Chapter 3 _ Deepest Slumber
.
"Morning, Harry."
Kecupan di bibir membuat Harry terbangun dari tidurnya. Menampakkan sesosok pria berambut pirang platina yang menatapnya dengan lembut, Harry tersenyum dan menyeringai.
"Tak biasanya kau menciumku di saat tidur, Draco. Atau jangan-jangan kau memang seorang mesum yang hobi memerkosa orang selagi tidur?" Draco mendengus dan mendekati wajah Harry dan mencium kening yang memiliki bekas luka berbentuk tanda petir yang didapatnya saat tragedi di waktu kecil.
"Koreksi, Harry. Kita sudah menikah. Jadi hal apapun yang terbilang 'intim' di antara kita bukanlah pemerkosaan. Apa aku salah jika aku mencium pasangan hidupku di saat tidur?" ujarnya dengan suara baritone yang berat. Harry mendengus menahan tawa dan melingkarkan tangannya di leher Draco, mendekatkan wajah aristokrat itu ke wajahnya.
"Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya saja terasa aneh jika kita melirik ke masa lalu kita yang penuh dengan pertengkaran," kekeh Harry lalu mencium hidung Draco. Draco memutar bola matanya bosan.
"Itu masa lalu, Harry. Lupakan itu. By the way, kau belum mengucapkan salam padaku."
Alis hitam itu mengerut. Ketika menyadari apa yang dimaksud, Harry pun tertawa dan mengeratkan pelukannya sambil mencium bibir pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Morning, Sweety Ferret ."
Mata kiri Draco berkedut pelan saat mendengarnya. Ia pun bangkit dari posisinya lalu menaikkan kedua kaki Harry ke pundaknya dan menahan kedua tangan Harry dengan satu tangannya di atas kepala Harry. Menyadari posisi mereka sekarang, Harry memucat.
"Dra− Draco. Kau bercanda 'kan? Bukankah semalam kita sudah melakukannya?" Harry menggeliat panik di bawah tubuh Draco yang mulai menyentuh pinggangnya. Draco tersenyum penuh makna.
"Yes. Dan aku menginginkannya lagi." Mata hijau cemerlang itu membelalak panik.
"Draco! Please! Tak mungkin kalau pagi ini juga! Draco! Kau tahu kalau bagian bawahku masih terasa sa−hmmph!" Ucapan Harry langsung terpotong dengan tangan besar yang menutupi mulutnya. Senyuman di wajah aristokrat yang menimpa tubuhnya sekarang berubah menjadi seringaian sadis. Harry menggerakkan tubuhnya lebih kencang saat menyadari Draco sedang memposisikan tubuhnya.
Dan pintu pun menjeblak terbuka.
"Daddy! Father! Aku lapaaar! Ayo sarapaann!"
Dengan sekuat tenaga, Harry langsung menendang selangkangan Draco yang menyebabkan Draco menggeliat kesakitan di sampingnya dengan berteriak mengumpat. Menutupi tubuhnya yang telanjang−dan penuh dengan bekas ciuman− dengan selimut hijau lumut, Harry pun mendekati anaknya yang berambut hitam ikal yang sekarang menatapnya dan Draco secara bergantian di depan pintu kamar tidur mereka.
"Father kenapa, Dad?" tanyanya polos.
"Err, sedang berolahraga berguling-guling?" jawab Harry sekenanya dan membimbing anaknya keluar dari ruang tidur miliknya dan Draco. Mata abu-abu anak itu mengernyit heran namun ia tak memikirkan kejadian itu dan menarik tangan Harry lebih kencang.
"Ayo, Dad! Kita makaan! Aku, Scorpius dan Albus sudah menunggu dari tadi di ruang makan! Aku lapaaarr!" rengeknya sambil menarik tangan Harry.
Dengan berat hati, Harry menarik tangannya dan mengelus rambut hitam berantakan yang sama dengannya itu. "Maaf, James. Kau duluan sarapan saja dengan Scorpius dan Albus. Dad dan Father akan menyusul nanti." Menggembungkan pipinya, James pun menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Huh! Kalau begitu yang cepat ya, Dad! Kalau tidak, nanti sarapannya kuhabiskan semuanya!" James pun berlari meninggalkan Harry di depan pintu kamar. Mendesah pelan, Harry membalikkan tubuhnya dan memandang sosok Draco yang masih di tempat tidur dengan posisi telentang.
"Kau marah, Draco?"
"…"
"Hey."
"…"
"…"
Memutar bola matanya, Harry berjalan ke arah suaminya yang masih tidur telentang dengan lengan yang menutupi matanya. Ia pun meraih lengan Draco dan belum sempat berkata apapun, tubuhnya terjatuh ke tempat tidur dengan posisi yang sama seperti beberapa menit yang lalu. Mata hijau cemerlang itu kembali membelalak dan mencoba melepaskan tubuhnya dari tubuh Draco yang berada di atasnya.
"Malfoy selalu memberi hukuman kepada anak yang nakal, Harry."
Tidak.
