Hello, minna-san? Apa kabar semuanya? :D

Gomen ne karena saya sudah terlalu lama bikin fict ini HIATUS! Yep, chapter kali ini masih terinspirasi dari 'Sword Art Online jilid 9'. Oh iya, kalau misalkan kalian udah pada lupa dengan jalan cerita di chapter-chapter sebelumnya, karena saya kelamaan update, kalian boleh kok baca fict ini dari awal lagi, *#minna: enak aja, capek tahu!* hahaha. Okay, happy reading, minna! ^^

.

.

Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me

Tittle : Konoha Academy

Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.

Rate : K+ (maybe bisa menjadi T sewaktu-waktu)

Pairing : NaruSaku, etc.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.

.

.

Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')

.

.

I just wanna say, if you don't like?! Don't read! Don't flame too! Just go back. Thanks.

.

.

Chapter 7 : Tim 7 Vs Goblins

.

.

I don't fear being hurt. I will happily accept death, if I can protect my friends—Uzumaki Naruto—

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Previous Story :

Tim 7 mendapatkan sebuah misi untuk pergi ke batas dunia. Disana Sasuke mendapati ayahnya tengah bertarung habis-habisan dengan seorang Angel bersayap hitam—Si pengkhianat Orochimaru— dan diwaktu bersamaan, para goblin menemukan keberadaan mereka. Sasuke merasa frustasi karena saat ini tim mereka lemah, mengingat Kakashi-sensei tidak ikut serta dalam misi kali ini dan Naruto terkena racun mematikan, yang kini telah berhasil membuat kedua tangan Naruto lumpuh, hingga ia tidak bisa menggunakan Wind Ability-nya ataupun menggunakan skill pedang. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

.

"Apa yang kalian lakukan disini, manusia?" terdengar suara berat seseorang. Dari balik pohon besar yang telah mati muncul sekelompok makhluk yang terlihat humanoid tapi jelas-jelas itu bukan manusia maupun hewan liar, dan jumlah mereka ada lebih dari 30.

Tiap-tiap dari mereka, semuanya memiliki tubuh tidak terlalu tinggi. Tubuh mereka sedikit bungkuk namun lebih berotot, khususnya bagian lengannya yang terlihat aneh dan tangan yang memiliki cakar tajam diujungnya yang nampaknya sanggup untuk merobek-robek apapun. Perut mereka buncit. Mereka mengenakan armor kulit ringan, dan pada pinggang mereka terdapat sesuatu seperti bulu-bulu, tulang belulang, dan kantung kecil yang mengeluarkan bunyi-bunyian. Juga—walaupun mereka nampak biasa-biasa saja, Sasuke bisa merasakan kekuatan dari senjata buatan mereka.

Kulit mereka hijau keabu-abuan, dan mereka mempunyai bulu-bulu tipis yang tumbuh di tubuh mereka. Mereka semua botak plontos, tanpa terkecuali, dan mereka hanya menumbuhkan rambut disamping telinga tajam dan berujung runcing mereka, seperti kabel. Mereka tidak memiliki alis dan dibawah jidat mereka yang menonjol terdapat mata besar yang tak cocok dengan tubuh mereka, semuanya berwarna kuning korosif. Mereka sangat sangat abnormal «Goblins».

"Naruto, kau bisa bertarung?"

"Kedua tanganku masih tidak bisa aku gerakkan, tapi aku pasti akan membantumu."

"Bagaimana kau bisa membantu Sasuke-kun tanpa menggunakan kedua tanganmu?" tanya Sakura dengan suara lirih. Nampaknya gadis itu sudah mulai mendapatkan kesadarannya kembali walau tubuhnya masih terasa lemah.

"Aku masih punya kaki."

'Sepertinya kau tidak tahu, semakin kau memaksakan dirimu untuk bergerak, tubuhmu akan terasa semakin sakit,' ujar sosok pemuda berambut putih dan berkacamata yang entah muncul dari mana. Sosok itu bersembunyi di balik sebuah pohon besar lalu menengadah ke atas,

"Orochimaru-sama, jangan buang-buang waktu lagi, cepat habisi Uchiha itu." gumamnya.

.

.

"Oi, lihat! Sepertinya mereka bertiga enak, bagaimana kalau kita makan saja?" usul salah satu goblin dengan tampang laparnya.

"Usul yang bagus, kebetulan perutku sudah keroncongan!" sambung yang lain. Mereka semua pun tetawa terbahak-bahak.

Bersamaan dengan itu, suara ribut datang dari segala penjuru. Dipimpin yang paling dekat, para goblin yang lain mengangkat senjata mereka dan berdiri, mengeluarkan sebuah tatapan lapar.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN? HARUSNYA KITA BAWA MEREKA KE TEMPAT OROCHIMARU-SAMA!?"

Pada saat itu juga, sebuah teriakan terdengar dari belakang, dan semua goblin berhenti tertawa. Diantara para monster-monster ini, ada goblin yang tingginya dua kali goblin lainnya, ia terlihat dari kelas perwira.

Goblin ini membawa sebuah kampak besar, di dahinya ada sebuah hiasan bulu berwarna hitam. Mata yang memiliki semburat merah dibawah bulu itu mengeluarkan intelegensi jahat dan tatapan sedingin es yang luar biasa dan mampu membuat seseorang pingsan. Salah satu goblin menyeringai dan menunjukkan gigi kuning berantakannya, sebelum berkata dengan nada serak.

"Kita tak akan memperoleh banyak keuntungan bahkan jika kita membawa mereka ke tempat Orochimaru-sama. Kita bunuh saja mereka bertiga dan jadikan santapan."

'Bunuh...' pikir Sasuke.

'Sampai sejauh mana aku harus menerima keadaan ini? Aku tak habis pikir. Aku takut. Mereka semua mengerikan.' kata Sakura dalam hati.

'Aku harus menyingkirkan pemikiran bahwa aku akan mati disini, tapi dengan kondisi fisikku yang sekarang. Aku tidak yakin, aku akan sanggup melawan mereka semua, tapi aku harus melindungi Sakura-chan, dan aku juga tidak ingin Sasuke kehilangan nyawanya karena keterbatasanku saat ini.' pikir Naruto.

Naruto menyela pemikiran itu dan fokus pada adegan di depannya.

Menuruti instruksi dari pemimpin goblin, delapan anak buahnya mengeluarkan senjata mereka sembari berjalan mendekati Naruto dan yang lainnya. Perlahan, dengan santai, mereka menunjukkan gigi mereka dan terkekeh-kekeh, kelihatan seperti mereka benar-benar berniat untuk membunuh Naruto dan yang lainnya. Goblin lainnya, yang totalnya lebih dari 20, menunjukkan ekspresi gembira, semuannya terkekeh-kekeh dengan senang.

