A/n : Mina-san, gomennasai karena baru bisa update fict ini sekarang. Sebagai permintaan maaf, chapter berikutnya akan saya update beberapa hari lagi (nggak bisa langsung sekarang karena yang itu baru setengah jalan ngetiknya). Yah, jadi ada beberapa alasan kenapa saya telat update...yaitu :
Saya seorang gadis, jadi berimajinasi tentang adegan battle itu rasanya err...susah. Mungkin ini karena saya lebih menyukai film-film bergenre drama atau comedy romantic daripada film action, walaupun saya juga suka dengan Naruto.
Salahkanlah jari jemari saya yang males menari-nari di atas keyboard dan malah keasikkan main angry bird *Eh*
Saya berencana akan membuat fict kolaborasi dengan Aurora-chan. Sedikit bocoran fict itu terinspirasi dari Sword Art Online karena kami ingin belajar membuat fict bergenre Sci Fi, jadi belakangan ini saya baca novel-nya, makanya saya nggak sempat baca fict-fict author lain yang bergenre adventure sebagai referensi adegan battle fict Konoha Academy ini.
Nah, oleh karena itu saya mohon dukungannya ya? Bagi kalian yang tau banyak soal jurus-jurus yang ada di Anime/Manga Naruto, tolong kasih tau saya melalui kolom REVIEW or PM. Kalian juga boleh menyampaikan berbagai saran/usulan kelanjutan fict ini, karena saya juga membuat fict ini untuk kalian...jadi saya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian (kecuali soal pairing, saya sudah terlanjur menentukan Narusaku soalnya) dan saya juga tidak suka yang namanya flame, jadi saya mohon jangan ada yang ngeflame. Saya sudah berusaha semampu saya, jadi kalau ada yang flame itu...rasanya pasti #JLEB. So, abiz baca jangan lupa REVIEW! :D
P.S : Saya baru membuat account twitter beberapa hari yang lalu. Err...karena followers saya masih bisa dihitung dengan jari, yang berminat silakan follow MukiSakurai. Arigatou. ^^
Oke, langsung saja. Happy reading, mina!
.
.
.
Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Story by me
Tittle : Konoha Academy
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.
Rate : K+ (maybe bisa menjadi T sewaktu-waktu)
Pairing : NaruSaku, etc.
Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.
.
.
Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')
.
.
I just wanna say, if you don't like?! Don't read! Don't flame too! Just go back. Thanks.
.
.
Chapter 3 : Truth
.
.
Kami Angels tidak pernah sakit. Itulah kenapa aku sangat terkejut saat pertama kalinya aku menyadari kalau aku terinfeksi suatu virus yang mematikan. Sekarang aku mengetahui semua kebenaran. Orang tuaku yang selama ini mereka anggap sebagai pengkhianat, bukanlah seorang pengkhianat. Mereka bukan menghilang karena mereka berkerja sama dengan kaum devils atau demons, tetapi mereka lenyap akibat virus yang akhirnya menular padaku...dan semua ini adalah karena 'orang itu'—Minato Namikaze—
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Pertandingan kedua sudah di mulai sekitar 20 menit yang lalu. Di tengah-tengah arena tampak Haruno Sakura yang tengah memejamkan kedua matanya seakan ia tengah fokus pada sesuatu hal, sementara di hadapannya Shion nampak berdiri mematung dengan keringat yang sudah membanjiri wajah dan tubuhnya hingga seragam yang dikenakan Shion sedikit basah. Pandangan mata Shion terlihat kosong, sepertinya sejak tadi gadis berdarah murni tersebut tengah terjebak dalam Illusion Abillity Sakura.
"Hinata..." sapa seseorang yang tengah duduk di salah satu kursi penonton,
"Shino-kun, kau ada di sini juga?" sambung gadis berambut indigo sembari menghampiri orang yang menyapanya tadi.
"Hn. Aku sedikit penasaran akan seperti apa pertandingan Kiba dengan Mid-Angel itu?"
"Menurut Shino-kun akan bagaimana?" tanya balik Hinata yang kini sudah duduk di samping Shino.
"Mungkin akan membosankan. Kiba pasti bisa menang dengan mudah."
"Aku tidak setuju. Tidak semua Mid-Angel itu lebih lemah daripada kita, buktinya aku selalu berada di bawah Sasuke-kun."
"Hmm. Kurasa itu karena dia keturunan Uchiha."
"Memang...tapi tetap saja ibunya Sasuke-kun itu seorang manusia, makanya Otou-sama tidak pernah merasa puas dengan prestasiku ataupun kemampuanku. Dia selalu bilang...seharusnya aku bisa lebih hebat dari Sasuke-kun," sambung Hinata sambil menunduk sedih.
"Itu memang benar."
"Jadi kau juga berpikir begitu?"
"Hn."
Shino kembali mengalihkan pandangannya ke tengah-tengah lapangan. Hinata tersenyum kecil, lalu mengikuti arah pandang Shino.
"Shion-chan sepertinya kesulitan. Aku heran kenapa dia belum mengeluarkan Ice Ability-nya?"
"Kurasa dia sedang tidak bisa menggunakannya. Mid-Angel berambut pink itu sepertinya lumayan hebat."
"Illusion Ability, ya? Shion-chan itu satu team dengan Amaru-chan, seharusnya dia bisa mengatasi gadis itu bukan?"
"Kurasa Illusion Ability gadis itu tidak bisa dilepaskan dengan mudah."
"Mungkin dia sehebat Kurenai-sensei, ya?"
"Hn."
.
.
"KAI!" teriak Shion penuh konsentrasi,
Saat ini Shion dan Sakura tengah berada di sebuah tempat yang penuh dengan bara api. Wajah dan tubuh Shion sudah penuh dengan keringat walau kekkai es yang di buat olehnya masih melindunginya hingga saat ini. Sakura sendiri juga terlindungi oleh kekkai ciptaannya. Kekkai yang bahkan jauh lebih kuat dari kekkai milik Shion.
"Percuma saja! Illusion Ability-ku sangat special...hanya aku sendiri yang bisa melepaskannya!"
"Diam kau rambut gulali!" hardik Shion. Si jago merah masih terus menyambar-nyambar tubuhnya yang masih terlindungi oleh perisai es yang nampak begitu kokoh.