Tangan Draco menelusuri tubuhnya yang sekarang tak tertutupi apapun. Membuat tubuhnya menegang dengan segala bisikan mengundang yang membuat degup jantungnya berdetak lebih kencang.
Tidak.
Mendesah saat bibir itu mencium tengkuk lehernya. Mengerang saat tangan itu menyentuh titik sensitifnya. Meneriakkan nama pria itu saat ia memberinya gerakan sensual.
TIDAK!
Semakin lama gerakan itu semakin cepat dan membuat matanya terpejam, menikmati semua kepuasan batin dan fisik yang diberikan suaminya. Ia pun membalasnya dengan kehangatan yang sama dan tak bisa disamakan denga−
"NO!"
Dan mata hijau cemerlang itu pun terbuka lebar.
Mulut Harry menganga dan nafasnya tak beraturan. Matanya yang terbuka mengedar ke segala arah, memastikan apa yang ada di sekitarnya. Apa yang ia lihat hanyalah kegelapan yang mengabur. Dipastikan ia tak memakai kacamata bulat yang biasa bertengger di wajahnya. Ia berkeringat dingin karena mimpi buruk yang tadi menghantuinya. Yeah, mimpi buruk yang membuat ia merinding. Oke, ia sedang mencoba melupakan mimpi buruk kelewat detail itu. Ia pun mencoba menggerakkan tubuhnya perlahan.
"Hm?"
Ia tak bisa bergerak dan ia merasakan desah nafas di sekitar tubuhnya. Seperti ada tekanan di seluruh badannya. Apakah ini masih di dalam mimpi atau apa? Ia mencoba merasakan apa yang menimpanya dari segala arah itu. Tepatnya dari arah kanan, kiri dan bagian atasnya.
Atas tubuhnya−
…
Seketika tubuhnya menegang karena ingatan mimpi buruknya.
Ia pun mencoba menggerakkan tangan kanannya yang ia rasakan seperti digenggam oleh sesuatu. Setelah bisa melepaskan diri, ia pun meraba di meja kecil di sebelah tempat tidurnya−ia berdesis saat merasakan kehangatan di lengan kanannya saat meraba bagian meja− dan menemukan kacamata bulat di genggamannya. Perlahan, ia pun memakai kacamatanya dan mengerjapkan matanya kembali.
Dan saat ia menyadari objek apa itu yang berada di atasnya, darah di tubuhnya seakan turun ke perutnya.
Draco Malfoy.
.
Disclaimer: J.K. Rowling
Warning: Slash (telat banget warning yang ini. lol) dan AU
.
Teriakan kencang penuh kekagetan mengudara dan bunyi debam keras terdengar dari arah Hospital Wing. Hermione dan Ron yang ada di ruangan Matron, segera berlari ke arah teriakan itu yang mereka kenali sebagai teriakan Harry. Dengan kepanikan, Hermione menyalakan lilin di sekitar Hospital Wing dan Ron berlari ke arah tempat tidur Harry.
"Harry! Ada a−" Bantal putih terlempar ke wajah Ron dengan sempurna.
"BRENGSEK! KENAPA KAU ADA DI ATAS TUBUHKU, FERRET SIALAN!"
"HEI! AKU JUGA TAK TAHU KENAPA BISA DI ATAS TUBUHMU, POTTY-HEAD!"
"BOHONG! DASAR ORANG MESUM!"
"APA?! DASAR ANAK SIAL BERTAHAN HIDUP!"
"FERRET!"
"POTTY!"
"RAMBUT KLIMIS!"
"SCAR-HEAD!"
"DAGU LANCIP!"
"KACAMATA KUNO!"
"Silencio!"
Suasana di ruangan itu pun langsung hening seketika. Hermione mengacungkan tongkatnya ke arah dua pemuda yang masih membuka mulutnya namun tak bersuara. Gadis itu pun menghela nafas dan mendekati dua anak laki-laki yang ia kenal sebagai James dan Scorpius yang duduk di pojokan ruangan sambil bergemetar ketakutan. Mendelik tajam ke arah dua pemuda yang masih memperhatikannya, Hermione pun memeluk kedua anak itu sambil mengusap rambut mereka, mencoba menenangkan ketakutan dua anak yang melihat pertengkaran calon suami-suami atau yang mereka yakini sebagai Father dan Dad mereka.
"Blimey, Mate. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ron yang hanya dibalas dengan gelengan dan angukan dari Harry dan Draco yang memucat. Menautkan alisnya, Ron menatap Hermione yang masih mengusap rambut hitam dan pirang platina di kedua tangannya.
Hermione membisikkan sesuatu kepada dua anak yang menganguk mengerti lalu berlari ke arah pintu keluar. Saat Ron mau membuka mulutnya untuk bertanya, Hermione memotongnya dengan satu kalimat yang tegas.
"Kalian 'kan pelakunya? Fred? George?"
Ketiga pasang mata menatap kaget ke arah lemari yang tiba-tiba terbuka dan menampakkan kedua sosok anak kembar yang menyeringai.
