A SUPER JUNIOR FANFICTION
Tittle : My All Is In You
Cast : Haehyuk, Kyumin and other member
Warning : Genderswitch. Typo(s). Gajeness. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
.
.
.
~Preview Chapter~
Eunhyuk menghentikan kegiatannya menyusun piring saat melihat Donghae yang keluar kamar dengan setelan kemeja putih dan celana katun hitam. Pakaian Donghae terlalu formal hanya untuk berkerja di restaurant. Pikirnya.
"Hae, kau tidak salah memilih pakaian?" Tanya Eunhyuk.
Donghae tersenyum melihat wajah bingung Eunhyuk. "aku ingin melamar pekerjaan disebuah perusahaan. Kau tau? Dokter Jaejoong yang menawarkannya padaku. Dan kurasa bekerja diperusahaan lebih dari cukup dari pada bekerja di tiga tempat berbeda. Aku jadi bisa mengawasimu pada malam harinya."
"Hae~" Eunhyuk sudah akan menangis ketika Donghae memeluknya. "hei sayang, kenapa menangis hm?"
"aku bahagia, semoga kau diterima diperusahaan itu."
Donghae tersenyum dan mengecup pipi Eunhyuk dengan sayang. "yeah, kau harus mendoakanku." Donghae mendudukan Eunhyuk diatas pangkuannya lalu menyendok nasi goreng kimchi yang dimasak Eunhyuk. "nah, kau harus makan. Ayo." Donghae menyodorkan sendoknya pada Eunhyuk dan disambut cepat oleh yeoja itu.
Donghae tersenyum melihatnya. Tangan kirinya menjaga tubuh Eunhyuk agar tidak terjatuh, terkadang mengelus perut Eunhyuk dari samping.
Biarlah kebahagian melingkupi mereka untuk kali ini. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan terhadap makhluk ciptaannya kan?
.
.
~CHAPTER 15~
Dua bulan berlalu. Kehidupan Donghae dan Eunhyuk mulai terlihat membaik. Karier Donghae juga sangat cemerlang di Shappire Corp. Berkat kecerdasan dan pengetahuannya membuat Donghae dipromosikan dengan cepat.
Selain itu, dia juga mendapatkan sebuah mobil Audi dan sebuah rumah dari perusahaan. Sempat heran juga sebelumnya, tetapi para seniornya berkata itu adalah hal wajar untuknya.
Donghae mengendarakan Audi A5 nya dengan santai. Hari ini akhir pekan, dia ingin mengajak Eunhyuk untuk sekedar jalan-jalan.
Setelah memarkirkan mobilnya di carpot, Donghae membuka pintu yang ada digarasi yang bersambungan langsung dengan ruang keluarga. Dahinya mengerut tipis saat mendengar Eunhyuk sedang berbicara dengan seseorang. Dan jika dia melihat lebih teliti lagi, sosok itu seperti …
"Eunhyuk-ah."
Sontak Eunhyuk menoleh, begitu pula dengan sosok yang duduk disamping Eunhyuk. Eunhyuk bangkit dari duduknya, diikuti oleh sosok yang ternyata adalah Ryeowook itu.
"kau sudah pulang?" Tanya Ryeowook disertai dengan senyuman.
"sedang apa kau dirumahku?" Tanyanya dingin.
"Hae, kau tidak boleh berbicara begitu." Ujar Eunhyuk seraya mendekati Donghae. "Hae."
Donghae memundurkan langkahnya. Seolah dia tidak ingin disentuh oleh Eunhyuk. "aku pergi." Donghae berbalik dan pergi dengan Audi-nya. Tanpa menghiraukan teriakan Eunhyuk yang memangilnya.
"Hyukie,"
Eunhyuk berbalik setelah mengusap airmatanya. Memberikan sebuah senyuman kepada Ryeowook yang menatapnya sedih. "tidak apa-apa, mungkin Hae terlalu kaget melihat kita sudah dekat. Eomma mau pulang sekarang?" Tanya Eunhyuk.
Ryeowook mengangguk. Memang seharusnya dia kembali beberapa jam yang lalu, tetapi dia terlalu larut dalam obrolan dengan Eunhyuk dan kejadian tadi terjadi. Yeoja itu memang sering menemani Eunhyuk setiap hari selagi Donghae bekerja, tentu tidak diketahui oleh anaknya itu.
