Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me

Tittle : Konoha Academy

Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.

Rate : K+ (maybe bisa menjadi T sewaktu-waktu)

Pairing : NaruSaku, etc.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.

.

.

Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')

.

.

I just wanna say, if you don't like?! Don't read! Don't flame too! Just go back. Thanks.

.

.

Chapter 5 : Sadness

.

.

Please don't go, I love you, mom. You will leave me all alone. Don't go, don't go, don't go...—Naruto Uzumaki—

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

"Shion!"

Persis seperti yang ada dimimpi Sakura, saat itu wajah Shion tersirat kebencian yang luar biasa. Dan bunyi petir seakan menggambarkan kemarahan Shion saat itu.

Mata Shion memutih, ia mengangkat tangannya yang tiba-tiba mengeluarkan percikan es. Shion terlihat seakan ingin menyerangnya dan teman-temannya.

"Sakura! Jika kau masih ingin hidup jauhi Naruto!" kata Shion datar. Saat itu kilat menggelegar, sekeliling mereka telah membeku persis seperti dalam mimpi. Shion siap menyerang ketiga teman sekelasnya itu.

.

.

.

"Naruto, ada yang mencarimu tuh," ujar Chouji saat Naruto tengah latihan sparring dengan Kiba.

Mendengar suara Chouji, Naruto yang tadinya akan melancarkan tendangan yang sudah siap ditangkis oleh Kiba langsung menghentikan gerakannya. Ia kemudian menoleh ke arah Chouji,

"Siapa?" tanyanya,

"Salah satu murid TC class,"

"Kankurou-senpai?"

"Bukan, dia seorang gadis cantik."

"Gadis cantik? Siapa? Temari-senpai?"

"Kau temui saja dia. Dia bilang akan menunggumu di cafetaria," jawab Chouji.

"Aku mengerti. Kiba, kita akan lanjutkan lagi nanti."

"Dasar, kau menghentikan latihan kita hanya karena seorang gadis?"

"Sudahlah, ini kan hanya latihan biasa karena latihan tanding sudah selesai, lagipula Gai-sensei juga sudah pergi..."

"...tapi ini hari libur, Naruto. Bukankah lebih baik jika kita latihan sampai jam makan malam tiba?"

"Kau kan bisa latihan dengan Chouji. Kalau begitu aku pergi dulu," kata Naruto yang langsung pergi menuju cafetaria.

"Jadi siapa yang mencari Naruto?" tanya Kiba pada Chouji,

"Toki-san, saudara sepupunya Shion."

"Maksudmu Toki-san, saudara kembarnya Sagi-san?"

"Ya."

"Untuk apa Angel Elite sepertinya menemui seorang Mid-Angel?"

"Aku tidak tahu. Ayo kita latihan saja!"

"Ha'i," ucap Kiba yang langsung memasang kuda-kuda.

.

.

"Siapa sih yang mencariku?" tanya Naruto sambil melihat-lihat beberapa kursi cafetaria,

"Chouji bilang dia sepupunya Shion, itu berarti gadis itu keturunan murni? Baiklah, aku hanya perlu menghampiri seorang gadis berseragam serba putih..." gumamnya yang kembali memandangi seluruh cafetaria.

"Ah, ketemu!" seru Naruto saat kedua matanya menatap sosok seorang gadis cantik berambut panjang sepinggang yang mengenakan seragam serba putih serta pin berwarna merah. Gadis itu sepertinya sedikit lebih tua dari dirinya. Naruto pun menghampiri gadis itu.

"Gomen, apa kau orang yang mencariku?" sapa Naruto sambil tersenyum,

"Ya, silakan duduk!" sahut Toki dengan dingin,

'Astaga, jangan-jangan dia sama arrogant-nya dengan Shion?' pikir Naruto.

"Apa kau mau memesan sesuatu? Aku yang traktir," tawar Toki masih dengan nada dingin yang sama.

"Ah, tidak terimakasih. Jadi ada perlu apa senpai mencariku?" tanya Naruto to the point,

"Aku ingin membicarakan tentang sesuatu yang penting, ini soal Shion..."

"Eh? Apa hubungannya Shion denganku?"

"Semenjak Shion selalu berada di bawah Mid-Angel yang bernama Haruno Sakura, ibunya selalu bersikap dingin kepadanya. Beliau sangat kecewa karena Shion selalu kalah dari Mid-Angel itu..."

"Tunggu! Doushite? Kenapa kaum Angel seperti kalian selalu bersikap seperti itu pada kami? Apa kami sebegitu hinanya di mata kalian?" potong Naruto sedikit emosi,

"Tidak. Ayahku tidak seperti itu. Tahun ini aku mendapat peringkat ke-18 di kelasku, dan tujuh orang diatasku adalah Mid-Angel tetapi ayahku sama sekali tidak marah. Sambil tersenyum dia berkata 'Tidak apa-apa, itu sudah bagus mengingat murid TC class berjumlah 325 murid'. Intinya kau jangan salah paham, tidak semua kaum kami seperti itu," bantah Toki.

"Ya, peringkat ke-18 dari 325 murid memang sudah sangat bagus. Jadi seharusnya peringkat ke-2 dari 250 murid juga sama, tapi kenapa ibunya Shion malah bersikap seperti itu pada puterinya sendiri hanya karena diatasnya adalah Sakura-chan? Maaf soal yang tadi, silakan lanjutkan ceritamu," sahut Naruto.

"Ya, belakangan ini Miroku-sama selalu menghindari komunikasi dengan Shion. Shion sangat sedih dengan hal itu. Selain sering curhat padaku, dia juga sering curhat dengan Miki-chan, kucingnya. Di sisi lain dia sangat marah pada anak yang bernama Sakura itu dan kebenciannya semakin tumbuh besar setelah dia tahu, kalau Sakura juga menyukaimu Naruto-kun."

"EH? Sakura-chan menyukaiku? Tidak mungkin! Setahuku dia sangat menyukai Sasuke-teme dan juga Itachi-sensei," bantah Naruto walaupun sebenarnya dalam hati dia sangat senang mendengarnya.

"Kau pasti tau tentang hal ini, bahwa kaum kami tidak boleh memiliki kebencian di dalam hati. Seorang Angel yang memiliki kebencian di dalam hatinya akan mudah dirasuki pikiran jahat kaum demons, dan jika hal itu terjadi maka..."

"Aku sudah tau kelanjutannya, sayap kalian akan berubah menjadi hitam," sahut Naruto.

"Ya, ada masa dimana kebaikan di dalam hati kami tengah berperang melawan kebencian itu sendiri. Masa itu adalah saat dimana kedua mata kami memutih. Saat mata kami berubah menjadi putih, itu berarti kebaikan yang merupakan sifat dasar kami sebagai Angel, semakin terkikis oleh kemarahan dan rasa dendam..."

"..."

"Saat itu tiba, biasanya ability yang kami miliki jauh lebih hebat dari sebelumnya dan itu akan sangat berbahaya. Saat kami kehilangan kendali atas diri kami sendiri, kami bisa menyakiti orang-orang tanpa pandang bulu. Lalu saat pikiran jahat benar-benar sudah memakan habis kebaikan di dalam hati, sayap kami akan berubah menjadi hitam, dan hal buruk yang akan terjadi setelahnya adalah, kami bisa menjadi pengkhianat seperti Danzo dan Orochimaru. Bersekutu dengan kaum Devils dan berambisi untuk menguasai dunia ini," cerita Toki panjang lebar.

