NOW I LOVE YOU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : ItaFemNaru/ SasuFemNaru/ ItaKyuu/ SasuHina/ KyuuIno
Rate : M
Genre : Hurt/comfort/ Romance
Warning : Lime/Lemon kurang asem, Typo(s) EYD, genderbender. Fem Naruto. A little yaoi. Straight. Alur kecepatan. Gaje. OOC. DLL..
.
.
Don't like Don't Read
.
.
.
... NOW I LOVE U...
.
.
Sasuke haya menatap datar seorang gadis bersurai pirang yang duduk dihadapannya ditepi tempat tidurnya sambil bersidekap. Sementara Sasuke sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Gadis berambut pirang yang tak lain Naruto juga sedang menatap dirinya dengan mata yang menyipit sejak ia datang ke kediaman Uchiha. Tepatnya masuk kedalam kamar pribadi Sasuke.
" Apa yang sedang kau lakukan disini?" Sasuke membuka suaranya setelah mereka terdiam dan saling menatap sejak tadi.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu Sasuke?" Naruto balik bertanya sambil memperhatikan penampilan Sasuke. Pakaian yang kusut mungkin karena pria itu sejak tadi hanya berbaring ditempat tidurnya. Dan baru bangun ketika dirinya datang.
Namun bukan itu yang sejak tadi Naruto perhatikan. Melainkan luka memar diwajahnya dan sudut bibirnya sedikit robek dan terluka itu. Luka dan memar diwajahnya terlihat sudah cukup lama namun belum di obati. Naruto pun beranjak dari tepi tempat tidur yang didudukinya. Kemudian berjalan kearah sudut ruangan yang terdapat kotak first aid. Setelah mengambil kotak p3k itu. Naruto kembali berjalan menghampiri Sasuke yang masih dengan posisinya seperti semula. Kemudian Naruto kembali duduk ditepi tempat tidur Sasuke dan menghadap kearahnya dengan kotak p3k di pangkuannya.
" Siapa yang melakukan hal ini padamu Sasuke?" Naruto bertanya sambil mengoleskan antiseptic pada luka dan memar diwajah Sasuke. Sasuke meringis karena rasa perih yang dirasakanya ketika cairan antiseptic yang terdapat pada kapas yang Naruto gunakan untuk membersihkan lukanya. Bersentuhan langsung dengan luka di wajahnya.
" Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi." Sasuke mendengus ketika Naruto hanya menatapnya innocent .
" Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan Bagaimana bisa kau berada dirumahku? Bukankah kakakmu sedang mengurungmu?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Sasuke. Naruto menghela nafasnya ketika mendapatkan pertanyaan beruntun dari Sasuke seperti itu. Naruto menjauhkan kapas yang dipegangnya dari wajah Sasuke.
" BIbi meneleponku dan mengkhawatirkan dirimu yang tidak keluar kamar sejak pulang dari kuliah." Naruto menghentikan kata-katanya dan mulai memasangkan plester pada luka diwajah Sasuke.
" Karena itu aku datang kesini untuk melihat keadaanmu. Dan jika kau bertanya bagaimana aku bisa datang kerumah ini? Itu karena aku datang bersama dengan Ino-nee. Kyuu-nii mengizinkanku keluar rumah asalkan bersama Ino-nee." Jelas Naruto panjang Lebar dan tersenyum menatap hasil karyanya diwajah Sasuke.
" Lalu dimana kakakmu itu sekarang?"
" Ino-nee sedang bersama Bibi Mikoto didapur."
" Jadi? Bisa kau jelaskan apa yang terjadi padamu? Dan bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" lanjut Naruto kemudian bertanya sambil menyipitkan matanya pada Sasuke.
" Aku putus dengan Hinata."
" Huh?"
" Neji sudah tahu tentang hubunganku dan HInata."
" Bagaimana bisa? Maksudku Bagaimana bisa kau putus dengan Hinata? Dan apa semua ini karena Neji? Apa Neji yang menghajarmu sampai seperti ini?" Naruto melontarkan pertanyaan beruntun pada Sasuke dengan nada terkejut dan tak percaya. Yang hanya dijawab anggukan dari Sasuke.
Naruto tahu jika hubungan Sasuke dengan Neji yang merupakan kakak dari Hinata itu tidak baik semenjak mereka masih duduk dibangku SMA. Bahkan mungkin sangat buruk. Sebenarnya Sasuke menjali hubungan dengan Hinata secara diam-diam. Dan karena Naruto lah hubungan mereka berdua tidak ketahui oleh Neji.
Neji yamg tahu jika Naruto adalah sahabat adiknya itu. Sama sekali tidak curiga jika sebenarnya Narutolah penghubung antara Sasuke dan Hinata. Naruto benar-benar tidak menyangka jika hubungan Sasuke dan Hinata akan diketahui oleh Neji. Mungkinkah karena sepuluh hari ini ia tidak keluar dari rumah dan pergi kekampus. Dan membuat Neji mencurigai kedekatan Sasuke dan adiknya disaat ia tidak ada.
