Hello, Mina-san? I'm comeback! Apa kabar?
Sakura : Hyaaa! Muki-chan kemana aja kamu?
Muki : Kenapa teriak-teriak begitu, Sakura-chan? Kangen sama aku ya?
Sakura : Ge-er! Aku cuma kangen sama kelanjutan cerita Konoha Academy, tau?!
Muki : Jahatnya...
Naruto : Kamu kemana aja Muki-chan? Fict-mu dianggurin berbulan-bulan begitu? Udah berapa bulan ya nggak update, tiga atau empat?
Muki : Maaf ya, Muki juga nggak nyangka bakalan hiatus tanpa pemberitahuan gitu. Yah, Muki baru bisa update fict-nya sekarang karena Muki sibuk sama tugas-tugas sekolah, ulangan, dan lain-lain.
Sakura : Oh gitu? Yah, dunia nyata emang harus lebih diutamakan. Dunia maya hanya sebatas selingan, ya kan? Tapi walaupun begitu fict-fict Muki-chan harus tetap dipertanggung jawabkan, jangan sampe ada yang discontinued.
Muki : Yah, begitulah kira-kira. Yosh! Muki usahakan nggak kan ada fict bikinan Muki yang discontinued, paling cuma telat update. Minna, silakan baca and review chapter selanjutnya. Gomen, kalau misalkan alur ceritanya jadi nggak nyambung atau ada yang berubah dengan gaya penulisanku... maklum udah lama nggak nulis sekaligus update fict ini, hehe.
Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Story by me
Tittle : Konoha Academy
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.
Rate : K+ (maybe bisa menjadi T sewaktu-waktu)
Pairing : NaruSaku, etc.
Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.
.
.
Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')
.
.
I just wanna say, if you don't like?! Don't read! Don't flame too! Just go back. Thanks.
.
.
Chapter 6 : Batas Dunia
.
.
Sekarang aku paham, mengapa orang senang berakting—Sakura Haruno—
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Saat ini Tsunade menyadari bahwa ternyata Deidara senang sekali berbuat sesukanya. Malam ini ia benar-benar melangsungkan pesta perayaan untuk menyambut kedatangan Naruto. Ia memang sedikit merasa lega karena berkat bujukan Naruto, Deidara tidak menggelar pesta besar-besaran. Ia hanya mengadakan pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat Naruto, seperti teman-teman satu timnya, Kakashi-sensei, dan juga orang-orang kepercayaan Tsunade sendiri seperti; Jiraya, Kurenai, Asuma, Hana, dan Itachi.
Malam ini juga Naruto menyadari satu hal, bahwa Fukka yang merupakan istri dari pamannya tidak menyukainya, begitu juga dengan Tayuya yang merupakan adik dari Fukka. Ia benar-benar merasa tidak nyaman melihat tatapan kedua wanita itu. Sejak ia dikenalkan pada mereka oleh pamannya, kedua Angel itu terus saja memandangnya dengan sinis. Entah mereka cemburu atau apa, ia sama sekali tidak mengerti?
"Naruto-sama, mau minum sesuatu?"
"Astaga! Kau mengagetkanku," kata Naruto setelah sempat tersentak kaget gara-gara Kabuto tiba-tiba muncul dihadapannya dengan membawa nampan berisi beberapa jenis minuman.
"Oh, gomen," ujar Kabuto singkat.
"Hmm, aku ambil yang ini saja. Arigatou Kabuto-san," sambung Naruto yang kemudian mengambil satu gelas Orange Juice dan meminumnya.
Naruto sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini pemuda berkacamata itu tengah menyeringai kepadanya.
'Racun itu tidak berbau dan tidak berasa. Orochimaru-sama, tidak lama lagi aku pasti akan membawanya ke hadapanmu,' pikir Kabuto dalam hati. Ia tidak merasa khawatir karena Kurenai hanya bisa membaca pikiran orang lain dalam jarak tertentu dan saat ini wanita cantik itu sedang tidak berada di dekatnnya.
"Asuma, dimana Kurenai?" tanya Tsunade sambil mengambil hidangan dessert yang sepertinya sangat enak.
"Mungkin dia sedang pergi ke toilet. Memangnya kenapa Tsunade-sama?"
"Kau lihat kedua wanita itu? Aku ingin bertanya pada Kurenai apa yang sedang mereka pikirkan saat ini? Kenapa mereka terus memandang Naruto seperti itu?" jawabnya sambil menunjuk ke arah Fukka dan Tayuya.
"Sepertinya mereka tidak menyukai Naruto. Anda tahu sendiri, kan? Deidara selalu berpergian entah kemana tetapi begitu ia kembali, ia malah membawa Naruto ke rumah ini. Mungkin mereka cemburu karena Deidara terlihat lebih memperhatikan Naruto daripada mereka."
"Jangan sok tahu, kau kan tidak bisa membaca pikiran! Aku hanya khawatir mereka merencanakan sesuatu yang jahat pada Naruto," jelas Tsunade.
"Yah, itu mungkin saja Tsunade-sama tetapi menurut saya mereka bukan orang seperti itu. Biar bagaimana pun juga mereka itu kaum Angel, sama seperti kita. Mereka pasti punya sifat baik, kecuali kalau sayap mereka telah berubah menjadi hitam."
"Yah, mungkin kau benar. Aku hanya terlalu khawatir karena entah kenapa malam ini perasaanku tidak enak."
"Tidak usah cemas, Tsunade-sama. Anda lihat, Naruto sepertinya baik-baik saja," ujarnya sambil menunjuk Naruto yang saat ini tampak sedang mengobrol dengan Sakura.
.
.
"Hey, Naruto! Kenapa pamanmu itu cantik sekali?" tanya Sakura sambil menunjuk Deidara yang sedang tertawa di hadapan Kakashi, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Cantik? Menurutmu begitu? Sakura-chan, kalau pamanku mendengarnya dia bisa marah!"
"...tapi dia memang cantik, kok. Berbeda sekali dengan ayahmu yang sangat tampan. Apa benar dia itu adik Yondaime-sama?"
"Hmm, hanya adik sepupu."
"Oh, pantas saja. Apa kau akan mempelajari jurus-jurus baru darinya?"
"Entahlah Sakura-chan, aku tidak tahu," kata Naruto yang kemudian melirik ke arah Fukka dan Tayuya. Kedua wanita itu masih menatapnya dengan tatapan yang menurutnya sangat menjengkelkan. Mereka bahkan saling berbisik seakan sedang membicarakan dirinya.
"Mereka bibimu?" tanya Sakura mengikuti arah pandang Naruto.
"Ya. Aku benar-benar tidak mengerti Sakura-chan, mereka itu berbeda sekali dengan pamanku. Kurasa, mereka tidak menyukaiku."
"Tidak usah kau pikirkan...yang penting pamanmu baik! Oh ya, kau perhatikan tidak? Sepertinya Sasuke-kun sedang gembira hari ini, begitu juga dengan Itachi-sensei," ujar Sakura yang saat ini tengah melirik kedua orang itu. Kakak-beradik itu tampak sedang bercakap-cakap dengan santai sambil sesekali tersenyum.
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi... akan aku tanyakan padanya," kata Naruto yang kemudian menghampiri kedua orang itu diikuti Sakura dibelakangnya.
"Hey, teme! Ada apa denganmu? Apa kau kerasukan roh jahat? Tidak biasanya aku melihatmu err... tersenyum."
"Bukan urusanmu, dobe!" ujarnya datar.
"Umm, sensei... ada apa sebenarnya?" kali ini Sakura yang memberanikan diri untuk bertanya pada Itachi.
"Lusa ayah kami ada misi. Kudengar misi itu adalah misi yang sangat penting, entah kapan ia akan kembali ke Konoha. Jadi besok dia akan membawa ibu kami kesini," cerita Itachi yang tumben-tumbenan bisa curhat pada orang lain.
'Ternyata Uchiha bersaudara bisa terbuka juga kalau soal ibu mereka. Tak kusangka,' pikir Naruto dalam hati.