"Sudah dua puluh menit. Kau pikir berapa lama lagi perisai-mu itu akan bertahan? Es akan mencair jika terkena api terus menerus."
"DIAM KAU! INI HANYA ILUSI! AKU PASTI TIDAK AKAN KALAH! KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MELUKAIKU!"
"Ilusiku sangat nyata. Aku pernah merasakannya sendiri. Rasa panas seperti ini...bahkan bagian bawah sepatuku sampai berlubang karena terbakar oleh lava. Saat itu aku bahkan hampir melukai seorang gadis kecil," cerita Sakura sambil menunduk sedih.
"Aku tidak percaya! Ilusi tetaplah ilusi!"
"Aku sadar dalam segi kekuatan aku kalah jauh darimu, makanya aku melawanmu dengan kecerdasan. Ice Ability-mu tidak akan berguna kalau aku menggunakan api. Lihatlah es itu hampir mencair, Shion!"
Sakura tersenyum saat lapisan kekkai es milik Shion semakin tipis. Air terus menetes tanpa henti. Sedikit lagi. Sedikit lagi es itu pasti akan mencair sepenuhnya.
'Kuso! Aku terlalu meremehkannya. Chakra-ku tinggal sedikit. Kalau terus begini aku bisa kalah. Gomen, Okaa-sama. Kau memang pintar Haruno Sakura,' pikir Shion.
"Es-mu sudah mencair. Api akan segera menyambar tubuhmu!" ujar Sakura.
Kekkai Shion lenyap. Si jago merah menyambar ke arah Shion. Panas. Ternyata memang benar. Illusion Ability Sakura jauh lebih hebat dari Amaru. Selain tidak bisa dilepaskan, efeknya juga sangat nyata. Shion merasakan perih sekaligus panas disekujur tubuhnya.
.
.
"Arrggghhhhttt..." teriak Shion.
Tubuh Shion terhempas beberapa meter. Seragam yang di kenakannya sudah compang-camping dan kotor. Luka bakar menghiasi beberapa bagian tubuhnya sekaligus wajahnya. Akhirnya Shion pun pingsan. Tim medis segera berlari ke arahnya dan mulai mengobati Shion dengan Healing Ability mereka. Luka bakar disekujur tubuh dan juga wajah Shion lenyap perlahan-lahan, namun gadis itu masih tidak sadarkan diri.
"Hosh! Hosh! Hhh..." nafas Sakura sedikit tersenggal karena hari ini dia terlalu banyak menggunakan chakra.
"Pemenangnya Haruno Sakura!" ujar Itachi dengan nada datar,
"Apa-apaan itu? Masa wasit pertandingan seperti itu? Harusnya seperti ini Itachi-kun..." Guy yang merupakan salah seorang juri mulai menarik nafas dengan rakus,
"PEMENANGNYA HARUNO SAKURA! PERTANDINGAN KALI INI DIMENANGKAN OLEH SISWI MID-ANGEL! BAGAIMANAKAH DENGAN PERTANDINGAN SELANJUTNYA?" teriak Guy dengan mata berapi-api,
Tiga juri yang lainnya yaitu; Kurenai, Asuma, dan Yamato sweatdrop berjamaah...
'Dia itu juri atau komentator sepak bola sih?' pikir Yamato,
"Kau benar, teriakannya membuat telingaku sakit!" sambung Kurenai,
"Err...tolong jangan membaca pikiranku, Kurenai-san! Itu tidak sopan!"
'Yamato selalu saja sensitive. Merepotkan!' pikir Asuma. Kurenai hanya tertawa kecil mendengarnya,
"Gomen Yamato-san..." ujarnya,
.
.
Selanjutnya pertandingan ketiga dimenangkan oleh Ino. Biarpun Sara memiliki Water Ability, tetap saja gadis itu kalah. Sara jatuh pingsan setelah terkena mawar hitam beracun yang di lempar oleh Ino. Lemparan Ino benar-benar hebat. Dia melempar puluhan mawar beracun seperti melempar shuriken kagebunshin saja. Sara memang berkali-kali bisa menghindari serangan Ino, namun tetap saja ada sekuntum mawar yang mengenainya saat ia sedikit lengah.
"Dasar, harusnya sejak awal kau tidak meremehkanku Sara! Asal kau tahu aku bukan hanya memiliki Flowers Ability saja. Menciptakan mawar beracun mudah untukku!" ucap Ino saat Sara tengah di angkat pada tandu untuk di bawa ke ruang kesehatan Konoha Academy.
"Lagi-lagi Mid-Angel yang menang. Ternyata mereka memang hebat," puji Hinata dengan senyum di wajahnya. Gadis itu nampaknya semakin kagum pada Mid-Angel.
"Baka! Harusnya Shion dan Sara bisa menang seperti Amaru!"
"Shino-kun, kau tidak boleh bersikap arrogant seperti mereka!"
"Sebentar lagi giliran Kiba. Kuharap dia bisa menang."
"Kalau tidak salah lawannya bernama Uzumaki Naruto, kan? Yang mana sih orangnya?" tanya Hinata,
"Sebentar lagi mereka berdua pasti muncul. Kau akan segera tahu."
.
.
Kiba yang sejak tadi menunggu di sebuah ruangan yang sudah ditentukan bersama peserta lainnya sembari menonton pertandingan sebelumnya dari layar datar di depannya, segera melakukan shunshin hingga akhirnya ia tiba di tengah-tengah lapangan. Naruto pun lekas shunshin menyusulnya.
Senyum Hinata semakin lebar saat melihat sosok Kiba. Beberapa detik kemudian munculah angin puyuh seukuran tubuh Kiba dengan daun-daun yang menyertainya. Sosok seseorang lainnya pun muncul. Rambut blonde-nya tertiup oleh putaran angin yang mulai menghilang. Kelopak matanya yang semula terpejam, akhirnya menampakkan sepasang mata sebiru lautan yang indah. Tiba-tiba saja Hinata blushing.
"Kenapa wajahmu memerah Hinata?" tanya Shino,
"Unn..di-dia ke-keren se-sekali..." ucap Hinata, menunduk malu-malu sambil memainkan jari-jarinya.