"Lalu apa hubungannya cerita senpai barusan dengan Sakura-chan dan Shion?"

"Shion menghilang sejak tadi pagi. Perasaanku menjadi tidak enak, makanya aku datang mencarimu, karena kupikir kau bisa membantuku mencari Shion dan berbicara padanya untuk mencegah sayapnya berubah menjadi hitam."

"Jangan-jangan Sakura-chan sedang berada dalam bahaya saat ini?" teriak Naruto yang reflek berdiri dari kursinya, perasaannya mendadak tidak enak.

"Meooong..." seekor kucing berbulu putih bersih, melompat dari genggaman Sagi yang baru saja muncul di cafetaria.

"Nii-chan... Mini-chan," ucap Toki.

"Kucingmu itu gelisah terus daritadi, aku sendiri tidak tahu kenapa?" sahut Sagi.

"Mini-chan, ada apa?"

"Hey, kenapa dia berbicara dengan kucing?" tanya Naruto terheran-heran.

"Toki memang bisa selalu mengerti apa yang ada di dalam pikiran Mini-chan walau dia tidak memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Kurenai-sensei," jawab Sagi.

"Apa katamu? Kau mencium bau Miki-chan dari arah Delta ZY?"

"Meooong..."

"Sebenarnya apa hubungan kucing yang bernama Miki itu dengan kucingnya Toki-senpai sih?" tanya Naruto sweatdrop.

"Mereka sepasang kekasih," sahut Sagi.

"EH?"

"Jadi menurutmu Shion juga ada di sana?"

"Meooong..."

"Baiklah, kita akan segera ke sana. Naruto-kun tolong ajak temanmu yang memiliki Fire Ability untuk ikut bersama kita!"

"Sebentar, memangnya tidak cukup jika kita pergi bertiga saja?"

"Masalahnya kemampuan dasar clan kami adalah Ice Ability," sahut Sagi.

"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memanggil Sasuke-teme," Naruto dengan panik segera berlari menuju pintu keluar,

"Tunggu!"

"Ada apa lagi Sagi-senpai, aku sedang buru-buru nih?!"

"Seandainya mata Shion memutih, satu orang pengguna Fire Ability tidak akan berguna. Kau harus meminta bantuan pengguna Fire Ability yang lain!"

"Kurasa tidak perlu, aku adalah pengguna Wind Ability sekaligus Jinchuuriki Kyuubi. Kurama memiliki Fire Ability dan aku akan meminjam kekuatannya jika diperlukan," ucap Naruto.

"Begitu? Ya, kurasa itu cukup," kata Sagi pula.

.

.

.

"Ini hukuman karena kau telah membuat hubunganku dengan ibuku semakin renggang. Mungkin kau juga akan menjadi saingan terberatku untuk mendapatkan Naruto, jadi kurasa akan lebih baik jika kau mati, Sakura."

Shion melangkah perlahan mendekati Sakura, Ino, dan Matsuri, amarah tersirat jelas di wajahnya. Bukan, mungkin bukan hanya amarah. Ketiganya tahu apa yang dirasakan oleh Shion. Kesepian, dendam, dan juga kebencian.

"Shi-shion..." kata itu susah payah diucapkan Sakura,

"Go...gomen," akhirnya terucap, namun tampaknya situasi tidak berubah sedikit pun. Shion, dengan gumpalan es di tangannya, kapanpun siap membuat mereka membeku. Udara disekitar mereka pun semakin terasa dingin, membuat ketiganya menggigil kedinginan.

"Kalian tahu?" Shion yang kini sudah berada satu meter dari teman-teman sekelasnya itu, "Aku..." ia tertunduk.

Saat itu semua nafas tertahan. Baik Sakura, Ino, maupun Matsuri, mereka berusaha menyiapkan diri mereka apapun yang terjadi.

Perlahan Shion kembali menatap teman-temannya itu.

"Aku...aku... AKU SANGAT MEMBENCIMU HARUNO SAKURA!" teriak Shion,

Ice Ability: 1000 Jarum Es Kematian

Sebelum jarum-jarum es itu menembus dirinya dan teman-temannya, Sakura bergegas memejamkan matanya untuk berkonsentrasi.

Illusion Ability: Kekkai

—dan jarum-jarum es itu pun terjatuh ke tanah setelah mengenai kekkai ciptaan Sakura. Secepat kilat Ino segera shunshin ke belakang Shion, lalu melapal segel tangan.

Flowers Ability: 10.000 Poison Red Rose

—dan secepat kilat pula, Shion segera membalikkan tubuhnya saat merasakan pergerakan Ino yang hampir melukainya dengan jurus itu. Ia sudah siap dengan gumpalan es di tangannya. Saat mawar-mawar beracun itu melesat cepat ke arahnya, mawar-mawar itu membeku seketika dalam keadaan melayang, sebelum akhirnya jatuh ke bawah.

"Ino, kembali kemari dan pegang pundakku! Kau juga Matsuri," ucap Sakura yang langsung dituruti oleh kedua sahabatnya.

Illusion Ability: Fire World

Dalam sekejap empat orang gadis remaja itu sudah berada dalam dunia yang tak dikenal. Dunia yang penuh dengan api yang menyambar-nyambar. Sakura dan kedua sahabatnya berada dalam kekkai yang berbentuk kubah. Melindungi mereka. Shion sendiri juga tampak terlindungi oleh kekkai es miliknya.

Sakura, Ino, dan Matsuri menghela nafas lega. Namun Shion tersenyum sinis.

"Hahaha, kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan jurus yang sama dengan waktu itu?"

Ice Ability: Eternal Ice

Dalam sekejap, seluruh api panas yang menyambar-nyambar itu membeku dalam es abadi Shion.

"Gawat, dia jauh lebih kuat dari waktu itu," ujar Sakura mulai berkeringat dingin.

"Lalu apa yang harus kita lakukan Sakura? Serangan kalian sama sekali tidak berguna, sedangkan aku, aku bahkan tidak bisa menggunakan skill pedangku karena jika aku mendekati Shion, aku pasti akan langsung menjadi es seperti api-api itu," sambung Matsuri takut-takut.

"Jika aku menggunakan tanaman merambat sekalipun, seranganku itu sudah pasti tidak akan bisa menahan pergerakan Shion, yang ada jurusku itu juga akan langsung dipatahkan oleh es-nya. Kita butuh pengguna Fire Ability," sahut Ino.

"Hey, apa kalian sudah selesai berdiskusi?"

Ice Ability: 10.000 Shuriken Es

Shuriken-shuriken es melayang secepat kilat ke sekeliling kekkai Sakura,

'Krak! Krak!' retakan-retakan kecil mulai terbentuk disekeliling kubah. Hampir memecahkan kekkai tersebut.

'Ini gawat. Aku harus memperkuat kekkai ini,' pikir Sakura yang langsung memperkuat kekkai itu dengan chakra-nya. Retakan itu pun tertutup kembali.

"Ho! Sampai kapan kau akan melapisi kekkaimu dengan chakra? Sampai kau mati karena kehabisan chakra?" ucap Shion.

Ice Ability: Dragon Ice

Naga biru raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari es yang sangat keras melesat ke arah mereka bertiga. Cakar-cakarnya yang tajam dan terbuat dari eternal ice menebas kekkai Sakura dengan kekuatan penuh.

'Krak! Krak!'

"Arggghhhhtt..."

