… aaku—" Ucapan Eunhyuk terhenti saat namja itu memeluknya dengan erat. Eunhyuk bisa merasakan deruan nafas Donghae yang tidak teratur. Seperti habis berlari marathon.

"jangan seperti ini lagi, kumohon." Ujar Donghae.

"Hae, maafkan aku. Aku hanya ingin meringankan pekerjaanmu."

Donghae melepaskan pelukannya dan menatap Eunhyuk. "Hyukie, ini tanggung jawabku. Kau hanya perlu menjaga baby. Aku tidak ingin apapun terjadi pada kalian berdua." Eunhyuk meneteskan airmatanya. Donghae begitu menyayangi dirinya dan calon bayi mereka. Sungguh Eunhyuk sangat beruntung memiliki Donghae dalam hidupnya.

"sudah jangan menangis." Donghae menyeka airmata Eunhyuk. "kau hanya perlu diam dan melihatku. Oke?" Donghae berjalan kearah sepeda diparkir dipinggir jalan.

"Hae, aku ingin membantumu." Donghae menoleh dan mengisyaratkan Eunhyuk untuk mendekat.

"baiklah. Kajja!" Eunhyuk tersenyum dan berjalan berdampingan dengan Donghae yang mendorong sepeda. 5 menit kemudian semua susu dan Koran yang ada di sepeda habis. Ternyata melakukan pekerjaan ini terasa lebih ringan jika dilakukan bersama.

"Hae, masih ada waktu kan sebelum mengembalikan sepeda dan daftar ini ke agen?" Tanya Eunhyuk.

Donghae melirik jam tangannya. Ya, masih sisa 20 menit. "waeyo?"

Eunhyuk mengelus perutnya yang terlihat samar karena memakai jaket. "aku ingin berkeliling naik sepeda. Bisakah?" Pintanya. Entahlah, kenapa dia tiba-tiba menginginkan hal itu. Mengidam, eoh?

Donghae menaiki sepedanya lalu mengisyaratkan Eunhyuk untuk duduk dibagian belakang. Perlahan Donghae mulai mengayuh sepedanya untuk sekedar menikmati suasana pagi kota Tokyo yang masih sangat sepi itu.

Eunhyuk tersenyum senang dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Donghae. Yeoja itu menyandarkan kepalanya pada punggung kekasihnya itu.

Tak jauh dari mereka, terlihat sesosok manusia yang memperhatikan mereka dengan mata yang berkaca-kaca.

.

.

Sore hari setelah pekerjaannya di restoran Jepang telah selesai. Masih ada waktu satu jam sebelum dia kembali bekerja di pom bensin. Dia menghitung gaji yang baru saja didapatnya dari Yokohama. Sebuah senyum merekah dibibirnya. "uangnya cukup." Gumamnya.

Dia segera membereskan tasnya dan keluar untuk berpamitan dengan Yokohama ataupun dengan yang lainnya. Dia menyempatkan diri untuk masuk kedalam sebuah toko kecil yang menjual perhiasan.

"selamat datang, anda ingin mencari sesuatu tuan?" Pramuniaga yang membuka pintu untuk Donghae menyapanya dengan ramah. Donghae membalas senyum pramuniaga itu dengan sopan dan mengucapkan apa yang dia inginkan.

o0o—

Donghae membuka pintu rumah sewanya dengan pelan. Jam sudah menunjukan pukul 3 : 15 pagi. Dengan segera dia menutup pintu dan menaruh tas serta paper bag yang dibawanya dengan hati-hati. Dengan langkah pelan, dia masuk kedalam kamarnya dan menemukan Eunhyuk yang terlelap dalam tidurnya.

Donghae menganti bajunya dengan piyama. Lalu namja itu memposisikan dirinya untuk tidur disamping Eunhyuk. Lengan kekarnya terangkat untuk mengelus perut Eunhyuk dari luar selimut yang digunakan kekasihnya itu. "selamat tidur, sayang." Gumamnya.

Kecupan hangat didahi Eunhyuk Donghae berikan sebelum namja itu mulai masuk kedalam dunia mimpi.

