NOW I LOVE YOU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : ItaFemNaru/ SasuFemNaru/ ItaKyuu/ SasuHina/ KyuuIno
Rate : M
Genre : Hurt/comfort/ Romance
Warning : Lime/Lemon kurang asem, Typo(s) EYD, genderbender. Fem Naruto. A little yaoi. Straight. Alur kecepatan. Gaje. OOC. DLL..
.
.
Don't like Don't Read
.
.
.
... NOW I LOVE U...
.
.
Naruto berusaha menahan jantungnya yang berdetak kencang. Tangannya meremas celana selutut yang sedang ia kenakan malam itu.
" S-siapa..?" tanyanya dengan nada yang terbata karena rasa takut yang tiba-tiba saja dirasakannya.
" Tentu saja dengan Sasuke-kun." Seru sang nyonya Namikaze .Naruto menoleh cepat kearah Ibunya yang duduk disampingnya itu.
" Kenapa harus Sasuke?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir bungsu Namikaze.
" Eh? Tentu saja karena kalian sudah saling mengenal dan berteman sejak kecil. Kaasan pikir kau menyukai Sasuke-kun?" jawab Kushina menatap heran kearah putri bungsunya itu.
" Tapi,,,"
" Kapan pertunangannya dilaksanakan?" belum sempat Naruto melanjutkan kata-katanya. Kyuubi sudah terlebih dulu menginterupsi perhatian kedua orang tuanya yang sedang menatap heran kearah putri bungsu mereka.
" Setelah Naruto dan Sasuke wisuda. Tousan dan Fugaku sudah berencana untuk membuatkan pesta kelulusan sekaligus pesta pertunangan kalian." Sang ayah berujar dengan tenang tidak menyadari putri bungsunya yang membelalakkan matanya setelah mendengar penuturan sang ayah.
" Itu berarti dua minggu lagi kan?" pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan itu terlontar dari bibir sulung Namikaze. Matanya melirik kearah Naruto yang menundukkan kepalanya dalam.
" Naru lelah dan ingin beristirahat." Naruto berdiri dari sofa yang didudukinya dan kemudian berjalan meninggalkan keluarganya dengan wajah yang masih tertunduk. Sementara sang ayah dan ibu hanya menatap heran kearah putrinya. Setelah Naruto menghilang dari pandangan Kushina dan Minato. Kedua orang tua itu kemudian menatap kearah Kyuubi yang masih duduk tenang ditempatnya.
" Apakah terjadi sesuatu saat kami pergi Kyuu?" Tanya Kushina menatap putra sulungnya dengan tatapan meminta penjelasan.
" Tidak ada." Jawab Kyuubi singkat dan kemudian berdiri dari sofa yang didudukinya. Kyuubi sempat berhenti sejenak dan menoleh kearah istrinya yang masih duduk disofa. Ino yang mengerti arti tatapan suaminya segera beranjak dari sofanya dan pamit kepada mertuanya. Mengikuti sang suami beranjak ke kamar mereka.
Pasangan suami istri itupun pergi meninggalkan orangtua dan mertua mereka. Dengan sejumlah pertanyaan dibenak orang tua itu.
.
Naruto merebahkan tubuhnya ditempat tidur queensize miliknya. Matanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Ia teringat kembali percakapan keluarganya beberapa waktu yang lalu.
Dijodohkan? Dengan Sasuke? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Dan dua minggu lagi mereka akan bertunangan. Mereka pasti sudah gila. Apa yang harus ia lakukan?
Dalam dua minggu itu juga Itachi akan kembali dan meminta jawaban darinya. Tapi bagaimana perasaan Itachi jika ia kembali dan mendapati dirinya yang bertunangan dengan Sasuke? Ugh. Naruto tidak ingin melihat pria itu terluka untuk kesekian kalinya. Terlebih lagi jika kali ini dirinya dan Sasuke lah penyebabnya.
Sasuke? Ah iya. Bukankah Sasuke hanya menyukai Hinata dan bukan dirinya. Dia pasti akan menolak perjodohan ini kan? Benar. Sasuke pasti akan menolaknya. Jadi, kenapa ia harus khawatir seperti ini?
Sebuah senyum muncul diwajah cantiknya. Entah kenapa perasaannya sedikit lega mengetahui fakta jika Sasuke hanya menyukai sahabatnya Hinata. Semuanya akan baik-baik saja. Sasuke pasti akan menolak perjodohan ini. Dan ia bisa menjawab pernyataan Itachi.
Naruto pun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Perasaannya mulai lega sekarang. Meski tak bisa ia pungkiri masih ada sedikit rasa takut dibenaknya. Namun ia mencoba mengabaikan semua itu. Ia yakin jika Sasuke akan menolak perjodohan ini. Jadi ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Dan besok ia akan menemui Sasuke dan memastikan semua keyakinannya.
.