"Bukanya kau menyukai Sasuke?" tanya Shino tampak heran, setahunya teammate-nya itu memang menyukai si bungsu Uchiha itu.
"Kyaa! Siapa dia? Tak kusangka di Konoha Academy masih ada siswa lain yang tidak kalah keren dari Neji-senpai, Sasuke-kun, dan Gaara-kun! KYAAA!" teriak beberapa orang gadis yang tidak jauh dari posisi Shino dan Hinata.
"Sok keren kau, Naruto. Dasar tukang pamer!" ujar Kiba,
"Siapa yang sok keren, perasaan aku biasa-biasa saja?!" sanggah Naruto,
"Kalian ini...pertandingan akan segera di mulai. Jangan berdebat!" timpal Itachi.
"Ano sensei, boleh tidak Akamaru membantuku?" tanya Kiba,
"Tentu saja tidak boleh. Ini pertandingan satu lawan satu!" tegas Itachi. Kiba mengangguk mengerti. Itachi pun segera memulai aba-aba untuk memulai pertandingan.
.
.
"Animal Transformation activated : Kingkong Mode..." ucap Kiba mulai mengaktifkan Animal Transformation Ability-nya,
Seketika tubuh Kiba berubah bentuk menyerupai seekor gorila. Tubuhnya menjadi tinggi besar dan dihiasi bulu-bulu yang lebat. Kuku-kuku jarinya berubah menjadi tajam, dan giginya bertaring. Kiba memang bisa meniru kemampuan binatang setiap kali menggunakan ability miliknya.
Kiba langsung menerjang Naruto. Naruto mencoba menahan serangan Kiba dengan kedua tangannya sekuat tenaga, tetapi ternyata Kiba sangat kuat saat dalam mode seperti itu. Naruto terdorong hingga terhempas beberapa meter, selain itu cakar Kiba berhasil melukai kedua lengannya. Darah dari lengan Naruto pun menetes ke tanah.
"Kuso! Hebat juga kau!"
"Jangan santai-santai saja, Naruto! Ayo lawan aku!" tantang Kiba,
"Wind Ability : Kazekiri no jutsu."
Kiba meringis saat angin tiba-tiba membuat tubuhnya terluka di beberapa bagian. Darah menetes dari luka-luka gores tersebut.
"Animal Transformation Ability : Cheetah mode."
"Uwaaaa!'
Tubuh Naruto terhempas beberapa meter hingga akhirnya menabrak kekkai yang sebelumnya telah diciptakan oleh Itachi di sekeliling arena pertandingan sebelum pertandingan pertama di mulai. Mulutnya memuntahkan darah saking kuat-nya kekkai tersebut. Sial! Kiba sangat cepat dalam mode cheetah-nya. Ia sampai tidak bisa menghindar karena serangan Kiba tidak terlihat.
"Wind Ability : Hurricane Mode."
Angin topan berukuran sedang muncul di tengah-tengah Naruto dan Kiba yang masih menyerupai seekor cheetah. Angin itu berputar semakin kencang hingga akhirnya melahap tubuh Kiba kedalamnya. Beberapa menit kemudian tubuh Kiba terpental dan menabrak kekkai. Darah merembes dari kepalanya.
"Sialan kau Naruto!" maki Kiba seraya mencoba kembali berdiri.
Masih dalam mode cheetah-nya Kiba kembali melompat ke arah Naruto. Kini kecepatannya semakin bertambah dan serangan bertubi-tubi pun tak bisa di hindari oleh Naruto. Tubuh Naruto babak belur akibat serangan Kiba. Dari kepalanya merembes cairan kental berwarna merah. Kini Kiba berada di atas tubuhnya yang tengah terbaring di tanah. Taring tajam Kiba menembus kulit lehernya. Cakar-nya mengoyak-ngoyak tubuhnya bagaikan seekor cheetah yang tengah kelaparan.
"Arrgghhhtt! Aku tidak mau dimakan olehmu!" teriak Nauto di tengah-tengah rasa sakit dan perih di sekejur tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa bergerak Naruto! Kau akan aku jadikan makan siangku!" balas Kiba masih menahan pergerakkan Naruto.
"Wind Ability : Atsugai."
Kiba merasakan tekanan besar pada tubuhnya. Tubuhnya melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh terlentang menghantam tanah dalam kecepatan yang luar biasa.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Kiba terbatuk-batuk dengan darah yang keluar melalui mulutnya. Beberapa detik kemudian bentuk tubuhnya kembali normal.
"Hosh! Hosh! Hosh!" nafas Naruto tersenggal.
Naruto merasakan tubuhnya melemas. Nampaknya ia terlalu banyak mengeluarkan chakra hari ini, namun ia tidak ingin menyerah. Ia pun mencoba berdiri namun ia kembali terjatuh saat ia merasakan pening di kepalanya.
'Sial! Aku kehabisan banyak darah!' pikir Naruto.
Kiba kembali bangkit. Saat ia berhasil berdiri, Naruto juga sudah berhasil berdiri. Ia tidak ingin kalah dari Naruto karena saat ini ibu, kakaknya, dan juga Akamaru tengah menonton pertandingannya di podium penonton. Bukan hanya mereka saja, teammate-nya Shino dan Hinata juga tengah mendukungnya dari podium penonton. Dengan sisa kekuatannya ia mulai melafalkan satu jurus lagi,
"Animal Transformation Ability : Eagle Mode."
Seketika tubuhnya menyerupai burung elang raksasa. Kiba mulai mengepakkan kedua sayapnya. Setelah melayang di atas ketinggian sekitar sepuluh meter ia pun terjun ke arah Naruto. Dengan cakarnya yang kuat dan tajam, ia mengangkat tubuh Naruto sebelum akhirnya menjatuhkannya tanpa perasaan.
'BRUUKKK!'
"UKH! OHOK!"
Naruto kembali memuntahkan darah. Sementara Kiba masih melayang-layang di atas kepalanya. Pandangan matanya semakin mengabur namun ia sudah berjanji pada ibunya untuk menjadi murid yang paling berprestasi di Konoha Academy, jadi ia tidak ingin kalah.
"Wind Ability : Kaze no yaiba."