"kau tidak apa-apa eomma tinggal?" Tanya Ryeowook.
Eunhyuk tersenyum dan mengangguk. "hati-hati dijalan eomma."
"ya, sampai jumpa."
Eunhyuk melambaikan tangannya sampai mobil yang dimasuki Ryeowook berbelok diujung jalan. Dia kembali masuk kedalam rumah, melirik sedih kearah makanan yang sudah disiapkannya dengan istimewa bersama ibu mertuanya tadi. Dia berniat makan malam romatis dengan Donghae, tetapi rencananya gagal karena suaminya itu pergi entah kemana.
.
.
Donghae sampai dirumah ketika jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Setelah menutup gerbang dan mengunci pintu, dia berniat langsung ke kamarnya untuk istirahat. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat istrinya terlelap dikursi meja makan.
Sedikit iba melihat Eunhyuk yang sepertinya tidak nyaman dalam tidurnya, dia juga melirik hidangan yang cukup banyak tersaji dimeja makan. Dengan gerakan pelan, dia memposisikan lengan kanannya dibawah lutut Eunhyuk dan lengan kirinya menyanggah punggung yeoja itu.
Hup…
Donghae mengendong Eunhyuk dengan bertumpu pada kedua lengannya—bridal style—dan berjalan kearah kamar mereka berdua.
—o0o—
Eunhyuk membuka matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya. Dengan segera dia bangkit, sedikit heran dengan dirinya yang sudah berada dikamar mereka. Apakah Donghae yang memindahkannya?
"Donghae." Eunhyuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Dia menyusuri setiap sudut rumah. Suaminya itu tidak ada dimanapun. Eunhyuk melangkahkan kakinya kearah bagasi dan ternyata Audi milik Donghae tidak berada disana.
Eunhyuk kembali masuk kedalam rumah dan mengambil ponselnya lalu menghubungi sang suami. Tetapi yang didapatnya suara operator seluler. Berulang kali, akan tetapi jawaban yang diterimanya tetap sama.
"Hae, kau marah padaku?" Lirihnya.
.
.
Suara deru mesin mobil membuat Eunhyuk bangkit dari duduknya. Dia berjalan dengan sedikit bersemangat kearah pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan garasi. "Hae, selamat datang." Ujarnya ceria.
Donghae memberikan senyuman tipis sambil melonggarkan simpul dasi yang terasa mencekik lehernya seharian ini.
"kau mau mandi dulu atau makan malam? Aku sudah—
"aku lelah sekali. Aku akan mandi lalu beristirahat. Kau makan sendiri saja." Donghae segera berlalu, tidak perduli dengan wajah Eunhyuk yang memerah karena menahan tangis.
Eunhyuk melirik kearah meja makan. Makan malam yang dibuatnya bisa dibilang sia-sia karena Donghae memilih pergi. "Bibi Ahn." Panggil Eunhyuk pada seorang yeoja paruh baya yang membantunya mengurus rumah.
"ya, Nona Eunhyuk membutuhkan sesuatu?" Tanya Bibi Ahn.
Eunhyuk menunjuk kearah meja makan. "Bibi boleh makanan itu, dibuang juga tidak apa-apa." Setelah berujar demikian, Eunhyuk melangkahkan kakinya kearah kamar pribadinya bersama Donghae.
Kriet…
Ketika membuka pintu kamarnya, Eunhyuk bisa mendapati sosok Donghae lengkap dengan kacamatanya tengah berkutat dengan laptop dimeja kerjanya. "kau bilang ingin beristirahat?" Tanya Eunhyuk.
Donghae menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar datar dihadapannya. "ada banyak tugas yang harus diselesaikan hari ini juga."
Eunhyuk menyerah. Donghae benar-benar marah padanya. Dia merebahkan dirinya diranjang dan memunggungi Donghae.
Airmata Eunhyuk menetes saat itu juga. Dia berusaha meredam isakannya dengan mengigit bibir bawahnya dan menggelamkan wajahnya ke bantal.
Beberapa jam berlalu. Donghae meregangkan kepalanya, matanya memandang sosok yeoja yang sedang tertidur diatas ranjang itu dengan mata teduhnya.