Entah kenapa ia menjadi merasa bersalah pada Hinata dan Sasuke. Terlebih lagi pada Sasuke yang harus terluka secara fisik dan batin. Ia merasa menjadi sahabat yang tidak berguna sama sekali.
" Sudahlah. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri dobe." Seolah mengerti apa yang sedang Naruto pikirkan. Sasuke berujar sambil mengacak surai pirang Naruto dan tersenyum kearahnya.
Naruto hanya menatap heran Sasuke yang sedang tersenyum kearahnya. Bagaimana mungkin pria dihadapannya ini masih bisa tersenyum saat ia baru saja putus dari kekasihnya. Apa Sasuke baik-baik saja? Pikirnya.
" Kau tidak perlu khawatir Sasuke. Aku akan membantumu untuk mendapatkan Hinata kembali." Naruto menggenggam tangan Sasuke yang sedang mengacak surai pirangnya. Dan berujar dengan senyum mentarinya. Membuat Sasuke terpaku untuk sesaat.
' GREB'
Sasuke merengkuh tubuh Naruto kedalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya diceruk leher Naruto.
" Sa-Sasuke.." Naruto berusaha menjauhkan tubuhnya dari Sasuke. Namun gerakannya terhenti saat Sasuke mengeratkan pelukannya.
" Biarkan seperti. Aku mohon.." Sasuke semakin menenggelamkan wajahnya diperpotong leher Naruto. Naruto bisa merasakan nafas panas Sasuke yang menerpa kulit lehernya. Ia pun berhenti bergerak dan membiarkan Sasuke memeluknya seperti ini.
Naruto tahu saat ini Sasuke sedang terluka hatinya dan membutuhkan seseorang untuk menghiburnya. Dan sebagai seorang sahabat, bukankah sudah menjadi tugasnya untuk menghibur Sasuke. Naruto kemudian balas memeluk Sasuke. Tangannya yang satu menepuk-nepuk punggung Sasuke untuk menenangkannya.
" Semua akan baik-baik saja Sasuke." Gumam Naruto disela-sela pelukannya. Naruto bisa merasakan Sasuke yang mengeratkan pelukannya. Mungkin itulah yang dibutuhkan Sasuke saat ini. Tangan Naruto masih menepuk-nepuk pelan punggung Sasuke sambil merapalkan kata-kata yang mungkin akan menenangkan hati Sasuke.
Mereka berdua terus berpelukkan seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Tanpa mereka sadari sepasang onyx menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dari balik celah pintu kamar yang tidak tertutup itu. Sepasang onyx bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam kamar bungsu Uchiha.
Ia pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Sasuke. Melihat pemandangan itu hanya akan membuatnya semakin sesak. Hampir dua minggu tidak bertemu dan saat ia bisa melihat kembali malaikatnya. Kenapa harus dalam keadaan seperti itu? Kenapa malaikatnya harus berpelukan dengan pria lain. Meskipun pria itu adalah lelaki yang dicintai malaikatnya. Tetap saja ia tidak rela jika malaikatnya disentuh oleh pria lain selain dirinya.
Katakanlah dia egois ataupun posesif pada malaikatnya. Tapi ia benar-benar tidak bisa bahkan tidak rela jika malaikatnya disentuh apalagi dipeluk seperti itu oleh pria lain. Seharusnya pelukan itu hanya miliknya. Untuk dirinya yang sudah hampir dua minggu tidak bertemu dengan malaikatnya.
Apakah pada akhirnya, malaikatnya itu telah menemukan kebahagiannya? Apakah malaikatnya itu sudah tidak membutuhkannya lagi? Bukankah ia seharusnya bahagia karena malaikatnya sudah menemukan kebahagiaannya? Setidaknya salah satu diantara dirinya dan malaikatnya ada yang berhasil menemukan kebahagiaannya. Tapi kenapa dirinya tidak rela? Kenapa ia tidak rela malaikatnya berbahagia bersama pria lain? kenapa ia ingin malaikatnya bahagia bersama dirinya?
Itachi menatap kosong langit-langit kamarnya. Pemandangan Naruto yang berpelukan dengan Sasuke masih terekam jelas dikepalanya. Bahkan tidak ingin hilang dari pikirannya.
Itachi menutup matanya dengan lengan kanannya. Berharap pemandangan tadi menghilang dari pikirannya.
Hampir dua minggu tidak bertemu malaikatnya. Hidupnya terasa hampa dan tidak lagi berwarna. Selama hampir dua minggu itu ia tidak melihat senyum Naruto yang seperti mentari. Menyinari dan menghangatkan hatinya yang kelam dan dingin. Haruskah ia merelakan malaikatnya demi kebahagiaannya sendiri?
