Desclaimer: aah! Nanya mulu lu jon! Entar gua fenthunk lu kalo masih ngga tau Naruto punya Masashi Kishimoto

Yosh! Chapter 6 dattebayo! Semoga lebih bakayaro konoyaro yega? Iye aja udah langsung baca


Yang Ino bisa katakan saat ini adalah tidak ada. Ia merasa jantungnya sudah tidak menuruti perintahnya. Ino menemukan dirinya berdiri terpaku seperti orang bodoh namun tidak berniat mengubah posisinya.

"Kenapa diam? Ayo cepat. Ini tasmu, kau bisa bawa sendiri kan?" karena jengah menunggu Ino yang tidak kunjung mengikuti langkahnya, akhirnya Sasuke menarik tangan Ino untuk segera mengikutinya. Pastilah Ino yang sedang berdiri hampa hanya terbawa dengan tangan Sasuke

Tak lama ia baru menyadari akan tangannya yang sedang ditarik oleh Sasuke. Tangan Sasuke lebih besar, dan terasa hangat.

"Iiihh, lepas lepas.. Aku bisa jalan sendiri tau" Ino berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sasuke yang masih saja menariknya

"Kalau bisa jalan sendiri kenapa sedaritadi diam? aku pikir itu artinya kau butuh bantuan" jawabnya datar sambil sedikit menggoda

"Aku hanya sedang berpikir sesuatu" Ino buru buru mencari alasan agar dirinya tidak canggung

"Kau bisa berpikir rupanya?" Sasuke menggoda Ino

Mendengar kata kata itu benar-benar membuat Ino naik tensi, mau dikemanakan Harga dirinya sebagai seorang Gadis, memangnya ia benar terlihat seperti orang yang tidak berfikir? Benar begitu!? Hah?! Padahal Ino kan salah satu Gadis terpintar yang ada di sekolah ini! Tangannya mengepal keras dan langsung menghantamkan tinjunya tepat di pundak Sasuke

Sasuke hanya mengaduh kesakitan saat mendapat tinju dari Ino. Apa dia baru melakukan kesalahan? Ya.. Mungkin bagi orang itu adalah candaan biasa, namun bagi Ino.. Itu adalah sesuatu yang mengancam Harga dirinya. Itu sebabnya ia tidak segan meninju orang yang baru saja 'menginjak' harga dirinya

"Aku kan hanya bercanda.." Sasuke mengusap-usap pundaknya yang baru saja mendapat bogem dari Ino. Sesaat Ino berfikir bahwa tinjunya tadi memang terlalu berlebihan.. Namun ia tidak bisa menahannya karena memang sudah menjadi kebiasaannya

Lain kali ia harus bisa mengontrol emosinya kalau ingin punya teman dan tidak ingin berurusan dengan guru detensi. Detensi hanya akan memangkas beasiswanya bukan?

"Sebenarnya, aku tidak mau pulang..." ucap Ino memasang raut wajah sedih

Sasuke menghela nafas "Kalau kau belajar dengan kondisi yang tidak baik, kau tidak akan bisa menyerap pelajaran"

Sasuke membawa Ino menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia membukakan pintu untuk Ino. Ino sebenarnya agak terperangah bukan karena Sasuke membukakan pintu untuk Ino.. Namun karena mobilnya yang terparkir ini sama seperti mobil yang waktu itu ia gores. Namun kemana bekas goresannya? Tidak ada. Orang ini merawat mobilnya dengan baik, pikir Ino.

Diperjalanan hanya diisi dengan kekosongan, Sasuke yang fokus menyetir mobil nampak tidak berniat memulai obrolan. Pada akhirnya ia juga yang harus memulai percakapan, karena memang Ino paling tidak suka momen canggung seperti ini

"Jadii... Bagaimana kau bisa menjadi murid baru di Konoha High school?"

"Ya, aku baru datang dari desa lain.. Dan ibuku langsung mendaftarkanku di Konoha high school" jawabnya singkat jelas padat merayap. Tentu saja ia tidak akan bilang yang sebenarnya terjadi

Flashback on

'jadi dia sekolah di Konoha high school ya.. Mmm... Dia orang gila paling cantik yang pernah aku temui'

"Tadaima" Sasuke berjalan menuju sofa dan langsung mendudukkan dirinya. Ia menyuruh salah satu pelayan laki-laki yang ada dirumahnya untuk membawa mobilnya ke bengkel untuk memoles mobilnya yang digores. Ia kemudian memandang langit langit dan tampak berpikir.. Tak lama ia menyeringai

"Anak ibu sudah pulang, Ibu sudah membuatkan jus tomat untukmu" Ibunya menyodorkan jus tomat yang baru ia buat

"Ibu.. apa boleh aku tinggal disini saja dan pindah ke sekolah yang ada disini?" tanya Sasuke sambil meminum jus tomatnya

"hmm? memangnya kenapa tiba-tiba kau mau pindah sekolah? bukankah kau yang bilang kau tidak mau bersaing dengan kakakmu?"

