Sub Chap _ Kebencian
Draco Lucius Malfoy adalah seseorang yang bersahaja, tampan─kata ibunya dan Pansy selama enam belas tahun ia hidup─, seksi─kata Pansy dan kawan-kawan perempuannya─, aristokrat, gentlemen atau dengan kata lain menghormati wanita, suka menabung, dan rajin mandi serta cuci kaki sebelum tidur. Ia adalah gambaran pemuda masa kini yang (hampir) digemari wanita dan memiliki harta kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan.
Sempurna adalah kata yang tepat untuknya dengan huruf besar di tiap hurufnya ditambah garis bawah yang mencolok.
Ya, ia merasa dirinya sempurna. Masa bodoh dengan apa yang dikatakan orang-orang yang menilainya. Toh mereka bukanlah orang yang sepantaran dengannya yang berdarah murni ini.
Ayahnya sering berkata bahwa keturunan Malfoy adalah orang-orang yang terpilih. Hanya orang-orang yang tergolong predikat 'sempurna' yang bisa masuk ke dalam lingkup keluarga Malfoy. Kesimpulannya, ia adalah 'Anak-Sempurna-yang-Terpilih' di antara darah lumpur hingga darah murni sekalipun. Pangkat tak tertulis itu cukup untuk membuatnya membusungkan dadanya dan menaikkan dagunya tiap kali ia berjalan di manapun.
Tapi pangkat itu secara tak senonoh dikalahkan dengan pangkat 'Anak-yang-Bertahan-Hidup' yang diberikan cuma-cuma pada seorang anak yang berumuran sama dengannya namun lebih muda satu bulan darinya. Hah! Hanya karena ia menghilang selama beberapa hari dari dunia ini lalu muncul kembali secara tiba-tiba membuatnya mendapatkan pangkat itu?
Bloody Hell.
Sialnya, ia tak menyangka bahwa anak berambut hitam acak-acakan dengan tubuh kurus yang ia temui di Madam Malkin itu adalah si 'Anak-yang-Bertahan-Hidup', lawan sepihak yang sedari kecil ia anggap sebagai parasit dalam hidupnya. Bukan salahnya kalau ia mengajak bicara anak yang terkesan kekurangan nutrisi itu─walaupun ia sadari sendiri, ialah yang terus-terusan berbicara tanpa membiarkan anak itu berkata apapun selain 'Iya' atau 'Err'. Ia hanya─ apa itu? Ah ya, 'berkenalan' dengan anak yang satu sekolah dengannya dan mungkin saja ia akan satu asrama dengannya. Bu-bukannya ia membutuhkan teman ya, ia hanya merekrut bawahan yang pantas untuknya.
Ia tentu kaget saat sesosok pria jangkung berambut hitam dengan wajah tampan datang dan menghampiri anak kurus itu lalu menggendongnya dengan mudahnya di tangannya yang kekar─mengabaikan teriakan minta turun yang terdengar nyaring di telinganya. Di saat pria itu melihat sosoknya yang balik menatapnya lebar, pria itu mengamatinya sambil berkata, "Ah, kau anak dari Cissa ya? Ayahmu si Aristokrat Sialan itu, bukan?"
Masih kaget, ia pun menganguk pelan. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari bahwa ayahnya dipanggil dengan sebutan 'Sialan'. Mengerutkan alisnya dan entah sejak kapan kemarahan meluap, ia pun membentak pria itu dengan kata-kata kasar─hasil pembelajaran mandiri dari kakeknya, Abraxas. Pria itu mengangkat alisnya dengan cengiran lebar di mulutnya.
"Aih, kau mau melawanku, anak muda? Boleh saja. Kalau begitu, kau bisa mengalahkanku dengan cara ini?"
Tubuhnya seketika melayang di udara. Bukan karena sihir, melainkan ia diangkat dengan satu tangan milik pria jangkung itu. Pria itu mendengus menahan tawa saat melihat wajahnya yang penuh horror.
Panik mendominasi pikirannya saat itu, ia pun menggeliat dan menendang-nendang apapun yang ada di dekatnya. Berteriak menyuruhnya untuk menurunkannya, pria itu justru tertawa terbahak-bahak dan memutar tubuhnya seiring dengan tubuh pria itu yang berputar. Anak kurus itu berteriak untuk menurunkannya dan dirinya, namun pria itu tak acuhkan pula teriakan anak itu.
Oke, di umurnya yang sebelas tahun ini, ia akan mati karena serangan jantung akibat diangkat secara semena-mena oleh pria pedofil yang kekanak-kanakan.
"Ya ampun Sirius! Turunkan Draco!" teriak seorang wanita yang bersuara sopran menolongnya. Gerakan memutar itu pun berhenti dan pria itu menatap sosok wanita berambut pirang memakai gaun hijau lumut tergopoh-gopoh berlari ke arah pintu Madam Malkin sambil membawa beberapa buku sihir di tangannya. Beberapa penyihir yang lewat terlihat tertarik dan melihat kejadian apa yang terjadi.
"Mother!"
"Ah! Cissa, apa kabar?"
"Demi jenggot Merlin, Sirius! Turunkan anakku sekarang juga! Dan ya, aku baik-baik saja kalau kau menurunkan anakku agar ia tetap selamat sentosa!"
Mengangkat bahunya, Sirius pun menurunkan dirinya dan mengibas-ibaskan tangannya. Anak kurus itu tetap di gendongan sebelah tangannya.
"Kau tak apa-apa kan, Dragon? Ssh, sudah jangan menangis seperti itu."
"Aku tidak menangis!" ucapnya keras kepala sambil mengusap kasar matanya yang berair─terkena debu, sepertinya, bukannya ia menangis, ya. Kata ayahnya, seorang Malfoy tak boleh menangis di hadapan orang lain, coret, seorang Malfoy tidak pernah menangis.
"Sirius! Bisakah kau mengurangi kebiasaan usilmu itu? Kau bahkan lebih kekanakan dibanding keponakanmu ini, kau tahu? Ah, senang bertemu denganmu, Harry," ujar wanita itu sambil mengelus rambut berantakan anak kurus itu. Anak kurus itu membalas sapaan ibunya dengan angukan kecil lalu menyembunyikan kepalanya di balik rambut lurus namun acak-acakan pria pedofil itu. Malu sepertinya.
