Part 6_ Sweet Kiss
"Harry, tatap wajahku, Harry."
Kelopak mata yang menyembunyikan dua iris hijau cemerlang itu perlahan terbuka. Menengadah ke atas, sang pemilik mata bertemu pandang dengan mata abu badai yang penuh dengan emosi. Mengatupkan rahangnya, pemilik mata hijau terdiam dan lebih tertarik menatap ke arah kanan Sang Mata Abu.
Mendecakkan lidah, pemuda bermata abu itu menolehkan wajah pemuda bermata hijau itu ke arahnya dengan kasar. "Lupakan ucapan Ayahku, Potter. Lupakan. Kau tetap milikku selamanya." Pemuda bermata abu itu menekankan kata 'selamanya' dengan suara baritone yang berat.
Sayangnya, kursi di seberang pemuda bermata abu itu masih lebih menarik perhatian pemuda yang dipanggil Potter.
"Harry, dengarkan aku. Tentu saja keluargaku membutuhkan pewaris dan aku hanyalah anak tunggal di keluargaku. Aku akan memberikan pengertian kepada ayahku agar ia tetap─"
"─tetap mengejekku bahwa aku adalah hustler* rendahan yang menggodamu sehingga kau buta akan cinta, Malfoy?" potong Potter sambil mencengkeram pergelangan tangan Malfoy yang masih berada di kedua sisi wajahnya.
"Kau bukan hus─"
"No. Tentu saja aku bukan. Aku hanyalah karyawan swasta biasa yang kebetulan bekerja di bawah naungan Malfoy Corporation. Aku hanyalah pemuda biasa yang memiliki otak rata-rata yang kebetulan bisa masuk ke perusahaan besar seperti itu. Pemuda biasa yang kebetulan bisa berkenalan dan mendapatkan cinta seorang anak tunggal dari Sang Pemilik Perusahaan. Pemuda yang kebetulan─"
"─memenangkan hatiku seutuhnya dan sekarang dirinya merasa rendah hanya karena jamuan makan malam sekali dengan ayah dan ibuku," desis Malfoy yang mendekatkan wajahnya dengan wajah pemuda bermata hijau hingga hidung mereka bersentuhan.
"Apa kau pikir aku akan menyetujui pendapat ayahku dan memilih wanita Greengrass itu? Pikir seribu kali, Potter. Aku tidak segampang itu menerima dan membuang cinta."
Pemuda yang dipanggil Harry itu menggigit bibir bawahnya dan melepaskan dirinya dari genggaman pria bermata abu di hadapannya.
"Aku ini laki-laki, Malfoy!"
Pemuda bermata abu itu terdiam.
"Aku ini laki-laki. Gender-ku sama denganmu! Orang di luar mengatakan kalau kita ini 'sakit'! Dan aku tak mungkin bisa melahirkan pewaris yang diminta oleh ayahmu!" Potter menggebrak meja makan yang ada di hadapannya dan menatap nyalang pemuda bermata abu yang melihatnya dengan alis berkerut.
"Bukankah lebih baik kalau kita mengakhiri ini semua? Bukankah lebih baik kalau kita menjalani kehidupan kita masing-masing dan melihat masa depan yang lebih baik?" Mata hijau itu terasa panas dan seketika ia mengira bahwa wajahnya pasti diselimuti warna merah yang menahan sakit di hatinya.
Tak mendapat respon dari pemuda bermata abu, Potter pun berbalik membelakangi pemuda Malfoy itu dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
"Aku akan membuang nama Malfoy, Harry."
Tubuh pemuda bermata hijau yang tadinya gemetar menahan amarah, terhenti saat mendengar pernyataan tiba-tiba itu. Secara perlahan, ia pun berbalik memandang wajah pemuda bermata abu yang menatapnya dengan intens.
