Chapter 5
KAI POV—
Jadi itukah alasan kyungsoo terlihat seperti tidak begitu nyaman ketika berada didekatku?
Selama acara pelamaranku kepada jiyeon aku terus berfikir ada apa dengan kyungsoo. Dan mata bulatnya itu selalu terpancar kesedihan setiap kali aku bertemu dengannya.
Sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya.
Ternyata aku terlihat begitu mirip dengan jong in kekasih kyungsoo yang sudah meninggal begitulah kata chanyeol tadi.
Sekarang aku sedang duduk di blankon apartmentku menikmati udara sore yang sudah semakin dingin karena seoul sudah akan memasuki musim dingin.
Pikiranku terus melayang dimana hari pertama aku bertemu dengan kyungsoo untuk pertama kali. Aku ingat bagaimana mata perempuan itu terlihat terkejut. Saat itu aku ingin tertawa. Namun, matanya terpancar kesedihan membuatku menelan kembali tawa yang akan keluar dari bibirku waktu itu.
Perempuan itu terlihat begitu rapuh.
Siapa jong in itu? Entah kenapa aku menjadi begitu penasaran dengan seorang yeoja yang bernama kyungsoo itu.
Mungkin besok aku harus kembali ke café chanyeol untuk bertemu dengan kyungsoo.
Kai POV end—
.
.
Kyungsoo sedang duduk dengan diam didalam kamarnya. Yah, dia sudah pulang tadi siang. Sebenarnya baekhyun sudah melarang keras keinginan kyungsoo. Namun baekhyun tidak bisa menahan tatapan memohon kyungsoo yang sulit ditolak.
Sesampainya dirumah kyungsoo hanya mengurung diri dikamar. Dia tidak beranjak dari tempat tidurnya. Bahkan saat baekhyun memaksa kyungsoo untuk makan. Kyungsoo tetap menolak. Hal itu membuat baekhyun semakin khawatir dengan keadaan kyungsoo.
Kyungsoo POV—
Ada apa denganku?
Kai dan Jongin itu berbeda. Mereka tidak sama. Seharusnya aku tidak berpikiran seperti ini. Seharusnya aku bisa mengendalikan perasaanku. Kai bukanlah jong inku. Kai adalah orang lain yang bahkan tidak kukenal siapa dia sebenarnya.
Aku merasa bodoh. Kenapa aku harus merasa frustasi hanya kepada seorang pria yang bahkan tidak kukenal.
"Kyung" ak u dapat mendengar suara baekhyun yang memanggil namaku.
"Makanlah" aku beranjak dari kasurku. Rasa bersalah muncul saat aku mendengar suara baekhyun yang semakin lemah. Aku sudah membuat sahabatku menjadi seperti ini. Mianhae baekhyun-ah.
Ckleck-
Baekhyun tersenyum dengan begitu penuh kelegaan saat melihatku membukakan pintu kamarku.
"Kyung makanlah. Aku sudah membuatkan bubur untukmu. Emm,, walau rasanya mungkin akan sedikit aneh. Tapi aku sudah berusaha semampuku" aku hanya tersenyum.
Seharusnya aku menyadarinya. Aku masih memiliki baekhyun sahabatku. Seharusnya aku tidak seterpuruk ini dan malah selalu membuat baekhyun khawatir denganku.
Aku berjalan mengikuti baekhyun menuju ruang makan. Terdapat dua mangkuk bubur disana.
"Ini untukmu" baekhyun memberikanku bubur dengan sayuran diatasnya.
"Dan ini untukku" sedangkan dia memakan bubur dengan sayuran serta daging diatasnya.
'Kau sedang sakit' itu yang baekhyun katakan saat aku baru akan memulai untuk memprotes bagianku.
Aku tersenyum dan bersyukur memiliki seorang sahabat yang begitu setia berada disisiku.
"Gomawo baekhyun-ah" baekhyun menghentikan kegiatannya dan menatapku dengan bingung.
"Untuk?"
"Gomawo sudah menjadi sahabatku"
Baekhyun tersenyum dengan begitu lembut.
"Itu sudah menjadi kewajibanku dan aku juga bahagia memiliki sahabat sepertimu kyungie-ah"
Malam itu kami yang bercerita hal-hal lucu bersama dan membuatku melupakan sejenak beban yang selama ini menghantui otakku.