Angin yang menyerupai belati tajam berterbangan ke arah Kiba. Tak ingin terkena, ia mencoba menghindar berkali-kali namun belati-belati itu malah semakin bertambah jumlahnya. Pada akhirnya tubuhnya terasa terpotong-potong. Rasa sakit akibat puluhan belati yang terasa menusuk-nusuk hingga ke daging itu akhirnya menghancurkan keseimbangan tubuhnya. Ia terjatuh dari ketinggian dan kembali pada sosok manusianya. Tiba-tiba sekelilingnya menjadi gelap.
.
.
"KIBA-KUN!" teriak Hinata saat teammate-nya jatuh dari ketinggian hingga akhirnya menghantam tanah dan tidak sadarkan diri.
Semua orang yang menonton pertandingan itu ternganga. Shino terbelalak kaget. Serangan Mid-Angel itu benar-benar menakutkan. Tubuh Kiba terluka di beberapa bagian. Seragam yang di kenakannya robek seperti terkena puluhan belati. Shino reflek berdiri dari atas kursinya. Dilihatnya tim medis berlarian ke arah Kiba sembari membawa tandu. Kiba pun mereka bawa ke ruang kesehatan.
.
.
"NARUTOOO!" teriak Sakura di dalam ruangan khusus itu,
Sakura sangat khawatir saat melihat dari layar datar di depannya, teman satu timnya langsung ambruk tak sadarkan diri setelah berhasil mengalahkan Kiba dengan serangan terakhirnya. Tubuh itu babak belur. Seragamnya penuh dengan darah. Sakura menutup mulutnya dengan telapak tangan saat Naruto di angkat dengan tandu oleh beberapa orang dari tim medis. Darah disekitar kepala, mulut, dan lehernya benar-benar membuat Sakura tanpa sadar meneteskan air mata. Sakura sendiri tidak tahu mengapa perasaannya seperti ini, padahal Naruto hanyalah teman satu timnya.
Pada akhirnya sesuai dengan keputusan juri, Itachi mengumumkan bahwa Kiba dan Naruto seri. Tidak ada pemenang diantara mereka karena keduanya sama-sama tidak sadarkan diri. Setelah seluruh pertandingan itu selesai, daftar nama muncul dalam madding.
Pertandingan besok adalah pertandingan semi final. Lawan mereka ditentukan sesuai dengan urutan pertandingan sebelumnya...
Amaru Vs Sakura
Ino Vs Midori
Etc.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Luka-luka yang di dapatkannya tidak berakibat fatal, hanya saja selain kehabisan darah dia kehabisan banyak chakra..." cerita Shizune saat Sakura menanyakan tentang kondisi Naruto.
"Jadi benar ya? Daya serap chakra Wind Ability itu sangatlah besar?"
"Ya, sepertinya dia harus menjadi Jinchuuriki kyuubi agar tidak cepat kehilangan banyak chakra!" canda Shizune sembari tertawa kecil.
"Shizune-san!" protes Sakura,
"...tapi kalau Naruto bisa menjadi Jinchuuriki kyuubi, dia pasti akan bertambah kuat apalagi ability bawaan kyuubi adalah Fire!" sambung Kakashi.
"SENSEI!" protes Sakura pula.
"Yare...yare!"
"Apanya yang yare-yare? Pergi sana! Biar aku yang menjaga Naruto di sini!" usir Sakura,
"Eh? Bukanya besok kau ada pertandingan semi final, Sakura?" tanya Shizune,
"...tapi aku mengkhawatirkannya."
"Lebih baik kau istirahat! Tidurlah yang nyenyak agar besok kau bisa menang melawan Amaru. Amaru adalah lawan yang cukup tangguh!" sambung Kakashi,
"Tidak mau!"
"Kenapa tidak mau? Apa kau menyukai Naruto?" selidik Shizune,
"Bu-bukan begitu! Naruto itu teammate-ku, wajar kalau aku khawatir kan?"
"Umm...Sasuke saja tidak sepertimu," sambung Kakashi.
"ITU KARENA DIA LAKI-LAKI! JADI MANA MUNGKIN DIA MENYUKAI NARUTO!"
"Tuh, kau baru saja mengaku Sakura!" goda Shizune,
"Benar. Harusnya kau bilang seperti ini 'Sasuke itu dingin. Mana mungkin dia peduli pada teammate-nya,' benar kan Shizune-san?" ujar Kakashi.
"ARGGGHHH! PERGI KALIAN!" teriak Sakura sembari menodongkan kepalan tinjunya,
"Hii, serem! Ayo kita pergi Kakashi!" kata Shizune seraya menarik tangan Kakashi menuju pintu keluar.
"Apa-apaan mereka itu? Mana mungkin aku menyukaimu! Aku hanya peduli padamu! Iya kan, Naruto?" tanya Sakura sambil memandang sosok Naruto yang masih tidak sadarkan diri di atas ranjang, tentu saja teammate-nya itu tidak akan menjawabnya.
.
.
"Kenapa kau bisa kalah dari Mid-Angel? Kau memalukan!" ucap Shino pada Kiba yang tengah duduk lemas di atas ranjang,
"Tidak ada yang menang. Mid-Angel itu juga sedang dirawat di ruang sebelah," sambung Hinata.
"Eh? Jadi aku dan Naruto seri?"
"Ya, yang kalah adalah aku karena selalu berada di bawah Sasuke-kun."
"Aku saja selalu berada di atas Sai. Harusnya kalian berdua juga bisa sepertiku! Mereka itu hanya setengah malaikat. Kenapa kalian selalu kalah dari orang-orang seperti mereka?"
"Kau jangan meremehkan mereka kalau tidak ingin menyesal, Shino-kun!" sambung Hinata.
"Iya, bisa-bisa nanti kau jatuh cinta pada Midori-chan. Dia sangat membenci kaum kita dan kau selalu meremehkan Mid-Angel. Bukankah perbedaan antara benci dan cinta itu sangat tipis?" tambah Kiba.
"Kenapa aku harus jatuh cinta pada Uchiha itu?"
"Kenapa? Midori-chan cantik dan pintar. Dia juga hebat."
"Iya, sampai-sampai Chouji-kun kalah!" sambung Hinata,
"Kenapa kalian jadi ngomongin si Uchiha itu, sih?"