—dan ketiga teman sekelasnya itu pun jatuh terlentang setelah kekkai itu hancur berkeping-keping. Ilusi ciptaan Sakura lenyap seketika. Ketiganya merasakan hawa dingin pada punggung mereka, yang sumbernya dari rumput-rumput dan bunga-bunga yang telah tertimbun es.

Shion kembali tersenyum sinis. Ia menundukkan tubuhnya, lalu menempelkan jari telunjuknya ke bawah. Es merambat cepat ke arah Sakura dan teman-temannya. Dalam waktu sekian detik tubuh ketiga gadis itu membeku hingga dada.

"Di...dingin," lirih mereka bertiga yang akhirnya kehilangan kesadaran.

Ice Ability: 1000 Jarum Es Kematian

Tak cukup dengan tindakannya barusan, Shion kembali melapal jurus. Jarum-jarum es terbang ke arah ketiga temannya.

Fire Ability: Ryuuka no Jutsu

—dan jarum-jarum es itu lenyap termakan jurus naga api milik Sasuke.

"Sakura-chan, Ino, Matsuri!" teriak Naruto yang langsung berlari menghampiri ketiga gadis itu,

"SHION, APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Toki sambil memeluk Mini yang akhirnya menghampiri Miki yang sedang bersembunyi di belakang semak-semak yang sudah berubah menjadi es. Sebagian besar daerah Delta ZY benar-benar telah membeku.

"Shion, hentikan! Kami tidak ingin sayapmu menjadi hitam," sambung Sagi.

"PENGGANGGU! JANGAN IKUT CAMPUR!" teriak Shion.

"Sasuke, lakukan sesuatu sebelum mereka mati membeku!" ujar Naruto. Sasuke mengangguk, lalu menghampiri mereka. Setelah itu ia segera menggunakan Fire Ability-nya untuk melelehkan es milik Shion dan membuat suhu tubuh ketiga gadis itu kembali hangat tanpa melukai mereka.

"Sakura-chan, sadarlah!" ucap Naruto sambil memeluk gadis itu,

"Na..Naruto, minna..." lirih Sakura dengan bibir yang bergetar.

Naruto benar-benar sangat khawatir karena wajah Sakura terlihat sangat pucat, dan bibirnya membiru.

"Kau tenang saja, Sasuke sudah melakukan sesuatu pada mereka berdua."

Ice Ability: Eternal Ice

Fire Ability: Gouryuuka no Jutsu

'Dhuar!'

Eternal Ice bertabrakan dengan naga api raksasa. Saat itu juga kulit putih Sasuke berubah menjadi orange sebelum akhirnya kembali menjadi putih.

"Sakura-chan, kumohon bertahanlah! Aku akan membantu Sasuke," kata Naruto sembari memakaikan blazernya pada Sakura dan lalu membaringkan gadis itu.

Ice Ability: Dragon Ice

Fire Ability: Dai Endan

Wind Ability: Cho Oodama Rasengan

"GROOARR..."

"Asal kalian tahu, Dragon Ice milikku tidak bisa kalian kalahkan semudah itu!"

"Shion, jika kau marah pada ibumu. Tolong jangan lampiaskan pada mereka semua!"

"DIAM KAU, TOKI-NEE! JANGAN IKUT CAMPUR!"

"Shion, aku sudah berbicara dengan ibumu. Beliau akhirnya sadar kalau beliau tidak seharusnya bersikap seperti itu padamu, beliau ingin meminta maaf," sambung Sagi.

"BOHOOONG! RYUU SERANG MEREKA SEMUA!" teriak Shion pula,

Naga biru itu pun menyemburkan nafasnya yang sedingin es ke arah Sasuke dan Naruto yang akhirnya terkena.

"Kuso! Bahkan aku yang memiliki chakra istimewa, bisa merasakan rasa dingin ini," ucap Sasuke sembari menggigil kedinginan.

"Shion... Apa mungkin sekarang hatinya sudah sedingin ini?" sahut Naruto sambil memeluk dirimya sendiri.

"Shion! Hentikan!" teriak Sagi dan Toki serentak,

"KUBILANG DIAM! RYUU BUAT MEREKA BERDUA DIAM!" perintah Shion sembari memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit,

'Bagus, teruslah seperti itu! Lampiaskan seluruh kebencianmu dan bergabunglah dengan kami!' bisikan-bisikan itu semakin berdengung nyaring di kepala Shion,

Ryuu melesat ke arah Sagi dan Toki hingga akhirnya cakar-cakar tajam dan besar menusuk perut kedua kakak-beradik itu.

"UKH! OHOK!" dan keduanya secara bersamaan memuntahkan darah dari mulut mereka,

"Shi-shion, apa...kau...akan membunuh kami juga?" tanya Toki yang akhirnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.

"Toki...bertahanlah...onegai," ucap Sagi dengan suara lirih. Berusaha keras untuk tetap mempertahankan kesadarannya.

"SHION! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakiti saudaramu sendiri?" teriak Naruto yang lekas mengambil katana dari dalam sarungnya, kemudian memejamkan mata.

'Kurama, pinjamkan ability milikmu padaku!'

Perlahan chakra berwarna orange melapisi seluruh tubuh Naruto. Katana itu pun terlapisi oleh api.

Fire Wind Ability: Fire Sword

Naruto segera shunshin ke depan Ryuu. Mengambil ancang-ancang lalu melompat tinggi,

"Haa...! Mati kau!"

Dengan teriakan singkat, Naruto mengayunkan pedang apinya secara horizontal. Pedang tersebut sekarang tertutupi oleh efek cahaya orange kemerahan, api menyala semakin besar, memotong melalui pundak Ryuu yang terbuat dari es, tetapi bukan darah yang keluar melainkan udara yang begitu dingin. Ryuu berteriak dengan suara pelan.

"Raarghh!"

Tetapi pedang Naruto tidak berhenti. Naruto melanjutkan ke tebasan yang selanjutnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ini adalah kemampuan yang baru saja ia pelajari dari Hana minggu lalu, «Sword Skill» tingkat 4.

Pedang Naruto melesat cepat dan menebas dari kiri ke dada Ryuu, si naga es biru ciptaan Shion. Dari posisi itu, Naruto berputar dan serangan berikutnya mengenai lebih dalam dibanding sebelumnya.

"Raarrgghhh!"

Bersamaan dengan pulihnya Ryuu dari keadaan kaku, naga biru itu berteriak dengan marah atau mungkin ketakutan dan mengangkat tinggi-tinggi cakarnya ke udara. Bersiap untuk mencabik-cabik tubuh Naruto, tetapi rangkaian serangan putera Yondaime-sama itu belum selesai. Pedang yang sedang mengayun ke kanan tiba-tiba berbalik arah dan mengenai jantung Ryuu.

Jejak sinar di udara berbentuk api bekas serangan 4 kali berturut-turut dari Naruto berpijar, kemudian terpencar. Sebuah teknik 4 tebasan horizontal, «Horizontal Square» yang berhasil ia kuasai dalam waktu satu minggu itu akhirnya berhasil.

Tubuh yang besar itu jatuh, meninggalkan jejak yang panjang, kemudian terhenti tiba-tiba. Sama seperti kaca yang pecah, naga biru itu pecah menjadi pecahan kecil yang tak terhitung jumlahnya dan menghilang.

'Chakra itu sama seperti chakra milikku,' pikir Sasuke yang telah mengaktifkan sharingannya sejak Naruto melakukan skill pedang tadi.