"Kau gila, Malfoy. Kau tak mungkin bisa melepas marga itu. Kau pikir hidup sebatang kara itu mudah?" sindir Potter yang menyeringai merendahkan. Mengabaikan air mata yang mulai membasahi wajahnya dan memandang pemuda Malfoy itu lekat-lekat.
"Aku bisa melewatinya, Harry. Jangan harap kau bisa berpisah denganku segampang ini." Pemuda bermata abu itu berjalan mendekati Potter yang berdiri dari posisi duduknya.
"Kau itu manja, Malfoy. Kau tak akan bisa─"
"Diam."
Mendorongnya ke lantai, pemuda bermata hijau yang lebih pendek darinya itu terjatuh terlentang dengan bunyi debam yang keras. Belum sempat ia membuka mulutnya, pemuda bermata abu yang notabene lebih besar darinya itu membungkam mulutnya dengan mulutnya sendiri. Mengabaikan teriakan tertahan dan tubuh yang memberontak, Malfoy menahan kedua tangan Potter di atas kepalanya dan secara kasar, membuka kemeja putih yang dipakai Potter. Ia pun mengikat kedua tangan Potter dengan kemeja putih di kaki meja.
Menahan dada bidang pemuda bermata hijau dengan satu tangan, Malfoy menarik celana panjang hitam Potter dan membuangnya secara asal lalu kembali mengulum bibir yang berwarna merah─hasil ciuman paksa yang diberikan olehnya.
"H-Hentikan, Malfoy!"
Menjilat leher dan menelurusurinya hingga ke perut Potter─meninggalkan rasa dingin di bekas jilatan Malfoy─, pemuda yang lebih tinggi itu pun menggigit kulit di pinggang dengan keras. Pemuda bermata hijau itu pun berteriak mengumpat seraya terus menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari jeratan Malfoy.
"Malfo─AKH! Draco! Hentikan! DRACO!"
Tanpa aba-aba satupun, pemuda Malfoy menaikkan kedua kaki Potter dan memposisikannya di pundaknya. Menyeringai sadis, Malfoy pun menjilat lutut Potter seraya berkata,
"Kau milikku, Potter."
─foy.
Ia tak mengetahui berapa lama ia menenggelamkan dirinya di raga tak berdaya kekasihnya yang terus berteriak memohon. Ia mengabaikan jeritan itu dan terus membisikkan kata-kata sayang untuk pemuda bermata hijau itu di telinganya.
Malfoy
Melenguh penuh nafsu, Sang Pewaris Malfoy memejamkan matanya menikmati jeratan dosa yang terus membelenggu dirinya dan kekasihnya. Tentu Sang Kekasih pun sama dengannya. Walaupun ia terus memberontak, namun ia pun tahu bahwa perlakuannya saat ini adalah bentuk frustasi cinta dari Sang Pewaris Malfoy.
Malf─ Dra─
Mengikuti gerakan sensual Sang Kekasih, pemuda bermata hijau itu pun menghentikan pemberontakannya dan mulai memberikan nafsu yang sepadan dengan kekasihnya. Mencoba melupakan rasa sakit di hatinya, ia menjerit meminta sambil menggariskan tiga garis merah di punggung Sang Kekasih.
Draco
Pejaman mata pemuda bermata abu itu merefleksikan sesuatu yang bersinar dari kejauhan dan mulai mendekat dengan gerakan cepat dalam penglihatan fananya. Hingga seberkas cahaya putih yang mirip dengan bintang bersinar sangat terang dan─
"BANGUN KAU, FERRET MESUM SIALAN!"
Bunyi pukulan yang nyaring ditambah dengan sensasi nyeri di bagian otot wajahnya membuat mata abu badai itu terbuka lebar dengan kecepatan cahaya. Tak dapat ia hentikan, tubuhnya pun terjatuh di lantai dengan bunyi debam yang keras.
Beberapa saat, ruangan itu pun hening seketika.
