Part 4 _ Wedding's Plan

Sebuah rumah berdiri kokoh dengan tembok bata merah di sekitarnya yang mewah namun nyaman menyelimuti pandangan mereka. Terdapat beberapa alat elektronik khas Muggle yang baru Harry lihat di sekeliling mereka berdua. Di sudut matanya, ia melihat Draco yang mengernyit heran memandangi alat-alat yang terasa asing di matanya. Harry pun menahan keinginannya untuk tertawa saat melihat betapa bodohnya wajah Draco saat ini.

Suara tawa cekikikan anak kecil memutuskan pikiran Harry yang menerka-nerka apa yang terjadi di sekelilingnya. Mengikuti rasa ingin tahu Gryffindor-nya, Harry pun berjalan ke arah suara yang berada di pojok ruangan sebelah tangga besar. Draco yang tak ingin tersesat di rumah yang tidak ia ketahui apa itu pun mengikuti langkah Harry menuju pojokan ruangan.

Terdapatlah dua anak kecil yang mereka ketahui siapa itu saling tertawa lepas sambil melemparkan roti ke masing-masing wajah lawan mereka. Di sebelah anak berambut pirang platina yang sedang melempar rempahan roti ke arah anak berambut hitam itu terdapat anak bayi yang ikut tertawa melihat kedua kakaknya bermain. Anak bayi yang berambut pirang platina dengan mata abu-abu mengikuti gerakan kakaknya yang mengambil rempahan roti lalu melemparnya ke arah kakaknya yang berambut hitam.

Pemandangan yang membuat Harry dan Draco terkejut saat melihatnya. Ia pun menyadari bahwa anak bayi yang tertawa itu adalah Albus Marvolo Potter-Malfoy, yang Harry kenali dari foto keluarga yang diperlihatkan James tempo hari. Secara tak sadar, Harry mendekati ketiga anak kecil yang masih tertawa dan saling bersembunyi satu sama lain dengan genggaman roti di tangannya. Ia pun mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh rambut bayi yang berwarna pirang platina di hadapannya itu. Namun seperti yang ia duga, tangannya menembus kepala bayi yang sekarang mengunyam rempahan roti di tangannya.

Tentu saja, karena ini hanyalah ingatan Pensieve semata.

Scorpius di ingatan itu berteriak kaget saat melihat adiknya mengunyam rempahan roti itu. Mereka pun menghentikan kegiatan saling-lempar-rempahan-roti itu. James menyeringai namun mengambilkan lap basah untuk dibasuh ke wajah adiknya yang masih kecil itu. Selesai membersihkan wajah bulat adiknya dari rempahan roti, Scorpius tertawa dan memeluk Albus. Menyentuhkan dahinya ke dahi Albus, Scorpius tersenyum penuh kasih lalu mencium pipi bulat Albus yang terkikik senang.

Tak lama kemudian, suara dua orang dewasa terdengar dari arah pintu ruangan makan itu. Harry dan Draco menoleh menatap dua orang dewasa yang mirip dengan mereka berdiri di hadapan mereka. Penampilan mereka tak jauh berbeda─atau bahkan memang sama─ dengan mimpi Harry. Menggelengkan kepalanya saat ia mengingat kembali mimpi itu, Harry menyibukkan diri dengan menatap dua orang dewasa itu memasuki ruangan dan memarahi kedua anaknya yang mengotori ruangan.

Keluarga yang bahagia. Ya, itulah yang pasti dipikirkan semua orang yang melihatnya. Ia pun tak bisa menyangkalnya saat ia melihat kelima orang yang bercengkerama di ruang makan itu. Draco pun hanya terdiam saat melihat sosok dewasanya yang berbagi kehangatan kepada ketiga anak itu dan dirinya.

Secara tiba-tiba, asap hitam berhamburan di sekitar mereka. Pemandangan di sekitar mereka pun berubah menjadi pemandangan di hutan yang gelap. Harry mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat pemandangan yang amat sangat berbeda dengan awal mereka datang.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Draco dengan nada ketakutan. Tak menjawab pertanyaan Draco, Harry pun menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Mereka pun menelusuri hutan lebat itu hingga ada suara terisak dari kedalaman hutan yang paling dalam.

Mereka pun sedikit berlari ke arah suara isakan itu. Menghindari beberapa batang kayu yang kokoh─walau mereka tahu bahwa mereka hanya akan menembus batang itu─ lalu menuruni beberapa gundukan yang curam. Di sanalah kedua mata hijau cemerlang dan abu-abu itu terbelalak lebar.

Tubuh seorang pemuda berambut hitam ikal tergolek lemah tak berdaya di hadapan mereka. Di sekitar tubuhnya, terdapat batang kayu pohon besar yang menimpa bagian kakinya. Dua anak kecil yang merupakan sumber suara isakan itu hanya mengaduh kesakitan dan berteriak meminta tolong sambil berusaha menarik batang kayu yang menimpa tubuh pemuda itu. Sayangnya, kekuatan mereka sama sekali tak bisa memindahkan batang kayu itu. Tubuh pemuda itu berlumuran darah dan penuh lebam, sama halnya dengan kedua anak kecil itu.

Secara tak sadar, Harry mengeluarkan tongkat sihirnya dan menggumamkan mantra. Namun tentu, hasilnya nihil. Draco yang menatap tubuh pemuda itu bergerak mendekati pemuda itu dan mencoba meraih batang kayu yang tentu saja hanya tak bisa ia sentuh.

"Mengapa bisa seperti ini?" desis Draco mencoba berhipotesa hal apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda dan kedua anak kecil itu. Harry mendesah dan menggelengkan kepalanya. Dilihatnya, anak kecil berambut pirang itu berdiri dari tempatnya dan mengusap darah yang mengalir di wajah pemuda itu.

"Dad, pasti akan selamat. Kita tunggu Father, ya. Kumohon bertahanlah, Dad," isak Scorpius sambil menyodorkan sebotol air ke mulut ayahnya yang terbuka. Perlahan ia bantu ayahnya untuk meminum air itu yang hanya dibalas dengan batuk tak terkendali dan erangan kesakitan. James berteriak meminta tolong lebih keras. Menyadari tak ada yang bisa mereka lakukan, James pun mengambil batang kayu yang besar di sisi kanannya dan bergerak mendaki jurang itu secara perlahan.

"Father tak mungkin datang, Scorp. Ia tak tahu kalau kita berada di sini! Aku akan naik untuk meminta bantuan!" teriak James yang terjatuh di langkahnya yang ketiga. Lukanya terlalu parah untuk bisa bergerak lancar. Scorpius memekik kaget dan setengah berlari menuju James yang mendesis kesal dan memukulkan kepalan tangannya ke tanah.