"Ah, dia tak biasa berhadapan dengan wanita. Kuharap dewasa nanti ia tak akan malu-malu seperti ini di depan wanita. Apa yang akan James bilang kepadaku kalau ia melihat anaknya tak mewarisi feromonnya?" Pria itu berkata lalu tertawa lebar. Ibunya terkikik pelan dan menggelengkan kepalanya. Walaupun ia tak mengerti arti feromon, tapi sepertinya kata itu menyenangkan.
"Anakmu ini mirip sekali dengan Si Aristokrat itu. Apa semua gen Malfoy selalu mendominasi gen pasangannya? Tak heran jika nantinya keluarga Malfoy berkumpul, yang terlihat hanya sekumpulan kepala pirang platina dengan seringaian menyebalkan di wajahnya." Mendengar itu, ibunya mendengus menahan tawa dan menggenggam tangan anaknya.
"Itu adalah anugerah, Sirius. Lagipula aku menyukai wajah tampan yang dimiliki Dragon ini. Lucu bukan kalau kau melihat suamimu berjalan dengan dirinya dalam versi mini?" puji ibunya yang membuatnya membusungkan dadanya dan tersenyum lebar.
"Yah, entah kenapa aku mengerti dengan maksudmu. Harry juga versi mini dari James. Tapi perawakannya lebih mengikuti Lily, aku pikir. Dia selalu cemberut jika aku mengerjainya, sama seperti Lily," dengus pria itu sambil mencubit pipi anak kurus itu. Anak kurus itu balik mencubit pipi pria itu dengan omelan.
"Ahem."
Kedua orang dewasa itu berbalik menatap sesosok pria berbaju hitam dengan tongkat jalan mewah di tangannya. Dalam sekejap, ia membelalakkan matanya dan berlari menuju pria itu.
"Father!" Pria itu menganguk pelan dan tetap membusungkan dadanya tanpa melihat anaknya yang sekarang berdiri di sebelahnya dengan seringaian di mulutnya.
"Well, well, aku harap aku tak mengganggu acara reuni kalian berdua," desis ayahnya. Ada nada kebencian yang tersirat dari kata-katanya. Mengangkat alisnya, ia pun mengikuti gerakan ayahnya. Mengerutkan alisnya dan memandang benci ke arah pria pedofil yang menganiayanya tadi.
"Ah, Mr. Malfoy yang terhormat ternyata. Oh, ya tentu saja kau sangat mengganggu. Kalau kau tahu, bisakah kau menyingkir dari hadapanku sekarang juga?" desis pria itu tajam. Ayahnya hanya menajamkan tatapannya dan perang saling tatap pun terjadi antara ayahnya dan pria pedofil itu.
Menyadari keadaan akan semakin memburuk jika membiarkan dua musuh ini lebih lama lagi di satu ruangan, ibunya langsung mengantisipasinya dengan cara mengajak ayahnya dan dirinya untuk membeli perlengkapan sihir dirinya yang lain, setidaknya ibunya lega karena Madam Malkin sendiri sudah menyelesaikan ukuran yang ia perlukan untuk dirinya. Mencium pipi anak kurus itu dan menganguk ke arah pria itu, ibunya berjalan ke arah pintu keluar sambil mendorong punggung ayahnya, yang terhenti sebentar karena seruan─yang ia sadari betul terdengar nada jahil di tiap katanya─ dari pria pedofil itu.
"Kalau kau ada waktu, mari kita makan malam BERDUA, Cissa!"
Sebelum terjadi perang dunia muggle ketiga, ibunya pun langsung meng-apparate dirinya dan ayahnya dalam hitungan detik. Di antara detik-detik sebelum pandangannya berputar, ia melihat sosok pria pedofil itu tertawa terbahak-bahak dengan anak kurus yang masih berada di gendongannya, menatap ke arahnya dengan mata hijau bulat cemerlang.
.
.
-u -
Ia sadari betul bahwa ia memiliki ego di atas rata-rata.
Ia selalu membenci apapun yang menghambat jalannya. Dan khusus hal ini, ia menyalahkannya pada Potter.
Ia membenci apapun yang ada pada diri Potter. Cukup dengan membuka mulutnya saja sudah membuatnya naik darah dan tubuhnya sendiri seperti memiliki tombol otomatis membuat-Potter-marah saat ia bertemu Potter.
Mengatakan hal-hal yang ia benci, melakukan hal-hal yang membuatnya kesal, menertawainya jika ia merengut, dan berbagai hal lain yang bahkan tak bisa ia hitung jika ia berhadapan dengan Potter. Oh, ini salahnya sendiri yang menolak untuk berteman─coret, menjadi bawahannya di kompartemen waktu itu. Harga dirinya diinjak-injak hanya dengan tatapan tak suka dan kata 'No' yang ia jabarkan saat itu.
Di waktu itulah pula, tanda awal dari perang antara dirinya dan Potter.
Tak masalah memang jika ia tak mau menjadi bawahannya. Hanya saja, ia sudah berbaik hati untuk menawarkan pertemanan itu dan ia menolaknya di hadapan Weasel dan Granger. Weasel, si Rambut Merah yang sepertinya sudah lama berkenalan dengan Potter, menatapnya dengan pandangan mengejek. Granger juga menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca─oke, itu juga menambah tak sukanya ia dengan Granger yang seakan bisa membaca dirinya layaknya buku. Dan ia paling tidak suka jika ada seseorang yang menatapnya dengan pandangan itu.
Segalanya menjadi lebih buruk.
Ia tak menyesalinya. Ia justru senang karena ia semakin mendapatkan kebencian dari Potter. Semakin ia dibenci Potter, maka semakin bahagialah dirinya. Tak ada yang lebih menyenangkan selain menatap mata hijau cemerlang itu berkilat tajam atau membelalak horror saat menyadari kejahilannya.
"Kau sadar tidak, Draco? Sikapmu itu layaknya anak kecil laki-laki yang menjahili anak perempuan yang disukainya, kau tahu?"
Adalah satu pertanyaan─ah bukan, lebih tepatnya pernyataan dari Blaise Zabini di suatu siang tahun keempat di bawah pohon rindang, dengan kertas perkamen di pangkuannya.
Mengerjapkan mata, ia pun mengerutkan alisnya dan menyeringai. "Blaise, aku setuju dengan pernyataanmu yang mengatakan Potter seperti anak perempuan─tubuh kering kerontang dengan mata besar hijau ditambah tubuh cebol begitu─ tapi, apa tadi? Menyukai Potter? Matamu harus memakai kacamata kuno seperti Potter itu, Blaise. Penglihatanmu semakin buruk dari hari ke hari," cengirnya lebar lalu menertawai Blaise hingga terpingkal. Crabbe dan Goyle yang berada di belakangnya ikut tertawa sambil mengunyah kue muffin di kedua tangannya.
