Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Story by me
Tittle : Konoha Academy
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.
Rate : K+
Pairing : NaruSaku, etc.
Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.
.
.
Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')
.
.
I just wanna say, if you don't like?! Don't read! Don't flame too! Just go back. Thanks.
.
.
Chapter 1 : History of Konoha Academy
.
.
Di Konoha Academy aku bertemu dengannya. Dia sangat menarik. Kurasa aku jatuh cinta padanya. Konoha Academy benar-benar sekolah yang sangat menakjubkan. Aku beruntung bisa menjadi bagian dari Konoha Academy, tetapi apa saja yang akan terjadi setelah ini? Apakah aku bisa tetap bertahan di Konoha Academy? Sanggupkah aku melampaui ayahku?—Naruto Uzumaki—
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Dia sudah datang, Tsunade-sama!" ucap Hana,
"Baiklah. Hana karena kau telah berhasil menyelesaikan misimu, kau akan mendapat bayaran tinggi yang sudah aku janjikan sebelumnya. Jadi di kelas mana anak ini akan kita tempatkan?" ucap Tsunade sambil tersenyum misterius.
'Glek!'
Naruto menelan ludahnya sendiri. Entah kenapa wanita di hadapannya ini terlihat sedikit menakutkan. Jangan-jangan wanita ini sangat galak, tetapi dia sangat cantik dan sexy apalagi ukuran dadanya yang oversize itu. Jangan salah paham ia bukanlah orang yang mesum, tetapi ia adalah lelaki normal...wajar jika ia berpikiran begitu bukan? Kurenai hanya sanggup menahan tawa mendengar pikiran Naruto saat ini. Tiba-tiba saja dia merasakan tatapan tajam dari seorang Tsunade Senju.
"Apa yang anak ini pikirkan tentang aku Kurenai?" tanya Tsunade curiga,
'Huaa! Aku lupa jika Kurenai-sensei bisa membaca pikiranku. Bagaimana ini? Apa aku akan di hajar oleh Kepala sekolah itu sampai mati?'
"Kurenai jawab pertanyaanku!"
'Kumohon jangan, Kurenai-sensei!'
"Dia bilang..."
'Kami-sama tolong aku!'
"Dia bilang anda sangat cantik tetapi..."
'Ah, kau jahat sekali Kurenai-sensei.'
"...tetapi sepertinya anda sangat galak."
'Sensei arigatou, aku berhutang padamu karena tidak menyebutkan bagian itu.'
"Kau bilang aku sangat galak, hah? Kurang ajar kau gaki!"
'DUAK! BRUUK!'
Naruto pun terlempar akibat pukulan Tsunade hingga tubuhnya terpental beberapa meter dan punggungnya menghantam tembok.
"TSUNADE-SAMA!" teriak Hana kaget, sedangkan Kurenai segera menghampiri Naruto.
"Kau tidak apa-apa Naruto-kun?"
"Aoww, sakit. Ternyata dia benar-benar galak..." keluh Naruto sembari mengelus-ngelus kepalanya yang mulai benjol.
"Itu hukuman karena kau telah bersikap tidak sopan pada kepala sekolahmu!" tegas Tsunade seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gomen..." kata Naruto. Kurenai membantunya kembali berdiri.
"Baiklah kali ini kau aku maafkan! Jadi menurut kalian, di kelas mana aku harus menempatkan anak ini?" tanya Tsunade pada Kurenai dan juga Hana,
"Menurut saya sebaiknya dia langsung di tempatkan di Dangerous Class karena kemampuan yang dimilikinya adalah bagian dari 'Nature of Ability'. Hal itu akan sangat membantunya mengingat dalam DC ada beberapa murid yang sangat menonjol seperti; Uchiha Sasuke, Sabaku Gaara, Hyuuga Hinata, Aburame Shino, Nara Shikamaru, dan Tenten."
"Saya tidak setuju dengan Kurenai-san. Dia sama seperti adikku dan juga Shion-chan. Dia belum bisa mengendalikan kekuatannya, jadi aku rasa sebaiknya dia masuk Basic Class dulu. Aku yakin dia pasti bisa cepat akrab dengan adikku dan juga Akimichi Chouji. Akan sangat berbahaya jika dia langsung menjadi bagian dari DC. Selain itu murid yang baru masuk satu minggu yang lalu, yaitu; Yamanaka Ino dan Haruno Sakura juga memulai dari BC. Sudah seharusnya kita bersikap adil, bukan?"
Tsunade hanya mengangguk. Dia sudah menetapkan keputusan.
"Baiklah, aku setuju dengan Hana."
"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Naruto,
"Apa itu gaki?"
"Kalau di Konoha Academy, berapa tahun kita harus belajar? Apakah sama dengan sekolah umum?"
"Tentu saja tidak. Lama tidaknya kalian di Konoha Academy tergantung prestasi kalian sendiri. Intinya, kau bisa langsung naik ke tingkat dua dalam hitungan minggu seperti Shikamaru atau bahkan dalam waktu beberapa tahun..."
"Nani?" kaget Naruto,
"Rata-rata siswa/siswi BC naik ke tingkat DC hanya dalam hitungan 3-6 bulan, tetapi ada juga beberapa murid yang membutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk bisa naik ke tingkat DC. Lalu kalian bisa segera naik ke tingkat Technical Class jika kalian sanggup melakukan misi-misi kalian dengan baik. Jadi jangan main-main di sini!" lanjut Tsunade.
"Oh, begitu rupanya. Aku yakin murid-murid Technical Class pasti sangat hebat."
"Ya, contohnya saja; Hyuuga Neji, Sabaku Temari, Sabaku Kankurou, Sai, Rock Lee, dan Karin Uzumaki. Mereka sangat berbakat!" sambung Hana.
"Eh? Ada yang satu clan denganku di TC?"
"Begitulah..."
"Apa rambutnya juga berwarna merah?"
"Tentu saja. Itu adalah ciri khas Uzumaki clan," jawab Tsunade.
'Aku iri. Aku iri karena rambutku tidak seperti mereka yang berwarna merah. Sejak aku masih kecil keluarga ibuku selalu menatapku dengan tatapan mengerikan karena aku berbeda dengan mereka. Mereka tidak pernah mengakui keberadaanku,' pikir Naruto yang tentu saja bisa di baca oleh Kurenai.
'Kalau begitu sebenarnya siapa ayah dari anak ini? Mungkinkah Yondaime-sama?' batin Kurenai.
'Semoga saja aku tidak terlalu lama berada di tingkat BC. Biar bagaimanapun seharusnya saat ini aku sudah kelas dua Senior High School tetapi gara-gara kejadian itu aku bahkan tidak sempat mendaftar ke Senior High School. Kalau terlalu lama di sini bisa-bisa aku keburu meninggal...'
'Keburu meninggal? Apa maksud anak ini? Aku tidak mengerti!' batin Kurenai pula.
"Hana antarkan Naruto ke asramanya! Jangan lupa beri dia jadwal pelajaran sekaligus buku tata tertib Konoha Academy!"
"Ha'i, Tsunade-sama."
Hana pun segera mengantarkan Naruto ke kamar asramanya. Sementara itu Kurenai masih terdiam di tempat. Tsunade jadi heran dengan tingkah bawahannya itu,
"Kurenai apa ada sesuatu yang kau pikirkan? Kau tidak sedang bertengkar dengan Asuma, kan?" tanyanya khawatir.
Kurenai nampak tersentak. Dia pun segera menceritakan apa yang di pikirkan oleh Naruto tadi pada Tsunade. Tsunade tampak terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu. Inilah kelemahan ability yang Kurenai miliki. Dia tidak bisa membaca pikiran orang-orang yang level-nya jauh lebih tinggi darinya.
"Apa maksudnya dengan keburu meninggal?"
"Saya sendiri tidak tahu, Tsunade-sama."
