Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
Story by me
Tittle : Konoha Academy
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Tragedy.
Rate : T
Pairing : NaruSaku, etc.
Warning : AU, OOC, gaje, abal, minim deskriptif, typo(s), etc.
.
Summarry: Uzumaki Naruto yang harus pindah ke sekolah khusus untuk anak-anak 'jenius' di sebuah desa bernama Konoha terpaksa meninggalkan ibunya sendirian. Konoha Academy adalah sekolah tempat anak-anak yang memiliki kemampuan 'special', dan petualangan baru pun di mulai. Di sana banyak hal menarik yang terjadi (fic ini terinspirasi dari Anime/Manga 'Alice Academy')
.
.
Chapter 8 :Pasukan Kegelapan
.
We'll fight fight till theres nothing left to say (Whatever it take)
Fight fight till your fears they go away
The light is gone and we know once more
We'll fight fight till we see another day
.
Previous Story :
Tim 7 mendapatkan sebuah misi untuk pergi ke batas dunia. Disana Sasuke mendapati Ayahnya tengah bertarung habis-habisan dengan seorang Angel bersayap hitam—Si pengkhianat Orochimaru— dan diwaktu bersamaan, para goblin menemukan keberadaan mereka. Sasuke merasa frustasi karena saat itu tim mereka lemah, mengingat Kakashi-sensei tidak ikut serta dalam misi kali ini dan Naruto terkena racun mematikan, yang saat itu telah berhasil membuat kedua tangan Naruto lumpuh, hingga ia tidak bisa menggunakan Wind Ability-nya ataupun menggunakan skill pedang.
Sasuke pada akhirnya berhasil mengalahkan si pemimpin goblin. Sakura, Naruto, dan Sasuke sempat terkurung di dalam sel dan menjadi tahanan Orochimaru. Namun mereka akhirnya berhasil lolos dan Sakura berhasil mendapatkan penawar racun itu dari Kabuto. Sayangnya mereka belum boleh merasa lega karena mereka masih terjebak di dalam markas Orochimaru dan menjadi incaran monster lain. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
.
Mereka pun menyusuri lorong panjang yang sepertinya adalah ruang bawah tanah itu. Tiba-tiba saja seekor ulat raksasa berwarna hijau dengan tangan manusia sebagai ekornya menghalangi langkah mereka.
"Kyaaaaa! Monster apa itu!" teriak Sakura histeris.
Sakura sangat benci serangga berkaki banyak macam ulat dan lipan karena baginya itu menakutkan dan menjijikan. Lebih parahnya lagi ulat raksasa itu menembakkan semacam jarum dari ekornya yang berbentuk tangan manusia. Sakura membuat perisai dengan Illussion Ability miliknya. Sayangnya gerakannya kurang cepat sehingga Sasuke yang sedang menggendong Naruto yang masih belum sadarkan diri terkena tembakan jarum tersebut di dada, kedua lengan, dan kedua pahanya. Serangan beruntun jarum tersebut menjatuhkan Sasuke hingga Naruto yang sedang dalam gendongannya ikut terjatuh dan terlempar.
"SASUKEE-KUN!" teriak Sakura.
Sasuke merasa tersengat karena sepertinya jarum tersebut mengandung Lighting Abillity. Tubuhnya langsung tidak bisa digerakkan akibat serangan beruntun tersebut. Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura yang kini sedang memperkuat perisai pelindungnya. Pertama kalinya ia melihat punggung Sakura karena biasanya ia dan Narutolah yang membelakangi Sakura untuk melindungi gadis itu. Sasuke tersenyum tipis saat tersadar, kalau sekarang Sakura sudah lebih kuat. Monster aneh itu masih terus menembakkan jarum listriknya secara beruntun. Di samping Sasuke, Naruto mulai siuman.
"Nghh!" gumam Naruto sambil meringis memegangi kepalanya yang terbentur akibat jatuh tadi.
"Heh! Akhirnya kau sadar juga, dobe," kata Sasuke sambil meringis menahan sengatan jarum yang tertancap di dada, kedua lengan, dan kedua pahanya.
"Sasuke!" seru Naruto yang langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat Sakura yang sudah banyak mengeluarkan keringat akibat perisai pelindung yang dibuatnya terus diserang musuh secara beruntun.
"Hey! Cepat cabut jarum-jarum listrik brengsek ini dari tubuhku, dobe!" perintah Sasuke.
Naruto mengangguk dan lekas mencabuti semua jarum yang melekat di tubuh Sasuke. Darah langsung merembes dari luka-luka Sasuke. Naruto bahkan tidak sempat menanyakan kenapa dia masih hidup, seingatnya dia sekarat karena terkena racun dan terkena tebasan pedang. Naruto membantu Sasuke bangun, tetapi Sasuke kembali terjatuh dan nafasnya terengah-terengah. Wajahnya juga sudah pucat dan penuh dengan keringat.
"Kau istirahat saja! Pulihkan dulu chakra-mu!" kata Naruto yang kemudian berdiri di samping Sakura yang masih fokus dengan perisai pelindungnya.
"Sakura-chan, sisanya serahkan saja padaku. Kau sebaiknya obati Sasuke dulu!" kata Naruto.
Sakura menoleh dan nampak terkejut untuk sesaat. "Kau sudah sadar, Naruto? Syukurlah!"
"Sasuke terluka, obati dia dulu!"
Sakura mengangguk dan lekas menghampiri Sasuke untuk mengobatinya. Kekkai ciptaannya pun hancur berkeping-keping akibat serangan beruntun monster tadi. Namun Naruto berhasil membanting jarum-jarum yang hampir mengenai mereka dengan Wind Ability-nya. Jarum-jarum yang ukurannya sekitar 10 cm tersebut terlempar ke samping berulang kali.
"Wind Ability Hurricane Mode milikku tidak terkalahkan, tahu!" tegas Naruto yang kemudian melapal jurus lain.
"Wind Ability : Kaze no Yaiba."
Angin yang menyerupai belati tajam berterbangan ke arah monster tersebut. Jurus itu berhasil membuat ekor monster ulat yang berbentuk seperti tangan manusia raksasa itu terpotong. Belati-belati tajam itu pun mencabik-cabik tubuh si monster hingga monster tersebut ambruk dan mengeluarkan banyak cairan berwarna hijau.
"Hii, menjijikan!" teriak Sakura yang sudah selesai mengobati Sasuke. Tiba-tiba saja tubuh sekarat monster itu membelah diri menjadi ulat-ulat berukuran kecil.
"Kyaaa!" teriak Sakura ngeri melihat ratusan ulat kecil menghampirinya.
"Fire Ability : Gokakyuu no Jutsu."
Sakura tersenyum karena bola api Sasuke berhasil melahap habis semua ulat menjijikan itu.
"Kita harus segera lari dari tempat ini!" kata Naruto.
Sasuke dan Sakura mengangguk. Mereka bertiga pun berlari keluar dan menyusuri lorong panjang yang tidak berujung. Di sepanjang lorong ada banyak sekali pintu yang entah menuju ruangan apa. Namun mereka bertiga tidak mau mencari tahu ruangan apa saja itu karena mereka yakin pasti ada banyak sekali jebakan di dalamnya. Di sepanjang lorong, mereka diserbu monster-monster aneh. Sasuke dan Naruto berhasil mengalahkan mereka semua dengan Abillity masing-masing.