'Yellow Flash. Hebat juga kau, dobe. Kalau begitu sekarang giliranku,' batin Sasuke yang kemudian menatap tajam Shion yang saat ini tampak kesakitan memegangi kepalanya.

"Ada apa dengan gadis itu?"

"Arrggghhh, diam kau! Jangan terus-terusan berbicara di dalam kepalaku!"

Ice Ability: Eternal Ice 10.000 years.

Fire Ability: Gouryuuka no Jutsu

Kali ini ukuran naga api raksasa itu lebih besar sepuluh kali lipat karena Sasuke menggabungkannya dengan sharingan.

'DHUAR!' lagi-lagi kejadian yang sama seperti sebelumnya berulang.

Shion jatuh terduduk saat lututnya terasa melemas tiba-tiba.

Nafas Sasuke tersenggal. Rasa dingin akibat semburan Ryuu dan serangan Shion tadi tergantikan oleh rasa panas di sekujur tubuhnya. Kulit putihnya kembali berubah menjadi orange.

'Hhh...hhhh...kuso! Aku sudah mencapai batasanku, kalau begini terus aku bisa hangus,'

"Sasuke, apa yang terjadi? Kenapa kulitmu masih berwarna orange?" panik Naruto yang langsung berlari ke arah teammate-nya itu.

"Ja...jangan khawatir, aku... masih punya sedikit chakra biru yang tersisa... aku bisa menetralisir efek samping dari chakra istimewa ini...hhhh...pasti," kata Sasuke terputus-putus. Perlahan kulit Sasuke pun kembali berubah menjadi putih bersih.

"Dobe, dari sekarang lakukan sendiri!" kata Sasuke yang kemudian membaringkan tubuh letihnya, lalu memejamkan kedua matanya untuk memulihkan tenaga.

"Lalu apa yang harus aku lakukan pada gadis itu?" tanya Naruto bingung. Ia tidak tega karena Shion terlihat begitu menderita sembari terus memegangi kepalanya.

—dengan darah berceceran, Sagi terus berjalan tertatih-tatih, menyeret tubuhnya menghampiri Shion.

"Sagi-senpai..."

Sagi tersenyum saat ia sampai di dekat Shion. Ia pun langsung memeluk gadis itu.

"Shion, tenanglah...onegai..."

"Pergi! Pergi kalau tidak ingin aku bunuh!" teriak Shion sambil terus meronta-ronta, mencoba lepas dari dekapan Sagi.

"Kau tahu...selama ini aku tidak hanya menganggapmu sebagai adik sepupuku, tetapi lebih dari itu... Aku mencintaimu, Shion."

"EH?" kaget Naruto menyaksikan adegan drama yang terjadi beberapa meter dari hadapannya.

"Kau tidak perlu merasa kesepian. Kalaupun ibumu sudah tidak mempedulikanmu lagi, masih ada aku, Toki, dan juga Otou-sama. Kami akan selalu ada untukmu, karena itulah kumohon, sadarlah Shion! Jangan mau diperdaya oleh mereka! Kembali... kembalilah, onegai!" kini air mata Sagi menetes ke rambut Shion.

Naruto sampai terharu melihat adegan di depannya. Saat itu juga mata Shion yang awalanya berwarma putih kembali berubah menjadi violet. Shion terlihat heran setengah terkejut saat tiba-tiba pelukkan Sagi melonggar, hingga akhirnya Sagi terjatuh dan tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.

"Apa ini? Ke...kenapa bajuku penuh dengan darah? Darah siapa ini?" tanya Shion tampak begitu panik dan ketakutan.

"Itu darah saudara sepupumu, Shion," jawab Naruto.

Shion langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sagi. Seragam putih Sagi penuh dengan darah, dan di bagian perutnya tampak robek.

"NII-CHAN, KAU KENAPA? NII-CHAN!" teriak Shion sembari mengguncang-guncang tubuh Sagi.

'Astaga, dia sama sekali tidak ingat dengan apa yang telah dilakukannya?' pikir Naruto sweatdrop.

"Matsuri, bangun!" ujar Sakura sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya itu,

"Enghh, Sakura..."

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kau harus segera menyelamatkan gadis itu dengan Healing Ability-mu," kata Sakura sambil menunjuk Toki yang masih tidak sadarkan diri. Kedua pipi gadis itu terus dijilati Miki dan Mini sejak tadi.

"Aku mengerti!"

Matsuri langsung berlari ke arah Toki, sedangkan Sakura segera berlari ke arah Shion dan Sagi.

"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian semua bisa ada di sini?" tanya Shion masih tampak kebingungan,

"Minggir, aku harus segera menolongnya!" ucap Sakura sambil mendorong Shion hingga akhirnya gadis itu terjatuh,

"Hey, kau cari mati ya?" protes Shion seraya menatap Sakura dengan deathglare,

"Aku tidak ada waktu berdebat denganmu. Syukurlah kemampuan Matsuri sudah berkembang pesat, dan aku sendiri juga sudah bisa menguasai Healing Ability berkat bantuan Tsunade-sama," kata Sakura sambil berkonsentrasi mengalirkan chakra berwarna hijau dari telapak tangannya.

"Ha... hachii!"

"Kau kenapa, dobe? Sakit?" sindir Sasuke yang sudah selesai memulihkan diri,

"Ukh! Sepertinya aku terkena flue," keluh Naruto.

"Habis kau sok keren sih...sok memberikan blazermu pada Sakura, jelas-jelas kita sedang menghadapi pengguna Ice Ability."

"Diam kau, teme! Kau hanya membuat kepalaku semakin pusing!" protes Naruto,

"Yah, ada untungnya juga aku memiliki chakra istimewa. Kembalilah ke Academy, kita butuh bantuan beberapa orang, mengingat kedua Angel Elite itu masih tidak sadarkan diri. Aku akan membangunkan si gadis merepotkan itu dulu," kata Sasuke yang kemudian menunjuk Ino.

"Dasar, bilang saja kau ingin dikelilingi gadis-gadis cantik mengingat Sagi-senpai masih pingsan..." gerutu Naruto yang kemudian bergegas berlari menuju Academy.

"Terserah kau sajalah, dobe," sahut Sasuke yang segera menghampiri Ino.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

"Kenapa kau bisa sakit sih? Merepotkan saja!" protes Sakura sambil mengompres Naruto yang sedang demam tinggi,

"Sakura-chan tidak tahu sih, nafas si Ryuu itu dingin sekali tau...padahal sebelumnya aku memang sudah kedinginan gara-gara sebagian besar Delta ZY membeku!"

"...dan kau dengan bodohnya malah memberikan blazermu padaku, sok keren!"

"Hey, bukannya berterimakasih!" protes Naruto sembari cemberut.

"...karena kau sakit begini, skill pedangmu yang kemarin itu jadi tidak terlihat keren lagi!"

"Jahat!"

Sakura mengambil botol obat di atas meja, lalu menuangkan obat syrup itu ke dalam sendok, dan menyodorkannya pada Naruto.

"Jangan banyak protes! Nih, minum obatnya!"

"Suapi aku dengan mulutmu donk!" goda Naruto,

'PLAKK!'

Sebuah tamparan mendarat di pipi Naruto,

"Aoww, kenapa kau malah menamparku Sakura-chan?"

"Itu balasan karena kau sudah bicara yang tidak-tidak!"

Naruto menghela nafas pendek,

"Ya, mungkin itu memang pantas untukku. Mungkin," ujarnya.