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Deg!
Naruto segera bangkit dari posisi berbaringnya. Sudah ia duga rasa sakit itu datang lagi. Sebenarnya setelah keluar dari Rumah Sakit beberapa hari yang lalu, ia sudah sering merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa belum pulih sepenuhnya...hanya saja ia tidak mau membuat ibunya khawatir, apalagi dokter yang merawatnya saat itu sepertinya juga tidak merasakan keganjilan sedikit pun. Dokter itu justru sangat yakin kalau ia sudah sehat total, tetapi kalau memang ia sudah sehat kenapa rasa sakit ini selalu muncul tiba-tiba?
"Tipe ability ini adalah tipe yang bisa memperpendek umur penggunanya, dan banyak diincar oleh orang-orang jahat..." tiba-tiba saja ia teringat akan cerita Kurenai tadi siang.
"Dokter itu hanya manusia biasa seperti Okaa-san. Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan ability milikku?" gumam Naruto sambil mencengkram kuat dada kirinya yang semakin terasa sakit.
"Uhuk..uhuk...uhuk!" tiba-tiba Naruto terbatuk-batuk. Ia pun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya membulat tak percaya saat ia melihat cairan kental berwarna merah keluar dari dalam mulutnya dan membasahi telapak tangannya hingga akhirnya menetes pada pakaian yang ia kenakan dan juga kain seprai.
'Darah. Sebenarnya kenapa dengan tubuhku?' tanyanya pada dirinya sendiri.
Tidak bisa tidur, Naruto pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar asrama. Ia lekas pergi keluar. Saat ini bulan purnama. Bulan terlihat jauh lebih besar dan indah. Semilir angin yang berhembus membuatnya sedikit menggigil. Naruto mengerutkan kening saat ia melihat sosok seseorang dari kejauhan. Seseorang dengan setelan serba putih dan berambut panjang tampak memunggunginya. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Tubuhnya mendadak gemetar. Mulutnya kelu untuk sesaat.
"Ha-hantuuuu! Hyaaa!" teriaknya, tentu saja orang itu langsung menoleh ke arahnya...bahkan menghampirinya dengan cepat. Naruto pun jatuh terduduk. Dia semakin takut karena sosok itu memandangnya dengan tatapan tajam dengan matanya yang berwarna putih keunguan.
"SIAPA YANG KAU SEBUT HANTU, HAH?" protes sosok itu sambil mengangkat tubuh Naruto dengan cara menarik kerah bajunya.
"Ampun! Jangan sakiti aku hantu-sama!" mohon Naruto,
"Aku bukan hantu, baka!"
"Bukan. Kalau begitu siapa kau? Apa kau malaikat maut?"
'Apa anak ini sudah gila?' pikir orang itu,
"Kalau iya, jangan jemput aku sekarang karena masih banyak hal yang ingin aku lakukan...onegai!" tambahnya dengan wajah memelas.
"Kenapa aku harus menjemputmu? Memangnya kau sedang sekarat?" tanya sosok itu,
"Hah? Kau tidak tahu? Kalau kau bukan hantu atau malaikat maut, lalu kau ini makhluk apa?" tanyanya polos,
"APA MAKSUDMU DENGAN MAKHLUK APA? AKU INI KETURUNAN MURNI. NAMAKU HYUUGA NEJI!" tegas sosok itu yang kemudian melepaskan kerah baju Naruto dari cengkramannya.
Naruto hanya mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Jadi orang ini bukan hantu ataupun malaikat maut. Kalau begitu berarti dia salah paham. Cahaya bulan menyinari keduanya. Kini Naruto bisa melihat sosok itu dengan lebih jelas. Ternyata benar, orang ini memiliki pin berwarna merah...berarti dia bagian dari Technical Class?
"Gomennasai..." ucap Naruto. Neji masih terlihat begitu kesal.
"Padahal daripada aku, wajahmu jauh lebih pucat. Apa kau sedang sekarat, heh?"
"Umm..itu...aku hanya kelelahan saja hehe..."
"Benarkah? Byakugan!" ujar Neji yang kemudian mengaktifkan byakugan-nya.
"Kau terluka dalam?"
"Apa?"
"Luka dalam, kau tidak mengerti itu? Kenapa kau tidak menemui Tsunade-sama? Dia pasti bisa menyembuhkanmu!"
"Menyembuhkanku? Mungkinkah?"
Deg!
Rasa sakit di dadanya muncul kembali. Naruto pun mulai terbatuk-batuk. Nafas-nya semakin tersenggal dan wajahnya yang semakin pucat mulai penuh dengan keringat dingin. Neji tampak panik karena seseorang yang berada di hadapannya sekarang terus terbatuk-batuk tanpa henti, dengan darah yang semakin banyak keluar dari dalam mulutnya.
"Be-benarkah di-dia bi-bisa me-menyembuhkanku?" tanya Naruto dengan suara yang terputus-putus. Tiba-tiba sekelilingnya terasa berputar-putar dan pandangannya semakin memburam hingga akhirnya semuanya menjadi gelap.
'Brukk!'
Neji terlihat semakin kaget karena tiba-tiba saja orang itu tidak sadarkan diri di depannya. Tanpa pikir panjang dia pun segera menggendong Naruto di punggungnya dan membawanya ke tempat kepala sekolah.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Aku sudah berhasil menyembuhkan luka dalamnya. Neji arigatou, kalau dia tidak bertemu denganmu aku tidak mungkin bisa mengobatinya karena sebelumnya aku tidak pernah tahu hal ini. Pantas saja saat itu dia sampai koma," ujar Tsunade.
"Koma?"
"Ya, itu yang dikatakan Hana. Sebagai rasa terimakasihku aku akan memberimu hadiah."
"Hadiah? Untuk apa hadiah? Saya bahkan tidak sedang menjalankan misi..."
"Naruto adalah salah satu orang yang sangat berharga bagiku, aku sudah menganggap mendiang ayahnya sebagai puteraku."
"Begitu? Saya boleh menanyakan sesuatu, Tsunade-sama?"
"Silakan!"
"Dia sampai mengalami luka dalam separah itu, apa yang terjadi sebenarnya? Apakah dia pernah di serang oleh salah satu bijuu atau...dia memiliki Wind Ability?"
"Hmm. Dia memiliki Wind Ability. Tipe ability ini adalah tipe yang bisa memperpendek umur penggunanya. Anak ini belum bisa mengendalikan kekuatannya itu, karena itulah dia sampai melukai dirinya sendiri. Harusnya sudah sejak lama dia bersekolah di sini. Itulah sebabnya aku rela memberikan Hana bayaran yang besar karena dia telah berhasil membujuk Kushina," cerita Tsunade panjang lebar. Neji hanya mendengarkannya dengan seksama.
"Aku juga sudah memutuskan untuk memasukannya dalam tim Hatake Kakashi dalam setiap misi, bersama dengan Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura."
"Pilihan yang bagus Tsunade-sama, hanya angin yang bisa membuat api lebih besar, dan hanya air yang sanggup mematikannya jika keduanya kehilangan kendali atas diri mereka sendiri. Mereka bertiga sangat cocok dan akan menjadi tim yang hebat jika bersama. Kakashi-sensei dengan Lighting and Water ability miliknya juga Sasuke dengan Fire ability-nya, tapi kenapa anda juga memilih Sakura untuk menjadi rekan mereka. Bukankah kemampuannya hanyalah ilusi? Kenapa bukan Matsuri atau yang lainnya?"
"Haruno Sakura. Aku sudah tertarik pada anak itu sejak pertama kali dia masuk Konoha Academy. Dia memiliki pengendalian cakra yang sangat bagus. Aku berencana mengangkatnya sebagai muridku agar kelak dia bisa menguasai Healing Ability sepertiku dan mengobati rekan-rekannya, jika ada salah satu dari mereka yang terluka. Sampaikan hal ini pada pamanmu—Hiashi—!"
