Chapter 6
"Hah?!" tanpa kusadari teriakan keluar dari mulutku dan berhasil membuatku menjadi pusat perhatian. Semua pelayan dan juga chanyeol menatapku dengan tatapan bingung. Kecuali kai yang masih menatapku dengan tatapan mengejeknya.
"Wae? kyungsoo-ah" aku menatap chanyeol seakan bertanya apa mungkin dia hanya bercanda?
"Apa kau terkejut dengan kehadiranku kyungsoo-ssi?" tanya kai dengan nada yang dibuat seramah mungkin.
'Dasar bermuka dua' batinku.
Aku menggelengkan kepalaku dan berusaha tersenyum sebaik mungkin kepada kai.
"Ya sudah. Kita mulai pekerjaannya" intruksi chanyeol. Kami semua memulai pekerjaan dengan semangat.
Hari ini suasana dicafe yang menurutku begitu menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi kelam. Karena kehadiran satu makhluk yang sangat mengganggu.
Selama aku bekerja aku terus berusaha untuk berkonsenterasi dengan pekerjaanku. Tapi beberapa kali tanpa sengaja aku melihat kai yang sedang menatapku. Itu membuatku risih dan susah bergerak bebas.
Kesal dengan suasana tersebut aku mendatangi kai yang sedang berdiri didekat pintu masuk. Karena café yang sedang istirahat sehingga semua karyawan bebas sementara.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
Kai hanya memasang wajah seperti tidak mengerti apa yang kukatakan. Wajahnya sungguh menyebalkan. Ah! Tidak wajahnya tidak menyebalkan. Tapi sikap dan senyumnya yang menyebalkan.
"Apa maksudmu terus menatapku seperti itu?"
"Ahahahaha"
Kenapa dia malah tertawa? Apa ada yang lucu?
"Kau kegeeran sekali. Apa kau berfikir aku tidak memiliki kerjaan lain selain menatapmu? Kau lupa sekarang aku adalah seorang manager dicafe ini. jadi aku harus mengawasi semua pegawai disini"
Aku menatap kai dengan tajam. Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa aku kegeeran?
Aku langsung berjalan meninggalkannya yang sedang tertawa mengejek dibelakangku.
"Argghh" kai benar mirip dengan jong in. Hanya wajah mereka saja yang mirip. Tetapi sikap mereka berdua tidak ada mirip-miripnya sama sekali.
Hari ini terasa begitu gelap dan terasa begitu buruk untukku. Apa sebaiknya aku mengundurkan diri saja? Tidak-tidak itu hanya akan membuatku kehilangan pekerjaan ini dan aku akan terus berada dirumah seperti dulu.
"Hahh. Kenapa dia harus bekerja disini juga sih?" aku berjalan menuju dapur memasak makanan untuk menganjal perutku.
Kyungsoo POV end—
Setelah selesai dengan makan siangnya. Akhirnya café moonlight kembali buka untuk menerima tamu.
Seperti biasa semua karyawan bekerja melayani tamu dengan semangat. Begitu juga dengan kai yang sekarang sudah beralih menjadi seorang manager. Sebagai seorang manager dia harus terus mengawasi semua karyawan yang sedang melakukan pekerjaannya dan juga melayani tamu-tamu yang mengkomplain tentang ini dan itu.
Jika dilihat lebih teliti sebenarnya kai tidak memperhatikan semua karyawan disitu matanya hanya tertuju kepada seorang yeoja. Kyungsoo. Kai terus memusatkan matanya kepada kyungsoo. Kemanapun kyungsoo berjalan mata kai akan selalu mengikutinya.
"Oppa!" kai mengalihkan perhatiannya dari kyungsoo kepada seorang perempuan yang tidak lain adalah kekasihnya jiyeon.
"Euuh? Jiyeon-ah. Bagaimana kau tau aku ada disini?" jiyeon memasang tampang merajuk setelah mendengar pertanyaan kai.
"Oppa, apa oppa tidak menyukai keberadaanku?"
"Ani, ani hanya saja aku penasaran dari mana kau bisa mengetahui keberadaanku"
Jiyeon merangkul tangan kai dengan mesra dan tersenyum dengan begitu bahagia.