"Lagipula aku bukan gay! Tambahan lagi, seorang Malfoy tak akan menyukai orang yang tak sepantaran dengannya, bukankah sudah pernah aku katakan kepadamu?" dengusnya sambil membolak balik buku Ramuan. Entah karena apa, sedari Blaise mengawali pembicaraan mengenai Potter, ia tak bisa fokus membaca buku yang paling ia suka. Bahkan pembicaraan mengenai dia saja mengganggunya di saat ia belajar, hah, ia memang tak bisa menilai Potter terlalu rendah.
"Dalam dunia sihir, pasangan sejenis tak dipermasalahkan, Draco. Dan ya, aku pun sering mendengarnya darimu. Tapi tetap saja, apa kau tak menyadari bahwa setiap tahunnya, kau selalu mengganggu Potter tiap kali kau bertemu dengannya? Apa kau tak memiliki target lain untuk kau ganggu, Draco? Lucu tiap kali kau berpapasan dengan Potter, wajahmu pasti berseri-seri."
Butuh beberapa detik untuk mencerna maksud Blaise tadi. Menatapnya dengan pandangan layaknya melihat Dementor, Draco terdiam.
Berseri-seri? Dia? Melihat Potter?
"Ah, tentu saja, Blaise. Bukankah menyenangkan melihat mangsa untuk di-bully seperti Potter?" belanya dengan gugup. Ia mengutuk kenapa ia harus terlihat gugup seperti ini.
"Tidak kalau kau memiliki perasaan lebih ke Potter, Draco."
Hening. Bahkan suara kunyahan Crabbe dan Goyle sama sekali tak terdengar di telinganya─yang Draco asumsikan mereka pun terlalu shock untuk melanjutkan acara makan kue mereka.
"Kau gila, Blaise."
"Kau yang gila akan Potter, Draco."
Seketika udara dingin musim gugur mulai merasuki masing-masing pemuda Slytherin itu. Blaise dan Draco masih tetap dengan acara tatap-tajam-masing-masing-mata tanpa menghiraukan udara dingin itu.
"Oke. Untuk kali ini aku memaafkanmu, Blaise. Tapi tidak lagi jika kau masih membahas masalah ini di depanku. Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba gelas pialamu akan kuracuni ramuan kutukan. Aku pergi dulu," ujar Draco tenang sambil mengambil perkamen dan bulu pena miliknya. Mengabaikan seringai yang terpampang di wajah Blaise, Draco pun melangkah dengan langkah panjang sambil berpikir satu hal.
Apakah ia benar-benar tertarik dengan Potter?
Sub Chap_End
.
.
.
o u o
Part 5 _ Aphrodisiac's Potion
.
Seharusnya ia memang meringkuk di balik selimut tebal dan terlelap ke dalam mimpi tak berujung.
Seharusnya ia menjalani kehidupannya yang biasa dan normal.
Seharusnya ia adalah lelaki sejati yang straight dan bertunangan dengan seorang wanita.
Seharusnya.
Adalah sebuah kesalahan yang paling fatal, ia menyetujui tawaran Malfoy. Jika ia tak menyetujuinya, dipastikan hidupnya masih terasa normal dan menyenangkan. Jauh dari masalah dan jauh dari ketertarikan orang-orang. Toh, hanya sekelebat orang yang tahu mengenai masa lalunya.
Tapi tidak untuk sekarang.
Berkali-kali ia menghela nafas dan menusuk kentang tumbuk yang berada di hadapannya sambil merengutkan bibirnya. Ia pun memandang deretan teman asramanya yang beberapa di antaranya menoleh penasaran ke arahnya dan beberapa di antaranya terlihat penuh amarah. Hal yang sama diperlihatkan di deretan asrama Slytherin yang memandang Malfoy dengan intensnya. Sementara Hufflepuff dan Ravenclaw beberapa di antaranya terlihat tak peduli namun yang lainnya berbisik satu sama lain dan terkikik pelan. Kikikan itu justru semakin menambah rengutan di wajah tan itu.
Ya, ini adalah keputusan yang paling buruk seburuk-buruknya.
Ia diharuskan semeja, sekelas, seruangan, satu pelajaran, dan bahkan satu tempat tidur dengan Malfoy. Malfoy yang dikenal baik sebagai musuh besarnya dan saingannya sejak ia menginjak tahun pertama di Hogwarts sekarang diharuskan berdekatan dengannya bagaikan perangko. Ia pun agak kaget dengan dirinya yang anehnya tak mual ataupun muntah-muntah jika berada di dekat Malfoy. Oh, tentu saja kata-katanya tadi hanyalah sarkasme. Jangan menyimpulkan bahwa ia sedang hamil dan akan melahirkan tiga orang anak. Hah.
Mendelik marah, ia pun bertatapan dengan Malfoy yang balik menatapnya tajam. Keduanya tak saling berbicara, namun mereka memiliki arti tatapan yang sama.
'Ini-semua-salahmu-Idiot.'
Ironis memang, mereka seperti memiliki pemikiran yang sama dan layaknya mereka bisa membaca pikiran satu sama lain.
Hah, memikirkan bahwa ia memiliki pemikiran yang sama membuatnya mual. Sungguh menjijikkan jika kau bisa layaknya satu hati seperti itu dengan musuh besarmu sejak kecil.
Terutama dengan musuh besar yang ternyata memang adalah seorang gay dan ia terbilang mesum. Oh tidak, sayang sekali jika kalian berpikir bahwa makhluk pirang ini sudah menyentuhnya atau berbuat macam-macam kepada dirinya. Tidak. Dia terlalu pengecut untuk berbuat seperti itu─yang tentunya disyukuri dirinya lahir dan batin, catat itu baik-baik.
Tapi sejak kejadian itu, ia mulai berpikir bahwa ia harus berhati-hati dengan seseorang yang bernama Draco Malfoy. Yeah, kejadian yang membuatnya menusuk-nusuk kentang tumbuknya dengan semangat hingga kentang itu berubah menjadi bubur, kejadian di awal mereka pindah ke kediaman baru mereka.
Kejadian yang terjadi sekitar seminggu yang lalu.
o u o
Disclaimer: J.K. Rowling
Warning: coretHomoo /hoi, Slash (BoyxBoy), AU.