"Monster-monster yang menghalangi kita ini hanya monster-monster lemah. Buang-buang waktu dan tenaga saja," kata Sakura sambil terus berlari.
Akhirnya setelah sekian lama, mereka bertiga berhasil keluar dari markas yang penuh dengan monster tersebut. Sasuke dan Naruto langsung ambruk karena sudah lelah dan hampir kehabisan chakra. Nafas mereka berdua sama-sama memburu. Sakura jadi khawatir.
"Naruto? Sasuke?"
Naruto yang berbaring di atas rumput dengan nafas tersengal-sengal menjawab, "Ka-kami cu-ma le-lah, Sa-ku-ra -chan. Dan Ku-ra-ma… hh… ma-lah s-sedang ti-dur disaat s-seperti ini, hh."
Sakura lekas menempelkan kedua tangannya di dada Naruto dan Sasuke. Ia menyalurkan Healing Abillity-nya untuk memulihkan tenaga mereka. Tiba-tiba saja belasan makhluk serupa kelelawar raksasa berterbangan mengelilingi mereka bertiga.
"Bau yang enak…"
"Mid-Angel…."
"Sedaap, akan kumakan!"
Sakura bisa mendengar desisan suara makhluk-makhluk itu. Sakura berteriak frustasi, "MAKHLUK APA LAGI ITU? KENAPA DI SINI BANYAK SEKALI MONSTER?"
Makhluk-makhluk itu menyerbu mereka. Saat mereka semakin dekat, Sakura memejamkan matanya. Sakura yakin sekali bahwa dalam hitungan detik mereka bertiga akan kena gigit. Namun serangan itu tidak pernah datang. Mata Sakura terasa silau karena tiba-tiba ada cahaya terang menyilaukan yang memasuki matanya. Ia juga bisa mendengar suara monster-monster kelelawar itu berteriak kesakitan. Sakura membuka matanya perlahan dan na'asnya Sasuke dan Naruto sudah mimisan dengan keadaan tak sadarkan diri gara-gara melihat sosok Kurenai-sensei, Hana, dan seorang anak perempuan seumuran dengannya yang sedang dalam wujud Angel mereka.
"Sugooii! Mereka bertiga cantik sekali!" kata Sakura takjub. Ia terpana karena sayap putih mereka begitu indah, bahkan mereka bertiga memiliki wajah yang sangat cantik. Seluruh tubuh mereka juga diselimuti dengan cahaya. Ia jadi iri.
"Hana-Nee, Hinata, Sensei, kami bertiga sudah berhasil mengalahkan para Orc yang tadi menyerang kita!" seru seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam Konoha Academy berwarna putih.
"Hah? Kiba! Akamaru!" kaget Sakura. Ia bersyukur karena teman sekelasnya itu sedang dalam wujud manusianya.
"Guk! Guk!" sahut seekor anjing berwarna putih itu. Di belakang anjing itu, ada sekumpulan serangga yang kemudian berubah menjadi sosok seorang murid keturunan murni yang lain.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Kurenai sambil tersenyum, membuat pipi Sakura bersemu merah karena gurunya itu terlihat jauh lebih cantik lagi ketika dia tersenyum.
"Kyaaa, sensei! Terimakasih karena sudah menyelematkan kami. Kupikir kami bertiga akan mati."
"Tidak perlu berterimakasih, Sakura. Kebetulan kami sedang ada misi di dekat sini."
"Ano…" kata anak perempuan di samping kiri Kurenai. "Umm, mereka berdua pingsan…" lanjutnya sambil menunjuk sosok Naruto dan Sasuke.
"Itu kan karena kalian bertiga, Hinata!" kata anak laki-laki yang mengenakan kupluk dan juga kaca mata hitam.
"Maafkan kami Shino-kun," kata gadis yang bernama Hinata itu.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum musuh yang lain datang!" saran Hana yang langsung memeluk Naruto dan membawanya terbang.
Hinata terlihat kecewa, sebab awalnya ia yang ingin membawa Naruto. Kurenai memeluk Sakura dan membawanya pergi. Hinata nampak kaget dan gugup. "Jadi apa aku yang harus membawa Sasuke-kun?" tanyanya.
"Tentu saja. Aku kan akan membawa Akamaru," sahut Kiba.
"Dan aku tidak suka membawa seorang pria," kata Shino yang kemudian berubah wujud dan lekas menyusul Kurenai dan Hana. Sakura langsung mimisan dan pingsan dalam pelukkan Kurenai-sensei saat melihat sosok Angel Shino.
Kiba berubah wujud dan mengangkat Akamaru. "Ayo kita pergi, Hinata!" teriaknya.
Hinata tidak punya pilihan lain. Ia pun mengangguk dan memeluk Sasuke lalu mengepakkan sayapnya dan terbang ke angkasa.
.
.
"Mmhh… Tou-san, a-aku ingin punya sayap juga!" gumam Sakura dalam tidurnya.
"Dia sangat cantik. Aku jatuh cinta..." kali ini malah Sasuke yang ngelindur.
Naruto yang sudah tebangun hanya menghela nafas dan menggeleng. Sekarang mereka bertiga sedang berada di ruang kesehatan. Di sebelah kanan ranjangnya ada ranjang lain yang sedang ditiduri oleh Sakura, sedangkan disebelah kirinya ada ranjang lain yang sedang ditiduri Sasuke. "…bahkan seorang Sasuke bisa OOC begini? Tapi keturunan murni memang sangat mempesona. Andai aku ini keturunan murni juga, pasti menyenangkan," kata Naruto blushing dan langsung mimisan lagi.
Naruto menatap langit-langit ruang infirmary tersebut dan mengkhayal. Dalam imajinasinya ia adalah seorang keturunan murni. Ia memandang sebuah cermin yang menunjukkan wujud Angel-nya yang sangat menawan. Ia luar biasa tampan dan sepuluh kali lipat lebih keren dan gagah. Sayap putihnya yang lebar sangat memukau. Lalu datanglah tujuh Angel wanita yang langsung menariknya ke sebuah ranjang super besar. Dua diantara mereka tidur di samping kanan dan kirinya sambil memeluknya. Seorang Angel yang lain sedang memegang gelas berisi wine. Angel lainnya menyuapinya buah-buahan. Dua lainnya mengipasinya, sedangkan satu sisanya sedang memijat badannya sambil tersenyum.
"Ini baru yang namanya surga!" teriak Naruto. Tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya dan semua imajinasinya tadi langsung buyar.
"Surga apanya? Huh!" kata seseorang. Saat Naruto sudah kembali ke dunia nyata, ia bisa melihat seseorang baru saja menjitak kepalanya. Naruto pun mengembungkan pipinya. Orang ini mengganggu mimpi indahnya saja.
"Kau ini apa-apaan sih, Itachi-sensei!" protes Naruto sambil menunjuk-nunjuk muka datar Itachi.
"Apa tadi kau sedang berpikir mesum? Huh!" tanyanya sambil menatap Naruto tajam.
"Tidak! Aku hanya bermimpi menjadi seorang Angel," sanggah Naruto.