"Father pasti datang, James. Tiga hari menghilang tanpa berita, Father pasti mencari kita! Kita harus menunggunya, James. Minumlah air ini. Kau pasti dehidrasi," ujar Scorpius menenangkan. Dengan tangan yang bergemetar, James pun meminum seteguk air dan terdiam, setidaknya ia harus menyisakan persediaan air untuk mereka bertiga. Menghela nafas, Scorpius pun merangkak menuju tubuh ayahnya dan memeluknya dengan hati-hati.

Beberapa menit asap hitam kembali mengaburkan pandangan Harry dan Draco. Namun samar-samar percakapan antara Scorpius dan James terdengar namun tak begitu jelas di telinga mereka. Asap itu menghilang dan kembali memperlihatkan pemandangan yang sama seperti beberapa menit yang lalu.

Mengernyit heran, Harry pun menoleh saat mendengar teriakan samar-samar dari arah atas jurang itu. Scorpius dan James menyadari teriakan itu dan menjawabnya dengan teriakan keras sambil melambaikan tangan mereka. Pemandangan pun mengabur kembali dan secara tiba-tiba pemuda berambut pirang muncul di hadapan mereka dan memeluk tubuh pemuda berambut hitam yang sudah terlepas dari batang kayu yang menimpanya. Pemuda berambut pirang itu terlihat menangis dan mengusap rambut pemuda berambut hitam itu dengan tubuh yang bergetar menahan isak tangis.

Hanya kata, 'Maaf, maafkan aku' yang terdengar dari bisikannya. Saat pemuda berambut pirang itu menggumamkan sesuatu yang tak jelas, pemandangan itu mengabur. Scorpius dan James tak terlihat di pandangan mereka di saat itu dan seketika asap hitam kembali menguasai pemandangan mereka.

Harry dan Draco menapaki sebuah kamar yang didominasi warna putih dengan satu tempat tidur tepat di tengah-tengah kamar itu. Terdapat sosok pemuda berambut hitam yang duduk bersender di bantal empuk berwarna putih sambil menatap kosong ke arah jendela. Pintu di belakang Harry dan Draco terbuka dan menampakkan sesosok pemuda berambut pirang yang berjalan masuk dengan sebuket bunga Lily di tangannya.

"Kau sudah bangun, Harry?" Pemuda itu pun mencium kening pemuda berambut hitam itu lalu menaruh buket itu di pangkuan pemuda berambut hitam. Harry dewasa itu menoleh perlahan ke arah pemuda berambut pirang dan menganguk pelan. Ia pun menatap bunga Lily itu dan mengelusnya perlahan.

"Ke mana Scorpie dan James?" Terlihat pemuda pirang itu terdiam sebentar lalu tersenyum dan mencium pipi Harry.

"Sedang bersama ibuku. Mereka akan mengganggumu kalau mereka berada di sini, kau tahu?" kekehnya pelan dan memeluk tubuh Harry yang masih menatap bunga Lily itu.

"Aku harus berterima kasih kepada mereka. Berkat mereka aku masih bisa bernafas di sini dan berbincang padamu, Draco."

"Hm, sebelumnya kau harus sembuh sepenuhnya dahulu, Sayang. Tak mungkin aku memperlihatkanmu yang masih lemah seperti ini ke hadapan mereka," ujar Draco sambil mengusap lengan kanan Harry yang tak diperban. Harry pun tersenyum dan menenggelamkan kepalanya di dada Draco.

"Maafkan aku, Draco."

Asap hitam pun menutupi pandangan mereka dan menarik tubuh Harry dan Draco menuju ke atas dengan sensasi dingin yang menerpa wajah mereka.

.


Disclaimer: J.K. Rowling

Warning: Slash (boyxboy) & AU

A/N: Demi apa chapter ini kepanjangan. /tenggelam


.

.

Secara bersamaan, mereka pun menarik kepala mereka dari Pensieve yang masih menyala dan mengerjapkan mata mereka perlahan. Harry pun menoleh ke arah Professor Riddle yang masih mengamati mereka berdua dari balik meja pribadinya. Scorpius dan James tak terlihat di ruangan itu.

"Scorpius dan James sudah kusuruh untuk kembali ke kamar mereka masing-masing, jika kau bertanya di mana mereka sekarang," jawab Riddle tanpa ditanya. Riddle pun mengangkat tangannya ke arah kursi di depan mejanya, gestur untuk menyuruh duduk, lalu menangkupkan tangannya di depan wajahnya.

"Apa kesimpulan kalian?" ujarnya sambil tersenyum.

"Aku tak bisa menyimpulkan apa-apa, Professor. Terutama dengan ingatan yang terpotong-potong seperti itu," jawab Harry yang menghampiri Riddle lalu duduk di depannya.

"Lagipula, ingatan itu tak bisa sebagai bukti bahwa ingatan itu benar adanya. Father pernah berkata bahwa ingatan Pensieve bisa dimodifikasi, Professor," desis Draco sambil menyeringai merendahkan ke arah Riddle. Riddle menaikkan alisnya.

"Ah, jadi kalian tak percaya dengan ingatan itu?"

"No," ucap mereka secara bersamaan. Riddle menganguk pelan dan menyamankan posisinya di kursi empuk miliknya.

"Untuk masalah itu, terserah kalian bagaimana kalian menyimpulkannya. Yang pasti tak semua apa yang kalian lihat adalah bohong. Kalian lupa bahwa ingatan itu adalah ingatan dari dua orang anak berumur dua belas tahun yang masih polos dan kekuatan sihirnya lemah?"

"Tapi yang mengambil dan yang menaruh ingatan itu ke Pensieve adalah anda, Professor," geram Draco yang mengepalkan tangannya kesal. Lagi-lagi, Riddle hanya tersenyum penuh makna menanggapi komentar Draco.

"Tapi apa yang Scorpius katakan benar bukan? Jika mereka tak berada di dekatmu, Potter, maka aku tak yakin bahwa kau akan selamat selama tiga hari itu."

"Bagaimana jika Scorpius dan James tak ada eksistensinya di dunia ini dikarenakan kami tak menikah dan bisa saja walau kami tak menikah, kecelakaan itu tak akan terjadi? Bagaimana jika aku masih hidup tanpa adanya pernikahan ataupun kecelakaan itu? Bukankah nasib bisa berubah?" sergah Harry yang masih tak menerima dengan ingatan Pensieve itu.

"Tidak, Potter. Kau akan tetap menjalani takdir yang sama," potong Riddle. Draco menautkan alisnya dan menatap Riddle tajam.

"Darimana kau tahu takdir kami berdua di masa depan, Professor?" tanyanya sinis. Riddle menatapnya dengan pandangan menggelap.