"Hey, teme! Apa ibumu diizinkan menginap di Konaha selama beberapa hari makanya kau merasa senang?"
"Hn."
"Kau ini kalau aku bicara panjang lebar, harusnya kau juga—" kata-katanya terhenti ketika ia merasa dunia bergoyang seperti gempa bumi ringan yang cukup sering dialaminya di Tokyo, tetapi ini Konoha. Dunia ghaib yang tidak diketahui manusia. Tidak mungkin gempa bumi, bukan?
Ketika ia mendapat keseimbangan tubuhnya kembali, Naruto menyadari Sakura sedang memegangi sikunya dan gadis itu memandangnya dengan tatapan khawatir.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
Naruto menggeleng bingung, "Aku tidak apa-apa, Sakura-chan. Hanya sedikit pusing," sahutnya sambil menarik lengannya dari pegangan Sakura dan mundur selangkah.
"Kau yakin? Apa mungkin kau masih sakit gara-gara ulah Shion tempo hari?"
"Tidak. Aku sudah sembuh."
Sakura mendekat ke arah Naruto lalu menyentuh kening teammate-nya itu dengan punggung tangannya.
"Kau demam. Sebaiknya kau istirahat saja, aku akan beritahu pamanmu," ujar Sakura yang kemudian berbalik dan berjalan ke arah Deidara, namun Naruto menahan lengannya dan membuat gadis itu kembali menghadapnya.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja, Sakura-chan," katanya sambil tersenyum.
"Kau sudah makan?" tanya Itachi yang kini berada di dekatnya dan menatapnya dengan alis berkerut samar.
"Tentu saja sudah sensei, disini kan banyak sekali makanan," jawab Naruto.
"Benar juga."
"Dobe, bagaimana kalau kau minta Tsunade-sama untuk memeriksamu? Wajahmu terlihat err... pucat," sambung Sasuke.
"Hahaha..."
"Kenapa kau tertawa, baka?!" tanya Sasuke kesal karena teammate-nya itu malah tertawa pada saat seperti ini.
"Tidak... tidak. Aku hanya tidak menyangka kau bisa berbicara sepanjang itu hanya karena mengkhawatirkanku. Hahaha..."
"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya menyarankan sesuatu yang bagus."
"Sasuke-kun benar. Berhubung di Konoha tidak ada dokter, sebaiknya kau periksakan kesehatanmu kepada Tsunade-sama!" sambung Sakura.
"Keponakanku kemarilah!" teriak Deidara sambil melambaikan tangannya.
"Baiklah, tapi besok saja ya? Pamanku memanggilku," katanya yang kemudian menghampiri Deidara yang berdiri beberapa meter darinya. Kakashi juga masih berada di dekatnya.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Jadi kenapa kau membawa Mikoto kesini, Fugaku?" tanya Tsunade setelah sepasang suami istri itu duduk dihadapannya.
"Ini tentang kematian Kushina Uzumaki. Menurut penyelidikan kami Kushina meninggal bukan karena kecelakaan murni... ini adalah kasus pembunuhan," tegas Mikoto.
"Apa? Lalu apa hubungannya dengan Konoha? Itu kan urusan manusia. Kenapa kau membawa-bawa urusan antar manusia ke Konoha?" tanyanya.
"Di TKP aku menemukan dua buah bukti, dan salah satu bukti itu sangat mencengangkan."
"Maksudmu?"
Mikoto mengeluarkan satu buah kantong plastik dari tas tangannya. Benda yang berada dalam kantong plastik itu adalah sehelai bulu hitam.
"Kami sudah menyelidiki semaksimal mungkin, namun di dunia ini tidak ada satu spesies burung pun yang memiliki bulu seperti ini. Aku curiga ini adalah bulu dari sayap salah satu dari para pengkhianat itu," cerita Mikoto dengan tatapan serius.
"..."
"Aku tidak tahu alasan mengapa dia membunuh Kushina, tetapi mungkin ini ada hubungannya dengan Naruto-kun. Naruto-kun dalam bahaya. Kurasa saat ini salah satu dari para pengkhianat itu sedang berada di dekatnya."
"Kau yakin soal ini, Mikoto?"
"Aku yakin sekali. Tolong jangan meremehkanku, Tsunade-sama. Begini-begini aku adalah seorang polisi professional."
Tsunade memijat pelipisnya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa salah satu dari para pengkhianat itu ada disekitar mereka tanpa ketahuan. Siapa dia? Apa tujuannya yang sebenarnya?
"Selain bulu itu, apa lagi yang kalian temukan?" tanyanya.
Mikoto mengeluarkan sarung tangan dan memakainya. Setelah itu ia mengeluarkan bukti yang kedua. Sebuah kantong plastik yang berisi sebuah kaleng minuman.
"Kaleng minuman? Maksudmu dia membunuh Kushina dengan ini? Bagaimana caranya?"
Mikoto mengeluarkan kaleng itu dari kantong plastik. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan,
"Ini adalah trik sederhana namun sangat berakibat fatal. Sebelumnya kejadian yang sama pernah terjadi di Paris, France, dan Seoul, South Korea. Berdasarkan kesimpulan kami, pelaku adalah seseorang yang jenius. Tidak ada sidik jari, tetapi ia sangat ceroboh karena tidak menyadari bahwa ada sehelai bulu yang tertinggal."
"Hmm, aku masih tidak mengerti..." Tsunade mengerutkan kening.
"Pelaku sengaja meletakkan kaleng minuman itu dibawah pedal rem, sehingga Kushina sulit menginjak pedal rem tersebut. Hal itu mengakibatkan ia tidak bisa mengendalikan mobilnya, hingga akhirnya mobilnya oleng dan jatuh ke dalam jurang," cerita Fugaku yang dijawab anggukkan oleh Mikoto.
"Jadi Kushina benar-benar dibunuh?" Tsunade mengepalkan kedua tangannya sambil menundukkan wajah. Berusaha menahan amarah yang sepertinya akan meledak sebentar lagi.
"Ya," jawab Fugaku dan Mikoto serentak.
"Tidak... tidak mungkin, jadi Okaa-san..."
Ketiga orang itu serentak menoleh ke arah sumber suara. Tepat beberapa meter dibelakang mereka berdiri Naruto dengan wajah pucat. Disampingnya ada Deidara yang tampak shock.
"Kenapa kalian berdua bisa ada disini? Siapa yang mengijinkan kalian masuk? Dan sejak kapan kalian berdiri disana? Menguping pembicaraan orang. Sungguh tidak sopan!"
"Be..begini, aku kemari untuk menemui anda Tsunade-sama. Aku ingin menanyakan soal kondisi kesehatan keponakanku karena semalaman dia demam tinggi," cerita Deidara yang nampak sedikit takut dengan ekspresi Tsunade yang terlihat begitu marah.
"Na... Naruto-kun, kau mendengar semuanya?" tanya Mikoto menghampiri Naruto yang saat ini tengah mematung sembari menunduk menatap lantai.
"Aku... aku... aku pikir Okaa-san meninggal karena kecerobohannya sendiri. Dia memang sangat ceroboh. Itulah sebabnya aku... aku sempat menyalahkannya karena dia telah pergi meninggalkanku sendirian, tetapi dibunuh... itu tidak bisa dihindari. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membalas dendam. Siapapun dia, aku tidak terima karena dia SUDAH MEMBUNUH IBUKU!"
"Oh dear..." ucap Mikoto yang kemudian memeluk teammate puteranya itu.
"Kenapa? Kenapa dia harus membunuh ibuku? Apa salah ibuku? Kenapa dia melakukannya?"
Naruto tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Ia pun menangis dalam pelukan Mikoto. Mikoto terlihat cemas karena dia merasakan tubuh Naruto sangat panas.