"Kau pasti bohong!" ketus Itachi yang kemudian melirik Sasuke. Betapa shock-nya Itachi saat melihat adknya itu sedang menciumi guling beberapa kali dan Sasuke juga mimisan.
"Hinata-chaan, aku mencintaimu. Boobs-mu sangat…" gumamnya. Wajah Itachi langsung berubah pucat melihat adik kesayangannya yang begitu OOC. Itachi pun langsung kena serangan jantung mendadak.
"Lihat! Bukankah adikmu jauh lebih mesum dariku?" tanya Naruto sambil menyeringai. Itachi mengap-mengap sambil mencengkram bagian kiri dadanya dan langsung jatuh pingsan.
"Uwaah! Sensei kena serangan jantung beneran. Tolooong!" teriak Naruto.
oooOOKonohaAcademyOOooo
.
.
"Kenapa kau bisa masuk Rumah Sakit, sih?" omel Sasuke pada Itachi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku memang sakit. Bukankah kau sudah tau itu sejak lama?"
"Iya, tapi kenapa kau harus jatuh sakit disaat seperti ini? Kau benar-benar Kakak yang tidak berguna. Lalu apa harus aku yang menemui Okaa-san dan mengatakan kalau Otou-sama sudah tewas?"
"Kalau bukan kau siapa lagi? Lagipula yang membuatku sakit itu kau, Sasuke?"
"Kenapa aku?" sewot Sasuke.
"Jadi kau benar-benar tidak ingat?"
"Kau sakit karena di dalam tubuhmu lebih banyak mengalir darah dan gen Okaa-san yang seorang manusia, bukan karena aku. Enak saja menyalahkan orang!"
"Hhh, terserah kau lah!" kata Itachi yang langung menutupi wajahnya dengan selimut. Ia benar-benar sudah lelah menghadapi adiknya yang labil itu.
"Baka Aniki!" ketus Sasuke seraya memalingkan wajahnya kesal.
Sasuke mendengar Itachi batuk-batuk. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya pada Itachi. Tubuh Itachi bergetar dan batuknya semakin parah dan terdengar menyakitkan. Sasuke menyibak selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Itachi. Ia bisa melihat Itachi mengerang kesakitan dan kembali terbatuk-batuk sambil membungkam mulutnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya mencengkram dadanya dan wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya.
"Hy, Itachi-Nii! Di mana obatmu?" tanya Sasuke.
"Di dalam.. hh.. -cough- la-ci…-cough…me-ja na-kas... -cough…" kata Itachi.
Sasuke mengambilkan obat yang dimaksud dari dalam laci. Ia membantu Itachi duduk. Ia memasukkan beberapa butir pil tersebut ke mulut Itachi. Sasuke kemudian mengambilkan segelas air mineral di atas meja dan meminumkannya pada Itachi, begitu Itachi sudah menghabiskan air mineral tersebut, Sasuke memegang tangan kanan Itachi. Ia membalikkan tangan Itachi dan terkejut saat melihat darah yang cukup banyak menempel di telapak tangan Kakaknya itu.
"A-aku ti-tidak apa-apa, Sasu-chan."
"Diamlah! Sebaiknya kau istirahat!" tegas Sasuke, membaringkan tubuh Itachi dan menyelimutinya hingga dada.
"Kau terlalu memforsir tubuhmu, Itachi. Jurus-jurus yang diajarkan Otou-sama juga pasti memberikan beban berat pada tubuhmu yang lemah itu! Tidurlah, Baka Aniki!" tegas Sasuke.
Itachi tersenyum kecil kemudian memejamkan matanya hingga akhirnya tertidur. Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Ia merasakan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Sasuke pun lekas menghapus air matanya itu.
"Kau bahkan sudah kalah dari Midori-chan, kau tahu? Itu pasti karena Midori-chan anak tunggal, jadi dia bisa terus berkembang dan berkembang hingga menjadi jauh lebih kuat. Benar juga, Naruto juga anak tunggal, kan? Mungkinkah dia dan Midori-chan lebih berpotensi mewarisi gen dari orang tua Angel mereka? Ataukah seperti kebanyakan Mid-Angel yang lainnya?" kata Sasuke pelan.
"Sasuke-kun!" panggil seseorang. Sasuke pun menoleh ke belakang.
"Midori-chan? Ada apa kau ke sini?"
"Kau sudah melihat madding atau internet?" tanya gadis itu sambil tersenyum.
Sasuke menggeleng.
"Kau tau, aku naik kelas?! Aku selalu berhasil dalam misi, jadi mulai besok aku udah naik ke tingkat 2—Dangerous Class."
"Lalu aku bagaimana?" tanya Sasuke sambil menatap Midori tepat di mata. Midori mengedipkan sebelah matanya.
"Kau juga sudah naik ke tingkat 3—Technical Class. Sasuke-kun, selamat, ya!" kata Midori yang kemudian tersenyum. Sasuke membalas senyuman Midori.
"Hn. Selain kau, siapa lagi yang sudah naik kelas?"
"Hn. Naruto-kun, Sakura-san, Kiba-kun… kemudian Yamanaka Ino, lalu— kalau kau segitu penasarannya, lihat saja sendiri!"
"Hn, akan kulihat nanti. Ah ya, Midori-chan… besok tolong mintakan pin merah untukku. Aku mau pergi selama beberapa hari."
"Kau mau pergi ke mana, Sasuke-kun?"
"Tentu saja ke dunia manusia. Aku harus menemui Okaa-san dan menyampaikan berita buruk soal Otou-sama."
"Mikoto-bachan pasti akan sangat sedih," kata Midori sambil menundukkan wajahnya.
"Hn. Tolong jaga Kakakku juga, Midori-chan! Kurasa aku harus menginap sampai Ibuku merasa lebih baik."
"Hn. Aku mengerti!" ujar Midori sambil mengangguk.
"Kalau ada apa-apa dengannya, lekas hubungi aku!"
"Ano, gen yang berada dalam tubuh Itachi-Nii benar-benar lebih manusiawi, ya?"
"Hn, soalnya aku yang lebih banyak mewarisi gen dari Otou-sama. Selain itu kata Otou-sama, saat Okaa-san mengandung dan melahirkan Itachi-Nii, Okaa-san dalam keadaan sakit, makanya itu mempengaruhi janin juga."
"Hn."
"Jangan khawatir!"
"Hn. Oh ya, Sasuke-kun! Kalau aku bagaimana?" tanya Midori sambil memiringkan kepalanya.
"Kau akan segera mengetahuinya. Saat kalian berhasil naik ke tingkat DC, mereka akan melakukan penelitian untuk memeriksa gen yang ada di dalam tubuh kalian."
"Umm, kalau misalnya aku sama seperti Sasuke-kun… Apa aku bisa berpotensi untuk memiliki sayap?" tanya Midori dengan semburat merah di pipinya.
"Tanpa sayap pun kau sudah sangat cantik dan kuat, Midori-chan," kata Sasuke sambil tersenyum membuat Midori semakin blushing.
"Aku menyukai seorang Angel, jadi aku ingin bisa berdiri berdampingan dengannya."
Sasuke menyentuh dahi Midori dengan jarinya dan tersenyum. Itu adalah gestur tubuh pertanda kasih sayang seorang Uchiha.