"Ha'i, Tsunade-sama. Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Neji yang kemudian segera pergi meninggalkan kediaman Tsunade.
"Minato kau tidak perlu khawatir. Kami akan membimbing puteramu hingga ia bisa mengendalikan kekuatannya sendiri..." gumam Tsunade sembari mengalihkan pandangannya pada sosok Naruto yang belum sadarkan diri.
'Pooft!' tiba-tiba muncul seseorang di hadapannya,
"Jiraya?"
"Aku sudah menggunakan Doppelganger Ability-ku sesuai dengan perintah petinggi keturunan murni untuk melindungi Kushina diam-diam. Sekarang aku yang satu lagi tinggal di sebelah rumahnya!" lapor Jiraya, yang hanya di balas Tsunade dengan anggukkan kepala.
"...tapi kau benar-benar hanya menggandakan diri untuk melindungi Kushina dan bukan untuk berbuat mesum, kan?"
"Tentu saja bukan tapi kalau ada kesempatan mungkin...err, iya!"
'DUAAKK! BRUUK!'
Tsunade memukul Jiraya hingga pria itu terpental beberapa meter dan tubuhnya menabrak lemari perkakas yang sukses membuat kepala Jiraya tertimpa sebuah guci berukuran lumayan besar. Darah pun merembes dari luka tersebut.
"Ittaaii. Hime kenapa kau selalu memukulku?"
"Awas saja kalau kau coba-coba mengganggu Kushina!"
"Itu tidak mungkin. Dia itu juga sama mengerikannya denganmu kalau sedang marah."
"Baguslah kalau kau sudah mengerti."
"Sekarang kau harus mengobatiku, Tsunade!"
"Tak masalah."
Tsunade menghampiri Jiraya, lalu mengalirkan cakra berwarna hijau dari telapak tangannya. Perlahan luka-luka Jiraya menutup hingga akhirnya menghilang tak berbekas.
"Umm, bukankah itu anak Minato dan Kushina? Kenapa dia bisa ada di kamarmu?" tanya Jiraya saat pandangan matanya mengarah pada ranjang Tsunade.
"Astaga, Tsunade! Kau tidak menodai anak itu kan? Sadarlah kau itu sudah tua, masa tidur bersama berondong?! Naruto itu sudah seperti cucumu sendiri tahu! Sebagai Kepala Sekolah kau benar-benar tidak punya wibawa...hikz...kasihan sekali anak itu," ujar Jiraya dengan lebay-nya.
'DUAAKK! BUUK!' kali ini kepala Jiraya benjol gara-gara pukulan telak Tsunade.
"Jaga bicaramu! Aku membiarkannya tidur di kasurku karena aku baru saja selesai mengobati luka dalamnnya. Mana mungkin aku melakukan hal itu. Waktu kecil anak itu sangat unyu-unyu. Aww, aku jadi ingin punya anak..." kata Tsunade dengan mata berbinar-binar. Jiraya dengan tidak elitnya pingsan seketika gara-gara shock melihat Tsunade yang tiba-tiba saja OOC.
'Bruuk!'
"Lho, kok?" ucap Tsunade dengan wajah innocent.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Kudengar hari ini akan ada murid baru..." ucap seorang gadis berambut merah, memulai gosip paginya seperti biasa.
"Paling juga murid tidak penting lagi. Murid dengan Healing Ability yang pasaran. Hahaha..." sambung gadis dengan rambut pirang pucat meremehkan.
"...tapi kudengar murid barunya laki-laki."
"Benarkah itu Sara? Apa dia tampan?" tanya gadis berambut merah lainnya—Amaru— kulitnya berwarna tan. Tidak seperti kedua temannya.
"Entahlah...paling juga standar atau mungkin lebih jelek dari si hijau aneh," kata Sara. Kedua temannya tadi langsung tertawa terbahak-bahak.
'Bruuk!'
Tiba-tiba seorang gadis berambut cokelat pendek terjatuh di dekat mereka, gara-gara si gadis pirang men-tekle kaki gadis itu sehingga gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Aoww..." gadis itu meringis sembari mengusap dagunya yang terasa sakit. Ia juga merasakan perih di siku kakinya karena ternyata bagian itu juga terluka dan berdarah.
"Makanya kalau jalan itu lihat-lihat! Apa kau tidak punya mata, hah?"
"Doushite? Kenapa keturunan murni seperti kalian begitu angkuh? Petinggi kalian bahkan menetapkan seragam yang berbeda dengan kami. Kalian juga tidak pernah mau bergaul dengan orang-orang seperti kami. Heh! Apakah kalian merasa derajat kalian jauh lebih tinggi dari kami hanya karena kedua orang tua kalian adalah kaum Angel? Tak kusangka...kupikir semua kaum Angel itu baik hati."
'PLAK!'
Kini gadis itu merasakan perih di pipi kanan-nya. Rupanya gadis pirang tadi menamparnya dengan sangat keras.
"Beraninya kau. Dasar makhluk rendahan! Derajat kami memang jauh lebih tinggi dari kalian, sebab orang tua kalian itu hanyalah kaum Angel yang terbuang...sampah yang terusir dari Konoha. Bukan hanya itu, mereka sangat bodoh karena jatuh cinta kepada manusia."
Siswa/siswi dengan seragam hitam-merah pun mengepalkan kedua tangan mereka untuk menahan segala kekesalan yang berkecamuk di dalam hati. Ingin sekali rasanya mereka menghajar wajah cantik gadis itu jika saja tidak ada peraturan sekolah yang mengikat kebebasan mereka.
"Shion kau keterlaluan!" ujar seseorang,
"Kenapa kau selalu membela sampah-sampah itu, Kiba? Mereka bukan kaummu!" protes gadis yang bernama Shion itu,
"Mereka bukan sampah. Mereka adalah pahlawan. Lalu apa masalahnya jika mereka menikah dengan kaum manusia? Mereka juga mempunyai pilihan. Mereka mempunyai kebebasan," bela seorang bertubuh tambun—Chouji—
"Kita semua sama. Kita sama-sama murid Basic Class. Menurutku tidak pantas kau meremehkan mereka seperti itu. Mana mungkin kau tidak tahu, jika banyak diantara mereka yang bahkan jauh lebih hebat dari kita!" lanjut Kiba,
"Kalau kau bicara lagi akan kubuat kelas ini menjadi beku!" ancam Shion,
"Kau memang selalu ingin menang sendiri," kata Kiba yang lantas kembali ke tempat duduknya.
'Guk! Guk!'
"Sudahlah Akamaru, biarkan saja. Aku tidak mau teman-temanku membeku hanya gara-gara Shion," kata Kiba sambil mengelus bulu-bulu putih Akamaru.
"Matsuri kau tidak apa-apa?" tanya seseorang,
"Aku tidak apa-apa Ino..." ucap Matsuri yang kemudian tersenyum.
Sakura masih tampak kesal gara-gara ucapan Shion yang secara tidak langsung juga telah menghina ayahnya. Kedua tangannya masih terkepal kuat.
"Sakura sudahlah! Keturunan murni memang sangat arrogant, hanya sedikit orang saja yang baik hati."
"...tapi dia itu keterlaluan Ino!" balas Sakura,
"Jangan pedulikan mereka. Mereka bertiga memang menyebalkan. Eh? Matsuri luka-mu..."
Ino tampak heran karena luka di dagu Matsuri perlahan menghilang. Begitu juga dengan luka di siku kakinya. Perhatian Sakura pun teralihkan. Sekarang ia tampak terkagum-kagum melihat sesuatu hal menakjubkan yang terjadi pada Matsuri.