"Ah, kau menemukan kami, Hermione~" Mata coklat itu menatap tajam ke arah dua anak kembar yang mendudukkan diri di tempat tidur sebelah tempat tidur Harry─dan Draco.
"Apa tujuan kalian membuat Malfoy bisa berada di atas tubuh Harry dan apa yang kalian lakukan?" desis Hermione yang menahan kekesalannya. Kedua anak kembar itu saling tatap dan tersenyum lebar.
"Ah, untuk masalah yang kami lakukan, mudah sekali kok. Kami hanya membuat Malfoy Junior Pertama tak sadarkan diri di lorong dan kami membawanya ke atas tubuh Harry yang sedang tertidur nyenyak bersama kedua anaknya tercinta. Apakah salah jika kami menyatukan cinta antara Malfoy dan Harry? Mereka orangtua dari James dan Scorpie, bukan?" Harry dan Draco membelalakkan mata mereka saat mendengar pernyataan dari Fred dan George.
Terlihat Hermione yang membuka mulutnya untuk protes atas kelakuan barbar mereka, namun ia seperti berpikir ulang dan terdiam beberapa saat. Kedua anak kembar yang tak tertarik lagi untuk menatap Hermione yang sedang berpikir, sekarang lebih memilih untuk menggoda Harry yang masih tak bisa berbicara. Sementara Draco yang keadaannya sama dengan Harry hanya bisa mengumpat non-verbal dan mencibir di dalam hati. Ron yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi membuka mulutnya untuk bertanya.
"'Mione, apa yang terja─"
"Oke, aku setuju dengan maksud kalian. Tapi tolong jangan bersikap seperti itu di hadapan James dan Scorpius. Pertengkaran orang tua tak baik untuk perkembangan anak, bukan?" Harry, Draco dan Ron melongo saat mendengarnya. Si Kembar menyeringai dan bersikap hormat ke arah Hermione.
"Aye aye, Madam!" Hermione mengangukkan kepalanya dan berjalan ke arah keluar ruangan. Ron adalah orang yang pertama kali tersadar dan berlari mengejar Hermione yang berada di dekat pintu Hospital Wing.
"Ah, untuk Malfoy dan Harry. Kalau kalian bertengkar di depan kedua anak itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk mengunci kalian berdua di dalam ruangan sempit dan dingin." Harry dan Draco menautkan alisnya dan memasang muka tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Oi, 'Mione. Kau tak mengembalikan suara mereka seperti semula? Dan apa maksud pernyataanmu tadi?" tanya Ron yang menahan lengan Hermione di ambang pintu Hospital Wing.
Dengan kerlingan misterius, Hermione tersenyum saat melihat wajah pucat Harry dan Draco.
"Untuk suara, ini hukuman bagi mereka. Dan untuk pernyataanku tadi─" Harry bersumpah ia melihat seringaian di tengah-tengah senyuman Hermione.
"─A secret makes a woman woman."
Pintu itu pun tertutup, meninggalkan calon pasangan suami-suami yang masih melongo menatap pintu.
- u -
Tidak.
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.
Mengerutkan keningnya, pemuda bermata hijau cemerlang berpikir keras sambil menatap tajam buku Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang tak bersalah. Ia menelengkan kepalanya dan terdiam beberapa saat. Tak lama kemudian, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menenggelamkan wajahnya di atas buku tebal yang terbuka di hadapannya. Yang tak lama kemudian lagi, ia menjedukkan kepalanya di atas buku sambil bergumam, 'Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak, tidak,' beberapa kali.
Ronald Weasley, pemuda yang merupakan sahabat sejak kecil seorang Harry Potter, hanya bisa menatap bingung sikap aneh sahabatnya yang sekarang lebih memilih mencubit pipinya dengan tangannya daripada mengerjakan essai yang akan dikumpulkan esok hari. Walaupun ia sudah lama bersahabat, namun terkadang ia tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya yang satu ini. Terkadang ia begitu berani dan bahkan kelewat berani hingga pernah termakan naga yang dibawa pulang Charlie saat Harry menginap di rumahnya. Entah apakah naga itu berpikir bahwa Harry adalah makanan pembuka atau Harry membuatnya marah, ia sama sekali tidak tahu.
Harry pun tergolong anak ajaib yang bisa menguasai pelajaran dalam waktu singkat. Hanya saja jika pelajaran itu adalah pelajaran yang ia sukai. Kalau tidak, ia perlu kursus pribadi yang ia minta ke Hermione, yang disambut baik oleh gadis berambut coklat itu.
Sekali lagi sahabatnya itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Memutar bola matanya, Ron pun menyentuh pundak sahabatnya dan bertanya dengan suara rendah, tentu karena ia dan Harry sedang berada di perpustakaan.
"Hei, Mate. Kau tak apa?"
Tak disangkanya, pemuda bermata hijau cemerlang di sebelahnya itu berjengit lalu bergeser menjauhinya secara tiba-tiba dan memandang dirinya dengan mata yang melebar. Secara refleks, Ron pun langsung mengangkat tangannya dari pundak sahabatnya itu seakan jika menyentuhnya maka tangannya akan terbakar.