Semakin Itachi memikirkan semua itu. Semakin ia sulit menemukan jawabannya. Ia bingung dan kalut. Perasaannya sangat kacau. Itachi tak tahu jika Naruto bisa membuat dirinya sekacau ini. Jauh lebih kacau ketika ia dan Kyuubi harus berpisah.
Apakah ia sudah jatuh cinta pada malaikatnya? Jika iya. Apakah malaikatnya juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Tapi malaikatnya itu hanya mencintai adiknya. Dan dari yang ia lihat tadi. Apakah cinta malaikatnya akan terbalaskan? Apakah ia harus kembali merelakan cintanya pada orang lain lagi?
Cairan bening menetes dari onyx pria berambut raven panjang itu. Meskipun kelopak matanya tertutup dan kedua matanya juga tertutup oleh lengannya. Akan tetapi cairan bening itu berhasil keluar dari matanya. Rasanya begitu menyakitkan dan menyesakkan. Sehingga ia tidak bisa menahan air matanya lagi untuk tidak keluar.
.
~~Now I Love U
.
Naruto keluar dari kamar Sasuke. Ia kemudian menghela nafas saat menutup pintu kamar Sasuke. Hari ini keadaan Sasuke benar-benar kacau. Naruto tidak pernah melihat Sasuke sekacau ini. Hinata pastilah sangat penting bagi Sasuke. Meskipun masih terselip rasa iri dihatinya karena pria yang ia cintai bisa seperti itu hanya karena Hinata. Apakah jika wanita itu adalah dirinya? Akankah Sasuke juga bersikap seperti itu?
Haahh. Naruto kembali menghela nafas. Kenapa ia harus berpikir seperti itu? Hinata dan Sasuke adalah sahabatnya. Seharusnya ia bahagia saat melihat mereka bahagia kan? Dia juga pasti akan bersedih jika melihat mereka berdua bersedih? Iya. Karena itulah tugas seorang sahabat. Sebuah senyum tulus terpatri diwajah cantiknya.
Kepalanya menoleh kearah pintu yang berada disampingnya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu tersebut. Sapphire miliknya menatap sendu pintu bercat coklat itu. Pintu kamar yang ia sangat tahu siapa pemiliknya.
Apakah si pemilik kamar itu ada ditempatnya? Jika iya. Naruto sangat ingin masuk kedalam kamar itu. Dan melihat wajahnya. Memastikan tidak ada bekas luka akibat pukulan kakaknya tempo hari diwajah tampannya. Ia juga ingin menanyakan kabar tentang pria itu. Apakah ia baik-baik saja? Apakah Itachi juga merindukan Naruto seperti dirinya merindukan Itachi.?
Naruto masih berdiri didepan pintu kamar Itachi dengan tatapan sendu. Hingga sebuah suara menginterupsi kegiatannya menatap pintu kamar Itachi.
" Apa yang sedang kau lakukan disitu?" Naruto menoleh cepat ke asal suara itu dan mendapati Sasuke yang sedang berdiri disamping pintu kamarnya.
" Bukankah tadi kau bilang kau akan pulang?" Sasuke berjalan mendekat kearah Naruto.
" I-Iya.. A-aku baru saja akan pulang." Naruto merasa malu karena ketahuan sedang melamun didepan pintu kamar Itachi oleh Sasuke. Ia juga merasa gugup karena Sasuke berdiri begitu dekat dengannya.
" Jika Kyuubi tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang. Ia pasti akan menambah hukumanmu Dobe." Ujar Sasuke dengan nada datarnya. Naruto hanya menatap datar kearahnya. Kenapa pria ini harus mengingatkannya tentang hal itu?
" Naru-chan? Disini kau rupanya?" Ino menghela nafas lega setelah berhasil menemui adik iparnya. Ia tersenyum kearah Sasuke yang sedang berdiri disamping adik iparnya. Sementara Sasuke mengangguk membalas senyuman kakak ipar sang blonde.
" Kita harus segera pulang. Kyuubi sebentar lagi akan pulang dan kita harus berada dirumah sebelum Kyuubi tiba dirumah." Ino berujar sambil menarik lengan Naruto untuk bergegas pergi dari kediaman Uchiha.
" Baiklah Sasuke-kun. Sepertinya kami harus segera pulang." Ino kembali tersenyum ke arah Sasuke sebelum berpamitan dan pergi dari kediaman Uchiha bersama Naruto. Mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman Uchiha setelah berpamitan pada Sasuke dan nyonya Uchiha.
.
~~Now I Love U
.
Sudah dari 30 menit yang lalu mobil sedan berwarna hitam itu berhenti disebuah rumah besar bergaya Eropa. Namun tidak ada tanda-tanda dari si pemilik mobil untuk turun dan masuk ke dalam rumah mewah itu. Pria dengan iris onyx dan rambut raven panjang yang dikuncir rendah itu. Hanya duduk dikursi pengemudi sambil terus menatap kearah rumah bergaya eropa yang diketahui sebagai kediaman Namikaze.