"Uwaah! Healing Ability, ya? Keren sekali. Aku ingin sekali memiliki kekuatan seperti itu. Kekuatan itu tidak berbahaya, justru sebaliknya...kekuatan itu sangat bermanfaat."
"Percayalah Sakura, kau pasti tidak menginginkan kekuatan seperti ini!"
"Apa maksudmu Matsuri? Itu adalah kekuatan yang menakjubkan menurutku. Kau bisa menyelamatkan orang-orang dengan kekuatanmu itu, bukan malah melukai atau menghancurkan mereka..." sambung Ino semakin heran.
"Healing Ability itu bisa di bilang sangat pasaran. Di Konoha Academy ada sekitar 56% orang yang memiliki kekuatan seperti ini. Hanya Karin satu-satunya bagian dari kami yang bisa mencapai tingkat tertinggi di Academy. Kami tidak memiliki kemampuan menakjubkan seperti Shion dan teman-temannya. Aku..."
"Matsuri kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Semua orang sepertimu bisa menjadi penyelamat kami,"
"Itu hanya akan terjadi jika kami sudah mencapai tingkat tertinggi. Pada tingkat ini, aku hanya bisa menyembuhkan luka-lukaku sendiri. Kalau pun menyembuhkan luka-luka orang lain, itu hanya sebatas luka kecil saja."
"Kalau begitu teruslah berusaha hingga kau bisa seperti Karin Uzumaki atau bahkan Tsunade-sama. Ganbatte!" sambung Ino sambil tersenyum.
"Aku sangat iri pada kalian..."
"Justru kami ini sangat iri padamu!" tegas Sakura dan Ino kompak. Matsuri hanya tertawa kecil.
"Perhatian anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru!" ucap Kurenai-sensei yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kelas. Semua murid pun kembali ke tempat duduk masing-masing. Suasana pun menjadi hening. Tidak ada lagi suara ribut seperti di pasar. Semua perhantian mereka kini teralih pada guru sejarah tersebut.
"Masuklah!" ucap Kurenai. Naruto pun masuk ke dalam kelas.
"Sampah lagi..." gumam Sara malas.
"Sudah kuduga pasti Mid-Angel," sambung Amaru setelah melihat seragam yang Naruto kenakan.
"Dia memang tampan sih...tetapi tetap saja Mid-Angel itu makhluk rendahan!" tegas Shion dengan suara yang tak kalah pelan dari Amaru.
"Kalian bertiga kenapa selalu bersikap angkuh seperti itu, hah? Tidak bisakah kalian bersikap seperti Hinata, Kiba, atau Chouji?" tegur Kurenai,
'Oops! Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiran orang,' pikir ketiga orang itu bersamaan.
"Naruto-kun perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu! Ceritakan apa yang kau sukai dan tidak kau sukai, hobi, dan juga tujuanmu masuk Konoha Academy!"
"Selamat pagi namaku Uzumaki Naruto. Hal yang aku sukai Ichiraku ramen. Hal yang tidak kusukai segala jenis sayuran. Hobi, umm...makan ramen. Tujuanku bersekolah di sini adalah, aku ingin menjadi seorang pahlawan pembela kebenaran!" ucap Naruto nampak kekanak-kanakan.
Semua murid BC tampak sweatdrop mendengar perkenalan Naruto yang mereka anggap sangat konyol itu. Shion dan teman-temannya tampak mencibir merendahkan.
"Aku becanda. Sebenarnya hal yang kusukai dan tidak kusukai, kurasa tidak perlu kuceritakan. Mengenai hobi juga aku rasa tidak perlu aku ceritakan. Mengenai tujuan, aku ingin menjadi murid yang paling berprestasi di sini karena aku sudah berjanji pada Kaa-san."
Kiba dan Chouji nampak tersenyum. Beberapa murid perempuan pipi-nya memerah tiba-tiba. Sekarang mereka menganggap bahwa Naruto itu keren. Sakura ikut tersenyum. Begitu juga dengan Ino dan Matsuri.
"Maka dari itu orang yang paling berprestasi di kelas sini, aku akan menantangmu! Aku akan buktikan, namaku akan tertulis di urutan pertama!" tantang Naruto. Shion reflek berdiri dari kursinya. Sekarang ia mengerti kenapa beberapa orang temannya tadi tersenyum pada anak baru itu.
"Oh, sepertinya kau orang yang paling berprestasi di kelas ini ya?" tanya Naruto,
"Bermimpi saja kau Uzumaki. Mana mungkin makhluk rendahan seperti kalian bisa mengalahkanku, Shion Ice Princess. Paling juga yang kau punya hanya Healing Ability seperti si rambut merah berkaca mata itu mengingat kalian sama-sama Uzumaki!" teriak Shion.
"Aww, percaya diri sekali kau ya? Padahal tadi saat aku melihat madding namamu ada di bawah Haruno Sakura."
"NANI?" kaget Shion seraya menampakkan death glare pada Sakura.
"Benar juga, hasil ujian tulis kalian minggu kemarin sudah keluar hari ini. Selamat Sakura, nilaimu yang paling tinggi!" kata Kurenai sambil tersenyum.
"Benarkah itu, sensei?"
"Tidak mungkin. Selama ini aku selalu menjadi nomor satu."
"Silakan nyalakan komputer kalian, di sana juga sudah tertera nilai-nilai kalian!" ujar Kurenai, di setiap kelas memang di sediakan komputer untuk setiap murid. Mereka semua pun mulai menyalakan komputer mereka masing-masing.
'Jadi dia yang namanya Sakura? Hmm, nama Sakura sangat cocok untuknya!' Kurenai hanya tersenyum mendengar pemikiran Naruto tersebut.
"Naruto-kun, silakan duduk di tempat yang kosong!"
"Arigatou sensei..." kata Naruto yang kemudian duduk di belakang Kiba.
"Hey, kenapa kau membawa anjing ke kelas?" tanyanya heran,
"Akamaru bukan sekedar anjing. Dia itu sahabatku!" tegas Kiba.
"TIDAK MUNGKIN!" teriak Shion saat melihat namanya berada di urutan kedua.
"Seperti biasa di tingkat DC Uchiha Sasuke selalu menjadi nomor satu ya? Fugaku-sama pasti bangga sekali padanya!" ujar seorang siswi berambut orange kepada teman-temannya.
"Padahal aku berharap Hinata-hime yang nomor satu, tetapi dia selalu menjadi nomor dua di DC. Paling juga si Sasuke curang karena menggunakan sharingan," kata seorang siswa dengan setelan serba putih.
'Dasar keturunan murni sombong...' pikir Sakura pada salah satu siswa tersebut.
"Tidak mungkin! Uchiha itu memang jenius. Buktinya Itachi-san sudah menjadi seorang sensei di usia semuda itu. Itachi-san sangat keren," sambung seorang siswi dengan wajah memerah.
"Shikamaru urutan ketiga. Sulit di percaya, padahal belum lama dia berada di tingkat DC!" seru Ino yang di balas anggukkan kagum dari Sakura.
"Well, dan di tingkat TC selalu Hyuuga Neji yang nomor satu. Sudah keren, jenius pula. Tipe-ku banget..." ucap siswi lainnya.
'Hyuuga Neji, ya? Mungkinkah yang mereka maksud itu orang yang sempat aku kira hantu tadi malam? Umm, aku belum berterima kasih padanya!' batin Naruto,
'Bagaimana ini? Ibuku bisa kecewa gara-gara aku di kalahkan oleh si Haruno itu!' pikir Shion,
"Perhatian semuanya. Mari kita mulai pelajaran kita, okay!" tegur Kurenai yang sudah capek mendengar semua yang di pikirkan anak-anak muridnya.
"...karena hari ini Naruto-kun baru masuk. Aku akan mengulang pelajaran minggu kemarin."