"Eh, uh, ta─tak apa kok, Ron," ujarnya sambil menggeser kembali dari duduknya yang semula. Menganguk di tengah keheningan yang terasa awkward, Ron kembali menenggelamkan pikirannya di perkamen yang sekiranya sudah ia lupakan beberapa menit yang lalu. Dari sudut matanya, ia melihat Harry yang sekarang menghela nafas lagi, lalu mulai mengerjakan essai dengan pandangan menunduk. Tak lepas dari penglihatannya, Ron menyadari bahwa ada rona merah di wajahnya.
.
Harry Potter bukanlah seorang gay.
Adalah pikiran yang terus berulang kali terpartri di otak Harry. Dia yakin seratus persen dia adalah lelaki normal, penyuka wanita, straight, heteroseksual, dan apapun yang bermakna dia bukanlah gay.
Buktinya, ia pernah berciuman dengan Cho Chang, gadis Asia dari Ravenclaw yang ia sukai di tahun keempat dulu, yang sayangnya karena ia sudah memiliki pacar, Harry hanya bisa 'berteman' dengannya di saat itu. Entah keberuntungannya atau apa, di tahun kelima Cho putus dari pacarnya yang berasrama di Hufflepuff itu, Cedric Diggory. Ialah yang menghiburnya di saat ia bersedih. Dan di suatu ketika, bagaikan ia meminum ramuan Felix Felicis, mereka pun berciuman di bawah mistletoe. Romantis, tentu. Hanya saja, beberapa bulan kemudian Cho menerima kembali Cedric di sisinya dan memutuskan hubungannya dengan Harry. Sedih? Tentu saja. Tapi demi kebahagiaan Cho, Harry pun menerimanya dengan hati yang lapang.
Begitu juga di awal tahun keenamnya, Ginerva Weasley, adik dari sahabat baiknya menyukai dirinya sedari tahun keduanya. Saat Ginny menyatakan cintanya, ia pun menerimanya dan menganggapnya sebagai wanita yang ia dambakan. Mereka pun berkencan layaknya pasangan di mabuk cinta lainnya, berciuman dan berpelukan di setiap saat mereka bertemu. Namun Harry merasa ada yang salah dengan hubungan mereka. Semakin lama mereka memadu kasih, semakin lama juga Harry menyadari bahwa ia menyukai Ginny, bukan mencintainya. Ia memandangnya sebagai adik kecilnya, bukan sebagai wanita pujaan hatinya. Ia pun menjelaskan isi hatinya kepada Ginny setelah tiga minggu mereka berpacaran. Awalnya Ginny tidak menerimanya, ia tetap bersikukuh agar Harry tetap menjadi kekasihnya. Dengan sabar Harry pun menjelaskan bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Ginny tetap tak menerimanya dan mereka pun tak berbicara selama dua minggu penuh. Namun, lima hari dari acara pertengkaran-dingin-dua-minggu itu, Ginny akhirnya menerima perpisahan mereka walau dengan mata yang sembab dan berwarna merah.
Ia bukanlah seorang gay, bukan? Tak memiliki pacar wanita tak berarti ia adalah seorang gay. Merlin, ia masih bernafsu dengan tampilan wanita yang berpakaian minim dibanding tampilan pria yang memperlihatkan otot besarnya. Please, ia adalah seorang straight dan Harry yakini itu selama enam belas tahun hidupnya.
"Lalu mimpi itu apa?' Batin Harry bergejolak di saat ia mengingat mimpi-buruk-hampir-mendekati-film-porno-gay di saat ia pingsan seminggu yang lalu. Ia memimpikan seorang Draco Malfoy menyetubuhinya dan ia sangat menikmati perlakuan Draco kepadanya. Mengingat mimpi itu lagi, Harry menjedukkan kepalanya ke tembok batu terdekat. Samar-samar, ia mendengar teriakan kaget dari Hermione dan Ron yang menanyakan apa yang terjadi kepadanya namun ia abaikan.
Harga dirinya lebih diutamakan dibanding apapun yang ada di sekitarnya.
Oke, jangan panik Harry James Potter. Mimpi itu hanyalah mimpi absurd biasa─ia mati-matian menyangkal bahwa mimpi itu adalah mimpi basah─ yang hanya saja pasanganmu kali ini bukanlah seorang wanita, melainkan pria. Pasanganmu itu juga bukanlah wanita seksi yang mendekapmu erat dan meneriakkan namamu, melainkan pria bertubuh kekar yang mendekapmu erat dan membisikkan kata-kata vulgar di telingamu dengan tambahan jilatan sensual di belakang telingamu.
...