Kalau begitu, yang harus mereka lakukan—

"Hanya ada satu pilihan."

Sasuke bergumam. Disebelahnya, Naruto mengangguk, dan Sakura berusaha untuk berdiri meskipun tubuhnya gemetaran.

'Aku harus melindungi kedua sahabatku, tak peduli apapun jadinya, bahkan jika aku harus mengorbankan hidupku sendiri.' pikir Naruto pula.

Naruto sadar, perbedaan dalam kekuatan tempur mereka dengan para goblin itu sangatlah besar. Sementara ketiga puluh goblin itu semua bersenjata dan memakai armor, mereka hanya mengenakan seragam Konoha Academy dan pakaian biasa, tapi meskipun begitu, mereka harus tetap maju.

"Naruto..."

"Mm?"

"Dengar, akan kuhitung sampai tiga, lalu kita akan hajar delapan dari mereka yang ada di depan untuk bisa menerobos mereka. Tinggi kita dan mereka berbeda, dan kita pasti akan sukses jika kita tidak takut. Aku akan tangani bagian kiri, kau tangani yang kanan, lalu aku akan menggunakan Fire Abiliity-ku. Segera setelah api berkobar, Sakura, kau ambil pedang Naruto dan tebas mereka sebanyak yang kau bisa. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menangani yang paling besar."

"Sasuke-kun, tapi aku belum pernah mengayunkan pedang sebelumnya."

"Itu sama halnya seperti mengayunkan pedang kayu. Bukankah Gai-sensei sudah pernah melatih kita tentang pertahanan diri?"

"Aku tidak yakin bisa melakukannya."

"Kalau Naruto bisa menggerakkan kedua tangannya. Sudah kusuruh dia yang melakukannya, tapi dengan tangannya yang tidak bisa bergerak seperti itu, dia bahkan tidak mampu untuk membuat segel tangan dan mengeluarkan Wind Ability-nya, untuk memperkuat Fire Ability-ku."

"Jangan khawatir Sakura-chan, aku pasti akan melindungimu."

"Baka! Saat ini justru kaulah yang harus kami lindungi. Tanpa tanganmu, kau sama halnya seperti manusia yang tidak berguna."

"Jaga bicaramu itu, teme! Salah satu dari manusia-manusia itu adalah ibumu!"

"Aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Ayo.. satu, dua, tiga!"

'Benar. Aku harus melindungi Naruto.' pikir Sakura yang langsung mengambil pedang milik Naruto dan segera berlari menyusul Sasuke dan Naruto yang sudah semakin dekat dengan para goblin itu.

"KYAAAAAA!" teriak Sakura mengerahkan seluruh tenaganya. Ia sedikit kesulitan karena pedang Naruto terasa agak berat baginya.

Sesuai strategi Sasuke, Sasuke pun menangani empat goblin dibagian kiri, dan Naruto menangani empat goblin dibagian kanan. Lalu setelah kedelapan goblin itu roboh, Sasuke mengeluarkan Fire Ability-nya. Setengah dari mereka semua hangus terbakar. Dan Sakura langsung menebaskan pedang Naruto pada beberapa goblin. Darah mereka yang berwarna hitam pekat, lengket, dan bau, mengotori seragam Sakura dan juga sebagian wajahnya. Rasanya Sakura ingin sekali muntah, namun Sakura menahannya. Ia terus berdoa agar keberuntungan ini tetap berlanjut sampai akhir, dan Sasuke meraung sekencang-kencangnya.

"KYAAAAHHHH! MATI KALIAN!"

'Kuso! Kenapa tubuhku terasa semakin sakit?' maki Naruto dalam hati. Ia mengutuk orang yang telah meracuninya.

Naruto memejamkan matanya. Berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan chakra istimewa miliknya. Chakra istimewa itu membuat rasa sakit di tubuhnya sedikit berkurang. Ia pun mengarahkan tendangan mautnya pada para goblin yang tersisa. Tendangan mautnya sukses dengan indah mengenai goblin-goblin itu, sehingga mereka berguling-guling ke samping seperti tempurung kura-kura yang menggelinding.

Sakura terus maju ke depan dan menebas goblin-goblin yang masih bertahan. Dan Sasuke telah sukses membakar para goblin yang sudah Sakura dan Naruto kalahkan hingga hangus. Saat itu juga, si pemimpin goblin yang nampaknya memiliki kecerdasan yang sedikit lebih tinggi daripada yang lainnya, berteriak penuh amarah,

"GWAAAH! KALIAN ANAK-ANAK NAKAL! KALIAN BERANI-BERANINYA MERENDAHKAN «LIZARD KILLER» MOCHI-SAMA INI!? "

"Sasuke-kun, hati-hati!" teriak Sakura, saat ia melihat pemimpin goblin itu telah berlari cepat menuju ke arah Sasuke.

"Sakura-chan, fokus! Cepat hajar yang satu itu!" teriak Naruto, saat ia melihat seorang goblin hampir melukai Sakura dengan golok besarnya.

Untungnya Sakura jauh lebih cepat. Gadis itu berhasil menebas kepala si goblin, hingga akhirnya kepala goblin itu menggelinding dan tercebur ke dalam danau.

Si pemimpin goblin memelototi Sasuke dan semakin mendekat ke arahnya sambil berteriak, melempar kapaknya, lalu menghunuskan machete besar dari pinggangnya dengan tangan kanannya. Pedang hitam legam bernodakan darah yang nampaknya menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tak terawat, memberikan sebuah tekanan yang abnormal.

'Bisakah Sasuke mengalahkannya—!?'

Menghadapi musuh yang tak begitu tinggi, namun lebih berat dan kekar daripada Sasuke, membuat Naruto langsung panik. Akan tetapi, Sasuke terus bergerak maju.

"AKU TAK ADA NIAT MENGHADAPIMU, BREGSEK! AKU AKAN MENAKLUKKANMU!"

Sasuke berteriak, sebagian ia tujukan pada si pemimpin dan sebagiannya lagi ia tujukan pada dirinya sendiri sembari terus berlari melewati jarak yang tersisa. Sasuke mengambil pedang di punggungnya, dan kaki kirinya mengambil sebuah langkah besar ke depan, menggunakan pedang itu untuk menebas bahu kanan musuh secara diagonal.