"Ternyata kau memang anak perempuan. Sudah ya, aku pergi dulu!" pamit Sasuke. Urat-urat kemarahan langsung membentuk di dahi Midori.
"Jadi maksudmu selama ini aku terlihat seperti anak laki-laki, begitu?" teriak Midori. Tentu saja Sasuke tidak bisa mendengarnya karena saudara sepupunya itu sudah pergi.
"Hhh… dasar Emo-Niichan!" teriak Midori yang kemudian tersenyum lebar. "Itachi-Nii, rupanya dia juga menyayangiku sama sepertimu," katanya sambil menyentuh dahinya.
.
.
Sasuke langsung dipeluk oleh Mikoto saat ia baru masuk ke dalam rumah. Tubuh Ibunya terasa bergetar. Ibunya bahkan sampai terisak-isak.
"Ada apa, Okaa-san?" tanya Sasuke sambil menggosok-gosok punggung Ibunya untuk menenangkan hatinya.
"Aku senang karena kau sudah kembali, Sasu-chan. Selama beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Kaa-chan pikir kau sudah tewas dalam misi."
"Bukan aku yang tewas," kata Sasuke to the point.
"A-apa maksudmu?" tanya Mikoto.
"Otou-sama… dia sudah tidak ada," jawab Sasuke. Mikoto melebarkan matanya karena shock. Ia menjatuhkan lututnya dan langsung menangis histeris sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sasuke berjongkok dan memeluk Ibunya yang sedang menangis lebih erat.
"Jadi aku tidak akan pernah bisa pergi ke dunia kalian lagi?" tanya Mikoto diselingi isak tangis.
"Mulai sekarang, Aku dan Nii-chan yang akan lebih sering menemuimu. Kami berjanji!" kata Sasuke sambil mengusap-ngusap punggung Ibunya.
"Kalau begitu kenapa Itachi tidak ikut ke sini?"
"Dia sedang sakit."
"APA? A-aku ingin menjenguknya, Sasuke!"
"Itu tidak bisa, Okaa-san! Aku bukan Otou-sama, jadi aku tidak bisa membawamu melewati pintu gerbang Konoha Academy."
"Aku tahu, tapi aku mengkhawatirkan Kakakmu."
"Dia akan baik-baik saja. Itachi-Nii itu orang yang sangat kuat. Ia akan bertahan," bisik Sasuke. Tangis Mikoto semakin kencang. Sasuke bisa merasakan kesedihan Ibunya dan itu membuat hatinya sakit.
"Aku akan menginap di sini selama beberapa hari. Sekarang, sebaiknya Okaa-san istirahat!"
"Ini semua salahku! Kalau saja aku tidak menderita Cardiomyopathy, Itachi tak akan—"
"Sstt, itu bukan salahmu, Okaa-san!" kata Sasuke yang kemudian mencium dahi Ibunya dan membawanya ke kamar."
Sasuke berbaring di samping Ibunya yang masih menangis. Sasuke memeluk ibunya dan membelai rambutnya. "Okaa-san jangan nangis terus! Aku tidak mau penyakitmu kambuh lagi," bisik Sasuke lembut. Mikoto menyentuh dadanya sendiri sambil mengangguk pada Sasuke.
"Temani Okaa-san tidur ya, Sasu-chan?"
"Hn."
Mikoto tersenyum. Ia sudah lebih tenang sekarang. Tak lama kemudian Mikoto pun tertidur, begitu juga dengan Sasuke.
oooOOKonohaAcademyOOooo
.
.
"Ah, senangnya! Tak kusangka aku bisa mendapatkan pin berwarna biru secepat ini!" seru Ino sambil mengusap-ngusap pin biru miliknya.
"Iya, padahal kita kan baru beberapa bulan Sekolah di sini tapi kita sudah bisa naik ke tingkat dua," sambung Matsuri.
"Itu berarti kekuatan kita sudah tidak membahayakan lagi karena kita sudah berhasil menguasainya," sahut Sakura sambil tersenyum lebar.
"Ya, dengan begitu kekuatan kita tidak akan pernah hilang kendali lagi," kata Ino.
Naruto hanya terdiam mendengarkan pembicaraan para gadis itu. Ia tidak begitu senang walaupun sudah bisa naik ke Dangerous Class dalam waktu singkat, sebab Ibunya sudah tiada.
"Bukankah kita ini hebat, Chouji? Hanya setengah murid dari Basic Class yang berhasil naik kelas, setengah murid lainnya masih harus tetap di sana!" kata Kiba.
"Ya, tapi tetap saja kita masih kalah dari Naruto, Sakura, dan Ino, padahal mereka itu kan murid baru."
"Ah, sudahlah! Yang terpenting sekarang kita sudah naik kelas!" sahut Kiba.
Saat mereka semua masih keassikan mengobrol, tiba-tiba sebuah rekaman video yang bersumber dari sebuah komputer yang tertempel di dinding, di atas papan tulis menyala. Sosok Kepala Sekolah mereka, Tsunade Senju nampak di layar.
"Perhatian semuanya!" kata Tsunade. Semua murid Dangerous Class pun lekas menghadap ke depan.
"Sebelumnya aku ucapkan selamat kepada para murid yang baru berhasil lulus dari Basic Class. Selanjutnya, aku akan menyampaikan sebuah pengumuman. Diharapkan kepada semua Mid-Angel yang baru saja naik ke tingkat dua untuk datang ke Laboratorium yang berlokasi di Delta 7 sekarang juga! Ini penting! Terimakasih atas perhatiannya."
Begitu rekaman video tersebut mati. Semua Mid-Angel yang baru naik kelas saling pandang satu sama lain. "Ada apa, ya? Kenapa kita disuruh ke Lab?" tanya Ino nampak cemas.
"Apa kita melakukan kesalahan dan akan dihukum?" sambung Matsuri gelisah.
"Penelitian," jawab Midori Uchiha singkat.
"Penelitian? Penelitian apa maksudmu?" tanya Naruto.
"Mereka akan memeriksa gen yang ada di dalam tubuh kita. Apa lebih banyak gen yang diturunkan dari orang tua Angel kita atau justru dari orang tua manusia kita… ataukah seimbang?"
"Memangnya kau tahu dari mana, Midori?" tanya Ino.
"Tentu saja dari sepupuku, Uchiha Sasuke!" jawab Midori.
"Oh, begitu. Lalu biasanya gen dalam tubuh Mid-Angel lebih banyak dari siapa?" tanya Sakura.
"Kebanyakan dari Mid-Angel Konoha Academy memiliki jumlah sel yang sama besarnya, dengan kata lain, seimbang. Mid-Angel yang lebih banyak mewarisi darah dan gen dari orang tua Angel mereka sangatlah jarang ditemukan."
"Lalu adakah yang lebih banyak mewarisi darah dan sel-sel dari orang tua manusia mereka?" tanya Matsuri.
"Ada, Itachi-sensei misalnya."
"Heh? Itachi-sensei? Kenapa?" tanya Ino penasaran.
"Itu karena darah dan gen Angel Fugaku-jisan lebih banyak terwariskan kepada Sasuke-kun."
"Apa keistimewaan seorang Mid-Angel yang darah dan gen Angel-nya lebih banyak?" tanya Naruto.
"Tentu saja mereka jauh lebih kuat dari Mid-Angel pada umumnya dan mereka juga berpotensi memiliki Angel Wings."