Mungkin aku harus merubah semua cara hidupku menjadi lebih baik lagi.
Kyungsoo POV end—
.
.
Pagi sudah menjelang. Kyungsoo bersiap-siap menuju moonlight café begitu pula dengan baekhyun. Yah, setelah berpikir lama akhirnya kyungsoo memberanikan diri untuk bercerita tentang pekerjaannya. Awalnya baekhyun tidak setuju. Namun, dengan beribu cara akhirnya baekhyun merelakan kyungsoo untuk bekerja. Walau dengan berat hati.
"Kyung aku pergi dulu. Bye"
"Bye"
Kyungsoo dan baekhyun harus berangkat secara terpisah karena arah jalan mereka yang berbeda.
Seperti biasa kyungsoo menunggu bus di halte biasa. Tapi ada yang berbeda hari ini.
Halte bus yang biasanya rame hari ini terlihat begitu sepi.
"Dimana semua orang?" kyungsoo mengecek jam tangannya. Waktu masih menunjukkan 06.22. Namun dia tidak melihat siapapun dihalte.
Tanpa memperdulikan terlalu banyak kyungsoo memilih untuk duduk dan terus mengayunkan kakinya untuk menghilangkan rasa bosannya.
"Euuhh" dia mendengar suara seorang namja yang sekarang berada dihalte yang sama dengannya.
Sebenarnya kyungsoo merasa sedikit takut. Karena halte yang begitu sepi dan dia hanya berdua dengan seorang pria.
"Hey" kyungsoo mengeratkan genggamannya pada kursi halte karena rasa takut yang tiba-tiba muncul.
"Hey" sekali lagi pria itu bersuara.
Tekk—
"Kyaaaa. Apa yang kau lakukannnnn?!"
Bughh
Bughh
"Aaaa"
Brakk
Karena terkejut secara refleks kyungsoo langsung memukul pria itu dengan begitu keras dan bertubi-tubi. Sehingga membuat pria itu jatuh dari duduknya.
"Eung? Kai-ssi?" kyungsoo menghentikan pukulannya dan menatap tidak percaya pada pria yang sekarang sudah terduduk dilantai.
"Ck! Kyungsoo-ssi. Apa yang kau lakukan padaku?" dengan kesal kai berdiri dan duduk kembali ke tempat semula.
Kyungsoo merasa tidak enak hati apalagi saat melihat wajah kai yang terlihat sedikit lebam dibagian bibirnya.
"Kai-ssi mian" merasa bersalah kyungsoo mengeluarkan plaster yang tersimpan ditasnya dan memberikannya kepada kai.
Kai mengambilnya walaupun rasa kesal masih terlihat jelas diwajahnya.
Pria itu berusaha menempelkan plaster tersebut disudut bibirnya. Namun, karena kai tidak dapat mengetahui dimana letak luka itu dan membuat kai menjadi semakin tidak sabar.
"Arghh,, dimana letak sebenarnya?" ujar kai kesal.
"Tempelkan" pinta kai kepada kyungsoo sambil menyodorkan plester kepadanya.
"Euh?"
Dengan sedikit canggung kyungsoo mengambil plaster dari tangan kai. Bagaimanapun ini adalah salahnya.
Kyungsoo berusaha untuk tidak terlihat gugup saat memasangkan plaster kewajah kai.
Bagaimanapun kai memiliki kemiripan dengan jong in yang membuat kyungsoo sulit untuk mengendalikan perasaannya.
Jarak keduanya sudah semakin dekat. Wajah kyungsoo sudah terlihat begitu dekat dengan wajah kai. Kyungsoo berusaha untuk hanya terfokus kepada letak luka kai yaitu sudut bibir kai.
Sedangkan kai?
Dia terus memperhatikan wajah kyungsoo tanpa disadari sendiri oleh kyungsoo.
Saat memasangkan plaster tersebut tanpa sengaja tangan kyungsoo menyentuh bibir kai. Dan membuat kyungsoo merasa semakin gugup.
Setelah selesai kyungsoo langsung menjauhkan wajahnya dari kai. Rasa lega terlihat begitu jelas dari wajah kyungsoo.
Tak lama kemudian bus yang ditunggunya sudah datang. Tanpa menunggu lebih lama kyungsoo langsung menaiki bus tersebut. Begitu juga kai yang mengekor dibelakangnya.