.

.

Eunhyuk mengerjapkan matanya berkali-kali saat bias-bias cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar sewanya. Alisnya sedikit mengerut karena tidak menemukan Donghae disampingnya.

Dia melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Jadi, dimana Donghae sekarang?

"Hae?" Panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Eunhyuk duduk diatas kasur. Sedikit heran, apa Donghae sudah berangkat mengantar susu dan Koran? Tapi, biasanya namja itu membangunkannya dulu baru pergi. Lagipula Eunhyuk belum memasak apapun untuk Donghae makan ataupun membawa bekal.

Baru saja dia akan bangkit untuk keluar kamar, Eunhyuk menemukan sebuah paper bag disamping meja nakas, lengkap dengan surat tulisan tangan Donghae.

Pakai yang ada didalamnya dan berdandanlah yang cantik. Aku menunggumu di gereja ujung jalan.

-your love, DH-

Eunhyuk membuka paper bag itu dan menemukan sebuah gaun putih berlengan panjang. Eunhyuk menaruh gaun itu keatas tempat tidur dan keluar untuk membersihkan diri. Dia tidak ingin Donghae menunggunya terlalu lama.

.

.

Eunhyuk sudah mengenakan gaun pemberian Donghae. Sekarang dia mematut dirinya didepan cermin guna menghias wajahnya. Sentuhan terakhir, dia menyapu lipblam keseluruh bibirnya. Rambut kecoklatannya dijepit kebelakang dengan penjepit kecil yang juga ditemukannya didalam paper bag itu.

Eunhyuk bangkit dari duduknya dan membereskan gaunnya. Gaun itu sangat cantik dan pas ditubuh Eunhyuk. Meskipun tidak menutupi perutnya yang membuncit karena kandungannya sudah memasuki bulan ke lima.

Yeoja yang sedang berbadan dua itu menyerengitkan dahinya setelah sampai didepan gereja. Keadaan disana sangat sepi, hanya burung gereja saja yang terbang lalu hinggap didahan pohon. Pintu ganda gereja itu juga masih tertutup rapat. Jadi dimana Donghae sebenarnya?

Dengan langkah pelan, Eunhyuk berjalan dan berhenti didepan pintu masuk gereja yang masih tertutup. Entah kenapa perasaan gugup muncul dalam benaknya. Dengan memberanikan diri, lengannya bergerak untuk membuka pintu gereja itu.

Eunhyuk hampir jatuh saat melihat keadaan didalam sana. Donghae, lelaki yang dicintainya itu sedang berdiri didepan mimbar bersama dengan seorang pastor.

"wah, pengantin perempuannya sudah datang." Seruan dari Yokohama membuat Donghae menoleh, namja itu tersenyum dengan sangat tampannya didepan altar.

Yokohama mengulurkan lengannya kearah Eunhyuk, tetapi yeoja itu masih ragu, dia menoleh kearah Donghae. Eunhyuk menyambut lengan Yokohama setelah mendapat anggukan oleh Donghae. Lagu mars pernikahan terdengar mengikuti setiap langkah Eunhyuk menuju altar.

Ya Tuhan. Mimpi apa dia semalam? Gumam Eunhyuk dalam hati.

Eunhyuk mengampit lengan Donghae saat keduanya sudah sampai didepan altar. Sedangkan Yokohama kembali kekursi barisan paling depan bersama dengan pegawai restoran miliknya.

Dalam suasana haru. Keduanya mengucapkan janji suci pernikahan. Meskipun terlihat sederhana, Eunhyuk bersumpah tidak akan melupakan hal ini sepanjang hidupnya.

Donghae menyematkan cincin emas hasil jerih payahnya dijemari Eunhyuk. Dan Eunhyukpun melakukan hal yang sama. Ciuman singkat mereka lakukan sebagai pelengkap acara pernikahan sederhana mereka.

.

.

"selamat atas pernikahan kaliaaaan~" Donghae, Eunhyuk, Yokohama dan teman-teman Donghae sekarang berkumpul direstaurant tempatnya bekerja. Yokohama sengaja menyediakan pesta kecil-kecilan untuk karyawan terbaiknya itu.