Sasuke tak meremahkan musuh, tapi reaksi dari si pemimpin goblin benar-benar jauh dari apa yang ia bayangkan. Goblin itu mengabaikan pola serangannya dan mengayunkan machetenya secara horizontal. Sasuke tetap menunduk dan berusaha untuk menghindari serangan goblin itu. Sasuke merasa beberapa helai rambutnya terkena serangan itu karena ia rasa sepertinya rambutnya ada yang rontok. Pedangnya mengenai sasaran, namun hanya bisa menggores armor bahu logam sang pemimpin.

Naruto kembali sibuk melawan goblin yang tersisa, begitu juga dengan Sakura. Keringat sudah membanjiri wajah cantik Sakura, dan dari suara nafasnya terdengar bahwa stamina Sakura sudah semakin berkurang. Tak ingin Sakura menemui ajalnya, Naruto semakin brutal melawan beberapa goblin di depannya, lalu berlari cepat menghampiri Sakura. Sebuah pedang hitam hampir saja menebas dada Sakura, namun Naruto langsung menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Sebagai akibatnya, dadanya yang akhirnya tertebas. Seragam sekolahnya robek, dan dari bekas luka memanjang itu mengalir darah segar. Naruto pun collapsed tepat di depan mata Sakura.

"NARUTOOO! BRENGSEK KAU GOBLIN SIALAN!" teriak Sakura yang kemudian mengerahkan tenaganya yang tersisa. Ia pun menusuk kerongkongan goblin itu dengan pedang Naruto. Darah hitam pekat menyembur tanpa henti dari leher si goblin dan mengotori seragam serta sebagian wajah Sakura.

Sakura sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia lekas mengeluarkan Healing Ability-nya untuk menyembuhkan luka Naruto. Syukurlah, luka di dada Naruto tidak terlalu dalam. Dengan chakranya yang tersisa ia berhasil menyembuhkan luka Naruto, bahkan bekas luka memanjang di dada Naruto tersebut telah lenyap. Sakura terus memeluk tubuh Naruto sambil menangis. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Para goblin itu sudah mati semua. Hanya tinggal tersisa si pemimpin goblin yang saat ini masih sibuk melawan Sasuke. Sakura kembali memfokuskan perhatiannya pada Naruto. Dan Sakura tersenyum saat Naruto mendapatkan kesadarannya kembali.

"Naruto, kupikir kau akan mati!" teriak Sakura.

"Jangan khawatir aku tidak akan mati semudah itu, Sakura-chan." kata Naruto. Naruto yang masih berbaring di pangkuan Sakura, berusaha untuk kembali berdiri, dan Sakura pun membantunya.

"Sasuke sepertinya kesulitan. Ayo kita bantu dia, Sakura-chan!" ujar Naruto.

"Hmm." kata Sakura.

Tiba-tiba saja Naruto terbatuk dan memuntahkan darah segar. Genangan darah di tanah itu membuat Sakura semakin cemas. Sakura pun menggeleng, lalu menghapus noda darah di sekitar mulut Naruto dengan telapak tangannya.

"Kuso! Racun itu... lagi-lagi membuatku kerepotan!" maki Naruto nampak begitu kesal.

"Kumohon, jangan paksakan tubuhmu, Sasuke-kun pasti bisa mengalahkan goblin itu sendiri!"

'Aku akan tertelan oleh kekuatan serangannya jika aku berhenti.' pikir Sasuke.

Sasuke tetap menunduk dan bergerak ke samping musuh, mengincar bagian sisi perutnya yang terbuka sebelum mengayunkan serangan horizontal. Kali ini pun sama saja. Ia hanya sanggup mengenai armor musuhnya.

'Sial, jika aku menggunakan segel tangan untuk mengeluarkan jurus api andalanku... aku mungkin akan lebih dulu dihabisi olehnya. Dia sangat cepat. Sial, disaat seperti ini kenapa hanya serangan pedang yang bisa aku lakukan?!'

Saat si goblin sedang memulihkan diri dari keadaan kakunya, Sasuke mengambil sebuah langkah besar ke depan dan meluncurkan serangan balik. Tubuhnya mulai bergerak dengan sendirinya dengan sikap setengah otomatis seolah-olah sedang bergerak dalam sebuah gerakan yang sudah pernah dilakukan secara berulang-ulang, atau dengan kata lain, teknik mematikan yang disebut «Sword Skills».

Saat itu juga, sebuah fenomena yang belum pernah ia alami sebelumnya terjadi. Pedangnya mengeluarkan api berwarna biru. Bersamaan dengan itu, tubuhnya melesat dalam kecepatan yang jauh melebihi kecepatan fisik Lee. Hal ini layaknya ada seseorang sedang mendorongnya dengan tangan tak terlihatnya dari belakang.

'Siapa kau?' tanya Sasuke dalam hati.

Serangan pertamanya yang datang dengan sebuah ayunan ke atas dari posisi kanan bawah, menyerempet kaki kiri musuh dan menghentikan pergerakannya.

Serangan keduanya yang berayun dari kiri ke kanan secara horizontal memotong pelindung dada armor itu dan membuat sebuah luka ringan pada daging didalamnya.

Serangan ketiganya yang dengan cepat berayun ke bawah dari kanan atas membabat habis lengan kiri musuh yang terangkat untuk mempertahankan dirinya dari bagian sedikit dibawah siku.

Darah segar yang keluar dari permukaan lengan yang terpotong itu terlihat berwarna hitam pekat dibawah sinar kebiruan ini. Lengan kiri si goblin yang terbang jatuh ke dalam danau di samping kirinya, mengeluarkan efek suara benda berat tercebur.

'Aku menang!'

Si pemimpin goblin yang tangan kirinya terpotong tadi memandang Sasuke dengan kebencian luar biasa yang tampak jelas dari sorot matanya. Darah hitam pekat mengalir keluar dari lukanya bersamaan dengan sebuah teriakan seperti kepanasan.

"GWAAAH! PANAAASS!

Ia semakin marah pada Sasuke, dan dengan cepat ia mengayunkan machete di tangan kanannya. Sasuke tak mampu menghindari bilah pedang berat yang datang secara horizontal itu dengan tepat waktu. Area didekat ujung machetenya menyerempet bahu kirinya, dan tekanan kekuatannya saja mampu membuatnya terpental lebih dari 2 meter, sementara punggungnya mendarat keras di permukaan tanah.

Saat itu juga, si pemimpin goblin akhirnya membungkukkan badannya dan meletakkan machete itu dimulutnya sembari menggunakan tangan kanannya untuk memegangi tangan kirinya yang terbabat tadi. Sebuah suara mengerikan dapat terdengar. Si pemimpin goblin dengan paksa melumatkan dagingnya untuk menghentikan pendarahan.