Demi stocking berenda Merlin─
'TIDAK, TIDAK, TIDAK. PLEASE, LUPAKAN ITU, HARRY!' Batinnya kembali berteriak. Ia mengabaikan seruan dari Ron yang ada di belakangnya yang entah meneriakkan sesuatu kepadanya. Ia terus berjalan hingga ia menabrak seseorang yang bertubuh lebih tinggi darinya. Mengerjapkan matanya, ia pun mendongak untuk menatap seseorang yang menutupi pandangannya.
"Matamu ada di mana, Potter? Ah iya, aku lupa walaupun kau memiliki empat mata tapi tentu saja semuanya tak berguna."
Harry menajamkan tatapannya ke arah pemuda berambut pirang platina yang menyeringai sambil terkekeh di depan tubuhnya. Dua bodyguard-nya, Crabbe dan Goyle ikut terkekeh di samping kanan kirinya.
"Menyingkir dari hadapanku, Malfoy," desisnya kesal, masih dengan posisi yang berdekatan dengan saling menatap tajam. Pewaris Malfoy itu melebarkan seringaiannya dan makin mendekatkan kepalanya ke arah Harry.
"Oh? Bukankah kau yang menabrakku duluan, Potter?"
"Bukankah kau bisa untuk menyingkir terlebih dahulu sebelum aku menabrakmu? Ini salahmu juga, Malfoy."
"Kau yang salah, Potty-Head."
"Menyingkir dari hadapanku, Ferret-Face."
"Ah? Father dan Dad mau berciuman? Tak biasanya kalian mau melakukannya di depan banyak orang."
Satu kalimat yang diutarakan seorang anak kecil bernada riang itu langsung menghenyakkan mereka berdua.
Dari situlah mereka menyadari bahwa posisi mereka yang terlalu berdekatan hingga mereka dapat merasakan hangatnya nafas yang menguar di sekitar wajah mereka. Membelalakkan matanya dalam hitungan detik, Harry dan Draco langsung menjauhkan wajah mereka dengan pandangan jijik.
Sayangnya, di saat yang bersamaan terdengar dua suara kembar yang saling berteriak meminta maaf dan menabrakkan tubuhnya─entah sengaja atau tidak─ ke kedua tubuh pemuda malang tersebut dari belakang. Terdengar jeritan tertahan dan siulan nakal seiring dengan detik demi detik tubuh mereka berdekatan.
Dan di detik terakhir, mereka pun saling menempelkan bibirnya di hadapan semua orang yang lewat.
o u o
"Sudah kuduga hubunganmu dengan Potter akan semakin intim, Draco." Menatap tajam ke arah pemuda yang ada di ambang pintu kamarnya, Draco mendesis kesal.
"Kukutuk mulutmu kalau kau terus berkomentar seperti itu, Blaise." Blaise masih menyengir jahil menatap sahabat sejak kecilnya yang sekarang memilih tenggelam di tumpukan buku Ramuan di tempat tidurnya. Ia pun mendekati Draco yang sekarang membalikkan halaman buku Ramuan dengan kasar sambil menggerutu pelan.
"Kudengar belakangan ini, banyak anak perempuan yang membuat perkumpulan fans atau apalah itu yang kalau tak salah bernama 'Draco-Harry Forever'. Apa kau tahu hal itu, Drakie?" tanyanya jahil dan menghindari lemparan buku ramuan tebal yang mengarah ke kepalanya.
"Aku tak bercanda mengenai kutukan itu, Blaise. Pergi dari sini atau kau diam tanpa berkomentar apapun mengenai itu." Kilat marah terpancar dari mata abu-abu milik Draco. Ah, ia benar-benar marah mengenai insiden ciuman tadi. Mengangukkan kepalanya, Blaise memilih diam dan mengambil salah satu buku milik Draco yang ada di dekatnya. Setidaknya ia masih menyukai bibir seksinya ini dibanding harus mengaduh sakit terkena kutukan dari pewaris Malfoy itu.
Pintu kamar Draco terbuka sedikit dan menampakkan sesosok anak kecil berambut pirang platina yang mengintip dari balik pintu. Mata hijaunya menatap khawatir ke arah Draco dan Blaise yang sekarang menatap balik anak kecil itu.
"Ada apa, Scorpie? Apa sekarang sudah jam tidur?" tanya Blaise yang mengamati gerak gerik Scorpius yang tersentak saat mendengar pertanyaan Blaise tadi. Menggelengkan kepalanya panik, Scorpius masuk ke dalam kamar Draco secara perlahan sambil membawa buku Ramuan di tangannya.
"A-ada yang tak kumengerti mengenai pelajaran Ramuan tadi. A-apa aku mengganggu Father dan Uncle Zabini?" ujarnya sambil menunduk menatap karpet hijau lumut di lantai.
"Blaise, Scorpius. Panggil aku Blaise saja. Terserah kalau kau mau memanggilku dengan Uncle atau tidak, tapi jangan dengan margaku. Dan kau tak menggangguku dan ayahmu tersayang, kok," ujar Blaise sambil menyengir dan mengibaskan tangannya menyuruh Scorpius mendekati mereka.