"Karena aku telah melewati berbagai waktu di dunia ini, Malfoy."

Hening.

Tentu Harry dan Draco merasa ada yang salah dengan Riddle. Melewati berbagai waktu itu berarti menjelajahi waktu seperti apa yang dilakukan Scorpius dan James. Dan maksud dari berbagai itu berarti Riddle─

"Sudah waktunya untuk tidur, silahkan kembali. Dan jangan lupa dengan janji kalian." Ucapan Riddle memotong pemikiran Harry dan Draco dalam sekejap. Draco mengumpat kesal lalu berlari ke arah pintu dan membukanya dengan kasar. Harry pun mengikuti Draco dan menutupnya dengan gebrakan keras.

Meninggalkan Riddle yang masih tersenyum, Professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu pun menjentikkan tongkat sihirnya ke arah deretan foto sihir di samping kanannya. Salah satu bingkai foto itu melayang ke arahnya dan ia tangkap dengan tangan kirinya. Pemuda berambut hitam kelam itu menatap foto di genggamannya selama beberapa menit dan meletakkannya di meja tepat di hadapannya. Ia pun menutup kedua matanya dengan lengan kanan lalu menghela nafas panjang.

"Setidaknya kali ini aku akan memenuhi janjiku─"

Riddle membuka matanya dan menatap foto yang menampakkan sosok lima orang yang tertawa dan melambaikan tangan ke arahnya. Perlahan ia meraih sudut di kanan foto itu lalu mengusapnya pelan sambil bergumam,

"─Harry."

o u o

"Itu manipulasi, Harry! Manipulasi!"

Harry mendesis dan menutup telinganya yang berdenging saat mendengar jeritan Hermione tepat di telinganya. Hermione pun bergumam meminta maaf dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Harry.

"Aku yakin seratus persen bahwa ingatan itu pasti dimanipulasi oleh Professor Riddle, Harry!"

"Aku pun tahu kalau ingatan itu tak benar, 'Mione. Hanya saja, Riddle sendiri berkata bahwa tak semuanya di ingatan itu adalah kebohongan semata. Pasti Riddle menyembunyikan sesuatu dari kami berdua," terka Harry sambil menatap jemari tangannya yang terlihat menarik di matanya. Hermione pun menganguk setuju dan mengerutkan alisnya, berpikir.

"Ah, daripada itu, kenapa James terlihat menjauhimu, Harry?"

"Aku bertengkar dengannya."

Hermione menatap Harry tak percaya dan berkata setengah berteriak, "Jangan karena kau berciuman dengan Malfoy lalu kau menyalahkan James, Harry! Ia hanyalah anak kecil yang tak menginginkan orang tuanya bertengkar! Merlin, kenapa kau begitu mengungkiri ciuman itu?!". Harry berjengit mendengar pernyataan Hermione dan balik menatapnya tajam.

"Hei! Tadi kau terdengar setuju bahwa ingatan itu palsu. Kenapa kau tiba-tiba berbalik menyetujui bahwa Scorpius dan James adalah anakku, Hermione?!"

"Insting wanita, Harry," jawab Hermione tegas dan singkat. Harry tak perlu menahan keinginannya untuk tidak memutar bola matanya kesal.

"Lagipula apa tujuan dua anak itu untuk datang ke masa lalu?"

"Untuk melihat kalian menikah, bukan?" Untuk keberapa kalinya, Harry mengerang.

"Please, 'Mione!" Hermione terkikik pelan dan menatap mata hijau cemerlang itu dengan mata coklat almondnya.

"Bagaimana pun, apa salahnya kalau kau mengikuti keinginan mereka itu, Harry? Bukankah semakin cepat kau mengikuti keinginan mereka, maka semakin cepat mereka akan pergi dari masa ini?" Pemuda berambut hitam itu menatap ngeri Hermione yang balik menatapnya serius.

"Tapi menikah dengan Malfoy, 'Mione! Apakah aku haru─tunggu dulu. Scorpius dan James akan pergi?" ulangnya tak percaya. Hermione menaikkan alisnya.

"Jangan bilang kau tak menginginkan mereka pergi dari masa ini, Harry?"

"Bukan itu maksudku. Hanya saja, mereka benar-benar akan pergi dari masa ini begitu keinginan mereka akan terpenuhi?" Hermione menganguk setuju dan membalikkan halaman buku yang ia baca.

"Ya, Harry. Bagaimana pun mereka bukan berasal dari masa ini, kan? Seberapa pun hebatnya kekuatan yang membawa mereka ke sini, melintasi waktu adalah hal yang paling terlarang dan paling berbahaya. Setidaknya mereka memiliki jangka waktu yang terbatas untuk menyelesaikan misi mereka. Begitulah apa yang kubaca dari buku mengenai 'Perlintasan Waktu dan Penjelajahnya' kemarin." Hermione pun mengangkat bahunya dan melanjutkan membaca buku yang terbuka lebar di pangkuannya.

"Ka-kalau begitu jangka waktu mereka adalah satu tahun enam bulan?!" Gadis berambut coklat mengembang itu mengerutkan bibirnya.

"Darimana kau berasumsi seperti itu, Harry?"

"Professor Riddle memberi batasan waktu kepadaku dan Malfoy bahwa kami harus menikah setelah kami lulus nanti, 'Mione! Selama itukah?!" Harry menganga lebih lebar saat membayangkan hidup bersama dua bocah yang tak tahu adat ditambah Malfoy yang tak tahu diri itu setahun lebih.

"Hm, mungkin benar, Harry. Seperti yang kubilang, bukan? Batas waktu mereka berada di masa ini tergantung dari kekuatan yang membawa mereka ke sini. Yang berarti orang yang membawa mereka ke masa ini adalah penyihir yang berkekuatan besar."

"Seperti Dumbledore?" Hermione menganguk pelan saat mendengar asumsi itu dan menatap Harry.

"Atau Professor Riddle," tambahnya kalem.

Harry menjedukkan kepalanya ke buku Ramuan yang berada di genggamannya. Oh Merlin, mengapa di penghujung akhir tahun pelajarannya di Hogwarts tercinta ini, ia harus terlibat masalah yang berat seperti ini? Mengerang lebih keras, Harry pun menutup wajahnya dengan buku Ramuan itu. Merasa bersimpati kepada sahabatnya yang frustasi, Hermione pun mengusap-usap punggung Harry sambil mengucapkan sepatah dua patah saran yang cemerlang.

"Sebaiknya kau harus membicarakan apa yang selanjutnya harus kau lakukan sekarang dengan Malfoy, Harry."

Ya, saran yang sangat cemerlang.