"Sasuke! Apa kau kena?" teriak Naruto yang lantas berlari cepat ke arahnya tanpa mempedulikan teriakan Sakura yang mencegah tindakan bodohnya.

"Narutoo! Apa yang mau kau lakukan, baka!"

Sasuke ingin bilang 'Ini hanya luka gores', tapi lidahnya kelu, tak mampu bergerak seperti yang ia pikirkan seraya ia mengangguk disertai sebuah suara yang gemetaran. Sembari menggunakan satu tangan untuk menopang tubuhnya di atas permukaan tanah, Sasuke berdiri. Sebuah perasaan terbakar menyeruak dari bahu kirinya, rasa-rasanya hal itu sepertinya akan membakar seluruh syarafnya. Percikan-percikan api muncul di bidang pandangnya. Sasuke tak dapat berbuat apa-apa selain berteriak di dalam hati.

'Perih— Perihnya luar biasa!'

Perihnya melebihi ambang batas rasa sakit yang mampu ia tahan. Sasuke tak bisa berbuat apa-apa kecuali meringkukkan tubuhnya dan bernafas terengah-engah. Meskipun begitu, Sasuke tetap mencoba untuk melihat ke belakang agar bisa melihat bagian bahunya yang terluka. Pakaiannya sudah compang-camping dan memperlihatkan sebuah luka lebar dan parah di kulitnya. Itu lebih mirip seperti luka cabikan cakar raksasa daripada luka tebasan pedang. Kulit Sasuke dan daging di baliknya benar-benar tersayat-sayat sementara darah merah terus menerus menyembur darinya. Yang tersisa dari tangan kirinya adalah perasaan mati rasa yang panas sementara ujung-ujung jarinya tak bisa digerakkan, seolah-olah mereka bukan miliknya.

Di ujung penglihatannya yang agak buram oleh air mata, Mochi—Si pemimpin goblin— menghentikan pendarahan ditangan kirinya yang terpotong dan dalam diam ia melihat Sasuke. Matanya melayangkan sebuah tatapan penuh rasa dendam, sementara udara di sekitarnya nampak seperti bergemuruh. Ia mengembalikan machete yang dia gigit ke dalam genggaman tangan kanannya dan mengayunkannya.

"Sungguh sebuah penghinaan, kau tak akan pernah cukup membayar semua ini bahkan jika aku memotongmu kecil-kecil dan melahapmu hidup-hidup, ayo kita lakukan!"

Mochi memutar-mutar machete di atas kepalanya dan perlahan-lahan mendekat. Sasuke melihat sosok Naruto yang sudah semakin dekat dari tempatnya, disusul Sakura di belakangnya. Otaknya berpikir bahwa ia harus berdiri, berdiri untuk betarung, tapi tubuhnya tak sanggup bergerak.

Langkah-langkah kaki yang berat tiba-tiba berhenti di depan. Udara bergemuruh, dan Sasuke merasakan bilah pedang besar itu sedang diangkat. Sudah terlambat baginya untuk menghindar maupun membalasnya. Sasuke menggertakkan giginya dan menunggu momen-momen dimana ia akan segera terbebas dari dunia ini.

Akan tetapi, setelah sekian lama, bilah pedang itu tak pernah turun, apa yang menggantikannya adalah suara langkah kaki yang semakin mendekat dan kemudian, sebuah suara yang familiar berteriak,

"NARUTOOO, AWAAASSI!"

Sasuke membelalakkan matanya dalam keterkejutan saat ia melihat Naruto melompat ke depannya untuk menjauhkan Mochi darinya. Dia terus menerus mengayunkan kakinya dan memaksa musuh untuk mundur dua, tiga langkah.

Si goblin terkejut pada awalnya, namun ia segera mendapatkan kembali penguasaan dirinya, memegang machete dengan terampil hanya dengan satu tangan dan menangkis serangan Naruto. Seketika, Sasuke melupakan rasa sakitnya dan berteriak,

"HENTIKAN, DOBE! CEPAT LARI!"

Akan tetapi Naruto nampak tak peduli. Ia terus melawan Mochi sekuat tenaga, tapi sayangnya, pergerakannya terlalu sederhana. Mochi awalnya nampak seperti menikmati perlawanan dari mangsanya sembari terus bertahan dengan antusias.. dan kemudian, ia mengaum dan menggunakan kakinya untuk menendang kaki yang menyokong tubuh Naruto. Naruto pun kehilangan keseimbangannya dan terjegal, dengan entengnya Mochi mengangkat machetenya,

"HENTIKAAAAAAAAN—!"

Sebelum teriakan Sakura mencapai mereka, machete itu berayun secara horizontal. Naruto terkena tebasan di perutnya dan terpental karenanya, mendarat tepat disamping Sasuke dengan suara tumpul, Sasuke secara insting berbalik dan sebuah perasaan sakit yang tajam terjadi di bahu kirinya, terasa bagaikan sebuah sambaran kilat, tapi kali ini ia mengabaikan hal itu dan beringsut ke arah Naruto.

Luka Naruto jauh lebih serius daripada lukanya. Tubuh atasnya mendapat tebasan horizontal yang menganga, dan dari luka bergelombangnya menyembur banyak darah segar dengan kecepatan yang mengerikan. Dengan mata sharingan-nya, ia bisa melihat organ-organ yang bekerja tidak beres dapat terlihat dalam tubuh Naruto.

"OHOK!"

Dengan sebuah suara berat, mulut Naruto memuntahkan darah segar. Mata birunya kehilangan sinarnya saat mereka menatap Sasuke dengan tatapan hampa. Akan tetapi, Naruto tak pernah berhenti mencoba untuk berdiri. Dengan gemetaran, ia berhasil menggerakan tangannya yang sejak tadi tidak bisa ia gerakkan sama sekali, dan menggunakan tangannya itu untuk menopang dirinya bangkit dari tanah.

"Dobe... cukup…kau bisa mati…"

Sasuke tak bisa berbuat apa-apa selain berkata begitu. Sedangkan Sakura langsung pingsan setelah melihat kejadian mengerikan tadi. Sasuke mengutuk dirinya sendiri, rasa sakit di tubuh Naruto bukanlah hal yang sebanding dengan luka ditubuhnya. Itu jelas-jelas luka yang sebuah kesadaran normal takkan mampu menahannya. Di momen itu—mata yang kehilangan fokusnya itu melihat lurus ke arahnya, dan ia melontarkan kata-kata dari mulutnya yang bersimbah darah.

"Aku tidak takut terluka...A-aku a-akan bahagia menerima kematian…ji-jika aku bisa melindungi teman-temanku..."