"APA YANG KAU LAKUKAN, POTTY-HEAD?!" Dengan segenap kekuatan amarah yang amat sangat, Draco bangun dari posisinya yang terlentang dan menatap wajah Potter yang memerah semerah tomat.
"AKU YANG SEHARUSNYA BERTANYA ITU PADAMU, FERRET MESUM!"
Bloody he─
Pemandangan Potter yang duduk di tengah tempat tidur dengan rambut acak-acakan dan tubuh telanjang bulat ditambah dengan wajah penuh antusias James dan Scorpius di belakang tubuh Potter, membuat mata abu itu terbelalak horror. Keadaan tak lumrah itu ditambah dengan beberapa bercak merah yang seperti gigitan di jenjang leher dan pinggang Potter.
DEMI KODOK JINGGA BERTENGGER CERIA DI PUNDAK MERLIN.
Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin, tak─
"Father dan Dad habis bercinta, ya?" cengir James dengan tatapan anak polos yang tak berdosa.
─MUNGKIN.
Satu hal paling jantan yang Draco Lucius Malfoy lakukan saat itu adalah lari.
.
Disclaimer: J.K. Rowling
Warning: BL and AU
.
"Dad! Kentang tumbuknya jadi bubur lo!" tawa James yang sama sekali tak membantu. Menatap nyalang ke arah anak kecil bermata abu, Harry pun menyudahi pekerjaan yang tak berguna yaitu menusuk kentang tumbuk menjadi bubur.
Jangan lihat ke belakang, pandanglah ke depan. Adalah pepatah yang amat sangat benar adanya. Untuk apa ia mengingat kejadian seminggu yang lalu yang membuat hubungannya dengan Malfoy semakin buruk. Ramuan Aphrodisiac, hampir mati kedinginan di bathtub, satu tempat tidur dengan Malfoy, dan berakhir dengan keadaan yang pastinya membuat semua orang mengira ia telah tidur dengan Malfoy.
Jujur, ia pun tidak tahu apakah ia memang benar sudah tidur─yang ia sangat harapkan TIDAK─ dengan Malfoy. Yang ia ingat dan tahu hanyalah kedinginan akibat rendaman air dan kondisi tubuh telanjangnya ditambah bekas gigitan merah di leher dan di pinggangnya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun karena ia tidak tahu itulah, semakin menambah buruk masalah ini semua. Untuk keberapa kalinya, Harry mendesah dan menatap tajam bubur kentang tumbuk yang menjadi korban. Tawa bahagia Scorpius dan James sama sekali tak membantu Harry dalam masalah ini. Terutama makhluk yang menjadi masalah utama dalam hal ini.
Draco Lucius Malfoy.
Remaja Slytherin yang berada satu meja makan dengannya dan duduk di sebelahnya ini sedari minggu kemarin hanya diam dan diam. Ia menjauhi dirinya dan lebih memilih untuk tidur di asrama Slytherin dibanding di ruangan pribadi mereka. Bukannya Harry mengharapkan cecunguk itu berada di ruangan bawah tanah itu.
Hah. Harry justru bahagia tinggal di kediaman pribadi yang sangat mewah seperti itu. Bahkan Scorpius dan James yang meminta untuk tidur bersama dengannya─dan bertanya dengan polosnya, kemana ayah mereka, namun diabaikan Harry─, diperbolehkan Harry dengan hati yang lapang. Setidaknya ia tidak tidur dengan Si Pirang Sialan, ujarnya dalam hati.
Ia pun melirik remaja berambut pirang yang memandang pintu besar di ujung Aula Besar. Entah apa yang ia lihat. Toh, bukan urusannya.
Tiba-tiba, pintu kembar besar itu pun terbuka dengan bunyi gemuruh pelan. Menampilkan dua pria berambut hitam dan pirang platina yang kontras, yang sama-sama berjalan─hampir berlari─ dengan angkuhnya menuju meja tempatnya dan Malfoy duduk. Bagaikan deja vu, Harry tiba-tiba teringat dengan kedatangan Scorpius dan James.