"...soalnya Shino-kun terlihat terpana saat melihat Midori-chan bertarung dengan Chouji-kun."
"Ho? Benarkah itu Hinata?"
"Hmm."
"Diam kalian!" ucap Shino dengan aura suram di sekitarnya, membuat Kiba dan Hinata sweatdrop berjamaah.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Hhh...Kiba sangat cepat waktu itu. Aku jadi ingin menguasai jurus teleport!" gumam Naruto setelah kembali ke kamar asramanya. Tadi siang ia telah melihat pertandingan grand final yang dilaksanakan oleh Sakura dan Midori. Ia jadi semakin menyukai Sakura.
Kata Ino dua hari yang lalu Sakura menang dari Amaru sedangkan dia malah kalah dari Midori hingga akhirnya ia tidak bisa mengikuti pertandingan final kemarin, makanya Ino senang sekali saat Sakura berhasil mengalahkan Midori pada pertandingan grand final tadi.
Naruto termenung di atas kasurnya. Chakra yang dia miliki memang sedikit sekali padahal Wind Ability membutuhkan banyak chakra untuk setiap penggunaannya. Gara-gara itu dia sampai tidak sadarkan diri selama dua hari. Keinginannya untuk menjadi partner Kurama semakin besar. Katanya Kurama memiliki persediaan chakra yang sangat banyak. Selain itu ability bawaannya adalah Fire. Jika dia bisa menyegel Kurama dan mengendalikan kekuatan itu, dia mungkin bisa langsung naik ke tingkat Technical Class. Entah kapan hari itu akan tiba? Saat di mana Kurama akhirnya keluar dan ia sudah menguasai fuinjutsu untuk menyegelnya. Ia benar-benar ingin berteman dengan Kurama.
Naruto teringat sebuah kotak yang ditinggalkan oleh seseorang di depan kamarnya tadi malam. Ia jadi semakin penasaran, sebenarnya siapa yang memberikannya hadiah-hadiah itu? Dulu kunai bermata tiga yang sepertinya milik ayahnya, dan sekarang hadiah yang lain.
Naruto beranjak dari ranjang lalu membuka lemari pakaiannya dan mengambil kotak tersebut. Kotak yang sekarang ukurannya lebih besar dari yang waktu itu. Ia pun membuka kotak itu. Rupanya isinya adalah sepuluh kunai bermata tiga, hanya saja pada pegangan kunai-kunai ini ada kertas segelnya.
'Kunai ini lagi?' tanya Naruto pada dirinya sendiri,
Ah, tidak. Ternyata bukan hanya kunai bermata tiga saja. Di bawahnya juga ada sebuah buku tebal dan sebuah disc yang tersimpan rapi di dalam kotak kaset. Pada jilid buku itu tertulis 'Hiraishin no Jutsu' by Minato Namikaze.
"Uwaahh! Bukunya Tou-san!" seru Naruto kaget bercampur senang.
Naruto mengeluarkan kunai-kunai itu dan membaca halaman pertama bukunya.
.
.
Ini adalah buku panduan jurus teleport yang aku tulis untuk anakku. Aku ingin anakku menjadi penerusku, jadi aku harap dia bisa menguasai Hiraishin no Jutsu sepertiku. Hiraishin no Jutsu adalah jurus teleport yang berhasil aku kuasai setelah bertahun-tahun berlatih. Sensei bilang kecepatanku bahkan melebihi kecepatan cahaya. Itulah sebabnya orang-orang mengatakan kalau aku mempunyai Time-travelling Ability. Aku juga tidak tahu kenapa mereka semua menyebutnya begitu?
Ah, bukan hanya itu...mereka juga memberiku julukkan 'Kiiro No Senko' dan aku suka sekali dengan julukkan Kushina, 'Habannero Berdarah'. Jadi kalau Kiiro no Senko dan Habannero berdarah bersatu, maka anak kami akan menjadi...umm apa ya? Ah, biar anak kami sendiri yang menentukannya.
Anakku, ayah sangat percaya padamu. Jadilah lebih kuat dan kalahkanlah para pengkhianat-pengkhianat itu! Jadilah pahlawan untuk kampung halamanku dan lindungilah ibumu dan kaumnya—manusia— kau pasti bisa! Aku juga sangat menyayangimu. Itulah sebabnya aku ingin memberimu hadiah ini. Kunai Special dan Hiraishin no Jutsu milikku, kau harus bisa menggunakannya dengan baik.
Soal Wind Ability yang mungkin aku wariskan kepadamu...minta petunjuklah pada Jiraya-sensei! Aku sudah pernah memintanya untuk mengajarimu jurus ciptaanku—Rasengan—. Kau harus bisa mengembangkannya karena aku tidak sempat. Aku punya firasat sesuatu akan terjadi, dan mungkin saat itu aku akan meninggalkanmu dan ibummu. Berjuanglah, Naruto!
.
.
"Jiraya-sensei? Orang itukah yang memberikanku hadiah-hadiah ini? Aku harus menemuinya!" ucap Naruto sembari menutup buku itu. Ia memutuskan untuk mulai mempelajari buku itu besok.
Naruto kembali memasukkan buku dan kunai-kunai itu ke dalam kotak, lalu mengambil kaset disc yang entah apa isinya. Penasaran, ia pun menyalakan laptop-nya lalu memasukan kaset itu. Setelah menunggu selama beberapa menit, pada layar komputernya muncul sosok ayahnya yang masih remaja. Naruto hampir menangis saat melihat rekaman itu. Ia benar-benar ingin sekali bisa bertemu dengan ayahnya secara langsung. Sosok itu tersenyum...tapi kenapa wajahnya terlihat sangat pucat?
Dengar sensei, kau harus memberikan kaset rekaman ini pada Kakashi...mengerti!
Sosok ayahnya mulai berbicara. Jadi kaset ini untuk Kakashi, lalu kenapa bisa nyasar kesini? Sepertinya orang yang bernama Jiraya itu salah kirim?
"Ternyata untuk Kakashi-sensei! Aku penasaran apa isinya? Kurasa tidak apa-apa jika aku melihatnya sebentar!" gumam Naruto pula,
.
.