Kyungsoo yang menyadari kai yang mengikutinya hanya bernafas lelah. Karena sekarang mereka harus berdiri dengan jarak yang dekat. Dikarenakan bus yang begitu sempit karena dipenuhi oleh banyaknya orang yang akan berangkat kerja.
'Kenapa dia harus berdiri disampingku' batin kyungsoo.
Dia sungguh tidak nyaman diposisinya sekarang. Tubuhnya benar-benar sudah tidak memiliki jarak lagi dengan kai.
Bagaimana mungkin ahjussi bus tidak melihat bahwa bus sudah sangat penuh? Kenapa dia terus menambah jumlah penumpang?
Kyungsoo POV—
Aku sungguh tidak tau dimana harus aku meletakkan wajahku sekarang. Mungkin untuk beberapa hari kedepan aku akan menghindari kai. Aku sungguh tidak tau harus bagaimana untuk bertatap muka dengan dia.
"Kita sudah sampai. Kau tidak mau turun? Jika tidak bergeserlah. Kau menghalangi jalanku." tanya kai dengan nada yang terdengar sedikit angkuh. Sungguh walaupun wajahnya terlihat begitu mirip dengan jong in. Tapi mereka berdua benar-benar memiliki sifat yang bertolak belakang. Kai sangat tidak memiki sopan santun dan menyebalkan.
Aku memilih untuk keluar terlebih dahulu dan meninggalkan kai dibelakang.
Aku memasuki café dengan wajah yang terlihat begitu tidak menyenangkan. Kai pria itu sudah membuat hariku menjadi kacau. Di hari yang begitu cerah aku sudah mendapatkan 2 kejadian yang sangat menyebalkan. Pertama dia tidak sengaja memukul kai membuatnya harus mengobati pria itu. Walau hanya memberi plaster namun itu sangat memacu detak jantungku.
Kedua aku harus berdempetan dengan kai didalam bus.
"Ada apa denganmu soo?" aku memandang chanyeol yang sekarang berdiri didepanku.
"Ani,, nan gwaenchana" bohongku.
"Dimana kau semalam? Kenapa tidak datang kerja?" sial aku tidak tau harus menjawab apa sekarang.
"Sebagai seorang bos. Kau tidak boleh berbohong kepadaku" ini terasa semakin memojokkanku.
"Semalam aku berada dirumah sakit jadi aku tidak bisa masuk kerja. Mian tidak mengatakannya kepadamu chanyeol-ah" mungkin kalian berpikir kenapa aku bisa memanggil chanyeol saja bukannya sajangnim?
Semua karyawan disini juga memanggil chanyeol dengan nama aslinya karena pria tinggi itu tidak suka mendapat panggilan yang membuatnya merasa menjadi tua.
"Kau sakit?!" aku terkejut melihat ekspresi chanyeol yang terkesan berlebihan mungkin. Dia bahkan menggenggam kedua bahuku dengan begitu erat walau itu tidak menyakitiku sama sekali.
Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Apa sekarang kau masih merasa kurang enak badan soo?" aku menggelengkan kepalaku. Genggamannya terlepas dan aku juga bisa merasa sedikit lega.
"Syukurlah. Setidaknya aku tidak akan kekurangan pegawai hari ini" aku mempoutkan bibirku. Kukira dia merasa khawatir dengan keadaanku ternyata.
Aku pergi meninggalkan chanyeol menuju ruang ganti untuk menganti pakaianku. Ternyata dengan bekerja ditempat ini setidaknya aku juga bertemu dengan chanyeol yang memiliki kepribadian seperti baekhyun. Sehingga aku seperti bertemu dengan seseorang yang sama dan membuatku seperti tetap berada dirumah.
Aku keluar dari tempatku menganti pakaian.
Dari tempatku berdiri aku dapat melihat kai yang sedang berdiri dekat meja kasir. Mata kami bertemu dan aku dapat melihat senyum menyebalkannya.
"Kyungsoo-ah!" aku mengalihakan perhatianku ke chanyeol dan melihat pria tinggi itu sedang mengayunkan tangannya menyuruhku untuk bergabung dengan mereka.
"Nah, karena sekarang staff kita sudah berkumpul aku akan menyampaikan sesuatu. Hari ini kai akan bergabung menjadi manager baru di moonlight café"
"Hah?!"
TBC