~~Now I Love U
.
" Kemari lah Suke! Tousan mu sudah pulang dan ada sesuatu yang ingin kami bicarakan padamu." Mikoto berseru kepada putra bungsunya yang baru pulang entah dari mana.
Sasuke yang baru saja melewati ruang keluarga untuk menuju kamarnya pun menghentikan langkahnya. Sasuke menoleh kearah ibunya. Dan benar saja ia mendapati sosok ayahnya yang sudah satu bulan ini tidak ditemuinya duduk disamping ibunya.
Sasuke kemudian melangkahkan kakinya menuju orang tuanya yang sedang duduk disofa ruang keluarga. Didudukkan tubuhnya itu disebuah single sofa.
" Tousan sudah pulang?" Tanyanya saat onyx milik Sasuke bertemu dengan onyx ayahnya.
" Hn." Sang ayah menjawab dengan gumaman singkat khas Uchiha.
" Jadi. Apa yang Tousan dan Kaasan ingin bicarakan padaku?" Sasuke bertanya langsung pada pokoknya. Sebenarnya ia sudah cukup lelah dengan hari ini dan ingin segera pergi ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
" Kau tahu kan jika Tousan pergi ke London satu bulan yang lalu?" Sang ayah mulai bersuara. Sasuke hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan atau lebih menyerupai pernyataan dari sang ayah.
" Dan saat di London Tousan bertemu dengan Minato." Fugaku menghentikan kata-katanya.
" Lalu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya menunggu kelanjutan perkataan ayahnya.
" Kami sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan Naruto." Sasuke sempat tertegun ketika mendengar pernyataan ayahnya. Namun dengan cepat ia kembali ke wajah datar seperti semula.
" Tapi karena kami tahu kau sedang berhubungan dengan gadis lain maka kami akan meminta pendapatmu dulu Suke. Jika kau menolaknya. Dengan terpaksa Itachi akan menggantikan posisimu?" Kali ini giliran sang ibu yang berujar panjang lebar kepada putra bungsunya.
" Kenapa Kaasan bilang dengan terpaksa Itachi akan menggantikan ku?" Dahi Sasuke mengernyit heran dengan kalimat terakhir yang terucap dari ibunya itu.
" Sebenarnya kami juga baru tahu jika kakakmu itu memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Jadi kami tidak bisa menjodohkannya dengan Naru-chan. Tapi kami juga sudah sepakat untuk menjodohkan salah satu putra kami dengan Naru-chan." Jelas sang ibu.
Ah. Jadi rupanya kedua orangtuanya ini sudah tahu jika Itachi pernah mencintai seorang pria. Sasuke akhirnya mengerti maksud dari kalimat ibunya yang terakhir.
" Jadi bagaimana hubunganmu dengan gadis Hyuuga itu? Jika kau memang sangat menyukainya. Kau bisa menolak perjodohan ini."
" Kami sudah putus." Jawab Sasuke cepat.
" Putus?" Beo Mikoto memastikan pendengarannya.
" Jadi?" Giliran sang ayah yang membuka suara dan meminta pendapat sang anak.
" Aku akan mengikuti semua keputusan Tousan dan Kaasan." Sasuke berujar dengan tenang.
" Baiklah jika itu keputusanmu. Tousan dan Minato sudah berencana untuk melaksanakan pertunangan kalian setelah wisuda kalian. Kami akan membuatkan pesta kelulusan sekaligus pertunangan kalian." Sasuke hanya mengangguk mendengar penuturan sang ayah.
" Bukankah hari wisuda Sasuke-kun dan Naru-chan sekitar dua minggu lagi kan?" Sasuke kembali mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu.
" Baiklah. Kalau begitu kita harus mempersiapkan segalanya dari sekarang." Mikoto berujar dengan antusiasme nya.
" Jika sudah selesai. Aku ingin ke kamar untuk beristirahat." Sasuke berdiri dari sofa yang didudukinya dan menatap kedua orangtuanya bergantian.
" Hn. Istirahatlah!" Sahut sang ayah. Dan Sasuke pun langsung beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Setelah sampai didepan pintu kamarnya. Sasuke sempat menolehkan kepalanya kearah pintu yang ada di samping pintu kamarnya. Pintu kamar milik seseorang yang sudah hampir tiga minggu ini kosong. Karena ditinggal pergi sang pemilik. Sasuke kembali melanjutkan tujuannya menuju kamar pribadinya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini benar-benar melelahkan. Dan sepertinya setelah hari ini. Hari-harinya akan semakin melelahkan.
.
~~Now I Love U
.
Sasuke hanya menatap datar gadis dihadapannya. Sekarang ia sedang berada di sebuah kafe. Gadis dihadapannya ini tadi menghubunginya dan meminta dirinya untuk bertemu dikafe ini. Namun semenjak ia datang belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut gadis itu.