Malfoy-mini itu pun mendekati keduanya sambil menatap ke arah lantai, tak berani untuk menatap langsung wajah Draco dan Blaise yang masih menatap anak kecil itu. Blaise pun mendengar Draco menghela nafas dan menepukkan tangannya di tempat tidur.
"Apa yang mau kau tanyakan, Scorpius? Aku tak akan menggigitmu, kau tahu?" Mendengar itu Scorpius langsung mendongak dan menatap wajah Draco dengan pandangan kaget. Ia pun bergegas naik ke tempat tidur dan membuka buku Ramuan yang sejak tadi ia genggam erat-erat.
Menaikkan alisnya, Blaise menatap kedua orang yang mirip satu sama lain itu─minus warna mata pupil─ yang saling bercengkerama membicarakan Ramuan dengan bersemangat. Blaise pun tersenyum melihatnya dan membaca kembali buku Ramuan di pangkuannya sambil mendengarkan celotehan Scorpius mengenai takaran Wolfsbane dalam Ramuan Wolfsbane.
Blaise tentu menyadari secuil keanehan ini. Draco selalu berkata bahwa ia membenci Potter, tapi ia tak berkomentar negatif ataupun berkata bahwa ia membenci dua pembawa masalah yang jelas-jelas merupakan awal dari segala 'insiden' yang terjadi kepadanya. Draco justru terlihat peduli dengan Scorpius ataupun James. Yeah, ia memang terlihat membenci mereka dan bersikap seolah tak menyukai keberadaan mereka, tapi tanpa disadarinya Draco justru menunjukkan kepeduliannya terhadap dua anak itu─terutama kepada Scorpius yang notabene sekamar dan seasrama dengannya.
'Yah, setidaknya Hogwarts tidak akan membosankan lagi jika ada dua anak ini,' pikir Blaise matang sambil menyeringai senang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
- u -
"Dad? Dad baik-baik saja?"
Pemuda yang dipanggil 'Dad' itu tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak kecil berambut hitam yang identik dengannya.
"Dad?" Anak kecil itu mendengus dan mendekati 'ayah'nya yang terbaring tengkurap di tempat tidurnya. Tak mendapat respon yang diinginkan, James menyeringai. Melangkahkan kakinya sejauh dua meter dari tempat tidur Harry, James berlari lalu meloncat dan terjatuh tepat di atas punggung Harry yang berteriak kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, James?!" teriak Harry yang menatap tajam James dari balik pundaknya. Mencibirkan bibirnya, James mengeratkan pelukannya di punggung Harry yang sekarang meronta mencoba melepaskan diri.
"Tidak mau! Dad harus menjelaskan kepadaku kenapa sejak tadi siang Dad hanya diam di kamar!" Ia bersikukuh memeluk tubuh ayahnya dari belakang.
"Memangnya kenapa kalau aku hanya di kamar? Itu bukan urusanmu!"
"No! Itu urusanku, Dad! Aku anakmu!"
"Siapa yang kau bilang anak, hah?! Lepaskan aku, James!"
"Tidaaakk! Sampai Dad bilang akan menjelaskan semuanya kepadaku, baru aku akan melepaskan Dad!" Memberontak lebih kuat lagi, Harry menggulingkan tubuhnya ke kanan dan membuat tubuh mereka jatuh ke lantai dengan debam yang keras. James meringis sambil berguling-guling saat kepalanya terantuk lantai.
"Dad jahat! Apa masalahnya sih kalau Father mencium Daddy?!" teriak James yang mengusap-usap belakang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Tentu saja masalah! Aku dan Malfoy tidak saling mencintai dan kami berdua adalah lelaki! Dan jangan panggil aku dan Malfoy dengan sebutan Father dan Dad lagi!" teriak Harry sambil menatap tajam wajah yang mirip dengannya itu.
James terdiam dan mata abu-abunya terbelalak pelan. Ia pun menunduk dengan pundak yang bergetar pelan.
"Itu tidak benar! Father dan Dad saling mencintai! Dad sendiri yang bilang gender sama sekali tak masalah dalam hubungan kalian! Dad bodoh! Dad jelek! Dan aku akan tetap memanggil kalian dengan Father dan Dad!" James pun mengakhiri adu mulut itu dengan berlari keluar dari kamar itu, meninggalkan Harry yang menatap tajam pintu kamarnya yang terbuka lebar.
Terdengar langkah berat yang mendekati pintu yang terbuka itu. "Wow, Mate. Apa yang terjadi? Kenapa James berlari sambil berteriak begitu?" Mendengus pelan, Harry berdiri sambil mengusap kepalanya yang juga terantuk lantai.
"Nothing. Ada apa?" Menaikkan alisnya, Ron mengangkat bahunya seraya berkata, "Professor Riddle memanggilmu untuk ke ruangannya sekarang juga."
Dengan penuh depresi, Harry mengerang saat mendengar titah dari Professor yang paling tidak ingin ia temui saat ini.