Donghae bangkit dan berjalan kearah ranjang. Memposisikan dirinya dibelakang tubuh Eunhyuk dan memeluk kedua malaikat dalam hidupnya itu dengan erat.
—o0o—
Beberapa hari berlalu dan interaksi keduanya tidak mengalami kemajuan sama sekali. Donghae tetap dengan sikap dinginnya dan Eunhyuk hanya pasrah.
Siang ini Donghae sedang di ruang rapat guna mempresentasikan pendapatan dan pertumbuhan perusahaan didepan jajaran pemegang saham dan direksi. Mereka kagum dengan sosok Donghae.
Donghae membungkukan badannya saat pemegang saham dan jajaran direksi bertepuk tangan setelah dirinya presentasi. Pria itu membereskan berkas-berkas dan segera keluar dari ruang rapat.
"Donghae-san."
Mizuki. Sekertaris Donghae langsung menghampirinya saat pria itu keluar. Mizuki menyerahkan ponsel kearah Donghae. "sejak satu jam lalu ponsel anda terus berdering pak, mungkin ada hal penting."
Donghae bergumam terima kasih lalu mengecek ponselnya. Dia memang sengaja menaruh ponsel diruangannya agar tidak menganggu jalannya rapat. Dahinya sedikit menyerengit bingung saat panggilan yang masuk dari telfon rumahnya dan nomor ponsel Eunhyuk.
Drr… drrtt…
"hallo."
"…"
"Bibi Ahn, perlahan. Aku tidak mendengar suaramu." Ujar Donghae.
"…" Mata Donghae terbelalak kaget saat mendengar kabar buruk yang baru saja di dapatnya dari Bibi Ahn. "Ya, aku akan segera kesana." Donghae berlarian di lorong kantornya menuju lift. Tidak dihiraukannya panggilan sekertaris maupun GM tempatnya bekerja.
.
.
Donghae berlarian setelah sampai di rumah sakit yang dekat dengan rumahnya. Ya, dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum saat mendengar kabar bahwa Eunhyuk masuk rumah sakit dari bibi Ahn.
"suster, pasien yang bernama Eunhyuk. Seorang wanita hamil. Dimana dia sekarang?" Tanya Donghae ketika tiba didepan resepsionis.
"Donghae." Jaejoong berdiri tepat dibelakang Donghae. Pria itu menoleh lalu menghampiri Jaejoong.
Saat Donghae berada didepannya, Jaejoong langsung menarik lengan Donghae dan menariknya menuju suatu ruangan. "Dokter Jae, aku harus melihat istriku."
Jaejoong menoleh dan tersenyum singkat. "ikuti saja. Aku akan menemuimu dengan Eunhyuk."
Donghae mengikuti langkah kaki Jaejoong. Keduanya berhenti didepan sebuah ruangan VIP. Jaejoong membuka pintu tersebut, Donghae bisa melihat sosok Eunhyuk yang sedang tertidur diatas ranjang.
"sayang." Donghae beringsut mendekat. Mengecup dahi Eunhyuk cukup lama lalu mengelus pipi Eunhyuk dengan lembut.
"dia baik-baik saja Hae, hanya lemas dan sedikit kontraksi." Jelas Jaejoong.
Suara lenguhan Eunhyuk membuat Donghae terkesiap. Namja itu mengusap pipi Eunhyuk dengan lembut hingga kedua mata indah itu terbuka. "Hae." Lirihnya.
Senyuman maknis Donghae berikan untuk Eunhyuk. "ya sayang? Butuh sesuatu?" Tanyanya.
Eunhyuk menggeleng pelan lalu menangkap lengan Donghae yang masih mengelus pipinya. Donghae pun membalas genggaman tangan Eunhyuk. "sayang, siapa yang membawamu kesini?"
Eunhyuk menengok kearah belakang bahu Donghae dan membuat namja itu mengikuti pandangan Eunhyuk. Disana. Di sofa yang terletak di pojok ruangan. Ryeowook tertidur dengan bersandar pada lengan sofa dan selimut seadanya.
"umma yang membawaku kemari." Jawab Eunhyuk.
Donghae hanya terdiam. Tidak mengucapkan atau memberikan reaksi apapun.
"Hae, maafkan umma. Jebal. Demi aku." Pinta Eunhyuk sambil menatap Donghae dengan pandangan memohonnya.