"BENARKAH?" tanya Ino, Sakura, dan Matsuri serentak.
"Ya, contohnya saja Karin Uzumaki."
"Maksudmu Karin-san punya sayap?" tanya Matsuri antusias.
"Ya. Aku pernah mendapatkan misi bersamanya, tapi sayap itu biasanya hanya muncul pada saat dia sedang sangat terdesak, jadi dia tidak bisa memunculkan sayapnya begitu saja, sebab pada dasarnya dia bukanlah seorang keturunan murni."
"Lalu siapa saja yang paling berpotensi memiliki lebih banyak darah dan gen dari orang tua Angel mereka?" tanya Sakura.
"Seorang anak tunggal. Meski begitu kebanyakan dari mereka memiliki darah dan gen yang seimbang, seperti yang kukatakan sebelumnya. Mid-Angel yang lebih banyak mewarisi darah dan gen dari orang tua Angel mereka sangatlah langka."
"Kurasa sebaiknya kita segera pergi sebelum Tsunade-baachan marah," saran Naruto. Mereka semua pun mengangguk dan lekas keluar dari kelas.
.
.
Laboratorium tersebut seperti Laboratorium pembuatan robot dalam film-film Holywood, penuh dengan mesin dan peralatan canggih. Mereka semua di bagi menjadi beberapa tim beranggotakan 5 orang. Tim pertama; Midori Uchiha, Uzumaki Naruto, Haruno Sakura, Yamanaka Ino, dan Matsuri mendapatkan giliran terlebih dahulu.
Sakura terlihat begitu tegang saat disuruh untuk berbaring di salah satu ranjang besi yang tersedia di sana. Ia bisa merasakan rasa dingin di punggungnya, selain itu kedua tangan dan kakinya diikat. Saat seorang murid senior Konoha Academy keturunan murni memasangkan berbagai macam mesin di tubuhnya, Sakura sampai tidak bisa bernapas untuk sesaat saking tegangnya. Ada banyak sekali kabel yang terpasang di tubuhnya, membuatnya tidak bisa leluasa untuk bergerak. Sakura mulai merasa takut, ia pun memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian ia merasakan seseorang menyuntiknya untuk mendapatkan sample darah. Suntikan lain dapat ia rasakan juga beberapa menit kemudian. Sakura berasumsi bahwa suntikkan kali ini adalah suntikkan obat bius karena hal itu membuat matanya terasa berat dan mengantuk hingga akhirnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
.
Hal pertama yang Sakura lihat adalah langit-langit berwarna putih. Perlahan, Sakura mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia bisa melihat ada empat ranjang lainnya di dalam ruangan, dan yang berbaring di ranjang-ranjang tersebut adalah teman-temannya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Minna…" gumam Sakura.
Sakura mengalihkan pandangannya ke samping kiri dan di sana ia melihat Ino yang sudah mulai siuman. Di samping kanannya ada juga Naruto yang belum siuman. Di sebelah Ino, ia bisa melihat Matsuri yang juga sudah mulai siuman, dan disebelah Naruto ia melihat Midori yang juga belum siuman sama seperti halnya Naruto.
"Ini di mana?" tanya Matsuri tampak bingung.
"Apa ini di ruang Infirmary?" sambung Ino.
"Mungkin," jawab Sakura.
"Midori-chan dan Naruto-kun? Kenapa mereka berdua belum sadar?" tanya Matsuri sambil mengambil posisi setengah duduk.
"Aku tidak tahu," jawab Sakura yang kemudian mencoba duduk bersandar seperti Matsuri tetapi ia tidak bisa. "Aku masih merasa lemas," lanjutnya.
Ino mencoba melakukan hal yang sama namun gagal. "Aku juga. Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan pada kita? Kenapa badanku terasa begitu lemas?" tanyanya.
"Mungkin mereka melakukan sesuatu pada tubuh kita," jawab Sakura.
Terdengar suara ketukan di pintu. Pintu itu kemudian terbuka dan menampakkan wajah seorang wanita yang membawa beberapa berkas.
"SHIZUNE-SAN?" kata Matsuri dan Ino serentak.
"Kalian bertiga sudah sadar?" tanya Shizune sambil tersenyum. Ia kemudian membagikan sebuah amplop pada Sakura, Ino, dan Matsuri.
"Apa ini?" tanya Matsuri.
"Itu hasil pemeriksaan kalian. Silakan di buka!" katanya. Mereka bertiga pun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan sebuah kertas.
"50-50? Angka-angka ini maksudnya apa?" tanya Ino.
"Punyaku juga tercantum angka 50-50," sambung Sakura.
"Watashi mou!" kata Matsuri.
"Itu artinya punya kalian balance," jawab Shizune.
"Maksudmu jumlah darah dan gen kedua orang tua kami sama banyaknya."
"Yup, benar sekali! Ini hal yang biasa terjadi."
"Oh, jadi ini hal yang wajar, ya? Sayang sekali!" sahut Ino terdengar kecewa.
"Setidaknya itu jauh lebih baik daripada sebagian Mid-Angel macam Uchiha Itachi."
"Memang kalau seperti Itachi-sensei kenapa?" tanya Matsuri.
"Jika seperti itu maka kalian akan seperti manusia biasa pada umumnya yang memiliki banyak keterbatasan. Tahukah kalian bahwa dalam misi terakhir Tim yang beranggotakan; Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba, Aburame Shino dan Akamaru… mereka berhasil mendapatkan informasi yang mencengangkan?"
"Oh, misi mereka waktu itu? Informasi apa yang berhasil mereka dapatkan?" tanya Sakura.
"Di Dark Territory ada sebagian kecil Mid-Angel yang menjadi pengikut Orochimaru. Mereka semua sama seperti Itachi. Orang-orang seperti Itachi sangat mudah terpengaruh dan dimanfaatkan karena mereka lebih manusiawi."
"Jadi mereka tidak jauh berbeda dari manusia?" tanya Ino.
"Tepat sekali! Orang-orang seperti mereka lebih mudah terjerumus ke dalam kegelapan dan hal itu sebenarnya adalah sesuatu yang normal. Yah, kalian semua juga pasti tahu kan seperti apa manusia itu?"
"Egois, tamak, tidak pernah merasa puas, angkuh, dan lain sebagainya…" ujar Matsuri.
"…tapi aku tak menyangka kalau mereka bisa mengkhianati kita?" sambung Ino sambil memandang ke luar jendela.
Matsuri menghela nafas dan menundukkan kepalanya. "Semuanya menjadi semakin rumit saja."
Sakura memejamkan matanya. Konoha Academy benar-benar dalam masalah besar sekarang. Ia merasa sesuatu yang buruk sudah semakin mendekat. Sakura kembali membuka matanya dan mengalihkan pandangannya pada Naruto dan juga Midori, kali ini mereka berdua sudah mulai siuman.
"Nghh…. Di mana ini?" gumam Midori.
"Apa yang terjadi? Bukankah tadi kami semua sedang berada di Lab?" sambung Naruto.
Shizune memberikan Midori dan Naruto sebuah amplop. Merasa penasaran Naruto pun membukanya dan mengeluarkan isinya, begitu juga dengan Midori.