- u -
Tatapan yang memuakkan adalah hal yang pertama kali Harry lihat dari wajah Professor Riddle di saat ia menginjakkan kakinya di ruangan pribadinya. Mengerling ke arah Draco yang sudah mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan Riddle, Harry pun menarik kursi di sebelah Draco─lebih jauh dari tempat semula─ dan duduk di sana dengan tatapan tajam yang masih tak terlepas dari wajahnya.
Insiden ciuman tadi masih meninggalkan kekesalan yang luar biasa pada diri Harry kepada dua kembar Weasley, James, Scorpius, dan Professor Riddle yang paling berjasa atas semua kejadian yang terjadi kepadanya belakangan ini. Ah, terutama kepada pemuda sialan di sebelahnya ini yang menjadi sumber utama masalah. Memicingkan matanya ke arah Draco, Harry pun mendesis kesal. Tak mau kalah, Draco pun ikut menatap tajam ke arah Harry yang akhirnya memutuskan acara saling tatap tajam itu dan beralih ke arah Riddle yang menatap mereka dengan pandangan yang tak terbaca.
"Ada apa, Professor?"
Riddle mengangkat alisnya, heran.
"Ah, kupikir kalian mau berciuman sekali lagi?" Kedua pemuda itu memicingkan kedua matanya yang berkilat marah ke arah Riddle yang tersenyum penuh makna. Riddle pun mengibaskan tangannya lalu mengatupkan kedua tangannya.
"Karena pertemuan kita yang sebelumnya tak berjalan lancar, jadi aku pikir untuk mengadakan pertemuan lagi di antara kita. Tentu saja untuk menjawab apapun yang ingin kalian tanyakan kepadaku. Tapi─ia memberikan penekanan penuh di kata 'tapi'─ tak semua pertanyaan kalian bisa kujawab sepenuhnya." Kedua pemuda itu menahan nafasnya saat mendengar penawaran dari Professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu.
Keduanya terdiam untuk berpikir pertanyaan apa yang akan mereka tanyakan kepada Professor mereka. Draco-lah yang mengawali pertanyaannya.
"Apakah kami memang menikah di masa depan?" tanya Draco tanpa basa-basi. Harry masih berjengit saat mendengarnya, tapi tak memutuskan pandangannya dari Riddle. Menelengkan kepalanya, Riddle menjawabnya dengan lagi-lagi senyuman penuh makna.
"Apakah aku perlu menjawabnya?" jawab Riddle santai. Mata kiri Draco berkedut pelan.
"Apakah James dan Scorpius adalah anak kami?" Giliran Draco yang berjengit saat mendengar pertanyaan Harry.
"Apakah aku harus menjawabnya?" Mengabaikan kekesalan Harry, Draco bertanya lagi.
"Apa yang menjadi tujuan mereka datang ke masa lalu?" Riddle mengedarkan pandangannya ke arah atap ruangannya lalu menjawab dengan suara pelan.
"Tentu seperti yang mereka jelaskan seminggu yang lalu, Malfoy. Tujuan mereka adalah untuk melihat kalian menikah." Keduanya menahan kekesalan yang mulai naik di barometer kemarahan mereka.
"Oke, akan kurubah pertanyaannya. Kalau kami tidak menikah, apa yang akan terjadi?" Harry menanyakannya dengan kepalan tangan yang tergenggam erat. Jika ia menjawabnya dengan jawaban menyebalkan lagi, ia tak akan segan memukul wajah tampan Professor itu.
Tak disangka Harry dan Draco, Riddle hanya terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Air muka dan raut wajahnya sama sekali tak berubah dan tak bisa terbaca. Belum sempat Harry mengemukakan pertanyaan lagi, suara anak kecil bergema dari arah belakang mereka.
"Kalau kalian tidak menikah, maka Dad akan meninggal dunia."
Kedua pemuda itu membalikkan tubuhnya dan menatap dua anak kecil yang berjalan masuk ke arah ruangan itu. Harry masih mencerna perkataan anak kecil tadi dengan rasa ketidakpercayaan di pikirannya.
Meninggal? Ia akan meninggal?
"Hah, jangan membohongi kami berdua, James. Mana mungkin hanya karena kami tidak menikah maka Potter akan meninggal dunia?" cibir Draco yang memecahkan keheningan. Scorpius menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Draco.
"Tidak, Father. Dad benar-benar akan meninggal jika kalian tidak menikah. Kami sendiri yang menyaksikannya. Kami sendiri yang paling tahu kejadian itu. Karena itu─"
"Karena itu, mereka mohon agar kalian berdua mulai mencintai satu sama lain. Ya kan, Scorpius? James?" Suara yang diselimuti dengan tekanan itu membuyarkan pikiran Harry yang masih memikirkan pembicaraan tadi. Dengan pelan, ia pun menatap Riddle yang masih menangkupkan tangannya di belakang mejanya.
"Apa maksud anda, Professor? Benar kata Malfoy, mana mungkin hanya karena tak adanya pernikahan membuat seseorang menjadi meninggal? Lelucon apa ini?" ujar Harry dengan tawa yang dipaksakan. Tentu seharusnya ia merasa geli dengan perkataan absurd dari James dan Scorpius tadi, tapi entah kenapa ia sama sekali tak bisa merasa lucu atas pernyataan itu.