Pria yang diketahui sebagai Uchiha Itachi itu masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakan semuanya pada Naruto. Itachi tidak bisa menemui Naruto diluar karena gadis itu sedang terkurung dirumahnya. Karena itu dengan bermodalkan tekad yang kuat. Itachi pun memutuskan untuk menemui Naruto dirumahnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Jika ada yang menghalanginya bertemu dengan malaikatnya hari ini. Maka orang itu akan mendapatkan balasan darinya.
Itachi kemudian turun dari mobilnya dan berjalan kearah gerbang kediaman Namikaze itu. Melalui perdebatan alot dengan si penjaga gerbang akhirnya Itachi pun berhasil masuk kedalam kediaman Namikaze itu.
Dan saat berada di depan pintu rumah Naruto. Seorang wanita berambut pirang pucat yang ia ketahui sebagai istri dari Namikaze Kyuubi lah yang membukakan pintu untuknya. Itachi bisa melihat raut terkejut diwajah nyonya Namikaze itu.
" Aku ingin bertemu dengan Naruto." Ujar Itachi langsung pada tujuannya.
" Kyuubi.. Tidak mengizinkan Naruto bertemu denganmu." Kata Ino dengan nada yang sedikit tercekat. Ia tidak menyangka jika pria ini akan nekad datang kerumah ini hanya untuk bertemu Naruto. Jika Kyuubi tahu. Ia dan Naruto pasti dalam masalah lagi.
" Aku mohon. Biarkan aku bertemu dengan Naruto. Aku hanya ingin berbicara dengannya saja." Seorang Uchiha Itachi saja bahkan harus memohon seperti itu hanya demi bertemu dengan malaikatnya. Ino yang melihat kesungguhan di mata onyx itupun. Pada akhirnya mengangguk dan membukakan pintu untuk tamu yang tak diundang itu.
Ino kemudian menuntun Itachi menuju kamar Naruto yang berada dilantai dua. Sebenarnya ia membiarkan pria ini masuk kedalam rumahnya untuk bertemu Naruto karena adik iparnya itu sendiri. Ino tidak tega melihat adik iparnya itu selalu bersedih dan hanya berdiam diri didalam kamarnya. Mungkin dengan membiarkan Itachi bertemu dengan adik iparnya itu. Akan mengembalikan kecerian gadis bersurai pirang itu.
Langkah Ino dan Itachi terhenti di depan sebuah pintu bercat putih. Yang mereka ketahui sebagai kamar Naruto. Ino berbalik dan menatap Itachi dengan wajah serius.
" Aku akan mengizinkanmu masuk. Tapi waktu mu hanya 10 menit saja. Setelah itu kau harus segera pergi dari rumah ini." Ujar Ino yang kemudian membukakan pintu kamar Naruto yang memang tidak terkunci. Itachi pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar malaikatnya. Namun ia sempat menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Ino.
" Arigatou.." Gumamnya sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju malaikatnya. Ino menutup kembali pintu kamar Naruto dan pergi dari tempat itu.
Itachi menatap punggung Naruto yang sedang berdiri dibalkon kamarnya. Sepertinya malaikatnya itu terlalu menikmati pemandangan halaman belakang rumahnya. Tidak menyadari kedatangannya yang kini sudah berdiri dibelakang Naruto. Karena tidak mendapat respon apapun dari malaikatnya. Segera saja Itachi melingkarkan lengannya dipinggang Naruto. Ia sandarkan dagunya dibahu Naruto.
Naruto yang sedang berkelana dalam pikirannya sempat tersentak ketika mendapatkan pelukan dari belakangnya. Namun setelah hidungnya mencium aroma tubuh yang sangat ia kenali. Ia pun menyamankan punggungnya pada dada bidang pria dibelakangnya ini. Matanya terpejam dan menikmati kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan ini.
Itachi yang mendapatkan respon positif dari wanita dalam pelukannya pun kemudian mengeratkan pelukannya. Dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Naruto. Dihirupnya aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto yang sangat ia rindukan. Rasanya ia ingin menghentikan waktu dan terus berada diposisi ini.
Itachi ingin terus berada disamping malaikatnya. Memeluknya dan merasakan kehangatan dari malaikatnya. Tiga minggu tidak bertemu dengannya benar-benar terasa berat dan menyiksanya. Sekarang ia sudah tahu dan yakin dengan apa yang ia rasakan pada malaikatnya. Karena itulah ia datang menemui malaikatnya. Ia akan mengutarakan semuanya. Karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
" Aku merindukan mu Naru." Bisik Itachi tepat ditelinga Naruto.
" Aku juga merindukan mu. Itachi-nii." Itachi memutar tubuh Naruto agar ia dapat melihat wajah malaikatnya yang sangat ia rindukan itu.