"akan aku fikirkan nanti."
Ryeowook terbangun saat mendengar sayup-sayup suara diruangan rawat Eunhyuk. Dia langsung terduduk saat melihat sosok Donghae tepat disamping Eunhyuk. Tidak. Dia tidak ingin Eunhyuk menjadi sasaran kemarahan Donghae jika dirinya masih berada didekat Eunhyuk. Ini salahnya. Fikirnya.
"umma sudah bangun?" Tanya Eunhyuk disertai dengan senyuman. Donghae tidak menoleh sedikitpun.
Ryeowook tersenyum canggung. "maaf, um—aku pergi dulu." Yeoja paruh baya itu memasukan tabletnya dan segera berdiri.
"umma, mau kemana?"
"ehm… maaf Hyuk-ah, masih ada yang harus umma kerjakan. Kau cepatlah sembuh. Annyeong." Ryeowook langsung keluar dari ruangan tersebut. Menyisakan Donghae dan Eunhyuk didalam sana.
"Hae."
Donghae menatap Eunhyuk sebagai jawaban.
Eunhyuk mengelus pipi Donghae dengan lembut. "cepat kejar umma, aku tau kau mencintainya. Kau merindukan umma."
Donghae hendak mengeluarkan bantahannya tetapi dihalangi oleh Eunhyuk. "Hae, aku tau dirinya, cepat kejar umma sebelum kau menyesal." Ucapnya.
Donghae langsung bangkit dari sisi Eunhyuk dan berlari keluar. Eunhyuk tersenyum dibuatnya.
.
.
Donghae berlarian dilorong rumah sakit itu. Mengejar sosok wanita paruh baya yang terlihat hanya beberapa meter dihadapannya. "tunggu!" Teriaknya.
Ryeowook menghentikan langkahnya saat suara yang amat dikenalnya seolah memerintahnya untuk berhenti. Wanita itu berbalik dan matanya membulat kaget saat melihat sosok Donghae berjalan pelan kearahnya.
"Donghae, ada apa?" Tanya Ryeowook. Yeoja itu begitu gugup berhadapan dengan Donghae. Yah, mungkin karena kebencian Donghae padanya membuat yeoja bermarga Kim itu sedikit gemetar.
"terima kasih sudah menolong istriku, umma." Suara Donghae melirih diakhir.
Ryeowook menatap Donghae penuh harap. Apa tadi katanya? Dia bersumpah mendengar Donghae memanggilnya umma.
"Hae, kau bilang ap—
"umma." Ucap Donghae.
Mata Ryeowook mengembun. Dia langsung memeluk Donghae dengan erat. Dia tidak peduli jika jadi tontonan pengunjung rumah sakit. Yang penting kali ini dia memeluk Donghae. Anak laki-lakinya yang sudah hampir 7 tahun tidak ditemuinya.
Dengan canggung, lengan Donghae membalas pelukan Ryeowook. Namja itu mengelus bahu yeoja paruh baya itu dengan sayang.
"Hae, maafkan umma." Ryeowook bergumam diantara isakan tangisnya. Donghae tidak menjawab apapun, dia hanya mempererat pelukannya pada tubuh rapuh ibunya itu.
Jaejoong memeluk Jongwoon yang berdiri disebelahnya. Keduanya tersenyum melihat kedua ibu dan anak itu saling memeluk. "akhirnya aku punya adik, appa." Ujar Jaejoong sambil terkekeh.
Jongwoon mengelus rambut Jaejoong. "yah, keluarga kita akan semakin sempurna." Gumamnya.
—o0o—
Setelah kejadian dirumah sakit itu. Hubungan Donghae dengan Ryeowook membaik. Donghae merasa hidupnya lengkap sudah. Harta, pekerjaan, cinta, keluarga. Semuanya didapatnya. Yah, kecuali untuk restu dari orangtua Eunhyuk yang masih belum didapatnya kini.
Jabatan namja itu juga sudah berganti menjadi General Manajer di Shappire Corp yang belakangan ini diketahuinya cabang dari JWS Corp.
Shappire Corp sebenarnya diwariskan untuk Jaejoong, tetapi karena yeoja itu begitu mencintai bidang kedokteran, Jongwoon membiarkannya dan menyerahkan Shappire Corp pada Donghae.