-u -
Flashback - Seminggu yang lalu.
.
Draco tahu perasaan yang tak enak ini pasti ada sesuatu yang buruk yang akan menimpanya. Kejadian yang pasti disebabkan oleh sumber masalah dirinya, Professor Riddle. Hari ini, ia, Potter dan kedua dedemit kecil itu memindahkan semua barang ke ruang pribadi mereka yang berada di bawah tanah atas dasar suguhan dari Professor Dumbledore tempo hari. Dengan langkah gontai dan penuh paksaan ia pun berulang kali mengutuk Potter dan Riddle sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya ia di depan lukisan wanita cantik berambut hitam yang memiliki taring di deretan giginya, ia pun menggumamkan kata kunci yang telah Severus beritahukan kepadanya. Lukisan itu pun bergeser dan menampakkan ruang keluarga yang anggun serta nyaman yang tak jauh beda dengan ruang asrama Slytherin miliknya.
Menajamkan matanya ke arah Potter yang duduk di depan perapian, Draco pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ia lihat. Ada dua pintu kamar besar yang ia asumsikan sebagai kamar tidur untuknya dan Potter atau mungkin dua dedemit kecil itu─ah, jangan harap ia akan tidur berdua dengannya─. Serta lorong kecil yang sepertinya mengarah ke dapur kecil yang entah mengapa tersedia di ruangan ini.
Berjalan menuju kamar tidur miliknya─ia melupakan Potter dan dua dedemit─, Draco berjengit saat melihat tempat tidur, dengan empat tiang kayu oak tua elegan dan menawan yang berdiri kokoh di ujung masing-masing tempat tidur persegi panjang itu, yang merebakkan aroma mawar dan vanilla di saat yang bersamaan.
Meneguk air liurnya, Draco pun mendekatkan diri ke arah tempat tidur itu dan melebarkan kedua matanya saat melihat kelopak bunga mawar merah yang dibentuk hati yang tersebar di atas selimut putih. Frustasi, Draco langsung merapalkan mantra pembersih ke arah tempat tidur sambil menautkan alisnya jijik. Mata abu-abunya terpicing ke arah meja kecil di sebelah tempat tidur. Ia pun membuka rak kecil itu dengan hati-hati─waspada dengan sesuatu yang akan menyembul keluar atau menyerangnya, sambil mengacungkan tongkat sihirnya siap merapalkan mantra.
Nihil. Tak ada yang menyembul atau menyerangnya. Menghela nafas lega, ia pun melebarkan rak itu dan sekali lagi matanya terbelalak horor bagaikan karakter kartun.
Berbagai mainan 'dewasa' yang bahkan ia tak hafal masing-masing namanya terpajang dengan cuma-cuma di rak berwarna coklat almond itu. Tentu ia tahu benda apa itu, di umurnya yang menginjak masa puber seperti ini tak mungkin ia melewatkan pengetahuan seksual yang ia tahu secara otodidak ataupun dari teman-temannya (jangan lupakan Blaise yang sangat pro dalam hal seperti ini). Dan satu kotak yang berisikan 'pengaman' serta tisu di atas meja terpampang jelas. Tentu karena ini adalah dunia sihir, maka mainan dewasa itu pun bisa bergerak sendiri yang entah kenapa membuat gerakan sensual─tak usah ditanya kenapa Draco hingga berpikir mainan itu saja bisa bergerak sensual.
Mengabaikan betapa pucat dan mualnya ia saat ini, Draco langsung mengumpulkan berbagai barang-barang menjijikkan itu dan merapalkan mantra pembakar yang langsung melahap habis barang-barang khusus tujuh belas tahun ke atas dari pandangan Draco. Ia mengumpat dan mengutuk Riddle yang berjasa besar dalam penyediaan berbagai barang menjijikkan yang entah bagaimana bisa ia beli dan ia taruh di kamar pribadi Draco dan Potter.
Mendelik ke arah lemari, ia pun langsung membukanya dengan kasar. Entah harus bersyukur atau kecewa, Draco hanya menemukan lemari yang berisikan jubah dan baju miliknya dan Potter─yeah, sepertinya ini memang kamar miliknya dan Potter─ yang masih berada di koper milik mereka masing-masing. Oke, setidaknya ada tempat yang aman dari barang-barang menjijikkan.
Setelah ia memeriksa seluruh kamar yang berdominan warna hijau dan merah─sesuai dengan panji masing-masing asrama mereka, yang walaupun lebih terlihat seperti dekorasi natal─ itu, Draco melangkah keluar untuk menemui Harry yang berada di ruang keluarga. Ia mengernyit dan memicingkan matanya saat menemukan Harry yang asyik meminum jus labu di tangannya. Entah darimana ia mendapatkan jus labu itu, pikir Draco sambil berjalan mendekati sofa tempat Harry duduk.
"Hei, darimana jus labu itu?" Harry menoleh dan memandang Draco sekilas lalu melanjutkan acara minum jus labu kesukaannya hingga habis.
"Professor Riddle yang membawakannya ke sini setelah kau masuk ke kamar," ujar Harry yang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja makan. Ia pun meraih teko porselen yang berisikan jus labu dan menuangnya di gelas pialanya.
Refleks, Draco langsung menyambar gelas piala Harry, mengabaikan teriakan mencela Harry dan membaui aroma yang menguar dari piala tersebut. Draco merasa darahnya turun ke perutnya dengan cepat.
Ramuan Aphrodisiac.
Campuran aroma mawar merah, melati, dan sedikit aroma vanilla menguar di hidung Draco yang semakin membuatnya pucat pasi. Ia yang memiliki nilai tertinggi di kelas Ramuan bukanlah orang yang tidak mengenal berbagai macam ramuan rendah maupun kelas tinggi. Ia bahkan menghapal hampir seluruh nama dan jenis ramuan apa saja berdasarkan aroma yang tercium. Ia tahu maksud di balik pemberian ramuan Aphrodisiac kepada mereka berdua di dalam ruangan berdua saja.
Professor Riddle berniat membuat mereka meminum jus labu yang bercampur ramuan Aphrodisiac ini dan membuat mereka─
"Hnngh, k-kenapa rasanya badanku pa-panas? Ahn─"
─bergairah.
Bloody Hell.
"Potter! Bisakah kau berhati-hati dengan apa yang diberikan Riddle kepadamu mulai sekarang? Kau itu terlalu bo─H-HEI! APA YANG KAU LAKUKAN, IDIOT!"