'Fuh! Membosankan. Mending juga bermain bola bersama Akamaru...' pikir Kiba,
'Huuh, jalan-jalan di dalam ruang ilusinya Kurenai-sensei hanya membuatku kelaparan!' batin Chouji,
'Aku ingin bertemu Itachi-sensei. Pelajaran sejarah, cepatlah berakhir!' pikir Sara,
'Aku ingin memberi Sasuke-kun ucapan selamat!' pikir Sakura,
'Kurenai sensei bagaimana sih? Aku masih ingat pelajaran itu kenapa harus di ulang lagi?' tanya Ino dalam hati,
'Ooh, Hinata-hime...kau cantik sekali. Rasanya aku ingin sekali mengajakmu kencan,' batin seorang siswa.
'Pelajaran sejarah adalah pelajaran yang paling membosankan. Mending juga memandangi majalah porno. Ooh, Maria Ozawa body-nya aduhai banget...' pikir siswa lainnya.
"DIAM KALIAN SEMUA!" teriak Kurenai dengan suara menggelegar. Naruto reflek mengelus dadanya karena kaget mendengar Kurenai berteriak tiba-tiba walau suasana kelas masih hening.
'Oops, kenapa aku selalu lupa kalau dia bisa membaca pikiranku?' pikir siswa/siswi tadi serentak.
.
.
.
Seketika kelas mereka berubah menjadi salah satu Negara besar pada masa lampau. Naruto berdecak kagum melihat pemandangan di sekitarnya. Mungkinkah Konoha Academy dulunya adalah sebuah Desa atau bahkan sebuah negara?
Dalam hitungan detik muncul-lah sembilan monster muda sedang bermain dengan anak-anak yang sepertinya adalah kaum Angel. Mereka semua terlihat sangat akrab. Berlarian dan tertawa bersama.
"Dulu Konoha Academy adalah sebuah negara. Negara ini terkenal dengan Negara Api. Kaum kami hidup berdampingan dengan para monster bijuu dan bersahabat," terdengar Kurenai-sensei memulai ceritanya.
"Kalian bisa lihat monster muda berwujud Tanuki itu? Dia adalah Shukaku. Kucing berekor dua itu bernama Matatabi. Kura-kura berekor tiga adalah Isobu. Kera berekor empat namanya Son Goku. Kuda berkepala lumba-lumba adalah Kokuou, konon pada setiap ekornya terdapat kekuatan lima elemen utama 'Nature of Ability'. Siput berekor enam itu namanya Saiken. Kumbang yang sedang membawa anak kecil itu terbang adalah Choumei. Banteng dengan tentakel gurita adalah Gyuuki. Terakhir rubah berekor sembilan itu namanya Kurama."
'Wah, Kurama cute sekali!' pikir Naruto,
.
.
Kini kelas mereka berubah menjadi sebuah wilayah yang sudah hancur akibat serangan monster berekor sepuluh. Banyak sekali kaum Angel yang mati mengenaskan. Ada juga keempat orang pria yang tengah bertarung habis-habisan. Mereka adalah Hashirama Vs Madara, dan Tobirama Vs Izuna.
Menurut cerita Kurenai, pada masa itu terjadi pemberontakan. Pertarungan tanpa akhir antar clan pun tidak bisa di hindari. Keempat pria yang tengah bertarung dengan sengit itu adalah pemimpin Negara Api yang pertama dan kedua. Mereka adalah Hashirama Senju dan Tobirama Senju, serta pimpinan clan Uchiha saat itu—Madara Uchiha— bersama adiknya—Izuna Uchiha—
Clan Senju dan clan Uchiha adalah clan yang terkuat di Negara Api. Konon mereka berempat sangatlah hebat. Kala itu HashiramaSenju sangat marah karena Madara Uchiha beserta para pengikutnya membawa serta kesembilan monster yang sudah Kurenai sebutkan tadi bersama mereka, entah apa tujuannya?
'Kami-sama kasihan sekali Kurama dan yang lainnya,' batin Naruto.
.
.
Hal yang terlihat di kelas mereka sekarang adalah sebuah desa yang subur dan indah. Beberapa orang remaja berusia sekitar 15-17 tahun tampak berbincang-bincang di sebuah padang rumput yang luas. Berbagai jenis bunga beraneka warna yang di hinggapi kupu-kupu serta serangga lainnya tumbuh dengan indah. Anehnya wajah mereka semua terlihat pucat. Seorang remaja berambut pirang dengan sepasang mata sebiru lautan bahkan terlihat meringis kesakitan. Cairan pekat berwarna merah mengalir melalui hidungnya. Tak ingin membuat teman-temannya khawatir, ia pun lekas menghapus darah tersebut.
"Ini kejadian sekitar 26 tahun yang lalu..." cerita Kurenai,
"Minato, ayo kita bertarung!" tantang seorang pemuda berambut hitam dengan sepasang mata onyx-nya yang tajam. Minato yang terlihat letih tampak menghela nafas,
"Aku sedang tidak enak badan, Fuugaku."
"Aku juga. Entah kenapa sejak kemarin sendi-sendiku terasa sakit semua..." sambung seorang pemuda berambut ungu.
"Otou-san..." gumam Sakura,
"Sebenarnya aku juga merasakan ada yang aneh dengan tubuhku sejak seminggu yang lalu, tetapi masa kita mengalah begitu saja. Sebagai seorang pria, kita tidak boleh gampang menyerah!" tegas pemuda yang di panggil Fuugaku tadi.
"Ya, tapi bagaimana kita bisa latihan tanding kalau seluruh badan kita sakit begini?" tanya seorang pemuda dengan gaya rambut ponytail,
"Otou-san..." kini Ino yang bergumam.
Naruto tampak heran melihat sosok muda ayahnya yang terlihat begitu lemas bahkan tadi ayahnya sempat mimisan, seperti orang yang mengidap penyakit Leukemia saja. Di sampingnya seorang pemuda tengah berbaring sambil menatap awan yang berarak di langit biru yang cerah.
"Aneh, kenapa kita bisa sakit secara bersamaan seperti ini ya?" tanya pemuda tersebut sambil menoleh pada Minato.
"Teman-teman kabar buruk..." seorang pemuda yang lumayan mirip dengan Chouji berlari menghampiri mereka, di susul oleh seorang pemuda berkacamata hitam, dan seorang gadis dengan tanda taring merah di kedua pipinya.
"Kata Hiashi, kalian semua sepertinya telah terjangkit virus yang berbahaya. Hiashi dan Hizashi memohon para petinggi yang memiliki Healing Ability untuk menyembuhkan kalian tapi rupanya puluhan teman kita, semuanya meninggal akibat virus itu. Para petinggi jadi berpikir penyakit kalian tidak bisa di sembuhkan. Kata mereka sepertinya ini adalah penyakit menular, dan orang-orang yang terjangkit virus ini akan di usir dari Konoha."
"NANI?" kaget Naruto. Mata Sakura dan Ino sudah mulai berkaca-kaca. Walaupun ini pelajaran minggu kemarin, tetap saja mereka merasa sangat sedih saat bagian ini.
"Be-benarkah itu Chouza?" tanya Minato,
"Hn. Permohonan si kembar Hyuuga sama sekali tidak dipedulikan," sambung pemuda berkacamata hitam.
"Kalau Shibi bicara seperti itu, berarti Chouza tidak becanda!" sambung Shikaku,
"Orang tua kami juga meminta kami untuk menjauhi kalian semua agar tidak tertular..." lanjut Tsume,
"Siapa? Siapa yang mengatakan kalau penyakit ini tidak bisa di sembuhkan?" tanya Fuugaku mulai terlihat emosi,
"Orochimaru-sama," jawab Shibi.
"Tsunade-sama dan Jiraya-sama menyangkal hal itu, tetapi Danzo-sama malah membenarkan perkataan Orochimaru-sama..." sambung Chouza.