"Kau sakit?" tanyanya lembut, namun Naruto masih terisak. Tentu saja ia bisa mengerti perasaan Naruto. Dia sendiri juga sering merasa sedih setiap kali ketiga pria yang sangat ia sayangi tidak berada di dekatnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia kehilangan salah satu diantara mereka bertiga. Entah itu suaminya atau salah satu dari kedua puteranya.
"Naruto, jangan lupa tujuanmu datang kesini!" Deidara memperingatkan. Walau perasaannya masih kacau, Naruto akhirnya melepaskan pelukan ibu dari sahabatnya itu. Ia sendiri penasaran sebenarnya ada apa dengan tubuhnya. Semalaman ia deman dan esok paginya tangan kanannya sempat tidak bisa digerakkan.
"Tsunade-sama, tolong periksa kondisi keponakanku!" ucap Deidara sopan. Saat ini pria itu benar-benar terlihat berbeda dari dirinya yang sebelumnya sangat konyol bagi Tsunade.
.
.
.
Deidara terlihat mondar-mandir sejak tadi. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia seperti ini? Saat ini ia terlihat seperti seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan kesehatan puteranya, padahal ia belum mempunyai seorang anak pun dari Fukka. Naruto itu juga hanya putera saudara sepupunya yang sebenarnya baru ia kenal tetapi kenapa perasaannya tidak karuan seperti ini. Mungkinkah ia mulai menyayangi Naruto atau...
"Minato-nii, kenapa kau menularkan penyakit over protective-mu padaku?" gerutunya.
.
.
"Racun?" tanya Deidara setelah Tsunade selesai melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Naruto.
"Ya, sepertinya keponakanmu terinfeksi racun?"
"Jadi dia bukan demam biasa seperti manusia pada umumnya?"
"Kurasa bukan? Dia bilang pagi tadi tangan kanannya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Aku curiga racun tersebut adalah semacam racun pelumpuh."
"Bagaimana bisa dia terinfeksi racun? Memangnya dia makan apa? Siapa yang berani meracuninya?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan. Tadi malam apa saja yang dia makan dan dia minum. Kami harus tahu dulu itu adalah racun jenis apa sebelum kami membuat penawarnya?"
"Memangnya anda tidak bisa menyembuhkannya dengan Healing Abillity anda?"
"Tidak. Dia hanya akan sembuh setelah meminum obat penawar racunnya. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan."
"Sebentar, bukankah kau juga bilang kalau dia adalah Jinchuuriki Kyuubi. Memangnya chakra Kyuubi tidak bisa menyembuhkannya?"
"Sayangnya aku rasa tidak? Aku yakin orang yang menciptakan racun ini adalah orang yang jenius... mungkin Orochimaru?"
"Omong kosong, bukankah chakra Kyuubi itu chakra istimewa. Apa benar-benar tidak bisa?"
"Kalau chakra Kyuubi bisa menetralisir racun itu sejak awal, Naruto pasti akan baik-baik saja tetapi kenyataanya tidak, bukan?"
"Benar juga."
"Begini saja, aku minta kau kumpulkan semua benda yang disentuh Naruto tadi malam, juga makanan dan minuman yang dia konsumsi."
"Bagaimana mungkin aku bisa tahu? Ada banyak sekali benda yang dia sentuh malam itu, dan aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang dia makan ataupun minum!" teriak Deidara tampak frustasi.
"Kau kan bisa bertanya padanya, baka!"
"Eh? Benar juga. Baiklah akan aku tanyakan."
.
.
"Apa saja yang aku sentuh? Maaf paman, aku sama sekali tidak ingat."
"Kalau begitu, apa saja yang kau makan dan kau minum?"
Naruto berusaha mengingat-ingat tetapi ia benar-benar lupa apa saja yang ia makan karena tadi malam ia mencoba hampir semua makanan yang tersedia di pesta itu.
"Aku tidak ingat."
"Astaga, keponakanku! Apa otakmu kosong? Kenapa kau bisa lupa apa saja yang kau makan tadi malam?"
"...tapi aku ingat apa saja yang aku minum. Kalau tidak salah, sebelumnya aku mencoba wine yang paman bilang sudah berumur 50 tahun itu. Lalu aku minum air putih, dan satu jam kemudian aku minum Orange Juice, lalu setelah itu aku mencoba minuman punya Sakura-chan, lalu sebelum tidur aku minum air putih lagi karena paman bilang kalau sedang demam aku harus banyak-banyak minum air putih."
"Hah? Kau membuatku bingung?"
"Yah, aku sendiri juga bingung. Paman, bisa tinggalkan aku sendiri?"
"Baiklah, aku mengerti. Kau masih kepikiran ibumu, kan? Aku pergi dulu! Hmm, kalau ada apa-apa panggil saja pelayan!"
"Hmm. Arigatou."
Walau masih bingung Deidara tetap mencoba melaksanakan perintah Tsunade. Ia pun meminta para pelayannya untuk membawa gelas-gelas yang disentuh Naruto tadi malam. Tentu saja hal itu membuat para pelayan bingung. Semua gelas yang dipakai tadi malam itu sama dan sudah dibereskan ke tempat semula setelah selesai dicuci. Hal itu juga membuatnya frustasi, bagaimana kalau jejak racun itu telah hilang karena gelas-gelas tersebut sudah dicuci? Akhirnya Deidara menyuruh semua pelayan itu untuk mengantarkan semua gelas yang digunakan di pesta tadi malam pada Tsunade. Ia bisa membayangkan, Tsunade pasti akan marah besar dan menganggap dirinya telah mempermainkannya yang merupakan seorang petinggi Konoha.
"Mengerikan..." gumamnya.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Kenapa kau tidak mengawalnya seperti biasa?" tanya Deidara dengan nada membentak.
"Mereka ada misi, aku tidak mungkin mengikuti mereka Deidara-sama," sambung Kabuto.
"Apa Kakashi-san bersama mereka?"
"Tidak. Kali ini misi itu hanya untuk mereka bertiga."
"Apa kau bilang? Bagaimana bisa Tsunade-sama mengikutsertakan keponakanku dalam misi berbahaya seperti itu? Terlebih efek racun itu mungkin akan membuatnya kesulitan."
'Kau tenang saja, efek racun itu hanya akan kambuh setiap tiga hari. Saat itulah kesempatanku untuk menculiknya akan tiba. Hahaha...'
"Kabuto apa yang sedang kau pikirkan?"
"Hmm, mungkin tidak akan masalah jika saya mengikutinya secara diam-diam?"
"Yah, aku setuju denganmu. Ikuti dia diam-diam. Pastikan dia baik-baik saja. Aku mengandalkanmu, Kabuto."
"Ha'i, Deidara-sama. Kalau begitu, saya permisi."
"Hmm."
.
.
.
Hari ini Naruto, Sasuke, dan Sakura mendapatkan misi ke pegunungan disebelah utara Konoha. Menurut Tsunade pegunungan tersebut adalah batas dunia; dengan kata lain, pengunungan tersebut adalah batas negeri manusia dengan negeri kegelapan tempat para pengkhianat dicurigai sering berlalu lalang disekitar tempat tersebut, sebelum akhirnya masuk ke dunia manusia lalu mengacau disana. Mereka diberikan misi untuk memastikan apakah Fugaku yang beberapa hari lalu pergi kesana untuk melaksanakan suatu misi masih hidup ataukah sudah tidak tertolong? Karena sampai sekarang ia belum kembali ke Konoha.
Sakura terkejut, ini adalah hari kedua semenjak mereka berangkat dari Konoha Academy, namun anehnya tepat sebelum matahari sampai di tengah-tengah langit, sungai yang semakin menyempit, hilang di depan mulut gua yang berada di dasar jurang.
Hutan yang tersebar di kedua arah tiba-tiba menghilang, di depan matanya ada tebing abu-abu curam memuncak. Jika dia mendongak ke atas, dia bisa melihat langit biru yang melintasi puncak gunung putih bersih di kejauhan, tebing ini pasti, dasar dari Pegunungan Utara.
"Kita sudah sampai. Mungkinkah ini Pegunungan Utara? Bukankah terlalu cepat?"