"Ayo, minum!" paksa Sakura sambil memasukan sendok itu ke mulut Naruto dengan kasar.

.

.

Di dalam kamarnya yang kurang cahaya, Kabuto membuka tirai jendelanya. Membiarkan beberapa cahaya menerobos masuk ke dalam kamarnya.

Ia kemudian melangkah menuju mejanya, dilihatnya lima buah foto yang tersusun rapi sejajar di sana. Lima foto para petinggi Konoha Academy.

Hashirama Senju.

Tobirama Senju.

Hiruzen Sarutobi.

Minato Namikaze.

Tsunade Senju.

Ia mengambil sebuah foto di laci mejanya. Foto seorang anak laki-laki. Ia meletakkan foto itu dibawah jejeran foto para petinggi itu,

"Anak ini...mirip dengannya."

Bukankah baik baginya jika dari sekarang ia bersikap ramah pada anak laki-laki itu. Ia bahkan tertarik pada anak itu saat pertama kali anak itu menginjakkan kakinya di Konoha Academy bersamaan dengan Kurenai yang menyambut kedatangannya dan juga Hana yang telah berhasil menyelesaikan misinya saat itu. Tapi saat itu ia hanya diam saja karena ia takut Kurenai akan membaca pikirannya, jika saat itu ia memberikan perhatian lebih, itu justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Menghancurkan rencana yang telah disusun oleh tuannya selama ini.

—tetapi sekarang berbeda, sekarang ia tahu kalau anak itu benar-benar anak dari salah satu petinggi Konoha Academy. Hal ini tentu akan memperlancar semua rencananya. Ia hanya perlu berhati-hati pada Kurenai.

Kabuto tersenyum, "Aku akan bersikap baik padamu mulai saat ini. Tunggulah sebentar lagi Orochimaru-sama."

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Satu minggu kemudian...

"Naruto-kun..." saat Naruto, Sakura, Ino, Kiba dan Chouji berkumpul di cafetaria, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar. Semua orang yang ada di sana pun menoleh ke sumber suara itu.

"Nee-chan," ucap Kiba. Saat itu wajah Hana terlihat sendu, berbeda dari biasanya yang selalu terlihat ceria,

"Naruto-kun, Tsunade-sama memanggilmu diruangannya," katanya.

Naruto langsung menatap Hana,

"Aku? Baa-chan memanggilku?" katanya, ia tidak mengerti kenapa di saat seperti ini Tsunade harus memanggilnya.

Hana hanya mengangguk,

"Ayo, ikut aku," kata Hana.

Tanpa berkata apapun Naruto segera berdiri dari tempatnya duduk.

"Minna, aku pergi dulu," pamitnya. Dan ia pun berjalan mengikuti Hana.

"Hey, Hana-nee! Kenapa Baa-chan memanggilku? Apa aku berbuat sesuatu yang salah?" tanyanya pada Hana. Naruto memang sudah menganggap Hana sebagai orang terdekatnya.

Hana hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Naruto. Padahal biasanya, Hana akan selalu menanggapi apapun yang diucapkan olehnya. Dan kali ini Naruto berpikir bahwa ada hal buruk yang akan terjadi.

Akhirnya mereka sampai. Di depan pintu kantor Tsunade, tiba-tiba Hana memeluk Naruto. Memeluknya erat, kemudian ia hanya tersenyum menatap Naruto,

"Masuklah!" ujarnya.

Walau bingung, perlahan Naruto memasuki kantor Tsunade. Tsunade terlihat duduk di meja kerjanya, wajah yang tadinya tertunduk kini terangkat mendengar kehadiran seseorang.

"Gaki..." katanya, "Ayo duduk!" ia mempersilakan tempat duduk yang berhadapan dengannya.

Naruto mendekat, menempati tempat duduk itu. Ia ragu, namun akhirnya ia berani untuk bertanya terlebih dahulu.

"Tsunade-sama, ada apa sampai anda memanggil saya?" tanyanya,

Tsunade tidak terlihat tersenyum, tapi ia menampakkan wajah yang ramah.

"Ada beberapa berita yang harus disampaikan kepadamu," tangannya meraih kotak tissue yang ada di mejanya,

"Yang pertama... sayangnya ini berita yang kurang baik," ia menghela nafas sejenak, "Kushina..."

"Okaa-san?" tanpa sadar Naruto agak berteriak saat mengucapkannya,

"Ada apa dengan ibuku?" wajahnya nampak khawatir.

"Ia... baru saja meninggal," terlihat berat saat Tsunade mengucapkannya.

Apa? Apa yang baru saja ia katakan?... itu... itu bohong kan? Mungkin dirinya sedang bermimpi. Tidak mungkin... satu-satunya keluarga yang paling ia sayangi. Orang yang selama ini berada disisinya...

"Kau bercanda?" Naruto mengajukan pertanyaan bodoh. Ia sendiri sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Mana mungkin Tsunade memanggilnya hanya untuk 'bercanda'.

Tsunade mengambil tissue dan menghapus air matanya,

"Kecelakaan... Kushina mengeluarkan banyak darah, dan... dia tidak tertolong."

Naruto menghela nafas panjang, mencoba menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Tidak ada isak tangis yang keluar dari mulutnya. Bahkan tak ada air mata yang keluar. Perlahan Naruto menundukkan kepalanya. Dan berharap dirinya hanya bermimpi... tapi kenyataan tidak berkata demikian.

.

.

Makam itu masih baru, terlihat dari tebaran bunga-bunga segar yang menghiasinya. Hanya ada empat orang yang menghadiri pemakaman itu. Dua orang wanita dan dua orang pria. Dan satu orang pria diantaranya, ia terlihat mematung memandangi foto ibunya yang kini sudah tiada.

"Gomen, saat Kushina-chan mengalami kecelakaan, aku tidak ada disampingnya," kata seorang pria berbadan tinggi besar dan berambut putih seraya menundukkan kepalanya, menatap sebuah kalimat yang terlukis di batu nisan, 'Rest in Peace Kushina Uzumaki'.

"Itu bukan salahmu, Jiraya. Mungkin semua ini memang sudah takdir," sambung Tsunade.

'Kaa-san, aku berada di Academy karena kau. Karena aku ingin melindungimu, melindungi kaum-mu, aku ingin selalu berada disampingmu tanpa melukaimu secuil pun. Tapi, sekarang kau... tidak ada. Lalu, untuk apa? Untuk apa aku berada di tempat itu? Untuk apa melatih kekuatanku? Untuk apa aku melakukan ini semua jika kau... tidak ada.'

Sakit. Itu yang dirasakan Naruto. Entah dibagian mana, namun rasa sakit itu seakan sanggup untuk meremukkan tulang-tulangnya. Ia memegang erat dada kirinya, berusaha untuk menahan sesuatu, menahan rasa sakit teramat sangat yang bersumber dari sana. Namun itu tidak membantu apapun, ia masih bisa merasakan rasa sakit itu.

Sebuah pelukan mendarat di tubuhnya... itu Kurenai. Kurenai-sensei memeluknya.

"Naruto, jangan seperti ini," ujarnya nyaris berbisik. Kurenai memeluknya erat, ia tidak tahan melihat kondisi Naruto yang seperti itu. Hanya berdiri diam, layaknya sebuah patung. Terlebih lagi dengan pikiran-pikiran Naruto yang terbaca oleh Kurenai. Rasanya ia lebih baik mendengar Naruto menangis atau marah, melampiaskan semua emosinya, daripada melihatnya yang seperti patung.