"Bahkan Hiruzen-sama yang merupakan kepala sekolah kita, tidak bisa berbuat apa-apa!" tambah Tsume.
.
.
Berdasarkan cerita Kurenai, ribuan kaum Angel yang saat itu terjangkit virus mematikan harus di asingkan demi kelangsungan hidup kaum Angel yang masih sehat. Hanya sedikit kaum Angel yang tersisa di Konoha. Tsunade dan Jiraya menduga dalang dari semua kejadian tersebut adalah Danzo dan juga Orochimaru,mengingat salah satu ability yang di milikinya adalah Chemistry dan Invention. Orochimaru adalah seorang jenius yang bisa menciptapkan penemuan-penemuan hebat.Selain itu dia bisa menciptakan sesuatu yang berbahaya dengan Chemistry ability-nya. Sedangkan Danzo di kenal sebagai orang yang penuh dengan ambisi. Orang yang haus akan kekuasaan. Sayangnya tidak ada satupun bukti yang bisa memberatkan kedua orang itu.
Akhirnya Minato dan semua warga Konoha yang terjangkit virus tersebut di usir dari desa. Banyak sekali diantara mereka yang meninggal dunia, tetapi rupanya ada sebuah kejadian aneh yang terjadi. Ini seperti sebuah keajaiban. Setelah salah satu kaum Angel yang terusir tersebut menikah dengan seorang manusia, penyakit yang berada dalam tubuhnya menghilang. Dia pun bisa kembali ke Konoha sehingga kaum Angel yang lain meniru tindakan orang itu.
'Benar-benar tidak masuk akal. Manusia tidak mempan dengan virus itu? Benarkah?' pikir Naruto,
Minatodan teman-temannya yang saat itu masih muda sama sekali tidak percaya dengan rumor tersebut. Akhirnya mereka semua berkelana ke seluruh penjuru Jepang sambil menanti ajal yang akan datang. Seiring berjalannya waktu, satu-persatu dari mereka jatuh cinta pada kaum manusia. Mereka pun menikah dan memiliki anak. Konoha menerima mereka kembali karena virus tersebut benar-benar sudah lenyap dari tubuh mereka, tetapi para petinggi saat itu tidak bisa menerima kehadiran kaum manusia. Mereka semua berpendapat pernikahan diantara kaum Angel dan manusia telah melanggar takdir yang telah di gariskan, sebab mereka berada dalam dunia yang berbeda.
"Anak-anak tersebut adalah kalian yang merupakan kaum Mid-Angel," ujar Kurenai.
"Itulah sebabnya kubilang orang tua kalian semua itu sampah karena telah melanggar peraturan!" sinis Shion lebih pada Sakura. Ino meyentuh pundak Sakura untuk menenangkannya.
.
.
.
Ilusi Kurenai akhirnya mencapai titik akhir, yaitu kejadian 16 tahun yang lalu. Kurama dan bijuu lainnya yang sudah tumbuh dewasa mengamuk menghancurkan semua wilayah Jepang. Mata mereka berubah menjadi sharingan. Kurama sendirian mengacaukan kota Tokyo dan sekitarnya. Sedangkan monster bijuu lainnya entah mengacau di kota mana? Mungkin Hokaido atau juga Kyoto, tidak ada yang tahu. Banyak para manusia yang tewas akibat serangan bijuu.
"Groaaaaargghh!"
Kurama menembakkan bom bijuu-nya. Tempat yang terkena bom bijuu tersebut pun hancur berkeping-keping. Para kaum Angel sibuk menyelamatkan warga dengan mengerahkan seluruh ability yang mereka miliki.
"Hiraishin no jutsu!" ucap seseorang,
"Dia adalah kepala sekolah kita yang keempat, Minato Namikaze..." terang Kurenai.
"Hyaa! Beliau sangat tampan! Kerenn!" Kurenai menggelengkan kepalanya karena walaupun ini adalah pelajaran minggu lalu tetap saja semua siswi berteriak histeris di bagian ini.
"Jadi tubuhku ditandai?" tanya seorang pria bertopeng,
"Keiyaku Fuin."
"Heh! Jadi kau mau memisahkan kyuubi dariku?"
"Dengan ini kyuubi bukan milikmu lagi!" tegas Minato,
"GRRRAAAA!"
'Syuut! Syuut!'
Seketika bola mata kyuubi pun kembali normal. Seseorang berteriak memanggil Minato.
"Minato aku sudah membawa istri dan anakmu ke tempat yang aman!" teriak seseorang,
"Terimakasih, Kizashi."
"Groaaargghhh!"
'DUM!'
.
.
"Otou-sama! Okaa-san terluka!" teriak seorang anak yang sepertinya baru berusia 4-5 tahun,
"Bukankah itu Itachi-sensei. Hyaaa! Waktu kecil dia cute sekali, tapi sepertinya dia tidak takut apapun?!" lagi-lagi Kurenai sweatdrop mendengar teriakan histeris beberapa siswi.
"Serahkan urusan Mikoto pada ayah! Cepat lari!"
"Tidak mau! Aku tak akan lari meninggalkan Otou-sama dan Okaa-san. Aku akan melindungi Kaa-san!"
"Ayah yang akan melindungi ibumu! Anak kecil, jangan sombong! Melindungi anak adalah tugas orang tua! Kau masih punya Sasuke! Sebaiknya kau lindungi saja adikmu itu!"
"...tapi..."
"Ibumu pasti akan selamat! Ayah akan mempertaruhkan nyawa ayah! Ikutlah kau dengan Kizashi! Dia akan membawamu ke tempat Sasuke dan anak-anak lainnya!"
"Kaa-san tidak apa-apa sayang, kalau beruntung Tsunade-san atau siapapun itu pasti bisa menyembuhkan Kaa-san. Jagalah Sasuke...onegai!" kata Mikoto dengan air mata berlinang. Perutnya terlihat mengeluarkan banyak darah akibat tertusuk sebuah logam yang sepertinya adalah puing-puing sisa gedung-gedung yang telah hancur.
"Aku mengerti. Kalian harus selamat terutama Okaa-san. Kaa-san adalah seorang manusia, tidak seharusnya Kaa-san berada di sini. Aku janji akan melindungi Sasuke!" ucap Itachi yang akhirnya mengikuti Kizashi yang kini menggendong seorang anak perempuan,
"Lepaskan aku! Otou-san...Okaa-san...hikz...hikz...mereka meninggal!" kata anak perempuan itu sambil menangis dan meronta dalam gendongan Kizashi.
"Kau masih punya Kiba. Lindungi dia, Hana!" ujar Itachi sembari menghapus air matanya.
.
.
Sebagian dari murid BC termasuk Kiba mulai menangis menyaksikan sejarah yang diceritakan oleh Kurenai melalui Illusion ability-nya itu.
"Akulah yang akan menguasai dunia. Banyak cara untuk mewujudkannya!" ujar pria bertopeng tadi,
"Dengar, kalian yang masih muda jangan mendekati kyuubi! Kalian tidak boleh ikut bertaruh nyawa, biar kami yang melakukannya!"
"JANGAN SEENAKNYA BICARA!"
"Tenang dulu, Kurenai!" tegur Asuma muda.
"Kau juga bagian dari kami yang bisa kehilangan nyawa kapan saja...tetapi kau tetap puteriku. Setidaknya wariskan tekad api pada cucuku kelak! Berjanjilah pada ayah, aku mempercayaimu Kurenai!" ayah Kurenai menciptakan kekkai di sekeliling anak-anak remaja seperti; Asuma, Kakashi, Guy, dan lain-lain. Kemudian dia pun menghilang setelah tersenyum tipis pada Kurenai.
Kini Kurenai meneteskan air mata,
"Kurenai-sensei..." gumam Naruto
.
.
.
"GRRRAAAA!"