Naruto, yang juga terlihat tidak percaya, berbisik. Sama seperti Sakura yang berbisik dengan mata hijaunya yang masih terbuka lebar,
"Lalu... dimana «Batas Dunia»? Apa kita melewatinya tanpa sadar?"
Sementara Sasuke masih berpikir, bisikan Sakura yang serius terdengar,
"Jika ini Pegunungan Utara... lalu diseberang adalah Dataran Kegelapan, kan? Kalau begitu... kita sudah berjalan selama dua hari. Aku pikir dari Konoha Academy sampai pegunungan Utara akan memakan waktu lebih dari enam hari. Sebenarnya kita ada dimana? Benarkah kita sudah sampai?"
Sasuke masih tampak memikirkan sesuatu,
'Aku sudah cukup lama tinggal di Konoha Academy tapi aku tidak tahu dimana lokasi Pegunungan Utara yang Tsunade-sama maksud? Tidak... mungkinkah bahkan para petinggi dan tetua desa tidak tahu bahwa sebenarnya Pegunungan Utara itu sedekat ini?'
"Bagaimanapun ini aneh, tapiaku tidak tahu kenapa hal aneh ini bisa terjadi?" ujar Naruto.
Pemikiran Sasuke yang semakin membingungkan tersapu oleh perkataan Sakura,
"Ngomong-ngomong, tidak ada yang harus kita lakukan selain masuk ke dalam gua? Tapi sebelum itu, ayo kita makan siang terlebih dahulu!"
Sambil mengatakannya, dia mengambil keranjang rotan dari tangan Naruto, lalu duduk di semak pendek yang berbatasan dengan bebatuan.
"Ini yang aku tunggu, perutku sudah keroncongan." Dengan suara Naruto yang seperti itu, Sasuke juga duduk di atas rumput. Di dalam keranjang rotan itu hanya ada roti panjang yang sudah agak keras dan beberapa buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Jangan tanya kenapa roti panjang itu sudah agak keras, alasannya sudah jelas yaitu karena ini adalah hari kedua. Sebenarnya Sasuke agak malas juga memakan roti itu, ia ingat kemarin masih ada pai isi kacang dan ikan, pai isi apel dan walnut, dan juga manisan buah persik. Saat itu yang ia ingat cuma perutnya yang keroncongan walau sebenarnya ia tidak suka makanan yang manis-manis.
Sakura mengeluarkan roti panjang dan buah-buahan tersebut. Untuk tambahan, dia menuang air mineral dari botol minumnya ke tiga buah gelas kayu. Setelah itu karena ia yakin roti isi itu rasanya sudah tak seenak kemarin, ia hanya mengambil buah apel dan mulai menggigitnya.
"Gua itu... apa yang sebenarnya ada di dalamnya, ya? Mungkinkah ada banyak goblin disana?"
Sambil menelan makanannya, Sasuke menoleh dan menjawab,
"Dobe, jangan bicara sembarangan! Kalaupun ada banyak goblin di dalam sana, memangnya kau bisa mengalahkan mereka dengan kondisimu yang sekarang?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan berakting seakan kau baik-baik saja! Aku sudah tahu semuanya, katanya ada seseorang yang meracunimu, dan sampai sekarang kau belum meminum obat penawarnya karena Tsunade-sama pun tidak memiliki penawar racun itu. Ia bahkan tidak bisa menciptakan penawar racun itu," tambah Sakura.
"Jangan berbicara seolah-olah aku sedang sakit, Sakura-chan. Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?" tanya Sasuke.
"Teme, Sakura-chan, kalau kalian tidak percaya periksa saja sendiri. Suhu tubuhku normal. Tangan dan kakiku juga masih bisa digerakkan. Aku rasa racun itu sudah lenyap berkat chakra Kyuubi."
"Bicara apa kau? Aku sama sekali tidak bisa melenyapkan racun itu. Racun itu terus menyebar ke seluruh tubuhmu setiap harinya. Hanya orang jenius yang bisa menciptakan racun sehebat ini dan kurasa hanya dia yang memiliki obat penawarnya."
'Diam kau, Kurama! Aku sangat yakin kalau tubuhku baik-baik saja.'
"Ya, sekarang... tapi kau tak akan pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Ada kemungkinan itu akan kambuh sewaktu-waktu."
'Aku tidak berpikir sejauh itu,'
"Itulah sebabnya si pantat ayam mengataimu 'dobe'. Kau itu sungguh aneh, kadang kau bisa sangat pintar tapi kau lebih keseringan bego."
'Diamlah Kurama!'
"Yah, terserahlah. Nikmati saja perjalananmu, aku mau tidur!"
Untuk menghindari tatapan penuh curiga Sasuke, Naruto berhenti berbicara pada Kyuubi, lalu memenuhi mulutnya dengan makanan. Meskipun mereka punya banyak waktu, Sasuke makan dengan cepat seperti biasa sebelum akhirnya meminum air mineralnya.
Setelah melipat taplak putih dengan rapi dan memasukkannya ke dalam keranjang rotan, Sakura berdiri. Dia berjalan menuju sungai terdekat dengan botol minuman dan tiga gelas kayu di tangannya, lalu membasuhnya dengan air sungai. Tak lupa ia mengisi kembali botol tersebut dengan air. Dia menghela nafas sambil menyelesaikan pekerjaannya, dan saat dia kembali, Sakura merentangkan tangannya yang sudah dikeringkan dengan saputangan ke arah Naruto.
"Airnya sangat dingin! Kurasa suhunya sama dengan air sumur saat tengah musim dingin."
Apa yang Naruto lihat adalah tangan kecil yang sudah berwarna kemerahan. Refleks, ia menjulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sakura, tentu saja untuk menyalurkan rasa hangat dari tangannya ke tangan dingin Sakura.
"Sebentar... hentikan itu."
Rona pipinya sekarang sama dengan tangannya, dan Sakura menarik tangannya kembali. Saat itu juga Naruto baru sadar ia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukannya pada saat seperti ini, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Gomen ne..."
"Baik, bukannya kita harus berangkat sekarang, tuan dan nyonya?" sindir Sasuke yang agak kesal melihat kedua teammate-nya yang malah sibuk blushing.
"Jangan seenaknya menjadikanku kambing conge, dobe!" Sasuke menyeringai sambil menendang kaki Naruto dengan keras, setelah apa yang dilakukannya tadi.
"Teme, sakit tahu!"
Sasuke tidak peduli. Ia mengambil kantung air dan memanggulnya, lalu berjalan ke dalam gua tanpa menengok ke belakang.
Sulit dipercaya sumber dari air sungai yang berada di sepanjang hutan, sungai jernih yang dilewati oleh mereka bertiga sampai sekarang, sekecil ini. Dengan diameter kira-kira satu setengah mil, sungai kecil ini mengalir keluar lewat mulut gua di tebing yang tinggi; di sisi kirinya, ada batu yang berukuran sama menonjol keluar, dia menapakinya dan berjalan ke dalam gua.
Sasuke berpikir, 'Dingin sekali' sambil berusaha untuk masuk ke dalam gua. Suhunya tiba-tiba semakin turun, dia mencoba menghangatkan dirinya dengan menggosokkan tangannya ke lengan yang tidak tertutupi jubah lengan pendeknya.
Ia berjalan sejauh sepuluh langkah sambil meninggalkan teammate-nya beberapa langkah di belakangnya. Saat itu juga Sasuke tersadar ia melakukan kesalahan besar, bahunya jatuh dan ia menoleh ke belakang.
"Oh tidak... Aku lupa tidak membawa lampu senter. Naruto, apa kamu membawa satu?"
Meskipun ia hanya berjarak lima mil dari mulut gua, dinding gua sudah cukup gelap sampai ia tidak bisa melihat wajah mereka berdua. Dalam kegelapan di dalam, wajar jika ia berharap pada rekannya tentang sesuatu yang ia lupakan, tapi jawabannya hanya "Bagaimana mungkin aku ingat sesuatu yang juga kau lupakan?" dengan kepercayaan diri yang aneh.