"bos, ini sudah jam 8, bukannya restaurant harus bersiap untuk buka. Mengapa kita berpesta disini?" Tanya Donghae. Well, sebenarnya Donghae hanya izin tidak masuk hari ini. Tetapi setelah mengutarakan alasannya Yokohama malah bersedia membantunya menyiapkan acara pernikahan untuknya.

Dan terlebih lagi, bos nya itu menyiapkan pesta kecil-kecilan direstoran miliknya. Donghae sangat bersyukur akan itu.

Yokohama tertawa dan merangkul bahu Donghae. "hari ini aku meliburkan kalian semua untuk merayakan pernikahanmu dengan istrimu yang cantik."

Eunhyuk tersenyum penuh rasa terima kasih.

"sekarang, boleh kita makan bos?" Tanya Naoki, salah satu pegawai disana.

"silahkan."

Semua orang mulai berbaris untuk menyantap makanan yang memang disediakan Yokohama. Donghae dan Eunhyuk berterima kasih kepada Yokohama atas kebaikan pria tua itu.

Yokohama menepuk bahu Donghae dan bergabung bersama karyawan-karyawannya. Meninggalkan Donghae yang masih duduk bersama Eunhyuk. "kau ingin makan sesuatu?" Tanya Donghae.

Eunhyuk mengangguk. "terserah kau saja."

Donghae segera melesat pergi untuk mengambil makanan untuk Eunhyuk. Yeah, Eunhyuk apalagi Donghae belum memakan apapun sedari tadi.

Eunhyuk tersenyum melihat kecerian Donghae bersama dengan teman-temannya. Dia mengedarkan pandangannya keluar restaurant. Mengamati sibuknya ibukota Jepang itu di pagi hari. Alis Eunhyuk naik saat melihat seorang wanita dengan pakaian mewah berdiri didepan kaca yang cukup besar didepan restaurant. Dan saat pandangan wanita itu berpapasan dengannya, si wanita tersenyum dan masuk kedalam limousin mewah yang menunggunya.

"hei, kau melamun?"

Eunhyuk menoleh dan tersenyum pada Donghae. "tidak, aku tadi melihat seorang wanita yang sedang memperhatikan kearah sini. Lalu ketika pandangan kami bertemu dia langsung pergi dengan limousinnya." Jawab Eunhyuk.

Donghae terdiam sebentar. "kau mengenalnya?"

"tidak,"

Donghae mengangkat bahunya. "mungkin pelanggan yang kebingungan karena tempat ini tutup." Donghae menyodorkan sendok yang berisi makanan pada Eunhyuk. "Chaa, istriku dan baby harus makan." Eunhyuk tersenyum dan menyambut sendok yang Donghae sodorkan padanya.

"enak." Gumam Eunhyuk.

.

SEOUL, KOREA SELATAN

.

Siwon baru saja keluar dari kelasnya saat sebuah email masuk. Dia segera membuka email yang ternyata dari Eunhyuk. Senyum jokernya terkembang sempurna saat membaca setiap kalimat yang dikirimkan yeoja itu.

Hai, apa kabarmu?

Aku sudah menikah dengan Hae, baru tadi pagi kkk~

Dia memberikan kejutan yang sangaaat istimewa.

Aku bahagia.

*foto pernikahan Eunhyuk dan Donghae bersama Yokohama dan teman-teman yang hadir*

"selamat untuk kalian." Gumamnya. Dengan langkah santai, Siwon kembali berjalan dan masuk kedalam kelas selanjutnya. Setelah mengirim foto pernikahan Eunhyuk dan Donghae yang baru dikirimnya tadi pada Sungmin melalui email.

.

.

"Kyuhyun!" Namja jangkung itu menoleh, sedikit heran dengan tingkah Sungmin yang begitu semangat berlari kearahnya.

"kenapa berlari seperti itu sayang?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin berhenti didepan Kyuhyun. Meskipun nafasnya terengah-engah, tidak menghilangkan senyum manis dibibir Sungmin. "Hyuk onnie dan Hae oppa. Mereka menikah tadi pagi." Ujarnya.