Itachi bisa melihat sapphire yang sudah berlinangan airmata itu. Bukan hal itu yang ia ingin lihat dari sapphire yang mempesona itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan setetes airmata pun keluar dari sapphire yang ia kagumi itu.
" Aku mencintaimu Naru." Itachi menangkup wajah Naruto dengan kedua tangan besarnya. Mata Naruto membulat tidak percaya dengan apa yang pria dihadapannya ini katakan.
" I-Itachi-nii.. B-bagaimana bisa?" Tanya Naruto dengan suara yang sedikit tercekat. Airmata sudah mulai menetes dari iris sapphire miliknya.
" Aku sendiri tidak tahu Naru. Tapi perasaan ini sudah ada begitu saja dihatiku. Dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Jawab Itachi tenang. Jari tangannya masih terus bergerak menghapus air mata yang keluar dari sapphire yang sangat ia kagumi.
" T-tapi.." Kata-kata Naruto terhenti saat telunjuk Itachi menyentuh bibirnya. Itachi menempelkan dahinya dengan dahi Naruto. Tangannya membelai pipi Naruto dengan tanda lahir tiga garis halus itu. Onyx-nya menatap lekat sapphire yang begitu dekat dengannya.
" Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Naru." Itachi berujar pelan. Dari jarak sedekat ini, Naruto bisa merasakan nafas hangat Itachi yang menerpa wajahnya.
" Besok aku harus pergi ke Paris dan mungkin akan tinggal disana selama sebulan.."
Yah. Itachi memang akan pergi selama satu bulan ke Perancis untuk mengurus perusahaan cabangnya yang sedang bermasalah. Karena itu ia merasa harus bertemu dengan Naruto sekarang juga. Dan mengutarakan semua isi hatinya. Ia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Tiga minggu tidak bertemu dengan malaikatnya sangat menyiksanya. Dan ia sudah menyadari perasaannya itu.
Karena itu ia harus menemui malaikatnya hari ini juga sebelum ia pergi dan meninggalkan jepang selama satu bulan kedepan. Itachi juga ingin melepaskan rasa rindunya pada Naruto yang sudah tiga minggu ini tidak ia temui. Ia juga sudah siap mengambil segala resiko untuk bertemu dengan malaikatnya. Ia bahkan sudah siap untuk menerima pukulan lagi dari Kyuubi jika pria itu tahu ia menemui adiknya.
Namun sepertinya dewi fortuna masih berpihak kepadanya. Sehingga ia hanya bertemu dengan istri dari Namikaze Kyuubi yang sudah berbaik hati mengizinkannya untuk menemui malaikatnya. Meskipun masih harus dibatasi oleh waktu. Namun tak apa baginya. Meskipun hanya sedetik asalkan ia bisa melihat wajah malaikatnya lagi. Itu sudah sangat membahagiakan baginya.
" Kau bisa menjawabnya setelah aku pulang dari Paris." Lanjutnya. Tangan yang tadi membelai pipi Naruto turun ke leher jenjang gadis itu dan menariknya agar semakin dekat dengannya. Wajah mereka semakin mendekat. Dan hanya tinggal satu centi lagi bibir mereka akan bertemu. Sebelum suara derit pintu menginterupsi kegiatan mereka. Itachi pun menjauhkan tubuhnya dari Naruto. Mereka berdua kemudian menoleh kearah pintu kamar yang terbuka.
" Maaf Uchiha-san. Tapi waktumu sudah habis dan anda harus segera meninggalkan rumah ini." Suara feminim milik Ino terdengar lembut namun tegas secara bersamaan. Ia masih berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.
" Aku mengerti." Sahut Itachi kemudian menolehkan kepalanya kearah Naruto.
" Aku tunggu jawabanmu sebulan lagi Naru. Dan saat itu tiba, aku pastikan semua akan baik-baik saja." Itachi mencium kening Naruto lama.
Pemandangan itu tak luput dari aquamarine yang sejak tadi menatap kearah mereka berdua. Tatapannya menyendu ketika melihat kesungguhan pria yang pernah mencintai suaminya itu. Sebenarnya ia sendiri tidak tega memisahkan mereka berdua dengan cara seperti ini. Ia bisa saja memberikan waktu lebih lama kepada dua insan itu. Tapi ia juga tidak bisa melawan perintah suaminya yang absolut itu. Ia hanya bisa berdoa dalam hatinya. Semoga dua insan itu diberikan jalan untuk kebahagiaan mereka kelak.
" Jaga dirimu baik-baik." Ujar Itachi setelah melepaskan ciumannya dari kening Naruto.
Dengan sangat berat hati. Itachi pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Naruto. Namun sebelum pintu kamar itu ditutup oleh Namikaze Ino. Onyx dan Sapphire itu bertemu sebelum terputus oleh pintu kamar yang tertutup.