"Aku mengetahuinya dari chanyeol oppa" kai merutuki chanyeol dalam hati. Kenapa dia memberitahukan hal tersebut kepada jiyeon?
Kai berusaha untuk tersenyum kepada perempuan yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya itu.
"Yasudah kau duduk saja dulu disini. Akan ku panggilkan pelayan untuk memesankan minum untukmu" jiyeon menurut dan duduk dengan manis.
"Kyungsoo-ah!" kyungsoo mengigit bibirnya saat mendengar kai yang memanggil namanya.
'Kenapa harus aku' batin kyungsoo kesal.
Dengan setengah hati kyungsoo berjalan mendekati meja kai dan jiyeon.
"Anda ingin memesan apa?" tanya kyungsoo dengan senyum yang setengah dipaksa dan suara yang dibuat seramah mungkin. Bagaimanapun dia sedang melayani seorang tamu sekarang.
"Aku ingin memesan Caramel Macchiato dan untukmu chagi?" ujar jiyeon kemudian menatap kai untuk mengatakan pesanannya. Kai menatap kyungsoo sebelum mengatakan pesanannya.
"Minuman apa yang menurutmu paling enak disini kyungsoo-ssi?" kyungsoo menatap kai dengan bingung.
'Apa maksudnya?' batin kyungsoo. Dia sama sekali tidak mengetahui tentang minuman dicafe ini. Hanya satu yang ia tau.
"Menurutku. Eungg.. Vanilla Latte" jawab kyungsoo asal. Hanya itu yang dia tau karena itu adalah menu favoritnya.
"Baiklah aku memesan satu vanilla latte" kyungsoo semakin bingung dengan sikap kai sekarang.
"Oppa. Bukankah kau tidak menyukai susu?" tanya jiyeon. Kai memang tidak menyukai susu ataupun segala jenis minuman yang bercampur dengan susu dan sekarang kekasihnya memesan vanilla latte?
"Gwaenchana aku hanya ingin mengetahui apa yang direkomendasikan oleh seorang pelayan café ini bisa dipercaya" ucap kai sambil menatap kyungsoo yang juga sedang menatapnya dengan tajam.
'Dia ingin mengerjaiku lagi' batin kyungsoo kesal.
Kyungsoo meninggalkan meja kai dan jiyeon.
Lama menunggu akhirnya pesanan kai dan jiyeon keluar juga. Sebenarnya kyungsoo takut untuk kembali kemeja itu. Dia kembali mengingat jong in yang dulu juga pernah mencoba meminum vanilla latte miliknya dan berakhir dengan jong in yang muntah-muntah. Jong innya juga tidak bisa meminum sesuatu yang terdapat susu didalamnya.
"Mereka benar-benar memiliki banyak kesamaan" lirih kyungsoo.
"Kyungsoo pesanan sudah siap" ujar Jinki pembuat minuman dicafe moonlight. Kyungsoo membawakan pesanannya kemeja kai dan jiyeon.
"Ini pesanan kalian" kyungsoo langsung meninggalkan keduanya dan melanjutkan pekerjaannya.
Walaupun sedang bekerja tapi sekarang perhatiannya menjadi terbagi dua. Dia melihat kai yang terus mencoba meminum vanilla latte pesanannya. Walau terlihat sekali pemuda itu terus memaksakan diri untuk meminum minuman tersebut tapi kai tidak berhenti dan terus meminumnya.
Sejenak kyungsoo tersenyum dia seperti melihat jong innya kembali.
Sadar akan apa yang dipikirkannya kyungsoo memukul kepalanya dengan keras.
"Andwae! Ingat dia bukan jong in bukan jong in. babo!" chanyeol yang kebetulan baru keluar dari ruangannya tidak sengaja melihat kyungsoo yang sedang membersihkan meja tetapi perempuan mungil itu terus memukul kepalanya berulang-ulang.
"Kyungsoo-ah" panggil chanyeol. Namun, kyungsoo tidak mendengarnya ia masih terus memukul-mukul kepalanya.