Kakashi aku minta maaf...
Semenjak orang tuaku menghilang tanpa jejak, orang-orang selalu mengatai mereka pengkhianat. Mereka bilang kedua orang tuaku telah bersekutu dengan kaum demons atau apalah itu...tapi aku benar-benar tidak percaya!
Ayah dan Ibuku bukan orang seperti itu. Aku yakin mereka difitnah oleh seseorang, sama seperti kedua orang tua Fugaku, Kizashi, dan yang lainnya. Aku yakin orang itu menuduhkan hal tersebut semata-mata untuk menggeser posisi orang tua kami sebagai petinggi Konoha. Aku tidak tau tujuannya apa, tapi aku yakin tujuan mereka pasti jahat. Mereka pasti ingin para petinggi Konoha yang sebelumnya, digantikan oleh para petinggi Konoha yang sekarang.
Sebelum orang tuaku menghilang. Mereka sering terlihat sakit. Aku sangat bingung saat itu. Bukankah kita tak pernah sakit? Lantas apa yang menyebabkan mereka sakit?
Sampai suatu hari kedua orang tuaku tidak pernah kembali ke sisiku. Sejak saat itu orang tuamu mengangkatku sebagai anak mereka. Tentu aku sangat bahagia, apalagi saat itu aku mempunyai seorang adik, yaitu kau Kakashi.
.
.
Naruto ikut menangis saat melihat ayahnya meneteskan air mata. Ayahnya benar-benar terlihat sangat sedih saat menceritakan hal tadi.
Tapi sejak aku sering demam setiap malam. Mereka jadi menitipkan dirimu yang masih balita pada keluarga Kurenai. Saat itu pertama kalinya aku menyadari ada sesuatu yang aneh dengan tubuhku. Kurasa sebelum ini orang tua-ku terinfeksi suatu virus mematikan yang akhirnya menular padaku, dan mungkin menghilangnya mereka adalah karena mereka sudah meninggal akibat virus itu. Aku meminta orang tuamu untuk mengambilmu kembali dan tidak mempedulikanku lagi, tapi mereka malah bilang...
Mereka sangat menghormati orang tuaku, makanya mereka ingin tetap merawatku. Mereka juga merasakan ada sesuatu yang aneh dengan orang tua-ku makanya saat aku sakit, mereka tidak peduli walau mereka harus tertular oleh penyakitku...tapi mereka tidak ingin kau tertular. Itulah sebabnya mereka menitipkanmu pada keluarga Kurenai. Pada akhirnya aku telah membunuh kedua orang tua-mu secara tidak langsung. Kau pasti membenciku, bukan?
Gomennasai Kakashi...Gomennasai!
Kurasa aku harus segera mengakhiri rekaman ini. Badanku terasa lemas. Persendianku mulai terasa sakit. Perutku mual dan kepalaku sangat pusing. Setelah ini aku pasti akan...
Naruto terkejut saat melihat ayahnya tiba-tiba mimisan,
Sial! Ternyata benar dugaanku. Maaf membuatmu khawatir, Kakashi.
Aku selalu bertanya-tanya pada Kami-sama...
Kenapa? Kenapa harus aku? Aku masih ingin hidup agar aku bisa menjadi kakak yang baik untukmu, tapi tubuhku malah semakin lemah. Kalau begini aku tidak mungkin bisa melindungimu. Bisa-bisa aku malah membuatmu meninggal seperti aku membuat orang tuamu meninggal karena tertular olehku. Kurasa dengan meninggalkan Konoha adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Kakashi meski aku ingin, mungkin kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi...
Kakashi, maukah kau memaafkanku?
Rekaman itu pun berakhir. Naruto langsung membenamkan wajahnya di atas meja. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Bahunya mulai bergoncang. Isakan pelan mulai memecah heningnya malam.
"Tou-san, selama ini kau pasti menderita. Aku harus berterimakasih pada Kaa-san, karena Kaa-san berhasil mengembalikan tawamu lagi."
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Naruto akhirnya berhasil menemui Jiraya, setelah ia mencari-cari informasi tentangnya dari Hana. Saat ini dia tengah membuntuti Jiraya sejak tadi pagi. Di mulai dari air terjun yang terletak beberapa kilometer dari Konoha Academy hingga akhirnya menuju sebuah pemandian air panas. Naruto sampai pusing karena ternyata guru ayahnya ini adalah orang yang mesum. Sejak tadi pagi yang dilakukkannya hanya mengintip Angels wanita yang tengah mandi.
"Kenapa aku harus mengajarimu, gaki? Minta saja Kakashi yang mengajarimu!" perintah Jiraya saat Naruto terus mengikutinya sejak tadi pagi.
"Kakashi-sensei dan Yamato-sensei akan mengajariku perubahan jenis chakra agar kelak aku bisa mengembangkan rasengan. Jadi untuk rasengan tingkat dasar kau yang harus mengajariku!"
"Tidak mau. Aku harus mencari inspirasi untuk novelku yang berikutnya!"
"Mengintip wanita mandi apa termasuk mencari inspirasi?"
"Gah! Bukan urusanmu, gaki!"
"Kami libur selama tiga hari setelah ujian. Jadi kau harus mengajariku rasengan dalam waktu tiga hari, onegai!" mohon Naruto dengan puppy eyes no jutsu-nya,
"Terserah kaulah!"
'Hihihi, tak kusangka puppy eyes no jutsu-ku mempan terhadapnya!' pikir Naruto,
Sebelum memasuki pemandian air panas, Jiraya membeli sekantong balon kertas pada seorang Angel yang berprofesi sebagai pedagang. Sekarang dia dan Naruto sudah tiba di pemandian dan mulai berendam.
"Jadi Angels ada yang berdagang juga, ya?"
"Ya, sepertinya mereka meniru manusia."
"Kupikir Konoha Academy hanya sebuah sekolah dan asrama. Tak kusangka beberapa kilometer dari sana ada desa seperti ini..."
"Konoha Academy awalnya adalah sebuah Negara. Tentu saja wilayahnya luas."
"Lalu Ero-sennin, suatu hari bolehkah aku mengajak Kaa-san kesini?"