"Father..."
Harry menoleh ke arah Malfoy yang mencicit sambil menatap kedua pria dengan pandangan horror. Father itu berarti ayah Malfoy, Lucius Malfoy, bukan? Ia pun menyipitkan matanya agar lebih jelas melihat kedua pria tersebut─dan mengutuk penglihatannya yang parah, dan mengikuti cicitan Malfoy yang berwajah pucat.
Oh Merlin.
"Sirius─"
O u o
"Coba kau jelaskan suratmu itu, Harry."
"Itu─"
"Kau bilang akan menikah dengan Malfoy junior itu? Hah, mimpi apa kau semalam, Nak?"
"Aku─"
"Terutama setelah kau lulus, Harry? Bukankah kau bercita-cita menjadi Auror sepertiku? Sekarang kau lebih memilih menjadi pendamping Malfoy junior yang bahkan mengangkat kursi saja dengan susah payah?!"
"Sirius─"
"Apa maumu, Prongslet?! Kau bilang bahwa pernikahan menjadi nomor dua di hidupmu?! Sekarang apa?! Coba jelaska─"
"AKU TAK BISA MENJELASKAN KALAU KAU TERUS BERBICARA SEPERTI ITU, SIRIUS!"
"Ahem, sorry." Sirius pun berdeham pelan dan menutup bibirnya rapat-rapat. Setidaknya ia tak ingin berhadapan dengan Harry yang entah mengapa memiliki amarah meledak-ledak dan menyeramkan seperti Lily.
Harry menghela nafas dan menyamankan dirinya di tangga kecil dekat meja Dumbledore. Belum masalah dia dengan Malfoy selesai, sekarang ia harus berhadapan dengan ayah baptisnya. Sungguh, kepala Harry lama-lama bisa botak jika ia terus menghadapi masalah beruntun seperti ini.
"Ya, Sirius. Aku akan menikah dengan Malfoy selesai kami bersekolah di Hogwarts. Dan jangan memotong ucapanku─Aku pun tetap mengikuti ujian Auror, untuk kau garis bawahi, pernikahanku dengan Malfoy tak akan menghentikanku. Bagaimana pun juga aku akan menikah, Sirius. Bisakah kau berhenti menjadi ibu tiri layaknya drama siang itu?!" teriak Harry yang menggebrak meja dengan penuh kekesalan. Tontonan drama muggle di siang hari bukanlah hal yang baik untuk ditonton Sirius, Harry mencatatnya dalam hati.
"Tapi kenapa?!" Sirius tak mau kalah dan ikut menggebrak meja.
"Ya karena aku ingin menikah!"
"Objection! Alasan seperti itu tak akan kuterima, Anak muda!"
"Hah! Masa bodoh dengan itu, Pria tua!"
"Adakah yang mau permen OrangeMint?" tawar Dumbledore menengahi. Pertengkaran anak kecil antara ayah baptis dengan anak baptisnya pun terhenti. Menatap tajam ke arah Dumbledore, mereka pun berteriak, "NO!" dengan bersamaan.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Potter dan terlebih lagi kau, Black." Suara baritone yang terdengar bosan dan malas itu terdengar dari arah pintu gargoyle ruangan kepala sekolah. Severus Snape, Professor Ramuan itu pun menganguk ke arah Dumbledore dan berjalan penuh keangkuhan ke arah sebelah Dumbledore duduk.
Tak lama kemudian gargoyle terbuka kembali dan menampakkan pria dan pemuda dengan perawakan yang sama berjalan tak kalah angkuhnya dengan Snape. Entah anak-anak asrama Slytherin adalah anak-anak kelainan punggung dan kepala hingga membuat jalan mereka terlihat aneh. Tak sengaja mata abu badai yang dimiliki oleh Malfoy Junior itu bertemu pandang dengan mata hijau lumutnya. Sontak, Malfoy pun memandang ke arah lain dan berjalan lebih cepat di belakang ayahnya.