" Jadi?" Sasuke yang sudah tidak tahan pun membuka suara untuk memecahkan keheningan diantara mereka. Membuat gadis yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Mendongak dan memperlihatkan sapphire indah yang sejak tadi tersembunyi.
Naruto mencoba mengambil nafas untuk meredam kegugupan yang menderanya. Iris sapphire miliknya menatap langsung sepasang onyx pria yang duduk dihadapannya.
" Apa kau sudah mendengarnya?" Naruto bertanya pada Sasuke dengan nada yang ia buat senormal mungkin.
" Apakah ini tentang perjodohan kita?" Sasuke balik bertanya dengan nada datar. Naruto mengangguk sebagai jawabannya.
" Apa keputusanmu?" Tanya Naruto lagi.
" Menurutmu?" Sebuah seringai yang sangat tipis terukir diwajah Sasuke. Bahkan Naruto sendiri tidak dapat melihatnya.
" Kau menolaknya?"
" Kenapa kau berpikir seperti itu?" Pertanyaan yang dibalas pertanyaan lainnya lah yang terjadi diantara percakapan mereka berdua.
" Karena kau menyukai Hinata." Jawab Naruto menatap datar pria dihadapannya.
" Kami sudah putus." Sasuke berujar dengan tenang.
" Jadi?" Naruto bertanya dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban Sasuke.
" Aku menerimanya." Jawab Sasuke dengan nada datar.
" Kenapa?" Naruto meremas rok yang sedang diterimanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Sasuke akan menerima perjodohan ini. Semua ini diluar perkiraannya.
" Karena aku tidak punya alasan untuk menolaknya." Sasuke menjawab masih dengan nada datarnya. Membuat Naruto tidak habis pikir. Bagaimana mungkin pria dihadapannya ini bisa berujar setenang itu? Masa depan mereka sedang dipertaruhkan disini. Dan Sasuke masih bisa bersikap santai seperti itu.
" Tentu saja ada." Naruto menundukkan kepalanya. Tangannya meremas rok selutut yang dikenakannya semakin erat.
" Apa?" Tanya Sasuke singkat. Ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Onyx-nya menatap lekat gadis dihadapannya yang masih menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah cantik dan ekspresinya saat ini.
" Karena kau hanya menyukai Hinata dan bukan diriku. Bukankah harus ada perasaan cinta saat kita menikah nanti?" Naruto mendongak dan menatap langsung onyx yang hampir sama dengan onyx yang ia rindukan. Sementara si lawan bicara hanya menatap datar sapphire dihadapannya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Hening dan tidak ada lagi yang berbicara. Mereka hanya saling menatap satu sama lain dalam diam. Minuman hangat yang mereka pesan sejak tadi pun sudah mulai mendingin. Seperti suasana diantara mereka yang terasa dingin.
" Apa kau sudah selesai bicara?" Sasuke bersuara ketika keheningan diantara mereka sudah semakin mencekam. Tersirat kekecewaan diiris sapphire Naruto ketika hanya pertanyaan Sasuke itulah yang ia dapatkan.
" Tidak inginkah kau mengejar wanita yang kau sukai Sasuke?" Naruto bertanya dengan nada yang lembut. Berharap Sasuke akan mengerti dan membuka matanya. Ia tidak bisa menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Begitupun sebaliknya.
" Tidak." Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jeans yang dikenakannya. Ia kemudian berjalan dan menghentikan langkahnya disamping Naruto yang masih duduk dikursinya.
" Daripada kau mengatakan hal tidak berguna seperti ini..." Sasuke menjeda kata-katanya.
" Lebih baik kau persiapkan dirimu untuk pertunangan kita nanti." Sasuke melirik Naruto melalui ekor matanya. Dan kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Naruto yang bergeming ditempatnya.
Setetes airmata meluncur begitu saja dari sudut matanya. Naruto tidak tahu jika semua akan berakhir seperti ini. Semua pemikirannya tentang Sasuke ternyata salah. Tapi yang tidak Naruto mengerti. Kenapa Sasuke menerima perjodohan ini? Bukankah Sasuke menyukai Hinata? Sebenarnya apa yang sedang Sasuke pikirkan?
Naruto bingung. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Sementara hari pertunangannya semakin dekat saja. Dan tepat dihari pertunangannya itu Itachi akan kembali dan menagih janjinya. Apa yang harus ia lakukan?
Naruto merogoh isi tas yang ia bawa. Iris sapphire-nya menatap benda berbentuk persegi panjang berwarna putih ditangannya. Benda yang merupakan SmartPhone miliknya.
Naruto tersenyum lemah. Setelah kakaknya tahu tentang perjodohan dirinya dan Sasuke. Semua fasilitas miliknya yang disita oleh sang kakak telah dikembalikan kepadanya. Selain itu kakaknya juga sudah membebaskan dirinya untuk pergi keluar rumah. Begitupun dengan SmartPhone yang ada ditangannya saat ini. Seandainya benda ditangannya itu tidak disita. Mungkin ia masih bisa mendengar suara bariton yang sangat ia rindukan.