"60-40? Ini maksudnya apa?" tanya Midori.
"Punyaku 70-30," sahut Naruto.
"Uchiha Midori, Uzumaki Naruto, selamat! Surat keterangan itu menjelaskan bahwa kalian berdua lebih banyak mewarisi darah dan gen dari orang tua Angel kalian."
"Ha?" sahut Naruto
"Eh?" sambung Midori.
"Sugooi na, kalian berdua beruntung sekali!" seru Ino.
Sakura menatap Midori dan Naruto bergantian. Ia tak menyangka kalau kedua teman sekelasnya itu seberuntung ini. Ia sendiri sebenarnya berharap bisa seperti mereka berdua, apalagi hari itu Naruto dan Sasuke sampai pingsan dan mimisan saat melihat betapa cantiknya keturunan murni dalam wujud Angel mereka, dan terus terang saja ia merasa cemburu pada gadis yang bernama Hyuuga Hinata itu.
"Ya ampun, aku iri sekali pada kalian berdua… Kemampuanku selalu saja pasaran," sahut Matsuri.
Sakura mencengkram selimut dengan kedua tangannya. Ia menundukkan wajahnya.
"Naruto aku ingin bertanya padamu. Waktu itu, saat Kurenai-sensei dan yang lainnya datang. Kau sampai nosebleed karena melihat siapa? Tolong jawab yang jujur!" perintahnya.
"Hana-Nee, soalnya dia yang pertama kali kulihat. Memangnya kenapa Sakura-chan?" tanya Naruto polos.
Sakura tersenyum kecil. Ia merasa lega karena ternyata yang membuat Naruto sampai terpana bukanlah Hyuuga Hinata tapi tetap saja ia merasa sedikit sedih.
"Apa kau jatuh cinta pada Hana-sensei?" tanya Sakura.
Detik demi detik berlalu. Sakura hampir menangis, hanya keheningan yang mendominasi ruangan tersebut hingga akhirnya ia mendengar Naruto tergelak. Sakura jadi sebal, memangnya ada yang lucu?
"Kenapa kau malah tertawa?" teriak Sakura seraya mengangkat wajahnya dan menatap Naruto tajam.
"Aku sama sekali tidak jatuh cinta pada Hana-Nee! Dia itu seperti sosok seorang Kakak bagiku, jadi mana mungkin aku menyukainya Sakura-chan."
Sakura tertegun. "Benarkah?"
"Mmm, gadis yang kucintai cuma kau Sakura-chan. Harusnya aku yang merasa cemburu…"
"Kau ini bicara apa? Aku ini sama sekali tidak cemburu, baka!" teriak Sakura yang langsung menatap wajah Naruto. Sakura langsung menelan ludah karena kini Naruto tengah menatapnya tajam.
"Saat itu kau sendiri pingsan karena terpesona pada siapa? Kiba? Shino?"
"Eh? Kau jangan marah dan membentakku begitu dong! Aku hanya terpikat sedikit!" tegas Sakura, tapi semburat merah yang kini terlukis di pipi Sakura membuat Naruto sedikit kecewa.
"Ingat baik-baik, Sakura-chan. Kau hanya boleh terpesona olehku, mengerti!"
"Kenapa kau jadi memonopoliku begitu sih?" kata Sakura sewot.
"Lihat saja nanti! Aku pasti akan punya Angel Wings juga!" tegas Naruto.
Melihat keseriusan dalam sorot mata Naruto membuat Sakura jauh lebih lega sekaligus merasa senang dalam waktu bersamaan, karena ternyata ia bisa membuat Naruto cemburu juga, dan yang terpenting Naruto bukan terpesona pada Hinata.
oooOOKonohaAcademyOOooo
.
.
Seseorang dengan tatapan mata sedingin es dan sayap hitam legam yang terbentang gagah, mendominasi Ruang Tahta. Pria itu berdiri tegak sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Seekor burung elang bertengger di bahunya, mata burung itu menatap tajam orang-orang yang mengelilinginya. Pria itu mengalihkan pandangannya kepada semua orang yang kini tengah berlutut di lantai dengan ekspresi kekaguman. Namun dari sepuluh orang yang berbaris paling depan, setengah dari mereka adalah monster yang terlihat aneh.
Sepuluh orang tersebut dikenal dengan sebutan Jenderal Kegelapan. Di sekeliling mereka berbaris para pasukan kegelapan dengan ciri khas mereka masing-masing.
Pria itu dengan tenang mengambil beberapa langkah ke depan, ia kemudian berbalik untuk melihat cermin yang tergantung di dinding. Apa yang terlihat adalah dirinya, memakai Armour berwarna merah-hitam. Tentu saja ia memiliki wajah yang tampan dan rambut khas yang mencerminkannya sebagai anggota klan Uchiha. Sebuah katana dengan warna yang berlainan di kedua sisi, tergantung di pinggangnya. Satu sisi katana tersebut berwarna hitam legam, sedangkan sisi lainnya berwarna silver seperti katana pada umumnya. Itulah senjata andalannya yang sangat mematikan. Satu sisi bisa membunuh kaum Angel dengan mudah dan sisi lainnya bahkan bisa merenggut nyawa manusia.
Dia adalah Raja yang memerintah Dark Territory yang sangat luas, juga dia adalah seorang Angel Elite bersayap hitam. Pria itu menutup matanya, mengambil nafas pelan yang dalam dan mengeluarkannya. Ia membuka matanya lagi dan kembali menatap sepuluh Jenderal itu.
"Angkat kepala kalian dan sebutkan nama kalian! Kau yang pertama!"
Laki-laki yang berlutut disebelah kiri dari barisan paling depan tersentak dengan gerakan yang benar-benar cepat dan menyebutkan namanya.
"Ya, Raja yang terhormat! Aku adalah Zetsu Putih, pemimpin pasukan tanaman!"
"Jelek sekali nama pasukanmu itu!" kata sang Raja.
"Ano, itu karena para anak buahku adalah demi-human setengah tanaman."
Di samping laki-laki yang merendahkan kepalanya dan berlutut sekali lagi, sosok yang benar-benar besar seperti raksasa mulai bergerak. Dengan tubuh demi-human yang berdiri hampir 12 kaki tingginya, rantai hitam berkilauan tergantung bersama salib, dengan kulit dari seekor hewan liar mengeliling disekitar pinggangnya. Ia bersemangat mengangkat wajahnya, demi-human itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan suara dalam.
"Porphyrion, Raja Para Raksasa yang diciptakan sebagai musuh Zeus/Jupiter!"
"Apa alasanmu bergabung dengan Pasukan Kegelapan?"
"Untuk melenyapkan Jason Grace dan teman-temannya. Para anak blasteran itu akan bergabung dengan Para Angels dan Mid-Angels sebentar lagi!"
"Siapa itu Jason Grace?"
"Dia itu Demigod Putera Jupiter!"
"Bagaimana kalau Dewa Zeus menolongnya! Apa kau yakin bahwa pasukan kita tidak akan kalah!"
"Tenang saja Yang Mulia, Para Dewa/Dewi Yunani yang pengecut itu tidak akan berani menginjakkan kaki mereka di Negeri Timur, sebab hanya di Negeri Baratlah kekuatan mereka paling besar."
"Lalu para bocah Demigod itu?"
