DESCLAIMER: NARUTONYA MAH PUNYA MASASHI KISHIMOTO

yooo mareee... kembali lagi bersama author yang tidak pernah libur berniat untuk menghibur supaya minna-san tidak kabur karena ceritanya sedikit ngawur.


Temari, Teman Shikamaru dari desa Suna. awalnya mereka saling kenal karena saat itu ayah Shikaku sedang bertugas di desa Suna. Shikamaru lumayan lama tinggal di desa Suna, sekitar 5 bulan karena ayahnya mendapat tugas tambahan dari atasannya.

Mencari teman bukanlah prioritas utama bagi Shikamaru disekolah manapun karena pada akhirnya ia akan pergi juga. ia hanya menjalankan tugasnya sebagai murid, duduk dibangku dan mendengarkan guru.. tidur sedikit mungkin.. atau tidur saja dalam kelas.

Waktu itu Shikamaru sedang melakukan hal yang sama setiap harinya di sekolah.. tidur dikelas dan tidak memperhatikan murid perempuan yang jengah melihat aktivitas Shikamaru setiap harinya

"Hey, bangun hey jangan tidur terus..." Si pirang berkuncir empat rupanya tidak menyerah untuk membangunkan si rambut nanas yang agendanya hanya tidur. akhirnya Shikamaru mengangkat kepalanya dan mulai mencoba memperhatikan apa yang sebenarnya akan dilakukan si kuncir empat yang berisik ini

"Kau ini berisik sekali. ada perlu apa?"

"Kau mau berjalan-jalan tidak?" tanya Temari sambil mengibas-ngibaskan wajah Shikamaru dengan kipas yang selalu ia bawa

"Tidak" jawab Shikamaru singkat

"Ayolah... aku pikir jalan-jalan lebih bagus daripada tidur didalam kelas"

Mungkin melihat-lihat isi desa Suna tidak buruk juga, tapi kira-kira memangnya ada apa di desa Suna? paling-paling hanya lautan pasir, pikir Shikamaru.

"haaah.. merepotkan". Akhirnya Shikamaru memilih menyerah untuk menghindari kebisingan yang terus saja mengoar dari bibir si kuncir empat yang tidak henti-hentinya merengek minta jalan-jalan

Hari demi hari ia habiskan dengan Temari, tak sedikitpun longgar. Temari selalu mengajaknya ke tempat yang berbeda setiap saat. tidak membosankan juga kenal dengannya.. atau mungkin Shikamaru mulai jatuh cinta pada Temari. mungkin Temari juga begitu.. mungkin Shikamaru hanya terlalu percaya diri

Shikamaru rasanya ingin memberitahu tentang perasaannya pada Temari, namun logikanya mengatakan ini tidak mungkin karena mereka belum kenal lama.. ini salah.. sangat salah

tapi kenapa dia tidak menghentikan langkahnya?

"Temari, ada yang mau aku sa... oh"

Shikamaru Menatap dua insan yang sedang bermesraan di taman sekolah itu. ia kemudian berbalik dan tidak menoleh lagi

Temari terlonjak dan memanggil Shikamaru, namun Shikamaru tidak menghiraukan panggilan itu dan terus saja berjalan entah kemana dia akan sampai nanti

'tidak bisakah hari ini lebih buruk lagi?!' pikir Shikamaru

Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah malas. urusan percintaan memang selalu merepotkan

"Shikamaru.. turun kebawah untuk makan malam..."

'Bagus, hari ini akan jadi lebih buruk karena aku sedang tidak nafsu makan.. apa yang harus ku katakan pada ibu..'

"Aku tidak lapar bu.."

"Aku tidak menerima jawaban itu.. cepat turun dan makan bersama!"

Akhirnya ia menuruti saja perintah ibunya yang super duper triple bawelnya daripada nanti malam ia tidak bisa tidur karena harus mendengar ocehan ibunya

"Bu, yah.. boleh tidak aku menetap di satu sekolah saja?" Tanya Shikamaru pada kedua orang tuanya di sela-sela makan malam

"Shikamaru, kau ini bagaimana.. kau tau sendiri pekerjaan ayahmu..."

"Iya aku tau bu, aku bisa tinggal sendiri di apartemen kan?"

"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu anakku?" Ayahnya yang sedaritadi diam kini mulai membuka mulutnya

"Tentu"


Hari ini adalah minggu kedua KBM. Kegiatan Belajar Mengajar masih belum terlalu efektif karena buku pelajaran masih belum dibagikan. Ino jadi teringat Deidara nii-san yang juga pernah bersekolah disini. sebenarnya, ia satu angkatan dengan anak kelas 12 yang sekarang. namun karena kepintarannya ia mempersingkat masa SMA-nya.