Berbalik ke arah Potter yang berada di belakangnya, Draco menggenggam kasar tangan Potter yang mulai membuka kancing kemeja putihnya. Pemilik mata hijau cemerlang itu mengerutkan alisnya tanda tak mengerti dan membuka mulutnya.
"Panas, Malfoy. Panas─ Please, lepaskan aku. Tubuhku panas. Aku tak tahan lagi─" lenguh Harry yang sekarang mencengkeram vest abu-abu Draco. Matanya setengah tertutup dan ia mendesah tak karuan. Oke, ini buruk.
"Jangan buka bajumu, kau idiot! Argh! Akan kuadukan kau ke ayahku, Potter!" teriak Draco frustasi sambil terus menjauhkan kedua tangan Potter dari kancing kemejanya.
Perlahan, Harry mendekati tubuh Malfoy dan melingkarkan kedua lengannya. Ia melenguh untuk kesekian kalinya dan berbisik dengan suara rendah di telinga Draco.
"Kumohon─ Draco..."
Mata abu-abu itu membelalak ketakutan dan segera mendorong jatuh tubuh Harry hingga terjengkal. Semburat merah mulai mengisi warna wajahnya yang pucat. Ia pun mengusap-usap telinganya yang entah mengapa masih terasa desahan dan bisikan lembut menggoda yang dikeluarkan Harry. Sementara Harry, yang terjatuh telentang di lantai langsung meraih kancing kemejanya dan membukanya satu persatu. Menyadari kesalahannya, secara refleks Draco langsung menggenggam kedua lengan Harry dan menguncinya dengan satu tangan tepat di atas kepala Harry.
"Oi! Potter!"
"Malfoy! Bisakah kau tidak menggangguku sedetik saja?!" jerit Harry penuh frustasi dan meronta mencoba terlepas dari genggaman kuat Malfoy yang menindihnya.
"Aku tak akan sudi mengganggumu seperti ini kalau kau tidak dalam pengaruh Aphrodisiac, Potty-Head!"
"No! Aku tidak dalam pengaruh ramua─ Aahn─" Harry mengerang pelan saat lutut Malfoy tak sengaja bersentuhan dengan bagian dalam pahanya. Bergidik horor, Draco langsung menjauhkan kakinya dari kedua sisi paha Harry.
"Lihat, Potter?! Kau. Sangat. Terpengaruh. Idiot! Aku tak akan melepaskanmu sampai kau tenang! Demi celana dalam Merlin, jangan mendesah seperti itu, Potter!"
"A-aku tak mendesah! Dammit, Malfoy! Oke, aku tak akan melepaskan kemejaku! Tapi tolong lepaskan genggaman tanganmu! Sakit!"
Refleks, Draco langsung melepaskan genggamannya dan menatap tajam Harry yang masih terlentang di lantai sambil terengah-engah. Ia pun menatap bibir merah Harry─hasil Harry gigiti sepanjang menahan rasa sakit bercampur nafsu─ dan wajah tan yang dibalut warna merah merona di sekitar pipinya. Tersentak, Draco pun langsung mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang entah kenapa membuatnya gerah itu dan menyeret badannya menjauhi Harry yang sekarang duduk sambil menekuk lututnya.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Perlahan, Draco melirik Potter yang masih menyembunyikan wajahnya di dekapan tubuhnya. Ia masih bernafas tak beraturan dan walaupun hanya sekilas, Draco tahu wajahnya masih memerah. Reaksi Aphrodisiac biasanya menghilang dalam kurun waktu satu sampai empat jam. Tergantung berapa banyak campuran bahan yang dibuat di ramuan tersebut─yang Draco yakin, Professor Gila itu pasti membuat ramuan yang melebihi kadar yang seharusnya.
Secara tak sadar, Draco menatap Harry lebih lama dan lebih intens dari yang seharusnya. Ia melihat gerakan tubuhnya yang naik turun seiring dengan nafas berat yang ia keluarkan. Ia melihat tubuh itu sedikit bergetar. Ia pun melihat tangan tan itu mulai membuka kancing kemejanya.
Eh.
"Potter! Kau pembual!" Draco pun langsung menerjang tubuh Harry yang sekarang sudah melepaskan seluruh kancing kemejanya, menampilkan dada bidang dan sedikit berotot─hasil dari Quidditch selama enam tahun─ namun anehnya terlihat kurus di saat yang bersamaan. Kulit tan itu dibasahi dengan keringat hampir di seluruh tubuhnya. Kulit tan yang Draco yakin berbeda dengan tangan Potter yang terasa kasar, entah kenapa ia yakin tubuhnya pasti terasa lembut. Meneguk air liurnya tanpa sengaja, Draco mengulurkan tangannya untuk menyentuh kulit yang terasa panas itu.
Halus.
Menaikkan alisnya, tangan pucat Draco bergerak memutar di sekitar perut dan beranjak ke atas sambil meneruskan kegiatan mengelus-tubuh-Potter yang ada di bawah tubuhnya itu. Setelah ia sampai di tengah-tengah dada bidang itu ia melihat dua punuk kecil merah muda yang seakan menggodanya untuk menye─
"Ma-Malfoy?" desah Harry dengan nafas tak beraturan.
OH DEMI MERLIN PENJAGA KAKI GUNUNG HUTAN TROPIS TUJUH TURUNAN.
Draco pun langsung menjauhkan tubuhnya secara cepat dan kepalanya terantuk rak kaca yang berada dua meter di belakangnya. Detak jantungnya bergerak lebih cepat hingga terasa sakit dan nafasnya tak kalah cepat dengan detak jantungnya membuatnya pusing. Keringat dingin menelusuri wajahnya dan mata abu-abunya membelalak horor.
Dia bukan gay. Dia bukan gay. Dia bukan gay. Dia bukan gay. Dia bukan gay. Dia bukan gay. Dia gay ─eh, dafuq─ HELL NO! DIA BUKAN GAY.
Oh Merlin, oh Merlin, kenapa cobaan begitu berat di saat seharusnya ia menjalani kehidupan remaja sihirnya yang indah ini?
Dipandanginya tubuh Potter yang tergeletak tak berdaya di lantai yang masih dalam keadaan kemeja terbuka dengan nafas terengah-engah. Ia pun meneguk air liurnya yang anehnya dalam sekejap membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Ia bersumpah ia akan mengutuk pantat Riddle menjadi pantat gajah ataupun menambah kumis kucing di wajah tampan Professor itu. Hah, memikirkannya sedikit membuatnya tenang.