Eunhyuk. Wanita yang diperkirakan akan melahirkan beberapa hari ini begitu bahagia. Donghae, Ryeowook, Jaejoong, dan Jongwoon begitu menjaganya. Apalagi diwaktu sekarang. Mereka tidak membiarkan Eunhyuk sendirian bila Donghae bekerja.
"Hyuk, kau mau buah?" Tanya Ryeowook dari arah dapur.
Eunhyuk yang sedang menonton televisi menoleh sebentar. "boleh eomma." Jawabnya.
Ryeowook membuka kulkas, mengamati kotak khusus buah yang memang disediakannya untuk sang menantu tercinta.
Bruk…
Suara debuman yang cukup keras itu membuat Ryeowook menoleh. Dia segera berlari keruang televisi dan menjerit histeris ketika melihat Eunhyuk yang meringis sembari memegangi perutnya.
"Hyuk-ah."
"eomma… sepertinya hah… sakit." Desisnya.
"Pak Jung! Cepat kesini." Teriak Ryeowook. Tak lama kemudian seorang pria masuk dan membantu Ryeowook untuk mengangkat Eunhyuk.
"Bibi Ahn. Tolong siapkan baju seperlunya dan telpon Donghae untuk kerumah sakit noonanya." Bibi Ahn mengangguk dan langsung menuruti perintah Ryeowook.
Ryeowook masuk kedalam mobil. Wanita itu mengelus keringat didahi Eunhyuk yang sudah lemas. "Hyuk, kau harus kuat. Atur nafasmu secepatnya kita sampai dirumah sakit."
Eunhyuk mengangguk lemas. Rintihan dan pekikan terus keluar dari bibirnya saat kontraksi itu datang.
.
.
"Donghae!"
"eomma? Bagaimana keadaan Eunhyuk?" Tanya Donghae panic. Dia mendapat telpon dari bibi Ahn bahwa Eunhyuk akan melahirkan.
"Eunhyuk didalam, dia bersama Jaejoong."
Pintu ruangan operasi terbuka. Jaejoong membuka masker yang menutupi hidung serta mulutnya. "Hae, Eunhyuk menunggumu. Ayo masuk." Jaejoong kembali masuk kedalam setelah Donghae mengikutinya.
Setelah memakai pakaian steril. Donghae memposisikan dirinya disamping Eunhyuk yang masih merintih kesakitan. Terkadang Donghae berjengit sakit saat Eunhyuk mencengkram tangannya dengan erat.
"Hae… ini sakit sekali." Rintihnya.
"Eunhyuk-ah, pembukaannya sudah sempurna. Tarik nafas dan mengejan. Ikuti hitunganku oke?" Eunhyuk mengangguk lemah. Dia mengenggam lengan Donghae semakin erat.
"ayo sayang, kau harus berjuang untuk baby," Donghae mengecup dahi basah Eunhyuk.
Eunhyuk menarik nafas dan mengejan. Terus berulang-ulang hingga lima belas menit kemudian suara tangisan bayi memenuhi ruangan operasi itu.
.
.
"waaah lucu sekali cucu-ku ini." Ryeowook tersenyum sambil menimang Taemin. Anak perempuan Donghae dan Eunhyuk yang baru terlahir beberapa jam yang lalu itu.
Sedangkan sang orangtua baru hanya melihat interaksi kedua nenek-cucu itu dengan senyum haru. "terima kasih sudah memberikan Taemin sebagai pelengkap keluarga kita." Ucap Donghae.
Eunhyuk tersenyum dan menganggukan kepalanya. Donghae mendaratkan kecupan didahi Eunhyuk.
4 YEARS LATER
Eunhyuk sedang duduk di gazebo yang berada dibelakang rumahnya. Dihadapannya sebuah laptop terbuka. Nampaklah foto-foto keluarga kecilnya. Foto pertumbuhan Taemin. Saat yeoja kecil itu baru dilahirkan. Bayi itu tersenyum. Tengkurap. Dan semua perkembangan Taemin tidak pernah luput sekalipun dari pandangan mereka.
Eunhyuk sedang memilih foto yang rutin dikirimnya setiap dua minggu sekali untuk Siwon juga Sungmin. Hah. Mengingat keduanya jadi rindu Korea.
"nah, itu umma." Eunhyuk menoleh kearah Donghae yang berjalan kearahnya dengan Taemin dalam gendongannya.