"benarkah?"

Sungmin mengangguk antusias. Dia memperlihatkan foto yang baru dikirim dari Siwon beberapa menit yang lalu.

"mereka sangat serasi." Komentar Kyuhyun.

Sungmin tersenyum. "yeah, seperti kita." Kyuhyun mengacak rambut Sungmin dengan gemas.

"kau tidak ada kelas setelah ini?" Tanya Kyuhyun. Sungmin menggeleng sebagai jawaban. "ayo kita ke kantin, aku juga kosong sekarang." Kyuhyun merangkul Sungmin dan berjalan kearah kantin. Meninggalkan sekelompok orang-orang yang menantap kepergian keduanya dengan ekspresi beragam. Ada yang kagum, blushing ataupun iri.

.

.

Jaejoong berjalan pelan disepanjang lorong rumah sakit. Kakinya yang masih berbalut perban itu sedikit menghalangi langkahnya.

"Jaejoong-sshi."

Panggilan itu membuat yeoja cantik itu menghentikan langkahnya. Dia memutar badannya dan sedikit terkejut saat sosok gagah mantan tunangan Eunhyuk itu berjalan kearahnya. "kau mengenalku?" Tanya Jaejoong sedikit takut.

Yunho berhenti didepan Jaejoong, lalu mata namja itu mengarah pada kaki Jaejoong yang masih berbalut perban. Rasa bersalah tiba-tiba merasuk kedalam hatinya. "maaf atas kakimu."

"ne?"

Yunho menunjuk kearah kaki Jaejoong yang berbalut perban itu. "aku yang membuat kakimu seperti itu."

"ah, gwaenchana. Aku juga tidak memperhatikan jalan. Terima kasih sudah mengantarku kerumah sakit."

Yunho mengangguk. Sedikit tertegun dengan senyum Jaejoong yang sangat cantik menurutnya. "ya, tunanganmu yang mengobatimu. Pasti cepat sembuh." Ujarnya.

Yunho menyerengit saat Jaejoong tertawa. "kenapa?" Tanyanya.

"aniya, kau percaya bocah tinggi itu tunanganku? Dia sepupuku." Ujar Jaejoong.

Yunho menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan Jaejoong. "aku ingin mengajakmu makan siang, apa kau ada waktu?" Tanya Yunho.

"eh?"

.

KIM YOUNGWOON HOUSE

Kangin sedikit menjauh dari istrinya saat ponsel dalam saku celananya bergetar. Salah satu detektif yang disewanya untuk mencari Eunhyuk menghubunginya. "ya."

'maaf pak, kami sudah menemukan mereka berdua. Tetapi mereka sulit sekali untuk kami dekati. Sepertinya ada seseorang yang mengintai mereka juga.'

"apa maksudmu?" Tanya Kangin.

'ada seorang pengusaha yang melindungi mereka, pak.'

"siapa?"

'Kim Jongwoon, pak' Kangin mengerutkan dahinya setelah mendengar laporan dari detektif yang diutusnya untuk mencari dan mengawasi putri sulungnya. Kim Jongwoon? Ada urusan apa pengusaha yang berfokus di Jepang itu melindungi Eunhyuk dan Donghae?

.

Eunhyuk risih dipandangi Donghae seperti itu sedari mereka pulang dari restaurant. Setelah membersihkan wajahnya, Eunhyuk memposisikan dirinya duduk disamping Donghae yang sedang duduk diatas ranjang.

"kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Eunhyuk.

Donghae tersenyum lalu mengelus pipi Eunhyuk dengan lembut. Eunhyuk bingung dengan sikap Donghae ini, hanya diam dan tersenyum kearahnya?

"Hae, kau ini sebenarnya kenapa sih?"

Donghae mengecup ujung bibir Eunhyuk. "boleh aku menyentuhmu?" Ujarnya.

Eunhyuk tertegun sejenak. Lalu seulas senyum muncul dibibirnya. "kenapa kau bertanya seperti itu? Aku kan istrimu." Jawabnya.