Ia pun berdiri secara perlahan─tak memedulikan betapa sakit atau mungkin seberapa benjolan di belakang kepalanya─ walau kakinya sedikit bergemetar berkat olahraga degup jantung yang ia rasakan tadi. Terima kasih kepada tuan Harry Potter.
Berjalan sekiranya satu meter dari tempatnya semula, lalu menatap wajah Potter yang tertutupi rambutnya yang berantakan. "Oi, Potter."
Hening.
Draco memberanikan diri berjalan lebih dekat lagi namun penuh dengan kewaspadaan, seolah-olah yang ia hadapi adalah hewan buas yang siap menerkamnya. Memicingkan matanya untuk melihat sekedar apakah Potter masih sadar atau tidak. Nihil. Rambut hitam legam yang luar biasa berantakan itu menutupi seluruh wajahnya. Ia pun mengerutkan bibirnya. Perlukah ia untuk menyentuh Potter?
Ia pun mengambil gelas piala yang ada di dekatnya dan menyentuhkan─menyodok, bahasa kasarnya─ gelas piala itu ke sisi lengan Potter. Tak ada respon. Oke, ia mengasumsikan bahwa Potter telah pingsan dan pergi ke alam bawah sadarnya. Ia pun menyentuhkan tangan pucatnya ke lengan Potter namun berhenti saat ada suara desahan yang menegangkan tubuhnya.
"Ma-Malfoy, to-tolong..."
Wajah tan itu memerah dan penuh keringat yang mengalir di sekitar wajahnya. Bibir merah itu bergetar sambil menggigit bagian bawahnya. Mata hijau cemerlang itu terbuka setengah dan terlihat lebih gelap dari biasanya.
Matilah kau dengan tubuhmu yang tercerai berai di alam neraka jahanam, wahai Professor Brengsek.
Dengan kekuatan yang entah ia dapat darimana, Draco pun menggeret tubuh Potter kuat-kuat menuju kamar mandi yang berada di dalam ruang tidur mereka berdua. Ia mati-matian mengabaikan desahan ataupun jeritan meminta dari mulut Potter─jeritan kesal, tentunya. Dibukanya pintu oak itu dan didorongnya tubuh kurus itu menuju bathtub besar berwarna hitam tepat di hadapan mereka berdua.
Ia pun menarik kemeja yang terbuka dari tubuh Potter lalu melemparkannya ke sembarang arah. Keran mewah yang ada di bathtub itu langsung mengucurkan air berbusa di bathtub itu. Setelah puas dengan air dan busa yang tersedia di bathtub itu, Draco pun mendekatkan wajahnya ke wajah Potter yang masih terkejut namun nelangsa.
"Potter─"
Mata hijau itu menutup kedua kelopaknya pelan.
Menikmati sentuhan tangan yang lebih besar darinya itu yang perlahan turun dan menyentuh pundaknya. Ia pun tersenyum manis saat merasakan nafas hangat yang menguar di sekitar wajahnya dan meraih wajah pucat itu dengan kedua tangannya.
"Dra─"
"Dinginkan dulu otak udangmu itu, Idiot!"
Dan pemuda berambut berantakan itu diceburkan ke dalam air oleh pemuda berambut pirang hingga ia tergagap mencari oksigen karena air yang melesak masuk ke dalam pernafasannya.
o u o
"Severus! SEVERUS!"
Pintu kayu itu terjeblak terbuka dan menampakkan sesosok pemuda berambut pirang platina yang berjalan tergopoh-gopoh dengan raut muka yang lebih pucat dari biasanya.
Pemuda pirang itu pun mencari sosok ayah baptisnya dan menemukannya di balik meja kayunya dengan tumpukan perkamen hasil essai murid-muridnya. Tentu dengan wajah yang mengernyit kesal dengan tambahan aura tak terlihat apa-kau-punya-tata-krama karena anak baptisnya itu mengagetkannya dengan baik dan benar.
"Ada yang bisa kubantu, Mr. Malfoy?" desisnya.
"Ramuan! Penawar! Aku butuh itu! Penawar, Professor!" rentetnya sambil mencoba mengambil nafas di antara teriakannya.
"Penawar ramuan apa, Mr. Malfoy? Aku tak mengerti dengan bahasa kalbu yang kau sebutkan dari tadi itu, kau tahu?"
"PENAWAR RAMUAN APHRODISIAC!" jeritnya dengan oktaf suara wanita.
Keduanya terdiam.
Raut muka Snape langsung berubah horror dan mulutnya terbuka lebar. "Ramuan Aphrodisiac, Draco? Bagaimana kau bisa membuat ramuan itu?"
"Bukan aku yang membuatnya, Professor! Dia! Dia yang membuatnya!" Draco menjerit dengan tingkatan suara yang melebihi suara perempuan. Snape mengerutkan alisnya dan membuka mulutnya.
"Siapa yang kau ma─"
"Bagaimana dengan hadiah yang kuberikan, Mr. Malfoy?" Suara berat dan dingin terdengar dari arah pintu oak tepat di belakang tubuhnya. Draco pun langsung berjengit dan berbalik untuk menatap seorang pemuda yang berdiri tepat di dekat pintu dengan senyum merendahkan yang terpatri di wajahnya yang tampan.
"Professor Riddle─"
"Nah, apakah kau sudah mencicipi calon suamimu?" ujarnya santai seolah pertanyaan tadi bagaikan pertanyaan cuaca di pagi hari bagi seorang guru ke muridnya. Ia pun berjalan dengan jumawa ke arah Professor Snape dan Draco yang tak bergeming dari tempatnya semula.
"...apa maksud anda, Professor?" Draco menggertakan giginya. Wajahnya memerah tak keruan menahan malu dan kesal yang amat sangat. Ia mengutuk kebodohan Potter yang seenaknya meminum suguhan dari lawan tanpa pikir panjang.
...eh?
Sejak kapan ia berpikir bahwa Riddle adalah lawan sementara ia dan Potter adalah kawan─oke, mungkin dia mabuk sedikit karena terkena ramuan Aphrodisiac yang diminum Potter tadi.
"Oh tak kusangka bahwa pewaris Malfoy sepertimu masih perjaka." Pernyataan tadi membuat Draco menatap Riddle dengan mulut terbuka-tertutup layaknya ikan kekurangan oksigen.