"Ya aku pikir lelah juga kalau harus bolak-balik dari desa satu ke desa lainnya"

"Begitu ya.. hmm.. nanti akan ibu beritahu paman Shisui.. dia pasti akan membantumu"

"Hn"

Flashback Off

"Ooh begitu" sampai disitulah pembicaraan mereka. Ino kemudian melihat kearah jalanan, sedikit lagi sampai di Apartemennya. tidak sampai 2 menit mereka sudah berada tepat di depan Apartement, Ino sudah bersiap melepas sabuk pengamannya.. namun Sasuke tidak menghentikan laju kendaraannya

"Unn.. Sasuke. Ini bukan pertama kalinya kau mengantarku pulang, kau masih ingat kan?" Ino kebingungan, kenapa Sasuke tidak menghentikan laju kendaraannya? padahal Apartemen Ino sudah lewat. Ino sengaja tidak memberi Sasuke direksi karena ini bukan pertama kalinya Sasuke mengantar Ino pulangkan? apa ia lupa?

"Aku tau" jawabnya "Kau sendiri kan yang bilang kalau kau tidak mau pulang? Kalau begitu kita bersenang-senang saja"


"Shikamaru..." Gadis berambut pirang itu meluruskan langkahnya kearah Shikamaru. Shikamaru yang saat itu sedang menuju halaman belakang sekolah hanya mendengus. Tidak menoleh ataupun menghentikan langkahnya

"Hey, sudah lama kita tidak bertemu" Shikamaru hanya melirik gadis yang sedang menggelayuti pundaknya

"Kau ini apa-apaan" Shikamaru melepaskan tangan gadis pirang yang sedang menggelayuti pundaknya secara paksa

"Ih.. Kau ini.. Kenapa kau tidak menyambutku dengan baik? Inikan hari pertamaku di Konoha High School" gadis itu memanyunkan bibirnya "Lagipula aku kan sudah memberitahumu via ponsel. Ayo, ajak aku melihat-lihat isi dari sekolah ini" Gadis pirang berkuncir empat itu langsung menarik tangan Shikamaru.

Shikamaru mendengus, apa yang dilakukan gadis itu mengingatkannya dihari pertama ia mengenal orang ini.. Rasanya... Senang. Namun tak menampik kemungkinan bahwa Shikamaru juga mengingat kejadian yang membuatnya mengambil pilihan ekstrim

Sambil berjalan mengikuti langkah gadis yang menyeretnya, ia menatap gadis itu. Sejenak ia berpikir akan melakukan hal yang sama seperti dulu saat ia berbalik dan tidak menoleh. Namun pikiran itu seakan sirna saat gadis itu menoleh dan menatapnya kembali kemudian tersenyum

Flashback On

"Shikamaru! Kau tidak boleh tertidur di meja makan!" Yoshino langsung menjewer telinga anaknya yang Super malas itu bahkan untuk sekedar makan malam ia masih sempat tertidur di meja makan

"Aw... Itttaaai" Shikamaru mengusap telinganya

"Ibu akan mengambil supnya. Jangan ada yang tertidur di meja makan! Lagi!" gertak ibunya sambil menodongkan sendok sayuran yang mungkin akan dilemparnya jika ia melihat ada yang tertidur di meja makan lagi "huff..rasanya seperti mengurus 1 orang dalam 2 tubuh secara bersamaan" gumam ibunya sambil berbalik

Shikamaru menatap ibunya dengan tatapan malas seperti biasanya

"Kenapa ayah bisa menikah dengan wanita yang merepotkan?"

"Ayah juga tidak tau... Tapi walau begitu, senyuman Ibumu sangat manis"

Flashback off

Kata-kata ayahnya sekali lagi terngiang dikepalanya. Seakan dari ribuan hal yang ia ketahui namun yang muncul dikepalanya saat melihat senyuman dari Temari adalah kata-kata Ayahnya. Entah hanya perasaannnya saja atau memang kenyataan Shikamaru kembali terpesona pada gadis itu.