Naruto kembali tersenyum getir saat menyadari satu hal lagi. Ketika benda pribadi miliknya ini kembali ketangannya semua kontak tentang Itachi sudah tidak ada. Kakaknya pasti sudah menghapus semua kontak yang berhubungan dengan Itachi. Dan sekarang Ia tidak bisa menghubungi pria itu meskipun sudah memiliki kembali SmartPhone-nya.
Naruto menghela nafas. Seharusnya tadi ia meminta nomor telepon dan email Itachi pada Sasuke. Sebelum pria itu pergi meninggalkan dirinya sendiri dikafe. Dengan begitu ia bisa menghubungi Itachi dan memintanya untuk segera kembali sebelum wisuda. Tapi sepertinya Dewi fortuna memang sedang enggan berpihak padanya. Naruto kembali menghela nafas sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kafe itu. Setelah hari ini harinya pasti akan terasa berat.
.
~~Now I Love U
.
Naruto hanya menatap kosong pantulan dirinya dicermin. Sore tadi ia baru saja menghadiri acara wisuda di Universitas tempatnya menuntut ilmu. Dan malam ini ia harus kembali pergi ke pesta yang sudah disiapkan oleh orang tuanya untuk kelulusannya.
Seharusnya ia senang karena orantuanya masih memperhatikan dirinya dan membuatkan pesta kelulusan untuknya. Tentu saja ia akan senang dan bahagia seperti kebanyakan orang. Jika saja itu hanya pesta kelulusan biasa. Sayangnya itu bukan hanya sekedar pesta kelulusan. Melainkan pesta peertunangannya juga.
Mungkin akan lain halnya jika yang akan menjadi tunangannya adalah orang yang mencintai dan dicintainya. Tapi yang akan menjadi tunangannya tidak mencintainya dan ia juga ragu apakah ia masih mencintai pria itu. Jika ia masih mencintai pria itu bukankah seharusnya ia senang dan tidak akan keberatan bertunangan dengannya. Tapi kenapa semuanya terasa berat.
" Kau sudah siap Naru? Semua orang sudah menunggumu." Suara feminim milik kakak iparnya mengembalikan Naruto dari lamunannya.
Naruto kembali memperhatikan pantulan dirinya dicermin. Gaun hitam 5 centi diatas lutut dengan tali yang mengikat dileher. Kedua bahu kecilnya terbuka begitupun dengan bagian punggungnya yang juga terekspos. Memperlihatkan kulit punggungnya yang tan eksotis dan mulus. Dipadukan dengan High hils yang juga berwarna hitam. Tampilan elegan dan anggun bersamaan.
Wajahnya hanya dipoles oleh make up tipis dan natural namun cukup untuk menonjolkan kecantikan alaminya. Rambutnya digelung keatas dengan beberapa anak rambut yang menjuntai. Penampilan yang sempurna. Namun tetap saja Naruto tidak begitu senang dengan penampilannya sendiri. Karena ia memang tidak mengharapkan semua ini.
" Neesan..." Lirihnya menundukkan kepalanya.
" Apa yang harus Naru lakukan?" Suaranya terdengar begitu memilukan ditelinga wanita yang berdiri disampingnya. Ino merengkuh tubuh adik iparnya kedalam pelukannya.
" Semua akan baik-baik saja Naru. Percayalah." Ino melepaskan pelukannya. Dan berkata sambil menangkup wajah cantik adik iparnya.
" Benarkah?" Naruto menatap penuh harap pada kakak iparnya.
" Unn. Kau bisa melihat sendiri neesan dan kakakmu. Kami berdua juga sama-sama dijodohkan sepertimu. Tapi bisa kau lihat sendiri Naru, sekarang kami bahagia." Ino mengangguk dan tersenyum lembut kearah Naruto. Berusaha meyakinkan gadis yang sedang meragu itu.
" Tapi..."
" Sampai kapan kalian akan terus mengobrol? Semua orang sudah menunggu dibawah. Kita harus segera berangkat." Kata-kata Naruto terpotong oleh suara baritone milik Kyuubi yang menginterupsi percakapan dua wanita yang hampir mirip itu.
" Baiklah. Sebentar lagi kami akan turun." Ino menyahuti perkataan suaminya.
" Cepatlah! Kau tidak ingin datang terlambat dipesta pertunanganmu sendiri kan. Naruto?" seru Kyuubi yang kemudian pergi meninggalkan dua wanita yang penting baginya.