Bukan salahnya jika Harry merengut kesal menghadapi sikap pengecut sang Pewaris Malfoy itu. Entah rahasia apa yang Malfoy sembunyikan, ia pun tak tahu. Hanya saja, sikap Malfoy itu membuatnya kesal.
Tak ia sadari, ayah baptisnya memperhatikannya sedari tadi.
"Ahem, jadi semuanya sudah berkumpul, benar? Mari kita bicarakan kapan pertunangan antara Draco Malfoy, putra tunggal dari Lucius Malfoy dengan Harry Potter, putra tunggal dari James Potter," ujar Dumbledore sambil berdiri dari kursi oak-nya. Pernyataannya itu membuat dua orang dewasa berjengit.
"Tunggu dulu, Dumbledore. Setidaknya aku ingin mengetahui alasan Harry mau menikahi anak manja itu. Tak mungkin tak ada badai ataupun apa, Harry mau menikahinya, kan?" seru Sirius sambil menatap sinis Malfoy senior dan junior.
Harry terdiam.
Tak mungkin ia menjelaskan, "Aku menikahi Malfoy karena aku ingin terlepas dari kutukan dua dedemit kecil yang menginginkan aku dan Malfoy menikah agar aku tetap hidup di dunia ini," seperti itu. Terbayang jelas murkanya Sirius dan teriakan-teriakan bahwa Malfoy sengaja mengutuknya agar ia mau menikahinya ataupun alasan absurd lainnya.
Melirik ke arah Malfoy yang masih tak beradu pandang padanya, Harry mendengus kesal. Huh, lebih baik ia mencabut bulu kaki Sirius dibanding meminta bantuan Ferret itu. Ia pun berdeham kecil dan berkata,
"Father dan Dad menikah untuk menghindari kematian Dad."
─bahwa Dad harus menikah dengan Father karena─
Eh?
Sontak, seisi ruangan menoleh ke arah pintu besar yg terbuka dan Gargoyle yang berputar turun yang telah menurunkan dua anak berjubah Slytherin dan Gryffindor. Mulut Harry menganga terbuka lebar menatap dua dedemit itu sekarang berlari ke arahnya dan memeluk pinggangnya.
"Dad dan Father harus menikah!" teriak Scorpius sambil mengenggam erat jubah Harry dan menatap tajam orang dewasa yang hadir di pertemuan itu.
"Kalau kalian tidak mengikuti kata-kata kami, maka sesuatu hal besar akan terjadi." Ancam James dengan nada yang sama dengan Scorpius. Entah kenapa walaupun terdengar main-main, namun ada sesuatu di balik kalimatnya. Harry hanya diam tak bergerak dengan kedua anak yang menenggelamkan kepala mereka ke perut Harry.
"Ah, ah, sepertinya sudah jelas bukan? Harry dan Draco diharuskan menikah untuk menghindari sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Kalau begitu, bagaimana kalau kita membicarakan mengenai pesta pertunangannya? Malam Natal rasanya romantis ya untuk malam pertunangan?" ujar Dumbledore sambil mengusap jenggot silvernya. Menerawang memikirkan idenya sendiri lalu tertawa melihat wajah kaget sekaligus horror dari kedua kepala keluarga Malfoy dan Black.
"Apa maksudnya ini, Draco."
"Ya, apa maksudnya ini, Anak Pirang."
"Pardon, kau tak berhak bertanya pada anakku, Serigala Lumpur."
"Hah? Kau yang tak pantas duduk di sebelahku, Vampir Pengecut."
"Ka─"
"Bre─"
"Bisakah kalian berdua tutup rapat mulut kalian dan dengarkan alasan dari Draco, Mr. Black dan Mr. Malfoy?" potong Snape dengan nada bosan.
Kedua orang dewasa itu pun terdiam.