"Dobe, kurasa otakmu itu benar-benar kosong."
"Apa kau bilang, teme? Kau sendiri juga lupa membawa lampu, kan?"
"Kau..."
"Kenapa sih kalian berdua itu tidak pernah akur?"
Sementara Sasuke memikirkan berapa kali ia mendengarnya bicara seperti itu, ia menatap langsung rambut pink Sakura. Sakura mencari-cari sesuatu disekitarnya sebelum merogoh saku rok-nya dan mengeluarkan benda tipis dan panjang. Itu adalah sepucuk rumput yang dipetiknya saat mereka berangkat. Dia menggenggam rumput itu di tangan kanannya, dengan tangan kirinya menyangga ujung rumput tersebut.
"Untuk apa rumput itu, Sakura-chan?" tanya Naruto sweatdrop,
"Teme, kenapa kau tidak menggunakan sharingan atau Fire Abillity-mu?" lanjutnya.
"Kekuatanku tidak untuk digunakan untuk sesuatu yang sederhana seperti ini," jawabnya santai.
Sakura memejamkan mata. Mulutnya mulai bergerak, menggumamkan sesuatu yang sepertinya adalah mantra untuk Illusion Abillity-nya. Akhirnya tangan kirinya dengan cepat memotong simbol kompleks yang muncul, secercah cahaya yang lemah mulai bersinar dari ujung rumput yang menggelembung. Cahaya tadi kemudian menjadi sangat terang dalam waktu singkat, dan menjauhkan kegelapan dari gua dalam jarak yang cukup jauh.
"Ooo."
"Wow..."
Naruto dan Sasuke tanpa sadar mengeluarkan suara kekaguman bersamaan.
Sakura memberikan rumput yang bersinar itu kepada Sasuke sambil tersenyum. Sasuke mengambilnya tanpa berpikir sebelum bergumam "Hn." Tiba-tiba ia menyadari sesuatu,
"EH? Aku duluan?"
"Tentu saja, apa kau tega membiarkan seorang gadis berjalan di depan? Sasuke-kun di depan dan Naruto di belakang. Jangan buang banyak waktu, ayo cepat!"
"Hn."
Seakan terdorong oleh keadaan, Sasuke mengacungkan senter kecil itu dan berjalan ke dalam gua sambil menggigil.
'Masa aku harus mengeluarkan chakra istimewaku disini? Ah, tidak. Tidak untuk sesuatu hal kecil begini,' pikirnya dalam hati.
Susunan batu yang berliku-liku ini terlihat tidak berujung. Dindingnya memantulkan cahaya kebiruan dan terlihat basah... terkadang, ia khawatir dengan bayang-bayang yang terlihat di tempat yang tidak terkena cahaya. Tapi, tidak peduli kemana ia berusaha melihat, ia tidak bisa menemukan sesuatu yang seperti es. Meskipun terkadang ada stalaktit abu-abu yang terlihat mirip dengan kerucut es, dia tahu bahwa itu batu hanya dengan melihatnya saja.
Setelah berjalan selama beberapa menit, Sasuke memanggil Naruto di belakangnya.
"Hei, dobe! Apa menurutmu di dalam sana ada es?"
"Mungkin?"
"Kurasa iya, buktinya air sungai itu sangat dingin," sambung Sakura.
Sambil mendekati rekannya yang berusaha menghindari tatap mata, Sakura menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan Sasuke sambil berbisik,
"Sasuke-kun, bawa cahayanya lebih dekat sedikit."
"Hn?"
Sasuke mengacungkan sepucuk rumput tadi mendekati wajah Sakura. Gadis itu membulatkan bibirnya sebelum menghembuskan nafas ke arah cahaya.
"Ah..."
"Lihat, kan? Nafas kita berembun, seperti saat musim dingin."
"Wow, benar. Dan aku baru sadar kalau sekarang suhunya semakin dingin," sambung Naruto.
Tidak menghiraukan kebodohan Naruto, Sasuke menyetujui perkataan Sakura.
"Meskipun di luar musim panas, di dalam seperti musim dingin. Pasti ada es disini."
"Ya, ayo kita cari lebih lama," ujar Sakura.
Sasuke membalikkan badannya, ia merasa bahwa gua ini semakin lama semakin melebar sedikit demi sedikit. Ia kembali berjalan dengan hati-hati.
Apa yang mereka dengar selain suara dari sepatu mereka, hanya suara air tanah yang mengalir. Meskipun mereka sudah sampai ke mata airnya, aliran air itu sama sekali tidak berkurang.
"Kudengar dari Kiba, disekitar Pegunungan Utara ada naga putih. Mungkin naga itu ada disekitar sini. Hey, kalau naga putih itu benar-benar ada, apa yang harus kita lakukan?"
Sasuke menegur Naruto yang dengan santai mengatakan hal tersebut dengan "Jangan bicara sembarangan! Aku bosan bertarung dengan pengguna es macam Shion!"
Saat mereka masuk lebih dalam dari yang mereka rencanakan, tentu saja, yang terpikir oleh Sakura adalah—
"Hey, tapi kalau naga putih itu benar-benar keluar, apa yang harus kita lakukan?"
Sasuke menjawabnya dengan cepat seakan bisa membaca pikiran Sakura,
"Tentu saja, apalagi kalau bukan la..."
Jawaban dari pertanyaan tadi langsung disanggah oleh suara Naruto yang ceroboh,
"Tidak-apa-apa. Kita lawan saja dia, bukannya ada kau, teme? Hmmm... tapi jika mungkin, aku ingin mengambil sisiknya untuk aku jadikan bahan material pedang baru."
"Oi, apa yang kau pikirkan, dobe?"
"Mmm, kalau kita bisa kembali dengan bukti kalau kita melihat naga asli, Kiba dan teman-temannya pasti iri sampai mati."
"Jangan bercanda! Aku beritahu kau sekarang, kalau kau dikejar oleh naga itu, kita akan meninggalkanmu dan lari."
"Oi, suaramu terlalu keras, Sasuke-kun!"
"Itu karena Naruto mengatakan sesuatu yang aneh..."
Tiba-tiba kakinya membuat suara yang aneh, dan Sasuke berhenti bicara. Suara itu terdengar seperti sesuatu yang pecah di bawahnya. Dia mengarahkan cahaya di tangan kanannya mendekati kaki kirinya dengan cepat sebelum bicara dengan cepat.
"Ah, lihat ini."
Sakura dan Naruto membungkuk untuk melihatnya, lalu Sasuke memindahkan kakinya untuk mereka. Air yang terkumpul di batu berubah menjadi es yang menyelubungi permukaan batu tersebut. Dia mengambil sekeping es yang tipis dari batu tersebut.
Setelah meletakkannya di telapak tangannya selama beberapa detik, es tersebut meleleh, mereka bertiga saling memandang satu sama lain dan Sakura tersenyum.
"Ini es, tidak salah lagi. Pasti ada lebih banyak es di dalam sana. Kalau kita mengambil es-es ini, buah-buahan kita yang tersisa akan tetap segar untuk dimakan beberapa hari ke depan."
"Kenapa sekarang jadi kau yang mengatakan hal aneh, Sakura? Ingat, misi kita kali ini adalah untuk menjemput ayahku, bukan untuk mengumpulkan es batu."
Sasuke berkata sambil mengamati sekelilingnya, sebagian besar cahaya biru yang terpancar dipantulkan oleh air yang membeku, sama seperti yang ada di batu. cahaya tadi terus masuk kedalam kegelapan gua, masuk ke dalam...
"Ah... bagaimanapun, ada banyak cahaya di sana."
Seperti yang Naruto bilang, Sasuke menggerakkan tangan kanannya, dari ratusan titik cahaya, ada satu yang bersinar dan berkedip dengan lemah. Saat dia lupa tentang naga putih, dia melangkah ke arah tersebut dengan hati-hati.