"Hey tuan tidur.. Kau punya hobi baru?" Temari menghentikan langkahnya ketika menyadari Shikamaru yang sedang melamun, ia mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajah Shikamaru.

Shikamaru terlonjak dan tidak mengatakan apa-apa saat ia mulai kembali pada kesadarannya. Ia hanya mengikuti arah langkah gadis itu. Sebenarnya apa yang terjadi?!, pikirnya

.

.

.

.

Shikamaru dan Temari duduk di bawah pohon yang berada di Halaman belakang sekolah. Temari masih menikmati es krim yang ia beli di kantin sekolah sedangkan Shikamaru.. ia tidak tertidur tapi juga tak sepenuhnya sadar. anggap saja ia sedang tidur-tiduran menikmati segarnya udara dibawah pohon

"Kau mau?" Temari menawarkan es krim yang ia genggam

"Tidak" jawab Shikamaru. "ngomong-ngomong, kau tinggal dimana selama di konoha?" lanjutnya

"Ayahku membelikanku sebuah rumah di Konoha, jadi aku bisa tinggal kapanpun aku mau" jawabnya sambil tersenyum "Adik-adikku juga bersekolah disini"

"Pasti merepotkan" adalah jawaban yang diberikan Shikamaru

"Tidak, selama kita bisa bersenang-senang bersama"

"Setidaknya tidak bagimu. tapi bagiku dan adik-adikmu hal itu tentu merepotkan. kau pasti memaksa mereka untuk ikut bersamamu " Shikamaru mengubah posisinya menjadi duduk

"Ah..emm.. tidak. tidak seperti itu.. ini bagian dari keinginan mereka juga"

"Ah, yasudahlah.. 5 menit lagi bel berbunyi" Shikamaru berdiri dan merapikan seragamnya

"Ehh, Shikamaru.. bantu aku berdiri" Temari menyodorkan tangannya ke Shikamaru. Shikamaru menghela nafas lalu menuruti perintahnya

Ia tidak memninta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Apa mungkin ini adalah jalan damai yang ia tempuh?, atau ia tidak mengingat dan tidak menganggap bahwa itu adalah sebuah kesalahan?

Ini aneh, sangat aneh pastinya. Shikamaru bukan orang yang bodoh untuk mengetahui hal janggal itu. Selain menganalisa apa yang sedang terjadi.. Ia juga memikirkan, apakah yang dilakukan Shikamaru adalah benar? Setelah apa yang Temari perbuat padanya?


"Memangnya kita mau kemana Sasuke-san?" Tanya Ino keheranan. bersenang-senang? apa maksudnya?

"Nanti kau juga tau" jawabnya sambil masih fokus memperhatikan jalanan.

Ino mengangguk, ia menebak-nebak apa yang akan mereka lakukan dan mau kemana mereka. Ia juga memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang negatif. Mungkin saja Sasuke akan menculiknya dan melakukan perbuatan yang tidak-tidak pada Ino. Itu bisa saja terjadi kan?

Ino menyiapkan perlengkapan bertarungnya seandainya hal itu benar-benar terjadi. Pisau lipat, semprotan lada, stun gun. semuanya Ready to use. Ino memang selalu dibekali oleh alat-alat perlindungan diri oleh Deidara. Tentu saja ia tidak akan membiarkan adiknya tinggal sendiri tanpa keahlian.

Mobil Sasuke berhenti, tepat didepan sebuah Mall dipusat kota.

"Kita sudah sampai?" tanya Ino. Ya ampun, ternyata kita hanya mau main ke Mall. Segera Ino singkirkan pikiran-pikiran buruk yang ia perkirakan.

"Ya, kau lihat sendiri" jawab Sasuke.

TAPI. Mereka berdua kan masih pakai seragam! Kalau mereka berdua masih pakai seragam, bagaimana kalau ada orang atau petugas yang melihat mereka berkeliaran pada jam sekolah?! Tamatlah riwayat Ino sebagai murid teladan. Terlebih ia lupa membawa cardigan-nya

"Ta-tapi Sasuke.. Kita masih pakai Seragam.. Na-nanti.."

"Tidak usah takut, ini pakai jaket ku saja" Sasuke menyodorkan jaketnya

"Kau bagaimana?" ya, pastinya Ino tidak ingin menantang bahaya yang seperti ini. Daripada nekat lebih baik tidak usah kan?