Tidak tahukah Kyuubi? Jika Naruto bukan hanya ingin datang terlambat melainkan tidak ingin menghadiri pesta pertunangannya sendiri. Andai saja orang itu ada disini dan membawanya pergi bersamanya. Maka dengan senang hati Naruto akan ikut pergi bersamanya. Namun sayangnya orang itu tidak ada disini dan itu hanya andai-andai Naruto saja. Dan sepertinya akan sulit untuk bisa bersamanya lagi.
" Baiklah Naru-chan. Kita harus pergi sekarang. Kau tidak mau kan membuat kakakmu kesal karena menunggu kita?" Ino berujar sambil tersenyum kearah lembut kearah Naruto. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Naruto dan mengambil tas tangan berwarna hitam dengan hiasan permata yang tergeletak ditempat tidur Naruto.
" Ayo..!" serunya lagi sambil menarik lengan Naruto dan menuntunnya keluar dari kamar.
Mereka turun dan disambut oleh decak kagum dari orangtua dan mertua mereka. Sementara Kyuubi hanya menatap datar dua wanita yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Namun jika diperhatikan dengan baik. Mata ruby-nya tidak pernah lepas dari sang istri yang tampil menawan malam itu.
Gaun malam panjang berwarna merah semata kaki. Dengan belahan rok panjang hingga sepaha. High hils berwarna hitam menunjang penampilannya. Rambut pirang pucat panjang miliknya ia gelung dan memperlihatkan leher jenjangnya yang berbalut kulit putih. Make up tipis yang natural dan polesan lipstik merah yang memperjelas bentuk bibirnya.
Ruby itu tak pernah lepas dari pemandangan menakjubkan dihadapannya. Kenapa ia baru menyadari kecantikan istrinya sekarang? Terlalu takjub dengan pemandangan indah dihadapannya. Membuat Kyuubi tidak menyadari jika sang istri sudah berdiri dihadapannya. Dengan wajah yang memerah karena ditatap secara intens oleh suaminya.
"Apakah ada yang salah dengan penampilan ku Kyuu?" Ino memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya. Wajahnya sudah merona karena terus dipandang oleh suaminya.
" Tidak. Kau cantik." Sadar atau tidak kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Kyuubi. Dan berhasil membuat wajah Ino semakin memerah seperti kepiting rebus. Bagi Ino itu adalah pertama kalinya sang suami memuji dirinya dan tentu saja ia sangat terharu.
" Kita berangkat." Ujar Kyuubi lagi mengulurkan tangannya pada Ino. Dengan senang hati Ino menyambut uluran tangan suaminya. Merekapun berjalan keluar dari kediaman mereka sambil bergandengan tangan.
Mereka sekeluarga baru saja keluar dari kediaman mereka. Namun langkah mereka terhenti saat dihadapan mereka berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas hitamnya. Ia berdiri bersandar pada mobil sport berwarna biru dongker. Semua mata keluarga Namikaze tertuju padanya.
" Sasuke-kun?!" Seru Kushina yang akhirnya membuka suara setelah yang lain hanya memandang heran pada pria dihadapannya.
Sasuke tersenyum tipis kearah orangtua Naruto dan kemudian membungkuk hormat kepada mereka.
" Kau pasti ingin menjemput Naru-chan kan? Sasuke-kun?" Kushina kembali bertanya dengan senyum yang menyertainya. Dan dibalas anggukan kepala dari orang yang ditanya.
Sasuke kemudian berjalan menghampiri Naruto yang masih berdiri ditempatnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya setelah berdiri dihadapan Naruto.
" Kita berangkat sekarang." Naruto hanya menatap kosong tangan yang terulur kearahnya. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Ia masih berdiri diam tanpa ada keinginan untuk menyambut uluran tangan Sasuke.
" Naru-chan?" Seru sang ibu yang membuyarkan lamunannya. Naruto pun kemudian meraih tangan Sasuke dan berjalan mengikuti Sasuke menuju mobilnya setelah sang raven berpamitan kepada kedua orangtua Naruto.
Dan mereka semua kemudian melajukan kendaraan yang mereka tumpangi menuju gedung tempat pesta diselenggarakan.
.
~~Now I Love U
.
Seorang pria jangkung berjalan cepat sambil menyeret sebuah travel bag di terminal kedatangan Konoha International Airport. Kacamata hitam bertengger manis dihidung mancungnya. Setelan jas hitam dan kemeja hitam tanpa dasi dengan dua kancing yang terlepas. Celana hitam panjang dan sepatu pantofel hitam yang dikenakannya. Membuat penampilan pria jangkung dengan helaian raven terlihat mempesona bagi kaum hawa. Tak sedikit wanita yang terpesona kepadanya. Dan menatap sang pria dengan penuh minat.
Namun tetap saja semua itu diabaikan olehnya. Pria berambut raven panjang yang dikuncir rendah dengan mata onyx yang tersembunyi dibalik kacamatanya itu terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Menghiraukan tatapan kagum para wanita yang tertuju padanya. Hanya ada satu dalam pikirannya saat ini. Yaitu keinginannya untuk segera menemui malaikatnya yang sudah satu bulan tidak ditemuinya.