"A-apa─!" Belum sempat Draco memulai pertengkaran layaknya ular piton dan kelinci rumah, Snape menengahinya dengan nada bosan yang ketara.
"Ahem, maaf mengganggu percakapan kalian─Snape mengedikkan bahunya ke arah Draco─ tapi apakah benar yang membuat ramuan tersebut adalah anda, Professor Riddle?" Draco, yang tadinya bermuka semerah tomat mendengar komentar Riddle mengenainya, langsung mengangukkan kepalanya tanda setuju dengan pernyataan Snape. Riddle menaikkan alis hitamnya.
"Tentu saja. Ramuan seperti itu sungguh mudah untuk dibuat. Lalu? Kau belum menjawab pertanyaanku, Draco. Bagaimana 'rasa' calon suamimu?"
"AKU TIDAK MENYENTUHNYA SEDIKIT PUN!" jerit Draco.
"Ah, sayang sekali. Padahal sudah susah payah kubuatkan ramuan yang mewah itu," ujar Riddle yang mendudukkan dirinya di atas kursi kayu tepat di sebelah Draco. Layaknya jijik dengan kedekatan dirinya dan Riddle, Draco pun berdiri dari posisinya dan menunjuk wajah Riddle.
"Kau! Untuk apa kau melakukan itu, bloody hell! Aku ini lelaki normal!"
"Normal? Apa kau lupa kalau kau sudah bertunangan dengan Harry, Mr. Malfoy? Ah, jangan bilang kau tak sadar bahwa sedari tahun pertama, Harry adalah lelaki sehat lahir dan batin?"
"Tidak! Err, maksudku, ya! Eh, tidak! A-aku ini normal dan bertunangan dengan Potter! Y-yeah, aku tetaplah normal, Professor Riddle!"
"Kau gay, Draco."
"NO─"
"Maaf jika mengganggu percakapan kalian lagi. Mr. Mafoy, jika kau berada di sini, lalu di mana Mr. Potter yang sedang terpengaruh Ramuan Aphrodisiac sekarang?" ujar Snape sambil mengurut kening. Sejujurnya mendengar pertengkaran anak kecil antara Professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dengan anak baptisnya mengenai orientasi seksual membuat kepalanya semakin pening.
Pertanyaan itu hanya dibalas dengan tatapan melongo Draco dan wajah bosan Riddle. Tak berapa lama kemudian, anak baptisnya itu membuka mulutnya lebar-lebar dan berteriak dengan semangat─coret, panik.
"Severus! Apa penawar ramuan Aphrodisiac?! D-dia ada di ruangan bawah tanah ruang asramaku dan ─Draco berjengit sedikit─ Potter. Ta-tapi aku meninggalkannya di dalam kamar mandi karena aku tak tahu harus berbuat apa! Apa yang harus kulakukan?!" ujar Draco tergagap sambil merasakan darah di otaknya perlahan turun dan meninggalkan warna di wajahnya.
"Kau meninggalkan Potter di kamar mandi? Apa yang kau dan Mr. Potter lakuka─ ahem, lupakan. Sayangnya, Ramuan Aphrodisiac tidak memiliki penawar, Mr. Malfoy."
"Kenapa?!" Teriakan panik tak luput dari pendengaran Riddle dan Snape yang dikeluarkan Draco saat itu.
"Karena tak ada yang memerlukannya, wahai Draco-perjaka-tanggung," ujar Riddle datar.
Hening.
Bahkan ejekan dari Riddle tak membuatnya berteriak memaki. Seakan mengerti pikiran horror Draco, Snape memotong pemikiran itu dengan pernyataan darinya.
"Tidak. Ramuan itu tentunya tidak bersifat permanen, Draco. Kau hanya perlu membiarkannya selama beberapa jam. Untuk menguranginya kau bisa memakai Ramuan Penenang. Tunggu sebentar, sepertinya aku memiliki persediaan Ramuan Penenang itu." Snape pun beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah lemari kayu kuno yang berada di ujung ruangan. Dari sudut matanya, Riddle melihat Draco yang bernafas lega dan genggaman kuat di kedua tangannya mengendur.
"Kalau kau memang tak tertarik dengan Harry, aku bisa membuat ramuan itu hilang dalam sekejap."
"Pardon?" Menyipitkan matanya, tak sedikit pun Draco percaya akan pernyataan Professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu.
"Kalau kau mengizinkannya, maka persilahkan aku dan Harry untuk memasuki kamar tidur dalam waktu lima belas menit saja." Riddle pun tersenyum penuh makna dan berjalan santai ke arah pintu ruangan Snape.
Membelalakkan mata abunya, Draco pun menyambar botol ramuan yang ada di tangan Snape─yang telah terjulur ke arahnya─ dan berlari mendahului Riddle yang sudah di ambang pintu. Tertawa tertahan, Riddle pun menyeringai menatap Draco yang sudah di ujung lorong dan berbelok ke arah kanan.
"Ah? Ternyata ia tak sepenuhnya perjaka."
Pernyataan itu membuat Snape kembali ke arah lemari ramuan miliknya dan mengambil ramuan untuk menghilangkan pening.
-u -
Jika ia boleh berkata jujur, ia sama sekali tak siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di kamar bawah tanah miliknya dan Potter. Oke, pernyataan atas sebutan 'miliknya dan Potter' terdengar sangat intim dan membuatnya bergidik ngeri.
Tentunya ia adalah lelaki sehat yang siap dengan apapun yang terjadi nanti. Lelaki yang nantinya akan menjadi pewaris keluarga Malfoy dan mengemban tugas keluarganya di pundaknya. Segala warisan turun temurun dan segala pekerjaan yang ayahnya emban sekarang akan ia jalani di kemudian hari. Tentunya masalah kecil seperti ini tak akan membuatnya gentar.
Harusnya.
Meneguk air ludahnya, Draco pun membuka pintu kamar mandi dan melihat sosok Potter yang terduduk di pinggiran bathtub dengan rambut hitamnya yang menutupi sebagian wajahnya. Butuh keberanian yang amat sangat bagi Draco untuk mendekati Potter dan memanggil namanya. Berdeham untuk menyaringkan suaranya, ia pun memanggil nama Potter dengan nada arogansi ala Malfoy.
Tak ada respon.