"Mengerikan. Istriku maafkan aku...jagalah anak kita untukku!"
"Apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Tolong tahan kyuubi sebentar!" ucap Minato,
"Yondaime sehebat apapun, aku tak akan bisa menahannya!" ujar Jiraya yang saat ini sudah berubah menjadi kodok raksasa dengan menggunakan Feromon Frog ability-nya
"Tidak ada jalan lain. Aku akan menggunakan Shikifujin untuk menyegelnya."
"APA?"
"Mi-bo-tori-i-kai-gyu-bi-danne!"
"Minato kau akan mati jika menggunakan jurus itu!" tegur Jiraya yang saat ini sibuk menahan tubuh kyuubi yang mencoba terlepas dari cengkramannya,
"Shikifujin!"
"Kau..."
'Zuor!' munculah sosok dewa kematian yang menyeramkan dari belakang tubuh Minato,
"Aku percaya, kita semua bisa menghentikan Madara!"
"Kau bodoh, apa yang harus aku katakan pada istri dan anakmu Minato?"
"Aku akan melindungi semuanya. Aku tak keberatan walau harus mati demi anak dan istriku. Itulah tugas seorang ayah sekaligus suami!"
"GRRRR! Sialan kau Yondaime!"
"Segel aktif!" ucap Minato, sesaat kemudian ia pun berteriak kesakitan...
"Arrggghhtt!"
"Minato!"
"Hosh! Hosh! Tubuhku kaku...hosh! Tak kusangka cakra-nya sekuat ini..."
"Baka!" masih dalam sosok katak-nya, Jiraya meneteskan air mata tetapi kyuubi belum tersegel walau ukurannya mengecil.
"Hosh! Hosh! Se-sensei...a-aku hanya bisa menyegel setengah kekuatannya bersamaku karena dia terlalu kuat. Sisanya akan kusegel dalam tubuhmu dengan Hakke Fuin..."
"Minato..."
"Bukankah hanya dengan cara ini untuk bisa mengalahkan monster setingkat bijuu, yaitu dengan menyegelnya. Kau tidak keberatan bukan?"
"..."
"Sensei jawablah! Nyawaku hampir habis..."
"Baiklah..." kata Jiraya yang kembali berubah menjadi sosok Angel-nya.
Minato hendak menggunakan Hakke Fuin, tetapi kyuubi tiba-tiba saja menghilang.
'Poooft!'
"Minato dia lenyap. Mungkinkah ini ulah Madara Uchiha juga?" tanya Jiraya,
"Ukh! Uhuk! Uhuk! OHOK!" Minato memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak dari mulutnya. Tubuhnya tampak sedikit terhuyung.
"MINATO!"
"Tolong lindungi istri dan anakku, sensei! Katakan pada mereka...aishiteru."
Jiraya hanya mengangguk dengan berlinang air mata menyaksikan murid kesayangannya yang tengah sekarat. Dari belakang tubuh Minato nampak sosok menyeramkan dewa kematian yang sudah bersiap mengambil jiwa Minato dan sebagian jiwa Kyuubi yang sudah terikat.
"Jika kyuubi mengamuk lagi, to-tolong segel dia sen-sensei..."
Kini sosok dewa kematian tersebut sudah menghilang. Raga Minato yang sudah tak bernyawa jatuh dalam pelukkan Jiraya,
"MINAATOOO!" teriak Jiraya sembari mempererat pelukkannya pada raga Minato yang wajahnya sudah pucat pasi. Penuh dengan darah, dan juga keringat dingin.
.
.
'Aku tidak begitu mengerti cinta ayah karena ayah sudah tak ada, tapi aku masih punya ibu dan merasakan cintanya selama enam belas tahun ini. Sekarang aku mengerti...ayah mengorbankan nyawanya demi kami semua. Dia adalah seorang pahlawan. Biarpun hanya satu bulan, setidaknya dia sudah memenuhiku dengan cinta karena itu...aku bahagia! Aku bersyukur jadi anak ayah dan ibu! Arigatou, Tou-san!' batin Naruto. Air mata menetes dan membasahi wajahnya.
'Jadi Naruto benar-benar anak dari Yondaime-sama?' batin Kurenai dalam hati.
'Sekarang adalah giliranku yang akan melindungi Kaa-san. Jika Kurama muncul lagi, aku akan menyegelnya dalam tubuhku sendiri. Akan aku pelajari Fuinjutsu. Aku yakin Kurama tidak sepenuhnya jahat. Bisa tertawa seperti itu di masa lalu...aku percaya dia hanya marah dan dikuasai oleh dendam gara-gara Madara Uchiha sialan itu pernah mengendalikannya.'
'APA?'
'Aku tidak dedam padamu Kurama, walau ayahku dan banyak orang lainnya meninggal gara-gara kau...'
.
.
Kurenai menonaktifkan Illusion Ability-nya. Seketika semua pemandangan tragis tadi kembali berubah menjadi ruang Basic Class.
"Begitulah, maka dari itu kita harus melanjutkan perjuangan dan pengorbanan mereka. Jika kalian mendapatkan misi lakukanlah dengan baik! Jangan biarkan monster-monster itu berbuat sesuka hatinya lagi!" Kurenai menutup pelajaran sejarahnya. Dia melihat semua murid-muridnya kini menjadi lesu seperti minggu lalu, bahkan diantara mereka semua masih ada siswa/siswi yang menangis.
"Sensei?" Sakura mengangkat tangannya,
"Ya, Sakura?"
"Sensei, minggu kemarin aku tidak berani menanyakan hal ini tetapi sekarang aku ingin tahu..."
"Katakan apa yang ingin kau tanyakan Sakura!"
"Kapan ayahku dan ayah Ino meninggal? Apakah mereka juga meninggal dalam insiden itu?"
"Ya, Kizashi-san meninggal setelah menyelamatkan Itachi dan Hana. Dia terkena bom bijuu yang terakhir kali di muntahkan oleh kyuubi sebelum kyuubi di segel oleh Yondaime-sama..."
"Otou-san..."
"Itachi dan Hana berhasil melarikan diri dan selamat. Kudengar luka yang di dapatkan Mikoto-san bisa di sembuhkan oleh Tsunade-sama. Saat itu Fuugaku-san juga terluka parah karena melindungi Mikoto-san dan orang-orang..."
"..."
"Lalu Inoichi-san, Shikaku-san, Hizashi-san, Shibi-san, Chouza-san dan yang lainnya yang saat itu juga mendapatkan misi untuk menghentikan bijuu lain tewas di kota yang berbeda. Hiashi-san yang kebetulan mendapatkan misi untuk menghentikan Shukaku yang mengamuk di kota Kyoto, berhasil selamat berkat bantuan ayah dan ibunya Temari, Kankurou, dan Gaara walau dia juga terluka parah. Sayangnya orang tua ketiga bersaudara itu tewas oleh Shukaku..." cerita Kurenai, kini tangis Ino yang sempat mereda kembali terdengar bahkan suaranya jauh lebih kencang dari sebelumnya.
"Uchiha itu pengkhianat..." bisik beberapa siswa/siswi,
"Tidak semua anggota clan kami seperti itu, baka!" protes seorang siswi yang sepertinya berasal dari clan Uchiha karena ia mengenakan kalung dengan liontyn berbentuk kipas berwarna merah-putih yang merupakan ciri khas clan Uchiha.
"Pelajarannya kita akhiri sampai sini. Sampai jumpa minggu depan anak-anak!" pamit Kurenai yang kemudian pergi.
Sebagian siswa/siswi BC masih menangis. Sebagian lainnya tampak menunduk tidak bersemangat seakan-akan sudah bosan untuk hidup di dunia ini.
"Astaga, sepertinya Kurenai-san membuat murid-muridku menangis lagi..." gumam Itachi yang saat itu hendak masuk untuk memulai pelajarannya.