- u -

Seumur hidupnya selama enam tahun─ralat, lima tahun setengah─ di Hogwarts ini, Draco tak pernah saling bertatap muka dengan remaja bermata hijau cemerlang ini tanpa saling mengutuk ataupun mencekik leher satu sama lain. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan untuk membuat remaja di hadapannya ini kesal dengan sikapnya. Entah mengapa, ajang membuat Potter kesal adalah kegiatan sehari-seharinya semenjak Potter menolak uluran tangan persahabatan yang ia ajukan di tahun pertama mereka.

Ia tahu, Potter tak pernah melakukan hal-hal yang menyebalkan kepada dirinya. Tapi melihatnya berjalan tanpa alis hitam yang berkerut, mata hijau cemerlang yang berkilat marah ataupun nafas yang tak teratur menahan amarah, membuat gatal tangan ataupun mulut Draco untuk menjahilinya. Salahkan sifat arogan dan harga diri tinggi yang diwariskan Salazar Slytherin kepadanya.

Dan entah keajaiban apa yang terjadi di dirinya, sekarang ia berhadapan empat mata─err, enam mata, jika kau menghitung kacamata kunonya itu─ dengan Potter di kamar kebutuhan, di malam hari.

Perfect.

"Bisakah kau tidak melihatku dengan tatapan menjijikkan itu, Malfoy?" desis remaja itu sambil mengetukkan kakinya tak sabar.

Hah, bahkan tatapan saja bisa membuatnya kesal. Dirinya ini memang hebat dan sempurna, tak heran jika ia dinobatkan sebagai Perfect dan Head Boy di tahun kelima dan keenamnya.

"Menjijikkan, Potter? Bukankah kau yang mengajakku ke sini berdua saja dan di malam hari seperti ini?" godanya sambil mendekatkan diri ke arah Potter yang entah kenapa membuat jarak dua meter darinya. Perlahan Potter pun menjauhinya seiring dengan langkah Draco yang mendekat. Terjadilah dansa jarak jauh yang aneh di antara kedua remaja laki-laki di ruangan kosong itu berdua saja. Romantis.

"Jangan mendekatiku, Malfoy! A-Aku hanya ingin membicarakan mengenai apa yang harus kita lakukan dengan tujuan Scorpius dan James di masa ini!" Harry mengutuk suaranya yang entah kenapa terdengar serak dan bergetar saat melihat tubuh Malfoy yang semakin bergerak mendekatinya. Harry juga mengutuk perbedaan yang sangat terlihat antara kakinya yang pendek dan kaki Malfoy yang bagaikan menelan tiang itu─Harry bersumpah, sewaktu kecil Malfoy pasti diminumkan ramuan penumbuh tulang setiap hari oleh Snape.

Sejenak, Draco terdiam dan menghentikan dansa awkward itu lalu terlihat berpikir keras, yang sayangnya Harry tak yakin bahwa ia bahkan mempunyai otak untuk berpikir. Seringaian di wajah pucat Malfoy itu membuat Harry tersentak dan memperbesar jarak di antara mereka.

"Ah, jadi kau menginginkan agar kita menikah, Potter?" Draco menyengir lebih lebar saat melihat wajah Potter yang berwarna bagaikan udang rebus itu.

"BUKAN ITU, BRENGSEK! DASAR FERRET MUKA MESUM!"

"Hei! Sejak kapan aku mesum, Potty-Scar-Head!"

"Ferret-Pervert-Fac─ oke, cukup. Aku mengajakmu ke sini bukan untuk bertengkar. Kembali ke topik masalah, apa yang kau pikirkan dengan ingatan Pensieve kemarin, Malfoy?" Harry mati-matian mengaburkan ingatan mengenai mimpi-porno-mendekati-video-porno-Muggle-yang-dikoleksi-Sirius-di-kamarnya itu dan memilih mengingat-ingat tampilan Boggart Snape yang ditampilkan Neville di tahun ketiganya. Oke, itu malah membuatnya mual.

"Keluarga bahagia, kecelakaan yang tak wajar, dan betapa melankolisnya dirimu di saat dewasa nanti, Potter," ujar Draco sambil mengingat-ingat ingatan Pensieve yang dilihatnya dua minggu yang lalu.

"Jangan lupa kalau kau bersikap sangat perhatian dan betapa halusnya saat kau memanggilku dengan sebutan 'Sayang', Malfoy," desis Harry sarkartis. Draco berjengit saat mendengarnya dan mencibir mengejek.

"Dan ya, aku pun berpikir hal yang sama. Menurutmu apa tidak aneh dengan keadaan sekitar yang diperlihatkan ingatan itu, Malfoy?"

"Maksudmu?"

"Rumah yang terlihat memiliki barang-barang Muggle, hutan lebat yang terlihat biasa untuk ukuran dunia sihir, dan apa kau menyadari bahwa di ingatan itu tak menunjukkan bahwa kau dan aku ataupun Scorpius dan James menggunakan sihir?" Terlihat Malfoy yang mencoba mendalami maksud Potter dan menganguk pelan.

"Yeah. Lalu?"

"Menurutku, di masa depan nanti kita tidak tinggal di dunia sihir, melainkan di dunia Muggle, Malfoy." Malfoy pun melebarkan matanya dan melongo bagaikan orang idiot. Koreksi, Malfoy memang idiot.

"Hah? Seorang Malfoy yang terhormat dan berdarah murni seperti diriku ini tinggal di dunia Muggle dan tak memakai sihir sekali pun? Kau yakin, Potter? Apa kepalamu tak terantuk sesuatu di jalan tadi?" cemooh Draco yang mulai tertawa mengejek. Harry menatap tajam Malfoy yang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Ini hanya asumsiku, Tuan Malfoy-yang-terhormat-dan-paling-brengsek-sedunia. Lalu apa yang kau simpulkan dari ingatan itu?" geram Harry yang menahan amarahnya. Ia tahu saran Hermione tak semuanya cemerlang. Dan ia yakin, inilah saran dari Hermione yang paling buruk selama hidupnya.

Menelengkan kepalanya, Draco berpikir dan membuat beberapa helai rambut pirang platinanya terjatuh di dahinya. Harry pun mengerjapkan matanya saat ia menyadari ia memperhatikan wajah Malfoy terlalu lama hingga ia bisa menyadari helai rambut Malfoy yang terjatuh di dahinya. Hah, melamun adalah pilihan paling buruk jika kau berada di dekat Malfoy.

"Menurutku, untuk suatu misi, kau diharuskan untuk turun ke dunia Muggle, tepatnya di hutan. Lalu, mungkin kau terkena kutukan dari buronanmu yang menyebabkan kau terluka parah. Dan setelah itu, aku, layaknya pahlawan di dunia sihir, menolongmu dari dasar jurang itu," terkanya sambil mengusap-usapkan dagunya, berlagak seperti detektif fiktif ala Muggle yang pernah Harry lihat di televisi yang dijual di jalanan kota London.