Setelah pernyataan coretkelewat-santai Dumbledore, Draco pun ditarik oleh pewaris keluarga Black dan Malfoy itu ke ruangan pribadi Draco dan Harry di bawah tanah. Harry yang masih dipeluk oleh kedua anak itu pun akhirnya masuk ke dalam kamar untuk menemani dua anak itu tidur siang. Meninggalkan Draco bersama tiga orang dewasa yang duduk di hadapannya, meminta kejelasan.
Mau tidak mau, Draco harus menjelaskan semua, awal dari semuanya ke hadapan mereka. Menarik nafas panjang lalu menghempaskannya, Draco menatap ayah kandungnya dan (calon) mertuanya.
"Akan kujelaskan dari awal."
.
"...Scorpius, James, bisakah kalian melepaskan pelukan kalian?"
Gelengan kepala terasa di sisi kanan dan kirinya.
"...kalian kenapa?"
Gelengan kepala kembali terasa.
Harry menghela nafas.
"Kalau kalian tidak mengatakan apa-apa, aku tidak akan tahu apa yang terjadi." Keduanya terdiam. James-lah yang pertama kali mendongakkan kepalanya.
"Dad akan menikah dengan Father, kan? Dad tidak akan meninggalkan kami bukan?"
Perkataan James membuat Harry terhenyak. Ia tak habis pikir mengapa kedua anak ini seperti terobsesi padanya dan Draco untuk segera menikah. Ia pun masih tak percaya bahwa kedua anak ini memanglah anaknya, darah dagingnya sendiri. Rasanya tak bisa dipercaya jika kau, seorang laki-laki tulen, mempunyai anak kandung yang entah darimana keluar dari tubuhmu yang tentunya tak memiliki rahim.
Rasanya Harry ingin segera bangkit dan berlari dari kenyataan yang ia hadapi sekarang.
"Dad...?" Scorpius ikut mendongakkan kepalanya dan sama seperti James, menunggu jawaban pasti darinya. Menghela nafas panjang, Harry pun memeluk kedua anak itu erat.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian dan tentu saja aku akan menikah dengan Malfoy. Kalian tak usah khawatir ya?"
Dua kalimat yang ditunggu-tunggu itu membuat kedua anak kontras itu menangis seketika.
"Eeeh?! Ke-kenapa kalian menang─uakh!" Dua pelukan erat menyambar leher Harry yang langsung merubuhkannya di tempat tidurnya. Belum sempat mendapatkan jawaban dari dua anak itu, Harry mendengar dengkuran kecil dari sisi kanan dan kirinya. Sepertinya mereka tertidur pulas. Menghembuskan nafasnya, Harry pun menutup kedua matanya sambil mengelus rambut pirang dan hitam itu.
Sepertinya ia harus membicarakan hal ini dengan Malfoy.
.
"─Jadi begitu, Father." Ucap Draco sambil menelengkupkan tangannya, menunggu reaksi kepada tiga orang di hadapannya. Ia akan dengan jantan menghadapi raungan dari Black si Serigala Sialan, serapahan dari ayahnya, dan perkataan penuh sarkasme yang siap menusuk batinnya dari Severus. Mungkin.
Anehnya, ketiga orang dewasa itu justru terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu yang dalam. Draco sendiri bingung mau menanyakan reaksi mereka yang aneh. Namun ia tak berani menanyakan hal itu secara gamblang. Hei, bukannya ia takut ya. Ia bisa membaca keadaan yang pastinya sedang buruk.
"─jadi, Professor Riddle memperlihatkanmu ingatan itu, Draco?" ujar ayahnya dengan nada hati-hati, entah karena apa.
"Um, iya, Father. Memangnya ada apa?"
"...ah tidak, tidak. Hanya saja..."
Hanya saja─?