"yeah, kau sedang mengandung aku takut akan menyakiti kalian. Makanya aku bertanya padamu." Eunhyuk tersenyum mendengar ucapan Donghae. Suaminya ini begitu pengertian dan memikirkannya. Betapa bahagia Eunhyuk bisa menjadikan Donghae sebagai suaminya.

"jangan terlalu kasar, Hae."

Donghae memangut bibir sexy Eunhyuk dengan cepat. Dengan gerakan cepat dia merebahkan tubuh Eunhyuk diranjang tanpa menindih wanita itu sepenuhnya. Yah, kalian bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi berikutnya 'kan?

o0o—

Kim Ryeowook mengesap green tea-nya dengan perlahan. Lalu jemarinya mengambil beberapa lembar foto yang memotret kegiatan sehari-hari Donghae. Dari menjadi karyawan restaurant, bekerja di pom bensin, begitu juga selagi namja itu mengantar Koran dan susu.

"maafkan umma, Hae." Lirihnya.

Tak lama dia mengambil ponsel diatas mejanya dan mencoba menelpon seseorang. "Jae, bisa tolong umma?" Pintanya setelah sambungan telpon diseberang sana dijawab.

.

.

Donghae berlari dari ujung jalan hingga pom bensin tempatnya bekerja. "hosh…" dia menghela nafas pelan lalu melanjutkan larinya.

"Donghae."

Namja itu menoleh. Membungkukan badannya sebelum menjawab. "maaf bos, aku terlambat." Ujarnya.

Sang bos menepuk bahu Donghae dengan pelan. "tidak apa-apa. Cepat ganti baju dan lanjut bekerja." Donghae mengangguk dan masuk kedalam ruang karyawan untuk mengganti pakaiannya.

Jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Donghae berniat istirahat sebentar, karena pom sedang sepi. Baru ingin membalikan badan, sebuah limousin mewah berhenti didepan tempatnya berjaga.

Donghae menunduk lalu berujar. "selamat malam anda—

"Donghae-ah." Sebuah suara perempuan yang berasal dari bagian belakang itu membuatnya menoleh. Wajah ramahnya berubah menjadi dingin tak berekspresi sama sekali. "kau."

Ryeowook membuka pintu yang menghalangi mereka dan berdiri dihadapan Donghae. "Donghae-ah, umma—

"maaf, saya tidak punya orangtua." Donghae mengisyaratkan salah satu temannya untuk mengantikannya. Tanpa menghiraukan panggilan bos ataupun Ryeowook, namja itu berjalan keluar dari pom tanpa menoleh sekalipun.

"Ryeonggu." Seorang namja keluar dari bagian belakang kemudi, dia merangkul bahu wanita itu yang sudah bergetar hebat melihat kepergian Donghae.

"Jongwoon-ah, aku merindukannya." Namja bernama lengkap Kim Jongwoon itu hanya mengelus bahu wanita pujaannya itu dengan lembut. Berusaha mengurangi kesedihannya.

.

.

BRAKK…

Eunhyuk baru saja merebahkan dirinya diatas ranjang tetapi suara debuman pintu itu membuatnya kaget. Dia kembali bangun dan keluar dari kamar. Sebuah pelukan didapatnya saat dia baru beberapa langkah keluar dari dalam kamar.

"Hae~"

"dia datang lagi Hyuk, orang itu. Pembunuh appa." Eunhyuk bisa merasakan piyama bagian bahunya basah. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya ini. Dia hanya bisa mengelus punggung Donghae dengan lembut.

.

Eunhyuk mengelus pipi Donghae dengan pelan. Setelah pulang dengan keadaan yang bisa dibilang cukup mengenaskan, suaminya itu akhirnya tertidur lelap juga. Eunhyuk baru tahu latar belakang Donghae.

Singkat cerita, Donghae bercerita tentang keluarganya. Ayahnya, Lee Jungmo adalah seorang pembisnis terkenal dan sukses menikahi seorang yeoja biasa bermarga Kim. Keluarganya memang terlihat baik-baik saja, tetapi tidak didalam.