Tanpa Onyx itu ketahui, air mata mulai menetes dari sudut mata beriris sapphire di dalam kamarnya. Sementara sang onyx hanya menatap nanar pintu kamar yang tertutup. Dan menghalangi pandangannya dari malaikatnya.
Hari yang berlalu itu terasa berat bagi mereka berdua terutama bagi Itachi. Namun terdapat sedikit perasaan lega dihatinya karena telah mengungkapkan semuanya pada malaikatnya. Ia hanya bisa berharap waktu sebulan itu akan berakhir dengan cepat. Dan dalam sebulan penantiannya ia akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan dari malaikatnya. Itachi benar-benar sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
.
~~Now I Love U
.
Naruto sudah menyelesaikan tugas akhirnya. Dan sebulan lagi ia akan di Wisuda dari kampus tempatnya menuntut ilmu. Sebulan lagi dan itu artinya ia akan di wisuda saat Itachi kembali dari Paris. Dan itu juga artinya ia harus menjawab pernyataan cinta Itachi.
Apa yang harus ia katakan pada Itachi nanti? Naruto bingung. Ia kalut dan tidak tahu seperti apa perasaannya sendiri. Ia memang membutuhkan Itachi tapi ia ragu jika perasaan itu adalah cinta. Naruto juga sedikit meragukan perasaan Itachi kepadanya.
Benarkah Itachi mencintainya? Benarkah Itachi sudah melupakan kakaknya? Bagaimana jika yang dikatakan Kyuubi dan Sasuke itu benar? Itachi hanya memanfaatkan dirinya dan menjadikan dirinya sebagai pelampiasan saja. Tapi, bukankah sejak awal mereka hanya saling memanfaatkan satu sama lain? kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?
Naruto mengerang frustrasi dan mengacak surai pirangnya. Saat ini ia sedang berbaring ditempat tidur queen size miliknya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Tangan yang tadi mengacak surai pirang keemasannya turun menyentuh dahinya. Naruto kemudian memejamkan matanya dan mengingat kembali peristiwa kemarin lusa.
Masih segar diingatannya saat Itachi yang memeluknya dan masih terasa hangat hingga detik ini. Itachi yang menyatakan cintanya dan masih terdengar jelas ditelinganya. Itachi yang mencium keningnya dan masih terasa jejak bibir pria itu ketika ia menyentuh keningnya. Naruto juga masih mengingat sorot mata onyx yang ia kagumi itu penuh dengan keseriusan.
Bodoh. Bagaimana mungkin ia meragukan keseriusan Itachi? Jelas-jelas Itachi mencintainya dengan sungguh-sungguh. Setiap perkataan, sentuhan dan tatapan pria itu sudah jelas mewakili perasaannya. Dan pria itu benar-benar mencintai dirinya.
Tapi. Naruto masih ragu pada dirinya sendiri. Bagaimana jika ia tidak sungguh-sungguh mencintai pria itu? Bagaimana jika ia hanya memanfaatkan dan menjadikan pria itu pelampiasan saja? Bukankah itu artinya dirinya lah yang jahat disini. Bukan Itachi seperti yang Kyuubi dan Sasuke pikirkan. Dan ia tidak ingin menyakiti pria itu. Ia harus bagaimana? Batinnya kembali menjerit frustrasi.
" Apa yang sedang kau lakukan? Melamun eh?" suara baritone yang menyelinap masuk ke telinganya. Membuat tubuhnya tersentak dari lamunannya. Dengan cepat ia mendudukkan tubuhnya yang tadi berbaring. Ia kemudian menolehkan kepalanya kearah suara itu berasal.
" Teme⦠Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamarku." Naruto mendelik kearah seorang pria yang dengan santainya duduk dikursi meja belajarnya.
" Aku sudah mengetuk pintu sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan lamunanmu." Sasuke hanya menatap datar gadis yang sedang mendelik kearahnya.
" Siapa yang kau lamunkan? Aniki ku eh?" lanjutnya yang tersirat ketidak sukaannya meskipun tidak terlalu kentara. Dan bahkan mungkin Naruto tidak menyadari hal itu.
" Bukan urusanmu." Naruto mendengus dan kembali membaringkan tubuhnya.
" Apa kau menyukai kakakku?" Tanya Sasuke dengan nada datarnya. Ia berdiri dari kursi yang didudukinya. Dan kemudian berjalan mendekat kearah Naruto. Sasuke pun mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur Naruto.
" Kenapa bertanya seperti itu?" Naruto mendongak balik bertanya sambil memicingkan matanya pada pria yang duduk disampingnya. Sementara Naruto sendiri masih membaringkan tubuhnya.
" Hanya ingin tahu." Jawab Sasuke datar sambil membuka komik yang tergeletak ditempat tidur.
" Sejak kapan seorang Uchiha Sasuke menjadi orang yang suka ingin tahu urusan orang lain?" Naruto mendudukkan dirinya disamping Sasuke. Tersirat nada jahil saat Naruto mengatakannya.