Sebuah tangan mendarat di kepala Naruto, tangan itu mengusap-ngusap lembut kepalanya.

"Sudah saatnya untuk pulang," kata Jiraya.

Naruto menoleh ke arahnya, "Pulang?"

.

.

Naruto kembali melewatinya. Melewati gerbang bertuliskan 'Konoha Academy'. Ia melihatnya... inikah yang dimaksud pulang?

Di depan gerbang, seorang wanita menyambut mereka, "Tsunade-sama," ia membungkuk hormat pada Tsunade.

"Hana, kau sudah siapkan semuanya?" tanyanya,

Hana mengangguk, "Hn. Semua sudah siap," jawabnya.

Tsunade berjalan melaluinya, dan memberi aba-aba pada Kurenai untuk mengikutinya.

Dan saat ini hanya ada mereka. Hanya ada Hana, Jiraya, dan Naruto di depan gerbang Konoha Academy. Hana tahu kondisinya saat itu, ia mengerti perasaan Naruto saat ini. Ia tersenyum lembut, meraih tangan kanan Naruto dan mengajaknya untuk masuk,

"Ayo!" kata Hana, tapi Naruto menahannya. Ia menahan tangan Hana yang berusaha menariknya.

"Inikah tempatku untuk pulang?" tanyanya,

Hana memandangnya, tidak mengerti. Jiraya terlihat mengangguk kepadanya.

"Rumahku bukan di sini, kan? Aku di sini hanya untuk melatih ability-ku, melatih kekuatanku agar aku tidak mencelakai orang-orang yang aku sayangi, agar aku bisa melindungi mereka semua... terutama ibuku. Dan sekarang... dia..." Naruto melepas genggaman tangan Hana dengan kasar.

"Aku tidak punya tujuan lagi di tempat ini," ujarnya lirih.

"..."

"..."

"Kau... kau kan yang menyebabkan aku disini? Kau yang menjauhkan aku dari Kaa-san," kini ia mendongak, menatap Hana yang sedikit lebih tinggi darinya dengan penuh amarah.

"Pertama, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada ibumu, Naruto-kun..." kata Hana, terdengar begitu lembut...

"...dan tentang yang baru saja kau katakan. Bukankah itu pilihanmu sendiri? Kau yang memilih untuk berada di tempat ini! Apa kau menyesal dengan keputusan yang kau buat sendiri?" tanyanya kemudian.

Naruto terdiam, ia kembali tertunduk. Ia merasa kesal...kesal terhadap dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia menyalahkan orang lain atas keputusan yang dibuatnya sendiri?

"Dan kau bilang ini bukan rumahmu?" kini suara Hana mulai terdengar emosi,

"Kalau begitu pulang saja ke rumahmu!"

Saat ini Naruto masih tertunduk, tidak sanggup untuk menatap lawan bicaranya. Ia menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan sesuatu.

Hana menatap tajam lawan bicaranya yang tertunduk. Ia memegang dagu Naruto dengan sebelah tangannya, memaksa Naruto untuk menatapnya.

"Kau sadar tidak?! Sekarang kau hanya sendirian! Bukankah keluarga dari pihak ibumu tidak pernah mengakui keberadaanmu?"

Sendirian? Ya benar, setelah ibunya pergi... ia tidak memiliki keluarga lagi. Keluarga yang benar-benar peduli padanya. Keluarga yang akan memenuhinya dengan kasih sayang. Tidak ada. Tidak ada seorang pun. Saat ini ia benar-benar sendirian.

Kedua matanya mulai memanas, dan secara perlahan bulir-bulir air mengalir dari matanya. Naruto pun menepis tangan Hana yang menahan dagunya.

Jiraya menghembuskan nafas panjang,

"Nah, begitu lebih baik," kata Jiraya. Hana hanya dapat melihat pria itu dengan heran.

"Lebih baik melihatmu menangis seperti ini daripada melihatmu yang seperti mayat hidup," lanjut Jiraya. Hana akhirnya mengerti.

Tiba-tiba Jiraya memeluk Naruto. Naruto tersentak kaget,

"Aku tahu rasanya... aku tahu rasanya kehilangan keluarga," katanya.

"..."

"Aku tahu kau kesal, tapi... jangan salahkan dirimu ataupun orang lain. Karena ini takdir, bukan salah siapa-siapa... ini hanya takdir," ia melepas pelukannya.

"Dan aku ingatkan, kau tidak sendirian... masih ada aku yang akan selalu mengawasimu, Tsunade, Hana, gadis yang kau sukai... yang akan selalu menemanimu, dan tentu kau tidak akan lupa pada sahabat-sahabatmu bukan? Kau masih memiliki orang-orang yang menyayangimu selama kau masih berada di tempat ini," Jiraya mengusap-ngusap kepala Naruto layaknya anak kecil, ia menunjukan senyum terbaiknya.

Sekarang Naruto sadar akan sesuatu. Sakura, Sasuke, Kakashi-sensei... juga teman-temannya yang lain. Tentu ia menyayangi mereka semua, dan merekalah yang dimilikinya sekarang. Dan orang dihadapannya ini, entah mengapa tapi ia berharap banyak pada orang ini. Berharap orang ini sudi menjadi seorang kakek bagi dirinya.

"Ayo, masuk!" Hana kembali menggenggam tangan Naruto dan mengajaknya masuk,

"Tsunade-sama masih punya berita yang harus ia sampaikan padamu," katanya.

Naruto melangkahkan kakinya melewati gerbang itu. Gerbang bertuliskan Konoha Academy. Sekarang ia tahu... inilah tempat baginya.

'Ya, setidaknya Kaa-san sudah bertemu dengan Tou-san sekarang,' pikirnya dalam hati.

.

.

Hana bersama Naruto memasuki gedung terbesar yang ada di Konoha Academy itu. Kurenai dan Asuma sudah siap untuk menjemput Naruto di depan lobby gedung itu.

"Baiklah, sampai nanti," kata Hana sembari pergi.

Kurenai mendekati Naruto, dan membawanya menuju kantor Tsunade.

.

.

Di luar gedung itu, dengan jarak yang cukup jauh dari ketiga orang itu, Kabuto tersenyum puas, matanya fokus memandangi seseorang,

"Sudah kubilang kan... aku akan bersikap baik padamu mulai saat ini, bukankah aku telah berbaik hati memberikan keluarga baru untukmu, Naruto-kun?" tanyanya. Ia memperhatikan sosok itu—Naruto—yang mulai menghilang dari pandangannya. Dan seketika senyum di bibirnya pun hilang, tegantikan oleh wajah stoic-nya seperti semula.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Naruto membuka pintu kamarnya. Gelap. Memang wajar, karena ini memang sudah larut. Ia menyalakan lampu kamarnya, dan perlahan berjalan ke arah tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya di sana. Matanya menengadah ke langit-langit kamar, seakan sedang menerawang sesuatu.

Hari ini memang hari yang berat baginya. Dimulai dari berita buruk yang pertama, ditambah lagi dengan kenyataan mengenai ayahnya, juga saudara sepupu ayahnya yang baru saja diberitahukan oleh Tsunade. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia masih mempunyai keluarga dari pihak ayahnya.

Naruto bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah foto dari laci disamping tempat tidurnya. Dalam foto itu terlihat ibunya yang tersenyum ceria, dan disampingnya ada seorang laki-laki yang sedang menggendong dirinya yang kira-kira masih berusia 1 tahun.