"Cukup! Jangan bicara lagi, Naruto!"

"Se-sejak kita bertiga berada dalam satu tim... a-aku telah berjanji…a-aku...kau…dan Sakura-chan, kita akan bersama mulai dari hari kita masuk Konaha Academy...sampai kita meninggal nantinya...kali ini...a-aku pastinya harus… melindungi… Aku harus…"

Pada momen ini Naruto kehilangan kekuatannya. Sasuke segera mengulurkan tangannya untuk menangkap tubuh Naruto. Tepat ketika berat tubuh kekar Naruto tersalurkan padanya, ia kehilangan kesadarannya.

Sasuke tak bisa lagi merasakan rasa sakit di bahunya. Ia dengan lembut menurunkan Naruto yang tak sadarkan diri ke permukaan tanah. Ia lalu menjulurkan tangannya untuk menggenggam pangkal pedang lurus yang terjatuh di lantai. Sasuke lantas melihat ke atas dan mengayunkan pedang itu secara horizontal pada Mochi yang mengayunkan turun machetenya tepat pada waktunnya.

"UWAAA!"

Sang musuh mengaum kencang dalam keterkejutan seraya tubuhnya sedikit goyah. Sasuke menggunakan momentum itu sembari berdiri untuk menubruk perutnya. Si goblin kembali goyah dan mundur dua, tiga langkah. Sasuke mengacungkan pedang di tangan kanannnya ke titik pusat musuh, menghirup nafas pnjang, dan menghembuskannya.

Itu benar bahwa ia tak terbiasa dihadapkan pada rasa sakit karena luka fisik. Akan tetapi, ia tak ingin mengalami sebuah rasa sakit mutlak yang jauh melampaui itu. Luka seperti ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa sakit kehilangan seseorang yang penting. Rasa sakit dari kehilangan adalah satu-satunya hal yang takkan pernah lenyap, tak peduli bagaimanapun seseorang mencoba untuk memanipulasinya.

Mochi mengeluarkan raungan tanpa toleransi.

"Manusia…jangan sombong kau!"

"Sayangnya, aku bukan manusia. Aku adalah seorang Mid-Angel!"

Sasuke mengumpulkan kesadarannya ke ujung pedangnya, disaat Mochi terus menerus menyerang membabi buta. Bersamaan dengan suara senjata yang memekakkan telinga, segala sesuatu yang ada dalam bidang penglihatan Sasuke menghilang layaknya kilatan. Ini adalah perasaan berakselerasi yang telah lama ia lupakan, dimana semua syarafnya mulai terasa panas. Tidak—di dunia ini, hal itu pastinya bisa dibilang jiwanya sedang membara.

Sembari Sasuke mengahadapi machete yang berayun turun, ia mengambil satu langkah ke depan untuk menghidar dan menebasnya dari bagian kiri bawah, untuk membabat lengan kanan musuh dibagian dekat bahunya. Pedang besar yang berayun bersama dengan tangan raksasa itu berputar-putar di udara dan mendarat di tengah-tengah kerumunan goblin yang sudah mereka kalahkan.

Mochi yang telah kehilangan kedua tangannya, memperlihatkan kemarahan dan lebih banyak kekagetan dari mata kuningnya seraya ia mundur. Cairan hitam yang terus merembes keluar dari lukanya menetes ke permukaan tanah.

"Ba-bagaimana bisa aku yang hebat ini kalah dengan seorang manusia sepertimu…"

Tanpa menunggu suara terengah-engah itu selesai, Sasuke merengsek ke depan dengan semua hal yang ia punya.

"Bukan! SUDAH KUBILANG, AKU ADALAH MID-ANGEL, MOSTER SIALAN!"

Di waktu yang sama, Sasuke merasa ujung pedangnya menjadi jauh lebih tajam. Bilah pedang itu bersinar kembali, dan kali ini muncul sebentuk cahaya kuning bercampur biru. Sebuah tangan tak kasat mata mendorongnya dengan kuat dari belakang sembari ia mengeluarkan sword skill tusukan pedang satu tangan «Sonic Leap».

"...dengan begini semuanya selesai, tolong selamatkan puteraku!" bisik suara seseorang, yang Sasuke tidak tahu, suara siapa itu... sampai ia berpikir kalau saat ini, ia sedang berhalusinasi.

Disertai suara membelah udara yang akhirnya sampai ke telinga Sasuke, kepala raksasa Mochi telah melayang tinggi di udara. Kepala yang kelihatannya akan melambung lurus ke atas itu berbalik dan jatuh.

'Naruto, bertahanlah sebentar lagi.' Sasuke menggumamkannya jauh di dalam lubuk hatinya sambil menatap tajam ke arah para goblin yang sebagian besar dari mereka telah hangus karena Fire Ability-nya.

"NARUTO! BERTAHANLAH!"

Sasuke berteriak, namun wajah itu nampak semakin pucat. Sasuke dapat merasakan hembusan nafas kecil dari mulut Naruto yang sedikit terbuka, tapi kelihatannya nafas itu bisa berhenti kapan saja. Luka parah di perutnya masih saja mengeluarkan darah. Sasuke tahu bahwa ia harus menghentikannya, tapi ia tak tahu caranya.

"SAKURA! BAGUNLAH, SAKURAAA!" teriaknya.

Sasuke berlari ke arah Sakura. Lalu ia membopong tubuh mungil Sakura, menggeletakkannya disamping tubuh Naruto, dan segera mengecek keadaannya, untungnya di tubuh Sakura jelas-jelas tak ada luka-luka luar. Nafasnya juga jauh lebih teratur daripada Naruto. Sasuke memegang bahu yang terbalut seragam Konoha Academy itu dan mengguncang-guncangnya dengan tenaga seminimun mungkin.

"Sakura…Sakura! Bangun!"

Alis mata panjang Sakura langsung bergerak-gerak, dan mata hijau emerald itu terbuka dengan sekali kedipan. Nampaknya Sakura yang masih shock tak mampu mengenali Sasuke, sementara tenggorokannya mengeluarkan sebuah teriakan kecil.

"Jangan…jangaan!"

Sakura menggoyang-goyangkan tangannya dan mencoba mendorong Sasuke ke samping, dan Sasuke segera memeganginya sebelum ia kembali berteriak.

"Sakura ini aku! Sasuke! Jangan khawatir, para goblin itu sudah mati!"

Mendengar suara Sasuke, Sakura segera berhenti berteriak. Dia menjulurkan jari-jarinya dan dengan lembut menyentuh wajah Sasuke.