Pemikiran di otak pemuda pirang ialah Potter meninggal karena kedinginan atau Potter meninggal karena keracunan ramuan. Abaikan jika terkaan pemuda pirang itu terbilang sama. Memberanikan diri, ia pun menyentuh pundak Potter dan mendorongnya sedikit agar ia dapat melihat wajah Potter yang masih menunduk.
"Oi, Potter─"
"A-a-akan k-kubunuh kau se-sedikit dem-mi sedi-kit, Malfoy." Penekanan di kata 'Malfoy' itu tak dilewatkan oleh Draco tentunya. Namun, penekanan itu diabaikan oleh Draco yang lebih memperhatikan tubuh Potter yang menggigil hebat akibat ditenggelamkan di bathtub selama kurang lebih setengah jam.
Aw. Sepertinya tuan muda Potter marah besar.
Menggeram tak jelas dan bersikukuh untuk berdiri sendiri, Potter menatap nyalang pemuda pirang yang terdiam merasa bersalah. Sayangnya, dengan tubuh gemetaran hebat seperti itu membuat Potter tergelincir dan terjatuh ke arah Draco yang tepat di hadapan Potter. Refleks, Draco pun menangkap tubuh Potter dan mempertahankan keseimbangannya dan Potter.
"H-hei, Potter!"
Tak ada respon, lagi.
Tubuh kurus itu masih bergemetar hebat dan kulitnya yang tan terlihat pucat. Catatan untuk Draco adalah reaksi Ramuan Aphrodisiac dengan panas tubuh ditambah dengan rendaman air dingin bukanlah kombinasi yang bagus sepertinya. Mengumpat atas kebodohannya, ia pun menyeret tubuh Potter ke arah lantai kamar mandi dan segera mengambil handuk putih di dekatnya. Mengusapkan handuk itu ke seluruh tubuh Potter─ia mati-matian mengabaikan desahan tak sadar dari mulut Potter─ dan menyelimutinya, Draco pun melanjutkan acara seret-menyeret itu ke tempat tidur mereka─oh ya, ia mulai terbiasa dengan kosakata itu.
Setelah menempatkannya di tempat tidur dan menyelimutinya dengan selimut tebal, Draco pun mengambil ramuan yang diberikan Severus untuknya. Meminumkannya dengan hati-hati ke mulut Potter, Draco menunggu reaksi ramuan tersebut hingga beberapa menit kemudian nafas tak beraturan pemuda berambut hitam itu menjadi teratur dan lebih tenang. Menghela nafas panjang, Draco pun menjatuhkan tubuhnya di sebelah Potter yang tertidur lelap.
Tunggu sebentar, untuk apa ia bersusah payah mengurusi Potter? Bukankah ia bisa memanggil Weasel ato Granger untuk merawatnya? Atau mungkin ia bisa membolehkan Riddle untuk mengurusi Potter seperti yang ia janjika─ oh, tidak tidak, tak mungkin ia mengizinkan pria mesum seperti itu mengambil keuntungan dari Potter yang terkena reaksi Aphrodisiac seperti itu.
Hm? Lagi-lagi, kenapa juga ia harus mengizinkan atau tidak mengizinkan masalah Potter? Memangnya Potter siapanya?
'Ia adalah tunanganmu, Idiot,' pikirnya membodohi diri sendiri. Oh ya, mungkin ia terlalu gentlemen sehingga bisa mengurusi Potter seperti ini. Bukannya ia peduli dengan si kacamata bulat idiot satu ini ya.
Draco pun menatap wajah tidur Potter yang sangat tenang dan manis. Bagaikan malaikat yang tertidur dengan tenangnya. Ia pun meraih wajah Potter dan mengusap pipi kurus itu dengan telapak tangannya.
Halus.
...
Bloody hell─
Oke, tuan Malfoy terhormat yang dikasihi dan dikagumi, bisakah kau menyadari bahwa kau itu adalah lelaki normal yang sehat serta menyukai perempuan berdada besar dan berpinggul montok ketimbang lelaki berdada rata dan bertubuh cebol? Sadarkah kau tuan Malfoy bahwa laki-laki itu satu kata dengan tampan bukannya manis? Sadarkah?!
Frustasi akibat pikirannya sendiri, Draco pun mengacak-acak rambut pirangnya sambil berguling-guling di atas tempat tidur itu. Lelah dengan aktivitas di luar nalar itu, Draco menutup kedua matanya dengan lengan kanannya sambil menghela nafas panjang.
Oh Merlin, sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?
Mengatupkan rahangnya dan menghela nafas panjang sekali lagi, Draco pun terlelap dalam tidurnya tanpa menyadari dua pasang mata hijau dan abu-abu menatap dirinya dan Potter dari arah pintu kamar mereka.
o u o
Harry Potter's Diary
Sejujurnya aku masih tak ingat dengan kejadian yang terjadi di malam pertama kami tidur di kamar baru kami.
...Oke, sepertinya kata-kata itu terdengar ambigu.
Tapi ini aneh. Sungguh aneh. Sejak kejadian itu, Malfoy menjaga jarak dariku. Entah apa yang terjadi di malam itu yang pasti hanya samar-samar yang teringat di otakku.
Yah, apapun itu aku tak akan mempermasalahkannya lebih dalam. Ada masalah yang lebih penting dari itu tentunya. Hah.
Walaupun memang ada yang berbeda dari kami berdua sejak kejadian itu.
...
Yep, aku butuh tidur. Selamat malam.
.
A/N:
Hai. :3 /dibuang
Yui the devil: uehuhueuheue masalah janji Riddle ke Harry, tujuan Scorp+James, dan masalah pernikahan itu masih rahasia. :3 /ea Buat lemon... no comment. /berasaartis /heh
Griffo205: Saya ga bilang Harry mati lo ya. uehueheuh silahkeun ditunggu ya chapter selanjutnya ;3
Salsabila Yova: Masalah Harry mati kalau ga nikah sama Draco itu ada sesuatunya kok. ;3 ditunggu ya maksud dari itu semua. hwhwh
...Maaf ternyata ga cuman satu bulan ga saya apdet. Ternyata sampai 3 bulan. /kabur Sama seperti curhatan saya di 'The Lover', kerjaan kantor, urusan kuliah, IRL, dan rpg game horror yang membuat saya terlena. _(:'3r z) Mungkin saya coba untuk apdet sebulan sekali lagi :' doakan saya ya. /APAAN
Makasih atas review dan favouritenya ;/; diri ini tak menyangka bahwa reviewnya melebihi 100 :''D makasih aja pake banget ya semuanyaaa /bow
Review please? ;3