Ia merasa bahwa apa yang James dan Scorpius katakan adalah benar adanya.
"Tentu bisa terjadi, Potter. Bagaimana kalau takdir kematianmu itu bisa tak terjadi jika kau memiliki pasangan yang akan melindungimu?"
"Eh?"
"Bagaimana kalau anak kalianlah yang akan menyelamatkanmu dari kematian itu, Potter?"
Keheningan yang menyesakkan membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Entah sejak kapan seluruh pikiran Harry hanya terpusatkan pada takdir kematian yang masih ia tak ketahui benar atau tidaknya.
"Lalu apa buktinya dari perkataan kalian ini, Professor? Kami sama sekali tak bisa mempercayainya jika tak ada bukti," desis Draco yang menyeringai merendahkan.
Menaikkan alisnya, Riddle mengangukkan kepalanya dan mendekati kedua anak kecil yang masih terdiam di dekat pintu ruangannya. Ia pun mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengacungkannya ke arah kepala James dan Scorpius. Secara perlahan, Riddle menarik tongkatnya dan dari ujung tongkatnya terlihat sebuah seutas cahaya keperakan. Menyadari apa yang Riddle lakukan, Harry terkesiap saat melihatnya.
"Pensieve..." Riddle tersenyum dan menuangkan cahaya itu ke dalam Pensieve yang dimilikinya. Cahaya perak itu bersinar dari Pensieve tersebut. Riddle tersenyum lebih lebar─atau menyeringai lebih tepatnya─ dan menatap kedua wajah yang menatap tak percaya ke arah Pensieve yang bercahaya di sebelahnya.
"Jika kalian ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, aku minta kalian untuk melihat ingatan milik James dan Scorpius. Dan jika kalian melihat ingatan ini, maka kalian dipastikan akan menyetujui dengan pernikahan yang akan kalian lakukan seusai lulus nanti."
Terdengar nada mengejek dari perkataan Riddle yang tak diacuhkan baik Harry dan Draco. Mereka pun mendekati Pensieve itu secara bersamaan. Mengangukkan kepalanya, Harry dan Draco menenggelamkan kepala mereka secara bersamaan ke dalam sinar keperakan yang menarik mereka ke dalam ingatan yang tak akan disangka oleh keduanya.
Ingatan yang menunjukkan sebuah kenyataan atau sebuah kebohongan besar atas semua insiden yang terjadi kepada mereka berdua.
- u -
- James Hyperion Malfoy -
Dad jelek! Dad jahat! Dad keras kepala!
Apa salahnya kalau Father mencium Dad? Ia tidak terluka karena ciuman itu bukan? Huh, bahkan kalau ingatanku tak salah, mereka di masa depan nanti justru bertukar ciuman sepanjang hari dan tak peduli di mana pun tempatnya! Lagipula Father tak banyak berkomentar mengenai itu!
Err, tidak juga sih. Kata Scorpy, Father mengirimkan kutukan bisul kepada siapapun yang mengungkit ciuman itu di depannya. Tapi itu lebih baik daripada mengatakan hal menyebalkan seperti yang dilakukan Dad kepadaku!
...memangnya salahkah kalau aku dan Scorpy ingin bersatu lagi dengan Father dan Dad? Salahkah kalau kami bisa tertawa dan merasakan kehangatan mereka lagi?
...
Pokoknya aku berharap agar Father dan Dad bisa menikah! Oh tidak berharap tentunya, aku pasti akan membuat mereka menikah di hadapanku dan Scorpy! HAHA!
Malfoy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, bukan?
.
A/N: Err, oke di chap ini dengan terpaksa ratenya dinaiikan jadi M. _(:3)rz /desh Tapi yang berharap banyak di dekat-dekat ini mereka udah lovey-dovey silahkan kecewa karena masih lama perjalanan cinta mereka wkakakk /woi
Gimana juga mereka tadinya straight (serius straight kok, kan ngikutin canonnya /hah), tapi karena keadaan yang mendesak mereka jadi gay juga akhirnya. :v Kalau di canon kan mereka emang punya 'ikatan' tapi yang sayangnya ga ditumpahkan secara langsung jadinya hints doang :'(
dian minimin: Perlukah aku menjawabnya? /dsepak Ah, ah, ah, daku ga pernah bilang Dumbledore yang ngebawa mereka ke dunia sekarang lo ;3 ffff
MJ:Draco kan emang lucu sih y /bukan
Thanks atas review dan favenya :') Silahkan tunggu chap selanjutnya ya~
EDITED: Btw, nama Albus itu yang benar Albus Marvolo Potter-Malfoy. 8'D Aku lupa dengan derajat nama marga yang benar orz orz
Daann~ 'A Secret makes a woman woman' itu quote elegan nan sesuatu dari Vermouth - Detective Conan milik Aoyama Gosho ^^
Review please?