"Itu tidak mungkin. Para petinggi Konoha melarang hal itu, lagipula dunia kami...Konoha adalah dunia gaib. Manusia biasa tidak mungkin bisa menemukan tempat ini."
"EH? Jadi hanya kaum Angels dan Mid-Angels yang bisa melihatnya?"
"Hn. Konoha dikelilingi oleh kekkai yang sangat kuat dan bersifat mistis. Manusia tidak akan bisa menembusnya ataupun melihatnya, kecuali kalau manusia itu datang kesini sambil bergandengan tangan dengan pasangan hidupnya."
"Pasangan hidup? Jadi anak mereka tidak bisa membawa mereka kesini?"
"Hn."
"...padahal aku sangat merindukan Okaa-san. Saat ada misi berikutnya, aku ingin menginap di rumah Kaa-san. Dia mungkin kesepian di luar sana."
"Manusia yang menikah dengan kaum Angels memang selalu merasa kesepian. Itulah sebabnya, mereka tidak ingin anaknya masuk Konoha Academy. Belasan tahun yang lalu, setiap kali aku selesai dari misi...Mikoto selalu berdiri di depan gerbang Konoha Academy walaupun sebenarnya dia tidak bisa melihatnya. Wanita itu selalu terlihat sedih dan menangis. Dia bilang, dia yakin suami dan anaknya—Itachi— ada disekitar sana."
"Ibunya Sasuke kah?"
"Hn. Dia bahkan pernah mengajak Sasuke yang saat itu berusia sekitar 7 tahun. Saat itu Mikoto bilang..."
'Ayah dan kakakmu ada di dalam sana...tapi aku tidak bisa lagi bertemu dengan mereka. Fugaku dan Itachi hanya satu tahun sekali mengunjungiku. Aku mengerti mereka sibuk, tapi tidak bisakah mereka mampir setiap hari ke rumahku hanya untuk makan malam? Apa mereka tidak pernah merindukanku dan sudah tidak peduli lagi padaku?'
"Lalu apa yang dikatan Sasuke teme?"
"Anak itu bilang, di depan mereka memang ada sebuah gerbang raksasa dengan lambang daun emas...tapi gerbang itu tertutup. Mikoto langsung menangis. Mungkin saat itu dia sadar kalau suatu hari nanti, Sasuke juga akan pergi ke sana seperti Itachi dan meninggalkannya sendirian. Di sisi lain, dia sangat senang karena dugaannya benar. Sambil tersenyum dia berkata..."
'Ternyata memang ada di sana, ya? Rupanya aku masih ingat!'
"Apa Okaa-san juga pernah berdiri di depan gerbang itu?"
"Hmm. Beberapa hari yang lalu dia berdiri di sana selama berjam-jam. Kebetulan aku yang satu lagi mengikutinya. Aku bertanya padanya, kenapa dia kesini?"
"Lalu?"
"Dia bilang entah kenapa perasaannya tidak enak. Jadi dia memintaku untuk membawamu keluar..."
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" potong Naruto emosi,
"Aku mau memberitahumu, tapi ternyata kau tidak sadarkan diri setelah bertarung dengan Kiba."
"Begitu. Kalau begitu selama tiga hari ini aku mau menginap di rumah Kaa-san."
"Eh? Bukanya kau mau latihan rasengan?"
"Latihannya setelah liburan selesai saja."
"Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Aku bisa latihan setiap malam. Jadi itu tidak akan menganggu sekolahku!"
"...dan tidak tidur?"
"Hanya tidur selama dua jam pun tidak apa-apa."
"Cih, kau benar-benar keras kepala seperti Kushina!" ujar Jiraya yang kemudian memejamkan kedua matanya sembari berendam.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Rupanya bukan hanya dirinya saja yang memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan bersama ibu. Ino, Sakura, dan Midori juga meminta izin pihak sekolah agar selama liburan, mereka diizinkan menginap di rumah ibu mereka. Sementara Matsuri dan Sasame, mereka meminta izin untuk menginap di rumah ayah mereka. Kebalikan dari Naruto, ibu Sasame dan Matsuri adalah kaum Angels. Ayah merekalah yang manusia biasa.
Kushina sangat senang saat Naruto datang. Wanita itu sampai menangis tersedu-sedu. Biarpun Naruto belum lama di Konoha Academy, tetap saja Kushina sangat merindukan anak itu. Selama liburan mereka berdua selalu pergi ke tempat-tempat Wisata, termasuk taman hiburan dan kebun binatang. Sebenarnya Naruto tidak mau dan ingin di rumah saja. Pergi ke tempat-tempat seperti itu seperti anak kecil saja katanya, tetapi Kushina memaksa dan selalu mernggunakan jurus Habannero-nya.
Kushina sangat sedih saat putera semata wayangnya harus kembali ke Konoha Academy. Baginya tiga hari bersama Naruto terlalu singkat. Tiga hari seakan hanya tiga jam baginya. Kushina berpesan, jika Naruto mendapatkan misi di sekitar kota kediamannya...dia harus mampir dulu untuk makan malam, kalau perlu menginap. Naruto hanya tersenyum sambil mengangguk setuju.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Naruto, ayo kita ke kantin! Ino dan Matsuri sudah pergi duluan!" ajak Sakura,
"Ah, aku sedang tidak bisa makan Sakura-chan."
"Apa maksudmu?" tanya Sakura dengan wajah bingung,
"Kedua tanganku gemetaran. Tak kusangka latihan tahap kedua sangat sulit, padahal aku berhasil menyelesaikan tahap pertama hanya dalam waktu beberapa jam saja," cerita Naruto sembari menunjukkan kedua tangannya yang gemetaran sejak tadi.
"Latihan? Latihan apa?"
"Jurus baruku. Kau pergi sendiri saja ya, Sakura-chan?"
"Apa itu sakit?"
"Hmm. Badanku sakit semua, sampai aku tidak bisa tidur semalam."
Sakura mencondongkan wajahnya lebih dekat pada wajah Naruto. Tentu saja wajah Naruto langsung memerah seketika, apalagi sekarang gadis itu tersenyum manis padanya.
"Aku akan menyuapimu kalau begitu..." ujarnya,
"Eh? Apa aku tidak salah dengar? Atau aku sedang bermimpi?"