"Lalu bagaimana dengan kehadiran Scorpius dan James yang juga berada di hutan itu?"

"Jangan menanyaiku dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab, Potter." Mendengus kesal, Harry mencibir sambil bergumam kecil, "Dasar pirang arogan idiot."

"Apa, Potter?" Menjulurkan lidahnya, Harry mengabaikan geraman Malfoy dan kembali menatap remaja berambut pirang yang mengerutkan alisnya.

"Lalu bagaimana dengan keinginan Scorpius dan James itu, Malfoy? Hermione mengatakan kepadaku, kalau semakin cepat kita menyelesaikan keinginan mereka, maka mereka akan semakin cepat pergi dari masa ini."

"Granger berkata begitu? Hmm, masuk di akal. Kalau begitu kita tinggal menyelesaikan keinginan mereka, bukan?" ucap Malfoy santai sambil memainkan jam pasir yang ada di dekatnya.

"Kau lupa kalau keinginan mereka adalah melihat kita menikah, Malfoy?" desis Harry penuh penekanan di setiap kata-katanya. Menoleh ke arah Potter, Draco menelengkan kepalanya dan menatap Harry dengan tatapan kau-bodoh-atau-apa.

"Hei, mereka kan berkata kalau hanya ingin melihat kita menikah. Bukannya memerintahkan kita untuk menikah secara resmi, 'kan? Kalau begitu, kita hanya perlu berpura-pura menikah di hadapan mereka dan masalah selesai. Bukan begitu, Potter?"

Brilliant.

Bodohnya ia hingga ia tak menyadari maksud Malfoy. Tentu saja ia bisa menggunakan cara licik itu untuk menyingkirkan segala masalah yang menimpa dirinya. Menganguk setuju ia pun menyeringai.

Ralat, saran Hermione kali ini adalah saran yang paling cemerlang seumur hidupnya.

- u -

"James, bagaimana kalau Father dan Dad tetap tak mempercayai kita?" desah seorang anak kecil berambut pirang yang memainkan pena bulu berwarna hijau toska di tangannya. Pertanyaan itu membuat anak kecil berambut hitam menoleh ke arah anak berambut pirang itu sambil mengerutkan bibirnya.

"Mereka pasti percaya, Scorp. Uncle Tom sudah memperlihatkan ingatan kita, bukan?" jawabnya kalem.

"Tapi bagaimana kalau mereka tetap tak percaya dan semakin menjauhi kita? Aku tak ingin dibenci Father dan Dad," ucap Scorpius murung. James pun mendesah, perlahan ia mendekati Scorpius yang merajuk. Saudara kembar tak identiknya itu mewarisi sifat Father yang pintar merajuk. Dengan kekuatan merajuknya itu, ia selalu menggunakannya saat ia meminta dibelikan mainan. Berkat itu, jumlah mainan milik Scorpius hampir melebihi miliknya ataupun milik Father saat beliau kecil dahulu. Malfoy selalu mendapatkan apapun yang mereka inginkan, adalah hal yang selalu diutarakan Father setiap waktu.

"Tidak, Scorp. Mereka tidak akan membenci kita. Setidaknya mereka adalah orang tua kita nantinya, bukan? Kita harus mempercayai Dumbledore dan Uncle Tom. Lihat saja, mereka pasti akan memenuhi keinginan kita berdua! Kau harus yakin itu!" James pun melebarkan senyumannya. Scorpius pun menganguk pelan dan menatap nanar ke arah perapian.

"Ya, kuharap begitu. Kita sudah berjanji ke Dad 'kan kalau kita akan memenuhi janji kita?" gumam Scorpius. James pun terdiam dan menatap perapian mengikuti Scorpius. James pun berharap bahwa ada suatu keajaiban yang akan membuat kedua (calon) orang tua mereka bersatu seperti apa yang mereka lihat di masa depan nanti.

- u -

Ada beberapa ketentuan yang Harry pahami dari pembicaraan yang ia dan Malfoy lakukan semalam. Pertama, mereka akan menikah selepas upacara perpisahan di tahun ketujuh mereka dan diberlangsungkan di Hogwarts di hadapan kedua ayah baptis mereka, orang tua dari Malfoy, Regulus─yang sangat Harry harapkan untuk tidak datang, Scorpius dan James serta Dumbledore. Oke, tak ketinggalan Riddle yang sekalipun tak diundang pun pasti akan hadir di sana.

Kedua, pernikahan ala penyihir dan pernikahan ala Muggle hampirlah sama. Hanya saja, ucapan ikrar perjanjian pernikahan itu diharuskan mengucapkannya dengan ikatan yang hampir sederajat dengan Perjanjian tak Terlanggar. Namun, jika ada beberapa hal yang membuat pernikahan itu tak bisa dilanjutkan, maka mereka dapat mengajukan 'cerai' dengan beberapa ketentuan yang akan mereka lewati. Mereka pun bersepakat bahwa setelah James dan Scorpius kembali ke masanya, mereka akan langsung menceraikan pernikahan mereka dengan alasan ketidak cocokan─alasan standar dalam mengajukan cerai, tentu.

Ketiga, tak ada acara sentuhan dan hal-hal yang intim di antara mereka selama 'pertunangan' hingga 'pernikahan'. Toh, mereka tak akan mengumbar 'keintiman' mereka di hadapan semua orang, bukan?

Keempat, pertunangan dan pernikahan ini tak akan mereka beritahukan kepada teman-teman mereka. Ini akan menjadi rahasia mutlak yang tak akan mereka katakan kepada siapapun. Sudah cukup dengan gosip yang beredar di Hogwarts ini mengenai hubungan mereka. Haha, bahkan mereka tak mengundang kawan ataupun sahabat mereka di 'pernikahan' mereka.

Keempat ketentuan itulah yang dibuat oleh mereka berdua untuk merancang agar keinginan Scorpius dan James terpenuhi dan mereka pun akan terbebas dari penghinaan yang dihadapi oleh mereka─terutama terhadap dua kembar Weasley itu. Memantapkan ketentuan yang teriang di otaknya itu, Harry menulis surat yang ditujukan ke Sirius di kertas perkamen. Puas dengan hasil tulisannya, ia pun mengirimkannya lewat Hedwig yang segera mengepakkan sayapnya menuju kediaman Black.

Biarlah satu setengah tahun ini akan ia hadapi dengan penuh penghinaan. Namun selepas itu, ia akan terbebas dari segala masalah dan akan mencari gadis pujaan hatinya yang tentunya akan hadir di hidupnya di masa depan. Tiga anak kecil dan satu istri cantik adalah dunia surgawinya. Ah, betapa indahnya saat ia memikirkan masa depan cerah itu.