"Hahaha, salah satu dari yang terkuat, Perseus Jackson putera Poseidon, sudah dibereskan Polybotes, saudaraku."
"Yah, tapi Madara-sama, sayangnya dia belum mati. Cih, bocah sialan itu rupanya tidak mudah mati," sahut sesorang yang bernama Polybotes tersebut.
"Jangan khawatir, mereka hanya Manusia setengah Dewa. Selama Poseidon tidak ikut andil, aku tidak takut. Baiklah, lanjutkan!" perintah Madara melirik Jenderal yang lain.
"Aku adalah Pemimpin Akatsuki, Nagato!"
Ketika dibandingkan dengan raksasa, sosok yang memakai jubah hitam bercorak awan merah itu sangatlah kurus, hingga itu kelihatan seperti tidak nyata.
"Apa kau seorang manusia?"
"Tentu saja bukan, Madara-sama. Aku ini Mid-Angel."
"Next!"
"Aku pemimpin para monster, Orochimaru."
"Aku pemimpin Guild Assassin, Danzou," kata sosok yang memakai jaket silver dengan tudung itu. Wajahnya sama sekali tidak bisa terlihat dengan jelas karena tudung tersebut, pakaiannya serba tertutup, umurnya tidak dapat diketahui, lupakan jenis kelaminnya, Madara sendiri bahkan tidak tahu.
Uchiha Madara ingin memerintah selama beberapa detik agar sosok itu mengangkat kepalanya, jadi dia dapat melihat wajahnya, tapi ia tahu pasti bahwa Assassin pasti memiliki suatu aturan yang melarang mereka untuk memperlihatkan penampilan mereka yang sesungguhnya, jadi dia mengesampingkan itu dan berbalik menuju Jenderal berikutnya. Kemudian, dengan usaha yang sangat besar, dia berhasil untuk menahan diri agar tak mengerutkan dahinya.
Keberadaan yang merupakan penjelmaan mutlak dari kata 'jelek' duduk tanpa bergerak di depannya. Ia mungkin tak mampu berlutut karena kakinya terlalu pendek. Sebuah perut gemuk yang besar dipenuhi dengan lemak yang memperlihatkan kilauan minyak. di leher yang tersambung dengan bahunya, terdapat kalung tengkorak binatang kecil yang tergantung. Kepalanya terlihat 70% babi dan 30% manusia, dengan hidung kecil yang menonjol, dan sebuah mulut dengan giginya yang keluar, mata lingkaran yang bercahaya dengan pemikiran manusia, membuat ini bahkan jauh lebih mengganggu.
"Pemimoin Orc, Rilpirn."
Mendengar suara tajam dan bernada tinggi, Madara dengan segera memikirkan apakah dia adalah laki-laki atau perempuan, tapi dalam sekejap ia tinggalkan pemikiran tersebut, karena dia adalah Orc, itu sudah pasti merupakan unit berlevel rendah dalam pasukan kegelapan. Itu hanya sesuatu yang dapat dibuang.
Kemudian, apa yang dapat dideskripsikan sebagai anak laki-laki mengangkat kepalanya dan dengan penuh semangat memberi hormat. Rambut berwarna birunya berbentuk agak ikal, dan warna matanya seperti cahaya bulan.
"Otsutsuki Toneri, salah satu Mid-Angel yang terbuang."
"…yang lebih tepat adalah pengkhianat, benarkan anak muda? Angels tidak mungkin membuangmu, Itachi saja mereka didik dengan sangat baik," ujar Madara.
"Yeah!"
Madara beralih pada sosok di samping Toneri, terdengar suara seperti rintihan binatang dari sosok tersebut. Ia adalah demi-human yang sama sekali tidak tinggi dan berotot seperti raksasa, tapi memiliki tubuh yang jauh lebih besar dari manusia biasa. Bagian atas tubuhnya hampir seluruhnya ditutupi dengan rambut panjang. Menilai berdasarkan kepalanya yang benar-benar seperti hewan, rambut itu sama sekali bukan pakaian, melainkan bulunya sendiri. Itu benar-benar terlihat seperti serigala. Sebuah moncong yang menonjol, gigi seperti gergaji, dan telinga berbentuk segitiga. Suara tidak jelas keluar dari mulutnya, dengan lidah yang menjulur keluar.
"Grr, pemimpin Ogres… Furgur… Rrr…"
Meskipun Uchiha Madara tidak mengetahui apakah itu sebuah nama atau hanya berguman, ia perlahan mengangguk dan melihat ke arah posisi berikutnya. Pada saat itu terdengar teriakan keras yang menusuk telinga.
"Aku adalah Orni, Pemimpin Goblin Gunung! Raja yang terhormat, tolong berikan bangsa pemberani kami sebuah posisi terhormat sebagai pasukan baris depan!"
Pemilik suara itu adalah demi-human pendek dengan kepala botak seperti monyet, dengan dua telinga panjang yang tipis serta peduli jika itu berdasarkan tinggi atau ototnya, itu jauh, bahkan sangat jauh dari para Raksasa, Orc, Ogre, atau bahkan para Angel dan Mid-Angel yang sebelumnya menyebutkan nama mereka.
"Cih, atas dasar apa kau memerintahku? Kalian adalah unit paling lemah dalam pasukan kegelapan, bahkan tiga orang Mid-Angel ingusan saja bisa mengalahkan kawan-kawan kalian dengan mudah! Aku tahu itu mungkin saja, karena salah satu dari mereka adalah keturunanku, tidak heran kalau mereka semua kalah, tapi apa pantas aku menetapkan pasukan kalian di barisan paling depan? Barisan terdepan adalah dari Guild Tanaman, sudah kuputuskan!"
"Hahaha…" tawa Zetsu meremehkan.
"Kubunuh kau!" teriak sang pemimpin Goblin.
"Yah, tapi aku cukup tertarik padamu. Itu karena nafsu yang sangat kuat serta besar, terlihat di mata kecilmu itu. Aku akan memberikanmu posisi istimewa, pasukan kalian kupersilakan untuk mengalahkan para Demigods. Ah ya, Porphyrion, berapa banyak jumlah mereka?"
"Entahlah, tapi yang terkuat setahuku ada sepuluh," jawab Raja para Raksasa.
"Hn. Siapa saja mereka?"
"Putera Jupiter/Zeus, dan juga Kakak perempuannya yang merupakan tangan kanan Dewi Artemis. Putera Poseidon. Putera dan puteri Hades/Pluto. Putera Mars/Ares. Putera Hepaestus. Puteri Athena, Putera Apollo, dan Puteri Aphrodite."
"It's so interesting, their soul will be so sweet."
"Zeus, Poseidon, dan Hades, kira-kira mereka akan bagaimana jika mereka tahu bahwa kita membunuh putera-puteri mereka?" tanya Orochimaru sambil tersenyum sinis.
"Mungkin Hari Kiamat akan tiba dan dunia ini hancur semua akibat amarah para Dewa/Dewi," sambung Danzou.
"Berapa umur mereka?" tanya Madara.
"Sekitar 16-20 tahun."
"Rupanya mereka hanya anak kecil, percayakan saja mereka pada kami Raja yang terhormat, kami pasti akan memisahkan kepala mereka dari tubuhnya," seru Orni si pemimpin Goblin gunung.