"Sudah jangan banyak bicara, ayo pergi!" paksa Sakura sambil menarik daun telinga Naruto dan menyeretnya dengan langkah lebar-lebar,
"Aoww! Ittai Sakura-chan! Tidak bisakah kau memperlakukannku lebih manusiawi?"
"Aku sudah berbaik hati ingin menyuapimu, baka!" tegas Sakura.
Setibanya di kantin. Sakura menyuruh Naruto untuk duduk di bangku yang kosong, sementara dirinya membawa dua nampan yang berisi menu hari ini. Setelah memasukkan makanannya ke mulutnya sendiri, gadis itu menyuapi Naruto sesuai dengan janjinya. Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Ino dan Matsuri nampak cengengesan sambil bergosip karena tidak tahan melihat wajah Naruto yang sangat merah seperti apel matang.
"Hihi, nampaknya Naruto-kun menyukai Sakura-chan..." ujar Matsuri,
"Kurasa forehead juga menyukai Naruto!"
"Lho, bukannya Sakura-chan itu suka pada Sasuke-kun dan Itachi-sensei?"
"Entahlah Matsuri. Anak itu memang labil. Aku sendiri belum bisa memastikan siapa sebenarnya yang dia sukai...tapi setelah kejadian Kiba Vs Naruto waktu itu, Sakura sampai menemui Tsunade-sama."
"Untuk apa?"
"Ya, katanya dia ingin mempelajari Healing Ability dari Tsunade-sama."
"Sakura-chan sangat berbakat. Aku yakin dia pasti bisa. Aku juga berencana untuk melatih skill pedangku agar aku tidak kalah dari Shion dan teman-temannya lagi."
"Skill pedang? Siapa yang mengajarimu?"
"Hana-sensei..."
"Matsuri, adakah laki-laki yang kau sukai di sini?" tanya Ino, membuat wajah Matsuri memerah seketika.
"I-iya...di-dia salah satu murid TC..."
"Mid-Angel atau Angel?"
"Seorang Angel. Kalau Ino-chan?"
"Ya, ada tentu saja."
"Siapa? Sasuke-kun?"
"Ah, bukan!" kata Ino sembari mengibaskan tangannya,
"Lantas?"
"Dia seorang anak yang jenius..."
"Sasuke-kun juga jenius. Ayolah katakan padaku siapa?"
"Kalau begitu kau juga harus mengatakan padaku siapa laki-laki itu!"
"Anu...itu..hmm..."
"Aku juga tidak mau bilang kalau begitu."
Sementara Ino dan Matsuri tengah bergosip, di ujung timur Shion mengarahkan death glare-nya pada Sakura. Entah kenapa dia tidak suka gadis itu mendekati Naruto. Mungkinkah dia menyukai Naruto? Ataukah dia hanya berambisi untuk mengalahkan Sakura dalam hal apapun?
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Sensei, kenapa sih monster-monster itu selalu menganggu manusia?" tanya Sakura, saat tim-nya sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan misi kedua mereka.
"...karena manusia adalah makhluk yang paling lemah," sambung Sasuke.
"Makhluk yang kau sebut paling lemah itu termasuk ibumu, teme!"
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kau berkata seperti itu? Mikoto-san sepertinya adalah wanita yang kuat. Dia adalah seorang polisi wanita yang tangguh. Tidak seharusnya kau berkata seperti itu."
"Kenyataannya mereka memang lebih lemah bila dibandingkan dengan kita, dobe. Itulah sebabnya kita ditugaskan untuk melindungi mereka!"
"Kuharap monster kali ini bukan makhluk sejenis bawang lagi," sambung Sakura. Kakashi hanya tersenyum kecil di balik masker-nya.
Tibalah mereka di depan sebuah gereja tua. Gereja itu adalah tempat yang dicurigai oleh salah seorang anbu yang tergabung dalam pasukan penyelidikan. Menurut keterangan anbu bernama tori itu, di dalam gereja tua tersebut tinggalah seekor monster berbentuk kadal-manusia yang anehnya bisa terbang. Monster tersebut di kategorikan sebagai monster serangga raksasa karena memiliki sepasang sayap. Menurut berita yang disiarkan oleh Sakurai TV beberapa hari yang lalu, orang-orang yang berkunjung ke gereja tersebut untuk berdo'a menghilang secara misterius. Ada yang bilang orang-orang itu diculik oleh makhluk astral. Adapula yang berpendapat jika orang-orang itu telah di makan oleh alien.
"Manusia memang selalu melebih-lebihkan sesuatu. Aku heran, kenapa mereka begitu senang mencari sensasi?" komentar Kakashi yang sukses mendapatkan death glare dari ketiga orang muridnya.
"Oops! Aku tidak bermaksud mengatai ibu kalian, sungguh!" ujarnya.
"Entah kenapa aku merasa hari ini mood sensei sedang baik," sindir Sakura.
"Ya, itu karena beberapa hari yang lalu aku mendapatkan sebuah rekaman video dari seseorang. Awalnya aku sangat membenci orang itu karena dulu aku berpikir, kedua orang tuaku membuangku karena lebih menyayangi orang itu...tapi sekarang aku sudah mengetahui kebenarannya. Jadi aku akan memaafkannya dan tidak akan pernah membencinya lagi!" cerita Kakashi sambil tersenyum.
'Syukurlah, Tou-san! Kakashi-sensei sudah tidak menyalahkanmu atas kematian kedua orang tuanya.'
Akhirnya mereka membuka pintu gereja tersebut, lalu masuk ke dalamnya. Keempatnya melihat sekeliling mereka dengan penuh waspada. Tiba-tiba saja sebuah suara seperti suara nyamuk datang dari atas. Dalam hitungan detik, Sakura sudah berada dalam cengkraman monster Lizardman bersayap itu.
"UWAAHH! TOLONG!" teriak Sakura yang tengah melayang di udara.
"SAKURA-CHAAN!"
.
.
_TBC_
.
.
Gomen ne, untuk review yang nggak login baik review chapter kemarin dan chapter kali ini, akan saya balas di chapter berikutnya (udah kepanjangan soalnya). So, Review please! Kalau yang review banyak chapter berikutnya akan saya update tiga hari dari sekarang! Arigatou. ^^