"Sasuke-kun…ini benar-benar dirimu kan, Sasuke-kun? Kau tidak mati?"

"Hn."

Suara hembusan nafas pelan dapat terdengar di samping telinga Sasuke, mengeluarkan isak tangis kekanak-kanakan—

"Ba-bagaimana dengan Naruto?"

"Maaf, dia terluka parah!"

Sakura langsung terdiam membeku. Sasuke pun memalingkan wajah Sakura ke arah Naruto.

"Cepat! Gunakan Healing Ability!"

Sakura mendengarkan perkataan Sasuke sembari ia menahan nafasnya dan berlutut sebelum dengan sangat hati-hati menjulurkan tangan kanannya. Ia menyentuh bagian luka Naruto yang dalam,

"Bertahanlah. Aku akan segera menyelamatkanmu. JANGAN MATI!"

Sakura mengeluarkan chakranya, namun chakranya tinggal sedikit. Tiba-tiba ia menarik tangannya kembali. Sesaat kemudian, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku tidak bisa…ini…luka semacam ini…healing ability-ku…tidak bisa…aku butuh bantuan Karin-sempai atau Tsunade-sensei."

Sembari menggunakan jari-jarinya untuk menyentuh wajah Naruto yang semakin pucat, wajah Sakura memucat.

"Kau bohong, kan… karena aku…Naruto…"

Air mata mengalir turun dari wajah Sakura, menetes dan mendarat di genangan darah di atas tanah. Ia menarik tangannya kembali untuk menutupi wajahnya, mengeluarkan sebuah isakan tangis.

"MENANGISLAH SETELAH KAU SEMBUHKAN NARUTO! TAK PEDULI BAGAIMANA PUN CARANYA, COBA SAJA! BUKANKAH KAU INGIN MENJADI PENERUS TSUNADE-SAMA, IYA KAN!?"

Bahu Sakura sedikit tersentak ke atas untuk sesaat, namun segera turun kembali dengan lemah.

"Aku…takkan bisa... aku belum bisa melampaui sensei…aku bahkan tak bisa menghafal mantra yang bisa dikuasai Karin-sempai dalam tiga hari, bahkan setelah sebulan mencobanya. Sekarang ini, apa yang mampu kusembuhkan hanyalah…luka yang tidak separah ini…terlebih lagi chakraku..."

"Naruto mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kita! Kumohon, jangan menyerah dulu, Sakura! Ingatlah mantranya!"

Bahu Sakura kembali tersentak, kali ini ia menangis lebih kencang daripada sebelumnya. Ia takut kehilangan Naruto. Dan ia tidak ingin kehilangan Naruto. Tiba-tiba, Sakura mengangkat wajahnya. Ekspresi takut dan ragu yang ia tunjukkan sebelumnya musnah tanpa bekas.

"Ini sudah terlalu telat untuk healing ability biasa. Kita hanya bisa mencoba healing ability dengan tingkat bahaya tinggi. Sasuke-kun, aku perlu bantuanmu."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Kemarikan tangan kirimu!"

Sasuke segera menjulurkan tangan kirinya, dan Sakura menggunakan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiri Sasuke erat-erat. Lalu, ia menggunakan tangan kirinya untuk menggengam tangan kanan Naruto, yang terbaring di permukaan tanah erat-erat.

"Mantra ini sangat beresiko. Jika healing ability ini gagal, kau dan aku, kita berdua akan mati. Bersiaplah."

"Kalau begitu biar kita saja yang mati—aku siap kapanpun kau siap!"

Sakura menatap lurus ke arah Sasuke dengan tatapan matanya yang teguh, menggangguk dan memejamkan matanya sebelum menghirup nafas dalam sekali.

"HEALING ABILITY..."

Suara kencangnya menggema.

"—Transfer (トランスファー・) human unit (ヒューマンユニット・) durability (デュラビリティ、) right (ライト・) to (トゥ・) left! (レフト)"

Suaranya bergema. Suara tajam itu terdengar semakain kencang—dan kemudian, sebuah pilar cahaya hijau muda muncul, dengan Sakura berada di tengahnya.

Sinarnya jauh lebih terang daripada sinar pedang Sasuke tadi, berpijar, sementara ia menerangi sekeliling mereka dengan cahaya hijau muda. Sasuke tak bisa apa-apa selain menyipitkan matanya, tapi itu terjadi hanya sejenak setelah tangan kirinya yang digenggam oleh Sakura tiba-tiba mendapat sebuah perasaan aneh mengelilinginya, yang membuatnya membuka matanya lebar-lebar.

Sasuke merasa seperti seluruh tubuhnya lenyap ke dalam cahaya yang seolah-olah itu mengalir dari tangan kirinya. Melihat dengan jelas, tubuhnya sesungguhnya sedang menciptakan banyak sekali bulatan-bulatan cahaya kecil, yang berpindah dari tangan kirinya ke tangan kanan Sakura. Ia melihat ke arah dimana cahaya itu bergerak maju, dan cahaya yang mengalir melalui tubuh Sakura itu, meningkatkan kemilaunya sebelum terserap ke dalam tangan kanan Naruto.

Pentransferan Durabilitas. Dengan kata lain, ini adalah healing ability terlarang yang mentransferkan life dari satu orang ke orang lainnya. Jika kau mempunyai mata sharingan seperti Sasuke, kau pasti akan tahu bahwa jumlah life Sakura dan Sasuke saat ini sedang menurun.

'Tak apa-apa. Ambil saja semuanya.' pikir Sasuke seraya meningkatkan kekuatan di tangan kirinya.

Sakura yang bertindak sebagai penyalur dan penguat energy, terlihat seakan-akan ia sedang merasa kesakitan juga. Sasuke menyadari kejamnya dunia ini sekali lagi, dan betapa mahalnya harga sebuah kehidupan itu. Rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Alasan mengapa manusia terus berusaha untuk bertahan hidup, meskipun sebenarnya mereka semua hanya makhluk yang lemah.

Seraya berlanjutnya pentransferan life, tubuh Sasuke terliputi dengan sebuah hawa dingin yang kuat. Sasuke menggunakan tatapan matanya yang berangsur-ansur memudar untuk mengamati Naruto. Lukanya terlihat sudah sangat mengecil daripada saat pelafalan mantra tadi dimulai, tapi luka itu belum sembuh sepenuhnya, darah yang mengucur keluar belum berhenti.

"Sa-sasuke-kun…a-apa kau masih baik-baik saja..?"

Sakura terengah-terengah kesakitan seraya ia berkata dengan kata yang putus-putus.

"Jangan khawatir… tinggal sedikit lagi, berikan Naruto sedikit lebih banyak lagi."