"Itu menggelikan! Dibandingkan dengan orang itu, kita akan melayani Raja yang terhormat sepuluh kali lebih baik. Aku adalah pemimpin Goblin Dataran Rendah, Iwase!"
"Apa yang sebenarnya kau katakan, kau itu cuma pemakan siput! Apakah otakmu menjadi membengkak karena lumpur basah?"
"Kau adalah seseorang yang mendapati otaknya terpanggang di bawah sinar matahari!"
Di depan dua orang yang saling mengejek satu sama lain, dengan suara keras 'Pachi!' percikan api biru terlempar saat kedua pemimpin Goblin itu melompat keluar dari jalurnya sambil berteriak.
"Kalian berdua sedang berada dihadapan Raja yang terhormat! Sopanlah sedikit…"
Dengan suara menggoda, perempuan muda yang memakai pakaian yang jauh lebih memperlihatkan kulitnya, menarik kembali tangan kanannya yang terangkat dan mengeluarkan api biru tadi. Percikan api itu dengan segera menghilang, saat ia mengusap ibu jari pada jari telunjuknya, seolah-olah menyalakan api dari pemantik api.
Dia perlahan berdiri, membungkukkan badan seolah-olah dia memperlihatkan tubuhnya. Dengan ekspresi menggodanya, ia memberi hormat secara berlebihan. Orachimaru bersiul saat gadis muda itu mengedip genit pada Uchiha Madara. Kulit berwarna eksotis gadis itu berkilauan seolah-olah telah dioleskan dengan minyak, dada dan pinggangnya hanya ditutupi dengan pakaian kulit yang halus. Sepatunya berbentuk jarum seperti sepatu hak tinggi. Di punggungnya tergantung mantel bulu berwarna hitam dan perak. Rambut berwarna perak tergantung ke bawah hingga pinggangnya. Eyeshadow dan lipstiknya berwarna seperti air, menyipitkan mata ungu terangnya dengan menggoda, yang jauh lebih terang dibandingkan dengan riasannya, perempuan itu menyebutkan namanya.
"Pemimpin Guild pengguna Darkness Art, Hotarubi Ai. Aku memiliki 3000 penyihir dibawah perintahku dan tubuh serta jiwaku semuanya untuk Raja yang terhormat."
Pada gerakan menggoda dan suara yang merayu itu, Madara yang sama sekali tidak penah dikontrol oleh keinginan seksual, hanya mengangguk. Penyihir yang dipanggil Ai mengedipkan matanya beberapa kali, dia ingin untuk mengatakan sesuatu lagi, tapi kemudian ia hanya memberi salam dan berlutut sekali lagi.
"Pilihan yang tepat," pikir Madara. Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Jenderal yang terakhir.
Sosok yang berlutut dengan tenang itu adalah seorang Angel, tapi berusia paruh baya dengan tinggi yang mengejutkan. Armor hitam pada tubuhnya memiliki goresan yang tidak terhitung jumlahnya, tapi itu masih bersinar dengan cahaya samar-samar. Tanpa mengangkat wajahnya ke atas, suara dengan nada baritone yang sedikit kasar keluar dari mulut laki-laki yang berlutut itu.
"Aku adalah komandan seluruh pasukan kegelapan, Ferza. Sebelum mengabdikan diriku padamu, aku ingin bertanya pada Raja yang terhormat."
Wajah yang tiba-tiba terangkat itu memiliki ekspresi serius yang sama dengan beberapa tentara manusia yang pernah Madara lihat. Terutama dibalik mata tajamnya terdapat suatu jenis tekad yang sangat besar. Ferza menatap pada Madara dengan tatapan yang seperti menusuk, dan melanjutkan perkataannya dengan suara pelan.
"Apa yang diinginkan Raja yang terhormat, hingga kembali ke tahta saat ini? Saya pikir, Orochimaru-sama lah yang masih akan memimpin kami seperti yang selalu dilakukannya selama ini."
Uchiha Madara dengan ekspresi seorang Raja yang kejam, ia menciptakan respon sedingin es.
"Darah dan kekacauan. Api dan kehancuran. Kematian dan teriakan."
Suara keras Madara yang menyerupai metal yang ditebas bergema di Aula, ekspresi dari semua Jenderal itu dengan segera menjadi tegang.
Melihat satu demi satu dari sepuluh wajah itu, Madara merentangkan kedua tangannya. Elang yang sejak tadi bertengger di bahunya pun terbang. Perlahan kedua kakinya terangkat. Ia melayang di udara dengan sayap hitam yang terbentang lebar.
"Di daratan Barat, dipenuhi dengan kekuatan dari Dewa-Dewi yang mengusirku dari Olympus. Perlindungan Gerbang Besar Timur akan segera runtuh. Aku telah kembali untuk menyatakan kekuatanku kepada semua orang. Aku tak akan pandang bulu, baik mereka; Demigods, Angels, Mid-Angels, bahkan Manusia sekalipun… Aku akan memusnahkan mereka semua, kemudian aku akan merebut tahta Zeus dan menguasai dunia ini. Dan kalian semua akan kuberikan tempat yang istimewa dalam dunia yang baru. Langit yang dikuasai oleh Zeus akan kuambil alih. Bagaimana dengan kalian?"
"Aku akan mengambil Lautan dan Samudra yang dikuasai oleh Poseidon," sahut Danzou.
"Underworld yang dikuasai oleh Hades akan kuambil alih!" lanjut Orochimaru.
"Kalau begitu Daratan yang dikuasai Gaea aku yang akan mengambil alih," sambung Porphyrion. "Walaupun sebenarnya aku jauh menginginkan langit," lanjutnya.
"Tidak ada yang lebih kusukai selain melihat Red Ocean! Darah Demigods, Angels, Mid-Angel, dan para Manusia sudah cukup membuatku puas!" sahut Ferza yang disusul dengan teriakan para Jenderal yang lain.
"YEAH, PERAANG! BUNUH MEREKA SEMUA!"
.
TBC
.
A/n: Minna-san, maaf sekali karena Author baru bisa melanjutkan story ini. Nah, sebentar lagi akan menuju klimak, dan mulai chapter depan cerita ini akan menjadi fanfiction Naruto Crossovers Percy Jackson and The Olympian. Kalau ada yang belum tahu PJO adalah Novel karya Rick Riordan yang menceritakan tentang Mitologi Yunani dan petualangan Putera-Puteri para Dewa/Dewi Yunani Kuno dengan seorang manusia. Mereka dikenal dengan sebutan Demigods.
Ini dia para character baru yang akan muncul di chapter depan:
Perseus/Percy Jackson (Son of Poseidon/Neptunus)
Annabeth Chase (Daughter of Athena)
Jason Grace (Son of Jupiter/Zeus)
Thalia Grace (Daugther of Zeus/Jupiter)
Nico di Angelo (Son of Hades/Pluto)
Hazel Lavesque (Daughter of Pluto/Hades)
Frank Zhang (Son of Mars/Ares)
Leo Valdez (Son of Hepaestus)
Piper McLean (Daughter of Aphrodite)
Will Solace (Son of Apollo)
Well, mereka semua akan bekerja sama dengan kaum Angels dan Mid-Angel. Hope you like that, minna-san! Arigatou. ^^