Berdasarkan waktu yang terlewati, sepertinya mereka sudah masuk beberapa ratus mil. Tiba-tiba, dinding gua disampingnya menghilang.
Pada saat yang sama, pemandangan yang menakjubkan terpampang di depan mata mereka.
Luas. Sulit membayangkan bahwa mereka ada di gua bawah tanah, karena yang ada adalah lapangan yang sangat luas. Luasnya pasti beberapa kali lebih luas dari taman pusat desa Konoha yang ada di depan gereja.
Dinding gua yang mengelilingi hampir semua sisi, tidak lagi terlihat seperti dinding yang ada sebelumnya tapi tertutup oleh lapisan biru terang transparan. Lalu, setelah melihat permukaan lantai, Sasuke paham, 'Oh, jadi ini sumber dari sungai itu'. Itu adalah kolam raksasa– tidak, sebuah danau raksasa lebih cocok... tapi permukaan airnya sama sekali tidak bergerak. Permukaannya sudah membeku semuanya, dari pinggir sampai ke tengah.
Diantara jejak kabut putih disekitar danau, beberapa pilar aneh menjulang, tingginya melebihi mereka bertiga. Benda itu berujung runcing, berbentuk pilar segi-enam tegak. Benda itu jauh lebih besar, dan jauh lebih indah. Puluhan pilar biru transparan itu menyerap cahaya suci dari sepucuk rumput yang dipegang Sasuke, sebelum akhirnya berpencar keenam arah, yang juga memantul dan menembusnya, menyinari sebagian besar ruangan. Banyaknya pilar tersebut bertambah semakin ke tengah, dan bertumpuk di tengah danau.
Itu es. Dindingnya, danaunya, pilar segi-enam aneh itu, semuanya terbentuk dari es. Dinding biru itu terus naik ke atas, dan bersimpangan di ketinggian, seperti menara kapel.
Mereka bertiga lupa dengan dingin yang menusuk kulit. Berdiri disana selama beberapa menit sambil menghembuskan nafas putih. Tidak lama, Sakura berbisik dengan suara bergetar,
"Dengan es sebanyak ini, kita bisa mendinginkan makanan di seluruh desa."
"...atau mungkin, ini bisa mengubah cuaca di desa menjadi musim dingin untuk beberapa waktu. Baiklah, ayo kita periksa!"
Sesaat setelah Naruto bicara, ia berjalan sampai akhirnya menginjak danau es. Ia berusaha menginjak es tersebut dengan kakinya, tanpa sadar ia sudah berdiri dengan dua kaki di atas es, dan tidak ada suara es yang pecah.
'Dia selalu saja seperti ini,' meskipun Sasuke punya hak untuk mengingatkannya, kali ini ia juga punya keingintahuan yang besar. "Tapi kalau ternyata memang ada naga putih di dalam, Aku ingin melihatnya apapun yang terjadi."
Mengangkat cahaya suci di tangannya, Sasuke dan Sakura mengejar Naruto. Dengan hati-hati mereka berusaha berjalan dengan pelan, mereka bergerak dari bayangan satu kerucut es ke yang lain menuju tengah danau.
'Ini hebat, tak kusangka ada tempat seindah ini di dalam gua,' kagum Sakura dalam hati.
Di saat Sakura masih sibuk memikirkan sesuatu sambil tetap berjalan, hidungnya menabrak kepala Naruto yang mendadak berhenti dengan wajah mengernyit.
"NARUTO! JANGAN MENDADAK BERHENTI KAYAK GITU DONG!" teriaknya kesal, tapi tidak ada jawaban dari Naruto, malahan erangan lirih yang keluar.
"Apa itu?"
"Eh?"
"Sebenarnya apa sih itu?"
Sasuke memiringkan kepalanya disaat yang sama saat Sakura sampai di sampingnya, dan melengok ke depan dari sebelah Naruto.
"Apa sih yang kalian berdua bicara—"
Sasuke tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Ternyata yang dilihat oleh Naruto dan Sakura adalah gunungan tulang belulang. Akhirnya ia menyadari satu hal, benda-benda yang mereka bertiga lihat tadi rupanya adalah tulang belulang yang terbuat dari es biru. Mereka bersinar dengan kuat seolah-olah mereka adalah patung kristal. Masing-masing dari mereka berukuran besar. Tulang belulang beraneka bentuk saling bertumpuk di atas yang lainnya, membuat sebuah gunungan yang lebih tinggi daripada mereka bertiga. Di puncaknya, sebuah bongkahan besar menjelaskan pada mereka siapa pemilik makam ini?
Sebuah tengkorak, Sasuke dapat memahami hal itu hanya dengan satu tatapan saja. Lubang matanya yang kosong, lubang hidung yang panjang, tanduk-tanduk yang menonjol keluar dari punggungnya, tak terhitung jumlah taring bak pedang berjajar di tulang rahang yang menggantung di atasnya.
"Tulang belulang... naga putih?" Sasuke berbisik dengan suara lirih.
"Ia sudah mati, kan?" tanya Sakura.
"Tentu saja Sakura-chan, tapi kurasa matinya bukan karena sebab alami."
Naruto berjalan beberapa langkah lagi, ia memungut sebuah cakar besar yang nampaknya berasal dari kaki depan naga itu.
"Lihat, ada banyak luka disini, ujungnya juga terpotong dengan rapi."
"Bertarung dengan binatang atau naga lain harusnya tidak akan memberikan luka semacam ini, kan?" sambung Sakura yang saat ini telah berdiri diantara Naruto dan Sasuke.
"Ia bertarung melawan sesuatu? Namun makhluk hidup yang mampu membunuh naga..." perkataan Sasuke terhenti saat kedua matanya menangkap sesuatu... sebilah pedang. Itu adalah sebuah pedang panjang yang telah patah namun telah tertupi oleh bongkahan es.
Sasuke berjalan menghampiri pedang patah itu dan mengambilnya. Ia mengeluarkan jurus dasar Fire Abillity-nya hingga bongkahan es itu mencair. Pedang itu memiliki gagang perak dan sarung pedang yang terbuat dari kulit putih. Pada gagang pedang tersebut terdapat ukiran simbol Uchiha Clan. Sasuke membolak-balik pedang tersebut, tertulis pada ujung pedang itu susunan huruf kanji 'Madara Uchiha'.
"Kurasa... naga putih ini telah dibunuh oleh Madara Uchiha ratusan tahun silam," jelasnya.
"Menurut Kiba, Northern White Dragon adalah salah satu naga yang hidup diberbagai tempat di Mountain range at the Edge, yang mana melingkupi seluruh dunia, melindungi manusia dari serangan pasukan kegelapan, pelindung terkuat dunia..."
"..."
"..."
"Sebenarnya sekuat apa Madara Uchiha itu? Makhluk macam apa yang mampu membunuh sesuatu semacam ini? Sekarang aku mengerti, kenapa para monster itu bisa mengacau di dunia manusia."
"Dari mana Kiba tahu cerita semacam itu, Naruto?" tanya Sakura.
"Kiba bilang saat ia masih kecil ayahnya sering bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang naga putih itu. Aku yakin naga inilah yang dimaksud dengan Northern White Dragon."
"Menyenangkan sekali menjadi keturan murni... bisa tahu banyak hal, aku jadi iri," ucap Sakura pula.
"Aku semakin kedinginan, kurasa sebaiknya kita segera pergi dari sini!" saran Sasuke.
"Itu kan salahmu sendiri, teme! Kenapa kau tidak memakai seragam Konoha Academy pada misi kali ini? Kau cuma memakai celana pendek, kaos berlengan pendek, dan juga jubah saja."
"Ibuku mencuci semua seragamku karena dia pikir aku sedang libur sekolah. Dia tidak tahu kalau setiap ada misi, kita juga disarankan untuk memakai seragam."
Naruto mengangguk mengerti. Melangkah beberapa langkah, ia berhenti di depan sisa-sisa sang naga dan dengan lembut meletakkan kembali cakar tadi ke gunungan tulang belulang.