"Kaa-san, apa kau bahagia sekarang? Karena saat ini mungkin Kaa-san sudah bertemu dengan Tou-san lagi. Aku sangat merindukan kalian," lirihnya sembari tetap memandang foto itu.

"Tou-san, Kaa-san, kapan aku bisa bertemu dengan kalian lagi?" lanjutnya yang kemudian kembali meletakkan foto itu dalam keadaan terbalik di lacinya.

Ia merebahkan dirinya lagi di tempat tidur. Mencoba mengingat-ngingat perkataan Tsunade tentang laki-laki itu—pamannya—

.

.

"Gaki, aku tahu ini hari yang berat untukmu," Tsunade sudah menanti kedatangannya.

"...tapi, aku harus memberitahu satu berita lagi untukmu," katanya.

"Berita baik, atau buruk?" tanyanya.

"Aku tidak tahu kau menganggap ini baik atau tidak. Tapi menurutku ini baik untukmu," kata Tsunade.

"..."

"Kau tahu kan, bahwa ayahmu itu kaum Angel?"

Naruto mengangguk, "Ya, dialah yang menurunkan ability ini padaku. Membuatku menjadi orang yang 'special', sehingga aku harus berpisah dengan Kaa-san."

"Kau perlu tahu bahwa ayahmu—Minato Namikaze—adalah orang yang sangat berpengaruh di tempat ini. Dia telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan umat manusia,"

"Aku sudah tahu tentang itu..."

"Apa kau tahu, kalau ayahmu memiliki saudara sepupu?"

"Sama sekali tidak," jawab Naruto heran.

"Orang itu tidak tahu bahwa Minato memiliki seorang anak karena orang itu seringkali berpergian entah kemana?"

"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Naruto terdengar tak berminat,

"Ayahmu adalah orang yang punya kuasa, sama sepertiku dan ketiga petinggi Konoha sebelum kami. Pamanmu, Namikaze Deidara entah dapat informasi darimana, akhirnya ia tahu kenyataan bahwa Minato pernah menikah dengan seorang manusia dan memiliki seorang anak yaitu kau, dan menurutnya kekuasaan ayahmu sudah seharusnya diwariskan kepadamu."

"Kenapa kalian tidak bilang padanya, kalau dia mungkin saja salah orang? Kenapa kalian tidak bilang kalau aku bukanlah anaknya?"

"Kami juga sudah mengatakan hal itu untuk melindungimu dari para pengkhianat itu, tetapi dia menyelidikimu sendiri..."

"Maksud, Baa-chan?"

"Dia bilang, DNA-mu dengan Minato sangat cocok, lagipula ability yang kalian miliki itu sama, dan... ia ingin kau tinggal bersama keluarganya."

"Apa...?"

.

.

Naruto memejamkan matanya perlahan. Matanya terasa sangat berat. Ini memang hari yang sulit untuknya. Dan ia pun tertidur.

.

.

.

Tsunade membawa Naruto ke suatu tempat (masih di daerah Konoha). Tempat asing yang belum pernah dikunjunginya. Saat itu mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah gerbang besar, namun tak sebesar gerbang masuk Konoha Academy. Di bagian tengah gerbang itu, terukir lambang Namikaze clan.

Saat Naruto menyadari yang ia masuki adalah sebuah... rumah, bukan, bukan rumah... tempat itu bisa dibilang sebuah istana yang megah, ia berdecak kagum, inikah kediaman saudara sepupu ayahnya, pamannya—Namikaze Deidara—? Satu-satunya keluarga yang dimilikinya?

Sejurus kemudian Naruto dan Tsunade memasuki rumah besar itu, dan tak disangka di dalamnya ada banyak orang berbaris rapi yang membungkuk sopan ke arah mereka. Dan seorang pria sekiranya berumur 30 puluh tahunan, menghampiri mereka. Pria itu memakai setelan lengkap yang rapi.

"Tsunade-sama," ia menyambut Tsunade dengan pelukan hangat. Kemudian ia menatap Naruto yang tepat berada di belakang Tsunade.

"Inikah dia? Inikah keponakanku? Wow, dia benar-benar sangat mirip dengan Minato-nii!" matanya terlihat berbinar saat melihat sosok Naruto. Tsunade hanya mengangguk menanggapi pertanyaan itu,
"Minato-nii pasti senang sekali melihat puteranya dapat tumbuh sehat seperti ini," katanya.

"Jadi namamu, Naruto? Keterlaluan Minato-nii, mentang-mentang dia sangat menyukai ramen, dia sampai menamaimu 'Naruto'..."

Naruto dan Tsunade hanya bisa sweatdrop melihat tingkah Deidara itu.

"Kenapa kau diam saja, hmm? Kau tidak mau memeluk pamanmu yang tampan ini, hmm?" tanyanya sembari memasang pose siap untuk dipeluk.

—lagi-lagi Tsunade dan Naruto sweatdrop berjama'ah. Walau masih ragu, akhirnya Naruto mengangguk, lalu memeluk pamannya itu.

"Tsunade-sama, kenapa kau tidak langsung memberitahu tentang ini?" tanyanya,

"Yah, kau kan selalu sibuk berpergian, hal ini juga demi Naruto sendiri," terang Tsunade sembari tersenyum.

"Yah, apa boleh buat. Aku ini kan seorang seniman, seni itu adalah..."

—dan akhirnya Deidara malah bercerita panjang lebar tentang seni dan segala macam tektek-bengeknya, membuat kedua orang itu sweatdrop untuk yang kesekian kalinya.

"Jadi... apakah sudah ada yang tahu mengenai ini? Bahwa Minato Namikaze memiliki seorang putera?" tanya Deidara pula.

Tsunade menggeleng, "Hanya beberapa orang yang tahu, dan itu hanya orang-orang kepercayaanku saja."

Lalu Deidara menoleh pada Naruto, "Dan apa kau sudah menceritakan hal ini pada orang lain?"

"Hanya pada teammateku saja," jawab Naruto singkat.

"Astaga!" pekik Deidara, "Bukankah kabar baik ini harus diberitahukan pada semua orang? Mereka harus tahu bahwa Minato-nii memiliki keturunan," katanya. "Ini akan menjadi pesta perayaan untuk menyambutmu," katanya seraya memandang ke arah Naruto dan Tsunade.

"...tapi Dei, bukankah itu berbahaya? Maksudku, bagaimana jika para pengkhianat mengetahuinya, dan mengincarnya?" Tsunade melirik Naruto.

"Tentu itu tak akan terjadi, aku akan memberi pengawalan ketat pada keponakanku tersayang ini," ia mengelus lembut puncak kepala Naruto.

"Dia akan tinggal disini mulai sekarang!"

"...tapi paman, aku masih harus sekolah."

"Maka aku akan meminta orang yang paling aku percaya untuk mengantarmu ke sekolah setiap hari sekaligus mengawalmu kemana pun kau pergi," ucapnya.

"...tapi..."

"Kabuto!" teriak Deidara, beberapa detik kemudian pemuda berambut putih berkacamata itu pun menghampiri Deidara lalu membungkuk hormat pada Tsunade.

"Ya, mulai sekarang... Kabuto akan menjadi pengawalmu, keponakanku."

'KENAPA SEMUANYA JADI SEPERTI INI?' teriak Naruto dalam hati. Ia benar-benar tidak suka dikekang karena ia lebih menyukai kebebasan.

.

.

_TBC_

.

.