Terkadang Donghae yang waktu itu masih berumur 14 tahun mendengar kedua orangtuanya bertengkar hebat. Dan saat itu dia tahu jika ibunya masih menjalin hubungan dengan kekasih sebelum menikahi ayahnya dan yang paling tidak disangka adalah ibunya memiliki seorang putri dari kekasihnya itu.

Mengetahui fakta itu, ayahnya mengusir sang ibu. Dan keesokan harinya, berita kematian ayahnya sampai ditelinga Donghae. Lee Jungmo tewas dalam kecelakaan mobil dan saat itu juga Donghae mulai membenci ibunya yang dianggap sebagai pembunuh ayahnya.

"apa yang harus kulakukan Hae?" Tanya Eunhyuk pelan.

Donghae terlihat gelisah dalam tidurnya, tak lama kedua mata indah itu terbuka. "Hyukie, kenapa tidak tidur?" Tanyanya pada Eunhyuk yang masih memandanginya.

"aku belum mengantuk."

Donghae mengelus punggung Eunhyuk dengan pelan. "kau harus tidur sekarang untuk kesehatanmu juga baby." Elusan Donghae dipunggungnya membuat Eunhyuk mulai mengantuk, sampai akhirnya dia jatuh tertidur dalam pelukan Donghae.

"selamat tidur Hyukie, selamat tidur baby."

o0o—

Donghae melayani tamu restaurant dengan semangat hari ini. Bahkan perintah Yokohama untuk beristirahat tidak dihiraukannya.

"apa begitu semangatnya pasangan yang baru menikah dan calon ayah didunia ini?" Yokohama tertawa mendengar pertanyaan Naoki.

"kau akan merasakannya nanti." Jawab Yokohama sambil berlalu.

Suara lonceng yang memang diletakan diatas pintu masuk sebagai tanda jika ada pengunjung baru masuk berbunyi. Donghae yang memang dekat dengan pintu masuk langsung menghandle tamu tersebut.

"selamat siang."

"Donghae?" Tanya orang itu.

Donghae memandang yeoja dihadapannya ini dengan raut bingung. "Dokter Jaejoong?"

Jaejoong tersenyum kearah Donghae. "ya ini aku."

Donghae menggelengkan kepalanya. "ah maaf, silahkan duduk." Donghae membimbing Jaejoong untuk masuk dan duduk dikursi yang berada disamping jendela. Lalu meletakan sebuah buku menu dihadapan Jaejoong.

"siap memesan?"

Jaejoong membolak balik buku menu didepannya. "aku pesan makanan special dari restaurant ini saja." Ujarnya.

"baiklah, mohon ditunggu." Donghae berjalan kearah counter yang berhubungan dengan dapur dan mengantung catatan menu yang Jaejoong pesan.

Manic mata Jaejoong terus mengamati kegiatan Donghae. Dari menyambut tamu, berbicara dengan pelanggan, membawa makanan dan membersihkan meja. "tak kusangka kau adalah adikku." Gumamnya.

.

.

Eunhyuk yang sedang membereskan rumah menghentikan kegiatan saat pintu depan rumahnya diketuk. "siapa ya?" Gumamnya.

Dengan perlahan Eunhyuk berjalan kearah pintu keluar dan membuka pintu itu dengan pelan. Seorang wanita dengan dandanan cukup berkelas berdiri didepan rumah sewaannya. "selamat pagi." Ujar wanita itu.

"ya selamat pagi. Anda siapa?" Tanya Eunhyuk sopan.

"aku Kim Ryeowook. Ibu Donghae." Eunhyuk mematung sejenak. Bukankah sosok ini yang sering dilihatnya di berita-berita televisi. Seorang istri dari pengusaha asal Korea yang sangat sukses di Jepang. Dan itu adalah ibu Donghae?

"Eunhyuk-ah?"

Eunhyuk tersentak dari lamunannya. Dia segera memundurkan badannya dan menyuruh wanita itu untuk masuk kedalam rumah sewanya.

.