"Sepertinya aku menyimpan satu disini.." tangan Sasuke menjangkau bangku penumpang "ah, ini dia". Sasuke langsung memakainya. Ino memperhatikan Sasuke yang sedang memakai jaketnya

'Kalau dipikir-pikir ia tampan juga ya, mimpi apa aku bisa " jalan" dengannya'

"Hey, cepat pakai.. Kenapa malah melihatku seperti itu.." Kata-kata Sasuke langsung menyadarkan lamunan Ino.

"Ah, iya iya" pipinya memerah saat ia tertangkap basa sedang memperhatikan Sasuke. Ia memakai jaketnya dan langsung turun dari mobil.

Sasuke mengajak Ino menuju tempat berbelanja baju dan tas. Sialnya Ino sedang tidak membawa kartu kredit dan uang cash yang cukup, karena hellaaaw.. Awalnya kan Ino pergi ke Sekolah, bukan ke Mall. Akhirnya Ino hanya melihat-lihat baju yang ada disana. Melihat harganya saja sudah membuat Ino merinding.

Banyak baju bagus dan mahal yang membuat Ino tergiur, namun setelah ia melihat Label harga.. Ia kembali meneguk ludahnya. Memang sudah lama ia tidak membeli Baju semenjak event Tahun baru 2 tahun yang lalu. Ia biasanya memakai baju turunan Deidara.. Tak apalah memakai baju laki-laki. Atau ia pakai baju yang kekecilan, karenanya Ia sering memakai jaket atau Cardigan untuk menutupi bajunya. Hanya beberapa potong bajunya yang masih muat. Lagipula ia biasanya membeli baju di toko Grosir

"Kau mau yang mana?" tanya Sasuke setelah menunggu Ino melihat-lihat. Ino terlonjak mengetahui Sasuke yang sudah berada di belakangnya, sejak kapan?

"Emm.. Tidak aku hanya melihat-lihat saja" jawab Ino

"Ambil saja yang mana yang kau pilih"

"Aku tidak.."

Belum sempat Ino selesai bicara, Sasuke kemudian memanggil seorang penjaga toko dengan tepukan tangan lalu menyuruh pelayan itu memilihkan beberapa set baju untuk Ino. Penjaga toko itu kemudian dengan Gesit memilihkan baju baju untuk Ino sambil sesekali memperhatikan Ino dan memberikan gestur mengukur dan mencocokkan baju.

Ino mencoba satu persatu baju yang diberikan penjaga toko tersebut. Sesekali Sasuke memperhatikan Ino sambil tersenyum walau Ino tidak menyadari hal itu.. Sedangkan penjaga toko tersebut bertepuk tangan untuk dirinya sendiri seolah sudah menjadi penata busana profesional.

"Aku pilih yang ini saja" Ino memilih baju yang paling murah sekaligus yang paling nyaman untuk dipakai, lagipula baju ini tidak terlalu buruk untuk dipakai ke Mall

"Kau bercanda?" Sasuke terkekeh , namun Ino hanya diam saja "Hitung semua" katanya pada sang Kasir. Kasir itu lalu menuruti perintah Sasuke. Harga yang tertera di layar membuat Ino tidak bisa menutup mulutnya. Sasuke mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan kartu Kreditnya.

"Terimakasih banyak ya Sasuke.. Ngomong-ngomong Setelah ini kita kemana?" Tanya Ino setelah membayar baju yang dibelikan Sasuke

"Kita belum bersenang-senang di tempat ini kan?"


AN: Yoo, chapter 6 update. bilangnya kaga lemot.. apaan ini lemot banget malahan -_- yega? authornya monyet emang. Kalian jangan nanya Pairing mulu dong T_T gue juga bingung, ini keputusan paling berat bagi gue. liat aja nanti, soalnya udah banyak yang melenceng dari kerangka plot yang gue buat :v Klimaksnya kaga kluar kluar yak? sabar sabar, kan kita susun dulu ceritanya. Anggap aja chapter filler.

Gue abis perpisahan, gara-gara perpisahan disuruh make kebaya jadi ngga sempet ngepost, udah gitu buntu ide lagi. ngga sempet dandan, jadi rambut acak-acakan udah kek begal mau dibakar. ah, sudahlah. tidak penting dan tidak bermutu. last but not least, Review sangat dinantikan untuk ngebagusin ceritanya. flame? kalo bisa jangan

xx-Kilat kuning dari comberan-xx

xx-Wanda Grenada-xx