" Katakan saja Dobe!" Sahut Sasuke dengan nada yang naik satu oktaf. Ia sedikit kesal juga karena merasa dipermainkan oleh gadis blonde disampingnya ini.
" Sebenarnya.. Aku..." Wajah Naruto tertunduk dalam. Suaranya terdengar lirih namun masih mampu didengar oleh Sasuke yang duduk disampingnya.
" Aku.." Naruto menjeda perkataannya. Sasuke masih menatap Naruto lekat dan menunggu kelanjutan kata-kata Naruto. Dahi Sasuke mengernyit bingung saat gadis blonde itu tidak juga melanjutkan kata-katanya dan membuatnya menunggu seperti orang bodoh.
" Kau apa?" Sasuke sudah tidak sabar menunggu kelanjutan kata-kata Naruto pun buka suara.
" Aku..."
"..."
"Aku..."
" Iya.. Kau apa?" Sasuke bahkan harus menaikkan nada bicaranya karena sudah cukup kesal menunggu kelanjutannya.
" Aku..." Sasuke sudah benar-benar kesal sekarang. Ia pun hanya mendelik ke arah Naruto yang masih menundukkan kepalanya.
" Ppfftt.." Sasuke mengernyit bingung ketika mendengar suara tawa yang tertahan.
" Muahahaahahahaha... " gelak tawa Naruto pun pecah dan membuat alis Sasuke berkedut kesal. Ternyata gadis blonde ini sedang mempermainkannya.
" Apa yang sedang kau tertawakan Dobe?" Sasuke mendelik tajam kearah Naruto yang sedang berguling-guling sambil memegang perutnya dan terus saja tertawa.
" Kau Teme.. Apa kau lihat tadi? Wajahmu itu benar-benar lucu Teme." Naruto berujar sambil memegang perutnya dan menyeka airmata yang keluar disudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
" Urusai Dobe, itu sama sekali tidak lucu." Bukannya takut karena Sasuke yang berujar keras. Naruto malah kembali tertawa sambil memegang perutnya.
" Aku pergi." Sasuke beranjak dan berjalan meninggalkan Naruto yang masih tertawa ditempat tidurnya. Namun jika diperhatikan lebih jelas sebuah senyum tipis terukir diwajah tampan Sasuke.
Sasuke kemudian menutup pintu kamar Naruto dari luar kamar. Tangannya masih memegang knop pintu kamar Naruto.
" Arigatou.. Kau sudah membuatnya kembali tertawa." Sebuah suara bariton mengusik pendengarannya. Sasuke pun menoleh kesamping kanannya. Dimana seorang pria bersurai merah kejinggaan itu berdiri menyandarkan punggungnya pada tembok disamping pintu kamar Naruto.
" Itu sudah menjadi tugasku." Sasuke menyahut dengan nada datarnya. Onyx dan ruby itu bertemu dan saling menatap datar satu sama lain.
" Baguslah." Kyuubi berujar sambil beranjak dari tempatnya berjalan mendekati si raven yang masih berdiri ditempatnya.
" Jangan mengecewakan ku Uchiha!" Lanjutnya setelah berdiri disamping Sasuke. Setelah mengatakan itu Kyuubi melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
" Tidak akan." Gumam Sasuke pada udara kosong. Ia pun kemudian melangkahkan kakinya pergi dari tempatnya.
.
Naruto menghentikan tawanya. Matanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Airmata yang tadi hanya setitik keluar dari matanya. Sekarang sudah mengalir deras dari sapphire miliknya.
" Itachi-nii.." Gumamnya lirih menyerupai bisikan.
" Cepatlah pulang.." Lanjutnya meremas pakaian bagian depannya. Entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
.
~~Now I Love U
.
Jauh disebuah negeri yang terkenal dengan menara eiffel-nya. Disalah satu kota yang cukup terkenal dengan kota fashionnya. Terdapat sebuah gedung perkantoran. Didalam gedung dan disebuah ruangan yang berada didalam gedung tersebut.
Terdapat seorang pria yang sedang duduk dimeja kerjanya. Onyx miliknya menatap satu persatu tumpukan kertas yang berada diatas meja kerjanya. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya karena pusing dan lelah akibat pekerjaannya yang tidak pernah ada habisnya.
Pria itupun kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Istirahat sebentar tidak apa-apa pikirnya. Pria itu kemudian mengambil SmartPhone miliknya yang tergeletak diatas meja kerjanya. Dengan lihai jarinya bergerak-gerak pada layar sentuh SmartPhone miliknya.
Jarinya berhenti bergerak. Pria dengan sepasang onyx itu kemudian menatap lekat layar SmartPhone-nya. Di layar terlihat sebuah foto seorang gadis bersurai pirang keemasan dengan iris sapphire yang mempesona. Gadis itu tengah tersenyum cerah seperti mentari. Membuat pria itu tidak bisa tahan untuk tidak tersenyum. Sebuah senyuman tulus pun terpatri diwajah tampannya.