Itachi adalah guru yang mengajar bagian latihan tanding sekaligus strategi menghadapi musuh-musuh yang berbahaya. Melihat murid-muridnya yang tampak tidak bersemangat, ia pun memanggil Maito Guy yang kebetulan lewat di depan kelasnya.
"Guy-san!" panggil Itachi,
"Ya, ada apa Itachi-kun?"
"Kau sedang tidak ada jadwal mengajar, bukan?"
"Ya, benar sekali. Memangnya kenapa?"
"Aku sepertinya tidak bisa mengajar, sekarang."
"Kenapa? Apa kau sakit?"
"Tidak. Mereka nampak lesu dan tidak bersemangat. Aku jadi khawatir mereka tidak akan bisa konsentrasi mengikuti pelajaranku. Tolong kau gantikan aku ya, Guy-san!"
"TENTU SAJA! YO, SEMANGAT MASA MUDA!" teriak Guy dengan mata berapi-api,
"Arigatou Guy-san..." ujar Itachi yang kemudian pergi.
.
.
.
"YO! ANAK-ANAK, CEPAT BERSIAP-SIAP! HARI INI KITA AKAN LATIHAN MARTIAL ART!" teriak Guy yang sukses membuat semua siswa/siswi hampir terkena serangan jantung mendadak.
"Lho, bukanya sekarang pelajaran guru ganteng...kenapa malah dia yang muncul?" ujar Amaru,
"Itachi-kun tidak bisa mengajar karena dia sedang tidak enak badan katanya. JADI, AYO KITA MULAI LATIHAN MARTIAL ART! Lekas ganti baju kalian dengan pakaian olahraga! Yang datang terlambat ke lapangan akan aku hukum berlari 50 keliling!"
"Sepertinya dia akan membunuh kita. Cepat kita ganti baju!" ujar seorang siswa yang segera berlari menuju ruang ganti disusul siswa/siswi lainnya. Guy hanya manggut-manggut sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Yah, seperti itulah semangat masa muda!" ujarnya yang langsung menghilang menuju delta 6, tempat anak-anak BC biasa berlatih.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Misi patroli? Aku tidak tertarik!" ujar seorang siswa DC dengan wajah datar,
"Sasuke kau harus menjalankan setiap misi yang diberikan kepadamu dengan baik!" kata seorang guru yang sedang duduk santai di kursinya sambil membaca novel berjudul 'Icha icha tactic'
"Biar Gaara saja yang melakukannya. Aku sedang tidak mood."
"Aku ada misi lain bersama kakak-kakakku!" sambung Gaara,
"Misi apa? Yakin tidak ingin menggantikanku?"
"Ini misi tingkat S, katanya ada tanda-tanda Shukaku akan muncul. Mana mungkin aku melewatkan misi sepenting ini. Aku akan membalas dendam atas kematian kedua orang tua-ku!" kata Gaara sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Aku iri. Kau sering sekali mendapatkan misi tingkat S, bahkan tingkat SS!"
"Itu karena rekan satu tim Gaara adalah kakak-kakaknya yang sudah mencapai tingkat TC. Sasuke misimu kali ini akan berbeda dari sebelum-sebelumnya karena dua murid dari BC akan ikut serta."
"Murid dari tigkat dasar itu? Kurasa tidak usah. Mereka hanya akan merepotkanku saja!"
"Jangan seperti itu! Siapa tahu salah satu diantara mereka lebih hebat darimu?!"
"Hn. Mana mungkin?"
"Sasuke aku ke kantin duluan, anak-anak lain sudah pada kesana semua!" kata Gaara yang kemudian beranjak dari kursinya, lalu meninggalkan ruang kelas.
"Ini adalah misi pertama mereka. Bantulah mereka, Sasuke! Mereka akan datang kesini sebentar lagi."
"Hn. Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan misi seperti itu!"
Beberapa menit kemudian munculah sosok Sakura diikuti sosok Naruto di belakangnya.
"Kakashi-sensei benarkah ada misi pertama untuk kami?" tanya Sakura dengan wajah berseri-seri,
"Benar sekali Sakura. Nanti malam kita akan berpatroli. Jika monster-monster aneh muncul kalian bertiga harus bisa mengalahkannya. Aku akan menemani kalian dalam misi kali ini, mengingat kalian berdua masih baru di Konoha Academy!"
"Heh! Siapa si rambut duren yang terlihat bodoh itu? Aku baru pertama kali melihatnya!" ujar Sasuke sambil tersenyum sinis,
"Teme! Siapa yang kau panggil bodoh, hah? Dasar pantat ayam!"
"Tentu saja kau, dobe!"
"Kau..."
"Ya ampun, baru bertemu sudah bertengkar. Kakashi-sensei lakukan sesuatu!"
"Biarkan saja. Biar mereka berdua cepat akrab," kata Kakashi santai.
"KAU GURU YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!" teriak Sakura,
"Memangnya apa yang kau bisa? Kau dan cewek pink itu hanya akan menambah bebanku saja!"
"Hana-neesan bilang hanya aku yang bisa membuat api-mu lebih besar, teme!"
"Membuat api-ku lebih besar? Wind ability. Mungkinkah kau..."
"Huh!" gerutu Naruto sambil memalingkan wajahnya dari Sasuke. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
.
.
_TBC_
.
.
A/n : Waduh, sepertinya chapter kali ini kepanjangan?! Gomen kalau ceritanya membosankan karena dalam chapter ini deskripsinya sangat minim, dan kebanyakan dialog. Gomen ne kalau masih ada typo dan kurang greget, terutama di bagian battle-nya...maklum Muki nggak pandai berkelahi. REVIEW PLEASE! Review kalian adalah motivasi untuk author. ^_^
.
.
Dan ini balasan untuk review yang nggak login :
Timi : Dalam fic ini saya ga terlalu menonjolkan romance-nya karena genre-nya lebih ke fantasy dan adventure, dan soal pairing gomen...saya udah terlanjur menentukan Narusaku. Dan ntar Naru akan mempelajari fuinjutsu, jadi kekuatannya nggak cuma wind. Arigatou. ^^a
Guest : Ya, diusahakan nggak akan sampe discontinued kok...paling cuma telat update kalo misalkan saya sibuk. Arigatou. ^^a
Guest2 : Arigatou. Yosh! Ganbatte! Ini udah update. ^^a
Soputan : Saya seneng kalau kalian menyukai fic ini. Arigatou. ^^a
Nuhuyanan : Arigatou. Hahaha, liat ntar aja. Ini udah update walau agak telat, maklum kemarin-kemarin saya sibuk. ^^a
Bumble bee : Gomen, saya sudah menentukan pair Narusaku. Arigatou. ^^a
Farhan UzuZaki : Yang bener? padahal Muki agak ragu lho dengan fic ini, abiz baru kali ini bikin yang genre-nya fantasy. Oh iya Farhan UzuZaki-san yang 'Hiasi' itu typo, bangga aja jadi bagga *baruNyadarSetelahBacaUlang* terus yang 'Chouzi' sankyuu udah ngasi tau, muki kira nama Chouji itu di tulis pake 'Z' sama kayak ayahnya :D | Soal nama-nama bijuu muki emang lupa, yang muki inget cuma Kurama and Shukaku doank hehe, untung Farhan-san ngasi tau. Arigatou. ^^a
Man utd : Arigatou. Chapter kemarin itu baru prolog, yang ini baru chapter 1-nya. Bener ya ntar review yang panjang, kan udah janji *puppy eyes no jutsu* ^^a
Manguni and Doche : Arigatou. Ini udah upadate. ^^a
NSL : Yosh! Mudah-mudahan ntar ceritanya nggak gaje. Arigatou ^^a
Guest : Ini udah update. Gomen telat, kemarin2 saya sibuk. Arigatou. ^^a