Dengan penuh semangat, Harry pun berjalan─dengan meloncat-loncat kecil─ dan menghadapi masa depan yang (nantinya akan) cerah.

- u -

Pintu kayu itu terketuk dua kali.

Mendengar geraman yang menyuruhnya masuk, pewaris Malfoy itu pun memasuki ruangan dengan angkuh sambil menyapa ayah baptisnya yang berada tenggelam di antara tumpukan perkamen hasil essai murid-muridnya.

"Ada perlu apa, Draco?" Tak pernah berbasa-basi, khas Severus Snape. Mengangukkan kepalanya, Draco pun berjalan mendekati ayah baptisnya dan berdiri tepat di depan mejanya.

Mengerutkan alisnya, Snape pun sedikit merasa heran dengan sikap anak baptisnya satu ini. Gestur seperti ini terakhir kali ia lihat saat Draco berumur lima tahun, tepatnya saat ia meminta agar dibelikan mainan terbaru yang sayangnya tak dibelikan oleh Lucius ataupun Narcissa di saat itu─yang tentunya beralasan karena Draco sudah memiliki segudang penuh mainan di gudang bawah tanah kediaman Malfoy.

"Professor, ada satu hal yang aku inginkan dari anda."

Oke, satu hal yang membuat Snape berjengit adalah saat melihat anak baptismu merayumu. Ia yang dibesarkan mandiri dan penuh wibawa tak pernah berhadapan dengan remaja yang beranjak dewasa yang menginginkan sesuatu darimu dengan sikap bagaikan gadis remaja labil yang akan mengucapkan cinta.

Mencoba menenangkan hatinya, ia meneguk jus labu yang ada di hadapannya. Ia pun mengangukkan kepalanya sejenak untuk menyuruh Draco melanjutkan pernyataannya. Draco pun mengerti dan melanjutkan perkataannya dengan lantang.

"Aku minta agar anda menjadi pendamping mempelai saat pernikahanku dengan Potter nanti, Professor."

Jus labu itu pun tersembur dengan indahnya ke arah tumpukan perkamen essai yang berada di dekatnya.

- u -

Di saat yang sama, di tempat yang nun jauh di sana hiduplah dua orang kurcaci, oke bercanda, di kediaman Black tepatnya di Grimmauld Place No. 12, terdapat dua orang dengan wajah hampir mirip yang keduanya sedang bersantai di depan perapian, menikmati liburan mereka selama masa lepas misi yang telah mereka selesaikan seminggu yang lalu. Lebih dispesifikkan lagi, satu pria berambut hitam lurus namun acak-acakan itu menyamankan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna merah marun dengan benang emas yang berbentuk elegan di sekitarnya dan satu pria berambut lurus namun tertata rapi yang duduk di meja berukiran gambar ular sambil membaca buku tebal di hadapannya.

Jendela besar khas Inggris kuno itu terantuk sesuatu yang membuat kedua pria itu tersentak waspada. Keduanya siap dengan tongkat sihir di genggaman mereka, tentu latihan Auror tak membuat tubuh mereka ikut bersantai jika kau berhadapan dengan musuh secara tiba-tiba. Menyadari bahwa yang melecetkan jendela mereka adalah burung hantu putih peliharaan Harry, pria yang dikenali sebagai Regulus Black itu pun berjalan mendekati jendela dan memasukkan burung hantu itu ke dalam rumah.

"Hei, ada surat untukmu," ujarnya bosan sambil mengambil perkamen itu dari kaki Hedwig.

"Aah~ bacakan untukku, Reggie. Tubuhku terlalu lemah untuk membaca perkamen itu," desahnya sambil terbatuk-batuk. Mengernyit kesal, Regulus pun mengabaikan panggilan kecilnya ataupun mengabaikan batuk yang terdengar palsu itu dan membaca perkamen itu keras-keras.

"Dear Sirius dan Regulus. Apa kabar? Aku di sini baik-baik saja. Ada beberapa masalah yang terjadi di Hogwarts tapi tak menjadi masalah bagiku. Masalah sudah seperti sarapan sehari-hari, tak ada bedanya dengan berbagai masalah yang kuhadapi dulu." Sirius menganguk-angukkan kepalanya sambil bergumam, "Anak dari Marauders sejati harus selalu terlibat masalah!", yang membuat Regulus memutar bola matanya bosan.

"─ada beberapa hal yang aku ingin katakan kepadamu dan Regulus. Tapi kumohon agar kau tidak kaget dan langsung ber-floo ke ruang kepala sekolah atau ber-apparate ke luar pintu pagar Hogwarts ataupun memasuki kawasan Hogwarts dengan menggunakan jalan pintas dari Hogsmeade. Aku tak ingin agar kau membuat keonaran seperti yang kau lakukan saat aku diejek Malfoy di tahun pertama, Sirius." Untuk kali ini, Regulus menyeringai mengejek saat menatap Sirius yang cemberut.

"Oke, langsung saja. Pertama, aku ingin agar kau tidak langsung memaki-maki ataupun berteriak keras dan berjanji tidak akan mengutuk siapapun yang ada di dekatmu─Sirius mencibir dan bergumam, "Demi celana dalam Merlin, aku berjanji~" dengan nada yang sama sekali tak bisa dipercaya─ dan yang kedua, adalah..." Regulus menghentikan acara-membaca-surat-curahan-hati-dari-anak-baptis-kesayanganmu dan terdiam menatap perkamen di tangannya. Meneguk air liurnya, ia pun berharap apa yang dijanjikan Sirius akan sama dengan kenyataannya.

"Aku berharap agar kau menjadi pendamping mempelaiku di saat pernikahanku dengan Draco Malfoy, anak dari Lucius Malfoy, selepas tahun ketujuhku nanti."

"Ooh, Prongslet kecilku akan menikah dengan Malfoy mini itu?" ujar Sirius kelewat santai sambil menggaruk-garuk perutnya yang gatal. Masih tersenyum idiot, Sirius pun menatap Regulus yang balik menatapnya datar. Mengulang kata-kata Harry tadi di otaknya, darah di kepala Sirius terasa turun ke perutnya.

"BLOODY HELL! HARRY-KU YANG MANIS AKAN MENIKAH DENGAN SI ANAK BRENGSEK ARISTOKRAT IDIOT ITU?!"

Dan berbagai kutukan serta serapahan terlontar secara cuma-cuma di kediaman Black yang tadinya damai dan tenang. Untungnya Regulus sudah ber-apparate ke tempat lain demi menyelamatkan dirinya, setelah sebelumnya merapalkan mantra pelindung di sekitar kamarnya dan kamar Harry.