Sasuke segera menjawab, tapi faktanya, matanya hampir kehilangan semua daya penglihatannya sementara tangan kanan dan kakinya mulai mati rasa. Tangan kiri yang digenggam Sakura adalah satu-satunya bagian tubuhnya yang mengejang dalam kehangatan.

'...bahkan jika aku kehilangan nyawaku di dunia ini, itu sepenuhnya tak apa-apa. Jika aku bisa mengembalikan hidup Naruto, aku sanggup menahan rasa sakit yang terasa lebih sakit daripada sebelumnya ini. Akan tetapi, satu-satunya penyesalan yang akan aku alami adalah... aku takkan bisa melihat kelangsungan dari dunia ini sampai pada akhirnya. Jika para goblin tadi hanyalah awalnya, jika serangan dari tanah kegelapan berlanjut dan makin hebat, aku khawatir dunia ibuku akan menjadi yang pertama yang terkena dampaknya.' kata Sakura dalam hati.

'Tidak, bahkan jika aku menghilang— Naruto pasti akan menjadi pahlawan kami dan mengakhiri kekejaman para iblis itu... karenanya... aku tak bisa membiarkan Naruto mati disini.'

"Sakura... apa kau baik-baik saja?"

'Tidak—hidupku sudah hampir tamat... dan mungkin hidupmu juga sama, Sasuke-kun!'

Untuk beberapa alasan, Sakura mengetahui hal ini. Naruto masih belum membuka matanya. Bahkan setelah ia menghabiskan seluruh life-nya, itu masih belum cukup untuk membawanya kembali dari jurang kematian? Tapi...

"Aku…tak sanggup…jika aku melanjutkannya, Sasuke-kun, life-mu akan…!"

'Jangan berhenti, terus lanjutkan.' bahkan meskipun Sasuke ingin mengatakan itu, mulutnya sudah tak mampu bergerak lagi, bahkan mempertahankan daya pikirnya sendiri saja berangsur-angsur menjadi makin sulit.

'Apakah seperti ini rasanya kematian itu?' yang membuat Sasuke berpikir begitu adalah karena adanya rasa dingin yang tak bisa ia tahan dan rasa kesepian yang begitu mengerikan… Tiba-tiba, ia merasakan ada tangan seseorang di bahunya.

'Aku—kenal pada tangan ini. Tangan hangat dan lembut seperti bulu burung, yang tetap terus mencengkeram masa depan dengan kekuatan yang lebih kuat dari siapapun.'

'...Siapa, kau...?'

Sasuke bertanya tanpa mengeluarkan suara, dan telinga kirinya merasakan sebuah hembusan nafas lembut. Setelah itu, ia mendengar sebuah suara yang membuatnya begitu terkenang seakan membuatnya ingin menumpahkan air mata.

"Hidupku sudah berakhir... tapi kalian semua... sebagai penerus kami... kalian harus bisa mengalahkan para pengkhianat itu..."

'Tidak mungkin...'

"Aku dan Minato akan memperhatikan kalian dari dunia lain. Tetaplah hidup, puteraku! Dan sampaikan permintaan maafku pada ibumu dan juga Itachi. Kalian berdua, gantikan aku untuk melindungi ibu kalian dan dunia ini. Sayonara..."

'Otou-sama?' Sasuke kini tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia sadar bahwa ayahnya telah tiada. Ia kalah melawan Orochimaru.

Sayap putihnya mengeluarkan cahaya layaknya bintang-bintang dan memenuhi diri Sasuke. Energi luar biasa berdenyut mengalir ke semua bagian tubuhnya, dan merembes keluar dari tangan kirinya seakan-akan ia mencari jalan keluarnya.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

Sasuke tersentak saat kedua matanya menangkap pemandangan yang tidak ia pahami. Ia berada di sebuah ruangan kecil dengan pencahayaan yang minim. Ruangan ini seperti sebuah sel tahanan. Dan ia menyadari tubuhnya terikat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kanan dan kiri. Di samping kirinya, Sakura meringkuk tak sadarkan diri dan tubuhnya terikat, dan disamping kanannya tergeletak tubuh Naruto yang juga tak sadarkan diri dan dalam keadaan terikat seperti ia dan Sakura. Namun Sasuke sedikit lega karena luka Naruto sudah tertutup sempurna.

"Sakura! Naruto! Bangunlah!" ujarnya. Setelah menunggu sekian detik, Sakura pun siuman, dan ia nampak bingung dengan situasi yang ada.

"Di-dimana ini? Apa kita sudah mati?"

"Iie. Kurasa kita masih hidup, tapi sepertinya kita tertangkap Orochimaru."

"Jadi maksudmu, sekarang kita berada di markas Orochimaru, begitu?"

"Hn."

"Ba-bagaimana dengan Naruto?" tanya Sakura nampak cemas.

"Ia masih pingsan. Sakura, kita harus secepatnya mendapatkan obat penawar racun itu!"

"Ba-bagaimana caranya? Kita bahkan sedang dalam kondisi tak berdaya, sekarang. Tubuh kita terikat, dan kita berada dalam kurungan?"

"Jika kau bisa melepas ikatanku, aku bisa menggunakan Fire Ability-ku untuk membakar baja itu hingga meleleh."

"Sebentar, kalau tidak salah, aku menyimpan senjata kecil di dalam sepatuku... aku akan mencoba mengambilnya." Kata Sakura yang lekas mencoba mengambil senjata rahasia berukuran kecil yang ia sembunyikan di dalam sepatunya dengan giginya.

Sakura masih terus berusaha, sementara Sasuke terus waspada, ia menajamkam pendengaran dan penglihatannya agar mereka tidak ketahuan. Sakura berhasil mengambil senjata itu, dan tanpa membuang-buang waktu, ia segera menggoreskan senjata kecil itu pada rantai besar yang melilit tubuhnya.

'Tap... tap... tap...!' Sasuke mendengar suara langkah seseorang mendekat. Ia melirik sebentar pada Sakura yang masih sibuk dengan senjatanya.

"Sakura, cepatlah! Ada yang datang!" bisik Sasuke.

Sakura mengangguk. Ia mempercepat tindakannya. Berhasil. Rantai itu sudah terputus, dan ia berhasil meloloskan diri.

"Mencoba kabur, hah?" seseorang yang Sakura kenali sebagai salah satu pelayan pamannya Naruto—Deidara— sudah berdiri beberapa meter di hadapan mereka dan tertawa sinis. Akhirnya Sakura dan Sasuke menyadari, orang inilah yang telah meracuni Naruto.