Chanyeol yang khawatir takut kyungsoo menyakiti dirinya sendiri langsung berjalan mendekati kyungsoo dan mengenggam tangan kyungsoo untuk menghentikan tangan kyungsoo yang terus memukul kepalanya sendiri. Genggaman tangan chanyeol membuat kyungsoo terkejut.
"Eh? Chanyeol? Sejak kapan kau ada disini?" tanya kyungsoo bingung.
"Kau gila? Bagaimana bisa kau memukul kepalamu terus menerus seperti ini?" bentak chanyeol.
"Apa maksudmu?" chanyeol menghela nafasnya kasar melihat tingkah kyungsoo.
"Kau mempunyai masalah?" tanya chanyeol.
Kyungsoo menundukkan kepala dan menggeleng kepalanya dengan lemah.
Chanyeol yang mengerti bahwa kyungsoo tidak ingin bercerita berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Segera bersihkan meja ini, kita akan segera tutup" kyungsoo mengangguk dan kembali membersihkan meja terakhirnya.
.
.
Café sudah tutup semua karyawan sudah bersiap untuk pulang begitupula dengan kyungsoo.
Piippp—piippp-
Kyungsoo mengambil ponselnya yang berbunyi didalam tas selempangnya.
"Yeobuseyo?"
"Kyungie-ah kau sudah mau pulang? Kenapa lama sekali?" kyungsoo tersenyum mendengar omelan baekhyun dari ujung ponsel.
"Mian baekkie-ah. Mungkin sebentar lagi aku sudah akan sampai ke rumah"
"Cepatlah soooooo"
"Ne"
Kyungsoo memasukkan ponselnya kedalam tas dan bersiap untuk pulang kerumah.
"Kyungsoo-ah" kyungsoo menghentikan langkah kakinya dan menatap chanyeol.
"Sudah malam. Ayo pulang denganku" kyungsoo tersenyum canggung. Dia ingin menolak tapi mengingat semalam dia juga sudah menolak ajakan pria tinggi yang merupakan bosnya itu membuat kyungsoo merasa tidak enak untuk kembali menolak ajakan chanyeol.
"Baiklah" 'Mungkin sesekali tidak apa-apa' batin kyungsoo.
"Kai kami pulang dulu ne" pamit chanyeol yang dibalas anggukan malas dari kai.
Kai yang sedang berdiri bersama jiyeon didepan pintu cafe hanya menatap mobil yang dikendarai chanyeol melaju meninggalkan mereka.
"Oppa.."
"Oppa"
"OPPAA!"
"Eh? Ne?" akhirnya kai tersadar dari lamunannya akibat teriakan jiyeon.
"Kau mengacuhkanku?" tanya jiyeon kesal.
"Mian. Ayo sekarang kita pulang" setelah melihat mobil chanyeol sudah hilang melalui tikungan. Kai berjalan menuju mobil sambil merangkul jiyeon kekasihnya yang terlihat merajuk.
.
Mobil chanyeol sudah terparkir rapi didepan rumah kyungsoo.
"Gomawo chanyeol-ah. Mau mampir sebentar?" tawar kyungsoo. Chanyeol hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ani"
Kyungsoo membuka pintu mobil dan hendak keluar namun tangan chanyeol menghentikan langkah kyungsoo.
"Kyungsoo-ah" kyungsoo menatap chanyeol yang sekarang terlihat gugup.
"Eung?"
Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dan beralih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku ingin mengatakan sesuatu"
Entah kenapa kyungsoo merasakan suasana yang mendadak berubah.
"M..mwo?"
"Apa mungkin jika kita eungg.."
Kyungsoo terus menatap chanyeol tidak sabar menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut chanyeol.
"Apa mungkin jika kitaaa…
TBC
Hiiii..
pendek yah? #banget
hahaha..
terimakasih ya buat semua reader yang sudah nyempatin buat ngerevieewww... hiks.
komentar saran dan semangat dari kalian membuatku semakin semangat buat lanjutin ff yang sangat abal abal abal abaall ini,..
sekali lagi..
GOMAWOOO ..