"Kalau itu memang keputusan Professor Riddle berarti kau harus melakukannya, Nak." Ucap Ayahnya sambil tersenyum memaksa. Membuat alis pirang Draco berkerut meminta penjelasan. Ia menatap dua pria yang duduk di sebelah ayahnya, namun sama halnya dengan ayahnya, mereka menatap ke arah lain sambil terdiam.
Ada apa ini sebenarnya?
"Maksud Father a─"
"Nah! Sekarang sudah sore ternyata! Waktu berlalu cepat ya, baiklah kalau begitu aku akan menemui Dumbledore. Sudah lama aku tak berbincang dengannya. Hei, Snappy, kau mau ikut?" teriak Sirius memecahkan keheningan yang menyesakkan. Mendelik ke arah Severus, Professor Ramuan itu pun beranjak dari sofa empuk sambil berkata, "Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu, Black." dengan nada gusar.
Belum sempat Draco menanyakan maksud dari kelakuan ketiga orang dewasa itu, di ambang pintu ayahnya berbalik menatapnya yang masih melongo.
"Semoga berhasil, Draco." Ucapnya misterius.
.
"Kau tahu Potter, ini aneh. SEMUANYA ANEH!" jerit Draco frustasi sambil menjejalkan coklat mint Honeydukes, pemberian dari Dumbledore.
Ya, kondisi mereka berdua yang duduk berseberangan di ruang keluarga mereka juga termasuk aneh. Tak merapalkan mantra atau saling adu mulut atau fisik antara Potter dan Malfoy adalah hal yang aneh tentunya. Tapi kondisi itu dilupakan sementara oleh masing-masing pihak dikarenakan pihak Malfoy menarik pihak Potter yang sedang tertidur lelap bersama Scorpius dan James dan membawanya ke ruang keluarga.
Menghela nafas, Harry mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Kalau kau tidak menceritakan padaku apa yang aneh, tentu aku tak akan bisa membantumu, Malfoy," ujarnya sambil memakai kembali kacamata bundarnya.
"Seperti yang tadi aku bilang, Potter. Kau tahu? Ayah dan ayah baptismu bersikap aneh setelah mereka mendengar bahwa Professor Riddle-lah yang menyuruh kita untuk menikah. Severus juga, demi jenggot Merlin! Severus! Ada apa ini sebenarnya?!"
Sepertinya pertemuan mereka kali ini akan panjang.
"Dengar Malfoy, aku tak tahu apa yang kau bicarakan dengan mereka, tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya seminggu kemarin, kenapa kau menjauhiku?"
Hening.
Beberapa saat kemudian, Draco langsung berdiri dari tempatnya dan segera mengambil ancang-ancang pergi namun dihentikan oleh Harry yang langsung menangkap pergelangan tangannya.
"Oi, Malfoy! Jangan kabur dari kenyataan! Ceritakan padaku apa yang terjadi maka aku bisa mengetahui apa permasalahannya dan kita bisa membahas masalah yang lain! Oi─!"
Malfoy dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Harry namun segera berhenti saat Harry menarik tangan Draco dan bagaikan drama siang yang selalu ditonton Sirius, mereka berdua pun terjatuh ke lantai dengan bunyi debam keras.
Mengerjapkan matanya karena penglihatannya buram seketika, Harry menepuk lantai di sekitarnya mencari kacamatanya yang hilang saat jatuh tadi. Mengabaikan kehangatan yang terasa dari bawah tubuhnya, Harry pun menemukan kacamatanya lalu memakainya segera.
Dan terlihatlah Draco yang ada di bawah tubuh Harry, menatapnya dengan intens dan dengan wajah yang ─entah kenapa─ memerah, yang seakan terkena sihir, membuat mereka berdua terdiam pada posisi mereka sekarang.
Harry tahu bahwa posisi mereka saat ini adalah salah. Namun kehangatan yang ia rasakan membuatnya kembali mengantuk dan membuatnya semakin ingin memeluk kehangatan yang ada di hadapannya. Draco pun hanya bisa diam tak berkata sambil memperhatikan detil perawakan Harry yang biasanya tak ia perhatikan.