Yosh! Nampaknya konflik yang terjadi sudah semakin rumit, minna! Ada mata-mata di tengah-tengah Naruto, dan apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apa Deidara juga terlibat dalam rencana Orochimaru? Nantikan kelanjutannya ya? Okay, REVIEW PLEASE and NO FLAME! Arigatou. ^^

.

.

Ya, berhubung saya OL via HP. Biar ga ribet, review yang login juga akan saya balas disini :

Ken D Uzumaki, Dear God, Uchiha Nura-kun, Uzumaki Kaito, Naozumi-kun, Me'o D Theguh, Yukii Chaa, Iman Sholkan, .indohackz, Guest1, Guest3, Raito Namikaze, Namikaze Kevin, Anaatha Namikaze, Rikudou aziez Sama, Guest5, Rey, Chelsea, Guest6, Guest7, NS, Namikaze Uchiha, Nyong manado, Al capone, Anon, Avanza Juubi: Minna-san, arigatou ne. Ni udah dilanjut. ^^ THANK YOU.

Sabaku-Yuuhi: Kalo gitu Naru buat Saku aja deh. ^^

Emh... soal itu kita liat ntar aja. Oh bukan, setengah chakra kyuubi itu disegelnya ke tubuh Minato sendiri dengan shikifujin, makanya papa Minato mati dah. Ya, sengaja aku bikin kayak begitu biar pas aku lagi boring bikin scene pertarungan, aku bisa nulis scene romance mereka. Sip, ini udah dilanjut. Arigatou.

KouraFukiishi: Oalah, waktu itu aku typo toh? Gomen, gomen. Chapter kali ini word-nya udah panjang, kan? Sip, ini udah upadate. Arigatou.

mfadilarafat: Gomen, biasa...chapter kemarin itu stuck di tengah-tengah makanya ga bisa dipaksain update kilat cuz takutnya malah jadi jelek ntar. Arigatou ne.

Soputan: Oh gitu ya, maklum aku kan lemah ma scene battle jadi tentang penyegelannya ga bisa dibuat sedikit sulit, takutnya ntar fict ini ga update2 sampai lebaran. Arigatou.

Waone namikaze: Hmm? *mikir*, ya, masalahnya saya bingung Naru dapet Rinnegan dari siapa? Kan mata itu milik Nagato yg merupakan anggota Akatsuki yg masih hidup tetapi belum muncul di chapter ini. Yosh, kita liat aja ntar ceritanya bakalan saya bawa kemana? Arigatou.

WaOnePWG: Boleh juga, tapi kayaknya Naruto nggak mungkin keluar dari Konoha Academy deh, cuz sekarang Konoha Academy itu adalah tempat seharusnya ia berada, mengingat Kushinanya udah meninggal. Arigatou.

Red devils: Yah, udah terlanjur saya bikin kayak gitu. Nggak apa-apa ya? Ini udah update. Arigatou.

M-xxxx: Beneran nih udah bagus? Syukurlah kalau gitu. Arigatou ne.

Guest2: Serius? #alhamdulillah. Sip, kali ini update kilat nih coz chapter ini lebih menonjolkan genre drama, jadi aku ga terlalu kesulitan ngelanjutinnya. ^^ Yosh! Arigatou.

Bubble bee: Omo! Anak sekolah nih, kok dipanggil tante? *sweatdrop*. Gomen ne karena Naru-nya aku pasangin sama chara lain selain Hina-chan. ^^ Ya, selera setiap orang itu kan berbeda-beda termasuk aku. Begitulah, maklum aku ga pintar bikin humor jadi ga bisa bikin Naruto terlalu konyol seperti di animenya. Kalau Sara sama Amaru sih ga suka sama Naru, Sara kan sukanya sama Itachi. Arigatou.

Shizura-chan: Hmm, ya bisa jadi, tapi bisa jadi cinta segi empat juga... tergantung mood aja gitu. Arigatou.

Mitsuka Sakurai: Sengaja biar pada penasaran, hehe. ^^ Udah upadate nih. Arigatou.

Nivellia Neil: Akutsuki mungkin keluarnya chapter depan, mungkin. Iya, Sasuke nggak akan aku jadiin nuke nin, kok. Ni udah update. Arigatou.

Manguni: Aku nggak begitu tau anime lain, paling cuma Death Note, SAO, Bleach, and Conan. Mmm, mungkin Manguni-san punya saran? Anime apa yang temanya nggak jauh-jauh dari fict ini?

: Mmm, soal itu kita liat ntar aja ya? Arigatou ne.

Yamaguchi Akane: Oh gitu.*sayang sekali* Okay, kalau gitu aku tunggu ya. Yosh! Ganbatte! Ini udah update. Arigatou.

Guest4: Iya, dengan begini Naruto nggak akan cepet kehabisan chakra. ^^ Ini udah di lanjut. Arigatou.

Waraney: Iya, Naruto belum sempat melatih gulungan pemberian Jiraya itu, tapi ntar aku bakal bikin dia tambah hebat kok, biar bisa melindungi teman-temannya. Iya, Shion juga suka sama Naruto. Arigatou.

Kawaguchi: Iya, biasanya misi mereka adalah berburu monster untuk melindungi manusia. Kalau soal ujian chunin kayaknya nggak ada deh, paling adanya ujian-ujian yg ntar bakal berpengaruh pada kenaikan class mereka. Arigatou.

Mayamoto musashi: Tenang aja drama cintanya nggak banyak-banyak, kok... paling cuma selingan aja, biar lebih santai aja gitu...soalnya takutnya ntar malah boring kalau serius mulu. Yosh! Arigatou.

Akira Takigawa: Hai juga ^^ Serius? Padahal kupikir battle kemarin itu 'nggak bgt'. Aigoo, jadi masih ada typo lagi? Mudah-mudahan chapter kali ini ga ada typo deh. Kayaknya jutsu yg nggak di bold itu kelewat deh *ga sengaja* #payah. Mmm, mungkin itu karena akunya aja yg lebih suka 'Hurt'. Sama-sama Akira-san atau Farhan-san (mending panggil apa nih?). Sip! Arigatou.

Yuki No Fujisaki: Ya, bener... yg penting update terus mengingat aku emang lemah dalam genre itu. ^^ Untuk kali ini bisa update kilat, nggak tau kalau next chap? Sip... Arigatou.

Guest8: Sip, ntar jurusnya akan lebih aku perkuat lagi. Arigatou.

Shici kage: Iya, jadi AU itu maksudnya fict ini ceritanya beda sama manga/animenya, dan OOC itu berarti karakternya keluar dari karakter aslinya, gitu. ^^ Arigatou.

Timi: Maaf ya, hehe. ^^ Soal Hinata, bisa-bisa aja sih aku pasangin sama Kiba, kalau bukan sama Sasuke, tapi fict ini nggak terlalu menonjolkan sisi romancenya, kok. Fict ini lebih dominan ke adventure/fantasy. Romance cuma selingan aja biar ga selalu serius, jadi ada santainya gitu. Arigatou.

Levol lokacinx: Iya, fict ini kan bukan canon. Misi adalah salah satu yg bakal di utamain dalam fict ini, kalau soal cinta sih cuma selingan aja. Arigatou.

Morgue: Wah, kalau Hiraishin dipake buat main sepak bola, yang lain bisa kalah dari Naruto dong? 'kan mereka nggak bisa Hiraishin. ^^ Soal kejutan, akan diusahakan selalu ada. Arigatou.