- u -

"Wah, wah, aku tak menyangka bahwa kalian akan datang ke tempatku secepat ini."

Kedua remaja Gryffindor dan Slytherin itu mendengus kesal sambil memasuki ruangan Riddle. Jubah hitam mereka tersibak saat berjalan ke arah kursi yang disediakan oleh Riddle yang masih tersenyum menyebalkan di depan meja pribadinya.

Menarik kursi keras-keras hingga bunyi decitan terdengar, Draco mendudukkan diri sambil menyeringai. Berbeda dengan Harry yang duduk diam namun kilatan emosi terpampang di mata hijaunya.

Tentu Riddle sadari, kedua muridnya ini menyembunyikan sesuatu darinya. Ia pun tak perlu bertanya, Legilimens sangat berguna di saat seperti ini. Suara erangan dan usapan pada dahi cukup membuatnya puas atas sikap kurang ajar yang ditunjukkan pewaris Malfoy dan pewaris Potter itu kepadanya.

"Kau─kau memakai Legilimens kepada kami, Professor?" desis Harry yang masih mengusap-usap dahinya yang terasa pening. Draco menatap Harry tak percaya dan menoleh ke arah Riddle yang tersenyum setengah menyeringai.

"Ah, aku lupa kalau kau pernah merasakan Legilimens yang kulakukan padamu dulu, Potter. Dan ya, aku memang menggunakan itu. Kalian tak berpikir kalau aku tak akan mengetahui apa yang kalian sembunyikan, bukan?"

Harry bersungut kesal. Pengalaman Legilimens bersama Riddle bukanlah hal yang menyenangkan selama hidupnya.

"Daripada itu, aku tahu kalau kalian tentu akan menolak keinginan Scorpius dan James. Tapi tak kusangka kalian rela berbohong seperti itu demi menyingkirkan mereka dari hadapan kalian," seringai Riddle merendahkan.

Saat Harry membuka mulutnya untuk menyangkalnya, Riddle memotongnya dengan berkata, "Kabar baiknya, aku tak akan menghentikan kalian."

Kedua mata hijau dan abu-abu itu melebar. Riddle menyetujui rencana (licik) mereka?

"Kabar buruknya, mulai saat ini aku tak akan segan-segan untuk menggunakan kekuatanku untuk membuat kalian benar-benar menjadi suami istri, ah, maksudku suami suami." Lagi, senyum merendahkan yang disebarkan secara gratis itu membuat bulu kuduk merinding.

"A─apa maksud a─" Belum sempat kedua remaja itu menyelesaikan kalimatnya, pintu kembar di belakang mereka terbuka lebar.

"Ah, ternyata benar beritamu itu, Tom? Tak kusangka mereka akan membuat keputusan untuk menikah secepat ini. Hormon remaja di masa sekarang memang berbeda dengan masa mudaku dulu. Aah, begitulah masa remaja di madu cinta."

Pria tua berjenggot perak itu masuk dengan kedua anak kecil yang berjalan mengekorinya. Mendengar kata 'menikah', kedua anak itu berjalan lebih cepat dan berkata kepada (calon) orangtua mereka dengan suara yang tercekat.

"Fa-father dan Dad akan menikah? Benarkah itu?" tanya Scorpius yang bergemetar. Harry dan Draco tak yakin apakah ia terlalu gembira karena berita menikah itu atau ia ketakutan dengan tampang horor yang secara tak sadar mereka perlihatkan.

"Benar kan, Scorp? Mereka pasti menikah! Ya kan, Uncle Tom?" sergah James yang berlari ke arah Riddle yang masih tersenyum.

"Ya, James. Mereka pasti menikah. Mereka sudah bilang sendiri padaku kalau mereka akan menikah selepas tahun ketujuh nanti. Bahkan sudah meminta izin kepada wali mereka," jelas Riddle sambil mengusap-usap rambut coklat James. James pun berteriak senang dan segera memeluk Harry yang masih terpaku.

"Aku sayaaangg sekali sama Dad! Father juga! Akhirnya kita bisa bersama-sama lagi, Dad! Kau setuju kan, Scorp?" Scorpius yang masih gemetar, menganguk pelan dan memandang Draco dengan tatapan ala anak anjing yang ditelantarkan.

Bagaikan ditelanjangi di depan publik, Draco tak kuasa berkata-kata dan hanya tergagap memandang tatapan anak anjing di depannya. Entah apa yang merasukinya, ia pun menganguk pelan layaknya menyetujui apa yang dikatakan Riddle dan James. Memekik senang, Scorpius memeluk dan mencium pipi Draco. Ia pun beranjak dari Draco lalu mendekati Harry dan melakukan hal yang sama kepadanya.

"Aku sungguh terharu dengan pemandangan ini. Kalau begitu, mulai besok kalian berempat akan tinggal di satu ruangan khusus yang berada di bawah tanah. Dan tak lupa, besok pagi berita bahagia ini akan kuumumkan di Aula Besar. Tak mungkin bukan aku tak membagi berita bahagia ini kepada yang lain?" Dumbledore pun menyeka air mata harunya dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Harry. Kepala sekolah Hogwarts itu berjalan keluar ruangan sambil bergumam, "Anak muda yang bergelora" dan "Aku tak sabar menunggu pernikahan mereka" serta berbagai hal yang tak bisa Harry tangkap karena terlalu shock-nya.

Harry yang terlepas dari kekagetannya hampir berteriak memanggil Dumbledore. Namun sebelum ia berteriak, ia menyadari suaranya menghilang bertepatan dengan ditutupnya pintu kembar di belakang tubuhnya. Ia pun menoleh ke arah Riddle yang tersenyum berbahaya dan entah bagaimana caranya ia bertelepati kepada dirinya.

'Jangan kau sebutkan kebohongan itu kepada Scorpius dan James. Dan jangan berani menolak perintahku. Kau telah berjanji padaku akan menikah dengan Malfoy bukan, Harry Potter-Malfoy?'

Mata hijau itu melebar penuh amarah dan ketakutan di saat yang bersamaan.

Secara tiba-tiba, ia merasa tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Tangannya perlahan meraih leher Draco dan merangkulnya dengan tangan yang gemetar. Tubuhnya pun didudukkan tepat di pangkuan Draco yang sekarang terdiam bagaikan terkena kutukan pembeku.

Kutukan Imperius.

Harry yakini bahwa ia dimantrai kutukan tak termaafkan itu oleh Riddle─dengan bukti, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sesuai perintahnya. Tapi bukankah kutukan itu tidak dilegalkan oleh Kementrian? Lalu kenapa ia dengan seenaknya memakainya tanpa takut sedikit pun? Deretan pikiran itu terus menghantui pikiran Harry yang sekarang memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya menuju ke arah wajah Draco.

Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mu─

Harry pun mencium Draco─yang terdiam tak bergerak─ tepat di bibirnya yang terbuka.

Seorang Harry Potter mencium Draco Malfoy.

Mata hijau itu pun terbelalak horor. Otaknya menyuruhnya untuk menjauh dan mendorong tubuh Malfoy jauh-jauh darinya, namun tubuhnya berkata lain. Tubuhnya justru makin mengeratkan pelukannya dan melumat bibir itu dengan gerakan sensual─yang tak pernah Harry lakukan sebelumnya.

Sorakan kegembiraan dan tepuk tangan pun terdengar dari arah samping mereka berdua─yang Harry yakin adalah sorakan Scorpius dan James. Setelah satu menit─yang Harry rasakan bagaikan setahun penuh─ berlalu, Harry pun terlepas dari mantra kutukan serta mantra pembisu dalam sekejap. Refleks, Harry segera menjauhkan diri dari ciuman dan pangkuan Draco sekaligus dan mendorong tubuh Malfoy yang sekarang terjerembab ke belakang.

Mengabaikan teriakan dan umpatan Draco, Harry mengusap-usap bibirnya dengan lengannya sambil menatap dengan tatapan pembunuh ke arah Riddle yang menyeringai merendahkan. Ia mengabaikan rasa panas yang menjalar di wajahnya, yang muncul entah karena malu, kesal dan frustasi karena tak bisa melawan orang yang seenaknya membuatnya seperti boneka.

"Kau ─Harry menunjuk wajah Riddle yang jumawa─ akan kudoakan agar kau masuk ke neraka jahanam dan merasakan ajal kematian yang paling menyakitkan dan paling lama, Professor Mesum Brengsek!"

Dan Harry pun berlari kencang meninggalkan keempat orang yang menatapnya bingung─minus Riddle yang hanya menyeringai menahan tawa. Scorpius dan James saling bertatapan bingung namun kemudian mengedikkan bahu lalu kembali bersorak gembira membicarakan pernikahan (calon) orangtua mereka.

Sementara itu pewaris Malfoy yang telah berdiri dan mengabaikan rasa sakit di pantatnya yang telah mencium lantai, secara tak sadar meraih bibirnya yang memerah ─bekas ciuman panasnya dengan Harry tadi─ lalu menyentuhnya pelan. Ia pun membayangkan betapa lembutnya bibir Harry tadi. Betapa cemerlang dan indahnya mata hijau yang terbelalak di penglihatannya. Betapa hangatnya tubuh yang memeluknya erat dan nafas yang berhembus di sekitar wajahnya. Betapa manisnya rona merah yang merambat di pori-pori wajahnya─

Oke, Malfoy mengakui dirinya ini mulai gila.

Menyebut Potter dengan manis adalah hal yang terakhir yang akan Draco lakukan sepanjang hidupnya. Tidak, ia tak mungkin memikirkan Potter sedemikian rupa. Ini pasti ulah Riddle yang memantrainya atau mungkin mencampur jus labunya tadi pagi dengan ramuan Amortentia atau mungkin─

Ia mulai mencintai Harry Potter?

Draco merasakan panas yang mengalir di wajahnya─yang ia yakin wajahnya semerah Potter tadi dan mengumpat di dalam hati. Tak mungkin dirinya ini menyukai Potter. Tak mungkin. Ia adalah laki-laki normal. Ialah pria sejati yang lurus selurus menara Astronomi. Bermimpilah jika kau mengharapkan ia akan mencintai Potter.

Ya, tak mungkin ia mencintai Potter.

Mau itu besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau beberapa tahun lagi, ia tak akan pernah mencintai Potter.

Bahkan, selamanya.

Titik.

.

Scorpius Sirius Potter's journal.

Akhirnya Father dan Dad akan menikah! Sungguh, aku sangat bahagia saat mendengarnya. James pun sangat senang dengan berita itu. Perjuangan Uncle Tom dan Granpa Dumbledore juga tak sia-sia. Rasa senangnya ini rasanya sama dengan saat Albus dilahirkan. Aku begitu bahagia dan sangat menyayangi Albus sepenuh hati.

Sayang sekali memang Albus tak bisa hadir di sini, tapi aku yakin dia pasti sangat bahagia mendengar berita ini.

Father dan Dad pun saling berciuman tanpa harus didorong ataupun dipaksa terlebih dahulu. Ciuman yang hampir sama dengan ciuman yang mereka lakukan di setiap malam hari, kalau aku tak salah ingat. Darimana aku tahu mereka melakukan hal itu tiap malam? Haha, hanya aku dan James yang tahu.

Tapi anehnya, Dad langsung beranjak dari Father dan memaki Uncle Tom. Hmm, mungkin Uncle Tom mempunyai masalah dengan Dad. Aku akan mengingatkan Uncle Tom agar meminta maaf kepada Dad nanti.

Doa untuk hari ini adalah semoga hari esok akan lebih baik lagi dari hari ini. Amin.

-SSP-


A/N: ...oke saya tahu ini kepanjangan. Mau dibagi jadi dua jadinya menggantung, ga dibagi malah jadi kepanjangan kayak gini. orz Kalau cerita atau pace-nya membosankan bilang aja ya. :''') Mood nge-down dan humornya jadi absurd kayak gini ya Tuhaann! Q u Q Bagi yang bingung dengan ingatan Pensieve itu jangan takut. Jawabannya ada di... chapter-chapter terakhir. /desh

Dan ya, Scorpius-Albus di sini memiliki hubungan 'sesuatu'. Biarkanlah ia pedo, toh nantinya kan Albus juga dewasa. /bukangitu /lupakan

Tapi berkat chapter paling panjang ini, berarti fic ini baru saya apdet sebulan lagi. Mwahahaha /ketawajahat

arriedonghae: Saya ga nge-warning M-preg lo. :P Masih yakin kalau fic ini M-preg? mwahaha Cedric? Cedric kan lagi asyik sama Cho. :') fff tapi tenang, Jealous!Draco pasti ada kok. u v u

: silahkan mencari jawabannya di chapter in /desh

No Name: Sudah terjawabkah? B)

Yui the devil: ...untuk rate M dan adegan ranjang, sumpah saya ga kuat ngetiknya. /kuat baca tapi ga kuat ngetiknya orz Silahkan diimajinasiin adegan pip-pipnya ya :'') /woi

MJ: Ah, insting anda tajam ya. Fffff Yep, bisa aja Dumbledore atau Tom atau Scorp-James yang berbohong.

Terima kasih atas semua review dan favenya! Q u Q)/

Review please?