"Kabuto-san, beraninnya kau— aku tak akan pernah memaafkanmu!" teriak Sakura menatap tajam Kabuto dan langsung melafalkan segel tangan secepat yang ia bisa.

"ILLUSION ABILITY—AKTIF!"

.

.

Kabuto berada di sebuah tebing. Dibawahnya ada jurang yang curam dan tubuhnya terikat di tiang. Ia mencoba untuk meloloskan diri dari Illusion Ability Sakura, namun gagal. Gadis pink itu tersenyum sinis kepadanya. Ia terlihat sangat marah.

"Kau tak akan pernah bisa terbebas dari Illusion Ability-ku, sebab kekuatanku ini sangat special!"

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kabuto yang berkonsentrasi untuk mengeluarkan ability-nya, namun lagi-lagi ia gagal.

"Tahukah kau, Kabuto-san? saat aku sedang marah, di dalam duniaku, siapapun itu, tidak akan mampu mengeluarkan ability yang ia punya. Angel bersayap hitam sepertimu akan bertekuk lutut dihadapanku."

"Hahaha, omong kosong!"

Sakura melafalkan sebuah mantra. Saat itu juga ikatan Kabuto terlepas. Tubuh itu jatuh menghantam bebatuan keras dibawahnya. Lalu kedua tangan Kabuto bergerak sendiri. Tangan kanannya mengambil sebuah botol kecil dari dalam kantong senjatanya.

"Sialan!" Kabuto memaki kedua tangannya yang bergerak sendiri.

"Racun itu... apakah itu racun yang telah kau berikan pada lelaki yang aku cintai... kalau begitu kau juga harus mencicipi-nya! RASAKAN RASA SAKIT YANG NARUTO RASAKAN, BRENGSEK!"

Tangan Kabuto kini membuka tutup kecil botol itu. Tiba-tiba saja mulutnya terbuka dengan sendirinya. Dan tangan kanannya semakin mendekat ke mulutnya yang sulit untuk ia tutup kembali, meskipun otaknya telah memerintahkan hal itu, hingga akhirnya cairan berwarna ungu itu tertelan olehnya.

"Kau akan segera mati. Naruto hanya kau berikan beberapa tetes, tapi kau telah menghabiskan semua racun yang tersisa..."

Benar saja, Kabuto sudah merasakan efek racun itu. Kerongkongannya terasa terbakar dan seluruh tubuhnya terasa panas. Kedua tangan dan kakinya mulai terasa mati rasa.

"BERIKAN PENAWARNYA KALAU KAU INGIN SELAMAT!" teriak Sakura.

Kabuto yang tidak ingin mati gara-gara mengkonsumsi racun ciptaannya sendiri menganggukkan kepalanya.

"Pe-penawar itu a-ada di saku pakaian dalamku!" ujarnya.

"Apa kau bisa dipercaya?"

"Ya, ambillah!" ujarnya. Sakura pun mendekati Kabuto lalu mencari-cari penawar itu. Ia menemukan botol kecil dengan cairan berwarna hijau kekuningan di dalamnya. Sakura tersenyum. Ia pun lekas menonaktifkan Illusion Ability-nya.

Mereka kembali ke dunia nyata. Sakura segera melepas ikatan Sasuke. Dan Sasuke lekas melelahkan sel baja yang mengurung mereka dengan Fire Ability-nya. Sakura kembali melirik ke arah Kabuto yang saat ini terduduk di lantai dan memuntahkan darah segar.

"OHOK!"

"...karena aku belum mempercayaimu, aku akan berbaik hati, kau boleh meminum penawar ini terlebih dahulu." kata Sakura yang kemudian menghampiri Kabuto. Lalu menjambak rambut Kabuto dan meminumkan sebagian obat penawar itu pada Kabuto.

Sakura memperhatikan raut wajah Kabuto. Raut wajah yang tadinya nampak pucat itu, berangsur-angsur berubah normal kembali. Sakura tersenyum puas. Rupanya Kabuto tidak berbohong.

Sementara itu, Kabuto yang sudah mulai mendapatkan kekuatannya kembali, tersenyum licik. Namun sebelum ia berhasil melancarkan serangannya pada Sakura, tubuhnya membeku.

'Slash!' Sasuke sudah terlebih dahulu menebas leher Kabuto dengan pedang miliknya, hingga akhirnya kepala bersimbah darah itu menggelinding dalam hitungan detik.

"Bodoh! Harusnya tinggalkan saja senjata kami di lautan darah tadi, bukan malah membawanya bersama kami! Biarpun Sakura berbaik hati padamu... Aku tidak sudi berbaik hati padamu! Tuanmu sudah membunuh ayahku!"

"Sasuke-kun..." Sakura nampak kaget karena selama ini Sasuke yang terkenal stoic dan tenang itu, pada hari ini, dengan terang-terangan terus menunjukkan emosinya.

"Tunggu apalagi... cepat selamatkan Naruto!" titahnya. Sakura mengangguk mantap, kemudian lekas meminumkan obat penawar itu pada Naruto dari mulut ke mulut.

"Bagaimana bisa kau berciuman dihadapanku! Apa kau tidak punya malu?" ujar Sasuke.

"Naruto masih belum sadarkan diri, tidak ada cara lain selain menyalurkan obat ini melalui mulutku, kan?" tegas Sakura dan Sasuke pun langsung sweatdroped karenanya.

Sakura tersenyum puas. Akhirnya mereka menemukan obat penawar itu. Dengan begini Naruto akan selamat.

"Ne, Sasuke-kun! Kita harus segera kabur dari tempat ini! Tolong gendong Naruto sampai dia sadar, ya!"

"Apa kau bilang?"

"Lalu apa harus aku yang melakukannya? Kau lihat sendiri, kan? Aku ini hanya seorang gadis lemah!"

"Menurutku kau adalah seorang wanita yang mengerikan!" balas Sasuke yang kemudian menuruti permintaan Sakura, menggendong Naruto di punggungnya.

Mereka pun menyusuri lorong panjang yang sepertinya adalah ruang bawah tanah itu. Tiba-tiba saja seekor ulat raksasa berwarna hijau, dengan tangan manusia sebagai ekornya menghalangi langkah mereka.

"Kyaaaaa! Monster apa itu!" teriak Sakura histeris.

.

.

_To Be Cotinued_

.

.

Gomen ne, kalau masih banyak typo yang bertebaran dimana-mana. Dan saya juga minta maaf karena tidak sempat membalas review kalian, tapi review kalian udah saya baca semua, kok. Okay, REVIEW PLEASE and NO FLAME! Arigatou. ^^