Sangat disayangkan bila usaha dan kerja keras Deidara sia sia karena harus menjaga toko bunga usaha turun temurun keluarga. Seharusnya ia sudah berada di bangku kuliah dan belajar tentang seni seperti apa yang ia impi-impikan selama ini.

Ino tak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya yang satu ini. dia mau mengorbankan harga dirinya untuk toko bunga yang sederhana ini. bahkan ia tidak akan mendapat gelar atau penghasilan yang bagus untuk itu. Ah, sudahlah.. ini bukan waktunya untuk menyalahkan Deidara. yang penting Ino harus membantu Deidara dengan Beasiswanya

Pelajaran pertamanya hari ini adalah pelajaran sejarah, dan hari ini ia juga sekelas dengan Tenten. ya ampun, dari sekian banyak teman yang ia punya kenapa harus Tenten? Ino bahkan ragu Tenten akan datang karena Tenten paling benci pelajaran sejarah. tapi itu bukan berarti Tenten tidak datang kan? mungkin saja ia sudah merubah jalan pikirannya.

Sempat beberapa teman menanyakan tempat duduk disebelah Ino, namun Ino nampaknya masih mempercayakan Tenten

"Selamat pagi anak-anak"

"Selamat pagi Iruka sensei" jawab para murid bersamaan

"Hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan masuk"

Sedaritadi Ino memang mendengar desas desus anak baru dari anak-anak yang duduk di belakang bangku Ino. Ino hanya mendengarnya tanpa ikut campur dengan urusan mereka, sebut saja Ino secara tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.

Yang Ino dengar dari anak-anak penggosip itu adalah ada 4 anak baru. tiga laki-laki dan satu anak perempuan. Ino jadi penasaran siapa yang akan mengisi bangku di sebelah Ino

Tiba-tiba suara sorakan muncul dan membuyarkan pikiran Ino

"Namaku Sasuke Uchiha, senang bertemu dengan kalian"

Sorakan terdengar lebih kencang dari sebelumnya. itu membuat anak laki-laki mendecih kesal melihat anak baru itu. Bagaimana bisa Ino berpihak pada anak laki-laki

"Sasuke-kun kau tampan sekali"

"Uchiha-san, kau duduk disini saja"

"kau pindah kebangku sana, biar aku duduk dengan sasuke-kun"

"tidak, kau saja"

Kebanyakan anak-anak perempuan disana berteriak-teriak memuji Sasuke. Ya ampun, dimana harga diri para gadis ini?, pikir Ino

Iruka-sensei mempersilahkan Sasuke duduk dibangku Ino. Ino yang mendengarnya langsung menginterupsi

"tapi Iruka-sensei... ini tempat Tenten, teman sebangku saya. mungkin ia sedang di Toilet"

"ooh iya, hampir lupa. Tenten dipindahkan ke English Room untuk jam pertama. sebagai gantinya, Uchiha-san akan duduk disana" jawab Iruka-sensei sambil tersenyum.. Guru bertampang ramah itu memang selalu tersenyum. tapi entah kenapa, senyuman Guru Iruka menjadi sebuah ancaman bagi Ino saat ini

Sasuke berjalan ke meja kedua dari depan dengan cool. Ino hanya mendengus 'kalau tau akan duduk dengannya, lebih baik aku menerima saja orang yang akan duduk di sebelahku, sekalipun itu orang berisik yang berada di sebelah sana' mata Ino langsung mengerling ke anak laki-laki berambut pirang jabrik yang tidak bisa diam

Beberapa murid menatap iri posisi Ino, mereka masih berteriak-teriak tidak jelas

"jika masih ribut, detensi di ruang Orochimaru!" Suara Iruka-sensei langsung membuat para murid bungkam. mendengar kata Orochimaru saja sudah membuat murid-murid pucat, apalagi harus mengerjakan soal-soal yang diberikan olehnya.. bisa bisa menginap di sekolah

Iruka-sensei melanjutkan pelajarannya. Baru kali ini Ino tidak semangat belajar hanya karena teman sebangkunya dan tatapan mencekam dari para murid perempuan benar-benar membuatnya tidak nyaman

"Uchiha Sasuke" Sasuke menyodorkan tangan kanannya untuk memperkenalkan diri pada Ino. Ino yang saat itu sedang mencoba serius pada pelajaran Iruka-sensei merasa terganggu, sejenak ia berpikir akan membalas jabat tangan itu, tapi ia merubah pikirannya

"Sudah tau" jawab Ino ketus itu semata-mata untuk menjaga harga dirinya ya kan?. Sasuke akhirnya menarik kembali tangannya

"Siapa namamu?" tanya Sasuke dengan mata yang masih memperhatikan Iruka-sensei.