" Tunggu aku. Naruto.." Gumamnya.
.
~~Now I Love U
.
Naruto menatap tak percaya dua orang yang berada diruang keluarganya. Ia baru saja turun dari kamarnya dan hendak menuju dapur untuk minum. Namun saat melewati ruang keluarga. Iris sapphire-nya menangkap dua sosok yang sudah hampir dua bulan ini tidak ditemuinya.
Sesosok pria bersurai pirang dan beriris Sapphire yang identik dengan dirinya sedang duduk disofa ruang keluarga. Sementara wanita paruh baya dengan surai merah panjangnya sedang berdiri didepan meja dengan baki ditangannya.
Naruto pun langsung berhambur ke pelukan wanita bersurai merah itu yang diketahui sebagai Namikaze Uzumaki Kushina. Istri dari Namikaze Minato dan ibu dari Namikaze Kyuubi dan Namikaze Naruto.
" Kaasan.. Naru merindukan kalian." Gumam Naruto dalam pelukan ibunya.
" Kami juga merindukanmu Naru-chan." Sang ibu membalas pelukan putri bungsunya dan membelai surai pirang putrinya.
Sang kepala keluarga pun kemudian berdiri dari sofa yang didudukinya dan menghampiri dua wanita yang sangat berharga baginya.
" Kau tidak mau memeluk Tousan?" Tanya sang ayah dengan nada yang dibuat-buat kecewa. Naruto pun langsung menghambur kepelukan ayahnya yang mewariskan rambut pirang serta iris sapphire kepadanya itu.
" Baiklah. Aku rasa sudah cukup melepas rindunya. Bukankah tadi Tousan bilang ada hal penting yang akan Tousan sampaikan." Ujar Kyuubi yang sedang duduk disingle sofa menginterupsi kegiatan orangtua dan adiknya itu.
" Karena semua sudah berkumpul Tousan akan mengatakannya sekarang." Sang ayah kemudian berbicara dengan khas bijaknya. Semua orang pun kemudian mengambil tempat duduknya masing-masing.
Si sulung dan sang ayah duduk di single sofa yang saling berhadapan dan hanya terhalang sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang. Sementara para wanita seperti Kushina, Naruto dan Ino duduk disofa panjang yang berada ditengah.
" Saat berada di London kami bertemu dengan Fugaku." Minato membuka suara.
" Lalu?" Tanya Kyuubi menaikkan sebelah alisnya.
" Kami sudah sepakat untuk menjodohkan Naruto dengan salah satu putra Fugaku." Lanjutnya yang membuat tiga pasang mata membulat tanpa disadari sang kepala keluarga dan nyonya Namikaze.
" S-siapa..?"
.
.
.
Tbc...
.
.
.
Yeay.. Viz update kilat nih!
Mumpung lagi libur.. Besok udah balik kerja lagi dan dapat giliran shift malam.. Siap2 begadang dan kurang tidur lagi deh! Dan mungkin ga bakal bisa update kilat kaya sekarang lagi. Kok curcol sih..#abaikan
Hiks..hiks.. Sebenarnya Viz juga kasihan liat ItaNaru dipisahin. Tapi kalo ga gitu ga seru. Muahahahahaha.. *author stress
Viz itu kan penganut BERSAKIT-SAKIT DAHULU BERSENANG-SENANG BELAKANGAN. makanya Viz bikin mereka susah dulu baru happy di endingnya..
Dichapter ini Viz udah berusaha buat nunjukin POV Itachi, menurut Minna udah cukup belom kalo segini? Gomenne kalo chapter kemaren agak atau mungkin mengecewakan. Semoga chap ini tidak terlalu mengecewakan.
Mungkin 3-4 chapter lagi fict ini bakalan selesai..
Gomenne.. Karena Viz ga bakalan bisa update kilat lagi kaya sekarang. Tapi Viz ga bakalan menelantarkan fict ini kok. Mungkin hanya sedikit lebih lama aja update-nya. Kalau udah giliran kerja siang lagi Viz bakal bisa update kilat lagi kok.. :)
Thanks to: AprilianyArdeta, Dewi15, Guest, roxy fuji, yukiko senju, wildapolaris, zukie1157, Aliyah649, winteraries, .85, Shin is minoz, kimjaejoong309, sivanya anggarada, D'RoDe(guest), .146, Ryuuna Atarashi, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Reynatan chan, Hyull, Namikaze Eiji, Aiko Michishige, .faris, akasuna no hataruno teng tong, Luca Marvell, Harpaairiry, mao-tachi.
Terima kasih banyak buat yang udah mau nge-fav, follow dan review fict gaje buatan Viz ni... :) *bungkuk90derajat
Semoga kalian suka.. :)
Jangan lupa review ya.. :)