Dalam hatinya ia merutuki maskapai penerbangannya yang menunda waktu keberangkatan hingga enam jam. Seharusnya ia sudah tiba di Konoha siang tadi dan dapat menemui malaikatnya lebih cepat. Selain itu ia juga seharusnya bisa menghadiri acara wisuda malaikatnya. Dan mungkin malam ini ia sedang menghabiskan waktu bersama malaikatnya. Ia juga sangat penasaran dengan jawaban atas pernyataan cintanya tempo hari. Apakah malaikatnya akan balas mencintainya atau tidak?
Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima apapun jawaban dari malaikatnya. Meskipun jauh didalam lubuk hatinya ia berharap sang malaikatnya akan membalas cintanya.
Itachi menghentikan langkahnya ketika sudah keluar dari Terminal kedatangan Konoha International Airport. Onyx miliknya tertuju pada seorang pria yang sangat ia kenali sebagai orang kepercayaan keluarganya. Pria dengan sejumput janggut didagunya itu melambaikan tangan kearahnya. Itachi pun melangkahkan kakinya mendekati pria bernama Sarutobi Asuma. Pria itu membungkukkan badannya pada Itachi dan kemudian mengambil alih travel bag yang dibawa tuannya. Asuma pun mengarahkan Itachi menuju mobil yang dibawanya dan sudah terparkir didepan Bandara.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam sedan berwarna silver. Itachi duduk dikursi belakang sementara Asuma yang mengendarai sedan silver itu menyusuri jalanan Konoha di malam hari.
Sepanjang perjalanan itu Itachi hanya menatap keluar jendela mobilnya. Menatap pemandangan kota Konoha yang sudah sebulan tidak ia lihat. Namun pikirannya melayang jauh pada malaikatnya. Sebelum menemui malaikatnya ia akan menemui Kyuubi terlebih dulu. Ia harus menyelesaikan terlebih dulu urusannya dengan pria yang pernah dicintainya.
Sebelum mendapatkan malaikatnya ia harus mendapatkan restu dari Kyuubi terlebih dulu. Ia harus meyakinkan Kyuubi jika ia sungguh-sungguh mencintai adiknya. Jika perlu ia akan memohon pada Kyuubi. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Itachi sudah benar-benar jatuh cinta pada Naruto dan ia tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat ia cintai... Lagi.
Sedan berwarna silver itu sudah memasuki halaman rumah kediaman Uchiha. Itachi terlalu larut dalam lamunannya. Hingga tanpa ia sadari mobil yang membawanya sudah sampai di kediamannya. Hingga Asuma membukakan pintu mobil untuknya. Ia baru tersadar dari lamunannya.
" Kita sudah sampai Itachi-sama." Itachi mengalihkan perhatiannya pada Asuma. Ia mengangguk dan kemudian keluar dari mobil.
Dilangkahkan kakinya masuk kedalam kediamannya. Asuma mengikutinya dibelakang sambil membawa travel bag milik Itachi.
" Kenapa rumah terlihat sepi Asuma-san?" Itachi bertanya ketika kakinya sudah melangkah masuk kedalam rumahnya. Dan ia melihat keadaan rumahnya yang terlihat sepi.
" Semua orang dirumah ini sedang pergi menghadiri pesta kelulusan Sasuke-sama di Konoha Hall. Itachi-sama." Itachi hanya mengangguk mengerti setelah mendengar penuturan Asuma.
" Sebenarnya Fugaku-sama meminta saya untuk mengantarkan Itachi-sama ke tempat pesta setelah Itachi-sama sampai." Lanjut Asuma.
" Aku akan kesana nanti. Tapi sebelumnya aku harus pergi ke suatu tempat dulu." Itachi sekarang sudah berada didepan kamarnya.
" Jika saya boleh tahu. Itachi-sama akan pergi kemana?" Gerakan tangan Itachi yang hendak membuka knop pintu kamarnya terhenti. Saat Asuma yang berdiri dibelakangnya kembali bertanya.
" Ke Kediaman Namikaze." Jawabnya singkat menghadap kearah pria kepercayaan keluarganya.
" Ah. Kalau begitu lebih baik Itachi-sama langsung pergi ketempat pesta saja." Ujar Asuma memberikan anjuran pada tuannya.
" Kenapa?" Itachi menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti maksud orang kepercayaan keluarganya ini.
" Karena seluruh keluarga Namikaze juga ada dipesta itu." Jelas Asuma.
" Apa maksudmu?" Itachi meminta penjelasan lebih dari Asuma.