Bulu mata panjang yang menawan, bibir merah yang terlihat empuk, lehernya yang jenjang, serta mata hijaunya yang membuatnya menarik nafas dalam-dalam. Setidaknya jika Harry melepaskan kacamata bututnya itu, ia yakin Harry pun akan terlihat lebih menawan. Tanpa sadar, Draco pun meraih wajah yang ia kagumi itu, merasakan hangat dan halusnya pipi yang mulai memerah. Tersenyum geli melihat wajah Harry yang semakin bingung dan manis, Draco pun mendekatkan wajah Potter pelan ke arahnya.
Menempelkan bibir mereka dengan pelan, merasakan bibir itu mulai terbuka sedikit dan menerima sentuhannya lalu secara perlahan membalas ciumannya semakin dalam. Ciuman yang masih dalam tahap mencoba, terbilang kikuk dan tak berpengalaman. Namun entah mengapa terasa sangat manis di bibir mereka. Memberanikan diri, Draco pun menyusupkan lidahnya ke sela bibir merah Harry. Membuka bibirnya, Harry pun ikut larut dalam ciuman yang semakin lama semakin erotis. Hingga akhirnya─
─sesuatu yang menyembul terasa di bagian belakang bokong Harry.
Ciuman panas itu pun terlepas dan tergantikan dengan keheningan yang awkward.
"..."
"..."
"..."
"Draco, kau... DASAR FERRET MESUM BRENGSEK!"
DUAK!
Meringis kesakitan, Draco pun mengusap kepalanya yang mulai terasa menyembul, sama seperti dengan keadaan bagian selangkangannya. Harry meninggalkan Draco yang masih terkapar di lantai sambil terus merutuk pemuda pirang tersebut. Sementara Scorpius dan James yang menjadi saksi bisu ciuman panas mereka, sibuk mengabadikan kisah kasih tadi dalam foto sihir yang mereka dapatkan.
Terkikik senang, keduanya segera membawa foto bukti itu kepada Professor Riddle. Riddle yang menerima kabar gembira itu pun menaikkan alisnya dan tersenyum penuh makna, menyuruh kedua anak itu untuk segera mengikuti makan malam.
"Hm, ternyata mereka sudah ke tahap ini. Setidaknya, ada perubahan dalam hubungan mereka. Selanjutnya, apa harus kulakukan ide 'itu'?" ujarnya puas sambil mengelus ular kesayangannya, Nagini.
Draco Malfoy's note
Hari ini mungkin adalah hari yang harus kumasukkan dalam catatan hidupku. Hei, siapa sangka si Potter itu akhirnya menciumku? Haha, memang tak ada satupun orang yang menolak ketampanan dan keanggunan diriku.
...
Oke, mungkin itu bohong. Tapi, well, siapa sangka ia akan benar-benar membalas ciumanku? Bukankah ia yang paling anti dalam hal seperti ini? Lagipula kenapa aku menciumnya? Ah mungkin ini yang dinamakan hormon remaja. Yeah itu pasti.
Oke, sudahilah rentetan catatan tak berguna ini.
Good night.
-Draco Malfoy-
*Hustler = Pelacur laki-laki
A/N:
Hai semua. Sudah setahun lebih ya. /tertawa /DIBUANG
Ya maafkan saya. Orz Banyak kegiatan dan lebih intinya : SAYA TERKENA VIRUS WRITERBLOCK O(-(
Tapi berkat review yang bahkan sampai saat ini masih berjalan dan beberapa PM langsung ke saya, saya akhirnya berkutat untuk menyelesaikan fanfic ini ; 7 ; )_
Mungkin updatenya juga bakal lama, tapi diusahakan juga secepatnya. /crying
Yak, akhir kata selamat menunggu lagi! /dush