"Donghae!" Langkah kaki Donghae yang baru saja keluar dari dalam restaurant terhenti. Dia membalikan badannya dan mendapati Jaejoong berjalan kearahnya.

"loh, Dokter Jae. Anda masih disini?"

"boleh berbincang sebentar?"

Dan disinilah mereka sekarang. Disebuah taman yang tidak jauh dari restaurant tempat Donghae bekerja dengan segelas kopi dikedua tangan masing-masing.

"kau tidak sibuk?" Tanya Jaejoong.

Donghae tersenyum lalu menjawab. "tidak juga, jam kerjaku di Pom bensin masih sekitar satu jam lagi." Jawabnya.

"kau berkerja di dua tempat berbeda?" Seru Jaejoong.

"sebenarnya tiga tempat. Haha. Pengantar Koran dan susu dipagi hari." Ujar Donghae sambil terkekeh.

Jaejoong mengamati tubuh Donghae yang memang terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Meskipun begitu, raut wajah itu tidak menunjukan wajah lelah sekalipun. Justru kebahagiaan dan keceriaan dirasakan Jaejoong.

"kau tidak kelelahan?"

Donghae menggeleng. Sebuah senyum muncul dibibirnya. "aku melakukan ini untuk keluargaku, jadi yah aku bahagia."

Jaejoong ikut tersenyum melihatnya. Padahal usia Donghae masih diawal dua puluhan tetapi jalan fikiran namja itu sudah dewasa. Jaejoong salut dibuatnya.

"hei, anak perusahaan appa-ku membutuhkan banyak karyawan. Kau sepertinya berpotensi disana. Kau mau?" Tawar Jaejoong.

"boleh aku minta alamatnya?"

Jaejoong mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas yang terlihat elegan. "tunjukan ini ketika kau sampai disana."

"apa maksudnya kartu ini?"

Jaejoong menaikan bahunya. "hanya sebagai alat untuk memudahkanmu." Jaejoong bangkit dari duduknya lalu menepuk bahu Donghae. "aku pergi."

Donghae bangkit ketika melihat tubuh Jaejoong cukup jauh darinya. "Dokter Jae, terima kasih." Teriaknya.

Jaejoong menoleh. Yeoja itu tersenyum dan berjalan mundur seraya berkata. "kau harus memanggilku Noona kelak, Hae." Tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya Donghae, yeoja itu berbalik untuk melanjutkan langkah kakinya.

o0o—

Eunhyuk menghentikan kegiatannya menyusun piring saat melihat Donghae yang keluar kamar dengan setelan kemeja putih dan celana katun hitam. Pakaian Donghae terlalu formal hanya untuk berkerja di restaurant. Pikirnya.

"Hae, kau tidak salah memilih pakaian?" Tanya Eunhyuk.

Donghae tersenyum melihat wajah bingung Eunhyuk. "aku ingin melamar pekerjaan disebuah perusahaan. Kau tau? Dokter Jaejoong yang menawarkannya padaku. Dan kurasa bekerja diperusahaan lebih dari cukup dari pada bekerja di tiga tempat berbeda. Aku jadi bisa mengawasimu pada malam harinya."

"Hae~" Eunhyuk sudah akan menangis ketika Donghae memeluknya. "hei sayang, kenapa menangis hm?"

"aku bahagia, semoga kau diterima diperusahaan itu."

Donghae tersenyum dan mengecup pipi Eunhyuk dengan sayang. "yeah, kau harus mendoakanku." Donghae mendudukan Eunhyuk diatas pangkuannya lalu menyendok nasi goreng kimchi yang dimasak Eunhyuk. "nah, kau harus makan. Ayo." Donghae menyodorkan sendoknya pada Eunhyuk dan disambut cepat oleh yeoja itu.

Donghae tersenyum melihatnya. Tangan kirinya menjaga tubuh Eunhyuk agar tidak terjatuh, terkadang mengelus perut Eunhyuk dari samping.

Biarlah kebahagian melingkupi mereka untuk kali ini. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan terhadap makhluk ciptaannya kan?

.

.

END/TBC?

Read and Review?

-THANIA LEE-