" Sebenarnya pesta kelulusan itu direncanakan oleh kedua keluarga Uchiha dan Namikaze. Pesta itu juga bukan sekedar pesta kelulusan Sasuke-sama dan Naruto-sama. Akan tetapi itu juga pesta pertunangan mereka." Jelas Asuma panjang lebar. Itachi yang mendengar kata pertunangan langsung membelalakan matanya.
Pertunangan? Naruto dan Sasuke? Itachi enggan untuk mempercayai apa yang didengar telinganya. Ia harus memastikannya sendiri.
" Mana?"
" Eh?" Asuma hanya memandang tuannya tidak mengerti.
" Kunci mobil." Itachi mengulurkan tangannya dan Asuma refleks memberikan kunci mobil yang diminta tuannya.
" Anda mau kemana Itachi-sama?" Asuma bertanya sambil sedikit berteriak karena sang tuan yang langsung berlari begitu saja setelah mendapatkan kunci mobil yang dimintanya. Itachi sendiri terus berlari menghiraukan panggilan Asuma yang terus meneriakkan namanya.
Itachi memasuki mobil sedan berwarna silver itu dengan tergesa-gesa. Setelah masuk kedalam mobilnya. Itachi langsung saja menancap gas dan melajukan mobilnya keluar dari kediamannya.
Pikirannya kalut. Ia harus memastikan sendiri perkataan Asuma. Sasuke dan Naruto bertunangan. Tidak. Itu tidak mungkin ia pasti hanya salah dengar. Itu tidak mungkin terjadi. Ia hanya pergi selama satu bulan dan tiba-tiba saja kabar pertunangan malaikatnya bersama adiknya mengusik pendengarannya. Itu tidak mungkin. Itu tidak boleh terjadi.
Itachi melajukan mobilnya semakin kencang. Menghiraukan keselamatan dirinya sendiri. Ia hanya ingin segera sampai dan memastikan berita yang didengarnya itu salah. Iya, ia pasti hanya salah dengar. Tapi kenapa jantungnya berpacu sangat cepat? Kenapa perasaan takut itu mengusik dirinya?
Itachi menggelengkan kepalanya dan meyakinkan dirinya jika semua itu tidak benar. Itachi semakin cepat memacu kendaraannya. Menyusuri jalanan Konoha dimalam hari yang sedikit lengang.
.
~~Now I Love U
.
Naruto hanya menatap datar para tamu undangan yang hadir ke pestanya. Mereka semua terdiri dari teman-teman kuliahnya yang memang satu jurusan. Dan beberapa lainnya adalah tamu undangan dari keluarganya dan Sasuke yang merupakan rekan bisnis mereka.
Mereka semua terlihat begitu senang dan menikmati pesta ini. Berbeda sekali dengan dirinya yang sama sekali tidak mengharapkan pesta ini. Sapphire miliknya terus memandang satu persatu para undangan yang merupakan teman kuliahnya.
Hingga sapphire itu berhenti pada seorang gadis cantik bermata amethys. Seseorang yang sangat ia kenal sebagai sahabatnya. Naruto bahkan dapat melihat Hinata yang melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum. Hati Naruto mencelos. Bagaimana mungkin gadis itu bisa berada dipesta ini? Apakah Hinata tahu pesta apa ini sebenarnya? Seperti apa perasaan Hinata yang sesungguhnya? Hinata pasti akan terluka.
Tentu saja. Sahabatnya akan bertunangan dengan mantan kekasihnya. Dan Naruto yakin jika gadis cantik itu masih memiliki perasaan pada Sasuke. Naruto merasa dirinya bukanlah seorang sahabat yang baik. Dan ia tidak dapat berbuat apapun. Ia merasa seperti seorang pecundang dan pengecut yang tidak berdaya dengan keadaan dirinya saat ini.
Naruto melihat Sasuke yang sedang berjalan kearahnya. Onyx miliknya menatap lekat sapphire dihadapannya.
" Kau tidak dengar jika sejak tadi mereka memanggil kita." Ujar Sasuke setelah berada dihadapannya. Sasuke menunjuk kearah podium dimana orangtua mereka, Kyuubi beserta Ino berada. Dan benar saja sang ibu dari si blonde sedang melambaikan tangan kearahnya. Meminta putrinya untuk segera naik keatas podium. Mungkin acara puncaknya akan segera dimulai. Acara pertunangannya dengan Sasuke.
" Kita harus segera naik." Sasuke menggenggam tangan Naruto dan menggandengnya melangkah menuju podium.
" Hinata ada disini." Lirihnya namun masih terdengar jelas ditelinga Sasuke.
" Aku tahu." Sahut Sasuke datar.
" Apa Hinata tahu pesta apa ini sesungguhnya?" Tanya Naruto tanpa menatap Sasuke. Sejak tadi ia hanya menatap kearah tangan mereka yang saling bertautan.