"Err... Sasuke-kun, sebelum kita pergi dari sini, boleh tidak aku ambil beberapa es?"
"Terserah," jawabnya.
"Biar aku yang ambilkan, Sakura-chan."
Setelah ia berkata begitu, Naruto berjalan mendekat ke arah bongkahan es, dan menendang sebongkah kristal es kecil yang menonjol ke atas dari dasar bongkahan es layaknya tunas yang baru tumbuh. Ia pun mengambil bongkahan yang telah patah itu sebelum menyerahkannya pada Sakura, yang membuka keranjang rotan berisi beberapa buah-buahan dan memasukkan es tadi ke dalamnya.
"Kurang banyak," protes Sakura.
"Baiklah, akan aku ambilkan yang lain," kata Naruto yang kemudian mengulangi tindakannya. Hanya dalam beberapa menit, keranjang rotan besar itu telah penuh, terisi dengan kristal-kristal es yang nampak seperti permata biru transparan.
Sakura mengumpulkan kekuatannya untuk mengangkat keranjang rotan tadi sambil melihat sekelompok cahaya diantara lengannya.
"Indahnya... seperti matamu," gumam Sakura pelan.
"Eh? Kau bilang apa, Sakura-chan?"
"Dia bilang, sia-sia saja membawa ini semua pulang dan membiarkan mereka semua mencair," jawab Sasuke cepat.
'Menyebalkan! Kalau si dobe itu mendengar apa yang digumamkan Sakura tadi, bisa-bisa aku menjadi kambing conge untuk yang kesekian kalinya,' pikir Sasuke.
"Oh, tapi rasanya gumaman Sakura-chan tadi lebih pendek deh," ucap Naruto dengan tampang blo'on-nya.
"Terserahlah."
"Naruto?" kata Sakura dengan tampang imutnya,
"Ada apa Sakura-chan?" tanya Naruto dengan wajah blushing.
Tiba-tiba saja Sakura menyerahkan keranjang itu padanya. Diam-diam Sasuke menertawakannya.
"EH? Jadi aku juga yang harus membawakan keranjang ini sepanjang misi dan perjalanan pulang?"
"Bukanya sudah jelas? Lagipula itu terlalu berat untukku."
Naruto pun menghela nafas panjang. Apa boleh buat, dia tidak ingin adu mulut dengan Sakura.
Setelah puas menertawakan Naruto, Sasuke memperhatikan sekelilingnya. Ia melihat sebuah jalan keluar kecil yang terlihat dari salah satu sisi danau es yang luas ini. Lalu kalau dilihat-lihat di sisi seberangnya ada jalan keluar yang lain. Kemudian ia menjatuhkan bahunya sebelum angkat bicara,
"Hei, tadi kita masuk lewat jalan yang mana? Kita harus secepatnya pergi ke batas dunia, bukan?"
Naruto dan Sakura tampak berpikir. Andai saja ada bekas jejak kaki, sayangnya tidak ada satu pun bekas pijakan pada permukaan es yang mulus itu; sisi dimana air danau ini mengalir pastilah jalan keluar untuk pulang...sayangnya, ia mengalir menuju kedua jalan keluar itu; mungkin arah dimana kerangka itu melihat adalah jalan keluar menuju Konoha Academy...sayangnya naga itu tak melihat ke arah keduanya. Setelah semua opsi-opsi tadi terbuang sia-sia, akhirnya Naruto menujuk ke arah yang ia percaya adalah jalan menuju batas dunia, namun Sakura malah menunjuk ke arah yang satunya.
"Kalian ini, jadi kita harus lewat mana?"
Naruto mengangkat bahu. Sakura tersenyum ke arah Sasuke,
"Terserah Sasuke-kun aja deh," ujarnya.
"Baiklah, sudah diputuskan, ayo kita cek ke sisi yang itu. Menurutku itu jalan yang benar," katanya sambil menunjuk arah yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Sakura.
"Teme, menurutku yang benar adalah yang itu!" gerutu Naruto yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Sasuke.
"Ayo cepat!" kata Sasuke menggunakan tangan kirinya untuk mendorong punggung Naruto yang masih menggerutu karena ia lebih memilih arah yang telah ditunjuk oleh Sakura. Sementara tangan kanannya masih memegang rumput tinggi-tinggi, ia melangkah ke dalam kanal di depannya.
Ketiganya kembali berjalan beriringan dengan Sasuke di depan, Sakura di tengah, dan Naruto di belakang seperti sebelumnya. Sakura mulai mengeluh lelah saat menyadari mereka tidak juga sampai di jalan keluar. Ia juga mulai mengantuk.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya yang kemudian melirik jam tangannya.
"Sasuke-kun, menurutmu ini sudah jam 10 malam atau jam 10 pagi?" tanyanya.
Sasuke melirik jam tangannya. Jarum jam tersebut menunjuk angka 9 lebih 55 menit.
"Sudah jelas, kan? Kupikir ini jam 10 malam, mana mungkin sudah pagi lagi."
"Kalau begitu, ayo kita makan malam. Lalu setelah itu tidur sebentar," saran Sakura.
"Hn. Aku tarik kata-kataku tadi, aku akan menggunakan Fire Abillity-ku untuk membuat tubuh kita tetap hangat," ujarnya yang kemudian mengeluarkan api dari telapak tangannya.
Sakura mengambil keranjang rotan dari tangan Naruto, lalu membagikan makanan pada Naruto dan Sasuke. Masing-masing dari mereka mendapat 3 buah apel. Kalau dia sih satu buah pier saja sudah cukup, maklum sedang diet. Selesai makan Sakura menyenderkan kepalanya ke bahu Naruto. Saat itu juga ia mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Naruto.
"Kau demam lagi, ya? Bahumu terasa panas padahal gua ini kan sangat dingin?"
"Bukanya lebih tepat, jika kau bilang kau merasa lebih hangat setelah bersandar di bahunya?" ujar Sasuke malas.
"Aku serius, Sasuke-kun!"
"Aku tidak apa-apa, Sakura-chan."
Karena rumput tadi semakin tidak bisa diandalkan gara-gara sinarnya yang semakin meredup, Sasuke pun mengaktifkan sharingan-nya. Sakura benar. Bohong kalau Naruto bilang kalau dia baik-baik saja. Kenyataannya chakra bocah itu mengalir dengan tidak teratur.
'Itu chakra Kyuubi yang bercampur dengan chakra miliknya. Sudah kuduga dia berbohong, nampaknya chakra Kyuubi juga tidak bisa melenyapkan racun itu.'
"Efek racun itu kambuh lagi, bukan?" tanyanya.
"Bicara apa kau?"
"Berhentilah berakting! Kau bukan seorang aktor!" bentaknya.
"Naruto?"
Walau tak bisa melihat wajah Sasuke dan Sakura dengan jelas. Ia bisa membayangkan pasti saat ini wajah kedua sahabatnya itu menggambarkan kekhawatiran yang teramat sangat. Sasuke telah menggunakan sharingan. Berbohong akan sia-sia saja. Ia meringis saat merasakan kepalanya semakin terasa pusing. Seluruh tubuhnya juga tiba-tiba saja terasa sakit. Yang lebih parah, kali ini bukan hanya salah satu tangannya yang mati rasa, tetapi tangan yang satunya juga.
"Uhuk! Uhuk!"
"Naruto?"
"Dobe, kau baik-baik saja?"
'Rasa ini? Tidak salah lagi... ini rasa darah. Aku...'
"Gawat, dia muntah darah."
"Kau bilang apa, Sasuke-kun?" nada bicara Sakura kali ini terdengar sangat panik.
"Gomen, aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Lagipula kalian tidak perlu khawatir, besok aku pasti akan baik-baik saja. Benar kan, Kurama?"
"Ya. Apa kau menyadari sesuatu? Tidakkah menurutmu racun itu sangat aneh?"