Eunhyuk tersenyum dan membuka tangannya. Siap menyambut tubuh Taemin yang sudah condong kearahnya. "hup. Baby rindu umma?" Tanya Eunhyuk.
Taemin mengangguk kecil. "eum."
Donghae kini mengutak atik laptop Eunhyuk. "kamu mau ngirim ke Siwon dan Sungmin?" Tanya Donghae.
"yah. Tolong kirim Hae."
Donghae mengangguk dan beberapa menit kemudian foto tersebut telah terkirim. Donghae kembali membuka folder-folder yang berisikan foto-foto Taemin maupun ketiganya ketika berlibur beberapa waktu yang lalu ke China.
"appa~"
Eunhyuk membiarkan Taemin berjalan menghampiri Donghae dan duduk dipangkuan ayahnya itu. "Taemin ingin melihat foto saat baby?" Taemin mengangguk lucu sebagai jawaban atas pertanyaan Donghae.
Eunhyuk memandang keduanya dengan senyuman. Donghae dan Taemin. Keduanya sangat akrab. Meskipun Eunhyuk lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Taemin dirumah dibandingkan dengan Donghae. Tidak, Eunhyuk sama sekali tidak cemburu.
Taemin tumbuh sebagai anak yang dikelilingi kasih sayang. Tidak hanya Donghae dan Eunhyuk, tetapi juga Ryeowook, Jongwoon juga Jaejoong yang sangat memanjakan Taemin.
"Baby Tae sudah minum susu?" Tanya Eunhyuk sambil mengelus rambut halus milik Taemin.
"belum. Dia juga tidak mau makan sayang." Jawab Donghae.
Eunhyuk bangkit dari duduknya. "yasudah, aku ambil susu baby dulu. Hae, jangan terlalu lama membiarkan baby didepan laptop." Setelah berujar demikian, Eunhyuk melangkah masuk kedalam rumah.
.
.
Eunhyuk sedang menyuapi Taemin di meja makan. Sedangkan Donghae sedang melahap makanannya dan sesekali memperhatikan keduanya.
Suara deringan telpon rumah membuat keduanya menoleh. Eunhyuk meletakan mangkuk makan Taemin diatas meja dan mengangkat telpon. "moshi-moshi." Ujarnya.
"…"
"Sungmin? ada apa? tumben sekali?"
"…"
Badan Eunhyuk tiba-tiba menegang. "a… apa?" desisnya tidak percaya. Eunhyuk membekap mulutnya saat mendengar ucapan Sungmin dari line telpon. "aku segera kesana." Setelah menutup sambungan telpon, dia kembali keruang makan.
"Hae."
Donghae mengangkat wajahnya. Memandang penuh tanya pada Eunhyuk yang berdiri tidak jauh darinya. Brukk… tiba-tiba tubuh Eunhyuk jatuh terduduk, Donghae langsung bangkit dan menghampiri Eunhyuk yang sudah menangis hebat.
"sayang, ada apa?" Tanya Donghae sambil memeluk Eunhyuk.
"Hae, hiks, Mama drop Hae." Beberapa bulan belakangan ini memang Eunhyuk mengetahui kondisi Leeteuk di Korea melalui Sungmin. Adiknya itu mengatakan bahwa keadaan Leeteuk semakin menurun, tak jarang ibunya itu sering jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Dan menurutnya kali ini lah yang terparah.
"kita ke Korea sekarang." Putus Donghae.
.
.
.
.
To Be Continue
Hallo guys, saya mau minta maaff buat yang nungguin Chapter lanjutan My All Is In You-nya yaa. Chapter ini anggap aja pemanasan saya untuk lanjutin fanfiction haehyuk yang masih ongoing ya, semoga suka.
p.s : next chapter mungkin fanfic ini ending XD.
Thanks to my beloved reviewer : Githa891 | babyhyukee | tiara anindita | Aihara Kotoko | rizka0419 | chaca | rizkaaa19 | anchofishy | ratu kyuhae | Oh Luna | haehyuklveo | abilhikmah | narty2h0415 | allriseas | Lan214Eunhaelf | Lee Hyuk Nara | kyumineunhae | zoldyk | and Guest |
.
.
.
.
Read, and review?
-THANIA LEE-