Naruto tersenyum miris saat melihat tautan tangannya dan Sasuke. Tidak ada lagi debaran seperti dulu. Cintanya pada si bungsu Uchiha benar-benar sudah hilang. Kini dihatinya hanya ada seseorang yang bahkan kehadirannya tidak ada di pesta ini. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa ia terlalu pengecut untuk mempertahankan cintanya yang baru? Sekarang semuanya sudah terlambat. Ia benar-benar akan kehilangan cintanya kali ini.
" Dia tahu." Naruto tersenyum miris ketika mendengar Sasuke mengucapkan kalimat singkat itu dengan tenang. Benarkah semudah itu bagi Sasuke melupakan Hinata? Tidak kah ia memikirkan perasaan Hinata saat ini?
Dan merekapun sampai diatas podium bersama keluarga mereka.
" Baiklah. Sekarang adalah inti dari pesta ini." Seorang MC berbicara dengan mikropon ditangannya. Membuat suaranya nyaring terdengar diseluruh ruangan. Dan membuat seluruh pasang mata para tamu menatap kearah podium.
" Dan acara inti dari pesta ini adalah acara pertunangan Uchiha Sasuke dan Namikaze Naruto." Lanjut sang MC.
" Dan sekarang tiba saatnya untuk kedua pasangan kita malam ini bertukar cincin sebagai tanda peresmian pertunangan mereka."
Naruto dan Sasuke pun kemudian maju kedepan podium. Mereka berdiri sambil berhadapan. Ditengah-tengah mereka berdiri keluarga mereka masing-masing. Dan tepat ditengah mereka berdiri Ino yang membawa kotak perhiasan yang berisi sepasang cincin.
Sasuke kemudian mengambil sebuah cincin dan mulai mengenakannya di jari manis tangan kiri Naruto. Semua para tamu undangan bertepuk tangan ketika cincin itu berhasil melingkar dijari manis Naruto. Sementara Naruto hanya menatap kosong jari tangannya yang telah terdapat cincin disana.
Hingga gilirannya pun tiba untuk menyematkan cincin yang satunya dijari manis Sasuke. Jari tangannya tiba-tiba saja terasa berat hanya untuk mengambil cincin dari kotaknya. Terlebih lagi hatinya yang terasa jauh lebih berat untuk menyematkan cincin itu dijari manis Sasuke. Bukan ini yang ia inginkan. Bukan pertunangan ini. Entah kenapa saat ini ia berharap Itachi datang dan membawanya pergi dari tempat ini.
Namun jari-jari lentiknya tetap mengambil cincin tersebut. Sekarang semua mata menatap kearahnya menunggu cincin yang dipegangnya tersemat dijari manis Sasuke. Dengan gerakan perlahan cincin di yang dipegang Naruto bergerak menuju jari manis Sasuke sebelum-
'BRAKK'
Pintu terbuka dan semua mata tertuju kearahnya. Begitupun sapphire Naruto yang membulat dengan apa yang tengah dilihatnya. Dan gerakan tangannya terhenti begitu saja.
.
.
.
Tbc..
.
.
.
Yo Minna.. Akhirnya bisa update juga.. Gara-gara ga bisa update fict ini. Tidur Viz jadi kurang nyenyak padahal habis semalaman begadang kerja. Akhirnya Viz selesein juga deh fict ini biar bisa tidur nyenyak lagi.. Heheh
Gomenne Minna karena Viz ga bisa kabulkan permintaan kalian yang minta Naru di jodohin sama Itachi. Karena kalau itu terjadi fict ini bakal tamat deh.. :( trus gimana sama ide cemerlang yang udah ada diotak Viz. Kan sayang.. Hehe
Tapi tenang.. Walaupun Naru dijodohin sama Sasu tetep nikahnya sama Itachi. Tinggal pikirin ja gimana caranya. Khukhukhu
Dan Naruto yang hamil itu mungkin di last chapter kali y..
Huhuhuhu.. Tadinya mau ada lemon dichapter ini tapi bakal terlalu panjang jadi bakal Viz simpen buat next chap. Lagian kalo lemonnya di taro(?) dichapter ini nanti kalian ga bakalan penasaran lagi. Makanya Viz potong sampe sini dulu biar pada penasaran sama kelanjutannya.. *smirk
Hontou ni Gomenasai Eiji senpai. Ternyata Viz cuma bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan dan ternyata di chapter ini ga ada lemonnya.. Huhuu #plakk
Ok Viz pengen maen tebak-tebakkan nih ma readers sekalian.
Kira-kira siapa yang buka pintu itu?
Trus apa yang terjadi selanjutnya?
Hayoo pair mana yang bakal NC dinext chapter?
Ga terasa fict ini udah mendekati akhir.. Viz pasti bakalan sedih.. #lebayyy
Terima kasih banyak buat yang udah mau nge-fav, follow dan review fict gaje buatan Viz ni... *bungkuk90derajat
Semoga kalian suka.. :)
Jangan lupa review ya.. :)