"Kau benar? Kenapa aku baru sadar?"
"Apa yang kau katakan, dobe?"
"Racun itu selalu kambuh setiap tiga hari sekali, tetapi tiga hari berikutnya, efeknya lebih parah dari tiga hari sebelumnya. Tiga hari yang lalu aku tidak sampai muntah darah seperti ini."
"Jika begitu, ada kemungkinan tiga hari berikutnya kau akan mati?"
"Sasuke-kun!"
"Lupakan. Sebaiknya kita tidur!"
"...tapi Naruto?"
"Tidurlah, Sakura-chan!"
.
.
"Ah, aku mendengar suara angin," gumam Sakura.
Sasuke mendengarkan dengan seksama. Ia tersadar bahwa suara ini mirip dengan suara puncak pohon yang dipermainkan oleh angin.
"Kurasa, pintu keluarnya sudah dekat. Syukurlah kita mengambil jalan yang ini, ayo cepat!" kata Sasuke yang mulai berlari-lari kecil. Dibelakangnya Sakura dan Naruto mempercepat langkah kaki mereka.
'Kuharap ini memang jalan yang benar,' sementara Sasuke memikirkan hal tersebut, sebuah cahaya kecil dalam kegelapan muncul di depan.
"Pintu keluar!" teriak Sakura.
Ketiganya semakin mempercepat langkah mereka sebelum akhirnya berhenti saat tersadar bahwa gua ini tepat berujung di sini.
"Batas dunia? Inikah batas dunia itu?" tanya Naruto.
Di depan matanya adalah dunia yang tidak dikenalinya. Seluruh langitnya berwarna merah tua, tetapi warna ini bukanlah semburat warna matahari tenggelam. Matahari tidak tampak dimana pun. Hanya ada kekusaman, warna merah tua pucat yang menyebar dan terlintas di matanya.
Tanahnya hitam. Di sisi lain terdapat gunung curam aneh yang menitik di depan pegunungan berbatu yang bentuknya aneh pula. Permukaan air yang dapat terlihat disana sini tercemar dengan warna hitam oleh sesuatu yang mengingatkannya pada abu. Di sekelilingnya banyak sekali pohon-pohon yang telah mati. Tidak ada daun. Hanya ada batang dan ranting-ranting yang berwarna hitam kelam.
Angin yang bertiup kencang seolah ingin merobek-robek apapun menjadi kecil-kecil. Sama sekali tidak terasa segar, justru sebaliknya hembusan angin ini terasa panas.
"Tempat apa ini?" Sakura mulai gemetar ketakutan saat matanya menangkap tumpukan tulang belulang manusia. Tangan kiri Sakura mencengkram lengan Naruto yang masih terasa panas walau terbalut dengan seragam Konoha Academy erat-erat.
Saat itulah suara benturan logam keras bergema dari atas, membuat tubuh Sakura bergetar kaget hingga ia menjatuhkan keranjang rotan yang semula masih dipegangnya. Seluruh isi keranjang rotan itu pun berserakan di tanah. Sasuke dan Naruto mendongak ke atas langit merah dengan reflek.
Di dalam latar yang berwarna merah darah, mereka bisa melihat sesuatu berwarna putih melilit sesuatu berwarna hitam... karena mereka terbang pada ketinggian yang menakutkan, mereka terlihat bak bintik kecil mungil. Sasuke memfokuskan mata sharingan-nya yang masih aktif ke arah kedua makhluk itu.
"Mereka adalah seorang Angel bersayap hitam dan juga seorang Angel bersayap putih. Keduanya sedang bertarung habis-habisan," bisik Sasuke dengan suara parau.
Sakura heran karena saat ini wajah Sasuke terlihat hampir sama pucatnya dengan Naruto. Tapi ia yakin Sasuke sama sekali tidak pernah keracunan. Lantas apa yang membuat wajahnya berubah pucat?
"Kenapa wajahmu pucat, Sasuke-kun?"
"Salah satu diantara mereka... aku yakin dia adalah ayahku."
Tepat saat itu Sakura dan Naruto merasakan ada sesuatu yang melilit kaki mereka. Ular putih. Saking kagetnya, keduanya kehilangan keseimbangan dan terjatuh sebelum akhirnya, Sakura merasakan ular besar itu menggigit kakinya dan matanya berkunang-kunang.
"Sakura-chan?"
Ular putih itu berhasil dibakar oleh amaterasu Sasuke sebelum sempat kabur. Naruto tampak panik,
"Jangan khawatir, untuk berjaga-jaga aku membawa beberapa obat penawar racun pemberian Tsunade-sama," kata Sasuke yang segera mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil dari saku celananya dan meminumkan obat penawar tersebut pada Sakura yang masih dalam keadaan setengah sadar.
"Apa yang kalian lakukan disini, manusia?" terdengar suara berat seseorang. Dari balik pohon besar yang telah mati muncul sekelompok makhluk yang terlihat humanoid tapi jelas-jelas itu bukan manusia maupun hewan liar, dan jumlah mereka ada lebih dari 30.
Tiap-tiap dari mereka, semuanya memiliki tubuh tidak terlalu tinggi. Tubuh mereka sedikit bungkuk namun lebih berotot, khususnya bagian lengannya yang terlihat aneh dan tangan yang memiliki cakar tajam di ujungnya yang nampaknya sanggup untuk merobek-robek apapun. Perut mereka buncit. Mereka mengenakan armor kulit ringan, dan pada pinggang mereka terdapat sesuatu seperti bulu-bulu, tulang belulang, dan kantung kecil yang mengeluarkan bunyi-bunyian. Juga—walaupun mereka nampak biasa-biasa saja, Sasuke bisa merasakan kekuatan dari senjata buatan mereka.
Kulit mereka hijau keabu-abuan, dan mereka mempunyai bulu-bulu tipis yang tumbuh di tubuh mereka. Mereka semua botak plontos, tanpa terkecuali, dan mereka hanya menumbuhkan rambut di samping telinga tajam dan berujung runcing mereka, seperti kabel. Mereka tidak memiliki alis dan dibawah jidat mereka yang menonjol terdapat mata besar yang tak cocok dengan tubuh mereka, semuanya berwarna kuning korosif. Mereka sangat sangat abnormal «Goblins».
"Naruto, kau bisa bertarung?"
"Kedua tanganku masih tidak bisa aku gerakkan, tapi aku pasti akan membantumu."
"Bagaimana kau bisa membantu Sasuke-kun tanpa menggunakan kedua tanganmu?" tanya Sakura dengan suara lirih. Nampaknya gadis itu sudah mulai mendapatkan kesadarannya kembali walau tubuhnya masih terasa lemah.
"Aku masih punya kaki."
'Sepertinya kau tidak tahu, semakin kau memaksakan dirimu untuk bergerak, tubuhmu akan terasa semakin sakit,' ujar sosok pemuda berambut putih dan berkacamata yang entah muncul dari mana. Sosok itu bersembunyi di balik sebuah pohon besar lalu menengadah ke atas,
"Orochimaru-sama, jangan buang-buang waktu lagi, cepat habisi Uchiha itu," gumamnya.
.
.
_TBC_
.
.
Gomen ne, karena reviewnya kebanyakan dikarenakan saya anggurin fict ini lama sekali, kali ini saya nggak bisa balas review kalian, tetapi semua review kalian udah saya baca, kok. Ah, ada satu yang akan saya balas, pada chapter sebelumnya ada yang bertanya "Kenapa nama-nama jurusnya ada yang menggunakan bahasa indonesia dan bahasa Jepang seperti di animenya?" Err... itu karena jurus yang menggunakan bahasa indonesia itu, saya nggak tahu bahasa Jepangnya apa, hehe.
Yosh! Chapter kali ini terinspirasi dari Light Novel Swort Art Online yang jilid 9. Lalusoal trik pembunuhan Kushina, saya terinspirasi dari Korean Drama 'I MISS YOU'. Okay, REVIEW PLEASE and NO FLAME! Arigatou. ^^