Ino tidak menjawab. mungkin ia tidak mendengar atau malas menjawab

"hey, siapa namamu?" Sasuke mengulang pertanyaannya. Ino masih tidak menjawab. tak lama ia mengangkat tangannya dan menginterupsi Iruka-sensei yang sedang menjelaskan.

Sasuke panik kalau-kalau ia akan diadukan pada Iruka-sensei dan mendapat detensi di ruang Orochimaru. walau ia tidak mengenal siapa itu Orochimaru, namun melihat keadaan kelas yang langsung hening hanya karena mendengar kata Orochimaru, Sasuke jadi ikut panik walau ia bisa menyembunyikannya dengan wajah datarnya.

"Ada apa Ino-chan?" Iruka-sensei merespon Ino. Sasuke meneguk ludahnya

"Aku izin ke toilet"

Sasuke bernafas lega. ia sudah terlewat jauh memperkirakan, ternyata ia hanya ingin ke Toilet. Ino dengan cepat meninggalkan kelas.

Melihat bangku kosong disebelah Uchiha, Anak-anak gadis tidak akan menyia-nyiakannya dan langsung ribut berebut posisi

"Detensi di ruang Orochimaru!"


"Pein, ini buku-buku untuk anak kelas 10 sudah sampai.. setelahnya kau urus sendiri. aku ada urusan lain dengan Nona Tsunade" ucap Shizune-sensei seraya membawa beberapa tumpukan buku

"Terimakasih Shizune-sensei. aku akan mengurusnya setelah ini" Pein, sang ketua OSIS sibuk membolak-balikkan kertas yang tersusun rapi di mejanya

kemudian Shizune pergi berlalu meninggalkan para OSIS untuk mengatur pembagian buku-buku sekolah

"Buku-buku ini harus segera di antar ke kelas 10, karena sampai hari ini mereka belum juga mendapatkan buku. kalian berdua, sebaiknya cepat antarkan Buku ini dan bagikan pada masing-masing kelas sebelum bel pelajaran selanjutnya berbunyi" ucap sang ketua Osis memerintah 2 orang anggotanya yang sedang tidak kedapatan tugas

"hmm.. baiklah ketua Pein. aku senang bisa melihat junior-juniorku" jawab salah satu diantara mereka

"jangan banyak bicara, cepat lakukan"

"Yosh, ayo Zetsu.. kita antarkan buku-buku ini"


Ino mengerjap-ngerjapkan matanya. ia mencoba mengadaptasikan matanya pada cahaya sekitar. Ruangan yang ia tempati tampak sangat asing. dimana dia? apa yang terjadi? apa tidak ada orang disini?

"sudah bangun rupanya" sebuah suara menginterupsi Ino. ia terlonjak saat melihat seorang laki-laki sedang duduk di Sofa sambil membaca kabar berita buatan Konoha High School. ia menyingkirkan koran yang menutupi wajahnya

"Ketua Osis, apa yang terjadi?" Ino mengubah posisinya yang saat itu sedang tiduran menjadi duduk

Belum sempat ketua OSIS menjawab, tiba-tiba seseorang datang membawa segelas teh menginterupsi

"dia sudah bangun? Maaf ya soal tadi. aku tidak sengaja menabrakmu" jawabnya sambil memasang raut wajah menyesal. "Aku membawa setumpukan buku yang sangat tinggi. aku jadi tidak bisa melihat ada orang di depanku. ini, aku membuatkan teh untukmu" lanjutnya sambil menyodorkan segelas teh yang langsung diterima oleh Ino

namun Ino tidak langsung meminumnya, melainkan ia mengingat-ingat lagi kejadian yang menimpanya

.

.

.

.

.

.

Sebenarnya Ino tidak terlalu ingin ke Toilet. namun karena ia risih berada di dekat Uchiha karena tatapan aneh dari para murid disana membuat Ino makin tidak betah saja dikelas. Baru kali ini ia berniat untuk meninggalkan kelas.

Tapi tentu saja itu bukan keinginan kakaknya. Ia tidak boleh bertindak diluar kendali hanya karena ia berada di luar kendali kakaknya

Saat Ino akan memasuki pintu kamar mandi, ia merasa tubuhnya ditabrak oleh sesuatu yang sangat besar dari arah samping. Ino terjatuh dan kepalanya membentur ujung tembok. Ia berusaha melihat apa atau siapa yang baru saja menabraknya. tetapi ia hanya melihat tumpukan buku yang berserakan

Kepalanya serasa berputar dan pandangannya semakin kabur. ia hanya melihat almamater OSIS bergambar awan merah. setelah itu ia hanya mendengar sayupan suara

"Hey, Tobi.. apa yang kau lakukan pada gadis itu?"

"Ah.. Tobi tidak melakukan apa-apa. Tobi kan anak yang baik.. aku tidak sengaja menabraknya.."

"kau ini..."

.

.

.

.

"hey, nona.." orang itu, Tobi.. melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ino yang sedang melamun. Ino terlonjak dan tersadar dari lamunannya. "sebaiknya kau minum teh buatanku, rasanya enak"

Ino meneguk teh itu. rasanya tidak jauh beda dari teh teh lain. Ino melihat name-tag yang tertera di almamater OSIS itu. 'Obito Uchiha'. bagus, Ino sekarang mencatat, sepertinya orang yang bermarga Uchiha itu adalah orang yang suka menabrak orang. tapi sepertinya Uchiha yang satu ini lebih ramah

Dilihat dari suasana dan keadaan, Ino yakin bahwa ia sedang berada di ruang OSIS. tapi kenapa di ruang OSIS? kenapa tidak di UKS saja?

"kau ini tidak bisa diandalkan" sahut seseorang lagi yang baru datang dengan membawa tumpukan buku. sepertinya itu adalah buku-buku yang Obito-senpai jatuhkan. Obito yang dipanggil Tobi itu hanya melirik orang yang menginterupsinya, dan mengalihkan pembicaraan

"kalau dilihat-lihat wajah gadis ini mirip sekali dengan Deidara-senpai ya ketua Pein?" Tobi memperhatikan Ino yang sedang melihat-lihat ruangan

"Deidara-nii-san? dia sepupuku.." Berhubung yang diajak bicara tidak menanggapi, jadi Ino yang mengambil alih obrolan

"waa, benarkah? bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja?"

"dia baik-baik saja" Ino tersenyum. ternyata Deidara sangat dirindukan disini. ya, bagi Ino mempersingkat SMA artinya mempersingkat masa muda. Ino jadi penasaran, seberapa populernya Deidara di sekolah ini.. Ino tidak boleh kalah

"Hey Tobi, dimana kau taruh kunci UKS?" Kali ini satu-satunya OSIS perempuan datang

"Ano.. soal itu.. aku lupa membawanya" Tobi menggaruk kepalanya yang tidak gatal

"Ya ampun Tobi.." Semua orang disana tampak bosan sekaligus maklum dengan kecerobohan Tobi. Ino bahkan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana orang seperti ini bisa menjadi anggota OSIS

"Biar aku antar pulang saja dia" Tobi mencoba mengalihkan kesalahannya

"Ah, tidak usah.. aku masih mau belajar. aku sudah agak baikan" Ino menolak dengan halus tawaran Tobi. Tentu ia datang ke sekolah bukan untuk disuruh pulang hanya karena insiden kecil semacam ini. Lagipula, bagaimana Ino bisa mempercayai orang yang telah menabraknya sampai pingsan begini

"Kau ini bagaimana Tobi, dengan berjalan saja kau bisa membuatnya pingsan begini.. apalagi dengan menyetir mobil.." Kata kata ketua Pein langsung bisa menggambarkan kata kata yang ingin Ino keluarkan, karena Ino hanya terlalu sopan untuk mengatakannya

"Aku panggilkan sepupuku saja ya.. dia orang yang baik sama seperti aku.."

"Eh.." Ino baru saja ingin mengatakan tidak usah.. namun si Tobi sudah melesat pergi. apa boleh buat, kalau Ino menolaknya ia jadi seperti tidak menghargai orang itu.

Tak lama Tobi datang sambil berlari dengan membawa seseorang. Namun seseorang itu belum sampai didepan pintu.. Mungkin orang itu tidak berlari seperti Tobi.

"Ayo"

What? Uchiha Sasuke? Ino tidak mengira bahwa sepupu orang ini adalah Uchiha Sasuke. Hari ini dunia terasa sempit sekali. Ya ampun kenapa ini kenapa jantung Ino jadi menabuh genderang begini...


AN: iya iya tau... Ini lebih panjang gegara gua bingung mecahnya dimana.. Lagian juga lagi lagi scene SasuIno-nya kepotong ya heheh. Maap updatenya lemot ini semua gara gara UN. Chapter selanjutnya diusahain kilat deh. Untuk pairingnya kok pada muveng ya *eh .. Gua juga ngga tau ni pairingnya, ngga mau kasih Spoiler. Last.. Reviewnya mana? Masa sempet baca tapi ngga sempet Review (*skarang authornya yang muveng) Baka yaro kono yaro!